Siti Soendari ‘Perempuan Progresif yang memilih Rumah Tangga’

Cover Buku Siti SoendariDaily Blog 6 Mei 2009

Hari senin kemarin saya mendapatkan hadiah istimewa. Menemukan buku tentang pejuang gerakan perempuan yang saya ingin ketahui, Siti Soendari.
Siti Soendari adalah perempuan yang menjadi one of my wonder—saya sering bertanya-tanya siapa Siti Soendari, kok dia progresif amat, padahal waktu saya baca tulisannya, yang ditulis Siti Soendari tahun 1932—saya terkagum-kagum. Wah ini Soendari oke banget, dia sudah bicara tentang kemandirian dan hak perempuan bekerja secara baik.

Ternyata Siti Soendari dalam pergerakan perempuan ada beberapa nama, salah satunya adalah siti Soendari aktivis buruh yang lainnya Siti Soendari yang aktivis perempuan dan penulis. Sedangkan Siti Soendari yang merupakan adik Dr.Soetomo berbeda dengan Siti Soendari yang menulis di majalah perempuan tahun 1932, tentang hak bekerja perempuan.
Jadi penelitian tentang perempuan bernama Siti Soendari sebagaimana yang telah dilakukan oleh Roma dan Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardika.

Namun begitu buku Siti Soendari yang saya baca tidak mengurangi rasa hormat dan kagum atas perjuangannya sebagai perempuan pada masanya. Untuk itulah buku Siti Seondari ini tetap dapat memberi wahana bagaimana perempuan Indonesia di masa kolonial, memberikan warna tersendiri dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat umumnya.
Siti Soendari juga salah satu dari dua perempuan pertama Indonesia yang sekolah di Belanda pada masa Kolonial. Siti Soendari yang aktif dalam pergerakan perempuan, ikut dalam kongres Pertama Perempuan 1928, banyak aktif dalam kegiatan gerakan pemuda di Belanda, Pemuda Indonesia.
Hidupnya adalah hidup perempuan Jawa nigrat, yang meskipun sudah bersekolah di Belanda ia adalah Perempuan yang berpegang teguh dengan pilihan sebagai perempuan Jawa dan menjadi Jawa.
Siti Soendari memilih mengurus rumah tangga setelah menikah. Tetapi tetap memegang prinsip perjuangan perempuan menolak poligami. Yaitu ketika suaminya berhubungan dengan perempuan lain Siti Soendari memilih bercerai.
Hingga usia tuanya Siti Soendari adalah perempuan terpelajar nigrat Jawa yang memegang teguh ajaran Jawa dan ajaran Kartini dan juga kakaknya Soetomo untuk bersikap egaliter dan bertatakrama Jawa.
Buku biografi Siti Soendari adik bungsu dr.Soetomo ini ditulis oleh anak dan mantunya yang tinggal di Belanda, banyak foto2 sewaktu Siti Soendari di Belanda di dalam buku ini. Buku ini masih bersifa personal, yaitu pengalaman anaknya dan sedikit tentang sifat dan sikap IbuNYA. Belum banyak mengungkap pandangan dan sikap Siti Soendari yang pernah menjadi pegawai pada masa Pemerintan Soekarno dan juga sahabat dari Maria Ulfah Santoso (mentri Sosial pada masa Soekarno).
Penulisan biografi atau bunga rampai pemikiran Siti Soendari pasti akan dapat lebih memperkaya wacana pemikiran pejuang perempuan Indonesia di masa lalu.

18 thoughts on “Siti Soendari ‘Perempuan Progresif yang memilih Rumah Tangga’

Add yours

  1. Salam kenal 🙂
    Boleh tau apa judul buku biografinya mbak?
    penerbit sm pengarangnya siapa y?
    Saya sedang menyusun proposal penelitian soal siti soendari.
    Sebelumnya terimakasih..

    1. Dear Noviana,

      Maaf, yang anda maksudkan buku Siti Soendari yang mana? Buku yang kami (suami saya dan saya) tulis adalah Siti Soendari adik bungsu Dr. Soetomo. Kalau anda mengatakan padahal waktu saya baca tulisannya, yang ditulis Siti Soendari tahun 1932—saya terkagum-kagum.
      maka mungkin kita bicara ttg Siti Soendari yang berbeda. Soalnya ibu mertua saya tidak pernah menulis buku di tahun 1932. Memang tampaknya ada tokoh Siti Soendari yang lain, sebab di sebuah buku juga saya pernah baca tentang Siti Soendari yg ciri2 perilakunya mirip ibu mertua saya, tetapi prestasi/kegiatan2nya, setahu kami, tidak dilakukan oleh ibu. Mungkin terjadi kerancuan dalam mengambil data/informasi ttg dua tokoh Siti Soendari, yang lalu digabungkan, sehingga tidak cocok.

      Jika ana mau menulis/meneliti ttg Siti Soendari, lebih baik dibaca baik2 dulu, Siti Soendari mana yang ingin anda jadikan bahan studi anda.

      Buku kami judulnya: Siti Soendari adik bungsu Dr. Soetomo.
      Penulisnya Santo Koesoebjono dan Solita Koesoebjono-Sarwono
      Penerbit Fahima di Yogya.
      Jika anda ingin membeli bukunya, bisa saya berikan contact adress Fahima.

      Selamat bekerja menyusun proposal anda.

      Salam, Solita

      1. Hai mba Solita,

        Siti Soendari yang saya maksud adalah beliau yang pernah berprofesi sebagai wartawan Doenia Bergerak (1914) dan Wanito Hisworo, serta ikut dalam kongres perempuan pertama (1928). dan beliau yang aktif menyuarakan perjuangan emansipasi perempuan dan kesetaraan gender pada masanya.

        Apakah beliau yang anda maksud dalam buku “Siti Soendari, Adik Bungsu Dr. Soetomo”?

        Jika betul, saya ingin membeli buku tersebut untuk referensi awal. Saya sudah mencoba mencari buku tersebut di beberapa toko buku di Bandung tetapi tidak berhasil menemukannya. Semoga anda bersedia membantu.

        Sebelumnya, terimakasih banyak atas masukannya.

        Salam, Ana
        noviani_ana@yahoo.com

  2. Dear Ana, Siti Soendari ibu mertua saya bukan wartawan. Beliau ahli hukum. Lalu pernah bekerja di bank sebelum menikah, dan posisinya terakhirnya adalah direktur Bank Rakyat di Malang. Setelah menikah, meninggalkan jabatannya, menggantinya dengan tugas mendampingi suami yg menjadi assisten wedana, lalu naik jadi wedana, dan terkahiir menjadi Walikota Semarang, sebelum dikirimkan ke negeri Belanda untuk menjadi Direktur perusahaan negara yang mengekspor kopra ke Eropa. Ibu mertua saya tidak pernah membuat tulisan yg dipublikasi (beliau sering menulis surat ke teman2 dan anak2nya di Belanda), apalagi menulis buku.
    Ma,a Siti Soendari itu tidak unik, tidak hanya milik satu org saja. Oleh sebab itu, jika anda ingin mengupas kehidupan/ diri seseorang, teliti dulu identitas dan pribadi orang itu, sehingga anda tidak keliru. Tulisan ttg SitiSoendari ini akan anda buat untuk skripsi/tesis/ disertasi?
    Salam, Lita

  3. Thanks ya mba Lita,
    Wah, hampir saja saya keliru. Dalam beberapa tulisan di internet, rupanya memang ada kekeliruan antara kedua Siti Soendari itu. Untunglah, saya tau kekeliruan ini di awal pra riset saya.

    Rencananya saya mau mengangkat tulisan-tulisan Siti Soendari di bbrp surat kabar untuk skripsi saya. Saat ini saya menekuni jurusan jurnalistik di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad.

    Boleh tau buku apa yang pernah mba Lita baca yang mengangkat soal kisah Siti Soendari yang bukan Ibu Mertua Anda?

    Saya juga mau konfirmasi mba, apa Siti Soendari (ibu mertua mba Lita) pernah menghadiri Kongres Perempuan Pertama yang digelar di Mataram 22-25 Desember 1928?
    karena dalam buku “Kongres Perempuan Pertama” yang merupakan hasil kajian ulang Susan Blackburn, tertulis RA Siti Soendari menghadiri Kongres Perempuan Indonesia dan berpidato soal Kewajiban dan cita-cita putri Indonesia.

    thanks, Ana

    1. Ana, kekeliruan ttg nama Siti Soendari kebetulan saya peroleh di buku berjudul Tentang Perempuan Islam: wacana dan gerakan, oleh Amelia Fauzia,Oman Fathurahman. Saya kenal Amelia, Peneliti/Direktur Pusat Penelitian di IAIN Syarif Hidayatullah jakarta, sekaligus dosen di sana. Saya kenal Amelia waktu dia mengambil S2 di Leiden, Neg Bld. Setelah itu Amelia mengambil S3 nya di Australia (di Melbourne, kalau tidak salah). Kutipan nama Siti Soendari di buku itu bisa dilihat di buku tsb (cari lewat Google) pd hal 28.
      Saya pernah mengirimkan koreksi ttg penggunaan nama yg keliru itu kepada Amelia, dan sudah dia terima email saya itu, tetapi sulit meralat buku yg sudah diterbitkan, kan ya?
      Ibu Siti Soendari kami tidak ikut kongres perempuan pertama di Mataram th 1928. Kongres itu yg kemudian dijadikan awal Hari Ibu buat bangsa Indonesia, kan? Beliau ikut kongres pemuda di Paris th 1930-an ( saya lupa tahunnya) sebagai wakil mahasiswa perempuan dari Univ Leiden. Saya tidak tahu apakah Siti Soendari yang menulis di Wanita Sworo itu dari gol ningrat. Kalau tidak, maka penulis/peneliti Barat Susan Blackburn juga keliru mencantumkan gelar RA dimuka nama Siti Soendari..
      Dari kasus2 ini, dpt dilihat bahwa peneliti2 yang bertingkat internasional dan bergelar doktor pun bisa teledor mengambil/menyalin informasi dari buku2 rujukan. Mudah2an dengan pengalaman menulis skripsi ini, Ana bisa menjadi lebih hati2 kalau mencari informasi. Cek dulu kata kunci atau nama orang itu di google, sebelum mengambil kesimpulan dan menuliskannya. Kalau mau mencari data ilmiah, pakailah scholar.google.com. Di sana saya temukan kutipan berikut:
      “The Difference between Mecca and Digul” by Moh. Amanoe: An Introduction and Annotated Translation
      PW Van Der Veur – Journal of Southeast Asian Studies, 1986 – Cambridge Univ Press
      … a newspaper directed by Dr. Soetomo) in October 1930.12 The foregoing statements abound
      in errors: Siti Soemandari was no sister of Dr. Soetomo (one of Soetomo’s sisters was RA Siti
      Soendari — close, but not quite the same); Soetomo was one of the editors of the news- …
      Selamat menyelesaikan skripsi anda.
      Lita

      1. Dear mba Lita,
        Sekali lagi, terimakasih atas saran dan informasi yg sangat berguna untuk saya. Ngga sangka bisa dapet pencerahan dari menuliskan komentar di tulisan ini.
        Semoga saya bisa lebih teliti dalam mencari informasi untuk skripsi saya.

        Thanks a lot

        salam, Ana

  4. salam kenal…
    hai mbak lita… saya sovie, sy pengagum “Tetralogi Pulau Buru” karya Pramudya Ananta Tour, saya ingin menanyakan apakah RA Siti Soendari yang anda bukukan adalah sama dengan Siti Soendari yang ada dalam buku Pramudya tersebut. bila benar saya ingin membelinya sebagai acuan untuk pelengkap bacaan saya tentang Tetralogi pulau buru. tks

    1. Sovie yang baik, (anak kami namanya juga sama, Sofie Sundari).
      Meskipun saya belum membaca Tetralogi Pulau Buru karangan Pramudya, nama Siti Soendari yg ditulis dibuku itu tentu bukan Siti Soendari adiknya Dr. Soetomo (ibu mertua saya).
      Kalau ingin membeli bu Siti Soendari bisa saja, di penerbitnya : Fahima, di Yogya. Kalau mau, saya bisa berikan kpd anda alamat pemimpin penerbit tsb.
      Ngomong2, karena banyak dibahas ttg tokoh Siti Soendari yg bukan ibu mertua saya, saya jadi ingin tahu ttg tokoh tersebut, deh. Nantilah saya cari literaturnya untuk tahu, siapakah beliau itu.
      Salam, Lita

  5. Terimakasih untuk mbak Solita Sarwono yang membuat kami semakin tahu akan dua Siti Soendari yang berbeda. Hm, saya kira, Siti Soendari yang dimaksudkan oleh si penulis blog ini adalah Siti Soendari istri Moh. Yamin. Sayangnya, sangat sulit untuk melacak Siti Soendari ini. Pasalnya, garis keturunannya habis. Satu-satunya anaknya, Rahadian Yamin, meninggal dalam kecelakaan pesawat (saat meninggal, belum dikarunia anak). Hm, Barangkali bisa melacak lewat menantunya. Satu lagi, saya cukup heran, bagaimana mungkin dikatakan bahwa Siti Soendari dipoligami. Bukankah Yamin sangat tegas terkait dengan monogami? Saya kira juga, catatan tentang Siti Soendari dalam ini perlu direvisi.

    1. Untuk tidak memperpanjang tentang tokoh Siti Soendari yang dimaksud, dan bukan istrinya M.Yamin…berikut saya tampilkan gambar buku Siti Soendari.

      Nama Siti Soendari (khususnya Soendari) adalah nama asli Nusantara, bahkan nama dewi pada masa sebelum Majapahit runtuh… Adapun Siti Soendari yang pernah menjadi redaksi majalah perjuangan perempuan yang ditulis tahun 1932 saya belum mendapatkan lagi literaturnya…

  6. Terima kasih buat blog nya… saya memang awalnya cukup terkejut dengan ulasan Siti Soendari adik dr. Soetomo saya pikir Ibu Siti di sini adalah Si(t)ti Soendari salah satu perempuan yang berpidato dalam bahasa Belanda fasih pada Kerapatan Besar Pemoeda Indonesia 1928 dan dua bulan kemudian berpidato dalam bahasa Indonesia terpatah-patah di “Kongres” Perempuan Pertama 1928.

    Rupanya Indonesia punya banyak Siti-siti yang luar biasa

    Terima Kasih
    Andi Hakim

  7. Pak Andi Hakim,
    Meski ibu kami Siti Soendari fasih berbahasa Belanda, beliau tidak akan bersedia untuk berpidato di depan umum, karena beliau memiliki kepribadian yg tidak ingin menonjolkan diri. Jangankan pidato di depan publik; angkat bicara di kumpulan keluarga saja beliau tidak pernah/tidak mau. Yang pribadinya menonjol adalah kakaknya ibu Soendari, yaitu ibu Sri Oemijati, pelopor (dan kalau tidak salah juga pendiri) sekolah Kartini. Saya tidak tahu persisnya, apakah ibu Oemijati pendiri Sek Kartini yg merupakan ‘alma mater’ dari cukup banyak tokoh perempuan kita, spt ibu Enny Sudharmono (istri mantan Wapres), ibu Conny Semiawan (gurubesar di Univ Neg Jakarta/IKIP Jkt) – kalau tidak salah – dan entah siapa lagi. Bu Yat prnah menjadi kepala sekolah dari Sek Kartini di Cirebon (Sek Kartini tersebar di beberapa kota di Jawa). Belakangan bu Sri Oemijati mendirikan Sek Teknik Grafika di Kebayoran Baru. Dan sekitar th 1980-an bu Sri Oemijati memperoleh bintang jasa sebagai tokoh pendidikan. Sebagai guru, bu Yat biasa bicara di depan umum. Bu Soendari, si bungsu, tidak demikian.
    Kisah ttg ibu Siti Soendari itu kami tulis 10 th setelah ybs wafat. Dan beliau sendiri sangat jarang menceritakan ttg pengalamannya maupun pandangannya ttg macam2 aspek kehidupan, termasuk ttg posisi perempuan. Maka apa yg kami tulis adalah hasil obrolan kami selama bertahun2 dengan beliau, komentar2 beliau kalau membaca koran atau mendengarkan/menonton TV dan pengamatan kami terhadap tindak tanduk bu Soendari sehari2nya. Ketika kami akhirnya menulis buku tsb, kami sadar bhw banyak hal yg sebetulnya ingin kami ketahui lebih banyak dari beliau, tetapi tidak bisa lagi kampi peroleh infonya, sebab beliau sudah wafat, dan teman2 serta sanak keluarga beliau pun kebanyakan sudah wafat (kebanyakan wafat dlm usia yg lebih muda dari bu Soendari). Oleh sebab itu kalau org bertanya kpd saya, bagaimana pandangan ibu Soendari ttg posisi perempuan saat itu, saya tidak bisa menjawabnya dengan tepat, hanya memperkirakannya, berdasarkan pergaulan kami dengan ibu sampai beliau wafat.
    Demikianlah sekedar tambahan informasi ttg ibu Siti Soendari
    Salam, Lita

  8. Halo,

    Saya ada info sedikit, tentang seorang ibu di Kongres Perempuan II 1935 sepertinya namanya Sri Wulandari (bukan Sri Soendari) istri dari Ki Sarmidi Mangunsarkoro (mungkin malah tidak berhubungan).

    Tapi ada yang lebih penting yaitu ketika saya baca buku “Sejarah dan Pengabdian Prof.MR. Koencoro Poerbopranoto” di bagian gambar dibelakang tercantum makam Bpk. Soewaji ayah Dr. Soetomo.

    Saya sudah coba cari dalam buku biografi Dr. Soetomo (Kenang – kenangan Dokter Soetomo) tapi tidak mendapat pencerahan mengapa makam Bpk Soewaji ada di makam keluarga Maospati madiun.

    Saya tanya pada salah satu kakek saya pun membenarkan hal itu tapi tidak tahu hubungan kekerabatan antara keluarga dengan Dr. Soetomo.

    Apakah anda mempunyai informasi tentang silsilah Dr. Soetomo ? apakah ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Madiun ?

    1. Mas Arief,
      Terimakasih untuk perhatian anda.
      Ana tanya mengenai hub kel Dr Soetomo dengan kel Madiun. Maksud anda kel Madiun yang mana? Kel Poerbopranoto? Kel Maospati? Kami tidak tahu ttg hub itu. Hanya memang Bpk Soewadji dulu tinggal di Madiun. Kami juga tidak tahu mengapa makam beliau ada di makam kel Maospati.
      Jika anda mau info mengenai ini, mungkin anda bisa menanyakannya kpd pemilik hotel Mustokoweni, di Jl A.M.Sangaji Yogyakarta. Saya lupa nama keluarga itu tsb, tetapi kelihatannya mereka memiliki informasi tentang Dr. Soetomo dan pernah menerbitkan buku Boedi Oetomo. Jadi mereka mungkin dpt memberikan info yg mungkin relevan dengan prtanyaan anda.
      Salam,
      Lita

    1. Mas Arief, terimakasih atas jerih payah anda mencarikan silsilah kekerabatan kel dr. Soetomo.
      Saya sendiri baru kembali dari Yogyakarta, antara lain membeli buku kami. Buku Siti Soendari masih cukup banyak di percetakan Fahima. Hanya saja, buku2 yg tertinggal itu adalah edisi yg sebetulnya ‘rejected’ oleh kami, sebab ada salah cetak di sampul belakang buku itu. Saya menemukan kesalahan tsb sehari sebelum acara peluncuran buku itu. Langsung saya minta kpd pak Bambang (pemilik Fahima) untuk membongkar dan mencetak kembali cover buku kami. Hal itu dikerjakannya, tetapi rupanya hanya sebagian kecil saja. Buku yg benar cetakannya, sudah habis. Sekarang tinggal yg sampul belakangnya salah. Tetapi isi buku2 itu tetap benar/baik, kok. Jadi jika anda mau membelinya, boleh saja. Jika percetakan Fahima tidak bisa dihubungi, bisa minta tolong ke Bpk Wiyadi (087838144169) di Yogya untuk menanyakan bgm caranya memperoleh buku tsb. Kami membeli buku2 itu pun melalui pak Yadi.
      Salam, Lita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

<span>%d</span> bloggers like this: