Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Seminar Argoekologi Nusantara, Bogor 2016

Agroekologi: Jalan Lurus Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Indonesia
Bogor, 29 November 2016, kampus IPB Dramaga diharapkan dapat andil mengembalikan kedaulatan bangsa dibidang ekonomi, khususnya ekonomi bersumber dari tanah dan air Nusantara, dan melalui Seminar Argoekduaagoekologi22ologi Nusantara diharapkan tukar pikiran dan berbagai pengetahuan pengalaman yang dapat dipraktekkan bersama secara kelompok atau individu mandiri. Seminar agroekologi nusantara dengan tema Agroekologi Jalan Lurus Kedaulatan Pangan yang diselenggarakan oleh Departemen Proteksi Tanaman IPB, Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB, dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) di Kampus IPB Darmaga.

Didalam Pers Rilis yang dikeluarkan panitia, dinyatakan antaralain:IPB Bogor
> Pendekatan pembangunan pertanian selama ini tidak memperhatikan aspek keberlanjutan dapat mengancam produksi dan ketersediaan pangan. Degradasi ekosistem pertanian terjadi secara masif. Praktek pertanian dilakukan penggunaan input pertanian (pupuk, pestisida, herbisida sintetis) secara tidak tepat, berlebihan dan terus menerus secara menjadi penyebab kerusakan eksositem pertanian. Lahan semakin tidak subur, serangan hama penyakit meningkat adalah contoh dampak yang ditimbulkannya.
>kondisi ini dapat mengancam cita-cita swasembada dan kedaulatan pangan sebagaimana nawacita.Diperberat juga dari dampak perubahan iklim. Produksi pertanian terus berfluktuasi yang berujung impor. Pada tahun 214 saja tercatat 18 juta ton atau setara dengan 7,6 miliar USD Indonesia mengimpor tanaman pangan.

Menjawab persoalan tersebut pendekatan agroekologi menjadi alternatif model pembangunan pertanian masadepan. Agroekologi mengedepankan aspek keberlanjutan dan keadilan bagi lingkungan dan petani. Negara-negara maju semisal Prancis, Jerman dan beberapa negara Amerika Latin telah menerapkan model ini dan terbukti mampu menjawab kebutuhan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun sayang, agroekologi tidak dipilih menjadi kebijakan karena dianggap tidak memiliki produkitivitas tinggi.

Menurut Dr. Suryo Wiyono, ketua panitia Seminar Agroekologi Nusantara, yang juga Ketua Departemen Proteksi Tanaman, Faperta IPB, kebanyakan masyarakat, termasuk para ahli dan pengambil kebijakan menganggap bahwa produksi yang tinggi harus dilakukan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, dan sebaliknya kalau praktik ramah lingkungan itu produksinya rendah. Anggapan tersebut bertentangan dengan hasil penelitian dan fakta di lapangan.

Ada hubungan resiprokal antara pertanian dan lingkungan. Lingkungan yang baik merupakan prasyarat bagi produktivitas pertanian tanaman yang tinggi dan berkelanjutan. Penelitian dan pengalaman lapangan di Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB selama 10 tahun terakhir menunjukkan hal itu. Penggunaan pestisida kimia kimia sintetik yang salah dan berlebihan pada tanaman padi telah memacu ledakan wereng coklat dan epidemi penyakit blas. Salah satu bentuk penerapan prinsip agroekologi yang dikembangkan Proteksi Tanaman IPB yaitu Teknologi Pengendalian Hama Terpadu Biointensif Padi sawah yang sudah diuji di 19 lokasi. Teknologi ini menurunkan penggunaan pupuk kimia, mengurangi pestisida 100 % dan meningkatkan produksi padi rata-rata 27 %.

“Nawa Cita mengamanatkan perwujudan kedaulatan pangan. Agroekologi merupakan jalan untuk mewujudkannya karena menjadi salah satu pilar kedaulatan pangan. Agroekologi mengusung nilai-nilai keberagaman, keberlanjutan dan juga keadilan dalam pembangunan pertanian dan hal ini yang belum nampak” ungkap Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).

Menurutnya, agroekologi merupakan bentuk produksi pertanian yang memungkinkan terjadinya proses mengatur dan membangun komunitas untuk menentukan nasib sendiri. Agroekologi mensyaratkan masyarakat memiliki akses dan kontrol terhadap sumber daya lokal seperti tanah, air dan benih. Tujuan agroekologi adalah untuk mencapai lingkungan yang seimbang dengan hasil yang berkelanjutan, didukung regulasi dan desain diversifikasi agroekosistem dan penggunaan teknologi rendah input.

Sementara itu, Dodik Ridho Nurrochmat, Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB, agroekologi haruslah menjadi paradigma bersama semua sektor dan menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan. Egoisme sektoral harus dipinggirkan karena pencapaian kedaulatan pangan melalui agroekologi memerlukan dukungan dan sinergitas antar sektor, mulai dari memastikan kecukupan lahan, bibit unggul, saprotan, pasca panen, sampai dengan aspek pemasaran dan kesiapan sumberdaya manusia”.

Adapun Prof. Damayanti Buchori, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB mengingatkan bahwa agroekologi saat ini telah menjadi tuntutan. Negara-negara maju telah membuat kebijakan dan mengimplementasikan agroekologi. Di Indonesia perlu dilakukan mainstreaming hal ini dan ini menjadi kewajiban semua pihak untuk melakukannya sebagai bagian upaya memajukan pertanian di Indonesia. Sebab pertanian menjadi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indonesia harus mampu merumuskan konsep agroekologinya sendiri berdasarkan keragaman nilai dan ekosistem, falsafah dan praktik-praktik pertanian tradisional nusantara. Dengan seminar agroekologi ini diharapkan akan muncul sebuah gagasan, arah dan langkah baru dalam mendorong pembangunan pertanian masa depan yang mampu mensejahterakan petani dan melestarikan lingkungan hidup serta mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.
————————————————————————————————————————
Informasi lengkap:
1. Dr. Suryo Wiyono, Ketua Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB Bogor, 0813 9853 5771, suryowi269@gmail.com
2. Dr. Dodik Nurrochmat, Direktur Kajian Stretegis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB, 0812 1214 5223, dnurrochmat@gmail.com
3. Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), 0813 8215 1413, ayip@kedaulatanpangan.net

@umilasminah

Review film: Ola Sina Inawae (Walaupun Kami Perempuan) Perempuan Berjalan Tanpa Batas Perempuan sambil Membuat Jalan

Ola Sita Inawae Perempuan Berjalan tanpa Batas berjalan sambil Membuat Jalan
Film ini diproduksi PEKKA Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga bekerjasama dengan Yayasan Biru Terong Indonesiaidukung oleh MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan). Sutradara film ini Vivian Idris dari Blue Terong Initiative . PEKKA adalah lembaga yang sejak 2002 mendampingi perempuan kepala keluarga untuk berdaya, dan menempatkan perempuan dalam konteks kesejatian manusia dengan hak-hak dan kewajibannya. Mengangkat wacana identitas perempuan ‘janda’ ‘lajang’ sebagai teladan dan warga negara sejajar dengan warga negara manapun.Perempuan kepala keluarga dalam PEKKA adalah perempuan janda yang ditinggal mati suami atau cerai yang harus menanggung kehidupan anak dan keluarganya,perempuan yang ditinggal suaminya merantau atau suaminya poligami, serta suami yang tidak lagi dapat menjalankan tugas menanggung keluarga sehingga perempuan yang menanggung hidup keluarganya (Kepala)photo-ina2, atau perempuan lajang yang mempunyai tanggungan di keluarga.Para perempuan tersebut dalam komunitas kemudian diberdayakan, diorganisir oleh PEKKA.
Proses produksi film Ola Sita Inawae Perempuan Berjalan tanpa Batas berjalan sambil Membuat Jalan. Ola Sita Inawe artinya Walaupun Kami Perempuan, berbentuk dokudrama mengisahkan tentang perjalanan seorang aktivis PEKKA, Dete mengorganisir perempuan kepala keluarga di desa Haniwara, Kab.Adonara NTT.
Sebelum pemuataran film diputar Behind The Scene, dokumentasi proses pembuatan, riset dan pernak-pernik dari mereka yang terlibat. Akris yang adalah pelaku asli, juga terlibat bersama para kru film yang berasal dari Jakarta.
Film ini layaknya biografi organisasi PEKKA yang dipotret melalui perjalanan salah satu pekerjanya Dete (Bernadete Deram) perempuan kelahiran Lembata yang meninggalkan posisi PNS untuk menjadi pekerja PEKKA. Dibuka dengan dialog antar Dete dengan kedua orang tuanya, memohon restu, kemudian tampil gambaran perjalanan Dete di atas perahu dari Kabupaten Lembata menuju Kabupaten tempat kerja di desa Haniwara di Adonara Flores Timur. Inilah salah satu berita nyata tentang geopolitik, geososial yang dapat dilampuai oleh perempuan NTT demi bekerja dan berjuang di komunitasnya.
Cerita selanjutnya adalah kisah Dete menjalankan pekerjaannya, mengorganisir komunitas: berijin legal formal pada pemerintah lokal, memperkenalkan diri, dan mengajak perempuan ikut dalam kegiatan pemberdayaan dengan pintu masuk lembaga formal di desa. Ada seorang perempuan, Aisyiah, dari Padang, dimana pertamakali datang ke Adonara Dete diterima olehnya. Dialah yang membuka pintu Dete di Kantor Kepala Desa untuk bicara dengan warga, Aisyah ini disebut PL (Petugas Lapangan), ada beberapa kali adegan ditampilkan untuk memperlihatkan siapa Aisyah ini.
Selanjutnya kisah Dete, menjangkau warga di desa. Salah seorang kepala keluarga Diah menyambut baik Dete, katanya “karena tidak membawa Uang, kalau membawa uang tidak akan menghasilkan apa-apa”. Diah ini gambaran tangguh dan teladan perempuan lajang, memakai tongkat, menghidupi ibu, dan keponakan (yang ditinggal orang tuanya merantau) merupakan percikan-percikan cerita bagaiamana PEKKA diterima dan bagaimana Diah dalam kondisi disabilitasnya menghidupi keluarganya dengan bekerja keras. Ada adegan saat ia menjahit, lalu ada orang berbelanja di warungnya, ia menghentikan sebentar menjahitnya. Namun ketika Dete mengajaknya rapat PEKKA (yang dilakukan dirumahnya), ia tidak berhenti menjahit, karena jahitannya sudah ditunggu oleh pelanggannya.

Film juga dibintangi oleh pendiri dan ketua PEKKA, Nani Zulminarni selaku Ek Ketua PEKKA dengan perannya nyata yang pernah dijalaninya sebagai fasilitator di komunitas. Di sini ditampilkan secuplik kisah berbagai latar belakang anggota PEKKA. Ada kedukaan tentang para suami, ayah dan kisah mengapa mereka harus menanggung hidup keluarga. Juga menampilkan adegan sederhana tentang menampung mimpi dan harapan yang menggugah para anggota PEKKA. Kisah pengorganisasian ditampilkan dalam cuplikan-cuplikan Dete datang ke rumah warga perempuan, rapat di kantor desa, adegan rapat duduk ditikar, buku tabungan, belajar pembukuan keuangan, guru mengajar di kejar paket C dan kegiatan menenun, mengupas kelapa.

Tak ada cerita menarik jika tak ada drama. Maka adegan seorang tokoh desa yang membawa golok datang ke lokasi rapat PEKKA yang marah-marah ditampilkan sekilas. Juga sekilas kegalauan Dete karena ancaman tersebut yang disampaikan kepada Ayahnya untuk dimohonkan doa. Film hampir saja bisa menjadi docudrama menarik, jika saja konflik juga berhasil ditampilkan secara utuh, agar dapat menarik pelajaran. Mungkin ada alasan tertentu sehingga konflik yang terjadi dalam cerita, tidak dieksplorasi. Konflik muncul kelalaian penggunaan uang dari PL (Petugas Lapangan), dan ini ditampilkan tidak dengan emosi…sehingga rasa drama-nya hilang. Gambaran-gambaran cerita dalam namun kurang dramatis dialog dan drama perpindahan adegan terlalu tajam dan cepat. Namun ada adegan yang alurnya lambat sekali dan bisa dihilangkan. Bisa jadi karena pertimbangan bahwa persoalan sudah selesai, dan semua pemain adalah dirinya sendiri.

Sebagai aktivis yang juga memuliakan kearifan lokal, menonton film ini menarik, ada lucunya, banyak yang bisa diambil sebagai pelajaran dibalik teks dan gambarnya.

Sebelum menyaksikan filmnya, penonton disuguhi Behind The Scene, yang berdfilmola-sitaurasi 60 menit, sehingga ada gambaran tentang proses dan pembuatannya termasuk keterlibatan para perempuan yang menjadi pelaku sekaligus membantu produksi film. Sebagai Seni Kerterlibatan, dengan 80% crew produksi adalah warga lokal, film Ola Sita Inawae patut diapresiasi mengingat warga desa, staf nasional PEKKA, maupun Terong Biru Initiative sama-sama mengalami pengalaman pertama. Pengalaman pertama yang baik dan tak akan terlupakan bagi semua. Film Ola Sita Inawae adalah cuplikan bagi publik tentang PEKKA dan kerjanya selama dua belas tahun mendukung perempuan kepala keluarga di 20 provinsi di Indonesia serta memberi manfaat pada lebih dari 50.000 perempuan. Pemutaran film di PPHUI Kuningan, Jakarta lumayan menarik banyak penonton. Siapapun yang menontonnya pasti juga merasakan semangat dan optimisme, keragaman daya dan identitas sebagai bangsa sebagaimana manfaat yang dirasakan puluhan ribuan perempuan PEKKA.@umilasminah

Siaran Pers RELAWAN PEREMPUAN UNTUK AHOK-DJAROT #KITE Adje

Siaran Pers
RELAWAN PEREMPUAN UNTUK AHOK-DJAROT
#KITE Adje
21 Oktober 2016
Penandatanganan Deklarasi Relawan Perempuan Mendukung Ahok – Djarot
Jakarta, 21 Oktober 2016 – Hari ini Relawan Perempuan untuk Ahok – Djarot menandatangani deklarasi untuk mendukung Basuki Tjahaya Purnama-Djarot Saiful Hidayat sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Pada Pilkada Serentak diseluruh Indonesia pada tanggal 15 Februari 2017.
Deklaras ini adalah komitmen relawan perempuan Jakarta untuk memenangkan Ahok-Djarot agar Kedua Beliau TETAP sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Dibawah kepemimpinan Ahok-Djarot Jakarta menjadi contoh pembangunan kota Indonesia yang modern mendahulukan hak dan pelayanan rakyat, tertata rapi, dan manusiawi, hjau, dan fokus pada terpenuhinya kebutuhan materil dan spirituil warga Jakarta.Dibawah kepemimpinan Ahok-Djarot pula hadir birokrasi yang melayani bersih, transparan, murah dan profesional.
Atas fakta tersebt dan inisiatif bersama para relawan perempuan Jakarta pada 18 Oktober 2016 sepakat untuk membantu Memenangkan Ahok – Djarot untuk Tetap Menjaga Pencapaian yang sudah ada dan Terus Melayani Rakyat Jakarta sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017-2022.
Relawan Perempuan Jakarta menggabungkan diri dalam Kite Adje, karena Kita telah merasakan dampak baik dari Kepemimpinan Ahok-Djarot, maka akan berkampanye keberhasilan-keberhasilan Ahok-Djarot dengan sehat dan damai.
Komitmen Relawan Perempuan Indonesia disampaikan sebagai ajakan pada semua Warga Jakarta yang sama seperti Kita, yang telah merasakan sendiri baiknya kebijakan Ahok-Djarot bagi warganya, untuk turut Aktif memenangkan Ahok-Djarot karena akan ada Ancaman tidak berlanjutnya Kebijakan yang baik bagi rakyat bila Gubernur dan Wakil Gubernya ganti.
Dengan ini, maka mulai hari ini, Ibu Siti Aminah akan tercantum sebagai ketua Relawan Perempuan #kite ADje untuk Ahok-Djarot.
Teman-teman, mari kita wujudkan Niat Baik ini mari bergabung bersama Kite-Adje ceritakan pengalaman Bahagia anda karena KebijakanAhokDjarot dan pastikan Ahok – Djarot TETAP sebagai Gubernur Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Penggusuran dan Bukan Penggusuran

Penggusuran adalah ketika manusia yang datang dan tinggal di tanah dan air tempat dia dilahirkan, dia jaga, dia rawat Alamnya, dengan meminta Ijin pengelola Alam yang tampak (Raja, Kepala Adat) dan Tak Tampak, lalu datang orang-orang lain yang tidak tinggal di tanah air itu, tetapi mengeksploitasi Alam nya (Pengusaha Kelapa Sawit, tambang & perkebunan lainnya) Mereka yang digusur, dari tanah yang dijaga untuk menghidupinya, dan menghidupi semua. Itu terjadi di kalangan masyarakat adat. Itulah sejatinya Penggusuran, tercerabut dari tanah dan air, tidak dapat lagi terikat/berhubungan dengan Alam (binatang dan tanaman), terputus dari Jejak Budaya Alam-nya yang lahir dari hubungan dengan pohon, binatang, hutan, pantai, sungai dan gunung. Jejak Budaya yang melahirkan Tari,Seni,Tenun,Obat Herbal, Makanan,Musik..dan tentu Jejak Para Leluhurnya. Marcus Colchcester sangat bagus menulis ini di buku Salvaging Nature Indigenous Peoples, protected areas and Biodiversity Conservation.
Adapun orang yang tinggal di pinggir kali,sungai mereka datang berkumpul juga melalui ijin yang tampak…tapi apakah mereka juga merawat, menjaga Alam dan ijin dengan yang tak tampak? Mereka datang bersama dan sistem yang tidak tegas, dari suatu kondisi yang struktural Tidak Mengenal Penghormatan Alam, pemerintah lampau dan masyarakat lampau (lompatan agraris industri yang tiba-tiba) melanda Jakarta 1960an. Menempati bantaran sungai…pinggir jurang…membahayakan diri sendiri atau tidak itu bisa diperdebatkan, namun pada konteks modern mudah gambaran materilnya..dapat dilihat sendiri.
Presiden Jokowi dulu rumahnya digusur, karena untuk pembangunan jalan kereta…
Bagaimana jalan kereta itu kini… Lampau ini modern, yang instant industrial, bukan masalalu Nuswantara, dimana tatakrama, keteraturan, dan penghormatan Alam adalah hal utama.
Masalalu Nuswantara teratur, tempat2 dan lokasi terbagi dalam Ketertiban Harmoni Alam
1) Sungai/Laut: tempat lalulintas manusia dan hidupnya hewan&tumbuhan sungai, dan (tahta) Penjaga Alam
2) Hutan: tempat hidup pohon,hewan,mahluk dan (tahta) Penjaga Alam, tempat mencari makan dan kebutuhan manusia
3) Kebun, Sawah,Tambak: tempat manusia menyiapkan/rekayasa pangan untuk kebutuhan bersama penghuni Alam yang Nyata dan Samar.
4) Rumah Penduduk, Kantor Pemerintahan/ Pelayanan, Pasar, dan Perusahaan Pemenuh Kebutuhan.
5) Keraton/Istana dan Tempat Pemujaan yang Megah
6) Kaputren/Ksatrian: menyatu dengan Keraton yang menelurkan pemuda/i ksatria pemimpin bangsa
7) Padepokan/Pagrogolan tempat sekolah dan tempat diri untuk berbagai karir, tempat olahraga Pada masalalu Hutan ada dalam Naungan Maharaja/Maharatu karena biasanya Hutan dekat dengan Gunung (Kaki Kahyangan) tempat para dewa-dewi rawuh/turun ke Arcapada Bumi. Sehingga ada masanya Raja memberikan daerah hutan untuk dibabad alas, Hutan ditebangi untuk dijadikan Pemukiman, kepada mereka yang diberi Anugrah oleh Raja…sehingga berketurunan dan menciptakan desa/kota baru, semua melalui TataCara Alam, komunikasi dengan Hyang Berkuasa.
Makro Kosmos dan Mikro Kosmos tidak sekedar apa-apa yang tampak dipermukaan yang terlihat belum tentu yang sesungguhnya seperti kelihatannya. Bagaimana pun, saya sendiri bisa dibilang korban penggusuran sistemik karena selaku PNS bapakku harus pindah rumah dari yang dulu di Pondok Pinang Jakarta Selatan yang luas berdampingan dengan Kebon Karet (ibu masih sempat buat makanan dari biji buah karet), kebon singkong, dan masih memasak dengan kayu bakar dan hidup dengan burung dan hewan liar saat itu di Jakarta.
Pindah ke tempat sekarang yang jauh berbeda. Ssaya tidak sempat merasakan budaya makan biji karet itu…
Namun didalam Konteks terkini, dimana Jakarta Raya mungkin saja jadi Penanda Kebangkitan Nuswantara seperti masalalu, ataukah Penanda Kebangkitan namun harus hancur dulu…secara sosial dan Alami…
Mari kita nantikan bersama.

Gerakan Petani Mempopulerkan Pangan Lokal

sorgum
Sorgum, yang dibawa dari NTT, sudah direbus/kukus agar tdk rontok.

Jakarta,30Mei2016, Kalibata. Forum Desa Mandiri Tanpa Korupsi bekerjasama dengan Dirjen Kemterian Desa,Transmigrasi mengadakan diskusi Temu Penggerak Pangan Lokal yang menghadirkan dan dihadiri petani penggerak pangan lokal dan pakar isu kedaulatan pangan, dan serta hadiri pendukung pangan lokal.

Secara keseluruhan diskusi yang dibagI tiga sesi memiliki satu garis optimisme untuk dan ingin berubah ke arah lebih baik dalam penyediaan

(produksi,distribusi dan harga) dan pengelolaan pangan lokal. Diundangnya pelaku dan penggerak pangan lokal berbagi cerita dan visi sesuai dengan kondisi dunia yang sedang mengalami kegalauan karena perubahan iklim. Kondisi yang secara ril berubah sejak kegiatan pertanian sebelumnya dinduksi oleh pemerintah Indonesia dan diseluruh dunia (industrialisasi komoditas pangan).
Acara diskusi ini diawali dengan pemaparan Bambang Ismawan dari Bina Desa yang mengakui bahwa permasalahan pertanian hingga kini belum banyak berubah dari egei pengelolaan. Adapun Dirjen Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes PDTT, Prof. Erani Yustika, tiga pilar Matra Pembangunan Desa dalam memperkuat kemandirian pangan desa. Pertama, menguatkan Jaringan Komunitas Wiradesa di tingka

t petani dengan meningkatkan kapabilitas dan kapasitas petani sebagai subjek pengolahan sumber daya pertanian. Kedua, mewujudkan kemandirian ekonomi desa melalui redistribusi kepemilikan aset produktif, seperti lahan, modal, dan sebagainya secara berkeadilan, dan ketiga mendorong partisipasi dan kerja sama masyarakat dalam memuliakan pangan khas lokal sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan bagi kesejahteraan masy

Para naracerita, berbagi pegalaman
Para naracerita, berbagi pegalaman, dengan moderator Eveline dari Ashoka menggendong anak

arakat.Secara terbuka juga diakui Bulog yang pada masalalu menjadi contoh acuan harga pangan bagi negara lain, kini tak memiliki fungsi yang sama. Yang paling menarik adalah kalimat Profesor Erani tentang bagaimana Pertanian membentuk dan memperkaya Bahasa. Sehingga ketika Sorgum kembali dikenal, nama itu tidak dikenal, jenis tanamannya ketahui oleh anak jaman sekarang, artinya ada warisan yang hilang. Secara nyata bahasa dan bobot budaya ditentukan oleh pangan, kebudayaan ditentukan oleh kehidupan warga tradisinya yang agraris dengan keseluruhan prosesnya menghidupi budaya.Namun itu hilang ketika ada intervensi pembangunan termasuk LoI dengan IMF dan liberalisasi perdagangan termasuk kebijakan lainnya.
Diskusi yang dinantikan adalah ketika penggerak pangan lokal berbagi cerita tentang apa yang dilakukan, hambatan dan keberhasilan. Dimulai dengan kisah penanaman tanaman pangan Sorgum di NTT, yang disampaikan Maria Loretha kisahnya dimulai dengan pemutaran film gambaran desa, adegan ladang Sorgum yang tinggal 2 minggu siap dipanen di buldoser, pemerintah dan akan ditanami padi. Berangkat dari video tersebut Maria Loretha menyampaikan bahwa penanaman Sorgum sesuai dengan UU Pangan 18/2012, Peraturan Menteri Pertanian. Sehingga seharusnya pemerintah mendukung inisiatif menanam pangan bukan beras.

Namun selLabu dari Garut, tanpa pupuk.ama ini pemerintah berpaku pada beras, bahkan mengirimkan dan memberikan benih tanaman yang tidak sesuai dengan kontur tanah. Hal tersebut seringkali menyulitkan petani yang tergantung pada pemerintah, yang seringkali tak dapat berkelit ketika mengalami masalah tanam karena benih/bibit yang diberikan pemerintah tak berikan jalan keluar. Ketika Maria Loretha pun memperkenalkan Sorgum,ada penolakan dengan pertanyaan, “siapa yang akan membeli”, dengan paparan nada gemas Loretha menyampaikan tanam dulu, ini untuk dimakan. Tanah di NTT memang kering, berbatuan, savana namun ada juga berbatu-batu yang menurut Puji Sumedi, pendamping petani dari Yayasan Kehati, menyampaikan optimisme ke Maria Loretha “itu Batu Bertanah” sehingga lembab dan subur bisa ditanam. Sehingga Sorgum semula petani sulit untuk ditanam secara luas dengan petani, namun ketika terbukti pada musim kering ketika jagung, dan beras mati hanya Sorgum yang tumbuh. Buah dari kerja keras Maria Loretha dan warga di Flores berhasil, Sorgum menjadi makanan pokok dan diolah dengn berbargai inovasi. Bahkan peserta yang dihadir dapat mencicipi kue kering (yang dicampur kacang tanah) yang terbuat dari Sorgum. Yang lebih menjanjikan lagi sorgum tidak mengandung gluten dan tidak membutuhkan air banyak dalam menanamnya. Bukti bahwa Sorgum adalah pangan asli berbagai daerh adalah namanya beragam-ragam di daerah Indonesia di Jawa disebut Cantel penmina atau penbuka dll.

Setelah paparan dari NTT, kemudian cerita pengalaman dipaparkan oleh Sudarmoko, seorang yang pernah bekerja difood korporasi di Selandia Baru dan belajar tentang peternakan. Bisa dibilang Sudarmoko sebagai enterpreneur tani yang sukses berternak sapi, ikan juga tanaman penunjang, penghasil bio gas untuk listrik di Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Didalam usaha tani ini, beliau juga bekerjasama dengan universitas untuk penelitian dan pengembangan berbagai jenis produk pertanian yang diproduksi secara organik, termasuk pupuk dan metode tanam buah.

Selanjutnya Nissa Wargadipura,dari Pesantren Agroekologi AthTaariq, menceritakan kisahnya tentang bagaimana mulanya adalah pemimpin organisasi Serikat Tani Pasundan yang dilakoninya sejak 1994, dan kemudian 2008 memilih untuk terjun bertani bersama suaminya Ibang Lukman (keluarga pesantren) mencari solusi keseluruhan kehidupan pertanian didesa. Yang ditemuinya adalah pelajaran bahwa, Monokultur menjadi penyebab keterpurukan petani. Bahkan di wilayah yang menanam holtikultura satu jenis tanaman sayur. Petani menanam kok saja, wortel saja banyak petani terpuruk (ketika harga jatuh). Ketiadaan daulat tani atas benih dan pupuk. Benih tidk dibuat sendiri, padahal tradisi membeli benih itu tidak ada. Konsep Argoekologi pesantren sawah sesungguhnya pertanian bahasa saya “kembalikan habitatnya” menyatu dan mencintai alam sebagai mana adanya. Ketika dijabarkan bahwa argoekologi bertani tidk mencangkul, saya agak bingung, ternyata ada tenaga lain yang melakukan, Bebek bermain ditanah becek, padi ditanam. Juga hewan-hewan lain hidup sesuai siklus hidup ekosistemnya. Ular,capung, kunang-kunang, burung, semua bersimbiosis hidup sebagai ekosistem alami. Dalam bahasa saya kembali menciptakan hutan dan sawah sejati. Jadi konsep argoekologi tidak memakai pupuk yang dibuat manusia, semua berproses sendiri. Tanaman yang berbuah besar labu yang ditampilkan kepada peserta tidak diberi pupuk, tetapi hanya memakai sayuran sisa-sisanya…Jika pada pertemuan 2015 Perempuan Lingkungan di Salemba UI, belum ada minyak kelapa kini Pesantren Atthariq juga membuat minyak kelapa. Kedaulatan pangan sejati memang lama, dan panjang harus dimulai dari dDSCF1210esa, dari keluarga.

Sesi terakhir adalah sesi analisa sedikit akademik. Pemaparanya, antara lain memberi informasi tentang maritim oleh Riza Damanik dengan data dan masalah seputar produksi ikan konsumsi dan luas budidaya. Pemaran selanjutnya Benito Lopulalan yang memberikan gambaran usulan rantai pasok pangan untuk dikelola ditingkat desa, semua memutar untuk lokal bagi lokal. Adapun pemapar terakhir mba Hira kembali mengutip Mansur Fakih menekankan salah urus dan kelola pertanian adalah penyebab keseluruhan masalah pangan di Indonesia, terutama Penguasaan Benih, siapa Penguasa Benih dia penguasa Pangan, menguasai pangan Negara itu menguasai Dunia. Seharusnya ada Undang-undang benih yang melindungi sistem pembenihan yang dianut petani, sehingga petani boleh dan bisa memperjualkan benih yang mereka proses sendiri tidak malah dihukum.
Menurut informasi yang diterima, acara yang digagas Forum Desa Mandiri Tanpa Korupsi, acara ini sebagai permulaan dari langkah ke depan untuk meningkatkan gerakan pangan lokal.@umilasminah

Reses Anggota DPRRI Diah Pitaloka: Menguatkan Konstituen Cianjur

Jakarta, 10Mei 2016. Pada masa reses Masa Sidang DPRRI Mei 2016, wartafeminis mendapat kesempatan mengikuti perjalanan Diah Pitaloka bertemu konstituen di daerah pemilihannya yaitu Jawa Barat 3, Cianjur (3840km) dan Kota Bogor. Diah Pitaloka adalah anggota DPR terpilih untuk Pemilu Legislatif 2014-2019 dengan suara 31.993 suara , dan termasuk salah satu perempuan yang terpilih dalam daftar rekomendasi perempuan berkualitas untuk dipilih dari GPPSP dan Puskapol UI (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=677968688934706&set=g.143684092463851&type=1&theater).
Sepanjang perjalanan pergi pulang Jakarta-Cianjur dan desa yang dikunjungi total berjarak lebih dari 650km

Dengan pekerja pengrajin jamur
Dengan pekerja pengrajin jamur
Dengan warga desa
Dengan warga desa
Sosialisasi
Sosialisasi

dengan melewati Jalan Marwati ujung desa hingga melalui Kecamatan Cikalongkulon yang melewati sungai,jembatan sawah dan pepohonan melalui wilayah Jakarta jalur Ciawi ke Cipanas. Hari Pertama wartafeminis mencatat bagaimana Diah Pitaloka menyapa, berdiskusi, tukar informasi dan menyerap aspirasi konstituen. Perjalanan dimulai di Desa Ciherang bertemu dengan petani sayur mayur. Para petani yang ditemui antara lain penghasil komoditas seledri, cabe dan wortel. Dari pertemuan dengan para petani ditemukan bahwa hingga kini biaya yang dikeluarkan petani lebih besar dari harga jual hasil tanaman, terutama pada saat panen komoditas sayuran sejenis. Artinya ketika mayoritas petani cabe panen, maka harga jual cabe turun. Padahal biaya produksinya tinggi. Sedangkan ketika tidak musim panen harga ada harga tertinggi yang ditetapkan oleh Pengepul dan itu biasanya merupakan harga tetap tertinggi ditingkat pengepul. Untuk mensiasatinya petani menanam tanaman yang beragam sehingga selalu ada komoditas sayur yang bisa tanam dan panen secara bergiliran dan tidak serentak. Menanggapi hal tersebut Diah Pitaloka antara lain mengemukakan kemungkinan dibentuk koperasi penampung sayur-sayuran sehingga dapat dijual langsung ke pembeli/konsumen. Yang disambut baik oleh petani.
Pada kesempatan kunjungan ke petani sayur, Diah juga sempat mendapatkan aspirasi dari Kepala Desa terkait Kartu Indonesia Sejahtera dan Kartu Indonesia Sehat, dimana menurut Kepala Desa … selama ini pendataan dan pemberian Kartu dilaksanakan oleh Dinas Sosial dan aeringkali tidak berkordinasi dengan kepala dssa dan kantor kepala desa setempat dandata yang dipakai adalah data lama yang belum pemutakhiran.
Terkait hal ini telah ada UU Resi Gudang, selayaknya dapat juga dimanfaatkan oleh petani sayur mayur.Perjalanan selanjutnya dsalah pertemuan dengan pengurus gabungan koperasi simpan pinjam dan produksi.Hasil pertemuan dengan pengurus koperasi ini antara lain untuk melakukan review kebijakan terkait Kredit Usaha Rakyat, dimana adanya potensi pemberian KUR yang tidak dibarengi penelaahan dan koreksi menyeluruh dapat membuat usaha jasa keuangan Koperasi simpan pinjam yang dikelola rakyat akan tersingkir.
Pada hari kedua, Diah Pitaloka menghadiri pertemuan dengan warga dan pengurus lembaga desa, tokoh masyarakat, staf kantor desa mengikuti pelatihan SIDK Sistem Informasi Desa dan Kewilayahan di Desa Cikajang,  Desa Cimacan. Diah Pitaloka hadir untuk mensosialisasikan tentang Dana Desa transparasi anggaran dan terkait dengan SID. SID sendiri merupakan amanat UU Pengertian Sistem Informasi Desa (SID) berdasarkan undang undang tersebut adalah meliputi fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan, serta sumber daya manusia. Jauh sebelum UU Desa lahir, Combine Resource Institution (CRI) telah mengembangkan Sistem Informasi Desa.UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Pada pelatihan yang diinisiasi oleh Fitra dan Yayasan Prakarsa Desa ini Diah Pitaloka menyampaikan sambutannya terkait pentingnya masyarakat mengetahui anggaran yang menjadi hak warga, terutama yang termasuk dalam flafon Dana Desa yang akan memasuki tahun kedua.

Demikian sekilas kegiatan Reses Diah Pitaloka, Anggota DPRRI Daerah Pemilihan Jawa Barat III, Kota Bogor dan Cianjur.

Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan LBH APIK 2015

Ratna Batara Munti, Direktur LBH APIK Jakarta (berdiri)
Ratna Batara Munti, Direktur LBH APIK Jakarta (berdiri)
KiKa: Iit, Polisi, Moderator dan BPHN
KiKa: Iit, Polisi, Moderator dan BPHN

Continue reading “Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan LBH APIK 2015”

Tari Cokek Sipatmo, Lentera Benteng Jaya Seni dan PelestarianNilai

Continue reading “Tari Cokek Sipatmo, Lentera Benteng Jaya Seni dan PelestarianNilai”

Kutipan Kartini: Pejuang Melampaui Jamannya

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑