Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Kedai Kopi Pojok: Kopi Nusantara di Pamulang

(Jkt 21/9/18)  Bila anda ke cafe-cafe di kota Jakarta, Tidak banyak atau jarang sekali anda temukan cafe yang menyediakan kopi robusta, dengan sajian barista. Hampir semua menyediakan kopi arabika, kopi yang digemari bangsa barat.  Namun tidak halnya dengan Kedai Kopi Pojok Pamulang. Beruntung sekali warga Pamulang dengan adanya Kedai Kopi Pojok (KKP) yang tidak hanya menyediakan kopi arabika dari berbagai daerah Indonesia namun juga menyediakan kopi robusta dari berbagai daerah di Indonesia.

Kedai Kopi Pojok adalah cafe sederhana dengan harga terjangkau  yang menyediakan makanan unik untuk kategori cafe kedai kopi. Di menunya tersedia Edamame  juga makanan lain dengan harga ramah porsi mengenyangkan. Minuman andalan kopi-kopinya disedikan dengan cara barista, oleh sang pemilik Hudiono Lamong. Ya, pria asal Lamongan ini me

jajaran biji kopi Nusantara

miliki kemampuan mengetik sepuluh jari dengan cepat, sehingga pada suatu kesempatan saya pun pernah saling mengetest kecepatan mengetik, disamping bekerja resmi kantoran di Jakarta, Lamong sekarang turut menyemarakan dunia perkopian Nusantara.

Memulai usaha kopi dengan serius dan menjadi barista otodidak mas Lamong menyajikan menu kopi terbaru Affagato yaitu kopi sebagai dessert yang dibuat dari campuran eskrim dan espresso. Sebagai seorang penggemar es krim dan peminum kopi pahit, tentunya  saya tak menyiakan kesempatan ini. Proses penyajian mulai dari menggiling/roast kopi hingga jadi Affagato tak sampai 10 menit. Cepat. Rasanya misterius, enak dingin, manis pahit. Begitu enaknya saya mencoba double shots, dua porsi.

Ada hal unik dan menarik adalah menu makanan yang disediakan mungkin akan sulit dicari di kafe lain, seperti tersedia snack yang satu porsi terdiri dari empat macam dan harganya dibawah duapuluh ribu rupiah. Juga tersedia snack dari pangan lokal singkong, cireng, sosis dan dimsum cukup mengenyangkan buat yang belum sarapan. Kedai Kopi Pojok juga menyediakan wifi dan saklar listrik. Untuk mereka yang ingin mencari suasana baru tempat ngobrol atau rapat jadi pilihan tersendiri.

Mengutamakan kualitas dan rasa kopi adalah ciri terbaik dari KKP. Kopi menjadi bagian utama dari setiap minumannya. Sehingga jumlah takaran minuman yang disajikan memiliki presentasi kopi yang kuat, tapi tidak strong, sesuai bagi yang suka minum kopi. Tidak encer seperti cafe-cafe franchise luar negeri yang harganya selangit. Bahkan menu andalannya Es Kopi Pojok atau Kopi Pojok menggunakan gula aren. Menu kopi lainnya yang unik adalah Kopi Coklat, saya sendiri pertama kali minum kopi coklat dulu dirumah teman, dan menggunakan bubuk coklat mainstream, nah di KKP ini yang coklatnya adalah coklat dari Kampung Coklat Blitar.

Jadi yang menarik dari KKP adalah kopi-kopi yang dapat disajikan justru lebih beragam dari terdaftar di menu. Bila di menu tidak tercantum kopi Bajawa, Wamena maka anda bisa memesannya karena ada disediakan dan siap diroast untuk diseduh secara barista. Bagi yang mendukung makanan dan local foods, maka pilihan mampir di KKP adalah pilihan keren, lokasinya di Pamulang Elok, anda dapat cek di maps google, bahkan salah satu produknya pun sudah dapat dipesan online transport.

 

Es Kopi Pojok dengan gula aren, susu dan kopi…

 

Itulah pengalaman pertama makan snack minum kopi di Kedai Kopi Pojok, pulang ke rumah malam hari, masih terasa kenyangnya, secara minum Affagato 2 shots 🙂

 

 

Advertisements

Friendly Capitalism of Sports

As leftist academy how do you explain Diana Taurasi, a US professional basketball player of WNBA (woman national basketball association) took a year break to play in Russia because in the US her wage is less than when she played in Russia.

She even have a joke “, the W.N.B.A. is, like, communist.” that in term of basketball wage for women in US is like in communist. While when they play in Russia the wage are double double, the facilities and comfort. After all Diana Taurasi is superstar who has achieved 3 WNBA champions with Phoenix Mercury, 4 gold Olympics medals. She still consi

http://www.fiba.basketball/europe/euroleaguewomen/2017/Diana-TAURASI

dered as the best woman basketball player in the planet. Currently she got MVP in France when United States of America Basketball Women National Team has the FIBA exhibition tournament, which US win 3:0 against Senegal, Canada and France.

Other than basketball, football (soccer) in the world also similar In term of non existing ideological State. One person of a State can have their citizen to works in sports club for other country _ like Ronaldo played for Barcelona of Spain.

Those are capitalist related system, where the company who sponsored of the sport event, the person who own the club usually own company. Few persons with loads capital own the sports club, in US, the sports industry is Huge. The evidences are they have many television of sports channel and most of them are paid subscription, it money again. And of course people pay ticket to the court to watch their favorite team play. This is mutual,where people buy what the love and one who is being paid to play, they play good. This is entertainment. And entertainment Industry like other industry will always and in rising to fulfilled everyone needs to be happy in live, at least have a enjoyment for a momentary, a bit of escapee from the “cruel reality”. I will not talk about how industry process works, the workers, wage system, the manufacturing products, you can find it elsewhere and almost always did not mention the impact on people related indirectly with the industry, like me.

And for me, when The capitalist have the ability to give a genuine pleasure in human, I call in Friendly. What is genuine pleasure. It is the feeling of joyful, happiness, laugh, because of what has happened to their favorite sport Club. This too, I feel, when I watch WNBA finals, I like Sue Bird, but I want to see Elena Delle Donne  win the Champion, and when The Washington Mystics lost. I feel not enjoying the moment, I unfollow Stewart IG. Why would I did that?  Those are the temporary emotion of feeling

source: bleacherreport.net

down cause by the lost of your favorite person or team. And Iam not even in US, far from them. That the power of ICT of its contents are borderless can stimulate the feeling. The feeling is not engineering by anyone. The match is out there without any intervention but by the power and endurance of players and the great luck from Above, it called destiny.

The future of the world, I must hope is PEACE and Happiness. Peace is where any country can compete on any event of sports. Tough the Olympics has nothing to do with peace,  when at war, the Olympics has cancelled  in 1916, 1940, and 1944, and during cold war US-Soviet 1980-1984 lots of boycott. But sports can drew people closer, as  two countries still at “dispute” have joined the team together as South Korea and North Korea in AsianGames 2018 Jakarta Palembang. When the team of women Basketball, Cano, and Rowing. The Korea got gold in Cano women Asian Games. Sports also have related with identity, it is individual. Lots of people love sport event, other don’t.

Sports as any human activities is for the benefit of humanity, human healthiness. Sports now has merged with entertainment industry, and it’s inevitable. Sports might have be different in the future. Women sports might have wider space because it is different from male sports. Sport with women in it have softness, solidarity and beauty.

While in the past sports might seen as total masculine effort on the body, now it is health, it is entertainment, it is work. You work you get paid, and yet have healthy body. But because the root and basic capitalism is gaining profit (money), it might have other effect with people within sports industry, if they cannot maintain integrity. That might come from the rock star effects of many sport stars.  Again sports industry is industry where the products is manufacture of the people greatness “jersey with sport star name” etc. Of course there are things that people always wear on daily basis of industry like shoes. What the different with other manufactures industry sports adding a new thing for human lives, their feeling of love, of like and spirits. And those effect usually have came for popular entertainment industry (film, music), now sports. It is even bigger now — of sports effect-more than representation the feeling of any individual who love their club/team, it is now parts of collective feeling of sense of belonging–a country, a city , a nation of the club.

 

 

 

 

 

Mengenali , Menemukan Indonesia, Perbedaan dan Menyayangi Nuswantara

Mengenali Indonesia adalah dengan menghidupi kekinian di negeri modern yang merdeka 17 Agustus 1945. Kondisi kekinian yang dijalani oleh warga yang tinggal di tanah Indonesia,  dalam alur berkehidupan seluruh masyarakatnya, sendiri-sendiri, berkeluarga, berkelompok, berkomunitas dan segala rupa kerekatan antar-manusianya.

Mengenali Indonesia sesungguhnya dapat dimulai dari manusia per individu, dari makanan, dari cara-cara penyajian, dari cara proses pembuatannya. Pada bagian tersebut itulah Nuswantara dalam wujud perbedaannya. Mengenal individu-individu orang Indonesia yang sejatinya selalu dinamis dan berubah namun memiliki keotentikan sikap dan karakter bangsa Indonesia. Diantara karakter yang cukup merata dimiliki oleh bangsa Indonesia,  yang kita bisa temui di semua sukunya bila kita datang ke desa adalah orang-orangnya ramah, menerima dan terbuka. Tak ada rasa curiga, toleransi tinggi.

Banyak dari warga desa belum mempunyai alat komunikasi HP android, tak mengikuti informasi kota tentang kekerasaan dan intoleransi kecuali  dari televisi.

Desa adalah lumbung kebudayaan yang masih terjaga. Kebudayaan yang mengisi denyut kehidupan sehari-hari manusia yang tinggal didalamnya, bercengkaram bersama alam. Keragaman yang nampak dari keseluruhan sistem hidup manusia, tata kelola, teknologi dan pengetahuannya atau yang dikenal sebagai kearifan lokal.

Kearifan lokal yang terutama dari desa ke desa lain penuh dengan keindahan, keunikan dan diwarnai nilai dan norma yang baik bagi kemaslahatan manusia dan alam. Bagi kebudayaan pasti

 

 

Konferensi Kepemimpinan Perempuan LIPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkerjasama dengan Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak, Asian Associatoon of Women Studies dan Komnas Perempuan mengelar acara International Conference and Workshop on Gender “Women’s Leadership and Democratitaion in 21th Asia” di Jakarta. Konfrensi dimaksudkan sebagian wahana Kajian terkait kepemimpinan perempuan di Abad ke 21. Konfrensi di ikuti para peneliti dari berbagai wilayah Indonesia juga menghadirkan partisipan dari Korea Selatan, Philipina dan Thailand.
Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prof. Yoja a Yembisi selaku Keynote speaker antara lain menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia dibawah Presiden Jokowi mendukung kepemimpinan perempuan dan sebagai salah satu Dari 10 Negara yang ikut dalam mendorong terwujudnya planeet 50:50 tahun 2030.

Ibu Yohana Yembesi menyampaikan antara lain; komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai kepemimpinan perempuan 50:50 tahun 2030, dengan mempromosikan He for She yaitu gerakan mendorong laki-laki mendukung keterwalilam peempuan. Indonesia sbg salah satu dari 10 Negara terpilih untuk komitmen 50:50 adalah karena sbg Negara demokrasi dg popularitas muslim, perempuan nya termasuk negara yang developed. Planet 50;50 kebijakan PPA mendorong keterlibatan perempuan  gender balance.
Adapun Kementerian PPA juga melakukan kegiatan mendukung keterlibatan perempuan politik untuk Pemilu 2019 yad dengan memberikan pelatihan peningkatan kapasitaa perempuan Caleg. Mengingat Masih adanya hambatan2 tantangan bagi Perempuan maju dalam dalam kontestasi politik masih menghadap i social cultural barrier dianggap second sex dan objet domestic violence. Nilai sosial budaya belum ada posisi kesetaraan antara posisi perempuan laki. Perempuan juga mengalami kesulitan mendapatkan sumber finansial bila akan ikut kontestasi politik, harus ijin suami dan keluarga, dan mendapat dukungan dana. Sedangkan kondisi ril politik masih belum dapat dipisahkan dari Partai Politik, asih terdapat bias gender di partai politik yang memapankan gender inequality. Hal itu membuat sangat diperlukan keterlibatan semakin banyak perempuan dalam posisi pengambil keputusan politik. Kebijakan afrimasi kuota sampai saat ini masih belum dapat melepaskan ketergantungan parpol ketika perempuan akan terlibat dalam politik

Lembaga Ilmu Pengetahuan selaku host Konfrensi diwakili oleh Tri Nuke Pudjiastuti dalam siaran pers menyatakan bahwa LIPI erus mendukung kepemimpinan erempuan dan d harap kan dari Konfrensi akan menghasilkan solusi dari berbagai persoalan yang dihadapi perempuan abad ke 21 dalam hal kepemimpinan.

Berbagai penelitian yg telah dikaji dipaparkan peneliti Indonesia antara lain trkait Topik perubahan demokrasi dalam keluarga, gender kepemipiman Perempuan dan islam, adapun Presiden AAWS dari Ehwa Women University Korea Selatan pemaparan kepemipinan perempuan dalam konteks dan kategori yg memiliki berbagai aspeknya, antara lain kategori dan cara eks presi power, power to/with dan bukan power over.

Konfrensi berlangsung 2 hari, 27-28 April, 2018 sebagaimana berbagai Konfrensi intelektual/Akadem, acara i secara maraton dilakukan dengan pemaparan berbagai  topik Konfresi melalui presentasi paper hasil penelitian, berbagi informasi dari wilayah dan konteks sosial yang berbeda dalam panel-panel diskusi, termasuk dibukanya tanya jawab baik dari participant narasumber atau peserta di floor. Hal menarik ketikpertanyaan kritis yang dilontarkan narasumber dari Thailand dalam sesi pleno, membutuhkan jawaban bersama yg dilakukan oleh dari Thailand, tentang perlunya redifinisi makna demokrasi. Meredefinsi makna Demokrasi mengingat slama ini yg didengungkan yaitu politik Keterwakilan / politic represebtasi dan pemilihan/election hanya lah bagian dari Demokrasi, dan terbuka untuk peserta menggali kembali demokrasi yang sampai saat ini belum memberi ruang partisipasi perempuan secara memadai. (UL)

 

Kartini, Ada Nyata dalam Semangat dan Aksi Kekinian

Hari Kartini 21 April 2018 menandai 54 tahun sejak Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno, atau 114 tahun sejak Beliau wafat 17 September beberaap hari setelah melahirkan satu-satunya putera, RM Soesalit Djojohadiningrat. Kartini boleh wafat dan darah keturunan biologisnya hanya satu orang putera, namun semangat dan gerak hidupnya baik yang nyata atau masih menjadi impiannya telah menghidupi dan memberi inspirasi banyak perempuan, di dalam Negara Indonesia merdeka maupun di luar negeri.

Sekarang ini, kita menemui banyak perwujudan apa yang dicita-citakan Kartini bagi perempuan dan oleh perempuan untuk bangsanya sebagai mana lirik lagu Kartini karya WR Supratman “Sungguh Besar Cita-citanya Bagi Indonesia“. Perempuan dan laki-laki bahu membahu untuk kemajuan bangsa, kemerdekaan Indonesia. Perempuan di Indonesia kini bersekolah dan mengenyam pendidikan demi untuk dirinya dan kemajuan bangsa. Perempuan mengajar dan mendidik anak perempuan hingga ke pelosok daerah, perempuan mengobati sebagai bidan atau dokter ke pelosok. Perempuan menjadi apa yang diinginkannya. Perempuan mengejar kebahagiaannya menikah dan tidak menikah. Perempuan pelestari keindahan budaya. Perempuan terus berjuang untuk kebahagiaan bersama semua rakyat laki-laki maupun perempuan dalam mengadvokasi kebijakan Negara. Perempuan menjadi menteri mendukung kemajuan peradaban.   Banyak lagi yang telah diwujudkan kini oleh perempuan-perempuan se Nusantara dari apa yang pernah dicita-citakan Kartini.

Republik Indonesia kini telah menjadi bagian apa yang seharusnya menjadi dalam memperlakukan perempuan, dari sebuah bangsa yang besar (dalam arti seluasnya) besar kebudayaannya, besar wilayahnya, banyak penduduknya, kaya alam rayanya, sebagaimana di masa lalu.

Jika kita mau bersyukur dan membaca apa yang terjadi disekitar kita, khususnya pergerakan perempuan didalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat khususnya melalui pemuliaan perempuan melalui pemenuhan haknya sebagai warga negara, maka kita akan menemui banyak perempuan yang bagi saya adalah representasi Kartini di masa kini. Ada beberapa perempuan yang saya kenal, yang sesungguh-sungguhnya seperti Kartini, hidup berjuang dengan tulus ikhlas dan masih berjuang untuk kepentingan bersama.

Penghargaan kepada Kartini adalah penghargaan betapa lebih penting menjadi manusia yang menginspirasi manusia lain, ketimbang manusia yang mengejar kesuksesan duniawi dan harta (meskipun kini banyak sekali kiat inspirasi disebarkan dengan tolok ukur harta dan jabatan). Namun inspirasi Kartini lintas batas negara, lintas waktu. Sejak beliau masih belia, bangsa eropa lebih dahulu mengenal pemikiran melalui tulisannya, adapun bangsa Nusantara umumnya baru mengetahui pemikirannya setelah ada terjemahan dari surat-surat Kartini oleh Arjmin Pane 1911. Inspirasi adalah kekuatan positif kepada pikiran dan perasaan yang mempu menggerakkan manusia untuk beraksi, bekerja, melakukan sesuatu. Tak kurang, surat-surat Kartini yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris Letters of Javanese Princess, dengan kata pengantar Eleanor Roosevelt  (istri Presiden Amerika Serikat ke 32) edisi UNESCO collection 1964. Bukan hanya itu, nama Kartini pun digunakan di berbagai Negara sebagai nama suatu Penghargaan di Belanda, bahkan suatu organisasi konsultan gender di Kanada memakai nama Kartini, bahkan salah satu penulis menuliskan bahwa mengapa Kartini kurang begitu dikenal di luar Indonesia karena berbahaya pemikirannya terlalu jauh tan sesungguhnya menjangkau dan melintasi jarak dan benua yaitu melawan pemikiran dan prilaku patriarki ( http://dangerouswomenproject.org/2016/09/27/raden-adjeng-kartini/ )

Setiap tahun biasanya saya hampir selalu dilecut untuk menuliskan sanggahan terhadap mereka yang saya sebut “anti Kartini” karena kurang memahami kesungguhan semangat, pengalaman, mimpi dan harapan Kartini. Saya berani menyembut “anti Kartini” karena banyak dari mereka yang dengan serta-merta mencopy-paste pandangan dari akademisi yang  “dianggap kritis” karena mengkritik atau menolak kepioniran dan kegigihan Kartini berjuang, padahal membaca Surat-surat KARTINI pun belum pernah, boro-boro mengerti tulisan Kartini yang asli dalam bahasa Belanda. Namun tahun ini berbeda, Kartini telah mulai banyak dihidupkan kembali semangat dan cita-citanya oleh masyarakat khususnya aktivis perempuan, sehingga tidak terlalu sulit untuk menjabarkan betapa sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air sama dengan Kartini untuk bangga dan terus melanjutkan perjuangannya, kesetaraan kemanusiaan perempuan dan laki-laki.

SELAMAT HARI KARTINI 2018, KEPADA PEREMPUAN INDONESIA SELAMAT MERAYAKAN CITA-CITA KARTINI, BERSYUKUR DAN TERUS MELANJUTKAN PERJUANGAN KARTINI.

 

Jakarta 20 APRIL 2018, SUKRA KASIH.

Olah Raga untuk Perempuan hanya senam?

Olah Raga untuk Perempuan cuma Senam?

Apa benar begitu? Teringat dahulu kala ada senam koreografinya Minanti Atmanegara, senam body performance . Alih2 sehat dan senang buat semua, apalagi bisa dapat medali mengharumkan nama bangsa yang ada Tubuh perempuan jadi alat segala rupa “jenis olah raga” demi “ideal” bentuk tubuh sesuai versi Patriarki, khususnya versi warga kulit putih. Karena perempuan bagi kalangan masyarakat di Afrika, semakin gemuk semakin baik dan menarik.

Sehingga produk terkait tubuhpun tak lain adalah temuan untuk Kapitalis membuat berbagai produknya, dari cat kuku “cutex” hingga segala jenis shampo produk kapitalis, yang hampir semuanya menggunakan bahan kimia. Tentu saja menjadi sehat dan cantik tidak serta merta hanya menarik perhatian para kapitalis saja, karena pada kenyataanya menjadi cantik dan sehat bagi perempuan telah juga menjadi bagian tradisi di Nusantara, umumnya menyangkut prosesi Pernikawinan dan Hamil bagi perempuan, sedangkan bagi laki-laki antara lain bugar dan dapat performed secara maksimal (penisnya).

Di dalam masyarakat Patriarki mengutip (Diah Laksmi, Perempuan Subyek Kecantikan Tanpa Syarat) “Bagi perempuan kecantikan adalah predikat wajib, hampir semua perempuan merasa gagal sebagai perempuan apabila ia tidak cantik. yang lebih fatal terjadi ketika perempuan mengharapkan pengakuan dari (terutama) laki-laki sebagai bukti bahwa ia cantik, seolah-olah laki-lakilah yang memiliki kuasa untuk menentukan otentik atau tidaknya perempuan”. Pada dasarnya dengan penguasaan keseluruhan sistem hidup oleh Patriarki, membuat apapun termasuk tubuh dan keselurahanya terkonsep oleh dan dilaksanakan sistem patriarki. Sistem yang melanggengkan seksisme, eksploitasi perempuan dan penindasan perempuan.

Pada konteks tubuh, seluruh tubuh perempuan diinterpretasikan dan dinamai seluruhnya baik badan, organ tubuh dalam dunia kedokteran dan pendidikan kedokteran dengan phallus centris patriarki. Emily Martin sangat jelas menulis ini dalam The Women in The Body, cultural analysis in reproduction yang menuliskan hasil temuannya dari sumber kampus kedokteran bergensi di Amerika Serikat. Tubuh perempuan dalam dunia modern patriarki, sehatnya, sakitnya, obatnya, ditentukan oleh laki-laki. Sampai hari ini, di Indonesia dokter perempuan untuk Gynekologi masih langka.

Senam adalah olah raga tubuh, namun disebabkan laki-laki yang memiliki kuasa atas baik buruk, indah cantiknya tubuh perempuan, maka senam menjadi andalan perempuan membentuk tubuhnya yang sesuai Patriarki. Yang paling jelas mungkin senam balet, dimana perempuan dipersamakan dengan angsa…(besambung)

FEMINIS Indonesia “tidak Suka Olah Raga

Pernah membaca artikel feminis di Indonesia tentang Olah Raga? Hehehe sepertinya hampir sulit menemukannya, belum ada yang menulis tentang hal tsb… Secara garis besar feminis di Indonesia tidak suka olah raga, suka dalam arti ini tidak menyukai olah raga yang mainstream (yang banyak disukai publik secara massif) termasuk olah raga berkelompok, tim atau grup seperti Volley, Sepakbola, Basket. Yoga? Renang? Bagi saya olah raga kelompok itu penting  bagi perkembangan hidup manusia selain sehat, mereka yang terlibat dalam olah raga kelompok memiliki dorongan untuk mengembangkan sifat sosial kemausiaan sesama tim. Mengenal empati, solidaritas, bersatu dan menumbuhkan sifat patriotisme (cinta pada negara/wilayah yang diwakili). Feminis di Indonesia hampir tak pernah mengangkat bagaimana diskriminasi dalam bidang olah raga terjadi. Bagaimana jumlah penonton, jumlah coveragenya, bagaimana olahraga dianggap gender base activitiesPadahal hampir semua olah raga sejatinya untuk kesehatan dan kedigjayagunaan kanuragan. Perempuan dan laki-laki dimasalalu sama-sama berkuda, memanah, silat dan lain sebagainya.

Kini ketika olah raga telah masuk ke dalam industri kapitalis yang merambah seluruh dunia, Indonesia masih jauh tertingal. Olah raga hanya bersifat karitatif seperti peringatan dan bersifat seremonial, atau bertujuan lain di luar sports seperti penggalangan dana, contohnya lari bersama memperingati Hari Perempuan Sedunia,  atau run for donation dsb. Apakah olahraga bukanlah bidang yang perlu mendapat perhatian juga dari semua kalangan khususnya Feminis yang memperjuangkan Penghapusan Seksisme dan Eksploitasi serta Penindasan? Tentu saja. Kenyataannya olahraga masih dikuasai oleh laki-laki, dalam hal penghargaan maupun coverage media. Di Amerika Serikat isu tentang perempuan berhak berolah raga secara kompetitif dan industri baru ada setelah termuat dalam UU Hak Sipil, title IX dan 1994, the Equity in Athletics Disclosure Act, sebagai Title IX the “Patsy Takemoto Mink Equal Opportunity in Education Act,” yang ditandatangani President George W. Bush. Tak heran kini Amerika Serikat menjadi salah satu Negara yang terhebat dalam perolehan medali emas untuk berbagai bidang olah raga beregu putri (Sepakbola, Volley, Baskeball). Mendapatkan Emas (6kali berturut-turut Basketball putri Olimpiade). Melihat bagaimana di Amerika Serikat sports bagian dari patriotisme (nasionalisme) bukanlah dari dukungan semata-mata Negara atas fasilitas olahraga tetapi Masyarakat dan Swasta (sponsor, penonton yang beli jersey dan pernak-pernik) itulah sesungguhnya industri yang ramah dan industri di masa depan. Bagaimana perusahaan lokal American Branded mendukung atlet dan sponsor tim yang membawa nama negara.

Pada konteks Amerika Serikat,  yang telah memiliki Regulasi olah raga yang mendukung keseteraan, pada kenyataanya atlit perempuan dipun masih mengalami diskriminasi baik dari Bayaran maupun Coverage Media. Hal ini tentu saja terjadi mengingat sistem Patriarki dalam arti sexisme masih terjadi, ketika manusia pemegang kekuasaan baik-perempuan dan laki-laki masih mempraktekkan sexisme (Bell Hooks, Feminism is for Everybody). Mengingat di Amerika Serikat olahraga/sports sangat erat kaitannya dengan entertainment (Budaya/Arts) maka mulailah perjuangan equality in pay on sports (http://www.bbc.com/sport/40299469 )untuk berapa event besar, namun liputan media massa tentang event olahraga perempuan masih kecil. Ketika ada WOMEN WORLD CUP tahun 2015 di Kanada, coba ditanyakan kepada perempuan penggemar sepakbola di Jakarta (pendukung Persija misalnya), mungkin tak tahu, karena hampir tak ada siaran langsungnya di tv di Indonesia atau swasta. Mungkin mereka yang mempunyai saluran tivi kabel bisa menyaksikan di ESPN atau Channel sports lainya.

Kembali ke negeri Indonesia, dimana klub sepakbola lokal  (daerah kabupaten, Kota, dan Provinsi) telah dikenal warga penggemar sepakbola di wilayahnya (klub Sepakbola Laki-laki). Presiden Jokowi mulai mengambil kebijakan untuk mendorong sepakbola putri. Toh Indonesia memang pernah punya sepakbola Putri ditahun 1980an. Waktu itu Mutia Datau yang cukup dikenal https://www.kompasiana.com/bungeko/muthia-datau-legenda-sepak-bola-wanita-indonesia_5509719aa333113e4b2e3a17 , dan pada masa itu enam dan olah raga antar sekolah lumayan masif. Namun keterkaitan antara Sekolah dengan prestasi olah raga hampir tak ada. Malahan ada seorang anak yang mewakili wilayahnya lomba di tingkat kabupaten dan mendapat mendali, namun tidak dihargai oleh guru olahraganya mendapat nilai buruk. Bandingkan dengan Amerika Serikat, dimana pendidikan dan olahraga itu memiliki kedekatan untuk sentimen daerah (lokasi sekolah), dan kebanggaan prestasi dan bertingkat dari SMP, SMU hingga Universitas. Tidak sulit sesungguhnya dilaksanakan bila ada kordinasi yang baik antar Instansi Departemen Pendidikan dan Kementrian Olah Raga.

Menilik tulisan kompasiana di atas tentang ketakutan Ibunda Mutia (atlit sepakbola putri) yang ketakutan anaknya menjadi tomboy seharusnya bisa dihindari. Olah Raga adalah demi kesehatan, bahkan bisa jadi profesi (mata pencaharian), bagian dari Pendidikan Karakter, sebagai bagian inti dari Budaya yang dapat mengharumkan Nama negara, hanya dengan Mendapatkan Juara/Champion atau Emas lah LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA tersiarkan di Luar Negeri dihadapan bangsa lain.  Emas yang diperoleh Perempuan atau Laki-laki semuanya didampingi LAGU KEBANGSAAN, tak ada diskriminasi terhadap patriotisme/nasionalisme. Perempuan dan Laki pembawa Nama Negara, Warga Negara Indonesia 🙂

 

tambahan: Minggu ini 19-21 Maret 2018, kompetisi Basket Putri penyisihan Piala Srikandi berlangsung di GOR Lokasari Mangga Besar Jakarta- TIKET GRATIS. Kompetisi termasuk liga yang diikuti atlet basket putri profesional .

srikandcup.com

 

 

 

 

Non Vegetarian: Animal & Plant Equality on Earth

All “good” creatures creates by Gods/Goddesses have obligation to living kindly on Earth, Ocean and in between. All have their nobility to live in the mortality of the world to be in immortality of heaven. They are human, animal, plants/tree and creatures in between seen and unseen. Called it Nature of the Earth or outer space, seen or unseen.

Nowadays trend for people to be a vegetarian. They’re follow by certain spirituality to be a vegetarian or for most of non-practicing certain religion claimed to be non violence (eat by killing animal) , other follow the religion and some to be healthy.

For creatures whom living on earth they have to act in accordingly of Great power of Nature. Because the modern human, who have and still held the reign of Natures (minus unseen and in between world), human still cannot control the Greatest Power of Natures (mountain, outer space, seas and all layers of the earth).

In accordingly conduct by Greatest Power of Nature for example, most of all animal driven by their commonality of instincts to staying alive, or desire to fulfilled hungry. They do not have what human taught as Culture. Culture is the knowledge or sciences that has been learn through education since human’s birth, from parents to all their children. The forms of culture of human created things that might called beauty with different forms of its as functions and usefulness to make life good living. Not merely staying alive like the animals. Within this context human also have the obligation to exercised the power to animal and trees, due to their powerlessness to Greatest Nature. As we are in Nuswantara believe that human ancestor directly from God/Godess who owns the Greatest Power of Nature , that is why many traditional cultural activities in relation to stay living (making food farmer, harvest has always have way to connect both Natures and God/Goddess.

Relationship between human and animal ultimately close since the beginning of Earth inhibited by human. Infact before human as directly descent by God, other species have lived on earth, they were giants or tiny creature sometimes called dinosaurs, and apes. Those existences cannot be denied. All holy books from differences spirituality said about those existences. About how human is the Utmost powerful creature to rule the planets, yet nowadays only rule Earth, and its also still limited, unlike the ancient powers did. The ancient human ruled similar with the God/Goddess due to prime power that given directly by the Almighty. All the stories you can read in scriptures tomb and ancient building all over the Earth. Yet, modern human stil cannot reach the conclusion about the existences of many unexplained phenomena that occurred in and on earth as well above.

Anyhow back to animal relation with human. Henry Bergson has said abit about differences between human and animal, about instinct and intelegent. Ki Ageng Surya Mentaram, a Javanese psychology has stated the differences of human and animal. How the privelege human had toward themselves and natures while, animal merely “robot” whom already been created base on limited instinct. Yet because of their relationship with human, animal can have metaphor more than they used to be, bigger than instinct. It is a privilege for both creatures. Somehow, there’re Believers in direct creation of certain animal is made by certain God/Goddess. And somehow, if one human, or god/goddess did something real mistaken or disobedience the Curse or Punishment was to become An Animal with half formed of human, like Ganesha, a God with half human body and head of elephant believes as God of Sciences. In fact it was believe he was a Prince of God’s Ghana son of Batara Guru, have his kingdom in upper Sunda Land, due to his mistake he was became half elephant. But there was duration for punishment. While as Ganesha, all elephants in the world bow to him. It was rather similar with certain God/Goddess or One Person Choosen a Prince/Princess who can transformed themselves (by choice) to be animal with diiferent feature/figure with common animal.

 

 

Semua mahluk “baik” yang diciptakan dewa/dewi memiliki tanggungjawab untuk hidup dengan baik di Bumi, Laut maupun ruang di antaranya. Semua mempunyai kemuliaan untuk hidup dalam ketidak abadian di dunia dan untuk abadi di nirwana. Mereka adalah manusia, hewan, tananam dan mahluk di antaranya yang terlihat maupun yang tak nampak. Sebutlah itu sebagai jalananya Alami Bumi.

Kini sedang terjadi tren di dunia menjadi vegetarian. Beberapa yang mempraktekkan menjadi vegetarian beragam alasan, khususnya yang non penganut Budha yaitu tak mau membunuh, atau untuk jaga kesehatan.

Mahluk yang hidup di atas bumi berprilaku sesuai fitrah atau Arahan dari Sang Pencipta. Karena manusia modern masih menguasai alam (tanpa penguasaan yang tak tampak dan mahluk antara), manusia pun tak dapat mengontrol/menguasai Kekuatan Terbesar Alam (gunung, antariksa, angkasa, lautan dan lapisan-lapisan dunia).

 

SUMBER SEJARAH DARI NUSWANTARA

SEGALA INFORMASI DATA DAN SUMBER INFORMASI DAN FAKTA YANG TERSAJI DI WEBSITE/BLOG wartafeminis.com apabila menyangkut Sejarah Nuswantara didapatkan melalui NARASUMBER LANGSUNG Pelaku Sejarahnya— yaitu Para Leluhur Nuswantara yang bercerita langsung melalui putu wayah (cucu jaman). Sekarang jaman ini tergabung dalam turanggaseta.com

Bagi yang mempercayai dan ingin terus mengetahui bahwa LELUHUR NUSWANTARA itu ada menguasasi SEMESTA JAGAD GUMELAR DAN JAGAD ALIT.

Apabila ada sumber lain yang mirip dan sejalan dengan informasi dan data turanggaseta.com maka hal tersebut semata kehendak BELIAU PARA EYANG LELUHUR.

Para Leluhur Nuswantara memomong Jagad Semesta dunia sehingga jejaknya tersebar diseluruh semesta.

NUSWANTARA adalah peninggalan yang akan kembeli bangkit sesuai janji 500tahun.

Persatuan NUSWANTARA sejati pasti tetap ada, perpecahan tak akan dapat menggantikan KESEJATIAN NUSWANTARA, apalagi ajaran dari tanah seberang, barat maupun tanah gersang.

SURGA DI NUSWANTARA TETAP AKAN MENJADI SURGA bacalah, baca apakah ada Negeri seperti NKRI-Nusantara????

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑