Mahasiswa terutama yang tergabung dalam universitas-universitas seperti Universitas Indonesia, ITB, IPB dan Poltek kini sudah menjadi bagian dari agen ajaran sektarian agama tertentu untuk menganti Pancasila.

Mereka ini para mahasiswa sering mengenakan seragam almamater lalu berusaha memperjuangkan nilai-nilai yang anti demokrasi (seragamisme-homogenitas) dan terutama tidak menghargai perbedaan (agama, suku) sehingga mereka berusaha memperjuangkannya melalui cara legal: Undang-undang Anti Pornografi, perda-perda diskriminatif etc.

Mereka para mahasiswa ini umumnya berafiliasi dengan PKS Partai Keadilan Sejahtera dan menganut aliran Ikhwanul Muslimin.

Mereka ini berkedok santun, profesional, padahal intinya satu ingin mengubah Pluralisme menjadi Seragam, mengubah Pancasila menjadi Islam.

Sekarang para mahasiswa dan partai yang mereka berafiliasi ini jelas-jelas sedang berusaha mencengkeram kekuasaan legislatif, eksekutif maupun yudikatif.

Keinginan para orang-orang yang hendak mengganti Pancasila ini dimulai dengan menolak identitas budaya Indonesia, misalnya mengganti nama Jawa Indonesia—seperti Bagiyo, nama asli dari Hidayat Nurwahid, dan menghilangkan kalau bisa semua budaya: adat istiadat ritual ruwatan bumi, upacara sebelum panen larung gunung etc, dengan alasan tidak Islami…

Waspadai, dengan Otonomi daerah, Indonesia akan tenggelam, tidak hanya Budaya, tapi identitas diri juga…

Advertisements