Politik bagi perempuan membutuhkan suatu keberanian dan keteguhan pikiran, dan kekuatan hati.
Politik di Indonesia hingga kini masih didominasi oleh wacana patriarki, metode macho dan sistem yang belum lentur.
Oleh karenanya, kadangkala sebagaimana para feminis aktifis politik di negara skandinavia, untuk masuk ke politik akhirnya mereka mengikuti dulu irama politik para laki-laki.
Bahkan ada pergi ke spa bareng dengan rekan politik laki-laki.
Buat para perempuan yang masih di luar, dan masih hanya bertindak sebagai pengamat, pengkritik, tentu saja mudah menyalahkan, menjudge dan mengomentari hal-hal seputar politik.
Seharusnya sebagai perempuan dia harus begini dan begitu, tapi lapangan dan realitas politik yang dijalani oleh perempuan yang terjun jauh berbeda bahkan bertolak belakang, sehingga saran yang dianjurkan bukan hanya tidak bisa dilaksanakan tapi akan membuatnya terpental dari pentas politik ‘maskulin’.
Hillary Clinton, Thatcher, Benazir Bhuto, atau Begum Khalida Zia dan Megawati Soekarnoputri adalah para perempuan yang mampu melalui berbagai rintangan politik…

mereka belum mampu mengubah kultur politik…

Advertisements