Gerakan Perempuan Indonesia Tanpa Ideologi

Pada Term of Reference Temu Perempuan Nasional antara lain menyebutkan gerakan perempuan Indonesia mengalami kendala yang disebabkan beragamnya ideologi gerakan, saya tidak setuju, karena menurut pengamatan saya tidak ada ideologi dalam gerakan perempuan.

Hasil pengamatan dan pengalaman saya, gerakan Perempuan Indonesia yang selayaknya memiliki ideologi feminisme ternyata tidak berideologi feminisme. Feminisme yang saya amati selama lebih dari sepuluh tahun berkiprah dalam gerakan perempuan sekedar feminisme sebagai cara praktis berkegiatan (seminar, diskusi, pengorganisasian massa atau komunitas), dan bukan bentuk feminisme dalam artian metode strategi gerakan (sosialisme, radikal), tetapi benar-benar metode pelaksanaan kegiatan yang mungkin bagian utama dari strategi feminisme liberal. Feminisme yang tumbuh dalam gerakan sebagai cara praktis dalam seminar, rapat-rapat, diskusi dan mungkin beberapa sudah menerapkan dalam organisasi maupun struktur, tapi belum diadopsi menjadi ideology pribadi (persons politics) yang aktif maupun yang pensiun dari gerakan perempuan. Feminisme dalam konteks ini adalah feminisme gerakan kolektif dan individu yang secara simultan mengimplementasikan (terejawantahkan dalam keseharian) tujuan melawan dan menghapuskan seksime serta secara simultan melawan rasisme, klasisme yang ada (yang antara lain didorong oleh sistem kapitalisme).

Saya berkesimpulan sebagian kegagalan perempuan selama ini adalah karena feminisme belum menjadi ideologi gerakan, apalagi ideologi personal para aktifis perempuannya. Mengapa saya harus membedakan antara ideologi dan cara praktis. Cara-cara feminisme sebagai praktis memang telah diterapkan pada kurikulum pemberdayaan perempuan di berbagai lini komunitas bawah, menengah maupun atas, tapi yang membedakan ideologi Feminisme dengan ideology lain yang ada dimuka bumi ini adalah kata-kata inclusive-exclusive (femin(e)-isme, perempuan. Yang berarti barang siapa perempuan yang mengaku feminis, taruhannya adalah ideology (gerakan) itu sendiri. Tolok ukurnya sangat kasat mata (perempuan/female/wanita/woman) manakala seorang yang memakai cara praktis feminisme belum tentu ia berideologi feminis. Buktinya tapi apakah sebagai ideologi telah diterapkan didokrinasi sehingga menembus dan menetap ke alam bawah sadar aktifis perempuan (laki-laki) saya sangat menyangsikannya. Hal ini terutama karena sepanjang perjalanan sebagai aktifis saya mendapati bahwa feminisme sebagai cara-cara berorganisasi dan berkegiatan belum ‘menjadi’ dan ‘menjati’ pada diri aktifis perempuan yang berkegiatan dan mengunakan metode feminisme tersebut.

Saya tidak akan bermaksud menggunakan berbagai metode gerakan (dan teori) gerakan feminisme seperti sosialis, liberal, radikal, karena sebagai wacana dan teori bentuk2 feminisme ini lahir dan tumbuh di Barat dan yang survived dan menjadi mainstream adalah feminisme liberal.

Saya hanya menggunakan term feminisme sebagai mana yang dikemukakan oleh Bell Hooks, filsuf Afro-Amerika yang gigih (dengan penekanan tambahan gerakan kolektif dan individu ) yang mewacanakan dan mengkampanyekan “Feminisme bagi semua orang), feminisme menurutnya adalah “feminisme adalah gerakan untuk mengakhiri seksisme, seksis eksploitasi, dan penindasan” atau feminism defined as a movement to end sexist oppression enable men and women, girls and boys to participate equally in revolutionary struggle.

Berangkat dari pemahaman tersebut saya melihat betapa gerakan perempuan di Indonesia akhirnya terbelenggu dan tak dapat beranjak dari sekedar menggunakan “cara-cara praktis feminisme’ (cara-cara dan metode berprespektif gender) tetapi tidak menjadi “feminis” yang memegang ideologi feminisme. Hal ini tampak dari ketidak mandirian berbagai organisasi untuk memberdayakan anggotanya, stafnya, bahkan organisasinya sendiri. Organisasi perempuan di Indonesia bergantung dari funding-pendanaan pihak asing (Barat) padahal secara ideologis pihak inilah yang menindas bangsa Indonesia, termasuk perempuannya, dengan kapitalisasi segala bidang kehipuan dalam lingkup globalisasi. Ketergantungan ini juga tampak pada acara Temu Perempuan Nasional ini.

Jadi menurut saya hal yang paling harus krusial dan mengkhawatirkan adalah feminisme tidak menjadi ideologi para aktivis perempuan, yang mengaku aktifis dan bekerja untuk mengadvokasi berbagai hal dan kebijakan dengan cara-cara praktis feminisme. Hal ini tampak dari tidak adanya SISTERHOOD atau solidaritas politik sesama perempuan untuk mengakhiri seksisme. Tidak ada personal is political. Kekuatan ‘feminisme liberal’ yang memberi ruang kebebasan semua bagi pemenuhan seksual perempuan akhirnya tidak memberikan pembebasan yang sejati. Banyak ‘aktifis perempuan’ yang mengadopsi nilai-nilai seksisme (stereotipe perempuan lemah, objek, bergantung pada laki-laki dan lemahnya female bond). Di antaranya adalah mengobjekan dirinya ‘seksualitasnya’ sendiri untuk kepentingan laki-laki (dengan menjadi pasangan laki-laki yang sudah beristri atau sudah memiliki pasangan lain) atau mempraktekan poligami, atau memberi keleluasaan ‘kebebasan seksual’-perempuan bukan sebagai bagian perlawanan tapi justru melanggengkan kebebasan mengobjekkan seksual perempuan bagi laki-laki yang berpoligami. Sementara pasangan perempuan lain (non aktifis) yang pasangannya menjadi pasangan aktifis perempuan tidak mengetahui atau menyadari apalagi mengerti sisterhood. Sisterhood di sini berarti tindakan pribadi perempuan harus dinilai secara politik apakah melanggengkan patriarki atau menguntungkan patriarki. Lagi pula sexual freedom hanya bisa terjadi jika ada sexual justice. Sementara banyak aktifis memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dan seringkali tidak mengindahkan sisterhood perasaan/kepentingan sosial/politik perempuan lain.

Sebagai contoh konkrit adalah aktifis perempuan yang mempraktekan seksual bebas dengan melakukan hubungan seksual dengan laki-laki beristri/punya pacar, padahal istri/perempuan yang menjadi istri/pacar tersebut tidak tahu bahwa pasangannya punya pasangan lain, padahal ia akan keberatan dan sedih, serta tidak mau di poligami, apalagi memegang ideologi atau pandangan kebebasan seksual sama (‘sexual liberation’). Pada konteks ini perempuan tahu bahwa di Indonesia masih belum ada keadilan seksual, tetap saja mempraktekan kebebasan seksual yang belum tentu memiliki effek positif bagi gerakan pembebasan perempuan dari seksisme. Itu baru pilihan personal aktifis perempuan yang bisa berdampak pada keberlanjutan seksisme, aktifis perempuan yang mendukung seksisme.

Hal-hal yang lebih bersifat kolektif membutuhkan kesadaran dan praktek ideologi feminisme aktifis perempuan serta membutuhkan sisterhood action, aksi bersama aktifis perempuan untuk tujuan penghentian seksisme mungkin sudah dilakukan tanpa kesadaran ideologi feminis,melainkan sebagai cara praktis feminisme: advokasi kebijakan yang bersifat patriarkal, mendukung dengan kampanye, pemberdayaan perempuan di tingkat grassroot atau menengah, akan tetapi jarang sekali aktifis perempuan yang dengan kesadaran tinggi (bukan berideologi) memberi dukungan dana atau berkontribusi dalam bentuk material/barang atau tenaga secara sukarela dan spontan (secara pribadi), sehingga apapun akhirnya selalu bergantung pada organisasi (yang kita semua tahu dananya adalah dana dari luar negri/funding). Jadi yang “berideologi Feminisme adalah Organisasi Perempuan bukan aktifis perempuan”. Seperti saat Demo Hari Perempuan 8 Maret 2006 di Bapenas, dana tidak ada dsb. Tampaklah dalam realitas nyata kini, aktifis lama (generasi 1980an, 1990an) yang sudah mapan (bekerja di Funding Agency atau di Kapitalis Institut) tidak turut dalam aksi ini, apalagi menyumbangkan dananya. Hal ini menunjukkan tidak kontinunya dan konsistenya perjuangan aktifis perempuan. Bahwa regerasi diperlukan, tetapi lebih diperlukan lagi dukungan para aktifis perempuan yang sudah ‘mapan’, meninggalkan gerakan perempuan, manakala seksisme belum lagi tumbang sama saja melanggengkan patriarki. Bahwa pilihan pribadi itu bisa dihargai, ada baiknya, demi kelangsungan gerakan dan kepastian hasil di masa depan, perlu ada konsensus bersama dan komitmen bersama. Atau saat saya ikut dalam International Congress on Legal Pluralism Depok, Juni lalu, di mana saya harus membayar dengan dana pinjaman organisasi, meskipun saya menggunakan nama organisasi tersebut. Padahal mungkin jika organisasi KPI telah menjadi organiasi yang mandiri, para anggotanya (lintas kelas, lintas golongan, lintas agama) berkontribusi secara rutin dan telah memiliki program dan strategi pencarian serta penggunaan dana bersama, dan bukan program-program dari Funding, tentunya ada akan ada kemandirian dana bagi hal-hal yang dibutuhkan oleh para anggotanya. Sehingga manakala anggota KPI siapa butuh untuk peningkatan keahlian, atau kursus bisa saja mengajukan support funding dari KPI, tentunya setelah melalui sistem kesepakatan atau kompensasi. Sebut saja dana terebut diambil dari dana Support Donation yang terkumpul dari anggota berkecukupan. Saya juga sangat merasakan betapa sulitnya menjadi mandiri bila sendiri (secara ideologi) seperti saat membuat tabloid CERMIN.

Maka jelas sekali bahwa tanpa ideologi yang menjati, gerakan perempuan di Indonesia akan berjalan di tempat, bergantung pada pihak lain (pendanaan), dan tidak akan ada kontinuitas pribadi. Bila sudah aktifis perempuan sudah hidup mapan, yah sudah, regenerasi pekerjaan. Tanpa komitmen sumbang tenaga (volunteer) aplagi komitmen sumbang dana. Padahal gerakan itu bergerak, continue. Sudah banyak yang paham, bahwa Gerakan Sosial di negara dunia ketiga sengaja dibuat tergantung pada Funding Negara Dunia I yang kapitalistik dan yang membuat Negara Dunia Ketiga Tetap Tak Berdaya, tapi tak ada yang berbuat untuk mengubahnya.

Padahal Indonesia, sebagai negara besar, berpenduduk perempuan banyak dan memiliki landasan ideologi Negara yang secara prinsip bisa sejalan dengan gerakan feminis dapat mulai menanamkan feminisme sebagai ideologi penguat Ideologi Negara (theocracy, sosialist, nasionalist) dan dengan feminisme Tanpa Seksisme.

Pengalaman personal saya dalam berkegiatan memperjuangkan feminisme jelas sekali bahwa aktifis perempuan tak lebih hanyalah para perempuan yang sama dengan perempuan lainnya yang telah terbelenggu ideologi seksisme (pekerja profesional, ibu rumah tangga, dan mayoritas laki-laki) yang tujuan dalam hidupnya adalah mencari kemapanan dan kenyamanan di Dunia yang patriarkal ini (seperti perempuan feminisme liberal di negara kapitalis). Pada akhirnya tak peduli bila bekerja pada agen utama Seksisme di Dunia (negara2 di Amerika Utara dan Eropa Barat), toh yang penting sebagai pribadi hidup aman dan tenteram, persetan dengan perjuangan gerakan perempuan yang mungkin dulu pernah dijalaninya.

Pada konteks Negara Indonesia yang seperti sekarang ini, di mana Rancangan-undang-undang banyak yang merupakan titipan negara Kapitalis untuk keleluasaan Penguasaan Sumber Daya Alam/Tenaga Kerja Indonesa, dengan dibalut investasi dst, Perempuan sesungguhnya masih dapat Menjadi Agen Pertahanan Utama, karena perempuan lah yang menguasai kehidupan keseharian pemenuhan kebutuhan keluarga/masyarakat negara. Bisa dibayangkan apabila lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia memiliki kesadaran sebagai bangsa, dan kesadaran untuk menghentikan seksisme, pastilah Indonesia bukan hanya dapat menjadi negeri mandiri (mengatur, mengekplorasi, mengekploitasi kekayaan alam) secara positif bagi kelangsungan kehidupan ke depan.

Bagaimana caranya membuat feminisme menjadi ideologi yang menjadi pada aktifis perempuan/laki-laki. Dokrinasi yang terus menerus secara positif dengan memberikan teladan (contoh) para aktifis perempuan yang berbuat dan berprilaku tidak patriarkis, memberi contoh-contoh konkrit pilah-pilahan tindakan yang mendukung seksisme dan yang menolak seksisme. Mengapa seksisme perlu dihapuskan. Pada akhirnya semua perempuan dan aktifis menjadi bangga sebagai feminis, karena dengan ideologi feminisme kelangsungan kehidupan manusia ke depan lebih baik (tanpa kekerasan, tanpa penindasan, tanpa kelas, tanpa hirarki yang menindas).

Dengan sisterhood action persaudaraan perempuan tanpa batas yang lahir dari kesadaran ideologis feminisme maka perempuan Indonesia (yang lebih dari seratus juta) bukan tidak mungkin bisa mengubah kondisi sosial yang ada.

Sebagai penggemar sejarah, saya tertarik sekali ikut dalam temu nasional untuk melihat, menyerap dan merekam pertemuan perempuan ini.

Sisterhood is real, you just need to proove it.

Kata Kunci:

Feminisme<<<“feminisme adalah gerakan untuk mengakhiri seksisme, seksis eksploitasi, dan penindasan” atau feminism defined as a movement to end sexist oppression enable men and women, girls and boys to participate equally in revolutionary struggle. Feminisme dalam konteks ini adalah feminisme yang terimplementasi melawan seksime dan secara simultan melawan rasisme, klasisme yang ada (yang antara lain didorong oleh sistem kapitalisme).

Seksisme>>>>ideologi yang nilainya membentuk seksual rangking dan segregasi seksual perempuan lebih rendah dari laki-laki dan mengejawantah dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk stereotipe, labeling, standar ganda dan diskriminasi seksual

Sisterhood<<<solidaritas politik sesama perempuan untuk mengakhiri seksisme dalam segala bentuknya

Pendanaan>>> kontribusi aktifis perempuan, kontribusi funding agency

Komitmen dan Kontinuitas<<<< Komitmen bekerja dalam gerakan perempuan untuk menghentikan seksisme dan terus mensupport gerakan perempuan meski tak lagi bekerja dalam gerakan perempuan

Komitmen>>> tetap teguh dan tegas melaksanakan pilihan ideologis secara terus menerus tanpa henti, di mana saja, kapan saja


Advertisements