Robusta Sejatinya Kopi

Didalam dunia modern sekarang, kehidupan perekonomian, sosial dan budaya dikuasai oleh Kapitalis (baca Barat Eropa & Amerika Utara). Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dengan ekonomi seperti produk pertanian maupun produk olahannya dikuasai oleh Kapitalis.

Penguasaan kapitalis ini telah berlangsung berabad-abad. Kapitalis hidup dari memeras keringat dan sumberdaya alam bangsa Asia dan Afrika (imperialis). Melalui imperialis inilah para kapitalis membawa hasil bumi bangsa-bangsa Asia Afrika ke Eropa dan Amerika Utara. Produk pertanian yang tidak ditanam di Eropa dikemas, diolah lalu jadi produk olahan yang dikenal mendunia bahkan disahkan sebagai yang terbaik. Salah satunya adalah Coklat. Apakah di Italia, Perancis atau Belgia ada perkebunan kakao tidak ada. Perkebunan coklat mulanya terdapat di Afrika dan Amerika Selatan, kini juga ada di Asia (di Indonesia yang mayoritas ditanam Sulawesi).

Kok bisa Italia dan Belgia tidak menanam coklat, tapi terkenal sebagai produsen coklat ternama dan terenak. Bisa. Semua karena kapitalis yang tidak hanya menguasai ekonomi tetapi juga menguasai wacana rasa. Melalui jalur-jalur aliansi para penjajah Eropa, maka sangatlah mudah memperkenalkan produk tersebut kepada sesama penjajah. Disamping seolah-olah tidak ada pemaksaan, keterjajahan sebuah bangsa membuat secara psikologi minder.

Jaman modern (baca dimulainya penjajahan Eropa ke benua Asia-Amerika-Afrika) ilmu pengetahuan, dan klaim “kemajuan peradaban Eropa” menjadi tolok ukur kehidupan yang lebih baik bagi bangsa terjajah. Politik penjajahan menjadikan segala sesuatu yang dibawa dibuat penjajah sebagai yang terbaik dan unggul. Padahal kemajuan bangsa Eropa dan apa yang diciptakan atau dibuatnya melalui cara-cara yang kurang beradab. Penindasan para buruh dan eksploitasi bangsa terjajah. Oke kita kembali fokus ke kopi.

Tanaman Kopi Tidak bisa Tumbuh dan Hidup di Eropa dan Amerika Utara

Kopi tak tumbuh di Amerika Utara maupun di Eropa (hanya ada kebun kecil di Spanyol)
lalu mengapa ada Starbuck dimana-mana dipenjuru dunia. Kapitalis Hegemoni. Bagaimana menjelaskan hegemoni dalam hal ini, panjang lebar Gramsci menjelaskan tentang cultural hegemoni. Namun secara garisbesar sebagai negara yang memiliki dominasi kekuasaan di dunia, maka segala hal termasuk gaya hidup dan prilaku budaya adalah bagian yang tak lepas sebagai cara mempertahankan kekuasaan dan ideologinya (kapitalis). Maka semua saluran dipakai, secara hitungan ekonomi untung rugi maka franchise Starbuck dimana-mana, secara hegemoni rasa kopi Arabika (Americano) yang diendorse. Dalam hal prinsip ekonomi Startbuck jelas mengikuti prinsip “dengan modal sekecil-kecilnya mendapat untung sebesar-besarnya” dan menjadikan Media sebagai jalan penguatan kapitalis.

Media adalah salah satu cara hegemoni yang paling soft dan tidak disadari. Melalui penciptaan brand (marketing strategi) yang adalah cara kerja kapitalis untuk dapat terus memproduksi barang yang banyak, dan menciptakan demand. Marketing strategi branding Starbuck berhasil. Harga modal kopinya satu gelas hanya Rp.13.000,- namun harga jualnya Rp.33.000,- dikurangi biaya sewa tempat mungkin untungnya tetap tinggi. Orang-orang yang terhegemoni oleh media branding dan Iklan tidak akan sadar bahwa saat pergi ke Starbuck adalah “dorongan impulse” trending “orang keren nongkrong di starbuck. Namun itulah kapitalis yang sejati memang membutuhkan biaya tinggi, Starbuck mengeluarkan biaya iklan hingga 120juta US$ tahun 2020. Lagi-lagi biaya tinggi itu adalah demi memperluas pasar, mempertahankan pasar atau menciptakan pasar.

Sementara bagi produk-produk non kapitalis, sesungguhnya yang diproduksi dan dijual adalah yang dibutuhkan. Subsistenperspective. Kerennya kapitalis mereka berhasil menciptakan kebutuhan baru yang tidak esensial.

Lalu bagaimana kok bisa Amerika Serikat yang tidak ada perkebunan kopi (kecuali Hawaii yang bukan Amerika Utara) bisa memiliki warungkopi Starbuck di hampir seluruh dunia. Amerika Serikat punya sistem ekonomi supply chains (rantai supply) yang mapan dan kuat, dan bersifat trans nasionalis. Kopi yang dijual di Starbuck berasal dari Amerika Selatan dari Columbia dan Brazil. Itu antaralain contoh ekonomi supply chains, yang sekarang bergerak di seluruh dunia, sebagaimana Start Up. Gak punya toko bisa jualan lah..gimana ya ambil dari yang punya secara online (barang gak ada) jual online.

Ya tadi jaringan hegemoni kultural yang merambah melalui berbagai media iklan di seluruh media elektronik dsb. Tak kurang dunia hiburan televisi dan film yang menjadi agen tak langsung marketing Starbuck. Tak sedikit pula celebrity mengendorse langsung tak langsung. Semuanya berjalan organik dan damai. Seperti Taylor Swift yang mempunyai fans ratusan juta orang seluruh dunia, minum Starbuck, secara tak langsung para fans-nya (orang yang cinta) Taylor Swift ikutan tergerak beli Starbuck. Cinta juga hegemoni diri sendiri, seseorang yang tidak disadari.

Kopi Robusta vs Kopi Arabika

Starbuck menjual kopi Arabika. Bangsa Amerika Utara lebih banyak minum kopi arabika dibanding bangsa Eropa. Secara harga kopi Arabika lebih mahal karena perawatannya. Kopi Arabika tumbuh didataran tinggi, dan memerlukan perawatan intensip. Sementara kopi Robusta nakal, mudah dirawat dan menanamnya. Sehingga harganya lebih murah. Kandungan kafeinnya lebih banyak Robusta. Bisa dibilang kopi Robusta adalah sejatinya kopi ya karena kafeinnya banyak. Kopi Arabika ada rasa asamnya, itu yang membuat saya tidak suka. Lucunya orang-orang yang pernah belajar jadi barista, mereka belajar menyeduh kopi dari cara-cara bangsa Eropa, pakai saringan V lah, pakai mesin brewing lah. Hingga kini kelas menengah pengusaha kopi khususnya cafe untuk kalangan menengah ke atas di Jakarta masih terhegemoni cara-cara penyeduhan kopi yang dipatok oleh “barista” luar negeri.

Hegemoni budaya minum kopi adalah sampai detik ini dalam wacana kopi dunia taste kopi itu ditentukan oleh bangsa yang tidak menanam kopi yaitu Amerika Serikat. Hal ini tentu berpulang dari bagaimana hegemoni budaya AS yang kuat itu. Coba anda main-main ke cafe kelas menengah di Jakarta, cari kopi robusta hampir tidak ada. Padahal bangsa Indonesia peminum kopi Robusta yang diseduh dengan air bukan diseduh dengan Uap.

Hegemoni kapitalis dalam tatacara memframed dengan cara menyeduh, cara minum dan cara penyajian. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kekayaan beragam untuk tatakrama makan dan minum. Tetapi karena bangsa Indonesia menjalani hidup dengan bersahaja dan alami (tidak memaksa) maka tatacara minum kopi asli yang dilakoni di daerah tetap berjalan tanpa digembar-gemborkan. Minum kopi itu diseduh. Biji kopi disangrai dan ditumbuk. Hal ini bukan berarti bangsa Indonesa menolak kemajuan dan cara-cara yang baru, tidak. Tetap saja ada kombinasinya. Ada yang mencampurkan keduanya. Namun gempuran kapitalis (uang) seringkali tidak dapat dihadapi dan mau tak mau diambil. Ada satu warung kopi yang mulanya “idealis” pura-puranya melawan franchise kopi kapitalis Amerika itu, dengan kombinasi alat dan cara penyajian kopi (dengan mesin brew kopi impoir yang harganya ratusan juta), model sana dihidangkan bersama makanan common di Indonesia..eh ujung-ujungnya warung kopi ini akhirnya dibeli oleh perusahaan besar sehingga ya kapitalis-kapitalis juga.

Tidak usah berkecil hati. Masih ada juga sih kafe-kafe warung kopi menengah kebawah yang menyediakan kopi robusta eh bukan kopi sachet Kapal Api yang berterbaran di seluruh penjuru ya. Ada kafe seperti Kopi Pojok Pamulan https://wartafeminis.com/2018/09/21/kedai-kopi-pojok-kopi-nusantara-di-pamulang/ atau (silahkan masukan: ) @umilasminah

Indonesia Feminist Theory and Practices

Ruwatan Sudamala Patembayan Jawadipa

Sebagaimana perubahan alam yang terjadi di muka bumi, yang bangsa barat menyebutnya climate change bangsa Nuswantara menyebutnya tanda perubahan jaman. Bahwa jaman kini adalah jaman Sungsang Buwana dan akan kembali kepada jaman sejatinya yaitu Buwana Balik.

Tanda perubahan jaman yang ditampilkan melalui Alam merupakan bacaan bagi manusia yang memiliki kepekaan berkomunikasi dengan Alam. Manusia yang tidak hanya peka namun berkomuniasi dengan alam secara harmoni baik dan ketersalingan simbiosis mutualisme adalah suku-suku asli bangsa Nuswantara yang hidup masih di hutan maupun di komunitas tersendiri. Yang tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara maupun Papua. Di samping itu tumbuh pula warga masyarakat modern yang terbangkitkan kesadaranya untuk menggali jati diri sendiri dan leluhur bangsanya dan menemukannya serta saling menjalin dan berjaringan membentuk komunitas maupun kelompok. Salah satunya adalah Patembayan (Persaudaraan) Jawadipa, dengan menegaskan diri untuk belajar segala pengetahuan terkait kearifan leluhur Jawa yang pakem dan melestarikannya. Terutama sekali belajar tentang spiritualitas asli Jawa yang cair dan bisa dijalankan bersamaan dengan keyakinan semua agama.

Ajaran Jawadipa bukanlah agama. Ajaran Jawadipa merupakan kepercayaan purba masyarakat Jawa yang tidak memiliki kelembagaan mengikat. Jawadipa mengajarkan penghayatan pribadi yang bersandar kepada Yitma (Ruh) manusia. Dan Yitma (Ruh) manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari Sanghyang Taya Yitmajati atau Tuhan Sarwa Sekalian Alam. Tentu saja karena sifatnya yang cair, ketika agama-agama Mancanegara masuk ke Jawa maka bisa dengan mudah melebur dengan ajaran Jawadipa tersebut. Apapun agama Anda, akan menjadi semakin tajam dan dalam jika disertai penghayatan mempergunakan ajaran Jawadipa.

Pagebluk Pandemi 2020

Sebagaimana halnya yang banyak dipercaya tentang adanya Ratu Adil, Satria Piningit yang akan datang mengembalikan kejayaan Nuswantara, maka sebelum kedatangannya akan terlebih dahulu terjadi fenomena dan kejadian Alam dan sosial di antaranya Pagebluk wabah dan bencana alam Gunung Meletus dsb. Mengenai tanda alam ini, ditulis dalam berbagai serat yang diyakini penganut ajaran Leluhur.

Di dalam praktek kehidupan para Leluhur pendahulu bangsa Indonesia, setiap peristiwa ada ajaran dan maknanya, atau racun ada penawarnya. Setiap kutukan ada yang dapat melepaskan kutukannya. Begitupun dalam peristiwa Pagebluk Pandemi Covid 19 yang telah menghilangkan nyawa jutaan manusia sedunia. Salah satu yang dipraktekkan sejak dahulu kala di dalam kehidupan sehari-hari adalah Meruwat. Meruwat secara arah pokok ruwatan ialah membebaskan manusia dari kutukan, roh jahat, dan dari pengaruh roh-roh atau peristiwa yang membawa malapetaka dan celaka. Ada banyak jenis ruwatan di dalam kepercayaan Jawa, salah satunya adalah Ruwatan Sudamala.

Ruwatan Sudamala di Patembayan Jawadipa , 24 Juli 2021

Ruwatan Sudamala di Patembayan Jawadipa dipimpin oleh Ki Ajar Jawadipa yang publik mengenalnya sebagai Damar Shashangka penulis buku-buku novel sejarah Nuswantara khususnya jaman Majapahit maupun buku-buku spiritual seperti Gatholoco.

Saya mendengar nama Damar Shashangka sejak awal terbitnya buku Geger Majapahit. Saya ingat seorang kawan saya berkata, umurnya baru 24 tahun, tapi ingatannya bisa jauh ke belakang dan pada periode-periode yang ditulisnya.

Saya mendaftar ikut dan meliput Ruwatan Sudamala yang berlangsung secara online selama lebih dari 2 jam dan diikuti oleh 166 peserta, dan bisa jadi 1 medium diikuti beberapa orang, karena bisa satu keluarga, diperkirakan diikuti oleh 200 orang.

Sebelum memulai ruwatan Ki Ajar memberi arahan ulang tentang apa yang perlu dipersiapkan, kembang setaman, air dan dupa. Meskipun telah dilakukan Ruwatan terkait pagebluk sebelumnya yaitu Ruwatan Murwakala 11 Juli 2021.

Ruwatan Sudomolo adalah ruwatan untuk menghilangkan segala kemalangan yang ada, agar tidak celaka, sakit. Kisah ruwatan Sudomolo adalah mengembalikan Batari Umo dari wujud raksesi Ranini.

Gari besar kisah kutukan yaitu, ketika Batari Uma selingkuh dengan batara Brahma maka dihukum menjadi raksesi Ranini, untuk itu hanya bisa kembali sedia kala melalui Alam Dunia (Setra Ganda Mayu) lapangan luas Berbau Keselamatan (Alam manusia)

Dunia walaupun ada keburukan tetap memiliki harapan untuk kesejahteraan. Dinamis sama besarnya Kebaikan dan Keburukan. Dualitas yang seimbang.

Hal yang tidak ada di Alam Atas (Kedewatan) yang selalu benar baik, dan Alam Bawah yang selalu keburukan Alam Manusia memiliki komposisi seimbang sedih gembira, gelap putih.

Alam setra gondo mayu ini pada masa masukannya ajaran sebrang Mayu yang berarti Pemberi Keselamatan diganti menjadi mayit yang dalam bahasa arab mayit/mayat.

Dewi Uma yang telah menjadi Ranini dipindahkan ke Setra Ganda Mayu dan disebutkan bahwa 20 tahun lagi Ranini akan dilepas dari Kutukan oleh bungsu dari Pandawa yaitu Sadewa.

Sadewa yang melepaskan kutukan Batari Uma diberi gelar Raden Sudamala kisah tentang ini ada di Candi Sukuh dan Candi Powan Kediri.

Ruwatan Sudamala sudah sejak lama dipraktekkan, paling sering pada masa Majapahiy
Batara Guru adalah simbol manusia. Roh manusia ketika Roh yang gilang gemilang memiliki energi dan ini melekat pada Batari Uma.

Itulah cikal bakal semesta manusia dan cikal bakal material. Yang memiliki cikal bakal 1. Satwiko (stabil) Batara Nadewo, 2. Rajasiko (dinamis) Batara Brahma 3. Kamasiko (bebal bodoh malas) Batara Wisnu

Rajasiko ini menutupi kecemerlangan Roh ketika Batari Uma selingkuh dengan Batara Brahma akhirnya jatuh ke dunia ke Setra Ganda Mayu. Saat inilah roh meredup, karena tertutup oleh Batara Brahma. Ketika Rajasiko menutupi kecemerlangan roh Batari Uma, yang mulai meredup tidak suci lagi (tersaput Rajasiko) maka Batari Uma dibuang ke dunia Setra Ganda Mayu. Saat ini pula daya energi Roh mengecil dan menjadi alam bawah sadar manusia dalam simbol Pandawa yaitu Sadewa puser kekuatan double bersama Nakulo.

Pandawa sendiri adalah simbol manusia kekuatan sedulur papat lima pancer, Kawah adalah Yudistira, Adi Werkudoro, Ari-ari Harjuno dan Nakulo-Sadowo Puser. Pikiran bawah sadar adalah Sadewa yang sudah meruwat sendiri agar kecemerlangan roh dapat kembali.

Atas jasanya pula maka Sadewo mendapat gelar Raden Sudamala.

Di Patembayan Jawadipa ruwatan Sudamala termasuk ruwatan kecil atau Nisto, ada Ruwatan Madya menengah sajen lengkap dan Ruwatan Utama sajen lengkap dengan wayang kulit atau wayang beber.

RUWATAN SUDAMALA

Mantra dibacakan dan setiap mantra para peserta Cantrik (anggota resmi Patembayan), dan umum mengikuti arahan Ki Ajar menghadap ke arah mana (8 arah mata angin) dan posisi jari dan lengan berbeda dengan sebutan Mudro. Mantra dibacakan dalam bahasa Jawa Kawi, dimulai dari Timur. Setiap arah mata angin diperkirakan waktunya 7-15 menit. Setiap peserta menahan posisi lengan sesuai arah mata angin bersamaan pembacaan mantra. Di dalam mantra kita akan dapat mendengar nama Batara Ismaya, Batara Antiga, Batara Syiwa dan lain-lain.

Ruwatan yang dimulai pukul 20.10 wib selesai sekitar pukul 22.20 dengan arah mata angin Timur.

(UL)
Ki Ajar memberi penjelasan.

sumber a.l: https://www.facebook.com/damar.shashangkakapindho

KOPI LUWAK

Bila anda mencari di google tentang kopi Luwak, maka yang muncul adalah bagaimana buruknya dampak dari produksi kopi luwak, khususnya tentang prilaku manusia terhadap hewan. Terlebih media online “yang mengklaim” pro lingkungan hidup, pastinya anda akan menemukan isu negatif dari proses produksi kopi Luwak. Hal ini terutama dituliskan oleh media barat “berbahasa Inggris” dan negara-negara yang secara riil adalah kapitalis dan kolonialis. Sehingga ketika dipaparkan kritikan dan cerita negatif Kopi Luwak sesungguhnya adalah pengambaran bagaimana kapitalis memang buruk, termasuk mengindustrialisasi kopi Luwak dan mengeksploitasi binatang Luwak. Lah wong dalam industri saja kapitalis mengeksploitasi manusia masa tidak mengeksploitasi Luwak.

Pahadal kopi Luwak, yang berasal dari kotoran Luwak sejatinya prosesnya tidaklah merugikan siapapun terutama Luwak maupun manusia, bahkan membantu keseimbangan alam. Luwak sendiri adalah binatang liar, artinya memang harus hidup liar artainya lagi binatang Luwak tidak bisa dipekerjakan, diekploitasi seperti manusia, Luwak harus sesusakanya makan kopi sesukannya juga eek dimana saja, bukan dalam penjara atau kandang. Nah bila ada orang yang menangkarkan Luwak, memelihara dan mengkandangkan pun ada jenisnya itu tidak usah dibahas disini, karena itu cara kerja kapitalis, untung besar, produksi terus menerus dan konsisten bukan berdasarkan kebutuhan hidup, tapi penciptaan pasar.

Tulisan ini lebih mendukung kehidupan Luwak liar yang happy “makan kopi” tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di desa dan memberi peluang bagi peminum kopi Indonesia untuk mencicipi kopi termahal di dunia Kopi Luwak bukan berasal dari Luwak yang di eksploitasi. Luwak itu memakan kulit kopi sehingga petani mendapat kelebihan biji kopi yang tidak dimakannya, dibuangnya sebagai eek. Luwak juga dulunya dianggap pengganggu petani yang tinggal dilereng gunung karena sering memakan tanam-tanaman milik petani, kini Luwak dibiarkan hidup karena memberikan kopi terbaik yang sudah diolah diperut Luwak..

Jangankan icip kopi Luwak, umumnya masyarakat awam Indonesia peminum Kopi Robusta pun sering tak tahu bahwa bahwa yang mereka minum bila kopi tubruk non sachetan rata-rata kopi robusta. Jadi faktanya robusta banyak diproduksi dan diminum orang Indonesia, sementara yang disediakan di kafe-kafe serta yang menjual kopi bubuk online menjual mahal kopi Arabica dibanding kopi Robusta. Minum kopi dan jenis kesukaan juga bersifat personal, private, selera tetapi dengan gempuran kapitalis, banyak orang “berada” akhirnya terpaksa hanya meminum kopi Arabica karena kopi itu yang disediakan di cafe-cafe kota besar Jakarta. Selera kopi saja terjajah duh.

Kopi Luwak Pelita, foto @Ninuk

Indonesia Feminist Theory and Practices

Apalah Arti Sebuah Nama: Penting Menunjukkan Peradaban

Apalah Arti Sebuah Nama: Penting Menunjukkan Peradaban

Berbeda dengan peradaban barat yang seperti kata Shakeseare what’s in the name.

Di dalam fakta sejarah Nuswantara nama-nama manusia, Dewa Dewi, maupun Batara Batari penting dan bermakna dalam. Bahkan nama manusia,orang, warga tidak sekedar menunjukkan kelas,kasta ataupun statusnya. Sebegitu pentingnya nama sehingga tidak sembarangan memberi nama. Tak sekedar hanya doa, namapun adalah bagian inheren hidup seseorang di dunia, melekat pada diri bahkan dapat menjadi penentu nasib. Terkait nama (arti hurufnya) bangsa barat Phytagoras pernah mempelajari ini bersama dengan angka.

Di Nuswantara secara fakta sejarah nama nama Manusia, beriring jalan dengan nama hari seminggu, dan 5 hari wetonnya. Tentu bukan nama hari sebagaimana dikenal dalam bahasa sekarang senin,selasa,rabu hingga minggu. Entah nama itu berasal dari mana. Namun nama-nama hari Nuswantara mengikuti para Dewa pengejawantah sejak awal penciptaan arcapada/bumi. Sehingga nama hari berurutan Reditya , Tumpak Sukra Wrespati Budha Anggara dan Soma (Minggu,Sabtu,Jumat, Kamis,Rabu,Selasa, Senin). Maka pada nama-nama hari tersebit penggiring dewa-dewa SHB Surya, SHB Hanantaboga, SHB Brama,SHB Kuwera, SHB Wisnu, SHB Kamajaya , SHB Indira.

Rampak Sarinah Tulungagung: Hari Kartini Karawitan

Group Kerawitan Rampak Sarinah melakukan kunjungan ke Kelompok Kerawitan Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo Tulungagung untuk berlatih bersama dalam merayakan Hari Kartini. Kegiatan diikuti oleh 20 ibu-ibu yang dengan sengaja mengenakan kebaya dan berkain seharian tept pada Hari Kartini, Rabu, 21/4/21.

Berkebaya dan berkain selama berkegiatan diharapkan dapat membantu mengenang berbagai gagasan dan pemikiran kebangsaan Kartini. “Ibu Kartini dan kakaknya Sosrokartono adalah pioner gerakan kebangsaan sehingga kemerdekaan bangsa bisa diwujudkan. Jadi, kebaya bukan sekedar fashion tapi merupakan identitas budaya bangsa,” kata Mudrikah sekretaris Rampak Sarinah menjelaskan.

Untuk menguatkan penghayatan terhadap perjuangan emansipasi Kartini, Rampak Sarinah berkerawitan 

di kediaman Ibu Suharno yang juga pembina kesenian masyarakat Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung. “Silaturahmi demikian akan kami teruskan ke kelompok-kelompok kesenian yang lain sehingga Rampak Sarinah bisa semakin diterima komunitas kesenian di Tulungagung,” sambung Mudrikah.

Ibu Sumarti dari Segawe  menyambut baik ked atangan Rampak Sarinah karena menambah paseduluran (persaudaraan) sesama perempuan pecinta seni budaya tradisional. “Ini bikin segar bagi tamu dan tuan rumah ya.. tambah semangat berlatih dengan dulur-dulur baru,” kata bu Sumarti sambil tertawa.

Astinawati, wakil ketua Rampak Sarinah menambahkan bahwa kunjungan tersebut akan membiasakan para anggota untuk bisa bermain profesional, dengan alat-alat milik siapapun tidak grogi. “Kita berlatih memainkan gamelan dengan hati dan perasaan. Dimana saja dan kapan saja kita diminta main, kita mampu melakukannya,” jelas Astinawati.

Rampak Sarinah juga mengenang Kartini selain sebagai pemikir tetapi juga pejuang kehidupan rakyat cilik misalnya pengrajin batik dan pengukir kayu. “Rampak Sarinah juga sedang memperjuangkan agar ada surat bupati untuk kostum Tulungagungan dengan menggunakan batik lokal Tulungagung,” kata Astinawati.

Diskusi seni dan gamelan sore itu dilanjutkan para ibu di Waduk Wonorejo yang bersebelahan dengan Desa Segawe. Kegiatan seharian ditutup dengan buka puasa bersama berbekal makanan yang dibawa dari rumah. Kalau Kartini berpiknik di Pantai Jepara, ibu-ibu Rampak Sarinah berwisata air di Waduk Wonorejo Tulungagung yang juga tujuan wisata yang menyenangkan.

.

RA Kartini Aku Tak Akan Berhenti Menulis Tentangmu

RA Kartini,  Aku Tak Akan Berhenti Menulis Tentangmu

Perempuan Indonesia selayaknya bangga, bahwa kita memiliki Leluhur Eyang Putri tokoh teladan perjuangan mulia Raden Adjeng (Ayu) Kartini putri dari Jepara, Jawa Tengah, selain Beliau, kita juga memiliki para Luhur lain putri-putri dari daerah lain yang pada masa hidupnya di arcapada telah menghabiskan masa bhakti bagi Bangsa, perempuan maupun lingkungan sekitar tempatnya tinggal. Para Perempuan tersebut ada yang tercatat dalam sejarah modern dan disematkan Gelar Pahlawan Nasional oleh Negara Republik Indonesia dari Barat hingga Timur Nuswantara. Mulai dari Cut Nyak Dhien, Rasuna Said, M. Walanda Maramis hingga Martha Tiahahu, Dewi Sartika. Para beliau adalah panutan tokoh perempuan modern Indonesia. Namun diluar itu semua tak sedikit nama-nama yang melekat dimasyarakat apakah sebagai “mitos” atau legenda,  yang perlu penelitian lanjutan untuk membuktikan fakta sejarah yang belum terungkap, yang berasal dari berbagai wilayah di Nuswantara. Seperti Putri Selendang Buih (Kilisuci) dari Kalimantan, Putri Diah Pitaloka dari Jawa Barat, Nyi Ageng Serang, Santika Maha Dewi dan Putri Atlantik.

Berhubung kini kita tinggal dan hidup dalam masyarakat modern dimana “materi” dan salah satu material penting adalah yang tertulis, yang terlihat, dan yang nampak sebagai hal utama untuk menjadi wacana penting. Maka R.A Kartini dengan peninggalan tertulisnya menjadikan Beliau dan pemikirannya sebagai sumber yang tak habisnya memberi inspirasi bagi kita semua. Tentunya tak dapat dipungkiri juga bahwa dunia “modern” secara wacana maupun Ilmu Pengetahuan dunia secara faktual yang dalam penguasaan Barat. Sehingga walaupun Dewi Sartika juga menulis, Rohana Kudus juga menulis, namun secara isi serta muatan tulisan dan kisahnya pun berbeda topik, keluasan maupun strukturnya. Terlebih pada masanya Ibu Dewi Sartika, keluarganya memiliki kisah konflik langsung dengan penguasa kolonial.

Raden Ajeng Kartini (masih gadis) menulis tentang banyak hal, tentang berbagai topik yang beragam mulai dari agama, budaya, ekonomi, sastra, kehidupan masyarakat dan tentunya tentang penindasan perempuan. Tulisan RA Kartini memiliki referensi yang luas dan kaya, dari terbitan berbahasa belanda di Hindia Belanda, hingga berbagai buku karya sastra karya penulis luar negeri, dari surat kabar, jurnal ataupun dari pengamatan dan percakapan dalam kehidupan sehari-hari.

RA Kartini, seorang perempuan muda yang memilih memanfaatkan status dan privilege yang dimilikinya untuk tujuan yang mulia. Tujuan kemerdekaan dan pembebasan kaum tertindas. Pemikiran progresif RA Kartini bahkan masih dianggap melampaui jaman kini, tak hanya jamannya saja. Bagaimana seorang perempuan ningrat yang secara tradisi sempat dipingit, dapat menerobos tembok dan memiliki kesempatan menemui langsung para perajin ukir di luar rumahnya, serta menuliskan pengalamannya tersebut dan mempromosikan karya para perajin, serta menjualnya jauh ke negeri Belanda (eksport), Kartini juga tidak sungkan berbincang dengan pembantu (emban) yg pada masanya bukan hal yang biasa dilakukan kaum ningrat.

Adapun apabila RA Kartini lebih dikenal memperjuangkan emansipasi perempuan, hal ini karena pada realitas kemajuan baik di Hindia Belanda maupun di Eropa, perempuan masih mengalami hal yang sama penindasan. Untuk itulah Kartini, mengusulkan suatu kepada Pemerintah Kolonial dengan mengirimkan surat tentang pendirian sekolah bagi anak perempuan. Pun begitu emansipasi melawan penindasan yang dimaksudkan Beliau adalah juga emansipasi “kesertaan” laki-laki dalam perjuangan mengubah keadaan bangsa ke arah yang lebih baik termasuk dalam gerakan. Mengenai hal ini Kartini menangkap bahwa perjuangan laki-laki banyak.

Surat Kartini, 12 Januari 1900  kpd Nona Zeehandelaar

Dan apabila perjuangan oran laki-laki itu sudah sengit, maka akan bangkitlah kaum wanita. Kasihan kaum laki-laki, alangkah banyak pekerjaan yang akan kamu lakukan! (int. akan berhadap dengan laki-laki juga yang menolak membela perempuan)”

21 Jan 1901 kpd RM Abendanon Mandri.” …Dan pengajaran kepada anak-anak perempuan akan merupakan rahman. Bukan hanya untuk perempuan saja, melainkan untuk seluruh masyarakat bumipurta.”

Adapun tentang penolakan atas poligami banyak tulisan mengenai hal tersebut salah sastunya mengutip sebuah hadis Nabi yang menceritakan tentang :

“suami Fatimah yang kawin lagi, dan bagaimana perasaan Fatimah, ketika ditanya bapaknya, menjawab N“Tidak apa-apa bapak, tidak apa-apa”.  Ayahnya memberinya telor mentah lalu minta kepadanya melekatkan dengan arah hatinya. Kemudian telur tersebut diminta Nabi kembali, lalu dipecahkannya. Telut tersebut telah masak!

Penggambaran perasaan dapat berbeda dari kata dan hati. Terkait hadis tersebut RA Kartini menyimpulkan “Hati perempuan Timur sejak itu tidak berubah. Cerita ini sekaligus menjelaskan kepada kita tentang pikiran kebayakan perempuan terhadap laki-laki yang kejam itu.1901 Agustus kepada N. Van Kol.

Perjuangan RA Kartini bersama kedua adik perempuannya Roekmini dan Kardinah bukanlah perjuangan mudah, dan tentu saja berbeda dengan penderitaan dan penindasan yang dialami perempuan pada saat itu, sehingga bentuk perlawanannya pun berbeda, pun begitu apa yang dicita-citakannya untuk memajukan perempuan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan  yang beragam adalah memiliki tujuan mulia dan bagi bangsa yang lebih luas.

Usaha kami mempunyai dua tujuan, yaitu turut berusaha memajukan bangsa kami dan merintis jalan bagi saudara-saudara perempuan kami menuju keadaan yang lebih baik, yang lebih sepadan dengan martabat manusia”. 1901 Agustus kepada N. Van Kol.

Itulah secuplik kenyataan dan fakta tentang cita-cita mulia RA Kartini, sebagai mana yang dituliskan dalam lirik lagu “Ibu Kartini” ciptaan WR Soepratman (pencipta lagu Kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya”,

Ibu Kita Kartini

Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri jauhari
Putri yang berjasa
Se Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaum ibu
Se-Indonesia

Ibu kita Kartini
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanya

Wahai ibu kita Kartini

Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

SELAMAT HARI KARTINI 2021, KIRANYA KESEHATAN MENJADI BEKAL PERJUANGAN BAGI KEMAJUAN BANGSA @umilasminah

Pengalaman Perempuan

Pengalaman Perempuan

Setiap tanggal 8 Maret oleh Perserikatan Bangsa-bangsa diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia. Pemilihan tanggal ini terkait dengan gerakan buruh perempuan 1908 yang antara lain pemimpin pergerakannya adalah Clara Zetkin.

Mengapa harus ada Hari Perempuan, tidak ada Hari Laki-laki? Di dalam dunia modern (baca dunia dalam pengaruh utama baca kolonialisme pengetahuan dan budaya bangsa barat), perempuan disingkirkan, bukan tersingkirkan. Disingkirkan artinya ada desain, rekayasa, upaya yang secara sistemik menyingkirkan perempuan dari budaya, pengetahuan dan kehidupan publik politik. Penyingkiran tersebut khususnya semakin matang setelah abad ke-15, setelah dunia terpukau dengan Cogito Ergo Sum. Pemikiran yang hampir meniadakan Rasa dan Spirit.

Setelah Abad ke-15, dunia kolonialis barat baca bangsa kulit putih berupaya menganeksasi Asia, Afrika. Saati inilah mulainya “keterbelakangan manusia” dan “sikap mulai tak mengenali Alam” “hingga mengeksploitasi Alam”. Sikap-sikap patriarkis yang sejati, mengekploitasi dengan hampir tanpa berpikir panjang “berkelanjutan” dari apa yang diambilnya, misalnya hutan yang ditebang tanpa memilikiran habitat dan biota yang hidup diseputar hutan tersebut. Secara garis besar karakter patriarki yang sama dengan kapitalis adalah rakus, selalu ingin berlebihan, sehingga selalu ekspansif. Karakter ini mirip dengan laki-laki secara biologis yang ketika masih bayi dalam perut Ibunya, sang Ibu merasakan perbedaan soal makannya, janin perempuan dan janin laki-laki.

Secara biologis perempuan mengalami pengalaman yang sama, menstruasi. Secara sosial perempuan mengalami penindasan patriarki, dengan kadar yang berbeda, tergantung kondisi sosial budaya dimana perempuan tinggal. Kesamaan pengalaman penindasan terhadap perempuan ini yang secara luar biasa dinyatakan saat wakil perempuan dari seluruh dunia berbagi pengalaman dalam Pembukaan Konfrensi Perempuan sedunia 1995 di Beijing. Pada Konfrensi ini Hillary Clinton ibu Negara USA menyatakan “Hak Perempuan adalah Hak Asasi Manusia Womans Rights is Human Rughts. Perempuan dari berbagai negara menceritakan pengalaman ketertindasan, pada saat itu banyak peserta konferensi menitikan air mata mendengar dan menyimak kisah dan pengalaman serta kegetiran kehidupan perempuan karena patriiarki. Pada Konfrensi ini pulalah para perempuan peserta komfrensi yang mewakili negara masing-masing bersepakat untuk mengubah keadaan agar komdisi dapat menjadi lebih baik dengan “Beijing Platform for Actions” Landasan Aksi Beijing yang menggarisbawahi 12 area kritis

* women and poverty  *Education and training of women
* Women and health. * Violence against women. * Women and armed conflict.
* Women and the economy. * Women in power and decision-making. …
* Mekanisme institusi pendukung  * Human rights of women. … * Women and the media.
* Girl Child /anak perempuan* Women and Environment

Setelah 25 tahun berjalan, tiap negara melaporkan perkembangan aksinya terkait perbaikan di 12 area di atas. Pemilihan ke-12 area itu menunjukkan bagaimana perempuan diseluruh dunia mengalami penindasan paling common “biasa” dan semuanya mengalami dengan gradasi yang berbeda. Tak sulit mencari data dan fakta perempuan lebih miskin dari laki-laki, tak sulit mencari berita tentang kekerasan terhadap perempuan, atau betapa susahnya mencari perempuam yang memimpim Media Massa, sama sulitnya mencari berita olahraga atau turnamen perempuan di media massa umum baik televisi maupun suratkabar. Padahal sepakbola ajang Piala Dunia Perempuan sudah ada sejak 1994, atau turnamen profesional basket WNBA sejak 1997.

Sebagai manusia yang sama dengan laki-laki,ciptaan Yang Maha Kuasa, menghirup udara yang sama di atas bumi yang sama, akan tetapi perempuan oleh paham patriarki dianggap tidak ada, sehingga Pengalaman Perempuan tidak ada dalam narasi sejarah, dalam wacana politik dan budaya umum..Pengalaman yang sama pada semua perempuan telah mengantarkan perempuan untuk melakukan perlawanan, merebut apa yang menjadi haknya, yang diambil dan dicuri dari perempuan sepanjang masa modern…

 

 

Dapur: Budaya Adiluhur Adiluhung Nuswantara, Keseharian Praktek Perempuan

Budaya Nuswantara, budhi dan daya khususnya yang dipraktekkan sebagai tradisi dalam kehidupan sehari-hari dimasalalu, masa yang tak terlalu jauh tahun 1960an hingga tahun 1980an menunjukkan kebaikan (budhi) yang nyata. Bukti itu kini ditunjukkan dalam berbagai bentuk yang nyata, baik secara saintifik (modern sains) maupun secara empirik yang dipraktikan dan dikisahkan keberhasilannya dalam berbagai media massa formal maupun informal.

Apa yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari biasanya dianggap tidak penting, tidak bernilai. Hal ini terutama karena keseharian itu dipraktekkan oleh perempuan, di dapur, di rumah, didalam keluarga. Apa yang dipraktekkan di rumah dan di keluarga. Para ibu menyiapkan makanan minuman sehat di dapur, membersihkan dan mempersiapkan perlengkapan dapur, menyiapkan pangan sayuran dan minuman sehat, dan bila sakit menyiapkan obat-obatan dari tradisi turun temurun. Semuanya dilakukan perempuan, ibu dan adakalanya bapak ikut membantu menyiapkan apa yang diperlukan.

Dapur: Pustaka Rasa dan Tradisi Luhur

Bila selama ini, khususnya masyarakat modern yang  hampir tak pernah mendapatkan ajaran adat istiadat dari nenek moyang langsung, ibu dan bapak atau nenek kakek tentang berbagai tradisi seputar Kelahiran, Perkawian, Kematian, dan Bertetangga, mungkin akan masih menanggap dapur bukan hal penting, bukan hal utama, sehingga tak terpikiran sebagai wacana untuk diangkat dalam percakapan. Terlebih sekarang dapur berpindah ke restoran, dan restoran pun mengirimkan makanan ke rumah. Dapur mungkin masih memiliki sedikit fungsi menyimpan sesuatu. Dapur kini menjadi Gudang. Perlengkapan dapur tidak dipakai, hanya menjadi barang yang hampir tak dipakai, mungkin hanya piring, gelas dan teko karena pasti diperlukan, atau kompor untuk memasak air membuat kopi.

Meskipun begitu, dapur tetap eksis sebagai bagian denyut kehidupan rumah tangga, dan juga memiliki fungsi yang menjadi lebih luas melampaui penyangga pangan keluarga, namun penyangga pangan desa, atau komunitas. Ketika dapur-dapur rumah tangga memiliki fungsi tambahan penyedia pangan untuk dijual atau produksi. Disinilah industri rumah tangga, komersialisi kecil terjadi. Saya pernah berbincang dengan seorang teman yang memperlihkan bahwa karakter bangsa Indonesia bukanlah karakter industrialis/kapitalis (rakus/greedy). Ini saya hanya menyimpulkan, ketika ada pengusaha-petani yang diminta untuk menyediakan daun kelor berton-ton rutin oleh perusahan di Jepang tidak dapat memenuhinya. Saya menganggap tak semua bahan pangan atau hasil pertanian dapat diproduksi secara besar-besaran dan ini

sumber:
https://rudihermawanoke.wordpress.com/

terkait bukan dengan permintaan dan penawaran, namuan lebih kepada karakter tanah, karakter masyarakat/komunitas dimana tanaman itu tumbuh, dan bagaimana proses tanam serta peliharanya. Ada memang lahan luas yang bisa ditanami padi,atau jagung atau singkong tanpa menganggu habitat hewan maupun biota lain yang telah ada sebelum penanaman besar-besaran. Akan tetapi apakah pernah ada penelitian sebelum ditanaminya pohon sejenis di lahan yang luas tentang: habitat burung apa , habitat hewan melata, primata apa serta tanaman liar apa yang biasa ada dilahan luas ini. Kemana mereka pergi bila diganti dengan tanamanan sejenis “sawit”, padi, jagung.

source: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/hawu-dalam-pandangan-masyarakat-sunda/

Kembali ke pembicaraan dapur di atas, sesungguhnya ciri dapur juga terkait dengan tanaman pangan apa yang menjadi bahan pokoknya. Bagaimana pengolahannya menentukan jenis alat kelengkapan dapurnya. Ketika para transmigran dari pulau Jawa dan Bali datang bertani serta  bercocok tanam di Suamtera, Kalimantan, apa yang menjadi dapur di Jawa juga menjadi dapur di rumah-rumah di tanah transmigran…

Meskipun begitu, suku-suku asli yang mendiami pulau  Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi telah memiliki berbagai jenis perlengkapan dapur yang menjadi ciri tersendiri, bila dilihat dari bentuk dan fungsinya biasanya sangat terkait dengan geoculture.

 

Hari Ibu Indonesia Politik, di AS Domestik

binadesa.org

 

Hari Ibu Indonesia berbeda dengan Hari Ibu di barat, sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya https://wartafeminis.com/2008/03/04/kongres-perempuan-indonesia-sebuah-gerakan-perempuan-1928-1941-2/ 

Di Amerika Serikat (AS) Hari Ibu memang untuk menghormati peran perempuan sebagai ibu dan keibuann. Hari Ibu di AS dimotori oleh Anna Jarvis tahun 1908 dan menjadi hari libur resmi sejak tahun 1914. Berbeda dengan hari Ibu di Indonesia yang memiliki tanggal pasti, maka MD adalah minggpolwanu kedua seperti 2021 jatuh pada tanggal 9 Mei. Pencetusnya Ann Jarvis dikemudian hari ketika melihat komersialisasi Hari Ibu berupaya agar dicabut dari hari libur  nasional. Mengingat pada Hari Ibu selalu diperingati secara tradisi dengan memberi hadiah kepada ibu dengan bunga  kartu dan hal-hal lainnya. Ann Jarvis sendiri tidak mempunyai anak, adalah Ibunya Ann Reeve Jarvis yang mempeloporinya dengan mengajari tentang bagaimana  ibu merawat anak, dengan mendirikan Persabatan Para Ibu yang berlangsung dimasa usai Perang Sipil 1868. (https://www.history.com/topics/holidays/mothers-day)

Dalam konteks diatas  maka konsep Ibu yang bersifat Domestik mengurus anak adalah Hari Ibu versi AS, sedangkan Hari Ibu 22 Desember 1928  di Indonesia bersifat Politik, mengambarkan bahwa konsep Ibu dan sebutan Ibu berlakuseluruh perempuan: lajang, menikah, punya anak atau tak punya anak yang antara lain terlibat didalam perjuangan Pergerakan Nasional (menuju Indonesia Merdeka). Secara lebih jauh lagi, konsep Ibu yang bersifat Politik Publik dapat ditelusuri jejak sejarahnya dalam kehidupan suku-suku bangsa di Indonesia (terutama sebelum masuk pangaruh baik Barat maupun Arab).

Sejarahnya sebelum kedua pengaruh tersebut masuk ke Indonesia, Ibu memiliki tempat mulia, dimuliakan. Hal ini juga menjadi ciri dibanyak wilayah suku-suku asli (indigenius) yang menempatkan Ibu dalam posisi Pengemban Kebijaksanaan (tempat Bertanya konsultasi “Bundo Kandung”, suku suku Indian Cheeroke di AS juga memiliki posisi yang sama dan dapat menjadi panglima perang.

  1. Konsep Ibu, konsep Ibu dalam tatanan masyarakat Nuswantara luhur bermakna dalam dan Luas, disana ada Power Kekuasaan. Dalam Penciptaan meski secara kemanusiaan diciptakan pertama kali di bumi sosoknya perempuan anak-anak Maharani, namun Maharani tidak beranak pinak. Baru sesudah arcapada diperuntukkan bagi manusia, dimana penghuni sebelum manusia adalah butho/iblis dan para raksasa. saat itu pula dimulainya konsep ibu dan memuliakan perempuan
  2. Di dalam tradisi Nuswantara yang jejak bahasanya masih ada adalah penyebutan nama untuk ibu atau perempuan yg melahirkan anak berbeda-beda.
  3. Disitulah Ibu sebagai konsep berpikir penciptaan dan kekuasaan dunia yg seimbang setara terjadi. 
  4. Secara aktivitas sosial perempuan dan laki-laki tak ada perbedaan, tak ada konstruksi gender dalam pekerjaan semua bisa melakukan apapun termasuk bela diri, termasuk posisi memimpin pemerintahan menjadi kepala negara: Raja Ratu, Maharaja Maharatu.
  5. Menjadi pemimpin perang, panglima, healer, pemimpin adat dan sebagainya

Adapun perbedaan biologis adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri dan diterima dengan tanpa judgement, sejak jaman purbaraya, jaman awal peradaban bumi dan mulainya pemerintahan dipimpin oleh manusia keturunan Dewa/Dewi ada dayang ataupun pendamping yang “wandu” laki-laki dengan sifat keperempuanan, dan perempuan sifat kelelaki-lelakian. 

Meskipun peran publik dalam dilaksanakan oleh Ibu, namun fungsi biologis melahirkan turut menjadi penentu adalah segregasi pembagian peran domestik dan publik yang rigid terutama setelah pengaruh ajaran Arab dan Barat datang. Disamping itu, suku-suku bangsa di Nusantara pun memiliki perbedaan yang baru pada abad ke-18 cendrung sama, yaitu menarik perempuan untuk lebih menetap dan mengelola kerja domestik (di rumah). Sejarahnya perempuan di Sumatera Utara mempunyai posisi yang setara atau lebih tinggi dengan laki-laki, dan hampir sama dengan yang terjadi di Sumatera Barat dan peralihan kekuasaan dari Matrilinial menjadi Patrilinial di Sumatera pun berlangsung dalam proses yang panjang dan ditutupi sejarahnya.

Pemuliaan terhadap Ibu adalah bagian dari tradisi memuliakan orang yang lebih tua  adanya panggilan Mba, Mas, Abang Uda dsb. Itulah bagian dari memuliakan  Leluhur, Nenek Moyang terutama Ibu, dalam Konsep Indonesia Ibu sangat Luas, dan ini Ibu tersebut dalam lagu Indonesia Raya, jadi Pandu Ibuku, putra-putri semuanya Warga Negara Indonesia bertugas “memandu” Ibu (Tanah Air, Negara dan segala isinya), disamping itu secara nyata nama sebutan Ibu untuk fungsi biologis (anak yang dilahirkan/dirawat/dipelihara) oleh perempuan Ibu ada berbagai sebutan seperti   Ine  di Gayo Aceh; Nande di Batak Karo; Amak di Minang, di Jawa a.l:  Enyak, Emak di Betaw; Ambu, Mimi di Sunda; Simbok, Biyung di JawaTengah dan JawaTimur, Eb di Madura ; Dayak Ngaju Umai, Dayak Banua Inaq, Bugis Makasar anrong, amma, emma.

Pada masyarakat Batak perubahan antara kekerabatan menurut garis ibu menjadi garis bapak melalui permusuhan dan pertumpahan darah. Hal ini dimulai dengan mengubah tebusan atas perempuan yang dibawa pergi laki-laki menjadi harga pembelian. menurut Kutipan Bab II,  M.H Nasoetion gelar Soetan Oloan, “Kaum Wanita dan Sistim Marga” De Plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij, dissertatie Uttrecht 1943, “ dalam Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978.,  Hal.6

Blog at WordPress.com.

Up ↑