Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Dana Dunia untuk Kesejahteraan, Kelesterian Lingkungan diKomunitas

Jakarta, 17-7-2017, Berita baik bagi pemerintah Indonesia, karena PBB melalui UNDP Small Grant Program SGP, Global Enviroment Facility dalam acara Laucnhing phase 6, kembali akan mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia khususnya untuk pencapaian SDG Sustainable Development Goals khususnya 11. Pembangunan Keberlanjutan Kota dan Komunitas, 12. Konsumsi dan Produksi yang bertanggung 13. Antisipasi Perubahan Iklim, dengan melanjutkan dan menambah dana bantuan SGP dari jumlah tahun sebelumnya. Hal tersebut antaralain disampaikan oleh Christina Dwihastarini selaku Kordinator Nasional Indonesia.

Pada kesempatan pembukaan workshop dua hari ini, disampaikan berbagai kisah kegiatan yang telah dilaksanakan dari bantuan SGP ini. Ada pagiat 5 komunitas yang langsung menceritakan kisah keberhasilan dan tantangannya yaitu dari Sumba Barat Daya NTT, Brebes-Pati, Gorontalo, Kalimantan Barat, dan Wonogiri, Jawa Tengah. Adapun paparan kisah tentang Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara, Nusa Penida Provinsi Bali dan Pulau Semau NTT yang disampaikan oleh Eri Damayanti (UNDP).
Diawali dengan pemaparan singkat kerja SGP GEF di Indonesia sejak tahun 1992 dan hingga kini terus memberikan kontribusi dalam mendukung antisipasi perubahan iklim melalui kerja bersama dengan NGO (Non Goverment Organization (istilah ditahun 1990an) dan komunitas. Hingga kini telah lebih dari 146 komunitas dari CSO (Civil Society Organization) tersebar di seluruh Indonesia dan membantu lebih dari 600Kepala Keluarga. SGP GEF mendorong penguatan pengelolaan sumber daya alam oleh komunitas untuk ekosistem hutan, pesisir, ekosistem air bersih dan laut, eksositem pengunungan, agrobiodiversitas, energi terbarukan dan konservasi serta efisiensi energi.

Hadir sebagai keynote speaker Ibu Laksmi Dhewanthi mewakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sebagai Operational Focal Point GEF Indonesia. Sepanjang pemaparan diungkapkan bahwa selama ini small grant program telah berjalan dengan pemerintah sebagai jembatan antara GEF SGP dengan komunitas lokal dan CSO yang antara lain secara berjaringan bekerjasama dengan Yayasan Bina Usaha Lingkungan dan dengan kegiatan berbagai yang memberi perubahan lebih baik bagi komunitas dampingan. Lebih jauh ibu Laksmi memaparkan bagaimana upaya yang ada dan harus didukung adalah pola konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab pada lingkungan, sebagaimana target SDGs diatas.

Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Pelestarian Ekologi
Kecendrungan eksploitasi modal banyak, output sedikit lebih banyaklimbahnya, kan seharusnya bisa output banyak limbah sedikit itu efisien. Kecendrungan  pemubaziran, natural resources (dari segi produksi) saat produksi. Pemubaziran makan tidak dihabiskan, Mengambil ditahan disimpan tapi tidak dimanfaatkan, sumber daya tidak digunakan secara efisien. Efisiensi–bukan hanya efisiensi ekonomi, resources–kalau dibuang ada ekonomi terbuang, tetapi juga melakukan upaya baik untuk ekologis. Semakin sedikit sampah yang dibuang maka semakin sedikit tugas Alam untuk purifikasi membersihkan dirinya sendiri. Agenda yang sudah 1992 hasil sejak UNED , namun tidak sepopuler perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.
SDG 12, diulangi kembali harus mengubah pola konsumsi dan produksi kita. Hal yang seharusnya dilakukan, jika kita punya modal jika modal dimubazirkan kan tidak baik.
Progaram tingkat masyarakat ada yang menggunakan serat alami, memanen dari alam, membuat dan saat produksi, produksnya 60, 40 terbuang, nah yang dulu terbuang kini dapat direproduksi lagi menjadi berbagai produk daur ulang. Pada masalalu cenderung terbuang,

Ibu Laksmi Dhewanthi

Sekarang sumber-sumber itu saat lahir hingga lahir lagi,  cradle to cradle. Tak ada ‘kain perca yang jadi sampah, tapi dijahit ulang atau dikumpulkan kapuk, diisi bantal. Memanfaatkan ulang, reduce, reclycle, reuse, pola inilah yang kita selalu sosialisasikan pada masyarakat, termasuk dalam program Adiwiyata maupun Adipura.
Dalam konteks sampah, banyak bank sampah–ada jembatan manusia. Mulai dari diri sendiri, rencana hari ini masak apa..beli sayurnya, mengolah sayur seperti Kangkung, seikat kankung dipakai hanya 1/3 saja yang dimasak, sisanya 2/3 bisa dijadikan kompos dicacah, tidak dibuang. Bisa untuk pupuk tanam biopori, atau bisa juga jadi pakan ternak. Hal tersebut menjadikan limbah sedikit, maka ditingkat komunitas akan sedikit juga.
Program Adiwiyata, grant school SD-SMP-SMA memanfaatkan ulang, tidak hanya upaya lain, pemda dengan Adipura, dilakukan. GEF program yang mendukung programpemerintah ditingkt nsionl jd tidakbsa terpisah,tapi di KLHK di kemitraan lingkunga yang menangani dg CSO–untuk mendukung program pemerintah. Ke CSO yang langsung ke GEF. Tidak hanya pemerintah..tanggung jawab kita semua

Komunitas Bergerak bersama- sama bergerak

Berikut ini sebagian kecil paparan yang disampaikan dalam launching phase ke 6

Eri Dhamayanti memaparkan kondisi sosial, ekonomi wilayah pulau kecil yang secara umum memiliki masalah sama, yaitu rawan bencana dan isolasi, lahan kritis, ketersediaan air, tidak mandiri pangan, dan pertanian mengandalkan hujan dan bergantung pada pestisida dan maslah energi. Pulau Semau yang dekat dengan Kupang NTT, sejak berganti pangan dengan beras, masyarakat tidak lagi mandiri kehidupan pertanian tersisih. Tanah berbatu tetapi masih bisa pertanian. Daerah pesisir namun perikanan tidak

signifikan, lebih pada rumput laut. Ketiadaan pangan lokal karena tergantikan dengan beras, budaya pertanian dari kearifan lokal menanam jagung dsb, tidak lagi dilakukan disebabkan orang telah dapat memperoleh makanan, dengan membeli. Ada banyak jenis tanaman pangan lokal yang sebenarnya bisa dibudidayakan. Nusa Penida laut, bagian dari Kab. Klungkung daratan untuk mencapainya harus menggunakan perahu dan harus dalam kondisi cuaca baik. Wilayah lainnya yang dipaparkan adalah kepulauan Kab. Wakatobi (pulau: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Biongko) di Sula

wesi Tenggara. Ketahanan pangan Wakatobi tidak tidak ada, masyarakatnya makanan pokok beras, tetapi tidak ada pertanian sawah, artinya pangan utama bergantung dari luar wilayah. Padahal pada masalalu makanan ubi-ubian sebagai makanan pokok ada berbagai jenisnya, ada 20 jenis dan semuanya terukur dengan musim tanam berdasar penghitungan masa tanam kearifan lokal. Perikanan tangkap justru dijual ke Buton. Secara garis besar pulau-pulau di atas memiliki dengan potensi ekonomi tinggi, sekaligus memiliki kekayaan alam flora dan fauna serta budaya lokal yang kaya namun perlu sentuhan yang mampu mengubah mental dan tatacara masyarakat untuk dapat lebih memahami hal-hal terkait potensi lingkungan dan masyarakat. Secara faktua

sumber: mongabay.co.id

Continue reading “Dana Dunia untuk Kesejahteraan, Kelesterian Lingkungan diKomunitas”

Pesantren Kebon Sawah : Berkah Alam dalam Himpitan Perubahan

umillsSelamat Datang di  Kebon Sawah Argoekologi

Pada tanggal 5-6
Mei 2017, saya bersama Adhe dan Shiren sempat berkunjung ke Pesantren AtThariq, di Cimurugul Kelurahan Sukagalih, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Menuju ke pes antren AtThariq tidak sulit, dan ibu Nissa selaku pengampu dan pengelola akan memberi arahan jalan menuju lokasi.

Kami tiba di pesantren menjelang sore, sekitar pukul 14.30 WIB, ibu Nissa sedang istirahat bersama putri bungsunya yang biasa dipanggil Ceuceu, usia 5 tahun. Kami disambut putri pertamanya Salwaa yang mempersilahkan kami untuk istirahat di pondok. Sebuah bangunan bertingkat panggung terbuat dari bambu yang difungsikan juga sebagai musholla, ruang diskusi serta ruang istirahat di atasnya. Dipondok tersebut terdapat rumah sarang untuk beberapa ekor burung dara yang ketika kami datang sedang terbang disekitar kandang. Pondokan dikelilingi tanaman merambat serta ada pattariq1ohon mangga yang batang dan dautnya menjalar masuk sehingga jika akan naik ke atas harus melewati pohon itu. Di luarnya ada pohon pete cina yang juga menjulur-julurkan diri hendak masuk ke pondokan atas dan bawah. Menurut ibu Nissa, pepohonan yang suka dengan pondokan akan dibiarkan sebagaimana adanya, sebagai bagian hidup bersama ketersalingan.

Setelah menaruh tas di pondokan, saya dan Shiren, gadis kecil 8 tahun keluar ke sawah dimana ada beberapa anak sedang menerbangkan layang-layang berukuran cukup besar. Kita berjalan dipematang sawah dan memotret kanan-kiri, diarah kejauhan gunung dan awan. Langit cukup mendung hari itu.Kembali ke pondokan, kami disajikan minuman dari Jeruk Purut (yang buahnya keriput dan berwarna hijau tua), pohonnya ada disamping kanan pondok. Saya menyebutnya welcome drink. Disediakan gula pasir putih untuk menambah manis bagi yang tak suka asam. Saya meminum langsung seperti kebiasaan saya minum jeruk nipis dipagi hari.

Tidak Sekedar Pesantren

Tak seperti pesantren modern umumnya yang mengajari santrinya semata-mata ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, dimana santrinya mondok/tinggal dan terkungkung dalam kurikulum ketat yang tak jauh beda dari pendidikan modern umum. Pesantren AtThariq yang dipimpin oleh Nissa Wargadipura dan Ustad Ibang Lukman pamornya telah dikenal publik; tak kurang semua televisi swasta nasional telah menayangkan kegiatan hidup dan berkehidupan bersama Alam di Kebon Sawah (a.l https://www.youtube.com/watch?v=zYI1F7SETuE ). Khususnya dengan ciri para santri dan yang bertandang ke Kebon Sawah hidup bersama alam dengan alam secara alami. Ya Alami, dan Mandiri melampaui cara dan proses yang dikenal umum sebagai organik. Pesantren Kebon Sawah juga dikenal sebagai pesantren Ekologi, dimana keseluruhan proses perputaran pangan saling terkait membentuk rantai makanan yang berkelanjutan. Maka kita akan menemukan ada beberapa pohon yang daunnya bolong dimakan ulat atau hama, namun dibiarkan. Kecuali jika daunnya habis semua baru diambil langkah dengan mengatasinya menggunakan pestisida alami yang dibuat. Pestisida alami sudah tersedia dari tanaman yang tumbuh diberbagai tempat, dipinggir kolam ikan dan belut yang dipenuhi tanaman apu-apu yang berfungsi memberi makan ikan dan belut, juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sederhananya di kebon sawah semua hidup sesuai fungsi dan peruntukkannya.

Kehidupan pemenuhan kebutuhan hidup dalam lingkungan AtThariq, mungkin bisa disebut sebagai ekonomi Subsistence Perspective, yang diperkenalkan oleh Maria Mies, dimana kebutuhan hidup terutama pangan dipenuhi oleh komunitas, untuk komunitas tidak ada  produksi untuk sengaja untuk tujuan dijual (berlebih) atau diperdagangkan namun bila ada kelebihan  pangan ataupun  herbal baru akan ditawarkan kepada kawan dan kerabat yang mau “membelinya”.

Inilah antara lain praktek Subsistence Perspective .. “orang dapat memproduksi dan mereproduksi kehidupan mereka sendiri, untuk berdiri diatas kaki sendiri dan memakai suara mereka sendiri. Ketika komunitas dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa tergantung kekuatan lain atau agen lain, termasuk uang. Maria Mies menganggap subsistence perspective merupakan cara perempuan melawan globalisasi ekonomi.(Maria Mies and Veronika Bennholdt-Thomsen, 2000). Nissa Wargadipura dan Ibang Lukman adalah aktivis organisasi tani Serikat Petani Pasundan, yang memutuskan melakukan perlawanan dengan cara konkrit melawan kapitalisme pertanian yang telah merasuk di tanah Indonesia sejak tahun 1980an dengan Revolusi Hijau-nya. Revolusi yang secara tajam mencabut akar kearifan lokal dalam hal teknologi pertanian, mengganti keseluruhan cara tradisi yang bernilai tinggi dalam hal praktek teknologi tani yang menyatukan manusia dengan alam, dengan modernisassi pertanian dan memborbardir tanah dan air Indonesia dengan racun pestisida. Revolusi yang tidak hanya mencabut dan menghilangkan benih dan tanah asli dari tanah air, namun juga menghilangkan praktek budaya adiluhung dibidang pertanian; mengenali musim tananam, mengenali musim cuaca dan mengenali serta memahami hidup dan kehidupan hewan sekeliling kebon dan sawah. Tak ada istilah gulma disini. Gulmanisasi adalah istilah industri, revolusi hijau. Segala tanaman disekeliling kita, yang biasa diinjak dan dicabut, oleh Ustad Ibang diberitahu namanya, dan diminta kita melihat di google, dan terlihatlah tanaman Krokot apa yang oleh ‘pertanian modern’ dibilang “gulma” ..Google menampilkan 10 manfaat krokot…27 manfaat Sintrong dsb…

Di Kebon Sawah kita akan merasakan hawa dan udara bersih, karena semuanya alami. Sehari saja disana saya sungguh merasa segar, sehat  layaknya detoksifikasi. Makan malam kami disuguhi nasi liwet. Nasi yang dimasak dengan campuran daun salam, sereh dan telang ungu. Rasanya enak sekali, apalagi kami pun disediakan lauk ayam bakar yang dibakar dan masih segar, juga bayam paris rebus dan kecipir. Itulah rasa sesungguhnya dari kedaulatan pangan. Dimana di tanah air Indonesia, seharusnya tidak ada kelaparan, tidak ada sampah. Semua tanaman dan hewan punya manfaat dan fungsi. Kedaulatan terjadi  ketika semua mandiri dan tidak tergantung pada agen pupuk atau benih.

Makan malam yang sangat mewah. Jika dirupiahkan dan dijual dihotel mahal bisa seharga ratusan ribu 🙂 Serius. Saya bisa membedakan tekstur rasa dari bayam paris yang lebih lembut dari bayam biasa, juga kecipirnya. Yang membuat kami makan malam dengan lahap adalah sambal dabu-dabu dari tomat-tomat kecil yang dipetik oleh Ceuceu dan Shiren, dan cabe pedas yang semuanya dipetik di Kebon Sawah. Dan malam itu, sangat aneh, kami semua tidur pulas, dan tidur cepat. Inilah nasiliwet ungu yang disukai pengungsi saat banjir bandang menimpa Garut beberapa waktu lalu.   Kami masuk pondokan sekitar pukul 21.00 dan saya tidur…Namun selalu terjaga dengan suara-suara speaker dan toa yang memberitahu tentang waktu… Sejauh ini saya tidak terganggu …:-)

Sayang kami hanya bisa menginap semalam, jika  beberapa hari detoksisifkasi pasti benar terjadi.  Betapa tidak, dari cerita Ustad Ibang, seorang santri yang semula narkoba pun dapat sembuh tidak hanya karena alamnya, namun karena interaksi aktivitas berkebun: menyiapkan benih, merawat bibit, menanam, merawat dan menjaga. Berbeda dengan tatacara ‘industri’ pertanian organik yang menggunakan asupan/pupuk sebagai bahan tambahan bagi tanaman, di Kebon Sawah semua alami, berasal dari alam, hanya menggunakan tambahan ‘kotoran hewan/kambing’ sebagai pupuknya, juga sisa sayuran dan sisa makanan ‘dibuang’ bukan sebagai sampah, tapi diberikan ke tanah untuk pupuk alami. Itu yang terjadi terdap ‘piring’ panjang daun pisang saat makan dengan botram, daunnya ‘dibuang’ disamping bawah pondokan untuk berproses secara alami dengan dedauan lainnya.

Pesantren Kebon Sawah bukan sekedar pesantren, namun komunitas kecil keluarga yang memiliki harapan dan kepercayaan bahwa perubahan untuk perlawanan terhadap ‘penghancuran’ karena kebijakan pertanian dan kebijakan pendidikan modern hanya dapat dicapai melalui praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dilakukan ibu Nissa dan Ustad Ibang bukan hal kecil, langkah dan gerak yang terus menerus memberi inspirasi (selalu berbagai pengalaman, ilmu dan pengetahuan yang dipraktekkan) dalam berbagai kesempatan, termasuk kepada para tamu yang hendak belajar Ekologi yang datang dari berbagai kalangan, dalam dan luar negeri. Termasuk para biarawati dan pastur. Menurut Ustad Ibang, beberapa waktu lalu beberapa pastur dari Taiwan, India, Jepang tinggal di KebonSawah untuk belajar dan berbagi pengalaman dan pengetahuan, sebagai bagian tugas layanan Katolik adalah Pelayanan pada Alam…

Pesantren Ekologi Atthariq terus bertumbuh dan berkembang, sudah lebih dari 500 spesies tanaman di Kebon Sawah, belum lagi di Hutan Tangoli untuk pohon-pohon besar asli Nusantara yang hendak ditanam dan dimuliakan kembali….Namun disekeliling Pesantren perumahan yang semakin merambah, pertanian industri yang tidak ramah lingkungan… Masih banyak lagi cerita dan tantangan dari  Pesantren Ekologi AtThariq untuk selalu menginsiprasi sesama…dan kita bisa terlibat langsung dalam mendukung pertumbuhannya..silahkan datang ke Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kec.TarKid (Tarogong Kidul), yang lokasinya tak jauh dari keramaian kota… silahkan berinteraksi langsung dengan Ibu Nissa ke https://www.facebook.com/nissa.wargadipura

mari menantikan jaman baru

mari menantikan jaman baru
bersiaplah
ajaran yang tidak baik
ajaran yang tidak memuliakan Leluhur
ajaran yang tidak tahu tatakrama
ajaran yang tidak memuliakan Alam
ajaran yang melupakan kewajiban pada sesama
ajaran yang tidak menghargai Tanah dan Air
ajaran yang melupakan nama dan bahasa asli
ajaran yang tidak menghubungkan Nyata dan Maya
ajaran yang menghina tradisi Asli Leluhur
ajaran seberang itu
akan segera dikembalikan
waktunya tiba
sebagaimana Janji Beliau
saat dipangasingan
untuk kembali lagi
JAYA WIJAYANTI

Mari kita menan

Mari kita menan

Pidato Politik MEGAWATI SOEKARNOPUTRI, HUT PDI PERJUANGAN ke 44, 10 Januari 2017

“Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga PDI Perjuangan mampu melewati berbagai ujian sejarah selama 44 tahun. Pasang naik dan pasang surut sebagai sebuah partai politik, telah kami lalui. Saya sebagai Ketua Umum pada hari ini, ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka yang memilih berada dalam gerbong perjuangan bersama. Terima kasih kepada mereka yang tetap setia, meski kadang Partai ini mendapat terpaan gelombang yang begitu dahsyat. Mereka selalu ada, tidak hanya ketika Partai ini sedang berkibar, namun justru memperlihatkan kesetiaannya ketika Partai berada dalam posisi yang sulit. Ijinkan saya memberikan penghormatan, dan penghargaan sebesar-besarnya, kepada antara lain Bapak Jacob Nuwa Wea, Bapak Alexander Litaay, dan Bapak Mangara Siahaan, dan masih banyak yang lain, yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Mereka telah mendahului kita menghadap Sang Khalik sebagai pejuang Partai. Mereka tidak hanya ada dalam sejarah hidup saya, namun juga adalah tokoh-tokoh yang berjuang mempertahankan Partai ini sebagai partai ideologis. Kesetiaan yang mereka tunjukan sepanjang hidup kepartaian, bagi saya adalah bentuk kesetiaan ideologis, yang sudah seharusnya dihayati, dan dijalankan oleh setiap kader Partai.

Hadiri yang saya muliakan,

Dari awal mula saya membangun Partai ini, tanpa ragu saya telah menyatakan dan memperjuangkan, bahwa PDI Perjuangan adalah partai ideologis, dengan ideologi Pancasila 1 Juni 1945. Syukur alhamdulillah, pada tanggal 1 Juni tahun 2015 yang lalu, Presiden Jokowi telah menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Artinya, secara resmi negara telah mengakui, bahwa Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Saudara-saudara,

Peristiwa di penghujung tahun 2015, telah menggugah sebuah pertanyaan filosofis dalam diri saya: cukupkah bagi bangsa ini sekedar memperingati 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila? Dari kacamata saya, pengakuan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, memuat suatu konsekuensi ideologis yang harus dipikul oleh kita semua. Dengan pengakuan tersebut, maka segala keputusan dan kebijakan politik yang kita produksi pun, sudah seharusnya bersumber pada jiwa dan semangat nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945.

Apa yang terjadi di penghujung tahun 2015, harus dimaknai sebagai cambuk yang mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila sebagai “pendeteksi sekaligus tameng proteksi” terhadap tendensi hidupnya “ideologi tertutup”, yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat. Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh seluruh masyarakat. Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter, dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula. Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan.

Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan bertindak, dengan memaksakan kehendaknya. Oleh karenanya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan. Selain itu, demokrasi dan keberagaman dalam ideologi tertutup tidak ditolelir karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan. Tidak hanya itu, mereka benar-benar anti kebhinekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini. Disisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.

Saudara-saudara,

Apa yang saya sampaikan di atas tentang ideologi tertutup, jelas bertentangan dengan Pancasila. Pancasila bukan suatu ideologi yang dipaksakan oleh Bung Karno atau pendiri bangsa lainnya. Pancasila lahir dari nilai-nilai, norma, tradisi dan cita-cita bangsa Indonesia sejak masa lalu, bahkan jauh sebelum kemerdekaan. Bung Karno sendiri menegaskan, dirinya bukan sebagai penemu Pancasila, tetapi sebagai penggali Pancasila. Beliau menggalinya dari harta kekayaan rohani, moral dan budaya bangsa dari buminya Indonesia. Pancasila dengan sendirinya adalah warisan budaya bangsa Indonesia. Apakah ketika Indonesia berumur 71 tahun, kita telah melupakan sejarah bangsa? Jangan sekali-kali melupakan sejarah kita!!

Pancasila berisi prinsip dasar, selanjutnya diterjemahkan dalam konstitusi UUD 1945 yang menjadi penuntun sekaligus rambu dalam membuat norma-norma sosial politik. Produk kebijakan politik pun tidak boleh bersifat apriori, bahkan harus merupakan keputusan demokratis berdasarkan musyawarah mufakat. Dengan demikian, Pancasila sebagai jiwa bangsa, tidak memiliki sifat totaliter dan tidak boleh digunakan sebagai “stempel legitimasi kekuasaan”. Pancasila bersifat aktual, dinamis, antisipasif dan mampu menjadi “leidstar”, bintang penuntun dan penerang, bagi bangsa Indonesia. Pancasila selalu relevan di dalam menghadapi setiap tantangan yang sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan, serta dinamika aspirasi rakyat.

Namun, tentu saja implementasi Pancasila tidak boleh terlalu kompromistis saat menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya. Meskipun demikian, guna meng-eksplisit-kan ide dan gagasan agar menjadi konkret, dan agar Pancasila tidak kaku dan keras, dalam merespon keaktualan problematika bangsa, maka instrumen implementasinya pun harus dijabarkan dengan lebih nyata, tanpa bertentangan dengan filsafat pokok dan kepribadiaan bangsa.

Intermezo : Pola Pembangunan Nasional Berencana sebagai implementasi Pancasila untuk mencapai Trisakti.

Saudara-saudara,

Indonesia diakui sebagai negara demokratis, namun demokrasi yang kita anut dengan Pancasila sebagai “the way of life bangsa” telah secara tegas mematrikan nilai-nilai filosofis ideologis, agar kita tidak kehilangan arah dan jati diri bangsa.

Pancasila, lima sila, jika diperas menjadi Trisila, terdiri dari: Pertama, sosio-nasionalisme yang merupakan perasan dari kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan. Kedua, sosio-demokrasi. Demokrasi yang dimaksud bukan demokrasi barat, demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi politik ekonomi, yaitu demokrasi yang melekat dengan kesejahteraan sosial, yang diperas menjadi satu dalam sosio-demokrasi.

Ketiga, adalah ke-Tuhan-an. Menjadi poin ketiga, bukan karena derajat kepentingannya paling bawah, tetapi justru karena Ke-Tuhan-an sebagai pondasi kebangsaan, demokrasi politik dan ekonomi yang kita anut. Tanpa Ke-Tuhan-an bangsa ini pasti oleng. Ke-Tuhan-an yang dimaksud adalah Ke-Tuhan-an dengan cara berkebudayaan dan berkeadaban; dengan saling hormat menghormati satu dengan yang lain, dengan tetap tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Bung Karno menegaskan, “kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Hadirin yang saya hormati, Trisila jika diperas menjadi Ekasila, yaitu gotong royong. Inilah suatu paham yang dinamis, berhimpunnya semagat bersama untuk membanting tulang bersama, memeras keringat bersama untuk kebahagiaan bersama. Kebahagian yang dimaksud adalah kebahagian kolektif sebagai sebuah bangsa, yang memiliki tiga kerangka: pertama, Satu Negara Republik Indonesia yang berbentuk Negara-Kesatuan dan Negara-kebangsaan yang demokratis dengan wilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke; dari Miangas hingga ke Rote. Kedua, satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spiritual dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia. Ketiga, satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, atas dasar saling hormat-menghormati satu sama lain, dan atas dasar membentuk satu Dunia Baru yang bersih dari penindasan dalam bentuk apa pun, menuju perdamaian dunia yang sempurna.

Adapun untuk mencapai kerangka tujuan di atas diperlukan dua landasan: landasan idiil, yaitu Pancasila dan landasan strukturil, yaitu pemerintahan yang stabil. Untuk itulah PDI Perjuangan selalu ikut dan berdiri kokoh menjaga jalannya pemerintah Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai pemerintahan yang terpilih secara konstitusional. Keduanya merupakan syarat mutlak atas tanggung jawab sejarah yang harus kita tuntaskan sekaligus sebagai konsekuensi ideologis yang telah saya sampaikan di awal, yang mengakui Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa.

Kader-kader Partai yang saya cintai, hadirin yang saya hormati,

Saya menjabarkan hal-hal di atas dalam forum ini, untuk menegaskan kembali bahwa PDI Perjuangan tetap memilih jalan ideologis. PDI Perjuangan menyatakan diri tidak hanya sebagai rumah bagi kaum Nasionalis, tetapi juga sebagai Rumah Kebangsaan bagi Indonesia Raya. Kepada kader Partai di seluruh Indonesia, saya instruksikan agar tidak lagi ada keraguan, apalagi rasa takut, untuk membuka diri dan menjadikan kantor-kantor Partai sebagai rumah bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Saya instruksikan, jadilah “Banteng Sejati” di dalam membela keberagaman dan kebhinekaan. Berdirilah di garda terdepan, menjadi tameng yang kokoh untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya yakin, TNI dan POLRI akan bersama kita dalam menjalankan tugas ini, dan tidak akan memberi ruang sedikit pun pada pihak-pihak yang anti Pancasila dan anti demokrasi Pancasila. Apresiasi saya kepada TNI-POLRI yang telah berani bersikap tegas dalam menyikapi pihak-pihak tersebut.

Bagi kader Partai yang berada di legislatif dan eksekutif, kalian tidak hanya dibutuhkan negeri ini untuk mempertahankan kesatuan dan kebangsaan. Perlu disadari, terutama bagi kader yang telah mendapat kepercayan rakyat di eksekutif. Saya tahu, kalian, bahkan saya, adalah manusia biasa. Tentu, sebagai manusia biasa kita tidak luput dari kesalahan. Tetapi, sebagai pemimpin harus disadari pula bahwa jabatan yang kalian emban adalah jabatan politik. Kesalahan dalam keputusan politik tidak hanya berdampak bagi diri pribadi dan keluarga. Kesalahan tersebut berdampak pada kehidupan seluruh rakyat. Karena itu, hati-hatilah dalam membuat keputusan-keputusan politik, baik itu berupa perkataan, tindakan, produk politik baik berupa kebijakan politik legislasi, maupun kebijakan politik anggaran.

Kader-kader yang saya cintai,

Luangkan waktu untuk merenung, sudah tepatkah langkah-langkah yang kalian ambil atas jabatan yang telah diberikan oleh rakyat, ataukah justru sebaliknya. Jangan kalian justru menjadi bagian dari orang-orang yang menindas dan menyengsarakan rakyat dengan kekuasaan yang sebenarnya justru merupakan amanah dari rakyat.

Saya tegaskan kembali, sebagai Ketua Umum Partai, instruksi saya kepada kalian adalah mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya! Kebhinekaan harus disertai dengan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat!

Terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang tetap setia membatinkan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu reaksioner, tetapi sudah saatnya silent majority bersuara dan menggalang kekuatan bersama. Saya percaya mayoritas rakyat Indonesia mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Kita akan bersama-sama terus berjuang, kita pasti mampu membuktikan pada dunia, bahwa Pancasila mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan.

Bangsa ini sedang berada dalam “struggle to survive”, dalam perjuangan untuk bertahan, bertahan secara fisik dan mental! Bertahan agar tetap hidup, secara badaniah dan mental. Hadapilah tantangan-tantangan yang ada dengan kekuatan gotong royong sebagai kepribadian bangsa. Berderaplah terus menuju fajar kemenangan sebagai bangsa yang sejati-jatinya merdeka. Dengan ridho Tuhan, saatnya kita gegap gempitakan kembali segala romantika dan dinamika, dentam-dentamkan segala hantaman, gelegarkan segala banting tulang, angkasakan segala daya kreasi, tempa segala otot-kawat-balung-wesinya!

Sungguh: kita adalah bangsa berkepribadian Banteng!
Hayo maju terus! Jebol terus!
Tanam terus! Vivere pericoloso!
Hiduplah menyerempet bahaya di jalan Tuhan!
Ever onward, Never retreat!
Kita pasti menang!
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh.
Om Santi Santi Santi Om
Namo Buddhaya
Merdeka !!!

Jakarta, 10 Januari 2017 Continue reading “Pidato Politik MEGAWATI SOEKARNOPUTRI, HUT PDI PERJUANGAN ke 44, 10 Januari 2017”

Tokoh Penggerak Kongres Perempuan Pertama 1928

mencarimakna-hidupkuKongres Pertama 22 Desember 1928, di Yogyakarta, yang dihadiri oleh perempuan anggota berbagai organisasi se Indonesia, digerakan oleh para tokoh perempuan yang tak kenal lelah berjuang penuh keyakinan, dan pengorbanan. Kongres Perempuan I, merupakan inisiatif 7 organisasi antara lain Wanita Taman Siswa, Wanito Tomo, JIBDA, Jong Java bagian Wanita, Wanita Katholik, Aisyiah dan Poetri Indonesia. Perwakilan dari organisasi itulah yang menjadi steering committee dan orgnizing committe atau SC dan OC (Pelaksana), mereka adalah:

Nona SUJATIN Kartowiyono, Ketua Pelaksana Kongres, beliau adalah anggota pengurus Poetri Indonesia. Ia telah mengikuti Kongres Pemuda di Jakarta pada Oktober 1928 yang mencetuskan Soempah Pemuda. Sujatin adalah perempuan gigih yang mengorbankankepentingan pribadi demi perjuangan perempuan dan kemerdekaan Indonesia. Di masa perjuangannya ini dia harus memutuskan pertunangan karena ia dipaksa memilih oleh tunangannya, apakah ingin bertemu ataukah tetap ikut dalam Kongres. Sujatin memilih tetap ikut kongres.

Kisah tentang pengalamannya sebagai Ketua Kongres dapat dibaca dibuku biografi SujatinKartowijoyono yang ditulis Hanna Rambe “Mencari Makna Hiduku”.  Melalui buku ini kita dapat menelusuri ulang, napak tilas perjuangan perempuan di masalalu, pada masa kolonial, masa awal kemerdekaan dan awal masa orde baru. Di buku ini pula digambarkan siapa-siapa laki-laki yang mendukung gerakan perempaun, termasuk kisah bagaimana gotong royong dijalankan dalam mewujudkan Kongres I. Sujatin termasuk yang di Target Operasional pada saat penjajahan Jepang, karena pidato-pidatonya di radio dan berbagai pertemuan yang luar biasa menentang penindasan terhadap perempuan termasuk yang terjadi dikalangan ningrat.

Ketika Kongres Pemuda pertama berlangsung di Jakarta pada 1926, yang antara lain dihadiri perwakilan Jong Java, Sujatin baru lulus Sekolah Guru. Bersama sejumlah kolega, dia mendirikan Poeteri Indonesia, perhimpunan khusus guru wanita. Dua tahun kemudian, dia hadir dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember 1928 (peristiwa yang kemudian dijadikan Hari Ibu). Pada kongres ini, tiga poin penting yang dirumuskan, yakni membangkitkan rasa nasionalisme, menyatukan gerakan perkumpulan wanita, dan membentuk Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia. Dalam artikel singkat ”Apa Arti Sumpah Pemuda bagi Diriku” yang ditulisnya dalam buku Bunga Rampai Soempah Pemoeda, Sujatin menuturkan, ide pertemuan telah mendapatkan persetujuan suami-istri Ki dan Nyi Hajar Dewantoro, Dr Soekiman, serta Nyonya Soekonto dari kelompok Wanito Tomo.

Sujatin mengambil nama belakang suaminya Kartowijono sebagai pengharg

sujatin22
Ibu Sujatin Kartowijono sekitar tahun 1980

aan dan hubungan saling menghargai diantara keduanya, karena beliau dan suaminya saling membantu sebagai pejuang keluarga dan bangsa. Sujatin,mengakui bahwa perjuangannya diinspirasi oleh R.A Kartini, ia membaca edisi “Habis Gelap Terbitlah Terang” edisi 1911, yang membawanya terus berjuang dalam gerakan perempuan dan berjuang untuk meningkatkan pendidikan bangsa Indonesia. Sujatin bekerja di Djawatan Pendidikan (sekarang dinas pendidikan) sehingga ia pergi ke berbagai daerah di Indonesia termasuk ke pedalaman di Kalimantan. Perjuangan Sujatin untuk mewujudkan perkawinan yang adil bagi perempuan dan laki-laki, khususnya menolak Poligami, dimana 1953 ia pada saat memimpin sebagai Ketua PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) melakukan demonstrasi besar menolak PP/19/1952 yang membolehkan PNS poligami dan istri kedua mendapatkan pensiun. Perjuangan menolak poligami ini antara lain terjawab dengan disahkannya UU Perwakinan tahun 1974 yang memuat regulasi lebih ketat bagi pegawai negeri sipil untuk berpoligami.

Ibu Sujatin wafat 1 Desember 1983 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

 

R.A SUTARTINAH, atau NYI HAJAR DEWANTARA,adalah wakil dari  Wanita Taman Siswa yang didirikan 3 Juli 1922, bersama suaminya Ki Hajar Dewantara (Raden Suwardi Suryaningrat) aktif dalam pendidikan yang berkebudayaan dan berkarakter.Bersekolah guru dan mengajar sambil melakukan perlawanan terhadap kolonial. Ketika suaminya dibuang ke Belanda pada 1913 (suaminya dibuang ke belanda bersama Douewess Dekker dan Tjipto Mangunkusumo, Tjipto pulang ke tanah air 1914 karena nyikihajarsakit, dan Douewess Dekker melanjutkan studi ke Jerman), Sutartinah ikut dalam pembuangan itu dan untuk menambah anggaran rumah tangga, para buangan politik itu Sutartinah bekerja di sebuah Probe School (taman Kanak-kanak) di Weimaar Den Haag.

Di sampung membina organisasi wanita, Sutartinah juga membina Taman Indria (Taman kanak-Kanak) dan Taman Muda sekolah dasar dalam perguruan Taman Siswa.
Pada tahun 1928 Suwardi Suryaningrat mencapai umur 40 tahun. Dengan resmi
Suwardi dan Sutartinah mengganti namanya masing-masing dengan Ki Hajar Dewantara dan Nyi Hajar Dewantara. Kegiatan dalam organisasi wanita Taman Siswa semaki
n ditingkatkan. Nyi Hajar sendiri dalam kedudukannya sebagai ketua menulis be
berapa artikel kewanitaan di berbagai surat kabar dan mengadakan siaran-siaran radio. Dalam usaha meningkatkan usaha pergerakan kaum wanita Nyi Hajar menemukan pasangan yang berfikiran sama yang ingin menyatukan seluruh gerakan wanita Indonesia ke dalam suatu wadah.
Kemampuan jurnalisme Sutartinah juga dipraktekkan pada Kongres ini, beliau memimpin redaksi surat kabar yang terbit lima bulan setelah Kongers Kongres Perempuan yang anggotanya juga para pengurus Kongres Perempuan Indonesia 1928, surat kabar tersebut bernama Isteri.
Ibu SUTARTINAH atau Nyi Hajar Dewantara wafat pada 16 April 1971 meninggal di
Rumah Sakit Panti Rapih setelah menderita sakit beberapa hari.

 

SITI AMINAH dikenal R.A Soekonto, adalah perwakilan Wanita Tomo adalah istri dari tokoh pendiri Boedi Oetomo. Pada saat suaminya  dibuang ke belanda, ia ikut dan bersekolah guru di sana. Beliau adalah juga kakak kandung dari Ali Sastroamidjojo Perdana Menteri Indonesia pada masa Soekarno. Perlu menggali lagi lebih banyak tentang kisah dan perjuangan R.A Soekonto yang mengetuai Kongres Perempuan I, dan melanjutkannya pada Kongres Kedua, 1929 di Jakarta.panitiako

Seminar Argoekologi Nusantara, Bogor 2016

Agroekologi: Jalan Lurus Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Indonesia
Bogor, 29 November 2016, kampus IPB Dramaga diharapkan dapat andil mengembalikan kedaulatan bangsa dibidang ekonomi, khususnya ekonomi bersumber dari tanah dan air Nusantara, dan melalui Seminar Argoekduaagoekologi22ologi Nusantara diharapkan tukar pikiran dan berbagai pengetahuan pengalaman yang dapat dipraktekkan bersama secara kelompok atau individu mandiri. Seminar agroekologi nusantara dengan tema Agroekologi Jalan Lurus Kedaulatan Pangan yang diselenggarakan oleh Departemen Proteksi Tanaman IPB, Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB, dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) di Kampus IPB Darmaga.

Didalam Pers Rilis yang dikeluarkan panitia, dinyatakan antaralain:IPB Bogor
> Pendekatan pembangunan pertanian selama ini tidak memperhatikan aspek keberlanjutan dapat mengancam produksi dan ketersediaan pangan. Degradasi ekosistem pertanian terjadi secara masif. Praktek pertanian dilakukan penggunaan input pertanian (pupuk, pestisida, herbisida sintetis) secara tidak tepat, berlebihan dan terus menerus secara menjadi penyebab kerusakan eksositem pertanian. Lahan semakin tidak subur, serangan hama penyakit meningkat adalah contoh dampak yang ditimbulkannya.
>kondisi ini dapat mengancam cita-cita swasembada dan kedaulatan pangan sebagaimana nawacita.Diperberat juga dari dampak perubahan iklim. Produksi pertanian terus berfluktuasi yang berujung impor. Pada tahun 214 saja tercatat 18 juta ton atau setara dengan 7,6 miliar USD Indonesia mengimpor tanaman pangan.

Menjawab persoalan tersebut pendekatan agroekologi menjadi alternatif model pembangunan pertanian masadepan. Agroekologi mengedepankan aspek keberlanjutan dan keadilan bagi lingkungan dan petani. Negara-negara maju semisal Prancis, Jerman dan beberapa negara Amerika Latin telah menerapkan model ini dan terbukti mampu menjawab kebutuhan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun sayang, agroekologi tidak dipilih menjadi kebijakan karena dianggap tidak memiliki produkitivitas tinggi.

Menurut Dr. Suryo Wiyono, ketua panitia Seminar Agroekologi Nusantara, yang juga Ketua Departemen Proteksi Tanaman, Faperta IPB, kebanyakan masyarakat, termasuk para ahli dan pengambil kebijakan menganggap bahwa produksi yang tinggi harus dilakukan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, dan sebaliknya kalau praktik ramah lingkungan itu produksinya rendah. Anggapan tersebut bertentangan dengan hasil penelitian dan fakta di lapangan.

Ada hubungan resiprokal antara pertanian dan lingkungan. Lingkungan yang baik merupakan prasyarat bagi produktivitas pertanian tanaman yang tinggi dan berkelanjutan. Penelitian dan pengalaman lapangan di Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB selama 10 tahun terakhir menunjukkan hal itu. Penggunaan pestisida kimia kimia sintetik yang salah dan berlebihan pada tanaman padi telah memacu ledakan wereng coklat dan epidemi penyakit blas. Salah satu bentuk penerapan prinsip agroekologi yang dikembangkan Proteksi Tanaman IPB yaitu Teknologi Pengendalian Hama Terpadu Biointensif Padi sawah yang sudah diuji di 19 lokasi. Teknologi ini menurunkan penggunaan pupuk kimia, mengurangi pestisida 100 % dan meningkatkan produksi padi rata-rata 27 %.

“Nawa Cita mengamanatkan perwujudan kedaulatan pangan. Agroekologi merupakan jalan untuk mewujudkannya karena menjadi salah satu pilar kedaulatan pangan. Agroekologi mengusung nilai-nilai keberagaman, keberlanjutan dan juga keadilan dalam pembangunan pertanian dan hal ini yang belum nampak” ungkap Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).

Menurutnya, agroekologi merupakan bentuk produksi pertanian yang memungkinkan terjadinya proses mengatur dan membangun komunitas untuk menentukan nasib sendiri. Agroekologi mensyaratkan masyarakat memiliki akses dan kontrol terhadap sumber daya lokal seperti tanah, air dan benih. Tujuan agroekologi adalah untuk mencapai lingkungan yang seimbang dengan hasil yang berkelanjutan, didukung regulasi dan desain diversifikasi agroekosistem dan penggunaan teknologi rendah input.

Sementara itu, Dodik Ridho Nurrochmat, Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB, agroekologi haruslah menjadi paradigma bersama semua sektor dan menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan. Egoisme sektoral harus dipinggirkan karena pencapaian kedaulatan pangan melalui agroekologi memerlukan dukungan dan sinergitas antar sektor, mulai dari memastikan kecukupan lahan, bibit unggul, saprotan, pasca panen, sampai dengan aspek pemasaran dan kesiapan sumberdaya manusia”.

Adapun Prof. Damayanti Buchori, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB mengingatkan bahwa agroekologi saat ini telah menjadi tuntutan. Negara-negara maju telah membuat kebijakan dan mengimplementasikan agroekologi. Di Indonesia perlu dilakukan mainstreaming hal ini dan ini menjadi kewajiban semua pihak untuk melakukannya sebagai bagian upaya memajukan pertanian di Indonesia. Sebab pertanian menjadi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indonesia harus mampu merumuskan konsep agroekologinya sendiri berdasarkan keragaman nilai dan ekosistem, falsafah dan praktik-praktik pertanian tradisional nusantara. Dengan seminar agroekologi ini diharapkan akan muncul sebuah gagasan, arah dan langkah baru dalam mendorong pembangunan pertanian masa depan yang mampu mensejahterakan petani dan melestarikan lingkungan hidup serta mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.
————————————————————————————————————————
Informasi lengkap:
1. Dr. Suryo Wiyono, Ketua Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB Bogor, 0813 9853 5771, suryowi269@gmail.com
2. Dr. Dodik Nurrochmat, Direktur Kajian Stretegis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB, 0812 1214 5223, dnurrochmat@gmail.com
3. Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), 0813 8215 1413, ayip@kedaulatanpangan.net

@umilasminah

Review film: Ola Sina Inawae (Walaupun Kami Perempuan) Perempuan Berjalan Tanpa Batas Perempuan sambil Membuat Jalan

Ola Sita Inawae Perempuan Berjalan tanpa Batas berjalan sambil Membuat Jalan
Film ini diproduksi PEKKA Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga bekerjasama dengan Yayasan Biru Terong Indonesiaidukung oleh MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan). Sutradara film ini Vivian Idris dari Blue Terong Initiative . PEKKA adalah lembaga yang sejak 2002 mendampingi perempuan kepala keluarga untuk berdaya, dan menempatkan perempuan dalam konteks kesejatian manusia dengan hak-hak dan kewajibannya. Mengangkat wacana identitas perempuan ‘janda’ ‘lajang’ sebagai teladan dan warga negara sejajar dengan warga negara manapun.Perempuan kepala keluarga dalam PEKKA adalah perempuan janda yang ditinggal mati suami atau cerai yang harus menanggung kehidupan anak dan keluarganya,perempuan yang ditinggal suaminya merantau atau suaminya poligami, serta suami yang tidak lagi dapat menjalankan tugas menanggung keluarga sehingga perempuan yang menanggung hidup keluarganya (Kepala)photo-ina2, atau perempuan lajang yang mempunyai tanggungan di keluarga.Para perempuan tersebut dalam komunitas kemudian diberdayakan, diorganisir oleh PEKKA.
Proses produksi film Ola Sita Inawae Perempuan Berjalan tanpa Batas berjalan sambil Membuat Jalan. Ola Sita Inawe artinya Walaupun Kami Perempuan, berbentuk dokudrama mengisahkan tentang perjalanan seorang aktivis PEKKA, Dete mengorganisir perempuan kepala keluarga di desa Haniwara, Kab.Adonara NTT.
Sebelum pemuataran film diputar Behind The Scene, dokumentasi proses pembuatan, riset dan pernak-pernik dari mereka yang terlibat. Akris yang adalah pelaku asli, juga terlibat bersama para kru film yang berasal dari Jakarta.
Film ini layaknya biografi organisasi PEKKA yang dipotret melalui perjalanan salah satu pekerjanya Dete (Bernadete Deram) perempuan kelahiran Lembata yang meninggalkan posisi PNS untuk menjadi pekerja PEKKA. Dibuka dengan dialog antar Dete dengan kedua orang tuanya, memohon restu, kemudian tampil gambaran perjalanan Dete di atas perahu dari Kabupaten Lembata menuju Kabupaten tempat kerja di desa Haniwara di Adonara Flores Timur. Inilah salah satu berita nyata tentang geopolitik, geososial yang dapat dilampuai oleh perempuan NTT demi bekerja dan berjuang di komunitasnya.
Cerita selanjutnya adalah kisah Dete menjalankan pekerjaannya, mengorganisir komunitas: berijin legal formal pada pemerintah lokal, memperkenalkan diri, dan mengajak perempuan ikut dalam kegiatan pemberdayaan dengan pintu masuk lembaga formal di desa. Ada seorang perempuan, Aisyiah, dari Padang, dimana pertamakali datang ke Adonara Dete diterima olehnya. Dialah yang membuka pintu Dete di Kantor Kepala Desa untuk bicara dengan warga, Aisyah ini disebut PL (Petugas Lapangan), ada beberapa kali adegan ditampilkan untuk memperlihatkan siapa Aisyah ini.
Selanjutnya kisah Dete, menjangkau warga di desa. Salah seorang kepala keluarga Diah menyambut baik Dete, katanya “karena tidak membawa Uang, kalau membawa uang tidak akan menghasilkan apa-apa”. Diah ini gambaran tangguh dan teladan perempuan lajang, memakai tongkat, menghidupi ibu, dan keponakan (yang ditinggal orang tuanya merantau) merupakan percikan-percikan cerita bagaiamana PEKKA diterima dan bagaimana Diah dalam kondisi disabilitasnya menghidupi keluarganya dengan bekerja keras. Ada adegan saat ia menjahit, lalu ada orang berbelanja di warungnya, ia menghentikan sebentar menjahitnya. Namun ketika Dete mengajaknya rapat PEKKA (yang dilakukan dirumahnya), ia tidak berhenti menjahit, karena jahitannya sudah ditunggu oleh pelanggannya.

Film juga dibintangi oleh pendiri dan ketua PEKKA, Nani Zulminarni selaku Ek Ketua PEKKA dengan perannya nyata yang pernah dijalaninya sebagai fasilitator di komunitas. Di sini ditampilkan secuplik kisah berbagai latar belakang anggota PEKKA. Ada kedukaan tentang para suami, ayah dan kisah mengapa mereka harus menanggung hidup keluarga. Juga menampilkan adegan sederhana tentang menampung mimpi dan harapan yang menggugah para anggota PEKKA. Kisah pengorganisasian ditampilkan dalam cuplikan-cuplikan Dete datang ke rumah warga perempuan, rapat di kantor desa, adegan rapat duduk ditikar, buku tabungan, belajar pembukuan keuangan, guru mengajar di kejar paket C dan kegiatan menenun, mengupas kelapa.

Tak ada cerita menarik jika tak ada drama. Maka adegan seorang tokoh desa yang membawa golok datang ke lokasi rapat PEKKA yang marah-marah ditampilkan sekilas. Juga sekilas kegalauan Dete karena ancaman tersebut yang disampaikan kepada Ayahnya untuk dimohonkan doa. Film hampir saja bisa menjadi docudrama menarik, jika saja konflik juga berhasil ditampilkan secara utuh, agar dapat menarik pelajaran. Mungkin ada alasan tertentu sehingga konflik yang terjadi dalam cerita, tidak dieksplorasi. Konflik muncul kelalaian penggunaan uang dari PL (Petugas Lapangan), dan ini ditampilkan tidak dengan emosi…sehingga rasa drama-nya hilang. Gambaran-gambaran cerita dalam namun kurang dramatis dialog dan drama perpindahan adegan terlalu tajam dan cepat. Namun ada adegan yang alurnya lambat sekali dan bisa dihilangkan. Bisa jadi karena pertimbangan bahwa persoalan sudah selesai, dan semua pemain adalah dirinya sendiri.

Sebagai aktivis yang juga memuliakan kearifan lokal, menonton film ini menarik, ada lucunya, banyak yang bisa diambil sebagai pelajaran dibalik teks dan gambarnya.

Sebelum menyaksikan filmnya, penonton disuguhi Behind The Scene, yang berdfilmola-sitaurasi 60 menit, sehingga ada gambaran tentang proses dan pembuatannya termasuk keterlibatan para perempuan yang menjadi pelaku sekaligus membantu produksi film. Sebagai Seni Kerterlibatan, dengan 80% crew produksi adalah warga lokal, film Ola Sita Inawae patut diapresiasi mengingat warga desa, staf nasional PEKKA, maupun Terong Biru Initiative sama-sama mengalami pengalaman pertama. Pengalaman pertama yang baik dan tak akan terlupakan bagi semua. Film Ola Sita Inawae adalah cuplikan bagi publik tentang PEKKA dan kerjanya selama dua belas tahun mendukung perempuan kepala keluarga di 20 provinsi di Indonesia serta memberi manfaat pada lebih dari 50.000 perempuan. Pemutaran film di PPHUI Kuningan, Jakarta lumayan menarik banyak penonton. Siapapun yang menontonnya pasti juga merasakan semangat dan optimisme, keragaman daya dan identitas sebagai bangsa sebagaimana manfaat yang dirasakan puluhan ribuan perempuan PEKKA.@umilasminah

Siaran Pers RELAWAN PEREMPUAN UNTUK AHOK-DJAROT #KITE Adje

Siaran Pers
RELAWAN PEREMPUAN UNTUK AHOK-DJAROT
#KITE Adje
21 Oktober 2016
Penandatanganan Deklarasi Relawan Perempuan Mendukung Ahok – Djarot
Jakarta, 21 Oktober 2016 – Hari ini Relawan Perempuan untuk Ahok – Djarot menandatangani deklarasi untuk mendukung Basuki Tjahaya Purnama-Djarot Saiful Hidayat sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Pada Pilkada Serentak diseluruh Indonesia pada tanggal 15 Februari 2017.
Deklaras ini adalah komitmen relawan perempuan Jakarta untuk memenangkan Ahok-Djarot agar Kedua Beliau TETAP sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Dibawah kepemimpinan Ahok-Djarot Jakarta menjadi contoh pembangunan kota Indonesia yang modern mendahulukan hak dan pelayanan rakyat, tertata rapi, dan manusiawi, hjau, dan fokus pada terpenuhinya kebutuhan materil dan spirituil warga Jakarta.Dibawah kepemimpinan Ahok-Djarot pula hadir birokrasi yang melayani bersih, transparan, murah dan profesional.
Atas fakta tersebt dan inisiatif bersama para relawan perempuan Jakarta pada 18 Oktober 2016 sepakat untuk membantu Memenangkan Ahok – Djarot untuk Tetap Menjaga Pencapaian yang sudah ada dan Terus Melayani Rakyat Jakarta sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017-2022.
Relawan Perempuan Jakarta menggabungkan diri dalam Kite Adje, karena Kita telah merasakan dampak baik dari Kepemimpinan Ahok-Djarot, maka akan berkampanye keberhasilan-keberhasilan Ahok-Djarot dengan sehat dan damai.
Komitmen Relawan Perempuan Indonesia disampaikan sebagai ajakan pada semua Warga Jakarta yang sama seperti Kita, yang telah merasakan sendiri baiknya kebijakan Ahok-Djarot bagi warganya, untuk turut Aktif memenangkan Ahok-Djarot karena akan ada Ancaman tidak berlanjutnya Kebijakan yang baik bagi rakyat bila Gubernur dan Wakil Gubernya ganti.
Dengan ini, maka mulai hari ini, Ibu Siti Aminah akan tercantum sebagai ketua Relawan Perempuan #kite ADje untuk Ahok-Djarot.
Teman-teman, mari kita wujudkan Niat Baik ini mari bergabung bersama Kite-Adje ceritakan pengalaman Bahagia anda karena KebijakanAhokDjarot dan pastikan Ahok – Djarot TETAP sebagai Gubernur Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Blog at WordPress.com.

Up ↑