Ibu Labora, karena Ibu adalah kata kerja

Pada suatu hari di sebuah negeri nyata, senyatanya-nyatanya daerah yang di sebut negeri. Negeri ini sangat besar, akan tetapi tak usahlah disebutkan, karena belum tentu anda mengenalnya. Di sini lahir seorang perempuan cerdas, yang kecerdasannya tidak abstrak apalagi semu. Kecerdasannya ini membawanya pada perbatasan antara kata benda dan kata kerja.

Di dalam perjalanan hidupnya sejak remaja, dewasa dan matang ia membuat pilihan-pilihan yang akhirnya menentukan garis hidup yang sangat signifikan bagi dirinya dan banyak orang. Termasuk di antaranya bagi mereka yang memilih jalan hidup bekerja dalam seni pertunjukkan.

Seni pertunjukkan di negeri ini merupakan bagian kesenian yang masih sangat minor, tidak terkelola dan bersifat parsial, sehingga sulit untuk dimasukan dalam wilayah orang mencari kerja. Seni pertunjukkan seakan terpisah dari wilayah kehidupan umum manusia dan kemanusiaannya. Meski begitu, perempuan yang memiliki nama indah dan nyata, sehingga nyairs tak bernama, seperti negeri yang menjadi tempat tinggalnya. Hingga usia manusia bumi yang telah melampaui setengah abad, perempuan ini seakan tidak bernama dalam arti kata benda, ia adalah kata kerja. Ingin juga menyebutkan namanya di sini, akan tetapi nama itu selalu tersembunyi. Dibalik keindahan berbagai karyanya, maka saya sebutlah ia Ibu Labora. Ibu adalah kata kerja, Bapak adalah kata benda. Ibu yang bekerja, bapak yang mendapat status-nya di mata publik. Dan perempuan ini adalah manifestasi yang paling riil dari itu semua. Meski semuanya masih bisa diperdebatkan, pada realita kekinian, Ibu Labora adalah hal yang paling nyata yang dapat ditemui di hampir seluruh bawah atap rumah atau tempat tinggal.

Ibu Labora pernah hidup bersama dengan beragam manusia di lingkungan yang tidak biasa sejak masa mudanya. Kini setelah berbagai bentuk hidup dan kehidupan dijalani, ia tinggal di Istana dengan tanah yang luas, bertanam-tanaman jauh dari ibu kota. Orang-orang yang tinggal bersama Ibu Labora sebagian juga adalah muridnya, atau temannya bekerja. Sedikit berbeda dari ibu-ibu lainnya di dunia, Ibu Labora hidup memaknai dengan melampaui kata ‘labora’ itu sendiri. Bila kata bekerja dalam kamus kita berarti melakukan sesuatu yang menghasilkan karya, upaya atau dana yang menjadi pilihan kita, maka bagi Ibu Labora untuk bekerja adalah dirinya, bukan pilihan. Itulah ia. Kerja adalah Hidup, bukan semata kata benda, melainkan keseluruhan kata kerja, benda dan sifat. Mungkin mirip lakon yang dijalani Arjuna saat menerima petuah dari Batara Guru menjelang pertarungannya dengan Karna. Tentuna dalam konteks bekerja, beraksi. Ibu labora mengidentifikasikan dirinya dengan kata itu sendiri, segala sesuatu yang dilakukannya bukanlah bekerja, melainkan identifikasi dan aktualisasi diri.

Dalam kehidupan umum Ibu Labora ini mungkin biasa disebut super woman atau super mom. Tapi realitasnya ia tidak super. Seperti manusia biasa lain ia memiliki tubuh yang terdiri dari otot, daging, tulang dan syaraf-syaraf. Ia bisa jatuh sakit. Yang membedakannya adalah, semua bagian tubuh tersebut seringkali ‘dipekerjakan’ dan menjadi hidup dengan fungsi kerja tadi. Maksudnya dipekerjakan dengan frekwensi yang mungkin tak akan ada manusia lain yang menyamainya.

Bila ditempatkan dalam kategori manusia dan profesi perempuan ini bisa jadi akan memiliki banyak profesi. Ia bukan dokter, tabib, ataupun mantri tetapi bekerja mengobati dan menyembuhkan. Ia bukan guru tapi mengajar dan memberi pelajaran. Ia bukan wartawan tapi memberitakan dan menuliskan. Berhubung konsep bekerja-nya berbeda dengan manusia lain di negerinya, tentunya ia tidak menerima imbalan apa-apa, layaknya profesi mainstream dari apa yang dikerjakannya serupa dokter, dokter, tabib atau guru guru. Eh iya, dia juga seperti koki, karena sering menjadi juru masak bagi banyak orang yang tinggal di Istananya. Ia bekerja, karena itulah dirinya.

Pekerjaan lain Ibu Labora membuat karya yang bisa dinikmati banyak orang, dijual dan ia mendapat imbalan. Kali ini bukan mewartakan, melainkan menceritakan. Biasanya cerita-cerita kehidupan keseharian manusia. Cerita ini ada yang lalu dibuat menjadi cerita untuk televisi ada juga yang untuk pertunjukkan teater. Kerja ini sebutannya membuat naskah. Anehnya, dari pekerjaan ini, membuat cerita untuk televisi tidak dianggap kerja-nyata yang mencerminkan identifikasi dirinya. Sehingga ia tidak menggunakan namanya dalam karya-karya yang dihasilkannya. Mungkin karena ia merasa lebih nyaman apabila dikenali sebagai penulis naskah untuk pertunjukkan teater. Karena itulah identifikasi dirinya yang paling hakiki.

Sedikit kurang lengkap jika tidak memperkenalkan orang yang mempengaruhi dan membentuk hidup perempuan cerdas dari negeri nyata ini. Adalah seorang laki-laki yang sudah dikenal banyak orang sepenjuru negeri nyata dan luar negeri nyata sebagai orang yang membawa pesan kemanusiaan. Pesan yang didapat dari Tuhan, dari manusia dan dari peristiwa. Meskipun laki-laki ini penting sekali dalam pembentukan jatidiri Ibu Labora ini, nanti akan berlarut bila menceritakan kembali kehidupan laki-laki yang telah dikenal oleh banyak orang ini. Pertama karena laki-laki ini, biasa dikenal sebagai Sang Penyair, yang telah memberi pengaruh bagi banyak orang, keluarganya, masyarakatnya bahkan dunia. Mungkin juga saya. Yang kedua pengaruh tersebut juga terpancar kepada Ibu Labora, dengan volume yang berbeda dari yang lainnya. Akan tetapi yang hampir tak banyak dipahami dan ketahui khalayak adalah pengaruh pancaran balik yang dihadirkan oleh Ibu Labora kapada Sang Penyair. Akan tetapi yang pasti, saya menolak persepsi yang saya tangkap tentang feodalisme Sang Penyair. Paparan sedikit mengenai pengaruh kehidupan Sang Penyair bagi Ibu Labora menjadi tidak terlalu penting untuk disampaikan di sini, karena hal itu merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari di mana Ibu Labora dan Penyair adalah kesatuan; kata kerja, kata sifat dan benda, di mana kata kerja dan sifat adalah domain Ibu Labora.

Ibu Labora selalu menganggap dirinya partner dari Sang Penyair. Pasangan hidup, pasangan kerja. Ibu Labora memuja Penyair sebagaimana orang-orang yang terkena pancaran pengaruh positif dari Sang Penyair. Sang Penyair ini memang manusia fenomenal di jaman mudanya, di masa dewasanya dan di masa tua-nya. Layaknya Ibu Labora ia juga bekerja, berkarya dari muda hingga masa tua-nya. Dan layaknya seorang yang fenomenal, ia tetap menjadi magnet bagi orang-orang untuk merasakan pancaran kekuatan dari karya-karyanya. Kekuatan karya-nya merupakan cerminan peristiwa, kehidupan dan polah tingkah manusia. Tak bermaksud mengungkap lebih jauh tentang karya fenomenal serta rembesan jejak yang nampak di banyak seni pertunjukkan negeri nyata dari Sang Penyair, tulisan ini ingin menempatkan kisah nyata seorang perempuan yang dalam lingkup masyarakat patriarki kini, kemarin dan ke depan masih harus melampaui batu dan jalan-jalan agar bisa menjadi berdaulat bagi dirinya sendiri. Ia juga seorang fenomenal, perempuan yang berulang kali saya sebut sebagai Ibu Labora.

Meskipun hidup, bekerja, belajar dan berkoraborasi dengan Sang Penyair, Ibu Labora bukan tidak mempunyai kedaulatan dirinya. Akan tetapi permasalahannya, apakah kedaulatan dirinya itu bersifat independen, mandiri atau selalu bergantung dengan kondisi di luar dirinya: lingkungan, rumah, kehidupan Sang Penyair. Dalam arti ini, ia hanya bisa menjadi mandiri manakala ketergantungan yang lain atas Ibu Labora tidak ada. Atau sebaliknya ia sebenarnya tak pernah bergantung pada siapapun, tetapi juga tak pernah menguasai siapapun.

Kelihatannya begitu. Ibu Labora sekarang tak lagi fenomenal bagi saya. Ia ternyata menyimpan banyak sesuatu yang hanya diketahui oleh orang-orang disekitarnya. Ada pula yang tahu banyak tetapi tak bisa berbuat apa-apa, terutama karena Sang Penyair tetaplah menjadi raja yang tak mungkin dikudeta. Dan Sang Raja yang tak bisa lepas dari Ibu Labora atau sebaliknya, Ibu Labora yang tak bisa lepas dari Sang Penyair.

Pada suatu ketika, Ibu Labora yang dengan kedaulatan kesenian sebagaimana yang diajarkan Sang Penyair, memutuskan sesuatu. Ia bekerja untuk dan bersama pihak lain, diluar lingkar kekuasaan Sang Penyair, di luar lingkar kekuasaan Ibu Labora. Saya termasuk di dalamnya. Lalu sesuatu diluar jangkauan pikiran dan fantasinya terjadilah apa yang harus terjadi. Kisruh. Kekisruhan yang panjang. Kekisruhan yang menurut saya terjadi karena uplanning, unprepared tidak ada research dan tidak ada rasa humble rendah hati. Kisruh-kisruh. Kisruh itu pula mungkin yang membuat saya sempat tak enak badan dan terserang penyakit. Kisruh itu pula yang akhirnya membuat saya tak lagi bekerja di antara Ibu Labora.

Ibu Labora berhenti bekerja, berhenti bekerjasama. Ia memutuskannya. Tapi Ibu Labora tak berhenti bekerja sendiri dan berbicara sendiri, berpikir sendir untuk dirinya tapi tidak mengenai dirinya, tentang sesuatu yang tak diketahui orang lain. Sesuatu yang dapat menguncangkan akuntabilitas dan kredibilitas kepercayaan seorang Ibu Labora dan mungkin juga Sang Penyair.

Ibu Labora masih bersama Sang Penyair. Ibu Labora masih memakai nama Sang Penyair. Ia masih hidup di dalam kepenyairan Sang Penyair. Meski semua kegilaan yang telah ada pada Ibu Labora dan Sang Penyair sejak mereka bertemu dulu, bahkan hingga sekarang. Kegilaan yang selalu menjadi claim seniman. Art for Art. Crazy art is Art…