Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Kartini, Ada Nyata dalam Semangat dan Aksi Kekinian

Hari Kartini 21 April 2018 menandai 54 tahun sejak Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno, atau 114 tahun sejak Beliau wafat 17 September beberaap hari setelah melahirkan satu-satunya putera, RM Soesalit Djojohadiningrat. Kartini boleh wafat dan darah keturunan biologisnya hanya satu orang putera, namun semangat dan gerak hidupnya baik yang nyata atau masih menjadi impiannya telah menghidupi dan memberi inspirasi banyak perempuan, di dalam Negara Indonesia merdeka maupun di luar negeri.

Sekarang ini, kita menemui banyak perwujudan apa yang dicita-citakan Kartini bagi perempuan dan oleh perempuan untuk bangsanya sebagai mana lirik lagu Kartini karya WR Supratman “Sungguh Besar Cita-citanya Bagi Indonesia“. Perempuan dan laki-laki bahu membahu untuk kemajuan bangsa, kemerdekaan Indonesia. Perempuan di Indonesia kini bersekolah dan mengenyam pendidikan demi untuk dirinya dan kemajuan bangsa. Perempuan mengajar dan mendidik anak perempuan hingga ke pelosok daerah, perempuan mengobati sebagai bidan atau dokter ke pelosok. Perempuan menjadi apa yang diinginkannya. Perempuan mengejar kebahagiaannya menikah dan tidak menikah. Perempuan pelestari keindahan budaya. Perempuan terus berjuang untuk kebahagiaan bersama semua rakyat laki-laki maupun perempuan dalam mengadvokasi kebijakan Negara. Perempuan menjadi menteri mendukung kemajuan peradaban.   Banyak lagi yang telah diwujudkan kini oleh perempuan-perempuan se Nusantara dari apa yang pernah dicita-citakan Kartini.

Republik Indonesia kini telah menjadi bagian apa yang seharusnya menjadi dalam memperlakukan perempuan, dari sebuah bangsa yang besar (dalam arti seluasnya) besar kebudayaannya, besar wilayahnya, banyak penduduknya, kaya alam rayanya, sebagaimana di masa lalu.

Jika kita mau bersyukur dan membaca apa yang terjadi disekitar kita, khususnya pergerakan perempuan didalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat khususnya melalui pemuliaan perempuan melalui pemenuhan haknya sebagai warga negara, maka kita akan menemui banyak perempuan yang bagi saya adalah representasi Kartini di masa kini. Ada beberapa perempuan yang saya kenal, yang sesungguh-sungguhnya seperti Kartini, hidup berjuang dengan tulus ikhlas dan masih berjuang untuk kepentingan bersama.

Penghargaan kepada Kartini adalah penghargaan betapa lebih penting menjadi manusia yang menginspirasi manusia lain, ketimbang manusia yang mengejar kesuksesan duniawi dan harta (meskipun kini banyak sekali kiat inspirasi disebarkan dengan tolok ukur harta dan jabatan). Namun inspirasi Kartini lintas batas negara, lintas waktu. Sejak beliau masih belia, bangsa eropa lebih dahulu mengenal pemikiran melalui tulisannya, adapun bangsa Nusantara umumnya baru mengetahui pemikirannya setelah ada terjemahan dari surat-surat Kartini oleh Arjmin Pane 1911. Inspirasi adalah kekuatan positif kepada pikiran dan perasaan yang mempu menggerakkan manusia untuk beraksi, bekerja, melakukan sesuatu. Tak kurang, surat-surat Kartini yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris Letters of Javanese Princess, dengan kata pengantar Eleanor Roosevelt  (istri Presiden Amerika Serikat ke 32) edisi UNESCO collection 1964. Bukan hanya itu, nama Kartini pun digunakan di berbagai Negara sebagai nama suatu Penghargaan di Belanda, bahkan suatu organisasi konsultan gender di Kanada memakai nama Kartini, bahkan salah satu penulis menuliskan bahwa mengapa Kartini kurang begitu dikenal di luar Indonesia karena berbahaya pemikirannya terlalu jauh tan sesungguhnya menjangkau dan melintasi jarak dan benua yaitu melawan pemikiran dan prilaku patriarki ( http://dangerouswomenproject.org/2016/09/27/raden-adjeng-kartini/ )

Setiap tahun biasanya saya hampir selalu dilecut untuk menuliskan sanggahan terhadap mereka yang saya sebut “anti Kartini” karena kurang memahami kesungguhan semangat, pengalaman, mimpi dan harapan Kartini. Saya berani menyembut “anti Kartini” karena banyak dari mereka yang dengan serta-merta mencopy-paste pandangan dari akademisi yang  “dianggap kritis” karena mengkritik atau menolak kepioniran dan kegigihan Kartini berjuang, padahal membaca Surat-surat KARTINI pun belum pernah, boro-boro mengerti tulisan Kartini yang asli dalam bahasa Belanda. Namun tahun ini berbeda, Kartini telah mulai banyak dihidupkan kembali semangat dan cita-citanya oleh masyarakat khususnya aktivis perempuan, sehingga tidak terlalu sulit untuk menjabarkan betapa sebagai Bangsa Indonesia yang bertanah air sama dengan Kartini untuk bangga dan terus melanjutkan perjuangannya, kesetaraan kemanusiaan perempuan dan laki-laki.

SELAMAT HARI KARTINI 2018, KEPADA PEREMPUAN INDONESIA SELAMAT MERAYAKAN CITA-CITA KARTINI, BERSYUKUR DAN TERUS MELANJUTKAN PERJUANGAN KARTINI.

 

Jakarta 20 APRIL 2018, SUKRA KASIH.

Advertisements

Olah Raga untuk Perempuan hanya senam?

Olah Raga untuk Perempuan cuma Senam?

Apa benar begitu? Teringat dahulu kala ada senam koreografinya Minanti Atmanegara, senam body performance . Alih2 sehat dan senang buat semua, apalagi bisa dapat medali mengharumkan nama bangsa yang ada Tubuh perempuan jadi alat segala rupa “jenis olah raga” demi “ideal” bentuk tubuh sesuai versi Patriarki, khususnya versi warga kulit putih. Karena perempuan bagi kalangan masyarakat di Afrika, semakin gemuk semakin baik dan menarik.

Sehingga produk terkait tubuhpun tak lain adalah temuan untuk Kapitalis membuat berbagai produknya, dari cat kuku “cutex” hingga segala jenis shampo produk kapitalis, yang hampir semuanya menggunakan bahan kimia. Tentu saja menjadi sehat dan cantik tidak serta merta hanya menarik perhatian para kapitalis saja, karena pada kenyataanya menjadi cantik dan sehat bagi perempuan telah juga menjadi bagian tradisi di Nusantara, umumnya menyangkut prosesi Pernikawinan dan Hamil bagi perempuan, sedangkan bagi laki-laki antara lain bugar dan dapat performed secara maksimal (penisnya).

Di dalam masyarakat Patriarki mengutip (Diah Laksmi, Perempuan Subyek Kecantikan Tanpa Syarat) “Bagi perempuan kecantikan adalah predikat wajib, hampir semua perempuan merasa gagal sebagai perempuan apabila ia tidak cantik. yang lebih fatal terjadi ketika perempuan mengharapkan pengakuan dari (terutama) laki-laki sebagai bukti bahwa ia cantik, seolah-olah laki-lakilah yang memiliki kuasa untuk menentukan otentik atau tidaknya perempuan”. Pada dasarnya dengan penguasaan keseluruhan sistem hidup oleh Patriarki, membuat apapun termasuk tubuh dan keselurahanya terkonsep oleh dan dilaksanakan sistem patriarki. Sistem yang melanggengkan seksisme, eksploitasi perempuan dan penindasan perempuan.

Pada konteks tubuh, seluruh tubuh perempuan diinterpretasikan dan dinamai seluruhnya baik badan, organ tubuh dalam dunia kedokteran dan pendidikan kedokteran dengan phallus centris patriarki. Emily Martin sangat jelas menulis ini dalam The Women in The Body, cultural analysis in reproduction yang menuliskan hasil temuannya dari sumber kampus kedokteran bergensi di Amerika Serikat. Tubuh perempuan dalam dunia modern patriarki, sehatnya, sakitnya, obatnya, ditentukan oleh laki-laki. Sampai hari ini, di Indonesia dokter perempuan untuk Gynekologi masih langka.

Senam adalah olah raga tubuh, namun disebabkan laki-laki yang memiliki kuasa atas baik buruk, indah cantiknya tubuh perempuan, maka senam menjadi andalan perempuan membentuk tubuhnya yang sesuai Patriarki. Yang paling jelas mungkin senam balet, dimana perempuan dipersamakan dengan angsa…(besambung)

FEMINIS Indonesia “tidak Suka Olah Raga

Pernah membaca artikel feminis di Indonesia tentang Olah Raga? Hehehe sepertinya hampir sulit menemukannya, belum ada yang menulis tentang hal tsb… Secara garis besar feminis di Indonesia tidak suka olah raga, suka dalam arti ini tidak menyukai olah raga yang mainstream (yang banyak disukai publik secara massif) termasuk olah raga berkelompok, tim atau grup seperti Volley, Sepakbola, Basket. Yoga? Renang? Bagi saya olah raga kelompok itu penting  bagi perkembangan hidup manusia selain sehat, mereka yang terlibat dalam olah raga kelompok memiliki dorongan untuk mengembangkan sifat sosial kemausiaan sesama tim. Mengenal empati, solidaritas, bersatu dan menumbuhkan sifat patriotisme (cinta pada negara/wilayah yang diwakili). Feminis di Indonesia hampir tak pernah mengangkat bagaimana diskriminasi dalam bidang olah raga terjadi. Bagaimana jumlah penonton, jumlah coveragenya, bagaimana olahraga dianggap gender base activitiesPadahal hampir semua olah raga sejatinya untuk kesehatan dan kedigjayagunaan kanuragan. Perempuan dan laki-laki dimasalalu sama-sama berkuda, memanah, silat dan lain sebagainya.

Kini ketika olah raga telah masuk ke dalam industri kapitalis yang merambah seluruh dunia, Indonesia masih jauh tertingal. Olah raga hanya bersifat karitatif seperti peringatan dan bersifat seremonial, atau bertujuan lain di luar sports seperti penggalangan dana, contohnya lari bersama memperingati Hari Perempuan Sedunia,  atau run for donation dsb. Apakah olahraga bukanlah bidang yang perlu mendapat perhatian juga dari semua kalangan khususnya Feminis yang memperjuangkan Penghapusan Seksisme dan Eksploitasi serta Penindasan? Tentu saja. Kenyataannya olahraga masih dikuasai oleh laki-laki, dalam hal penghargaan maupun coverage media. Di Amerika Serikat isu tentang perempuan berhak berolah raga secara kompetitif dan industri baru ada setelah termuat dalam UU Hak Sipil, title IX dan 1994, the Equity in Athletics Disclosure Act, sebagai Title IX the “Patsy Takemoto Mink Equal Opportunity in Education Act,” yang ditandatangani President George W. Bush. Tak heran kini Amerika Serikat menjadi salah satu Negara yang terhebat dalam perolehan medali emas untuk berbagai bidang olah raga beregu putri (Sepakbola, Volley, Baskeball). Mendapatkan Emas (6kali berturut-turut Basketball putri Olimpiade). Melihat bagaimana di Amerika Serikat sports bagian dari patriotisme (nasionalisme) bukanlah dari dukungan semata-mata Negara atas fasilitas olahraga tetapi Masyarakat dan Swasta (sponsor, penonton yang beli jersey dan pernak-pernik) itulah sesungguhnya industri yang ramah dan industri di masa depan. Bagaimana perusahaan lokal American Branded mendukung atlet dan sponsor tim yang membawa nama negara.

Pada konteks Amerika Serikat,  yang telah memiliki Regulasi olah raga yang mendukung keseteraan, pada kenyataanya atlit perempuan dipun masih mengalami diskriminasi baik dari Bayaran maupun Coverage Media. Hal ini tentu saja terjadi mengingat sistem Patriarki dalam arti sexisme masih terjadi, ketika manusia pemegang kekuasaan baik-perempuan dan laki-laki masih mempraktekkan sexisme (Bell Hooks, Feminism is for Everybody). Mengingat di Amerika Serikat olahraga/sports sangat erat kaitannya dengan entertainment (Budaya/Arts) maka mulailah perjuangan equality in pay on sports (http://www.bbc.com/sport/40299469 )untuk berapa event besar, namun liputan media massa tentang event olahraga perempuan masih kecil. Ketika ada WOMEN WORLD CUP tahun 2015 di Kanada, coba ditanyakan kepada perempuan penggemar sepakbola di Jakarta (pendukung Persija misalnya), mungkin tak tahu, karena hampir tak ada siaran langsungnya di tv di Indonesia atau swasta. Mungkin mereka yang mempunyai saluran tivi kabel bisa menyaksikan di ESPN atau Channel sports lainya.

Kembali ke negeri Indonesia, dimana klub sepakbola lokal  (daerah kabupaten, Kota, dan Provinsi) telah dikenal warga penggemar sepakbola di wilayahnya (klub Sepakbola Laki-laki). Presiden Jokowi mulai mengambil kebijakan untuk mendorong sepakbola putri. Toh Indonesia memang pernah punya sepakbola Putri ditahun 1980an. Waktu itu Mutia Datau yang cukup dikenal https://www.kompasiana.com/bungeko/muthia-datau-legenda-sepak-bola-wanita-indonesia_5509719aa333113e4b2e3a17 , dan pada masa itu enam dan olah raga antar sekolah lumayan masif. Namun keterkaitan antara Sekolah dengan prestasi olah raga hampir tak ada. Malahan ada seorang anak yang mewakili wilayahnya lomba di tingkat kabupaten dan mendapat mendali, namun tidak dihargai oleh guru olahraganya mendapat nilai buruk. Bandingkan dengan Amerika Serikat, dimana pendidikan dan olahraga itu memiliki kedekatan untuk sentimen daerah (lokasi sekolah), dan kebanggaan prestasi dan bertingkat dari SMP, SMU hingga Universitas. Tidak sulit sesungguhnya dilaksanakan bila ada kordinasi yang baik antar Instansi Departemen Pendidikan dan Kementrian Olah Raga.

Menilik tulisan kompasiana di atas tentang ketakutan Ibunda Mutia (atlit sepakbola putri) yang ketakutan anaknya menjadi tomboy seharusnya bisa dihindari. Olah Raga adalah demi kesehatan, bahkan bisa jadi profesi (mata pencaharian), bagian dari Pendidikan Karakter, sebagai bagian inti dari Budaya yang dapat mengharumkan Nama negara, hanya dengan Mendapatkan Juara/Champion atau Emas lah LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA tersiarkan di Luar Negeri dihadapan bangsa lain.  Emas yang diperoleh Perempuan atau Laki-laki semuanya didampingi LAGU KEBANGSAAN, tak ada diskriminasi terhadap patriotisme/nasionalisme. Perempuan dan Laki pembawa Nama Negara, Warga Negara Indonesia 🙂

 

tambahan: Minggu ini 19-21 Maret 2018, kompetisi Basket Putri penyisihan Piala Srikandi berlangsung di GOR Lokasari Mangga Besar Jakarta- TIKET GRATIS. Kompetisi termasuk liga yang diikuti atlet basket putri profesional .

srikandcup.com

 

 

 

 

Non Vegetarian: Animal & Plant Equality on Earth

All “good” creatures creates by Gods/Goddesses have obligation to living kindly on Earth, Ocean and in between. All have their nobility to live in the mortality of the world to be in immortality of heaven. They are human, animal, plants/tree and creatures in between seen and unseen. Called it Nature of the Earth or outer space, seen or unseen.

Nowadays trend for people to be a vegetarian. They’re follow by certain spirituality to be a vegetarian or for most of non-practicing certain religion claimed to be non violence (eat by killing animal) , other follow the religion and some to be healthy.

For creatures whom living on earth they have to act in accordingly of Great power of Nature. Because the modern human, who have and still held the reign of Natures (minus unseen and in between world), human still cannot control the Greatest Power of Natures (mountain, outer space, seas and all layers of the earth).

In accordingly conduct by Greatest Power of Nature for example, most of all animal driven by their commonality of instincts to staying alive, or desire to fulfilled hungry. They do not have what human taught as Culture. Culture is the knowledge or sciences that has been learn through education since human’s birth, from parents to all their children. The forms of culture of human created things that might called beauty with different forms of its as functions and usefulness to make life good living. Not merely staying alive like the animals. Within this context human also have the obligation to exercised the power to animal and trees, due to their powerlessness to Greatest Nature. As we are in Nuswantara believe that human ancestor directly from God/Godess who owns the Greatest Power of Nature , that is why many traditional cultural activities in relation to stay living (making food farmer, harvest has always have way to connect both Natures and God/Goddess.

Relationship between human and animal ultimately close since the beginning of Earth inhibited by human. Infact before human as directly descent by God, other species have lived on earth, they were giants or tiny creature sometimes called dinosaurs, and apes. Those existences cannot be denied. All holy books from differences spirituality said about those existences. About how human is the Utmost powerful creature to rule the planets, yet nowadays only rule Earth, and its also still limited, unlike the ancient powers did. The ancient human ruled similar with the God/Goddess due to prime power that given directly by the Almighty. All the stories you can read in scriptures tomb and ancient building all over the Earth. Yet, modern human stil cannot reach the conclusion about the existences of many unexplained phenomena that occurred in and on earth as well above.

Anyhow back to animal relation with human. Henry Bergson has said abit about differences between human and animal, about instinct and intelegent. Ki Ageng Surya Mentaram, a Javanese psychology has stated the differences of human and animal. How the privelege human had toward themselves and natures while, animal merely “robot” whom already been created base on limited instinct. Yet because of their relationship with human, animal can have metaphor more than they used to be, bigger than instinct. It is a privilege for both creatures. Somehow, there’re Believers in direct creation of certain animal is made by certain God/Goddess. And somehow, if one human, or god/goddess did something real mistaken or disobedience the Curse or Punishment was to become An Animal with half formed of human, like Ganesha, a God with half human body and head of elephant believes as God of Sciences. In fact it was believe he was a Prince of God’s Ghana son of Batara Guru, have his kingdom in upper Sunda Land, due to his mistake he was became half elephant. But there was duration for punishment. While as Ganesha, all elephants in the world bow to him. It was rather similar with certain God/Goddess or One Person Choosen a Prince/Princess who can transformed themselves (by choice) to be animal with diiferent feature/figure with common animal.

 

 

Semua mahluk “baik” yang diciptakan dewa/dewi memiliki tanggungjawab untuk hidup dengan baik di Bumi, Laut maupun ruang di antaranya. Semua mempunyai kemuliaan untuk hidup dalam ketidak abadian di dunia dan untuk abadi di nirwana. Mereka adalah manusia, hewan, tananam dan mahluk di antaranya yang terlihat maupun yang tak nampak. Sebutlah itu sebagai jalananya Alami Bumi.

Kini sedang terjadi tren di dunia menjadi vegetarian. Beberapa yang mempraktekkan menjadi vegetarian beragam alasan, khususnya yang non penganut Budha yaitu tak mau membunuh, atau untuk jaga kesehatan.

Mahluk yang hidup di atas bumi berprilaku sesuai fitrah atau Arahan dari Sang Pencipta. Karena manusia modern masih menguasai alam (tanpa penguasaan yang tak tampak dan mahluk antara), manusia pun tak dapat mengontrol/menguasai Kekuatan Terbesar Alam (gunung, antariksa, angkasa, lautan dan lapisan-lapisan dunia).

 

SUMBER SEJARAH DARI NUSWANTARA

SEGALA INFORMASI DATA DAN SUMBER INFORMASI DAN FAKTA YANG TERSAJI DI WEBSITE/BLOG wartafeminis.com apabila menyangkut Sejarah Nuswantara didapatkan melalui NARASUMBER LANGSUNG Pelaku Sejarahnya— yaitu Para Leluhur Nuswantara yang bercerita langsung melalui putu wayah (cucu jaman). Sekarang jaman ini tergabung dalam turanggaseta.com

Bagi yang mempercayai dan ingin terus mengetahui bahwa LELUHUR NUSWANTARA itu ada menguasasi SEMESTA JAGAD GUMELAR DAN JAGAD ALIT.

Apabila ada sumber lain yang mirip dan sejalan dengan informasi dan data turanggaseta.com maka hal tersebut semata kehendak BELIAU PARA EYANG LELUHUR.

Para Leluhur Nuswantara memomong Jagad Semesta dunia sehingga jejaknya tersebar diseluruh semesta.

NUSWANTARA adalah peninggalan yang akan kembeli bangkit sesuai janji 500tahun.

Persatuan NUSWANTARA sejati pasti tetap ada, perpecahan tak akan dapat menggantikan KESEJATIAN NUSWANTARA, apalagi ajaran dari tanah seberang, barat maupun tanah gersang.

SURGA DI NUSWANTARA TETAP AKAN MENJADI SURGA bacalah, baca apakah ada Negeri seperti NKRI-Nusantara????

 

Kepala Daerah harus “Penting Merasa, Jangan Merasa Penting”: Nurhajijah ( Wakil Gubernur Sumatera Utara)

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada tanggal 9 Maret 2017, melantik Nurhajijah SH, MH, sebagai Wakil Gubernur Sumatera Utara. Hal ini merupakan hasil  keputusan Dewan Pewakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara memilihnya dengan suara terbanyak pada Oktober 2016. Lima bulan menunggu prosesnya, akhirnya dilantik, usai terpilih DPRD, beliau menyampaikan ingin Sumatera Utara menjadi lebih baik. Seperti disampaikannya dalam  Suaramedannews.com “Kalau sampai 1 tahun 8 bulan ini tidak ada perubahan, tentu wartawan akan marah sama saya. Kok begini juga, padahal sudah ada ibu-ibu. Kan ibu-ibu paling bisa minta ke bapaknya. Nanti kita akan berupaya minta ke bapak-bapak di pemeritah pusat,”

Ibu Nurhajijah adalah salah satu perempuan kepala daerah yang hadir dalam Forum Perempuan Kepala Daerah yang dilaksanakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak pada 23/8/2017 di Jakarta. Ibu Nurhajijah adalah anggota DPRD dari Partai Hanura yang telah pernah turut kontestasi pilkada untuk menjadi kandidat bupati Asahan. Pengalaman di militer dimulai sejak 1983 saat turut Sepawamil, giat dalam mempelajari hukum dengan studi Hukum S1 di Universitas Sumetra Utara, dilanjutkan S2 Hukum Universitas Pajajaran (Unpad) dan menyandang Doktoral Hukum Unpad 2012.

Belum setahun beliau menjabat, sudah banyak gebrakan yang dilakukannya, menjalankan tugas dan fungsi yang diembannya. Sebagai Wakil Gubernur Sumatera Utara beliau mendapat tugas dibidang Perempuan, Pemuda dan Olah raga, serta Bencana. Beliaupun mendapat tanggungjawab dari Kementerian Maritim untuk membangun citra positif Danau Toba sebagai Geopark.

Sebagai satu-satunya kepala daerah perempuan di tingkat provinsi tantangan dan hambatan menjalankan kerja birokrasi dan pelayanan berbeda dari yang sebelumnya diemban saat bertugas di Militer. Ibu Nurhajiah terakhir menjabat sebagai Kepala Biro Hukum Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Bagaimana sebagai perempuan dan seorang yang pernah menjabat di birokrasi militer kini menjabat birokrasi sipil pemerintahan. Inilah secuplik kisahnya dari perbincangan kami 23/8/2017 lalu di Jakarta.

Birokrasi Militer dan Sipil Tidak Terlalu Jauh, intinya: Obey/Patuh

Perbedaan dan hambatan saat menjadi birokrat- tidak terlalu jauh, tapi yang penting bisa membawa diri yang tadi dari daerah betul-betul keras, obey. Tetap disiplin obey tetapi mengubah supaya lebih taat. Biasanya sebagai tentara, obey ke pimpinan, sekarang obey kepada Gubernur tanggung jawab dan obey, juga Obey ke bawah/birokrasi di bawah, karena di sipil dan militer itu beda sekali. Militer jelas, siapa berbuat apa kapan jelas, kalau di sipil harus menyesuaikan, kalau diperlukan kita lebih dahulu yang memberi contoh. Supaya mereka mengikuti.

Obey Patuh ke bawah juga dilakukan. Patuh pada rakyat/keinginan rakyat dan patuh/mengikuti secara sederhana ritme birokrasi/bwahan. Contohnya “saya tidak bisa begini “kalian harus tepat waktu ya .., tapi saya harus hadir duluan. Pernah suatu ketika saya hadir pukul 6.00, tidak ada orang. Nunggu lift dibuka jam 7.00. Namun besoknya lift dibuka pukul 6.30. Bahkan sekarang pukul 6.00 sudah dibuka lift nya. Artinya kita juga patuh kepada mereka bukan patuh ke atas aja.  Jadi sebagai Wagub pun menunggu lift dibuka, tetapi begitu karyawan melihat saya sudah hadir, besoknya sudah dibuka..”

Mengubah prilaku orang tidak idak langsung atau cepat-cepat tetapi  satu bulan mulai bisa mengikuti perubahan.

Hambatan dan tantangan

Jika dahulu saat di militer, review dilakukan per satu minggu dua minggu, sekarang perkembangan memantau pekerjaan dilakukan Ibu Nurhajijah, per dua hari. Harus ada laporan bisa kah, tidak bisa kah, kendalanya apa..paling lama laporan didapat 2 hari.

Tanggung jawab dari Gubernur pembagian tugas yang melekat Wanita, Olah Raga dan Pemuda dan Bencana. Itu yang dibangun beberapa bulan ini sekaligus memberi tahu kepada SKPD jaga disiplin karena kita ini milik rakyat, jabatan bukan punya kita.

Bagaimana mengubah kultur Sumatera Utara, anggota DPRD perempuan hanya 10%, ada kabupaten/kota. Pernah mengadakan kegiatan sebanyak duakali  mengumpulkan wanita tangguh yang berasal dari ketua partai atau angota dprd di provinsi, perempuan harus tangguh. Bahwa wanita itu apabila menjadi kepala daerah bisa merasakan yang orang rasakan apa yang dirasakan, tidak hanya berpikir dengan realita, tetapi memakai rasa. Sehingga dapat membayangkan membagaimanakannya

Di Sumatera Utara telah ada Perda Penyelenggaraan Perlindungan Anak No.3/2014, adapun berbagai daerah kabupaten atau kota di Sumatera Utara, ada yang telah memiliki perda turunan antara lain Pakpak Bharat  dengan Perda No.2/2017 Perlindungan Perempuan dan Anak korban Kekerasan.

Selaku Wagub, Ibu Nurhajijah mengakui bahwa di tingkat provinsi Lembaga Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak masih perlu ditingkatkan pelayanannya dan dioptimalisasikan keaktifannya. Mengingat di Sumatera Utara telah terdapat 12 P2TP2A kabupaten/kota yang aktif. Ibu Nurhajijah telah berkordinasi dengan ibu Menteri Pembedayaan Perempuandan Perlindungan Anak, dan akan melakukan kegiatan bersama di Danau Toba. Disamping melaksanakan tugas dari Gubernur dan Menko Maritim untuk membangun imej dan citra Danau Toba sebagai Geopark yang  bersih dan berwawasan ekologi.

Tanggung jawab melibatkan perempuan, pedagang di danau toba itu perempuan. Visi untuk pedagang sosialisasi kecil-kecilan, karena kultur di sana, pejabat tidak bisa langsung datang memberitahu program ini, atau itu, bisa bisa mereka bicara seperti ini, pernah dilemparin mangga,  “ah kau ajak omong kau, kau wagub..”

Jadi Ibu Nurhajijah melalukan pendekatan sebagai Wagub dengan terjun langsung ke maysarakat. Beliau menginap dua hari disana, live in, pergi ke pajak-pajak, (pasar) disitulah biasa terjalin komunikasi dan sosialisasi. Wilayah yang sudah dimulai antara lain Samosir, Parapat, Tobasa.

Selama enam bulan ini prestasi yang telah dilakukan, antara lain dibidang  olah raga kebudayaan untuk diaktifkan. Berkordinasi dengan kementrian Pemuda, meminta bantuan walaupun cuma sepeda. Sehingga ada kegiatan gowes danau toba dan balige dapat dilaksanakan, Gowes Pesona Nusantara bulan Mei 2017 lalu terlaksana.

Jika sudah sudah ada infrastruktur ke perempuan, masih sedang belum berdampak besar. Desember akhir Boeing 737 mungkin akan dampak lebih luas. Meminta bupati, tidak bisa lagi kita mengajak, tapi berbuat, sediakanlah sepeda. berapa lah harga sepeda itu untuk hadiah-hadiah, kipas angin. Sehingga bisa mengumpulkan orang, juga  jaga kesahatan meninggalkan kebiasaan  buang sampah. Upayakan untuk bekerjasama dengan menghimbau pada para birokrasi dengan pendekatan hukum.

Mengenai kejadian baru-baru ini sampah di buang ke Danau Toba, sedang diupayakan dibersihkan. Karena di sekitar wilayah tersebut  Supaya sampah di Danau toba dibersihkan (simalungun) disitu ada ternak babi ada ikan yang berlebihan. Bantuan CSR masih diperlukan, karena dana pmerintah tidak cukup, namun masih kecil CSRnya dibanding metropolitan yang lain. Mudah-mudahan ada perubahann, hal ini sesuai dengan rencana Menko kemaritiman, membangun danau toba sebagai adiknya bali, jangan sampai terlalu jauh senjangnya.

Tips dan Saran bagi Perempuan Politik Pilkada 2018

Sebagai wakil kepala daerah perempuan, Ibu Nurhajijah berupaya agar target keterlibatan politik perempuan meningkat, termasuk  mendukung perempuan, kepala daerah hanya 2 di Sumatera Utara wakil gubernur dan wakil bupati. Sedangkan keanggotaan DPRD Perempuan masih 10 % bersama dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sumatera Utara, pemda Sumut mendorong perempuan untuk aktif di politik, kalau perlu  siap mengajak atau beragumentasi pada suami, dengan keyakinan memenangkan kontestasi.

Tips untuk para perempuan yang ingin jadi Kepala Daerah atau Caleg:
> Pertama, menyelami politik dan keinginan rakyat, apa yang dimaui, tidak ada lagi melalui-melaui (calo politik), waktu 3 bulan tidak cukup waktu untuk menyiapkan kampanye dan lain sebagainya, sehingga saat pilkada Bupati Asahan (belum menang). > Siap menjadi wanita Indonesia yang tangguh, dengan modal pertama: Rela membuka diri ke masyarakat, dan memerlukan dana, untuk sosialias, kita harus makan juga> Ketiga Pimpinan Partai percayalah perempuan, jangan menganggap perempuan lemah, karena wanita lebih berpikir dengan rasa dan realita, PINTAR MERASA JANGAN HANYA MERASA PINTAR, jika itu sudah dipegang maka itu.

Adapun pada perempuan kepala daerah yang sedang sedang menjabat : laksanakan tugas sesuai aturan, kalaupun harus ada operasi mendadak semuanya laporkan ke Pusat, walaupun sedikit melenceng Aturan apabila itu Urgen lapor sesegera mungkin, kita turun langsung lapor.

mantap.

 

 

Dana Dunia untuk Kesejahteraan, Kelesterian Lingkungan diKomunitas

Jakarta, 17-7-2017, Berita baik bagi pemerintah Indonesia, karena PBB melalui UNDP Small Grant Program SGP, Global Enviroment Facility dalam acara Laucnhing phase 6, kembali akan mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia khususnya untuk pencapaian SDG Sustainable Development Goals khususnya 11. Pembangunan Keberlanjutan Kota dan Komunitas, 12. Konsumsi dan Produksi yang bertanggung 13. Antisipasi Perubahan Iklim, dengan melanjutkan dan menambah dana bantuan SGP dari jumlah tahun sebelumnya. Hal tersebut antaralain disampaikan oleh Christina Dwihastarini selaku Kordinator Nasional Indonesia.

Pada kesempatan pembukaan workshop dua hari ini, disampaikan berbagai kisah kegiatan yang telah dilaksanakan dari bantuan SGP ini. Ada pagiat 5 komunitas yang langsung menceritakan kisah keberhasilan dan tantangannya yaitu dari Sumba Barat Daya NTT, Brebes-Pati, Gorontalo, Kalimantan Barat, dan Wonogiri, Jawa Tengah. Adapun paparan kisah tentang Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara, Nusa Penida Provinsi Bali dan Pulau Semau NTT yang disampaikan oleh Eri Damayanti (UNDP).
Diawali dengan pemaparan singkat kerja SGP GEF di Indonesia sejak tahun 1992 dan hingga kini terus memberikan kontribusi dalam mendukung antisipasi perubahan iklim melalui kerja bersama dengan NGO (Non Goverment Organization (istilah ditahun 1990an) dan komunitas. Hingga kini telah lebih dari 146 komunitas dari CSO (Civil Society Organization) tersebar di seluruh Indonesia dan membantu lebih dari 600Kepala Keluarga. SGP GEF mendorong penguatan pengelolaan sumber daya alam oleh komunitas untuk ekosistem hutan, pesisir, ekosistem air bersih dan laut, eksositem pengunungan, agrobiodiversitas, energi terbarukan dan konservasi serta efisiensi energi.

Hadir sebagai keynote speaker Ibu Laksmi Dhewanthi mewakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sebagai Operational Focal Point GEF Indonesia. Sepanjang pemaparan diungkapkan bahwa selama ini small grant program telah berjalan dengan pemerintah sebagai jembatan antara GEF SGP dengan komunitas lokal dan CSO yang antara lain secara berjaringan bekerjasama dengan Yayasan Bina Usaha Lingkungan dan dengan kegiatan berbagai yang memberi perubahan lebih baik bagi komunitas dampingan. Lebih jauh ibu Laksmi memaparkan bagaimana upaya yang ada dan harus didukung adalah pola konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab pada lingkungan, sebagaimana target SDGs diatas.

Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Pelestarian Ekologi
Kecendrungan eksploitasi modal banyak, output sedikit lebih banyaklimbahnya, kan seharusnya bisa output banyak limbah sedikit itu efisien. Kecendrungan  pemubaziran, natural resources (dari segi produksi) saat produksi. Pemubaziran makan tidak dihabiskan, Mengambil ditahan disimpan tapi tidak dimanfaatkan, sumber daya tidak digunakan secara efisien. Efisiensi–bukan hanya efisiensi ekonomi, resources–kalau dibuang ada ekonomi terbuang, tetapi juga melakukan upaya baik untuk ekologis. Semakin sedikit sampah yang dibuang maka semakin sedikit tugas Alam untuk purifikasi membersihkan dirinya sendiri. Agenda yang sudah 1992 hasil sejak UNED , namun tidak sepopuler perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.
SDG 12, diulangi kembali harus mengubah pola konsumsi dan produksi kita. Hal yang seharusnya dilakukan, jika kita punya modal jika modal dimubazirkan kan tidak baik.
Progaram tingkat masyarakat ada yang menggunakan serat alami, memanen dari alam, membuat dan saat produksi, produksnya 60, 40 terbuang, nah yang dulu terbuang kini dapat direproduksi lagi menjadi berbagai produk daur ulang. Pada masalalu cenderung terbuang,

Ibu Laksmi Dhewanthi

Sekarang sumber-sumber itu saat lahir hingga lahir lagi,  cradle to cradle. Tak ada ‘kain perca yang jadi sampah, tapi dijahit ulang atau dikumpulkan kapuk, diisi bantal. Memanfaatkan ulang, reduce, reclycle, reuse, pola inilah yang kita selalu sosialisasikan pada masyarakat, termasuk dalam program Adiwiyata maupun Adipura.
Dalam konteks sampah, banyak bank sampah–ada jembatan manusia. Mulai dari diri sendiri, rencana hari ini masak apa..beli sayurnya, mengolah sayur seperti Kangkung, seikat kankung dipakai hanya 1/3 saja yang dimasak, sisanya 2/3 bisa dijadikan kompos dicacah, tidak dibuang. Bisa untuk pupuk tanam biopori, atau bisa juga jadi pakan ternak. Hal tersebut menjadikan limbah sedikit, maka ditingkat komunitas akan sedikit juga.
Program Adiwiyata, grant school SD-SMP-SMA memanfaatkan ulang, tidak hanya upaya lain, pemda dengan Adipura, dilakukan. GEF program yang mendukung programpemerintah ditingkt nsionl jd tidakbsa terpisah,tapi di KLHK di kemitraan lingkunga yang menangani dg CSO–untuk mendukung program pemerintah. Ke CSO yang langsung ke GEF. Tidak hanya pemerintah..tanggung jawab kita semua

Komunitas Bergerak bersama- sama bergerak

Berikut ini sebagian kecil paparan yang disampaikan dalam launching phase ke 6

Eri Dhamayanti memaparkan kondisi sosial, ekonomi wilayah pulau kecil yang secara umum memiliki masalah sama, yaitu rawan bencana dan isolasi, lahan kritis, ketersediaan air, tidak mandiri pangan, dan pertanian mengandalkan hujan dan bergantung pada pestisida dan maslah energi. Pulau Semau yang dekat dengan Kupang NTT, sejak berganti pangan dengan beras, masyarakat tidak lagi mandiri kehidupan pertanian tersisih. Tanah berbatu tetapi masih bisa pertanian. Daerah pesisir namun perikanan tidak

signifikan, lebih pada rumput laut. Ketiadaan pangan lokal karena tergantikan dengan beras, budaya pertanian dari kearifan lokal menanam jagung dsb, tidak lagi dilakukan disebabkan orang telah dapat memperoleh makanan, dengan membeli. Ada banyak jenis tanaman pangan lokal yang sebenarnya bisa dibudidayakan. Nusa Penida laut, bagian dari Kab. Klungkung daratan untuk mencapainya harus menggunakan perahu dan harus dalam kondisi cuaca baik. Wilayah lainnya yang dipaparkan adalah kepulauan Kab. Wakatobi (pulau: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Biongko) di Sula

wesi Tenggara. Ketahanan pangan Wakatobi tidak tidak ada, masyarakatnya makanan pokok beras, tetapi tidak ada pertanian sawah, artinya pangan utama bergantung dari luar wilayah. Padahal pada masalalu makanan ubi-ubian sebagai makanan pokok ada berbagai jenisnya, ada 20 jenis dan semuanya terukur dengan musim tanam berdasar penghitungan masa tanam kearifan lokal. Perikanan tangkap justru dijual ke Buton. Secara garis besar pulau-pulau di atas memiliki dengan potensi ekonomi tinggi, sekaligus memiliki kekayaan alam flora dan fauna serta budaya lokal yang kaya namun perlu sentuhan yang mampu mengubah mental dan tatacara masyarakat untuk dapat lebih memahami hal-hal terkait potensi lingkungan dan masyarakat. Secara faktua

sumber: mongabay.co.id

Continue reading “Dana Dunia untuk Kesejahteraan, Kelesterian Lingkungan diKomunitas”

Pesantren Kebon Sawah : Berkah Alam dalam Himpitan Perubahan

umillsSelamat Datang di  Kebon Sawah Argoekologi

Pada tanggal 5-6
Mei 2017, saya bersama Adhe dan Shiren sempat berkunjung ke Pesantren AtThariq, di Cimurugul Kelurahan Sukagalih, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Menuju ke pes antren AtThariq tidak sulit, dan ibu Nissa selaku pengampu dan pengelola akan memberi arahan jalan menuju lokasi.

Kami tiba di pesantren menjelang sore, sekitar pukul 14.30 WIB, ibu Nissa sedang istirahat bersama putri bungsunya yang biasa dipanggil Ceuceu, usia 5 tahun. Kami disambut putri pertamanya Salwaa yang mempersilahkan kami untuk istirahat di pondok. Sebuah bangunan bertingkat panggung terbuat dari bambu yang difungsikan juga sebagai musholla, ruang diskusi serta ruang istirahat di atasnya. Dipondok tersebut terdapat rumah sarang untuk beberapa ekor burung dara yang ketika kami datang sedang terbang disekitar kandang. Pondokan dikelilingi tanaman merambat serta ada pattariq1ohon mangga yang batang dan dautnya menjalar masuk sehingga jika akan naik ke atas harus melewati pohon itu. Di luarnya ada pohon pete cina yang juga menjulur-julurkan diri hendak masuk ke pondokan atas dan bawah. Menurut ibu Nissa, pepohonan yang suka dengan pondokan akan dibiarkan sebagaimana adanya, sebagai bagian hidup bersama ketersalingan.

Setelah menaruh tas di pondokan, saya dan Shiren, gadis kecil 8 tahun keluar ke sawah dimana ada beberapa anak sedang menerbangkan layang-layang berukuran cukup besar. Kita berjalan dipematang sawah dan memotret kanan-kiri, diarah kejauhan gunung dan awan. Langit cukup mendung hari itu.Kembali ke pondokan, kami disajikan minuman dari Jeruk Purut (yang buahnya keriput dan berwarna hijau tua), pohonnya ada disamping kanan pondok. Saya menyebutnya welcome drink. Disediakan gula pasir putih untuk menambah manis bagi yang tak suka asam. Saya meminum langsung seperti kebiasaan saya minum jeruk nipis dipagi hari.

Tidak Sekedar Pesantren

Tak seperti pesantren modern umumnya yang mengajari santrinya semata-mata ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, dimana santrinya mondok/tinggal dan terkungkung dalam kurikulum ketat yang tak jauh beda dari pendidikan modern umum. Pesantren AtThariq yang dipimpin oleh Nissa Wargadipura dan Ustad Ibang Lukman pamornya telah dikenal publik; tak kurang semua televisi swasta nasional telah menayangkan kegiatan hidup dan berkehidupan bersama Alam di Kebon Sawah (a.l https://www.youtube.com/watch?v=zYI1F7SETuE ). Khususnya dengan ciri para santri dan yang bertandang ke Kebon Sawah hidup bersama alam dengan alam secara alami. Ya Alami, dan Mandiri melampaui cara dan proses yang dikenal umum sebagai organik. Pesantren Kebon Sawah juga dikenal sebagai pesantren Ekologi, dimana keseluruhan proses perputaran pangan saling terkait membentuk rantai makanan yang berkelanjutan. Maka kita akan menemukan ada beberapa pohon yang daunnya bolong dimakan ulat atau hama, namun dibiarkan. Kecuali jika daunnya habis semua baru diambil langkah dengan mengatasinya menggunakan pestisida alami yang dibuat. Pestisida alami sudah tersedia dari tanaman yang tumbuh diberbagai tempat, dipinggir kolam ikan dan belut yang dipenuhi tanaman apu-apu yang berfungsi memberi makan ikan dan belut, juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sederhananya di kebon sawah semua hidup sesuai fungsi dan peruntukkannya.

Kehidupan pemenuhan kebutuhan hidup dalam lingkungan AtThariq, mungkin bisa disebut sebagai ekonomi Subsistence Perspective, yang diperkenalkan oleh Maria Mies, dimana kebutuhan hidup terutama pangan dipenuhi oleh komunitas, untuk komunitas tidak ada  produksi untuk sengaja untuk tujuan dijual (berlebih) atau diperdagangkan namun bila ada kelebihan  pangan ataupun  herbal baru akan ditawarkan kepada kawan dan kerabat yang mau “membelinya”.

Inilah antara lain praktek Subsistence Perspective .. “orang dapat memproduksi dan mereproduksi kehidupan mereka sendiri, untuk berdiri diatas kaki sendiri dan memakai suara mereka sendiri. Ketika komunitas dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa tergantung kekuatan lain atau agen lain, termasuk uang. Maria Mies menganggap subsistence perspective merupakan cara perempuan melawan globalisasi ekonomi.(Maria Mies and Veronika Bennholdt-Thomsen, 2000). Nissa Wargadipura dan Ibang Lukman adalah aktivis organisasi tani Serikat Petani Pasundan, yang memutuskan melakukan perlawanan dengan cara konkrit melawan kapitalisme pertanian yang telah merasuk di tanah Indonesia sejak tahun 1980an dengan Revolusi Hijau-nya. Revolusi yang secara tajam mencabut akar kearifan lokal dalam hal teknologi pertanian, mengganti keseluruhan cara tradisi yang bernilai tinggi dalam hal praktek teknologi tani yang menyatukan manusia dengan alam, dengan modernisassi pertanian dan memborbardir tanah dan air Indonesia dengan racun pestisida. Revolusi yang tidak hanya mencabut dan menghilangkan benih dan tanah asli dari tanah air, namun juga menghilangkan praktek budaya adiluhung dibidang pertanian; mengenali musim tananam, mengenali musim cuaca dan mengenali serta memahami hidup dan kehidupan hewan sekeliling kebon dan sawah. Tak ada istilah gulma disini. Gulmanisasi adalah istilah industri, revolusi hijau. Segala tanaman disekeliling kita, yang biasa diinjak dan dicabut, oleh Ustad Ibang diberitahu namanya, dan diminta kita melihat di google, dan terlihatlah tanaman Krokot apa yang oleh ‘pertanian modern’ dibilang “gulma” ..Google menampilkan 10 manfaat krokot…27 manfaat Sintrong dsb…

Di Kebon Sawah kita akan merasakan hawa dan udara bersih, karena semuanya alami. Sehari saja disana saya sungguh merasa segar, sehat  layaknya detoksifikasi. Makan malam kami disuguhi nasi liwet. Nasi yang dimasak dengan campuran daun salam, sereh dan telang ungu. Rasanya enak sekali, apalagi kami pun disediakan lauk ayam bakar yang dibakar dan masih segar, juga bayam paris rebus dan kecipir. Itulah rasa sesungguhnya dari kedaulatan pangan. Dimana di tanah air Indonesia, seharusnya tidak ada kelaparan, tidak ada sampah. Semua tanaman dan hewan punya manfaat dan fungsi. Kedaulatan terjadi  ketika semua mandiri dan tidak tergantung pada agen pupuk atau benih.

Makan malam yang sangat mewah. Jika dirupiahkan dan dijual dihotel mahal bisa seharga ratusan ribu 🙂 Serius. Saya bisa membedakan tekstur rasa dari bayam paris yang lebih lembut dari bayam biasa, juga kecipirnya. Yang membuat kami makan malam dengan lahap adalah sambal dabu-dabu dari tomat-tomat kecil yang dipetik oleh Ceuceu dan Shiren, dan cabe pedas yang semuanya dipetik di Kebon Sawah. Dan malam itu, sangat aneh, kami semua tidur pulas, dan tidur cepat. Inilah nasiliwet ungu yang disukai pengungsi saat banjir bandang menimpa Garut beberapa waktu lalu.   Kami masuk pondokan sekitar pukul 21.00 dan saya tidur…Namun selalu terjaga dengan suara-suara speaker dan toa yang memberitahu tentang waktu… Sejauh ini saya tidak terganggu …:-)

Sayang kami hanya bisa menginap semalam, jika  beberapa hari detoksisifkasi pasti benar terjadi.  Betapa tidak, dari cerita Ustad Ibang, seorang santri yang semula narkoba pun dapat sembuh tidak hanya karena alamnya, namun karena interaksi aktivitas berkebun: menyiapkan benih, merawat bibit, menanam, merawat dan menjaga. Berbeda dengan tatacara ‘industri’ pertanian organik yang menggunakan asupan/pupuk sebagai bahan tambahan bagi tanaman, di Kebon Sawah semua alami, berasal dari alam, hanya menggunakan tambahan ‘kotoran hewan/kambing’ sebagai pupuknya, juga sisa sayuran dan sisa makanan ‘dibuang’ bukan sebagai sampah, tapi diberikan ke tanah untuk pupuk alami. Itu yang terjadi terdap ‘piring’ panjang daun pisang saat makan dengan botram, daunnya ‘dibuang’ disamping bawah pondokan untuk berproses secara alami dengan dedauan lainnya.

Pesantren Kebon Sawah bukan sekedar pesantren, namun komunitas kecil keluarga yang memiliki harapan dan kepercayaan bahwa perubahan untuk perlawanan terhadap ‘penghancuran’ karena kebijakan pertanian dan kebijakan pendidikan modern hanya dapat dicapai melalui praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dilakukan ibu Nissa dan Ustad Ibang bukan hal kecil, langkah dan gerak yang terus menerus memberi inspirasi (selalu berbagai pengalaman, ilmu dan pengetahuan yang dipraktekkan) dalam berbagai kesempatan, termasuk kepada para tamu yang hendak belajar Ekologi yang datang dari berbagai kalangan, dalam dan luar negeri. Termasuk para biarawati dan pastur. Menurut Ustad Ibang, beberapa waktu lalu beberapa pastur dari Taiwan, India, Jepang tinggal di KebonSawah untuk belajar dan berbagi pengalaman dan pengetahuan, sebagai bagian tugas layanan Katolik adalah Pelayanan pada Alam…

Pesantren Ekologi Atthariq terus bertumbuh dan berkembang, sudah lebih dari 500 spesies tanaman di Kebon Sawah, belum lagi di Hutan Tangoli untuk pohon-pohon besar asli Nusantara yang hendak ditanam dan dimuliakan kembali….Namun disekeliling Pesantren perumahan yang semakin merambah, pertanian industri yang tidak ramah lingkungan… Masih banyak lagi cerita dan tantangan dari  Pesantren Ekologi AtThariq untuk selalu menginsiprasi sesama…dan kita bisa terlibat langsung dalam mendukung pertumbuhannya..silahkan datang ke Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kec.TarKid (Tarogong Kidul), yang lokasinya tak jauh dari keramaian kota… silahkan berinteraksi langsung dengan Ibu Nissa ke https://www.facebook.com/nissa.wargadipura

mari menantikan jaman baru

mari menantikan jaman baru
bersiaplah
ajaran yang tidak baik
ajaran yang tidak memuliakan Leluhur
ajaran yang tidak tahu tatakrama
ajaran yang tidak memuliakan Alam
ajaran yang melupakan kewajiban pada sesama
ajaran yang tidak menghargai Tanah dan Air
ajaran yang melupakan nama dan bahasa asli
ajaran yang tidak menghubungkan Nyata dan Maya
ajaran yang menghina tradisi Asli Leluhur
ajaran seberang itu
akan segera dikembalikan
waktunya tiba
sebagaimana Janji Beliau
saat dipangasingan
untuk kembali lagi
JAYA WIJAYANTI

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑