Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

May 2009

Segmen Pemilih Capres 2009

PASANGAN CAPRES DAN CAWAPRES PEMILU 2009 PemilihPresiden

Advertisements

Orang Indonesia

Orang Indonesia

Oleh Umi Lasminah

Sebagai orang Indonesia, warga negara atau penduduk yang tinggal di Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sebagai perempuan Indonesia, saya bangga dan senang, dengan tentunya banyak prihatin. Prihatin sebagai perempuan, di Indonesia sama halnya dengan di negara lain di dunia sekarang ini, perempuan masih terdiskriminasi, karena jenis kelaminnya.

Akan tetapi saya bangga, karena punya presiden Perempuan, Megawati Soekarnoputri. Ia mungkin salah satu dari perempuan pasca kemerdekaan yang pada masa Orde Baru mendapat perlakuan DITINDAS rezim TENTARA–Orde Baru, dukungan Amerika Serikat. Ada banyak perempuan yang juga ditindas, mereka adalah  istri atau kerabat para aktivis Komunis, ataupun bukan kerabat atau istri komunis, atau ormasnya. Megawati mengalami penindasan karena ia anak Soekarno.Dari semua pemimpin Partai Politik yang ada sekarang, yang jumlahnya lebih dari 40 partai hanya Megawati yang mengalami penindasan, penghianatan bertubi-tubi.

Apapun yang terjadi pada para pemimpin Indonesia, sebagai rakyat Indonesia saya sama halnya dengan rakyat Indonesia lainnya menjalani kehidupan apa adanya, cenderung menerima apapun kebijakan yang di’impose’ diterapkan pada kita ‘rakyat’-nya dengan persetujuan kita atau tidak.

Orang Indonesia sehari-harinya menjalani rutinitas yang sederhana, hampir sama. Bangun pagi, bagi perempuan tentu ditambahkan dengan membereskan rumah, memasak, menyiapkan makan, bersiap kerja, berangkat kerja dengan kendaraan umum dan siap berdesakan di bis (karena pagi-pagi jam masuk kantor pasti bis penuh sesak), lalu tiba di kantor atau pabrik bekerja sebagai bawahan dan bukan bos. Di tempat kerja makan siang biasanya orang Indonesia, khususnya yang tinggal di kota akan makan di warung yang ada di dekat kantor (dipinggir jalan), warung makan ini penjualnya umumnya berasal dari Jawa. Ada juga satu dua orang Indonesia yang bekerja dan membawa bekal makan siang, sehingga lebih murah dan irit. Disamping berkendaraan umum, sekarang ini, terutama sejak tahun 2004 banyak orang Indonesia punya motor, sehingga jalan-jalan raya di pagi hari, pada saat orang berangkat ke kantor akan dipenuhi sepeda motor para pekerja. Di daerah pertanian, dan pegunungan sepeda genjot tetap merupakan kendaraan yang mengantarkan ke tempat kerja di perkebunan, pabrik atau sawah dan hutan. Orang Indonesia lainnya di Jakarta dan sekitarnya tak sedikit yang menggunakan angkuta kereta api, atau kereta listrik.

Orang Indonesia adalah pekerja keras, kreatif namun sekali lagi cenderung menerima ‘nrimo’. Entah kecenderungan sikap ini didapat dari mana, namun ‘nrimo’ ini selalu membuat orang Indonesia sengsara.

Orang Indonesia Pekerja keras dapat kita temui setiap hari di jalan-jalan, di warung-warung, di pasar, di antara bangunan-bangunan tinggi yang sedang dibangun oleh para pekerja, buruh bangunan ‘kuli’ yang berasala dari penjuru Jawa dan upah yang kita tak tahu berapa layaknya. Di jalan-jalan kita lihat dan kadangkala membeli makanan asongan: kacang, kerupuk, manisan buah dan minuman. Para pedagang pekerja keras inilah ciri Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang berusaha survive di Negeri yang Kaya tetapi Tak Berdaya ini. Mereka tentunya ingin pekerjaan yang lebih menghasilkan uang, dibanding menjadi pedagang asongan yang mungkin untungnya Rp.10.000,- sehari saja sudah bagus. Orang-orang Indonesia adalah orang-orang kreatif, ada banyak mainan anak yang dibuat oleh orang Indonesia bagus, murah, tetapi tidak berbahaya. Ada mainan dorong terbuat dari bahan bekas sendah jepit yang dikaitkan dengan bambu yang bila didorong akan berbunyi. Anak-anak memang paling senang mainan yang memiliki bunyi-bunyi. Atau mainan dari busa yang didapatkan dari bekas gabus atau busa bekas penahan alat elektronik yang disisipkan di kardus. Dengan bungkus plastik panjang, dimasukanlah air lalu dimasukan busa gabus itu, jadilah turun naik busa itu didalam plastik panjang.

‘Nrimo’ ini seperti saat BBM dinaikan, saat harga gas dinaikan atau ketika listrik dan air minum juga dinaikan. Yang lebih parah lagi manakala pendidikan berbiaya mahal. Meskipun anggaran Nasional Pemerintah untuk pendidikan cukup besar (melebihi anggaran Kesehatan) realitasnya rakyat Indonesia masih harus membayar mahal untuk menyekolahakan anaknya. Sikap ‘nrimo’ orang Indonesia juga ditunjukkan dalam kehidupan sedeharna keseharian, misalnya, suatu hari pergi ke swalayan kecil sebut saja Alfa Mart, di toko swalayan tersebut mesin penghitung uang rusak maka harga-harga semua dibulatkan ke lebih tinggi, misalnya harga minuman yang semula Rp.1335,- menjadi Rp.1500,- tak ada yang berani protes atau menolak pelayanan ini…itulah orang Indonesia. Saya termasuk yang berani bertanya dan mempertanyakan hal tersebut, dan pramuniaga di toko tersebut tanpa bersalah cuma bilang mesinnya rusak jadi dibulatkan. “Lho yang rusak mesin tokonya kok yang kena biaya kita.”

Orang Indonesia juga terkenal karena keramahannya dan keterbukaannya. Ini sesungguhnya merupakan ciri yang diturunkan dari jaman nenek moyang ratusan tahun lalu. Sebelum Negara Indonesia berdiri, bangsa Indonesia menyatukan diri, suku-suku bangsa Indonesia yang dipimpin oleh Raja-raja dan Ratu-ratu Nusantara adalah orang-orang yang terbuka yang menerima para tamu dengan baik, membiarkan tamu-tamu memperkenalkan budaya mereka, mencampurkan budaya dan masyarakat, mengijinkan kawin campur. Bahkan agama-agama yang lebih dahulu ada di Nusantara kemudian hilang dan berganti pun akhirnya tetap menjadi bagian ‘eksistensi’ Indonesia yang termaknakan dalam Pancasila.

Between politics, faith and sex, by ANAND KRISHNA

Between politics, faith and sex

*Anand Krishna* , Jakarta post | Tue, 05/19/2009 10:00 AM | Opinion

While reading Friday’s Jakarta Post, a visiting friend remarked we were “a
funny” country. Perhaps he was trying to use a milder term for something
else. His remark came after reading an item concerning Prosperous Justice
Party (PKS) chairperson Tifatul Sembiring’s views on Bank of Indonesia’s
Governor, Boediono, as the running mate of Susilo Bambang Yudhoyono for his
next term in the office as president.

The second piece of news was about another equally “funny” article about the
requirement for a female presidential candidate to avoid having sex for ten
days.

Tifatul Sembiring is not very comfortable with Governor Boediono’s faith and
says, as quoted by this paper, “Boediono has never been seen speaking to
Muslim masses.”

So, although he regularly attends Friday prayers in the mosque, he is still
considered that not sufficiently Muslim”.

What is more “funny” is that according to Sembiring’s statement, his
constituents see Boediono as a nationalist, which is not a proper
representation of Islam.

The question is; what then is the proper representation of Islam? Another
more important question is; can Muslims be not nationalists at the same
time?

What equally bothers me is whether the Christians, or Hindus, or Buddhists
have any chance to be a vice president of this country. Where is this
country leading to?

The former president of Prosperous Justice Party, Hidayat Nurwahid, who now
chairs the People’s Consultative Assembly (MPR), made a statement awhile
ago that he had received several SMSs saying that he was against national
unity (NKRI) and the national ideology based on the principle of Bhinneka
Tunggal Ika (Unity in Diversity).

Hidayat denied all these allegations. It is now high time that he makes it
clear what is his
understanding of Unity in Diversity in view of his party’s high commands
statement.

Hidayat also refused to be associated with Saudi wahabis, who according to
him were against political parties. What about the ideology of wahabis,
which places uniformity above Unity in Diversity?

Of much interest is also the reason the Depok regent decided to close down a
church, and to deny them a building permit. Interestingly, this regent
belongs to Hidayat’s party. It would be interesting to hear Hidayat to speak
on this subject.

There was another piece of news related to the sexual activities of female
presidential candidates; perhaps the Indonesian Doctors Association (IDI)
chairman, Fachmi Idris, has conducted extensive research on this subject.
What he forgot to disclose was a more understandable reason behind this.
To quote the Post on this subject, “the requirement for a female candidate
to avoid having sex is
to prevent the outcome of her medical check up from showing ‘biased’
results.”

What is not mentioned is whether the so-called “biased” results are only
related to females alone, or also to the males?

The latest findings in the field of medicine have indicated that as women
have their menstruation, men also experience a similar cycle with different
symptoms. As women have menopause, men too have andropause.

Indeed, women can have xx chromosomes, men cannot have yy. Men inherit the
xx chromosomes from their mothers. We are not discussing the issue of the
superiority of men over women or vice versa. But let us talk of some
sensibilities.

In this region of the world, we have never tabooed sex. We have made
intensive studies about sexual energies. The ruins of our campuses at Sukuh
and Cetoh at Central Java are proof of this.

Sexual energy when not channeled for higher purposes to make one more
creative and innovative, will only try to find its release through
intercourse and masturbation. By the way, the passion to hold on to a
position or to fight for a position at any cost – are also prompted by
unchannelled or rather mischannelled sexual energy.

I have many questions in my mind; my friends from overseas have many
questions in their mind. What about you? The readers of The Jakarta Post. If
we do not start questioning today, then tomorrow it may be too late.

*
The writer is a spiritual activist and the author of more than 120 books.*

Amien Rais: ‘The Sangkuni’ the Most Opportunistic & Most Inconsistent Politician in Indonesia Part I

In Legislative Election April 2009, I had the opportunity to enter ‘real politics battle’ as a candidate. Coincidently I was posted to joint the contest in Surakarta (Solo), Central Java. I was lucky to learnt about Javanese culture and believe from a native Solo, who happen to be a hostorian, and a young man who has been award as Putro Solo 2005 (similar to A Solo Mr/Ms pageant).

My interest in Indonesia culture such a traditional dance, Wayang, and daily mores and value was feed a lot through living for 3 months (back and forth Jakarta – Solo).

Though mostly learnt about Javanese culture, I had a chance to compare with other culture too, which I found that there are different people from different cultural banckground who live in Solo. When in Solo I had a time to visit and bought Wayang from the creator/handcrafter. And I knew that Indonesian president was guide by Goddes of Durga, Betari Durga symbol of rage and destroyer, a friend of evil. I do not know yet who Wayang characterized or mimicry with SBY. But his God, is Godess Durga, and they knew from his date birth. No wonder since he was elected as president, hundred thousands of Indonesian people have died. You might call it superstitious/ klenik, but it happened since the President SBY, more people suffer, and death tolls were casualties or calamity cause by natural disasters or human tragedy.

For every human, there will be Wayang as your shadow follow or character and God who protect and guide you. Most Wayang shadow in you, have relation with God who guide you. God/Godess is mostly sighting of your destiny and Wayang mostly for your character in real life.

I like Wayang, especially Wayang Purwa, Indonesian Wayang which unlike in India, India Wayang do not have Punakawan/comical character for satire and criticized their junjungan/superior. The Punakawan (Semar, Petruk, Gareng and Bagong) are representative of the People. Punawakan speak in Java Ngoko (common language), only when they talked with their superior, they use Java Kromo Inggil. And their humour are the most funny in all scenes whether in Wayang Kulit or Puppet Wayang and Wayang Orang (Wayang Theater).

When the Punakawan angry or in huge rage, no one can control them, even God. There are stories when elites or king do not act wisely as they should, the Punakawan can became a king and unbeatable as Petruk is a King, and only Gareng can beat Petruk.
And when elites do not act as they should to its people, Semar create kingdom in heaven, even Gods cannot dare to beat him. Semar itself, is creature where genderless (he might change to be a man mimicry of God Ismaya), but in Punakawan he look like both female and male (with big breast and huge ass).

The main character of Wayang has always been Pandawa family of brothers:Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula&Sadewa and Kurawa a family of 99 brothers and a female of sons and a daughter of Destarata and Gandhari. And Duryudono is the oldest in the Kurawa family. A family of two clans, and other characters of who are related to both families. Most character in those families have always been link with God and Goddess. Prime/Main/ Major Goddes and Middle God/Goddes and Lower God/Goddess. Punakawan marah

The most famous epic in Wayang story is Bharatayudha (Family War). In this war there are main characters of whom as most influential character, Dorna (guru/priest), Bisma (guru), Sangkuni (uncle), Karna, Baladewa, Srikandi (wife of Arjuna), Kunti.(mother of Pandawa),Gatotkaca (son of Bima), Abimanyu (son of Arjuna), Sembadra (wife of Arjuna the opposite character of Srikandi), Drupadi (wife of Yudistira).

Sometimes in April, I had time to went to Museum of Lodya Pusaka, where you could see the Javanese kingdom costumes, furniture, and equipment for ceremonial or ritual events. And in part of the museum, there was a person who can give a sight of who is your Wayang mimicry or guide, through your date birth. In Lodya Pusaka you might go and ask what is the Wayang character who follow you and your beside character. They are Bapak.Winarso kallinggo and Mbah Hadi.

And in Indonesia politic, Amin Rais is known for his ambiguity, opportunistic person every surge in Indonesia politics. He is not a shame of speaking and commented of inconsistency sentences either in substance or not.

To be continue…

KARTINI, Festival April 2010

Saksikan Festival April 2010, Jakarta dalam Rangkaian

HARI KARTINI

tanggal 13 Selasa -27 April 2010,

tempat Goethe Haus Jakarta Jl Dr GSSY Sam Ratulangi 9-15 Menteng, Jakarta 10350 Tel +62 21 2355 0208 Fax +62 21 2355 0021

dan Kampung Buruh Cakung

Informasi Kontak ke:Jl.Tebet Utara IV E, NO. 14, Jakarta Selatan 12820 Indonesia.Telp/Fax021-8304531; E-mail: institut.ungu@ gmail.com WEBSITE:www.institutungu. org

Pameran Foto “Desiring The Body” /Mendamba Tubuh

13-27April 2010 di Goethe Haus Jl Dr GSSY Sam Ratulangi 9-15 Menteng Kurator:Lisabona RahmanPembukaanPameran : 13 April 2007, pkl 18.30

PENTAS TEATERAL SURAT-SURAT KARTINI
Hari/waktu/Tempat Selasa, 13 April 2010. pukul 20.00 Goethe Haus

Penyusun naskah dan Sutradara Laksmi Notokusumo, dibantu Kurator Umi Lasmina, Asisten SutradaraBei, Manager Produksi Dewi Djaja, Manager Panggung Jerry Pattimana, PenataKostum Asmoro Damais, Ilustrator Musik Mogan Pasaribu, dan Penata Lampu Aziz D.

Dibacakan oleh4 pelajar SMU (Feirina, Jessika, kenia, Viera) dan diperankan oleh 4Alumni Jurusan Tari IKJ. (Achi/ Kartini, Popy/Kardinah dan Chenchen serta Kartini dan Nana sebagai penari Bedhoyo.

——-

Rabu, 14 April pukul 18.00, Goethe Haus

Pidato Kebudayaan: “Feminis Indonesia, dari mana mau ke mana?”

PADUAN SUARA ANTAREA DAN MUSIK OLEH SITA (RSD) NURSANTI14 APRIL 2010, PUKUL 19.30 Di GoetheHaus


acara tidak dipungut bayaran..dapatkan tiketnya dengan menghubungi alamat di atas atau melalui blog ini,

dan lain-lain dapat anda baca di facebook FESTIVAL APRIL 2010, atau http://www.institutungu.org

Siti Soendari ‘Perempuan Progresif yang memilih Rumah Tangga’

Cover Buku Siti SoendariDaily Blog 6 Mei 2009

Hari senin kemarin saya mendapatkan hadiah istimewa. Menemukan buku tentang pejuang gerakan perempuan yang saya ingin ketahui, Siti Soendari.
Siti Soendari adalah perempuan yang menjadi one of my wonder—saya sering bertanya-tanya siapa Siti Soendari, kok dia progresif amat, padahal waktu saya baca tulisannya, yang ditulis Siti Soendari tahun 1932—saya terkagum-kagum. Wah ini Soendari oke banget, dia sudah bicara tentang kemandirian dan hak perempuan bekerja secara baik.

Ternyata Siti Soendari dalam pergerakan perempuan ada beberapa nama, salah satunya adalah siti Soendari aktivis buruh yang lainnya Siti Soendari yang aktivis perempuan dan penulis. Sedangkan Siti Soendari yang merupakan adik Dr.Soetomo berbeda dengan Siti Soendari yang menulis di majalah perempuan tahun 1932, tentang hak bekerja perempuan.
Jadi penelitian tentang perempuan bernama Siti Soendari sebagaimana yang telah dilakukan oleh Roma dan Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardika.

Namun begitu buku Siti Soendari yang saya baca tidak mengurangi rasa hormat dan kagum atas perjuangannya sebagai perempuan pada masanya. Untuk itulah buku Siti Seondari ini tetap dapat memberi wahana bagaimana perempuan Indonesia di masa kolonial, memberikan warna tersendiri dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat umumnya.
Siti Soendari juga salah satu dari dua perempuan pertama Indonesia yang sekolah di Belanda pada masa Kolonial. Siti Soendari yang aktif dalam pergerakan perempuan, ikut dalam kongres Pertama Perempuan 1928, banyak aktif dalam kegiatan gerakan pemuda di Belanda, Pemuda Indonesia.
Hidupnya adalah hidup perempuan Jawa nigrat, yang meskipun sudah bersekolah di Belanda ia adalah Perempuan yang berpegang teguh dengan pilihan sebagai perempuan Jawa dan menjadi Jawa.
Siti Soendari memilih mengurus rumah tangga setelah menikah. Tetapi tetap memegang prinsip perjuangan perempuan menolak poligami. Yaitu ketika suaminya berhubungan dengan perempuan lain Siti Soendari memilih bercerai.
Hingga usia tuanya Siti Soendari adalah perempuan terpelajar nigrat Jawa yang memegang teguh ajaran Jawa dan ajaran Kartini dan juga kakaknya Soetomo untuk bersikap egaliter dan bertatakrama Jawa.
Buku biografi Siti Soendari adik bungsu dr.Soetomo ini ditulis oleh anak dan mantunya yang tinggal di Belanda, banyak foto2 sewaktu Siti Soendari di Belanda di dalam buku ini. Buku ini masih bersifa personal, yaitu pengalaman anaknya dan sedikit tentang sifat dan sikap IbuNYA. Belum banyak mengungkap pandangan dan sikap Siti Soendari yang pernah menjadi pegawai pada masa Pemerintan Soekarno dan juga sahabat dari Maria Ulfah Santoso (mentri Sosial pada masa Soekarno).
Penulisan biografi atau bunga rampai pemikiran Siti Soendari pasti akan dapat lebih memperkaya wacana pemikiran pejuang perempuan Indonesia di masa lalu.

PEMILU PEMERINTAHAN MILITER Begini deh

Daily Blog, 5 mei 2009

Inilah kalau pihak militer di Indonesia berkuasa. Mereka main curang, sistematik, strategik. Mulai dari mengangkat anggota KPUyang uncapable/tidak mampu.

Pemerintahan yang tidak bertanggung jawab atas pemilu dan hak pilih rakyat, jutaan Warga Negara Indonesia di dalam negeri dan di luar negeri kehilangan hak pilihnya, karena KELALAIAN -yang sistematis.

Yaitu, orang yang berhak tergantikan dengan nama pemilih yang double, yang pindah tempat, yang meninggal. Tapi yang paling ketara kecurangan tidak TERJAMINnya hak pilih warga adalah double name-nama ganda, ada satu tanggal lahir nama banyak, ada nama banyak dibeda-bedain dikit, ada satu orang dapat dua atau tiga surat undangan TPS yang beda…ini yang menyebabkan MEREKA yang berhak tidak terdaftar dalam DPT Daftar Pemilih Tetap…

Pemilu Legislatif yang TIDAK MENJAMIN HAK WARGA UNTUK MEMILIH Ini dimenangkan oleh Penyelanggara–KPU dan Pemerintah, yang KEDUAnya TIDAK MAU NGAKU SALAH atas Terampasnya Hak PIlih WARGA.

Bahkan saat LSM prodemokrasi mengajukan CITIZEN LAWS SUIT,….DICUEKIN, POLISI JUGA CUEK…Pemenang sementara Kerakusan Tentara dan Satu Kalangan yang menolak Angket DPT…

Kartini, Sejarah tak akan Bisa Menghapus Jasa dan Pengorbanannya

Daily Blog 3 Mei, 2009
Seminggu lalu, sekitar Hari Kartini 2009 saya membaca tulisan seorang laki-laki (namanya—), yang pada intinya mengganggap Kartini tidak layak dijadikan pahlawan, karena antara lain dia menyebutkan Kartini ciptaan Belanda, Kartini tidak peduli pada pejuang lokal, Kartini bahkan dianggap mengeksploitasi pengrajin lokal. TENTU SAJA SAYA TIDAK SETUJU DENGAN LAKI-LAKI INI. Karena dia merendahkan Kartini dengan maksud mengangkat pahlawan atau tokoh-tokoh di luar Kartini, seperti tokoh Pati Unus, Ratu-ratu dan sultan Aceh Perempuan yang sempat ada di Aceh.

Sebenarnya maksud orang ini baik, dia memberikan data-data atas fakta-fakta sejarah dari keberagaman perjuangan suku-suku bangsa Indoenesia, akan tetapi dia menggunakan PINTU MASUK HARI KARTINI dan KARTINI dengan niatan bukan mengangkat ajaran Kartini, memberi apresiasi tapi malah menganggap satu tokoh lebih penting dari yang lainnya.

Kartini adalah perempuan Jawa, yang sebelum ada kalimat Keneddy yang terkenal “jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan negara”..yang sebenarnya Kalimat ini sudah diucapkan oleh Soekarno duluan yaitu pada…dan lebih dulu lagi oleh Kartini…Kartini mempunyai visi bukan hanya Jawa, tapi Indonesia–pribumi. Itulah sebabanya pencipta lagu Indonesia Raya. WR Soepratman menuliskan lagu dalam Ibu Kartini ‘Sungguh besar CITA-CITA-nya bagi Indonesia’…

tobe continue….

Tetapkan Diri Memutuskan Jalan Yang Kau Pilih

Kemarin saya ikutan demonstrasi dengan para buruh. Saya turut sebagai simpatisan buruh, sehingga saya dan teman saya harus keluar barisan manakala ada perintah dari wakil komandan lapangan, agar yang tidak ikut dalam barisan unit aksi dan wartawan keluar. Ini bisa dimaklumi agar apabila terjadi sesuatu, tentunya kesatuan aksi-organisasi mana tidak diketahui.

Blog at WordPress.com.

Up ↑