24 September, menjelang malam di antara lampu lalu lintas Jakarta, aku naik kendaraan umum untuk pulang ke rumah. Kulalui jalan-jalan Jakarta yang ramai. Klakson bersahutan, orang-orang menyebrang, motor-motor berseliweran, memotong jalan di antara mobil-mobil.
Pada suatu halte dekat lampu merah yang baru saja terlewati, orang-orang muda, berjongkok berdiri, dan duduk di antara kardus-kardus. Mereka akan pulang mudik, pulang ke kampung halaman. Menanti bis yang akan membawa mereka mengarungi jalan-jalan di Jawa. Menunggu kendara yang akan menyertakan mereka pada suasana sama, duduk berlama-lama, pantat pegal, lelah dan tertidur hingga sampai di kampung.
Orang-orang muda laki perempuan ini bercelana pajang, berjaket jeans. Wajah-wajah menyiratkan rindu dan tunggu. Ada juga aura kebingungan dan kejenuhan, serta kelelahan.
Lampu merah berganti kuning, lalu hijau. Orang-orang muda yang hendak menjumpai sanak saudara dan handai taulan masih menunggu di halte bersama menanti malam. Laki perempuan sama, serasa, karena kampung yang menanti tak peduli siapapun yang mencintainya dan pulang.

Advertisements