Daily Blog 3 Mei, 2009
Seminggu lalu, sekitar Hari Kartini 2009 saya membaca tulisan seorang laki-laki (namanya—), yang pada intinya mengganggap Kartini tidak layak dijadikan pahlawan, karena antara lain dia menyebutkan Kartini ciptaan Belanda, Kartini tidak peduli pada pejuang lokal, Kartini bahkan dianggap mengeksploitasi pengrajin lokal. TENTU SAJA SAYA TIDAK SETUJU DENGAN LAKI-LAKI INI. Karena dia merendahkan Kartini dengan maksud mengangkat pahlawan atau tokoh-tokoh di luar Kartini, seperti tokoh Pati Unus, Ratu-ratu dan sultan Aceh Perempuan yang sempat ada di Aceh.

Sebenarnya maksud orang ini baik, dia memberikan data-data atas fakta-fakta sejarah dari keberagaman perjuangan suku-suku bangsa Indoenesia, akan tetapi dia menggunakan PINTU MASUK HARI KARTINI dan KARTINI dengan niatan bukan mengangkat ajaran Kartini, memberi apresiasi tapi malah menganggap satu tokoh lebih penting dari yang lainnya.

Kartini adalah perempuan Jawa, yang sebelum ada kalimat Keneddy yang terkenal “jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan negara”..yang sebenarnya Kalimat ini sudah diucapkan oleh Soekarno duluan yaitu pada…dan lebih dulu lagi oleh Kartini…Kartini mempunyai visi bukan hanya Jawa, tapi Indonesia–pribumi. Itulah sebabanya pencipta lagu Indonesia Raya. WR Soepratman menuliskan lagu dalam Ibu Kartini ‘Sungguh besar CITA-CITA-nya bagi Indonesia’…

tobe continue….

Advertisements