Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

July 2008

passionate life

To hold  passionate life

Buat dirimu bangga dan cinta dengan apa yang bukan ada padamu tetapi menjadi bagiannmu (bukan yg abstrak),tapi riil karena mereka berjasa padamu: seperti Negara,pemimpin, organisasi, kampung,keluarga,sekolah,guru.

Kebanggaan positif akan membuatmu membela,menghargai,dan menjaga dengan cara yang passionate dan baik,sehingga bila ada yang menghina,menjelek-menjelekan,menyakiti, mereka (yang anda banggakan) maka anda akan membela (emosi naik,pikiran bekerja,dan rasa bicara) adrenalin dan pikiran bekerja, saat itulah hadir semangat dan spontanitas naluri mencintai hidup dan anda merasa lebih hidup.

Jangan lupa, bila mempertahankan apa yang dibanggakan pertahankanlah hal yang di luarnya juga: seperti karya, pikiran, tindakan dan bukan yang given (tubuh, umur, atau yang sifatnya atribut kaya miskin, melarat), tapi prestasi, kerja, kebaikan…

Maka bila anda diserang oleh orang yang tidak mengenal anda, anda disebut banyak bacot, tongkosong nyaring bunyinya, teman-teman ada yang paling tahu apa yang sudah anda buat, atau mereka yang pernah mendapat kebaikan ada. Biarkan saja, kalau mau bela diri, sebut saja satu dua prestasi anda.

Tulisan ini saya tulis karena saya baru dimaki-maki secara kasar, tulisan saya disamakan dengan terorisme! oleh seorang yang tidak mengenal saya, juga tidak berniat berargumentasi tentang tulisan saya secara holistik, alias hanya mengambil sepotong-sepotong dari yang saya tulis.

Semoga kita semua menerima hak berekspresi dan berbicara, berserikat dan berkumpul sebagaimana dahulu para pendiri bangsa memperjuangkannya, yaitu untuk kebebasan berserikat dan berkumpul, merdeka dan sejahtera secara kolektif, bersama sebagai orang Indonesia, dan bukan kemerdekaan yang bersifat individualisme, pemujaan kenikmatan indivual.

wartafeminis

Advertisements

Kekuasaan Film

FILM punya kekuasaan,kemampuan yang dahsyat menciptakan realitas yang direkayasa sedemikian rupa sehingga memiliki efek yang beragam, dinamik,provokatif,inspiratif yang terarah pada otak manusia dan melahirkan perspektif yang membaurkan perasaan maupun persepsi pikiran.Oleh karenanya harus ada suatu otoritas tertinggi yang disetujui bersama (negara,masyarakat) untuk menjaga kemanusiaan (humanity) manusia tetap exist. Seperti kata Mandela, to be human is only be have to be in humanity.

Maka sensor adalah bagian dari upaya melindungi manusia dari dirinya sendiri untuk tetap menjadi manusia, dan bukan setan,algojo,binatang.Karena setan,algojo,maupun binatang aturannya berbeda dgn manusia,dan bisa kita nyatakan rendah,karena secara faktual/fakta dogmatis axioma manusialah dengan pikiran&kemampuannya menguasai mereka.

Berikut kira-kira yg bisa disensor untuk menjaga kemanusiaan orang Indonesia:

REPRODUKSI KEKERASAN

REPRODUKSI KEKERASAN

Reproduksi Kekerasan Semakin Biasa, Semakin Menyuburkan Ketakutan

Tak tahan menyaksikan adegan perkosaan, teman saya keluar meninggalkan ruang pertunjukkan teater yang baru ditontonnya selama kurang lebih 20 menit. Kejadiannya beberapa minggu lalu, di bulan Februari di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki. “Adegan perkosaannya vulgar, kayak baca berita perkosaan di koran kriminal”, kata temanku lagi, ia menyebutkan salah satu surat kabar ternama yang biasa menceritakan berita kekerasan dan kriminal. Tiket yang dibeli seharga 15 ribu tak ada lagi artinya. Ia tak bisa menikmati, apalagi mengapresiasi pertunjukkan teater itu.

Itu sekedar ilustrasi saja, tulisan ini tak bermaksud mengkritik pertunjukkan yang ditampilkan saat itu, maupun harga tiketnya. Tapi menggali lebih jauh bagaimana kekerasan, dalam tindakan dan prilaku telah mewabah, hingga mulai dianggap wajar. Padahal pertunjukkan teater “Perempuan di Titik Nol” 20-21 April 2002 di Jakarta, yang diangkat dari novel Nawal El Saadawi untuk judul sama, isinya sarat kekerasan, pertunjukkannya mampu meminimalisir reproduksi kekerasan itu, dengan adaptasi menjadi tarian.

Media Mereproduksi Kekerasan

Cerita teman di atas mengilustrasikan bagaimana kekerasan yang direproduksi di atas panggung ditolak untuk dinikmati. Tapi berapa banyak yang berkesadaran untuk melakukan penolakan itu. Saya memakai istilah reproduksi disini untuk mengganti istilah dari tiruan-tiruan tindakan yang ada dalam realitas. Dan media seni merupakan salah satu media yang paling sering mereproduksi, apakah melalui film, lukisan, maupun dalam seni pertunjukkan teater. Kekerasan sebagai reproduksi maskulin.

Berhubung dunia media masih dalam kelola dan kuasa nilai-nilai maskulin, hal ini membuat reproduksinya pun melahirkan nilai-nilai itu, kekerasan. Meskipun maskulin di sini masih streotipe laki-laki, pada kenyataannya stereotipe ini terus saja menguat dan semakin memantapkan posisinya untuk selalu dilekatkan pada jenis kelamin laki-laki. Kita mungkin bisa menilainya dari semakin menguatnya olah raga dengan nuansa ‘kekerasan’ dimana yang kuat yang menang. Dimulai dari acara World Wrestling Federation (gulat), dengan acara Ring Tinju RCTI, lalu acara serupa SCTV, dan Indosiar, hingga kick boxing dan seterusnya. Padahal sudah 9 petinju mati di ring tinju selama 13 tahun terakhir (Media Indonesia 6 Februari 2003). Itu baru ajang olah raga, dan untuk menjadi konsumsi media elektronik (pemirsa televisi), di media lain seperti internet surat kabar dan radio masih banyak lagi. Seperti halnya media seni, wahana media massa juga merupakan mereproduksi kekerasan, bahkan hampir mendekati nyata, bila tidak disebut sebagai ilusi.

Fenomena reproduksi kekerasan di media, mulai dari acara-acara olah raga, berita, film feature, hingga film dokumenter akan terus kita lihat entah sampai kapan. Dibandingkan dengan ratusan tahun lalu, manakala peperangan, maupun bentuk kekerasan lainnya tak banyak direproduksi. Kekerasan sekarang begitu merajalela, Joan Smith dalam bukunya Mysoginies, menyatakan ” we are more used to violence than we were twenty years ago; crimes which would have made headlines then now so frequent…” Dibandingkan masa lalu, saat kehidupan barbarian, jaman peperangan Yunani dan Roma, atau perang antar suku, kerajaan, dan klan terjadi, kekerasan memang ada, riil, tapi reproduksinya tak pernah massal seperti sekarang. Bentuk-bentuk kekerasan atau kebiadabannya paling tidak terlokalisir disuatu lokasi. Waktu itu belum ada media yang mendokumentasikan serta memudahkan penyebaran reproduksinya. Kalaupun ada, itu masih merupakan kenangan yang masih segar dan sempat digambarkan dalam artifak, bukan untuk konsumsi yang bersifat massif apalagi diperdagangkan atau diperjual belikan jangankan untuk kesenangan adrenalin.

Media lalu diperalat sebagai alat teror, untuk keuntungan politis dan ekonomi. Propaganda untuk menakut-nakuti. Secara tak sadar efek pemberitaan menyebabkan ketakutan. Lihat saja, siaran langsung proses pengeboman menara kembar WTC. Siapa pun teroris itu, tahu betul CNN akan meliputnya, dan menyebarkan ke seluruh dunia peristiwa itu. Runtuhnya bangunan berlantai ratusan dengan manusia di dalamnya, disaksikan jutaan manusia, menjadi tontonan, layaknya film-film hollywood.

Seakan kita tak menyadari berita-berita tentang tindak kekerasan secara sengaja dibuat pelaku untuk mencari perhatian, untuk menakuti-nakuti atau untuk mengancam. Ketakutan yang akhirnya melanda masyarakat Amerika Serikat, lalu masyarakat dunia, usai terjadinya Tragedi 11 September 2001. Polarisasi kekerasan menyebar dalam wujud ketakutan, mampu mengalahkan cinta, bahkan melahirkan kekerasan dengan bobot yang lebih tinggi lagi, perang. Perang terhadap Afganistan.

Lahirlah kebijakan-kebijakan yang dilandasi ketakutan, undang-undang (Perpu No.1/2001 tentang Kejahatan Terorisme), peraturan, atau institusi formal dan non formal sah dan tidak sah. Juga fasilitas pelampiasan lainnya, baik yang berbentuk olah raga maupun hiburan pemuas adrenalin. Tanpa maksud mempolemikkan tinju sebagai olah raga, yang pada realitasnya tinju telah diakui oleh lembaga internasional sebagai olah raga. Tetapi memasyarakatkan streotipe untuk keuntungan komersial, tanpa bisa mengukur kontribusinya kepada masyarakat umum, rasanya perlu juga dipertimbangkan ulang.

Semakin dalamnya kemerosotan penghargaan hakiki atas kehidupan dan kemanusiaan telah menyebabkan media massa pun mereproduksi kekerasan, menjual kematian. Media populer (televisi, koran, majalah) melakukan yang biasa disebut Bad news is good news (menjual berita), dan media seni (pertunjukkan teater, film, dan seni rupa) sebagai wahana reproduksi realitas ternyata tak jauh berbeda. Padahal selayaknya media dengan kemampuan menyentuh khalayak dan memberi inspirasi bisa saja memilih untuk memberitakan secara manusiawi, informatif, tanpa menyembunyikan sesuatu, atau menahan informasi untuk tujuan hakiki kehidupan dan kemanusiaan.

Kekerasan dan ketakutan semakin nyata di depan mata. Di Amerika Serikat ketakutan akan senjata biologis memuncak, menyebabkan orang tergopoh-gopoh membeli terpal untuk menutupi atap rumah mereka, bila Amerika Serikat dan sekutunya menyerang Irak, akan ada balasan balik kepada negara mereka. Violence makes violence.

Cinta, Menjauhkan Ketakutan dan Kekerasan

Masih ingat kisah Sumanto yang memakan mayat untuk tujuan menambah kesaktian. Semua stasiun televisi memuat kisahnya. Kisahnya ditonton banyak pemirsa, tak kurang dari itu, dia pun di wawancara, media mencoba memuaskan keingintahuan khalayak pembaca, mengapa ia melakukan itu, benarkah terpuaskan? Tak bisa diukur tentu saja, tetapi pelajaran apa yang telah didapat dari pemirsa, pembaca mengenai tindakan Sumanto. Kegilaan? Kekerasan? Tak ada yang secara lugas memberikan pencerahan dan jalan kebijaksanaan mengenai peristiwa tersebut. Ada kebuntuan untuk memahami yang terjadi, seakan tindak manusia sudah mencapai titik nadir nekrofilia (hasrat untuk merusak yang hidup dan ketertarikan terhadap sesuatu yang telah mati, rusak dan murni mekanik), seperti Eric Fromm nyatakan dalam bukunya The Anatomy of Human Destructiveness (terjemahan Indonesia, Akar Kekerasan) . Eric Fromm lebih jauh menjelaskan fenomena kekinian dimasyarakat ”menurunnya kepekaan terhadap kedestruktifan dan kekejaman” karena orang begitu tertarik pada sesuatu yang tak bernyawa—bukan hanya Sumanto sebagai pemakan mayat. Tetapi fenomena nekrofilia yang nampak didepan mata, saat obsesi destruksi, kekejaman dan perang dinyatakan sebagai suatu hak (Amerika Serikat ke Iraq). Lagi-lagi di sini media massa telah mereproduksi hasrat itu, karena hasrat melawan destruktif dengan sesuatu yang destruktif lagi pun lahir. Seperti kata Karlina Leksono dalam orasi kebudayaan di Jakarta, “kekerasan itu bersifat mimetik berkecendrungan meniru, sehingga bisa bersifat massal.” Dan seringkali kekerasan lahir dari ketakutan, orang yang paling sering melakukan ketakutan biasanya adalah orang yang paling merasa tidak aman, terutama atas kepemilikannya.

Ketakutan hanya mendekatkan kepada kematian, atau ia hidup tapi mati. Hanya ada satu yang mungkin bisa mengalahkan ketakutan, yaitu cinta. Dengan cinta orang menjadi hidup, mencintai hidup, dan ingin selalu menjalankan kewajiban hidup, yaitu memelihara, menjaga, membagi dan menyayangi semesta dan isinya. Tapi mengapa dari sekian banyak media untuk konsumsi massal, sedikit sekali mengedepankan hal tersebut. Padahal, media sebagai pembawa berita, sebagai wahana reproduksi realitas bisa tidak mengabaikan cinta. Karena cinta juga realitas yang tak pernah bisa dipungkiri. Dan juga menjual. Adahal hal yang juga kontrakdiksi manakala cinta bisa begitu populer, begitu disukai, bisa jadi karena ia memberi harapan, memberi harapan positif dari hidup.

Kita lihat saja, dari sekian banyak produk film box office, lagu-lagu hits, serta sinetron dan cerita-cerita novel laris selalu ada cinta di dalamnya. Namun bukan sekedar karena ada cinta, lalu produk itu menjadi populer, tetapi karena cinta adalah realitas, dan hanya dengan realitas manusia bisa melekatkan diri atau bercermin pada produk itu dan menjadikan bagian dari dirinya. Itulah sebabnya, dibandingkan mencintai hewan atau tumbuhan, saya lebih memillih mencintai manusia, karena dia paling membutuhkan. Tanpa cinta manusia bisa menjadi destruktif, tak heran ajaran agama mana pun mengajarkan untuk mencintai. Barangkali karena cinta pun dianggap sebagai streotipe perempuan, ia dianggap lemah, dan kekuatannya tak mampu menghapus kebencian dan ketakutan, apalagi masuk ke dalam bentuk-bentuk formal. Tapi kepercayaan pada cinta tak pernah melemah. Lihat saja harapan, mimpi dalam kesadaran, orang berupaya mencegah perang atas Irak terjadi. Demonstrasi jutaan orang di berbagai belahan dunia, aksi memblokir telpon ke Gedung Putih Washington, Amerika Serikat untuk mencegah perang. Karena dalam kesadaran kemanusiaan yang hakiki, manusia selalu memilih cinta (damai), bukan ketakutan (perang). (Umi Lasmina, feminis, Pencinta musik dan astrologi)

orang-orang Kaya

SINDROM ORANG-ORANG KAYA

Orang-orang kaya merasa berhak
Membeli apa saja
Kemewahan
Kenikmatan

Merasa sudah kerjakeras
berhasil, berpunya

Orang-orang kaya merasa berhak
Untuk tidak peduli
Pada aktivitas-aktivitas sosial politik
Aktivis-aktivis jalanan ‘kata mereka, percuma bikin macet saja”

Orang-orang kaya
tak peduli
Pada Hak Asasi Manusia warga lain
Burjuis abad kini

Orang-orang kaya merasa berhak
bebas kritik

orang-orang kaya merasa benar

lalu bilang orang lain sirik
orang lain susah dan melarat
orang lain cemburu dan iri

orang-orang kaya
berguru di pada negara-negara makmur
bukan  Indonesia

Kata orang kaya, memang Indonesia begini karena orang-orangnya bodoh
Tidak seperti Amerika, Inggris, Australia

orang-orang kaya
tak pernah peduli, Mary Robinson, Ketua Komisi HAM PBB berkata “ada ketidaksetaraan di dunia, di antara negara-negara”
Bahkan tak pernah mau tahu, bahwa Paus Benediktuspun menganggap Globalisasi mengguntungkan negara Kaya, negara Maju.

Orang-orang kaya Indonesia
Meski tidak semua
Mayoritas tak peduli
Pada ratusan juta bangsa Indonesia
Yang sama-sama makan dan minum dari tanah dan air Indonesia

Orang-orang kaya Indonesia
Yang pernah ke  Negara Maju
Kembali ke Indonesia
Tak bisa lagi melihat Indonesia Indah dan Kaya

Orang-orang kaya Indonesia
Kapan ada sadar dan sedikit bergerak????
Seperti tahun 1998
Apakah harus terkena imbas ekonomi dulu????

INI INDONESIA

INI INDONESIA

Ini cerita untukku, untuk cucu, cicit dan buyutku:

Indonesia adalah:

orang-orang;

bangsa, suku;

warna-warna kulit;

jenis-jenis rambut;

berbagai bentuk hidung;

beragam bentuk rahang;

bermacam kelopak mata;

tak sama, tak beda

tak apa-apa

itulah Nusantara

Indonesia adalah:

orang-orang beradab

berpakaian, berbaju, berkain

rumbai-rumbai, kebaya, koteka,

kerudung, selendang, sarung, kopiah, sorban,

berlipat, longgar, ketat,

tenun, rajut, jahit, cetak, mesin, batik, sulam, barokat

warna warni, panjang, pendek, sedang

tertutup, terbuka

berbeda bersama

tak apa-apa

menjadi, membagi, biasa, gotong royong
arisan, beran jumputan

itu Nusantara

Ini adalah Indonesia

Masjid besar puluhan meter dari Gereja besar

di kota Terbesar

Ini adalah Indonesia

Ada mushola di gedung-gedung di plaza-plaza

langgar, mesjid, pesantren

antara

pura dan kuil-kuil

tak sedikit tak banyak

tak apa-apa

Tuhan Maha Esa Memberinya

Negara Satu di Nusantara

Ini adalah Indonesia

ramah sapa, gotong royong

cinta dan hormat sehari-hari

tak pura-pura, tak tulus

tak apa-apa

berlebih doa dari hina

Ini adalah Indonesia

dijajah pernah, ditindas sudah

saat tak punya apa-apa

dari penjara duka dibuang

tercatat data terungkap fakta

pidato,

bambu runcing,

dan kertas perjanjian

memimpin bangsa pendiri negara

bersama rakyat bersama tentara

darah membasuh tanah Merdeka

susah senang jadi Negara

itulah Indonesia,

dari tiada

menjadi ada

tak apa-apa menderita

harap Merdeka jadi bahagia

Ini adalah Indonesia

BBM naik harga naik

orang muda berguguran

pengangguran

kemiskinan

itu belum apa-apa

Inilah Indonesiaku,

Inilah Indonesiamu,

Itulah Indonesia Kita, cinta kita

Siapa berani mengganti

Mari hadapi sama-sama

Indonesia Kita, Tanah Air Beta

Bhineka Tunggal Ika perekatnya

Pancasila penjaganya

Ada dihati, jati dijiwa

Menghalau dusta sama-sama

ubah ragam jadi seragam

The Greedy Capitalism

The only word could describe Capitalism is Greedy=RAKUS. Kapitalisme yang diajarkan di sekolah waktu saya SMA adalah: dengan prinsip ekonomi kapitalis modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Less capital more profit.

Tak heran, Negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang penganut setia kapitalis mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari negara-negara ‘dibodohkan’ yang kaya sumber daya alam. Lihat saja eksplorasi, dan eksploitasi sumber daya alam, emas, minyak tembaga, berapa persen yang diterima Indonesia???

Sudah itu, sekarang ‘negara’ Indonesia disebut sebagai one of the fastest potential markets—untuk segala produk dari negara Kapitalis: elektronik, kendaraan, I.T.

Berbondong-bondonglah membuka gerai, pabrik (rakitan) segala macam barang elekronik, dibuat disini, dijual disini harganya selangit dituliskan made in negara lain.

Kerakusan kapitalis adalah berusaha terus menerus memproduksi barang pakai, maupun barang nikmat (budaya), untuk dijual. Maka tak heran produk yang ditawarkan diproduksi juga seragam dari satu negara ke negara lain (bahkan produk budaya), supaya gampang dan ujung-ujungnya kembali kepada pencipta awal (paten barang/karya), saya termasuk yang tak setuju dengan paten, seperti Vandana Shiva dalam bukunya Captive Live Captive Mind—

Sebagai orang yang sepanjang hidup 99,9% makan dari tanah dan air Indonesia saya mengajak agar orang-orang Indonesia tidak terpedaya oleh budaya yang semata-mata memuja uang. Karena Tuhan sudah dicuri oleh Para Kapitalis-kapitalis sehingga tuhan Hilang berganti menjadi Uang/ Keuntungan.

PERHATIAN BUAT KALANGAN TERTENTU

PERHATIAN

BAGI ANDA YANG MENGAKU ISLAM DAN INGIN MENGAJARKAN DAN MENYURUH SAYA MEMBACA ALQUR’AN ATAU DEKAT DENGAN ALLAH MENURUT CARA ANDA, DIHARAPKAN TIDAK MENGIRIMKAN KOMENTAR ATAU APAPUN DI SINI, TEMPAT ANDA SUDAH ADA, DI BLOG HITBUT TAHIR ATAUPUN PKS.

SAYA MENCINTAI ISLAM DAN ALLAH DENGAN CARA YANG SAYA YAKINI KEBENARAN DAN KEBAIKANNYA, JADI MOHON JANGAN PAKSAKAN ITU PADA SAYA.

TERAKHIR, JUGA DARI SEORANG YANG SAYA TAHU DARI UNIVERSITAS INDONESIA (SAYA SERING MALU, SBG ALMAMATER YG MENGEMBAN NAMA INDONESIA, SEKARANG MAU MEMAKSAKAN INDONESIA MENJADI ARAB YANG HOMOGEN, DAN MEMATIKAN KEBUDAYAAN INDONESIA)

semoga ANDA-ANDA MENANGKAP MAKSUD SAYA.

UMI LASMINAH
PENULIS dan PENGELOLA https://wartafeminis.wordpress.com

Blog at WordPress.com.

Up ↑