Novel tentang Budak Jawa di Afrika masa Kolonial

Membaca novel adalah pengembaraan visual yang dibantu teks, kata-kata pemomongnya, yaitu penulis novel. Sebagai feminis, saya suka membaca novel karya perempuan, terutama yang jelas tuturan visualisasi dengan deskriptif dan narasi yang penuh rasa emosi. Termasuk novel Sapaan Sang Giri (SSG). Tak banyak novel perempuan Indonesia yang saya baca akhir-akhir ini,  malahan  baru baru ini baca novel jadul Chandrakirana karya Ajip Rosidi.

Novel Sapaan Sang Giri (SSG) ini merupakan karya debut Isna Marifa. Saya merekomendasikan perempuan yang suka dengan novel berbahasa puitis, dan narasi indah mendeskripsi lingkungan alam yang penuh imaji visual, dan tentunya bercerita juga tentang kekayaan pengalaman perempuan dalam kehidupan domestik, terisolasi.

Novel SSG bercerita tentang pengalaman orang-orang yang dengan narasinya: yang harus pergi jauh meninggalkan daerah asal karena dijual sebagai budak  Parto dan Wulan, dan orang-orang yang ditinggalkannya ayah Parto, Wage, yang juga menarasikan istrinya Sulastri. Novel ini dominan narasi perempuan, selain Wulan yang mendapat tempat 11 kali bercerita, perempuan sendiri merupakan konsep. Sama seperti ibu, perempuan adalah kata kerja.

Novel Sapaan Sang Giri (SSG) ini merupakan karya debut Isna Marifa. Saya merekomendasikan perempuan yang suka dengan novel berbahasa puitis, dan narasi indah mendeskripsi lingkungan alam yang penuh imaji visual, dan tentunya bercerita juga tentang kekayaan pengalaman perempuan dalam kehidupan domestik, terisolasi.
Judul: Sapaan Sang Giri Sebuah Novel
Oleh: Isna Marifa,
Penerbit Ombak Yogyakarta 2020, 210 halaman

 Peristiwa perbudakan digambarkan terjadi pada abad ke 18 di tanah Jawa, ketika seorang kehilangan kekuasaan atas dirinya karena jerat lintah darat,  seakan alam turut andil mengkondisikannya dengan banjir yang jadi penyebab tak ada panen.  

Perjalanan bapak dan anak dibuka oleh suara hati Wulan.  Parto sebagai budak, dan Wulan anaknya yang ikut sejak usia 10 tahun, dan  yang harus bertahan hidup di kapal laut selama berbulan-bulan, untuk tiba di Afrika Selatan. Banyak yang tidak selamat didalam perjalanan meninggal dunia, diantaranya Yu Mirah, suaminya sakit di dalam perjalanan dan dibuang ke laut, yang trauma sehingga tak banyak bicara. Novel ini bisa dibilang berani, karena bagi  Anda yang berharap sesuatu yang happy ending akan nyesek, bagaimana menjemput ajalnya dipaparkan secara sederhana. Sebagai penggemar cerita happy ending, saya harusnya tidak suka, tapi karena balutan kental budaya asli Nuswantara, dan bagaimana rasionalitas kekerasan terhadap perempuan ditampilkan dengan halus, saya benar merekomendasi ini. Di akhir novel memang agak melambat… karena anti klimak.

Narasi Perempuan

Tertarik membaca karena judulnya, kata-kata Giri, yang dalam bahasa Sangsekerta berarti Gunung.  Sapaan Sang Giri memulai ceritanya kalimat-kalimat prosa dari Wulan, yang sedang dalam perjalanan di kapal laut. Bayangan imaji desa yang indah hingga air bah menghentikan tawa. Membaca novel ini asyiknya, walaupun berbeda dan berbagai perspektif, kita akan memahami masing-masing cerita yang dicurahkan tokohnya, juga tentang tokoh lain di alur kisah.

Wulan dan Parto sebagai tokoh utama yang harus pergi ke Afrika Selatan sebagai budak belanda bernama Baas. Parto bukan budak biasa, ia masih merasa lebih beruntung, karena memiliki keahlian sebagai tukang kayu, juga mengukir. Sejak ketibaannya di Afrika sebagai hingga akhirnya pada suatu masa berpindah dari perkebunan Baas dan tinggal dengan cucunya, hingga menjelang ajal kerinduan pada tanah Jawa tak pernah berhenti.

Sejarawan yang ingin menggali peristiwa masalalu pasti akan tertarik membaca SSG terutama yang tertarik pada peristiwa orang biasa bukan tokoh terkenal atau elit politik. Fakta perbudakan ditampilkan secara tuturan yang runut dan rapi. Dimana Anda bisa “menyaksikan” jual beli dan transaksi perbudakan. Bagaimana kondisi budak. Bagaimana pembeli. Bahwa orang Jawa dapat menjadi budak, bahkan aristokrat dapat menjadi tidak bebas (meskipun bukan budak). Realitas ketidakbebasan tak hanya terjadi pada budak. Mereka yang melawan pemerintah kolonial akan menemui risiko dipenjara, dibuang jauh ke negeri seberang. Itu pun ketika akhirnya bebas sebagai budak pembuktiannya harus dengan surat berbahasa belanda.

Buku ini memaparkan hubungan antara sesama manusia yang terperangkap dalam perbudakan dan harus tinggal bersama di kebun, Parto, Wulan, Bu Ning, Diman, Ahmad, Bejo, Nengah, Yu Mirah orang Jawa yang bercampur dengan Koki dari Bengal, pekerja dari Afrika, Reen anak perempuan dari suku Khoikhoi teman bermain Wulan, orang belanda pemilik budak, pembeli budak, pengawas Kneckt, perempuan belanda istri Baas anak belanda Olivia dan Mary, yang semuanya saling berkelindan dalam penyatuan dan kertepisahan yang hampir serentak, karena kendala bahasa. Tempat ini dikenal dengan  Tanjung Harapan (kini CapeTown).

Perbudakan adalah anak kolonialisme. Melebihi penindasan manusia atas manusia lain. Budak bukan manusia dia adalah barang yang bisa dipakai, dijual belikan oleh Pemiliknya. Di perkebunan apapun bisa terjadi pada budak, tak ada hukum yang melindunginya. Di dalam kisah SSG kita akan menemukan terjadinya modul kekerasan seksual, khususnya eksploitasi seksual. Dimana dalam RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, Eksploitasi Seksual[*]  

Pengalaman perempuan sangat nyata digambarkan oleh Wulan. Sebagai anak  usia 10 tahun, Ibu meninggal maka kehidupannya ditentukan oleh orang dewasa. Ikutlah ke Afrika. Di dalam kapal ada perempuan Jawa Bu Ning, juga berangkat sebagai budak. Kesehariannya sebagai perempuan Jawa menjalankan tradisi kejawen dipaparkan Wulan, dengan indah “Nduk kembang kenanga mengingatkan kita supaya mencari kearifan leluhur, dan menghargai warisan mereka. Walaupun kita jauh dari leluhur, Wulan kamu harus selalu mengingat cara-cara mereka” . Disinilah penyelaman penulis untuk menjadikan penting pengalaman perempuan yang dari jaman ke jaman taken for granted. Semua pengalaman Wulan dari masih anak-anak hingga dewasa menikah dan melahirkan penting, dan dengan renyahnya Wulan bertutur ketika belajar bekerja:

”Yu Mirah…

Dia ajarkan aku lipat serbet kain,

usap pisau garpu perak sampai berkilap…

agar isti Baas tidak membentak,

 Dan terpenting ajarannya.

Bagaimana kerja tanpa sedikit pun bersuara.

Bak hantu gentayangan.”


Kehidupan Wulan dari remaja digambarkan melalui perlakuan dari Bu Ning. Secara pribadi pun dia mengalami perubahan reaksi atas sikap dari perhatian pekerja musiman perkebunan laki-laki dari Afrika Barat,  Afdei laki-laki yang suka bersain gendang.

Alur selanjutnya yang menjadi bagian kehidupan perempuan sehari-hari digambarkan dari pengobatan herbal untuk mengobati Wulan yang batuk karena musim dingin. Bu Ning diajari membuat ramuan obat herbal dari rebusan tanam-tanaman,  pembuatannya oleh ibunda Reen, anak suku asli Khoikhoi, yang menjadi teman Wulan. Lalu Wulan hamil dari eksploitasi seksual, lahir anak Abimanyu, anak yang tak terlalu diharapkan, sempat coba dibuang namun gagal. Namun anak itu melindunginya dari pelaku kekerasan. Menikah dengan lalu hamil. Kehamilan kedua perempuan, dinamainya Restu, buah pernikahan dengan Ahmad orang Jawa di perkebunan. Wulau juga memaparkan tanda yang biasa dirasakan ibu hamil bila anak yang dikandungannya perempuan, makan di perutnya tak terlalu dirasa banyak gerak, tak terlalu banyak makan (rakus kalau ibu-ibu menyebutnya), dan si ibu suka berdandan, rapi.  Sementara anak yang dikandung laki-laki berbeda. Diantara siklus hidup itu semua, Bu Ning hadir dengan tradisi Jawanya. Nujubulanan, kembang setaman dan menyan. Walau jauh di Afrika sana, lantunan tembang macapat menjadi bagian Wulan.      

Kampung Halaman dan Jalan Hidup Manusia

Sapaan Sang Giri adalah kisah keluarga Wage Wage di Jawa, dan anaknya  Parto dan Wulan cucunya di Afrika, dalam rentang tahun 1751-1791. Suara para tokoh yang secara umum penuh kepedihan dan keprihatinan. Kerinduan pada kampung halaman. Jelas disampaikan ketika baru tiba, Wulan sudah minta pulang. Namun ada juga kegembiraan budak-budak Jawa di perkebunan ini. Ketika tradisi pernikahan dilaksanakan di tanah Afrika. Makanan, tatacara adat istiadat menjelang nikah, serasa di tanah Jawa.

Namun di tanah Jawa, yang ditinggalkan kekelaman lebih dalam. Dari Wage kita membaca penantian dan harapan anak dan cucunya pulang kampung dinantikan selalu. Bahkan diadakan doa dan kenduri. Tak ada hasil, tak jua ada pedati tiba. Bahkan pembaca akan terenyuh lebih dalam dengan kepergian nenek Wulan, Sulastri.

Secara garis besar novel ini merengkuh nilai Jawa dalam kehidupan dimanapun, Nrimo, Ikhlas. Terutama ketika sudah terjadi. Sehingga Parto pun akhirnya menerima gunung batu layaknya Gunung-gunung di Jawa. Rasa syukur selalu ada, bahkan ketika pada akhirnya harus kehilangan orang-orang kinasih.  Tulisan ini tak bermaksud memberikan spoiler bagi pembaca. Secara struktur kisahnya rapi terjalin. Ada jalan yang tidak diketahui manusia, ada kehilangan, lalu kembali bertemu dalam keterlambatan. Ada sisipan kisah politik perpecahan ningrat Jawa saat pembagian keraton Surakarta dan Yogyakarta, ningrat dari berbagai wilayah Nusantara yang yang dibuang ke Afrika. Ada kesetiaan doa, ada rebound. Yang pasti novel ini berani, berani mematikan tokoh utamanya tanpa kita sedih larun dalam kedukaan mendalam. Novel ini adalah novel menceritakan nilai kemanusiaan, yang universal dan yang personal. Universal manakala diantara manusai berbeda bangsa, suku adat istiadat dapat hidup dalam harmoni kebersamaan. Personal kita mendapati segala rasa, meski yang terkuat adalah penyesalan, semua tokohnya.

[*] Ekspoitasi Seksual: Eksploitasi seksual adalah tindakan seseorang yang memiliki kekuasaan dan/atau posisi terhadap akses, kontrol, manfaat terhadap sumber daya, menggunakan kekuasaan dan/atau posisinya tersebut untuk melakukan tindakan seksual dengan seseorang yang tidak memiliki kekuasaan atau yang bergantung padanya untuk mendapatkan sumberdaya, atau semata-mata untuk keuntungan/pemenuhan seksual pelaku. (JKP3 Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan)

Patriarki: Timnas Sepakbola Putri Indonesia lolos Kualifikasi Piala Asia 2022, Minim Berita

Patriarki

Patriarki adalah ideology dan mewujud dalam sistem sosial dimana laki-laki memegang peran utama dan kekuasaan sehingga dalam prakteknya diseluruh bidang kehidupan manusia laki-laki mendominasi, menguasai, menentukan dan memutuskan segala hal. Kepemimpinan politik, kepemimpinan agama, hukum, maupun budaya semua dalam kontrol kuasa dari laki-laki, bahkan dunia spiritual dan moral pun dalam cengkraman laki-laki. Laki-laki disini tidak terbatas pada manusia berjenis kelamin, sangat mungkin perempuan yang mengadopsi ideologi dan sistem patriarki sehingga menjadi alat kekuasaan patriarki bahkan melanggengkan patiarki. Sebagaiman disampaikan oleh Kamla Bashin “”I know enough women wo are totally patriarchal, who are totally anti-women; who do nasty things to other women, and I have known men who have worked for women’s rights their whole life. Feminism is not biological: feminism is ideology”. Secara konsensus patriarchy ideology hanya bisa dilawan dengan ideologi feminis. Ideologi feminis sendiri tidak tunggal, ada banyak cabang dan bentuknya, lahir secara beriringan dengan bentuk penidasan patriarki.

Secara global feminisme lahir dan dikembangkan dalam dunia akademik di barat (baca eropa utara dan amerika utara) lalu berkembang dan menjadi bagian perjuangan gerakan yang berjalan bersama pembelaan hak asasi manusia. Sebagai sistem dan ideologi, praktek dan wujud sehari-hari patriarki terjadi dalam semua bidang kehidupan primer maupun sekunder manusia, publik dan private termasuk dalam bidang olah raga yang tak lagi bersifat sekunder namun juga primer untuk kesentosaan manusia. Sejak Indonesia merdeka olah raga menjadi bagian penting nasionalisme ketika kompetisi seiring berjalan dengan identitas negara. Akan tetapi pertumbuhan akan menguatnya nasionalise tak sejalan dengan penghapusan penindasan patriarki yang terjadi dan berjalan bersamaan. Hal inilah yang menjadikan keterpurukan perempuan karena seksisme dalam dunia olahraga di tanah air hampir tak mendapat perhatian media. Yang paling sederhana adalah prestasi nasional dibidang sepakbola Timnas Putri lolos Kualifikasi Piala Asia 2022 luput dari perhatian media nasional. Sebelum memasuki topik utama, berikut ini adalah bagaimana patriarki mewujud dalam kehidupan sehari-hari, dan bagaimana perempuan seringkali turut serta menjadi agen patriarki ketika tetap mengadopsi prakteknya dan tidak merasa, atau tidak peka atas seksisme yang sedang terjadi dan dialami oleh perempuan.

Contohnya yang baru-baru ini terjadi di Amerika Serikat ada pelatih tim club sepakbola perempuan nasional (dalam NWSL National Women Soccer League; soccer adalah sepakbola dalam bahasa Inggris Amerika Serikat) yang membully dan melecehkan para pemainnya. Sudah dilaporkan, termasuk diantara yang menerima laporan atau mengetahuinya adalah perempuan, tetap saja diam hingga akhirnya terkuak jumlah korban yang lebih dari satu orang, dan yang lebih parah tentu kasus Larry Nassar bertahun-tahun terjadi akhirnya terkuak dan menjadi pendobrak kasus kekerasan seksual dalam gerakan #MeeToo. Di Indonesia salah satu yang “belum” tersentuh “aktivis” isu gerakan kesetaraan gender dan woman’s rights mungkin dalam bidang olahraga. Mungkin tak ada juga matakuliah olah raga dan feminisme dalam discourse akademik di Indonesia, patriarkinya masih kuat mencengkeram.

Berikut, ciri khas feminis dengan feminismenya adalah mengcounter praktek yang diabadikan dalam kehidupan melalui ideologi patriarki:

PatriarkiFeminismePerwujudan counter
Dominasi laki-laki atas perempuan.   Semua posisi pengambil keputusan, penentu, dsb oleh laki-laki.
Dikenal dengan praktek ideologi seksisme, dimana secara khusus manusia jenis kelamin perempuan mendapatkan perlakuan yg merendahkan kemanusiaannya(dengan segala bentuk & wujudnya dalam kehidupan seorang perempuan di dunia publik/privat), second sex.
Setara perempuan dan laki-laki. Perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam segala bidang kehidupan.Politik: Kuota (affirmatif action), baik yang diperjuangkan (perebutan kursi pemilu perempuan) maupun yang direserved sistem (India, Indonesia pernah menyediakan kursi di MPR untuk perwakilan perempuan)
Kapitalisme/Imperialisme   Mengutamakan keuntungan yang diperoleh dari produksi barang yang sebanyak-banyaknya, Penjajahan untuk penguasaan/mendapatkan bahan baku industri (kapitalis)Ekonomi Subsisten yang terutama adalah pemenuhan kebutuhan manusia, bukan memproduksi yang banyak, tetapi saling menyediakan kebutuhan tidak berlebihan, Sosialisme dan menentang segala bentuk penindasan atas bangsa-bangsaDi suatu wilayah kecil dipelosok warga dengan sistem ekonomi berbagi bersama. Hidup dari yg ditanam dan dipelihara. Sistem ekonomi kredit tanggung renteng yang dilakukan para ibu-ibu di wilayah Jawa Timur dan Indonesia pada umumnya.
  Eksploitasi alam/hutan tambang dsb    Memelihara Hutan, hidup di hutan, dalam hutan. Perempuan memelihara alam, perempuan dari kalangan masyarakat adat adalah pemilihara hutan dan menanam sumber pangan di halaman rumah bagi keluarga. Pesantren ekologi Garut, selain menujukkan bahwa subsisten perspektif dalam dilakukan, keberlangsungan dan kelestarian alam dapat sejalan dengan prinsip kesetaraan.
Diskriminasi sebagai pantulan patriarki.   Diskriminasi terhadap yang the powerless (perempuan, masyarakat adat, difabel, ras, agama minoritas)  Kesetaraan dalam Feminisme adalah termasuk tanpa diskriminasi dalam segala hal, perempuan mengalami diskriminasi bertingkat jenis kelamin, rasnya, agamanya, ekonominya dsb.Dalam bidang Olah Raga di Inggris telah terjadi kemajuan, diskriminasi dalam pengupahan tidak terjadi, artinya perempuan dan laki-laki dalam TimNas Inggris mendapat upah yang sama.  
Diskriminasi dan Dominasi dalam dunia Olah Raga: Pemberitaan media massa.   Olah Raga diklaim milik dan semata-mata untuk laki-laki, terkait dengan pandangan Binari Maskulin/Feminin. Laki-laki kuat, laki-laki berkuasa. Powerful laki-laki, Powerless perempuan.  Inklusif, dalam berbagai kegiatan olah raga perempuan, dapat membawa anak, laki-laki tetap terlibat dan juga ada non gender binari.   Power To-kekuasaan bukan Power Over/Kekuasaan Atas tetapi kekuasaan untuk didistribusikan. Nature-nya Ibu mendahulukan anaknya.ESPNW  (industri broadcast olah raga) Togethrx inisiatif atlit ternama perempuan yang mengankat berita perempuan dan olahraga platform Medsos (Amerika Serikat)    
 Liga dan cabang olah raga sepakbola di banyak Negara adalah khusus tim sepakbola laki-laki. Memberi ruang prestasi olah raga yang sama bagi perempuan dan laki-laki.  Liga sepakbola putri tumbuh di negara-negara. NWSL (USA), WSL (Australia), Inggris paling banyak liganya, Liga Amerika Latin Copa America Feminina, Perancis dll Inklusif, Perempuan juga mendirikan liga dan tanding dalam sepakbola yang difasilitasi FIFA. Tentunya tak dapat dipungkiri ada inisiatif negara yang telah lebih dahulu maju dibidang sepakbola tim putri.

Sepakbola Putri Indonesia dalam Cengkraman Seksisme, Tidak Penting untuk Diberitakan

sumber: sportstars.id

Negara di dunia, dapat dikatakan telah advance ketika timnas putri sepakbola negaranya ikut dalam turnamen Final Piala Dunia Sepakbola putri. Dari ratusan negara di dunia, 24 negara maju bertanding turnamen final perebutan Piala Dunia Perempuan 2019, di Perancis. Negara Thailand  turut bertanding mewakili Asia Tenggara,mmeskipun kalah 0:13 dari juara Dunia Amerika Serikat kehadiran timnasnya di perhelatan dunia merupakan suatu yang membanggakan. Hal ini karena dalam setiap pertandingan antar tim regu suatu negara, Bendera dan Lagu kebangsaan dikumandangkan di stadium oleh raga internasional dan diliput oleh stasiun berita dari berbagai penjuru dunia.

Namun Indonesia meskipun hampir semua cabang olah raga diikuti perempuan dan laki-laki, sepakbola termasuk yang tidak ada tim putrinya, pemberitaan media massa tentang sepakbola putri sangat minim.  Khususnya ketika Tim Sepakbola Putri Indonesia mampu menembus kualifikasi perebutan Piala Asia 2022, prestasi yang baru diperoleh kembali setelah 32 tahun kemudian. Tetap saja, hampir tak ada media mainstream memberitakan berita gembira tersebut. Mengapa hal ini terjadi, ideologi patriarki dan praktek seksisme di segala bidang kehidupan di Indonesia masih sangat parah khususnya dalam bidang olahraga.

PON XX di Papua yang berlangsung 2-15 Oktober 2021 diikukti oleh 6 tim sepakbola putri yang berasal dari DKI Jakarta, Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, Jawa Barat, dan Kalimantan Tengah. Sebelum mendapatkan tiket tanding perebutan medali eman PON cabor sepakbola putri telah mengikuti pertandingan penyisihan sebelumnya.

Indonesia, sistem patriarki yang bercampur kuat dalam praktek religi membuat keterpinggiran perempuan menjadi-jadi,  khususnya dibidang olah raga populer seperti sepak bola, basket dan olah raga beregu lainnya.

Untuk kedua event PON maupun Piala Asia sepakbola putri, pemberitaan sangat minim. Bahkan bisa dibilang tidak ada dalam berita mainstream. Apabila alasanya karena pada saat yang sama sedang berlangsung pertandingan Liga Satu Sepakbola putra dimana tim/club sepakbola dari daerah saling memperebutkan piala, tentu alasan yang sangat patriarkal. Seakan Indonesia hanya didiami oleh mahluk berjenis kelamin laki-laki. Namun pada kenyataanya seperti itu.

bintang sepakbola putri Indonnesia Zahra Mudzalifah, sumber football5star

Di media-media maisntream seperti Kompas, Warta Kota baik online maupun cetak tak ada pemberitaan tentang Peristiwa Timnas Putri Indonesia lolos kualifikasi Piala Asia 2022, sementara berita sepakbola Liga Satu ada dihalaman muka, dan halaman berita Olahraga di halaman dalam tidak memuat berita Timnas Putri sementara olahragawan putri lainnya yang tidak mewakili Timnas dimuat ukuran hampir satu halaman. Mengapa saya mengkritisi ketiadaan media mainstream memberitakan Timnas Putri, karena selain media mainstream berita sepakbola putra baik timnas maupun klub telah menghabisi ruang-ruang di media khusus olahraga baik cetak maupun online. Sexist Media atau Media Seksis, adalah penggambaran sehari-hari ideologi seksisme dalam paparan, tampilan, content, substansi dan aksesory media massa. Seksisme mengedepankan dan menempatkan laki-laki kaum dari jenis kelaminnya sebagai “pendorong” “penggagas” “pelaksana” segala kebijakan disegala bidang di dunia, dengan menempatkan perempuan dalam posisi objek seks, sex object, melekat dan sulit dilepaskan sehingga sangat mudah ditemui dalam seluruh conten media, seluruh jenis media. Media elektronik, media cetak, medsos, media audiovisiual (film) dan media kekinian (gadget), tentunya semua terkait juga dengan posisi-posisi laki-laki dalam industri media massa. https://wartafeminis.com/2011/09/01/media-seksis/.

Ini salah satu bukti bagaimana WartaKota pada tanggal  28 September 2021, semalamnya ada informasi 27 September 2021 Timnas Putri lolos kualifikasi Piala Asia 2022 setelah mengalahkan Singarpura di Tajikistan dengan skor 1:0, meniadakan informasi Kemenangan Timnas Putri. Pagi hari langsung cari berita di wartakota. Tak ada. Hanya berita di media online tertentu yang memberitakannya. Media mainstream yang memiliki dua kanal cetak dan online seperti Kompas dan Wartakota tak menyiarkan berita keberhasilan TimSepakbola Putri. Media online CNNIndonesia bisa dimaklumi memuatnya karena berafiliasi dengan Amerika Serikat dimana sepakbola/Soccer adalah olahlaga populer khususnya bagi kalangan putri sama halnya dengan basketball yang juga merupakan tim terbaik dunia.


Surat kabar mainstream/umum Jakarta halaman depan pada tanggal 28/09/2021 dan 29/09/2021beberapa saat setelah informasi Timnas Sepakbola Putri memastikan diri masuk kualifikasi Piala Asia 2022, tak ada beritanya sedikitpun. Sedangan halaman depan memberikan ruang untuk berita turnamen sepakbola antar klub, dua hari berturut-turut, halaman depan!. Perhatikan halaman tengah yang memuat berita olahraga 2 halaman, juga tak ada tentang berita Timnas Sepakbola Putri. Hal yang cukup menganggu adalah halaman tengah, 1 halaman penuh sepakbola putra pertandingan klub luar negeri.

29 September 2021, tak jauh beda dengan 28 September 2021, tak ada pemberitaan TimNas Sepakbola Putri. Pun dengan Surat Kabar cetak Kompas pada tanggal yang sama.

Sementara pemberitaan media online sebagai-berikut: media CNNIndonesia sebagaimana disebutkan di atas, lalu media lain yang memuat berita Timnas Putri adalah media spesifik olahraga, bukan media mainstream atau umum.

Juga lihat Kompas pada tanggal 28-29 September 2021, sebagai berikut:

Kompas 28 September 2021 tak ada pemberitaan keberhasilan Timnas Putri.
Bahkan ditanggal sama 28/9 halaman non sports Jendela pun digunakan untuk berita Olah Raga berwarna pula, sepakbola dalam dan luar negeri, tanpa info sama sekali tentang Timnas Sepakbola Putri.
29 September 2021, Kompas tak ada berita Timnas Putri.

Tak jauh beda bahkan mungkin lebih parah parah, ada halaman Olahraga, lalu disusupkan olahraga dalam halaman Jendela, memuat Olahraga sepakbola pula dalam dan luar negeri, lagi-lagi tak ada info tentang Timnas Sepakbola Garuda Putri. Cukup mengenaskan gambaran di atas ini bagi saya, bagaimana atlit perempuan khususnya yang membawa nama Negara dengan Lambang garuda didadanya bekerja keras, latihan yang sama kualitas berat dan disiplinnya untuk bisa tampil membawa nama Negara untuk tersingkir dalam pemberitaan koran Kompas. Koran yang sudah lama berkibar mengklaim mendukung demokrasi dan kesetaraan gender.

Seksime dalam Sepakbola

Hal-hal yang diungkapkan diatas adalah ketiadaan pemberitaan pada Prestasi yang ditorehkan oleh TimNas Putri Indonesia di ajang internasional, lalu bagaimana realitas seksisme yang terjadi di lapangan sepakbola, di tribun penonton maupun di social media, apakah juga diberitakan ataukah terjadi dan tak ada yang peduli.

Bila berharap pada media mainstream tentu mereka masih tak peduli, meskipun fakta dan data di lapangan ada, masih sulit mencari pemberitaan tentangnya. Khususnya pada saat event Liga Sepakbola Wanita antar klub yang berlangsung Oktober-Desember 2019 dan tim sepakbola putri yang menjadi Juara adalah Persib Putri (Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung). Liga Sepakbola 2019 adalah liga yang untuk pertamakali dilaksanakan di Indonesia tiga bulan setelah gelaran Piala Dunia 2019 di Perancis. Pada masa berlangsungnya turnamen Liga Sepakbola Wanita 2019 yang diikuti 10 klub dari kota Jakarta, Bandung, Bogor, Sleman, Semarang, Surabaya, Makasar, Jayapura, Bali, Malang. Secara nasional, perseteruan antar fans klub sepakbola pria Persib Bandung dan Persija Jakarta dikenal sengit. Hal ini terbawa pada prilaku fans klub dengan menunjukkan seksismenya terhadap tim lawan. Perihal seksisme ini, sebagaimana dialami oleh pemain dari Tim Sepakbola Putri Persib dari Bandung Jawa Barat, Resa Julian, mahasiswa Universitas Komputer Indonesia yang menulis skripsinya berjudul Perancangan Kampanye Melawan Seksisme pada Sepakbola Wanita Persib Putri (disingkat Melawan Seksisme, pen.) melalui Media Poster, media lainnya yang ditulis oleh Resa Julian mahasiswa Universitas Komputer Indonesia, Bandung Jawa Barat.

Skripsi yang memberi gambaran pentingnya melakukan edukasi melalui kampanye melawan seksisme ini dapat dianggap sebagai suatu gerak pemikir muda untuk menyelesaikan masalah seksisme dalam sepakbola di Indonesia. Media massa non mainstream mengungkap masalah seksisme ini dalam berita di media khusus olahraga, sebagai berikut:

Meskipun difokuskan pada dan terkait fans pendukung lawan dari Tim Sepakbola Persib Putri, Melawan Seksisme yang didesain oleh Resa Julian menunjukkan pentingnya inisiatif komunitas dan kelompok masyarakat berbagai bidang Melawan Seksisme, dalam hal ini komunitas fans sepakbola. Desain melawan seksisme yang dikreasi oleh Resa Julian bertujuan menghadirkan media kampanye yang berisi pesan persuasif yang dapat merubah pola pikir, cara para pandang dan mengedukasi suporter laki-laki yang melakukan tindakan seksisme terhadap klub sepak bola wanita.

Melalui perancangan kampanye tersebut dapat mengedukasi suporter laki-laki baik yang berada di Kota bandung maupun di Indonesia secara luas, agar dapat menghargai dan mendukung klub sepak bola wanita secara positif.

Seksime dalam sepakbola

Ini terjadi kepada klub Persib Putri setelah dikalahkan Persija Putri pada pertandingan Liga 1 Putri yang berlangsung pada hari Rabu 10 Oktober 2019, di stadion Maguwoharjo Sleman. Setelah pertandingan usai Persib Putri mengalami tindakan seksisme di media sosial yang dilakukan oleh akun fanspage pendukung Persija Jakarta dengan bentuk meme dengan menyebut Persib Putri “maung lonte”. Perilaku seksisme hingga sekarang sering ditemukan di media sosial. tindakan seksisme ini sering dikemas dalam bentuk candaan seperti meme

dan komentar pada postingan akun sosial media. Shiftman (2014, h. 13) menjelaskan “meme merupakan gambar, foto, tulisan dan lainnya yang bersifat humor dan disebarluaskan di internet”

Penelitian Resa dapat menjadi titik terang bagi perubahan mindset di masa depan, khususnya laki-laki penggemar sepakbola. Sebagai seorang laki-laki, penelitiannya juga mengambil sampel mayoritas laki-laki.Ada 173 responden terdiri dari 78% laki-laki dan 22%perempuan. Penelitian dilakukan sebagai keprihatinan atas peristsiwa seksisme yang tertuju pada tim sepakbola Persib Putri.

ini salah satu contoh seksisme dari tim pendukung Persija

Meskipun difokuskan pada dan terkait fans pendukung lawan dari Tim Sepakbola Persib Putri, Melawan Seksisme yang didesain oleh Resa Julian menunjukkan pentingnya inisiatif komunitas dan kelompok masyarakat berbagai bidang Melawan Seksisme, dalam hal ini komunitas fans sepakbola. Desain melawan seksisme yang dikreasi oleh Resa Julian bertujuan menghadirkan media kampanye yang berisi pesan persuasif yang dapat merubah pola pikir, cara para pandang dan mengedukasi suporter laki-laki yang melakukan tindakan seksisme terhadap klub sepak bola wanita.

Melalui perancangan kampanye tersebut dapat mengedukasi suporter laki-laki baik yang berada di Kota bandung maupun di Indonesia secara luas, agar dapat menghargai dan mendukung klub sepak bola wanita secara positif. Desain kampanye Melawan Seksisme digunakan sebagai tagline #lawanseksisme

Ini terjadi kepada klub Persib Putri setelah dikalahkan Persija Putri pada pertandingan Liga 1 Putri yang berlangsung pada hari Rabu 10 Oktober 2019, di stadion Maguwoharjo Sleman. Setelah pertandingan usai Persib Putri mengalami tindakan seksisme di media sosial yang dilakukan oleh akun fanspage pendukung Persija Jakarta dengan bentuk meme dengan menyebut Persib Putri “maung lonte”. Perilaku seksisme hingga sekarang sering ditemukan di media sosial. tindakan seksisme ini sering dikemas dalam bentuk candaan seperti meme dan komentar pada postingan akun sosial media. Shiftman (2014, h. 13) menjelaskan “meme merupakan gambar, foto, tulisan dan lainnya yang bersifat humor dan disebarluaskan di internet”

Penelitian Resa dapat menjadi titik terang bagi perubahan mindset di masa depan, khususnya laki-laki penggemar sepakbola. Sebagai seorang laki-laki, penelitiannya juga mengambil sampel mayoritas laki-laki.Ada 173 responden terdiri dari 78% laki-laki dan 22%perempuan, dan hasilnya kuestioner terkait adanya seksime mayoritas setuju untuk mengubahnya melalui edukasi kesetaraan gender.

sumber: Skripsi Resa Julian, Universitas Komputer Indonesia.
Poster Kampanye

Melalui skripsi Melawan Seksisme Resa Julian memberikan tools dan medium kampanye beragam jenis yang didesain printing, social media, banner, flyer, scarft, flag dll dan siap digunakan. Salah satunya adalah Poster:

Materi poster
Pada poster ini berisi materi tahapan pencegahan seksisme yaitu:

  1. Hentikan memberi komentar tentang lelucon cabul, humor tentang seks atau merendahkan wanita pada sosial media pemain.
  2. Dukung kami dengan berikan teguran keras pada oknum suporter yang melakukan seksisme.
  3. Bergabung bersama kami untuk melawan seksisme dengan tagar #LawanSeksisme (kutipan skripsi)
Poster

Desain media kampanye yang dikreasi Resa Julian diharapkan dapat secara praktis menggerakan suporter laki laki sehingga teredukasi mengenai tindakan seksisme merupakan tindakan yang negatif. Dapat mengurangi tindakan seksisme yang dilakukan oleh suporter laki-laki.

Penutup

Di Indonesia ada dua kategori jenis olahraga. Olah raga rekreasi adalah olahraga untuk tujuan kesehatan, olah prestasi adalah olahraga pertandingan atau kompetisi yang memperebutkan sesuatu baik medali atau piala ataupun hadiah lainnya. Menariknya sepanjang turnamen yang mempersembahkan medali atau piala dari atlit dan mengatasnamakan bangsa, banyak yang dipersembahkan oleh perempuan. Namun mengapa seksime dalam bidang olahraga di Indonesia secara holistik belum juga berkurang, ketiadaan berita Timnas Sepakbola Putri dan berita tentang sepakbola putri di Tanah Air merupakan penghalang bagi perempuan yang ingin berkiprah dalam olahraga tersebut, kemana mencari panutan atlit sepakbola putri, dimana nonton perempuan main bola di tv, radio atau koran? Harus mencari berita ke surat kabar Iran, atau Australia yang timnas perempuannya juga masuk kualifikasi piala Asia…duh.

Apa yang Resa Julian kreasikan dalam praktek menulis demi kelulusannya sebagai sarjana Komunikasi, selayaknya menjadi penerang bagi aktivis perempuan, pembuat kebijakan baik pusat dan daerah (eksekutif), para pendidik, dan terutama media massa bahwa kekerasan terhadap perempuan benarlah terjadi di segala ranah kehidupan, termasuk olah raga. Hanya karena olah raga lebih dekat kepada bidang hiburan/kebutuhan rekreasi dan kesehatan non primer, maka ketidak adilan yang terjadi didalamnya sebagai bukan pelanggaran HAM, bukan kekerasan terhadap perempuan. Seksime adalah diskriminasi yang nyata. Indonesia sudah menandatangani CEDAW 1984, mengapa begitu sulit mengimplementasikan sesuatu yang telah menjadi komitmen Negara. Niat baik dan mewujudkannya, seperti tagline-nya Resa Julian #lawanseksime.

@umilasminah

Membaca secara kritis dan lebih jauh tentang perempuan dan olahraga sumber bacaan:

Alex Channon, Christopher R. Matthews (eds.) Global Perspectives on Women in Combat Sports: Women Warriors around the World, Publisher: Palgrave Macmillan UK, 2015

Jennifer Hargreaves ., Sporting Females: Critical Issues in the History and Sociology of Women’s Sport, Routledge,.1994

Susan Ware,, Game, Set, Match, Billie Jean King and the Revolution in Women’s Sports, North Carolina Press 2003.

Terbalik-balik Budaya: Buwana Balik

Terbalik-balik Budaya: Kekayaan Orisinil Nuswantara “diambil” Bangsa Lain

Peradaban modern yang bila dihitung dari jamannya Rene Descartes baru berusia empat ratusan tahun. Muda sekali dibandingkan peradaban Nuswantara yang tak terhingga usianya. Saking tuanya tak dapat ditebak dan dilacak. Terlebih karena alat lacaknya pakai alat modern yang usianya lebih muda lagi.

Peradaban asli Nuswantara yang mewujud budaya dan tata cara hidup serta kesenian yang tersebar dan masih dipraktekkan hingga kini diberbagai wilayah Indonesia, sebagian Thailand, Burma dsb. Budaya yang masih dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari adalah cara hidup sehat dengan minum jamu yang terbuat dari rempah dan empon-empon (akar-akar rimpang), dan gerak badan baik pencak silat maupun olah nafas.

Di dalam kehidupan modern kini, kegiatan yang pada jaman dahulu dipraktekkan secara bersama, dalam komunitas masyarakat atau keluarga atau padepokan tanpa biaya, kini dijadikan ladang bisnis industri. Industri wellness (pemeliharaan kesehatan, kebugaran secara organik memanfaatkan tanaman herbal). Minuman dan makanan yang dahulu menjadi bagian tradisi sehari-hari sudah diadopsi para kapital dan menjadikannya produk industri. Bandingkan dengan tahun 1990an minuman wedang jahe masih sedikit yang dijual dalam kemasan dan bersifat instan. Artinya belum diproduksi oleh pabrik-pabrik besar. Minuman-minuam tersebut ditemui di desa-desa yang dingin, belum banyak di jual di kota besar.

Orang Desa Meninggalkan Daun, mengganti Plastik, Bangsa Barat meninggalkan Plastik mengganti Daun

Bangsa Nuswantara secara tata cara kehidupan agraris maupun maritim telah dikenal sebagai pemilik kebudayaan adiluhung. Kebudayaan yang tinggi. Dan itu terjadi jauh hari sebelum bangsa barat dengan pemikiran modern (memisahkan body, mind and soul) sebagai cara dan sistem pendidikan. Bahwa logika tak dapat beriringan dengan supra natural. Padahal secara akademik filosofis barat mengakui bahwa banyak yang belum dapat diungkap dari berbagai hal yang dipaparkan dan diperkirakan terjadi pada masa sebelum masehi. Bagaimana Spinoza yang dapat berbicara dengan anjing (yang menurutnya adalah reinkarnasi dari temannya), atau bagaimana kehidupan Phitagoras yang kabarnya sakti memainkan angka akhirnya dapat meninggal juga terbunuh karena dianggap salah perhitungan Segitiga Phitagoras.

Berbagai hitung-hitungan terkait angka, tanggal dan waktu suku-suku di Bali masih menggunakannya. Sehingga di Bali banyak tanggal yang merunut ajaran Leluhur sebelumnya dijadikan patokan untuk diikuti sebagai bagian dari kehidupan spiritual yaitu upacara-upacara yang terjadwalkan dalam kalendernya. Ada banyak arti dan makna serta peringatan terkait waktu dan tanggal. Di Jawa dan daerah lain mungkin ada, namun disebabkan ketiadaan aktivitas yang bersifat massif dan hampir tak terberitakan membuat Bali tetap menjadi acuan.

Bisa dikatakan hanya di Bali orang di kota maupun di desa masih memakai dedaunan untuk wadah dan bagian dari upacara. Sementara desa-desa lain, besek-besek (wadah terbuat dari anyaman bambu) yang biasa diisi penganan makanan usai acara sedekahan berganti dengan besek plastik dan atau kotak kertas. Di dalam wadah makanan-makanan yang biasanya terdiri dari nasih, bihun goreng,sambal kentang, oseng-oseng buncis/kacangpanjang, telur dan atau ayam goreng dibungkus dalam plastik kecil, atau didalam wadah plastik yang terbagi-bagi untuk tempat makanan tersebut.

Di berbagai tempat dimana besek dari bambu digantikan kertas kardus ataupun stylorform ataupun besek plastik biasanya alasannya lebih murah, atau hanya bahan tersebut yang tersedia di pasar atau diwarung. Sama halnya ketika batik-batik impor dari China datang dengan harga lebih murah, mulailah tersingkir batik pabrik Pekalongan dan sekitarnya. Untungnya kedua hal tersebut masih belum terlalu jauh berubah. Artinya masih belum massif dan total perubahan ke arah plastik dan instan belum sepenuhnya terjadi.

Masih ada daerah yang menggunakan besek dari bambu untuk wadah penganan sedekahan. Lebih jauh lagi, orang dapat dengan mudah membelinya melalui online shop (toko online) dengan harga murah, dan besek kini dijadikan sebagai soevenir.

Plastik dalam kebijakan kemasan di toko swayalan sudah berkurang bahkan di Jakarta tak ada lagi pemberian plastik untuk wadah belanja. Namun jika anda belanja di pasar tradisional, di warung-warung atau toko kelontong, maka plastik tetaplah tersedia sebagai wadah barang yang dibeli.

Industrialisasi kian Samar namun semakin jelas

Bangsa barat, dengan revolusi Industrinya yang memulainya pada abad ke18 melahirkan kata industrial, industri, yaitu ketika sesuatu baik barang ataupun service dibuat oleh suatu sistem organisasi (pabrik) atau perusahaan dalam jumlah dan jangkauan yang banyak bahkan hampir tak terhingga mengikuti tuntutan pasar. Pasar dalam arti bukan tempat jual beli. Tapi target konsumer yang dapat membeli produk. Nah jaman kini, industri bentuknya banyak baik service maupun goods. Didalam term industry wellness tergabung antara service dan goods. Service layanan pijat, yoga, goodsnya jejamuan, minyak dan produk herbal lainnya.

Industri wellness yang berkembang di barat umumnya mengambil atau “stealing” apa yang secara orisinil dipraktekkan oleh bangsa Timur, Asia-Afrika. Yoga dan Meditasi itu adalah olah diri yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Asia dari jaman dahulu hingga kini. Industri wellness di Barat muncul dan berkembang baru pada abad ke-21, sedangkan abad ke-20 menjadi cikal bakalnya, khususnya pad periode Flower Generation di Amerika Serikat tahun 1960an.

Mungkin bertepatan dengan kesadaran akan perubahan iklim, maka munculah di barat kesadaran apa yang menjadi praktek hidup dan kehidupan selama ini dalam dunia industri ternyata salah. Munculah organisasi yang menyebutnya PETA People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), yang mengkampanyekan melawan penggunaan Hewan sebagai “kelinci percobaan” dalam berbagai produk industri awal tahun1980an. Argumen yang digunakan untuk kasus yang diangkat ke pengadilan adalah Animal Abuse, penyiksaan Hewan. Itu peristiwa abad ke-20 yang pada abad ke 21 semakin menguat dengan peningkatan orang untuk tidak memakan daging (hewan).

Bagi bangsa barat industri makanan yang berbahan dasar hewan juga menjadi salah satu yang membuat orang mudah berkampanye untuk tidak makan hewan. Bagaimana tidak, orang-orang akan disuguhkan video-video tentang bagaimana proses penjagalan sapi atau hewan konsumsi lainnya, dari pabrik-pabrik pengolahan, yang hewannya diambil dari peternakan yang luasnya ribuan hektar dengan jumlah sapi yang juga ribuan.

Bangsa Asia mungkin baru China dan Jepang yang memiliki industri berbasis hewan dengan kapasistas fantastis (ekspor ke seluruh dunia). Bagaimana daging sapi MacD Indonesia pernah berasal dari sapi Australia atau Amerika. Indonesia, mungkin akan tetap menjadi negeri setengah agraris setengah walaupun kini memproduksi produk makanan yang diekspor ke seluruh dunia (indomie,kopiko dll), karakter industrialisnya mungkin berbeda dengan bangsa barat. Sampai detik ini produk tersebut masih belum dimiliki oleh TNC Transnational Coorporation (berbagai negara), seperti minuman kemasan Aqua misalnya yang sudah dibeli oleh Danone (Perancis).

Kembali Digiatkan Produk Tanaman Asli

Pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, kecintaan atas produk lokal khususnya makanan dan minuman asli Nusantara telah diperkenalkan kepada publik oleh Pemerintah. Negeri agraris ditunjukkan dari lagu “Menaman Jagung” cangkul yang dalam menanam jagung di kebun kita. Presiden Soekarno memperkenalkan resep masakan dari berbagai pelosok Nusantara dalam Mutiara Rasa. Presiden Soeharto mengimbau para ibu-ibu PKK menggiatkan menanam tanaman obat yang dikenal TOGA Tanaman Obat Keluarga. Berlomba-lombalah tiap kelurahan menaman tanaman obat di depan kantor atau rumah kepala desa. Ada tanaman kunyit, jahe, langkuas, dedaunan seperti daun kumis kucing, daun kemangi, hingga daun pandan.

Pada masa Orde Baru maupun Orde Lama industri belum terlalu merambah luas kepada produk lokal seperti herbal. Hanya beberapa produsen yang memiliki nama dan menguasai pasar tersebut seperti Nyonya Meener dan Jamu Jago. Kini jumlah produsen produk serupa hampir tak terhitung.

Setelah hampir menjadi tanaman yang tidak dipedulikan bahkan dianggap dapat terkait dengan mistis tanaman Kelor mulai digalakkan kembali ditanam. Daun kelor memang diakui sebagai superfood sebagaimana ditulis dalam majalah mode terkenal sedunia https://www.vogue.com/article/moringa-new-superfood-to-know . Disamping itu, pemanfaatan sabuk kelapa yang telah dipakai sebagai pencuci piring oleh warga Indonesia termasuk keluarga di Jakarta kini terbukti memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari sponge yang terbuat dari plastik, karena mengandung anti bakteri https://www.naturaisle.com/blogs/naturblog/what-is-a-coconut-kitchen-scrubber-and-why-it-s-worth-trying

Berkat.
Pohon Kelor di halaman rumah

Robusta Sejatinya Kopi

Didalam dunia modern sekarang, kehidupan perekonomian, sosial dan budaya dikuasai oleh Kapitalis (baca Barat Eropa & Amerika Utara). Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dengan ekonomi seperti produk pertanian maupun produk olahannya dikuasai oleh Kapitalis.

Penguasaan kapitalis ini telah berlangsung berabad-abad. Kapitalis hidup dari memeras keringat dan sumberdaya alam bangsa Asia dan Afrika (imperialis). Melalui imperialis inilah para kapitalis membawa hasil bumi bangsa-bangsa Asia Afrika ke Eropa dan Amerika Utara. Produk pertanian yang tidak ditanam di Eropa dikemas, diolah lalu jadi produk olahan yang dikenal mendunia bahkan disahkan sebagai yang terbaik. Salah satunya adalah Coklat. Apakah di Italia, Perancis atau Belgia ada perkebunan kakao tidak ada. Perkebunan coklat mulanya terdapat di Afrika dan Amerika Selatan, kini juga ada di Asia (di Indonesia yang mayoritas ditanam Sulawesi).

Kok bisa Italia dan Belgia tidak menanam coklat, tapi terkenal sebagai produsen coklat ternama dan terenak. Bisa. Semua karena kapitalis yang tidak hanya menguasai ekonomi tetapi juga menguasai wacana rasa. Melalui jalur-jalur aliansi para penjajah Eropa, maka sangatlah mudah memperkenalkan produk tersebut kepada sesama penjajah. Disamping seolah-olah tidak ada pemaksaan, keterjajahan sebuah bangsa membuat secara psikologi minder.

Jaman modern (baca dimulainya penjajahan Eropa ke benua Asia-Amerika-Afrika) ilmu pengetahuan, dan klaim “kemajuan peradaban Eropa” menjadi tolok ukur kehidupan yang lebih baik bagi bangsa terjajah. Politik penjajahan menjadikan segala sesuatu yang dibawa dibuat penjajah sebagai yang terbaik dan unggul. Padahal kemajuan bangsa Eropa dan apa yang diciptakan atau dibuatnya melalui cara-cara yang kurang beradab. Penindasan para buruh dan eksploitasi bangsa terjajah. Oke kita kembali fokus ke kopi.

Tanaman Kopi Tidak bisa Tumbuh dan Hidup di Eropa dan Amerika Utara

Kopi tak tumbuh di Amerika Utara maupun di Eropa (hanya ada kebun kecil di Spanyol)
lalu mengapa ada Starbuck dimana-mana dipenjuru dunia. Kapitalis Hegemoni. Bagaimana menjelaskan hegemoni dalam hal ini, panjang lebar Gramsci menjelaskan tentang cultural hegemoni. Namun secara garisbesar sebagai negara yang memiliki dominasi kekuasaan di dunia, maka segala hal termasuk gaya hidup dan prilaku budaya adalah bagian yang tak lepas sebagai cara mempertahankan kekuasaan dan ideologinya (kapitalis). Maka semua saluran dipakai, secara hitungan ekonomi untung rugi maka franchise Starbuck dimana-mana, secara hegemoni rasa kopi Arabika (Americano) yang diendorse. Dalam hal prinsip ekonomi Startbuck jelas mengikuti prinsip “dengan modal sekecil-kecilnya mendapat untung sebesar-besarnya” dan menjadikan Media sebagai jalan penguatan kapitalis.

Media adalah salah satu cara hegemoni yang paling soft dan tidak disadari. Melalui penciptaan brand (marketing strategi) yang adalah cara kerja kapitalis untuk dapat terus memproduksi barang yang banyak, dan menciptakan demand. Marketing strategi branding Starbuck berhasil. Harga modal kopinya satu gelas hanya Rp.13.000,- namun harga jualnya Rp.33.000,- dikurangi biaya sewa tempat mungkin untungnya tetap tinggi. Orang-orang yang terhegemoni oleh media branding dan Iklan tidak akan sadar bahwa saat pergi ke Starbuck adalah “dorongan impulse” trending “orang keren nongkrong di starbuck. Namun itulah kapitalis yang sejati memang membutuhkan biaya tinggi, Starbuck mengeluarkan biaya iklan hingga 120juta US$ tahun 2020. Lagi-lagi biaya tinggi itu adalah demi memperluas pasar, mempertahankan pasar atau menciptakan pasar.

Sementara bagi produk-produk non kapitalis, sesungguhnya yang diproduksi dan dijual adalah yang dibutuhkan. Subsistenperspective. Kerennya kapitalis mereka berhasil menciptakan kebutuhan baru yang tidak esensial.

Lalu bagaimana kok bisa Amerika Serikat yang tidak ada perkebunan kopi (kecuali Hawaii yang bukan Amerika Utara) bisa memiliki warungkopi Starbuck di hampir seluruh dunia. Amerika Serikat punya sistem ekonomi supply chains (rantai supply) yang mapan dan kuat, dan bersifat trans nasionalis. Kopi yang dijual di Starbuck berasal dari Amerika Selatan dari Columbia dan Brazil. Itu antaralain contoh ekonomi supply chains, yang sekarang bergerak di seluruh dunia, sebagaimana Start Up. Gak punya toko bisa jualan lah..gimana ya ambil dari yang punya secara online (barang gak ada) jual online.

Ya tadi jaringan hegemoni kultural yang merambah melalui berbagai media iklan di seluruh media elektronik dsb. Tak kurang dunia hiburan televisi dan film yang menjadi agen tak langsung marketing Starbuck. Tak sedikit pula celebrity mengendorse langsung tak langsung. Semuanya berjalan organik dan damai. Seperti Taylor Swift yang mempunyai fans ratusan juta orang seluruh dunia, minum Starbuck, secara tak langsung para fans-nya (orang yang cinta) Taylor Swift ikutan tergerak beli Starbuck. Cinta juga hegemoni diri sendiri, seseorang yang tidak disadari.

Kopi Robusta vs Kopi Arabika

Starbuck menjual kopi Arabika. Bangsa Amerika Utara lebih banyak minum kopi arabika dibanding bangsa Eropa. Secara harga kopi Arabika lebih mahal karena perawatannya. Kopi Arabika tumbuh didataran tinggi, dan memerlukan perawatan intensip. Sementara kopi Robusta nakal, mudah dirawat dan menanamnya. Sehingga harganya lebih murah. Kandungan kafeinnya lebih banyak Robusta. Bisa dibilang kopi Robusta adalah sejatinya kopi ya karena kafeinnya banyak. Kopi Arabika ada rasa asamnya, itu yang membuat saya tidak suka. Lucunya orang-orang yang pernah belajar jadi barista, mereka belajar menyeduh kopi dari cara-cara bangsa Eropa, pakai saringan V lah, pakai mesin brewing lah. Hingga kini kelas menengah pengusaha kopi khususnya cafe untuk kalangan menengah ke atas di Jakarta masih terhegemoni cara-cara penyeduhan kopi yang dipatok oleh “barista” luar negeri.

Hegemoni budaya minum kopi adalah sampai detik ini dalam wacana kopi dunia taste kopi itu ditentukan oleh bangsa yang tidak menanam kopi yaitu Amerika Serikat. Hal ini tentu berpulang dari bagaimana hegemoni budaya AS yang kuat itu. Coba anda main-main ke cafe kelas menengah di Jakarta, cari kopi robusta hampir tidak ada. Padahal bangsa Indonesia peminum kopi Robusta yang diseduh dengan air bukan diseduh dengan Uap.

Hegemoni kapitalis dalam tatacara memframed dengan cara menyeduh, cara minum dan cara penyajian. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan beragam untuk tatakrama makan dan minum. Tetapi karena bangsa Indonesia menjalani hidup dengan bersahaja dan alami (tidak memaksa) maka tatacara minum kopi asli yang dilakoni di daerah tetap berjalan tanpa digembar-gemborkan. Minum kopi itu diseduh. Biji kopi disangrai dan ditumbuk. Hal ini bukan berarti bangsa Indonesa menolak kemajuan dan cara-cara yang baru, tidak. Tetap saja ada kombinasinya. Ada yang mencampurkan keduanya. Namun gempuran kapitalis (uang) seringkali tidak dapat dihadapi dan mau tak mau diambil. Ada satu warung kopi yang mulanya “idealis” pura-puranya melawan franchise kopi kapitalis Amerika itu, dengan kombinasi alat dan cara penyajian kopi (dengan mesin brew kopi impoir yang harganya ratusan juta), model sana dihidangkan bersama makanan common di Indonesia..eh ujung-ujungnya warung kopi ini akhirnya dibeli oleh perusahaan besar sehingga ya kapitalis-kapitalis juga.

Tidak usah berkecil hati. Masih ada juga sih kafe-kafe warung kopi menengah kebawah yang menyediakan kopi robusta eh bukan kopi sachet Kapal Api yang berterbaran di seluruh penjuru ya. Ada kafe seperti Kopi Pojok Pamulan https://wartafeminis.com/2018/09/21/kedai-kopi-pojok-kopi-nusantara-di-pamulang/ atau (silahkan masukan: ) @umilasminah

Indonesia Feminist Theory and Practices

Ruwatan Sudamala Patembayan Jawadipa

Sebagaimana perubahan alam yang terjadi di muka bumi, yang bangsa barat menyebutnya climate change bangsa Nuswantara menyebutnya tanda perubahan jaman. Bahwa jaman kini adalah jaman Sungsang Buwana dan akan kembali kepada jaman sejatinya yaitu Buwana Balik.

Tanda perubahan jaman yang ditampilkan melalui Alam merupakan bacaan bagi manusia yang memiliki kepekaan berkomunikasi dengan Alam. Manusia yang tidak hanya peka namun berkomuniasi dengan alam secara harmoni baik dan ketersalingan simbiosis mutualisme adalah suku-suku asli bangsa Nuswantara yang hidup masih di hutan maupun di komunitas tersendiri. Yang tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara maupun Papua. Di samping itu tumbuh pula warga masyarakat modern yang terbangkitkan kesadaranya untuk menggali jati diri sendiri dan leluhur bangsanya dan menemukannya serta saling menjalin dan berjaringan membentuk komunitas maupun kelompok. Salah satunya adalah Patembayan (Persaudaraan) Jawadipa, dengan menegaskan diri untuk belajar segala pengetahuan terkait kearifan leluhur Jawa yang pakem dan melestarikannya. Terutama sekali belajar tentang spiritualitas asli Jawa yang cair dan bisa dijalankan bersamaan dengan keyakinan semua agama.

Ajaran Jawadipa bukanlah agama. Ajaran Jawadipa merupakan kepercayaan purba masyarakat Jawa yang tidak memiliki kelembagaan mengikat. Jawadipa mengajarkan penghayatan pribadi yang bersandar kepada Yitma (Ruh) manusia. Dan Yitma (Ruh) manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari Sanghyang Taya Yitmajati atau Tuhan Sarwa Sekalian Alam. Tentu saja karena sifatnya yang cair, ketika agama-agama Mancanegara masuk ke Jawa maka bisa dengan mudah melebur dengan ajaran Jawadipa tersebut. Apapun agama Anda, akan menjadi semakin tajam dan dalam jika disertai penghayatan mempergunakan ajaran Jawadipa.

Pagebluk Pandemi 2020

Sebagaimana halnya yang banyak dipercaya tentang adanya Ratu Adil, Satria Piningit yang akan datang mengembalikan kejayaan Nuswantara, maka sebelum kedatangannya akan terlebih dahulu terjadi fenomena dan kejadian Alam dan sosial di antaranya Pagebluk wabah dan bencana alam Gunung Meletus dsb. Mengenai tanda alam ini, ditulis dalam berbagai serat yang diyakini penganut ajaran Leluhur.

Di dalam praktek kehidupan para Leluhur pendahulu bangsa Indonesia, setiap peristiwa ada ajaran dan maknanya, atau racun ada penawarnya. Setiap kutukan ada yang dapat melepaskan kutukannya. Begitupun dalam peristiwa Pagebluk Pandemi Covid 19 yang telah menghilangkan nyawa jutaan manusia sedunia. Salah satu yang dipraktekkan sejak dahulu kala di dalam kehidupan sehari-hari adalah Meruwat. Meruwat secara arah pokok ruwatan ialah membebaskan manusia dari kutukan, roh jahat, dan dari pengaruh roh-roh atau peristiwa yang membawa malapetaka dan celaka. Ada banyak jenis ruwatan di dalam kepercayaan Jawa, salah satunya adalah Ruwatan Sudamala.

Ruwatan Sudamala di Patembayan Jawadipa , 24 Juli 2021

Ruwatan Sudamala di Patembayan Jawadipa dipimpin oleh Ki Ajar Jawadipa yang publik mengenalnya sebagai Damar Shashangka penulis buku-buku novel sejarah Nuswantara khususnya jaman Majapahit maupun buku-buku spiritual seperti Gatholoco.

Saya mendengar nama Damar Shashangka sejak awal terbitnya buku Geger Majapahit. Saya ingat seorang kawan saya berkata, umurnya baru 24 tahun, tapi ingatannya bisa jauh ke belakang dan pada periode-periode yang ditulisnya.

Saya mendaftar ikut dan meliput Ruwatan Sudamala yang berlangsung secara online selama lebih dari 2 jam dan diikuti oleh 166 peserta, dan bisa jadi 1 medium diikuti beberapa orang, karena bisa satu keluarga, diperkirakan diikuti oleh 200 orang.

Sebelum memulai ruwatan Ki Ajar memberi arahan ulang tentang apa yang perlu dipersiapkan, kembang setaman, air dan dupa. Meskipun telah dilakukan Ruwatan terkait pagebluk sebelumnya yaitu Ruwatan Murwakala 11 Juli 2021.

Ruwatan Sudomolo adalah ruwatan untuk menghilangkan segala kemalangan yang ada, agar tidak celaka, sakit. Kisah ruwatan Sudomolo adalah mengembalikan Batari Umo dari wujud raksesi Ranini.

Gari besar kisah kutukan yaitu, ketika Batari Uma selingkuh dengan batara Brahma maka dihukum menjadi raksesi Ranini, untuk itu hanya bisa kembali sedia kala melalui Alam Dunia (Setra Ganda Mayu) lapangan luas Berbau Keselamatan (Alam manusia)

Dunia walaupun ada keburukan tetap memiliki harapan untuk kesejahteraan. Dinamis sama besarnya Kebaikan dan Keburukan. Dualitas yang seimbang.

Hal yang tidak ada di Alam Atas (Kedewatan) yang selalu benar baik, dan Alam Bawah yang selalu keburukan Alam Manusia memiliki komposisi seimbang sedih gembira, gelap putih.

Alam setra gondo mayu ini pada masa masukannya ajaran sebrang Mayu yang berarti Pemberi Keselamatan diganti menjadi mayit yang dalam bahasa arab mayit/mayat.

Dewi Uma yang telah menjadi Ranini dipindahkan ke Setra Ganda Mayu dan disebutkan bahwa 20 tahun lagi Ranini akan dilepas dari Kutukan oleh bungsu dari Pandawa yaitu Sadewa.

Sadewa yang melepaskan kutukan Batari Uma diberi gelar Raden Sudamala kisah tentang ini ada di Candi Sukuh dan Candi Powan Kediri.

Ruwatan Sudamala sudah sejak lama dipraktekkan, paling sering pada masa Majapahiy
Batara Guru adalah simbol manusia. Roh manusia ketika Roh yang gilang gemilang memiliki energi dan ini melekat pada Batari Uma.

Itulah cikal bakal semesta manusia dan cikal bakal material. Yang memiliki cikal bakal 1. Satwiko (stabil) Batara Nadewo, 2. Rajasiko (dinamis) Batara Brahma 3. Kamasiko (bebal bodoh malas) Batara Wisnu

Rajasiko ini menutupi kecemerlangan Roh ketika Batari Uma selingkuh dengan Batara Brahma akhirnya jatuh ke dunia ke Setra Ganda Mayu. Saat inilah roh meredup, karena tertutup oleh Batara Brahma. Ketika Rajasiko menutupi kecemerlangan roh Batari Uma, yang mulai meredup tidak suci lagi (tersaput Rajasiko) maka Batari Uma dibuang ke dunia Setra Ganda Mayu. Saat ini pula daya energi Roh mengecil dan menjadi alam bawah sadar manusia dalam simbol Pandawa yaitu Sadewa puser kekuatan double bersama Nakulo.

Pandawa sendiri adalah simbol manusia kekuatan sedulur papat lima pancer, Kawah adalah Yudistira, Adi Werkudoro, Ari-ari Harjuno dan Nakulo-Sadowo Puser. Pikiran bawah sadar adalah Sadewa yang sudah meruwat sendiri agar kecemerlangan roh dapat kembali.

Atas jasanya pula maka Sadewo mendapat gelar Raden Sudamala.

Di Patembayan Jawadipa ruwatan Sudamala termasuk ruwatan kecil atau Nisto, ada Ruwatan Madya menengah sajen lengkap dan Ruwatan Utama sajen lengkap dengan wayang kulit atau wayang beber.

RUWATAN SUDAMALA

Mantra dibacakan dan setiap mantra para peserta Cantrik (anggota resmi Patembayan), dan umum mengikuti arahan Ki Ajar menghadap ke arah mana (8 arah mata angin) dan posisi jari dan lengan berbeda dengan sebutan Mudro. Mantra dibacakan dalam bahasa Jawa Kawi, dimulai dari Timur. Setiap arah mata angin diperkirakan waktunya 7-15 menit. Setiap peserta menahan posisi lengan sesuai arah mata angin bersamaan pembacaan mantra. Di dalam mantra kita akan dapat mendengar nama Batara Ismaya, Batara Antiga, Batara Syiwa dan lain-lain.

Ruwatan yang dimulai pukul 20.10 wib selesai sekitar pukul 22.20 dengan arah mata angin Timur.

(UL)
Ki Ajar memberi penjelasan.

sumber a.l: https://www.facebook.com/damar.shashangkakapindho

KOPI LUWAK

Bila anda mencari di google tentang kopi Luwak, maka yang muncul adalah bagaimana buruknya dampak dari produksi kopi luwak, khususnya tentang prilaku manusia terhadap hewan. Terlebih media online “yang mengklaim” pro lingkungan hidup, pastinya anda akan menemukan isu negatif dari proses produksi kopi Luwak. Hal ini terutama dituliskan oleh media barat “berbahasa Inggris” dan negara-negara yang secara riil adalah kapitalis dan kolonialis. Sehingga ketika dipaparkan kritikan dan cerita negatif Kopi Luwak sesungguhnya adalah pengambaran bagaimana kapitalis memang buruk, termasuk mengindustrialisasi kopi Luwak dan mengeksploitasi binatang Luwak. Lah wong dalam industri saja kapitalis mengeksploitasi manusia masa tidak mengeksploitasi Luwak.

Pahadal kopi Luwak, yang berasal dari kotoran Luwak sejatinya prosesnya tidaklah merugikan siapapun terutama Luwak maupun manusia, bahkan membantu keseimbangan alam. Luwak sendiri adalah binatang liar, artinya memang harus hidup liar maknanya lagi binatang Luwak tidak bisa dipekerjakan, atau tidak bisa diekploitasi seperti manusia, Luwak harus sesukanya makan kopi, sesukannya juga eek dimana saja, bukan dalam penjara atau kandang. Nah bila ada orang yang menangkarkan Luwak, memelihara dan mengkandangkan pun ada jenisnya itu tidak usah dibahas disini, karena itu cara kerja kapitalis, untung besar, produksi terus menerus dan konsisten bukan berdasarkan kebutuhan hidup, tapi penciptaan pasar.

Tulisan ini lebih mendukung kehidupan Luwak liar yang happy “makan kopi” tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di desa sebagaimana yang terjadi di Desa tuo Lembah Masurai, asal Kopi Luwak Pelita yang dapat dinikmati warga Jabodetabek. Sehingga memberi peluang bagi peminum kopi Indonesia untuk mencicipi kopi termahal di dunia Kopi Luwak bukan berasal dari Luwak yang di eksploitasi. Luwak itu memakan kulit kopi sehingga petani mendapat kelebihan biji kopi yang tidak dimakannya, dibuangnya sebagai eek. Luwak juga dulunya dianggap pengganggu petani yang tinggal dilereng gunung karena sering memakan tanam-tanaman milik petani, kini Luwak dibiarkan hidup karena memberikan kopi terbaik yang sudah diolah diperut Luwak..

Jangankan icip kopi Luwak, umumnya masyarakat awam Indonesia peminum Kopi Robusta pun sering tak tahu bahwa bahwa yang mereka minum bila kopi tubruk non sachetan rata-rata kopi robusta. Jadi faktanya robusta banyak diproduksi dan diminum orang Indonesia, sementara yang disediakan di kafe-kafe serta yang menjual kopi bubuk online menjual mahal kopi Arabica dibanding kopi Robusta. Minum kopi dan jenis kesukaan juga bersifat personal, private, selera tetapi dengan gempuran kapitalis, banyak orang “berada” akhirnya terpaksa hanya meminum kopi Arabica karena kopi itu yang disediakan di cafe-cafe kota besar Jakarta. Selera kopi saja terjajah duh.

Kopi Luwak Pelita, foto @Ninuk

Indonesia Feminist Theory and Practices

Apalah Arti Sebuah Nama: Penting Menunjukkan Peradaban

Apalah Arti Sebuah Nama: Penting Menunjukkan Peradaban

Berbeda dengan peradaban barat yang seperti kata Shakeseare what’s in the name.

Di dalam fakta sejarah Nuswantara nama-nama manusia, Dewa Dewi, maupun Batara Batari penting dan bermakna dalam. Bahkan nama manusia,orang, warga tidak sekedar menunjukkan kelas,kasta ataupun statusnya. Sebegitu pentingnya nama sehingga tidak sembarangan memberi nama. Tak sekedar hanya doa, namapun adalah bagian inheren hidup seseorang di dunia, melekat pada diri bahkan dapat menjadi penentu nasib. Terkait nama (arti hurufnya) bangsa barat Phytagoras pernah mempelajari ini bersama dengan angka.

Di Nuswantara secara fakta sejarah nama nama Manusia, beriring jalan dengan nama hari seminggu, dan 5 hari wetonnya. Tentu bukan nama hari sebagaimana dikenal dalam bahasa sekarang senin,selasa,rabu hingga minggu. Entah nama itu berasal dari mana. Namun nama-nama hari Nuswantara mengikuti para Dewa pengejawantah sejak awal penciptaan arcapada/bumi. Sehingga nama hari berurutan Reditya , Tumpak Sukra Wrespati Budha Anggara dan Soma (Minggu,Sabtu,Jumat, Kamis,Rabu,Selasa, Senin). Maka pada nama-nama hari tersebit penggiring dewa-dewa SHB Surya, SHB Hanantaboga, SHB Brama,SHB Kuwera, SHB Wisnu, SHB Kamajaya , SHB Indira.

Rampak Sarinah Tulungagung: Hari Kartini Karawitan

Group Kerawitan Rampak Sarinah melakukan kunjungan ke Kelompok Kerawitan Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo Tulungagung untuk berlatih bersama dalam merayakan Hari Kartini. Kegiatan diikuti oleh 20 ibu-ibu yang dengan sengaja mengenakan kebaya dan berkain seharian tept pada Hari Kartini, Rabu, 21/4/21.

Berkebaya dan berkain selama berkegiatan diharapkan dapat membantu mengenang berbagai gagasan dan pemikiran kebangsaan Kartini. “Ibu Kartini dan kakaknya Sosrokartono adalah pioner gerakan kebangsaan sehingga kemerdekaan bangsa bisa diwujudkan. Jadi, kebaya bukan sekedar fashion tapi merupakan identitas budaya bangsa,” kata Mudrikah sekretaris Rampak Sarinah menjelaskan.

Untuk menguatkan penghayatan terhadap perjuangan emansipasi Kartini, Rampak Sarinah berkerawitan 

di kediaman Ibu Suharno yang juga pembina kesenian masyarakat Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung. “Silaturahmi demikian akan kami teruskan ke kelompok-kelompok kesenian yang lain sehingga Rampak Sarinah bisa semakin diterima komunitas kesenian di Tulungagung,” sambung Mudrikah.

Ibu Sumarti dari Segawe  menyambut baik ked atangan Rampak Sarinah karena menambah paseduluran (persaudaraan) sesama perempuan pecinta seni budaya tradisional. “Ini bikin segar bagi tamu dan tuan rumah ya.. tambah semangat berlatih dengan dulur-dulur baru,” kata bu Sumarti sambil tertawa.

Astinawati, wakil ketua Rampak Sarinah menambahkan bahwa kunjungan tersebut akan membiasakan para anggota untuk bisa bermain profesional, dengan alat-alat milik siapapun tidak grogi. “Kita berlatih memainkan gamelan dengan hati dan perasaan. Dimana saja dan kapan saja kita diminta main, kita mampu melakukannya,” jelas Astinawati.

Rampak Sarinah juga mengenang Kartini selain sebagai pemikir tetapi juga pejuang kehidupan rakyat cilik misalnya pengrajin batik dan pengukir kayu. “Rampak Sarinah juga sedang memperjuangkan agar ada surat bupati untuk kostum Tulungagungan dengan menggunakan batik lokal Tulungagung,” kata Astinawati.

Diskusi seni dan gamelan sore itu dilanjutkan para ibu di Waduk Wonorejo yang bersebelahan dengan Desa Segawe. Kegiatan seharian ditutup dengan buka puasa bersama berbekal makanan yang dibawa dari rumah. Kalau Kartini berpiknik di Pantai Jepara, ibu-ibu Rampak Sarinah berwisata air di Waduk Wonorejo Tulungagung yang juga tujuan wisata yang menyenangkan.

.

RA Kartini Aku Tak Akan Berhenti Menulis Tentangmu

RA Kartini,  Aku Tak Akan Berhenti Menulis Tentangmu

Perempuan Indonesia selayaknya bangga, bahwa kita memiliki Leluhur Eyang Putri tokoh teladan perjuangan mulia Raden Adjeng (Ayu) Kartini putri dari Jepara, Jawa Tengah, selain Beliau, kita juga memiliki para Luhur lain putri-putri dari daerah lain yang pada masa hidupnya di arcapada telah menghabiskan masa bhakti bagi Bangsa, perempuan maupun lingkungan sekitar tempatnya tinggal. Para Perempuan tersebut ada yang tercatat dalam sejarah modern dan disematkan Gelar Pahlawan Nasional oleh Negara Republik Indonesia dari Barat hingga Timur Nuswantara. Mulai dari Cut Nyak Dhien, Rasuna Said, M. Walanda Maramis hingga Martha Tiahahu, Dewi Sartika. Para beliau adalah panutan tokoh perempuan modern Indonesia. Namun diluar itu semua tak sedikit nama-nama yang melekat dimasyarakat apakah sebagai “mitos” atau legenda,  yang perlu penelitian lanjutan untuk membuktikan fakta sejarah yang belum terungkap, yang berasal dari berbagai wilayah di Nuswantara. Seperti Putri Selendang Buih (Kilisuci) dari Kalimantan, Putri Diah Pitaloka dari Jawa Barat, Nyi Ageng Serang, Santika Maha Dewi dan Putri Atlantik.

Berhubung kini kita tinggal dan hidup dalam masyarakat modern dimana “materi” dan salah satu material penting adalah yang tertulis, yang terlihat, dan yang nampak sebagai hal utama untuk menjadi wacana penting. Maka R.A Kartini dengan peninggalan tertulisnya menjadikan Beliau dan pemikirannya sebagai sumber yang tak habisnya memberi inspirasi bagi kita semua. Tentunya tak dapat dipungkiri juga bahwa dunia “modern” secara wacana maupun Ilmu Pengetahuan dunia secara faktual yang dalam penguasaan Barat. Sehingga walaupun Dewi Sartika juga menulis, Rohana Kudus juga menulis, namun secara isi serta muatan tulisan dan kisahnya pun berbeda topik, keluasan maupun strukturnya. Terlebih pada masanya Ibu Dewi Sartika, keluarganya memiliki kisah konflik langsung dengan penguasa kolonial.

Raden Ajeng Kartini (masih gadis) menulis tentang banyak hal, tentang berbagai topik yang beragam mulai dari agama, budaya, ekonomi, sastra, kehidupan masyarakat dan tentunya tentang penindasan perempuan. Tulisan RA Kartini memiliki referensi yang luas dan kaya, dari terbitan berbahasa belanda di Hindia Belanda, hingga berbagai buku karya sastra karya penulis luar negeri, dari surat kabar, jurnal ataupun dari pengamatan dan percakapan dalam kehidupan sehari-hari.

RA Kartini, seorang perempuan muda yang memilih memanfaatkan status dan privilege yang dimilikinya untuk tujuan yang mulia. Tujuan kemerdekaan dan pembebasan kaum tertindas. Pemikiran progresif RA Kartini bahkan masih dianggap melampaui jaman kini, tak hanya jamannya saja. Bagaimana seorang perempuan ningrat yang secara tradisi sempat dipingit, dapat menerobos tembok dan memiliki kesempatan menemui langsung para perajin ukir di luar rumahnya, serta menuliskan pengalamannya tersebut dan mempromosikan karya para perajin, serta menjualnya jauh ke negeri Belanda (eksport), Kartini juga tidak sungkan berbincang dengan pembantu (emban) yg pada masanya bukan hal yang biasa dilakukan kaum ningrat.

Adapun apabila RA Kartini lebih dikenal memperjuangkan emansipasi perempuan, hal ini karena pada realitas kemajuan baik di Hindia Belanda maupun di Eropa, perempuan masih mengalami hal yang sama penindasan. Untuk itulah Kartini, mengusulkan suatu kepada Pemerintah Kolonial dengan mengirimkan surat tentang pendirian sekolah bagi anak perempuan. Pun begitu emansipasi melawan penindasan yang dimaksudkan Beliau adalah juga emansipasi “kesertaan” laki-laki dalam perjuangan mengubah keadaan bangsa ke arah yang lebih baik termasuk dalam gerakan. Mengenai hal ini Kartini menangkap bahwa perjuangan laki-laki banyak.

Surat Kartini, 12 Januari 1900  kpd Nona Zeehandelaar

Dan apabila perjuangan oran laki-laki itu sudah sengit, maka akan bangkitlah kaum wanita. Kasihan kaum laki-laki, alangkah banyak pekerjaan yang akan kamu lakukan! (int. akan berhadap dengan laki-laki juga yang menolak membela perempuan)”

21 Jan 1901 kpd RM Abendanon Mandri.” …Dan pengajaran kepada anak-anak perempuan akan merupakan rahman. Bukan hanya untuk perempuan saja, melainkan untuk seluruh masyarakat bumipurta.”

Adapun tentang penolakan atas poligami banyak tulisan mengenai hal tersebut salah sastunya mengutip sebuah hadis Nabi yang menceritakan tentang :

“suami Fatimah yang kawin lagi, dan bagaimana perasaan Fatimah, ketika ditanya bapaknya, menjawab N“Tidak apa-apa bapak, tidak apa-apa”.  Ayahnya memberinya telor mentah lalu minta kepadanya melekatkan dengan arah hatinya. Kemudian telur tersebut diminta Nabi kembali, lalu dipecahkannya. Telut tersebut telah masak!

Penggambaran perasaan dapat berbeda dari kata dan hati. Terkait hadis tersebut RA Kartini menyimpulkan “Hati perempuan Timur sejak itu tidak berubah. Cerita ini sekaligus menjelaskan kepada kita tentang pikiran kebayakan perempuan terhadap laki-laki yang kejam itu.1901 Agustus kepada N. Van Kol.

Perjuangan RA Kartini bersama kedua adik perempuannya Roekmini dan Kardinah bukanlah perjuangan mudah, dan tentu saja berbeda dengan penderitaan dan penindasan yang dialami perempuan pada saat itu, sehingga bentuk perlawanannya pun berbeda, pun begitu apa yang dicita-citakannya untuk memajukan perempuan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan  yang beragam adalah memiliki tujuan mulia dan bagi bangsa yang lebih luas.

Usaha kami mempunyai dua tujuan, yaitu turut berusaha memajukan bangsa kami dan merintis jalan bagi saudara-saudara perempuan kami menuju keadaan yang lebih baik, yang lebih sepadan dengan martabat manusia”. 1901 Agustus kepada N. Van Kol.

Itulah secuplik kenyataan dan fakta tentang cita-cita mulia RA Kartini, sebagai mana yang dituliskan dalam lirik lagu “Ibu Kartini” ciptaan WR Soepratman (pencipta lagu Kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya”,

Ibu Kita Kartini

Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri jauhari
Putri yang berjasa
Se Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaum ibu
Se-Indonesia

Ibu kita Kartini
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanya

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

SELAMAT HARI KARTINI 2021, KIRANYA KESEHATAN MENJADI BEKAL PERJUANGAN BAGI KEMAJUAN BANGSA @umilasminah

Blog at WordPress.com.

Up ↑