pulang kampung

24 September, menjelang malam di antara lampu lalu lintas Jakarta, aku naik kendaraan umum untuk pulang ke rumah. Kulalui jalan-jalan Jakarta yang ramai. Klakson bersahutan, orang-orang menyebrang, motor-motor berseliweran, memotong jalan di antara mobil-mobil.
Pada suatu halte dekat lampu merah yang baru saja terlewati, orang-orang muda, berjongkok berdiri, dan duduk di antara kardus-kardus. Mereka akan pulang mudik, pulang ke kampung halaman. Menanti bis yang akan membawa mereka mengarungi jalan-jalan di Jawa. Menunggu kendara yang akan menyertakan mereka pada suasana sama, duduk berlama-lama, pantat pegal, lelah dan tertidur hingga sampai di kampung.
Orang-orang muda laki perempuan ini bercelana pajang, berjaket jeans. Wajah-wajah menyiratkan rindu dan tunggu. Ada juga aura kebingungan dan kejenuhan, serta kelelahan.
Lampu merah berganti kuning, lalu hijau. Orang-orang muda yang hendak menjumpai sanak saudara dan handai taulan masih menunggu di halte bersama menanti malam. Laki perempuan sama, serasa, karena kampung yang menanti tak peduli siapapun yang mencintainya dan pulang.

2 thoughts on “pulang kampung

Add yours

  1. Bagi seorang feminis, menjadi lesbian adalah salah satu pilihan, sama dengan memilih menikah dengan laki-laki. Motivasi feminis ini yang biasanya berbeda-beda, dalam hal menjadi lesbian.Artinya pilihan dimotivasi mendapatkan kenyamanan (happiness), ada yang sebagai pilihan politik (feminist is theory lesbian is practice–umumnya feminis radikal), ada yang phase saja, atau ada juga yang menyadari bahwa dirinya sudah menjadi lesbian sejak lama dari sananya ‘compulsary lesbian’ pada semua perempuan women-loving women yang eksis di antara sesama perempuan, cuma mendapat kesadaran di akhir-akhir saja. Yang terakhir ini, baik melakukan hubungan seksual atau tidak, kasih sayang di antara sesama perempuan bisa disebut sebagai root of lesbianism.
    Berbeda tentunya ketika feminis memilih menjadi heteroseksual, ini yang bisa saja sama juga dengan pilihan-pilihan menjadi lesbian bisa juga tidak, masalahnya ada force dari society untuk menjadi heterseksual.
    Saya sebagai feminis fundamentalis, menganggap seksualitas sesuatu yang fluid (lentur), kemana hati membawa, kita bisa saja tertarik pada jenis kelamin sama, atau jenis kelamin beda dari manusia. Sudah ada banyak contoh, ketika seorang laki-laki dioperasi menjadi transeksual perempuan, eh dia tertarik juga pada perempuan. Atau perempuan yang menjadi transeksual laki-laki eh tertarik pada laki-laki (gay).
    Saya menganggap ketertarikan pada manusia (secara seksual maupun emosional) adalah basis dasar yang memperkuat pernyataan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang butuh disayang, dan menyayangi, regardless jenis kelamin, umur, status sosial-kelas sosial, agama, budaya, bentuk tubuh ataupun latar belakang kehidupannya….
    wartafeminis

Leave a Reply to wartafeminis Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: