oleh Umi Lasminah

Hari ini penghitungan suara hasil Pilpres belum selesai, akan tetapi hasil quick count lembaga swasta telah merajalela dan menetapkan salah satu capres sebagai pemenangnya, dan capres tersebut adalah Incumbent, yang sedang berkuasa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, presiden yang sejak dirinya berkuasa sudah lebih dari lebih dari 290.000  jiwa rakyat Indonesia mati karena bencana baik yang KARENA CAMPUR TANGAN TUHAN maupun kelalaian manusia, dan sejak pemerintahanya tahun 2004-2007 sudah 108 gereja dirusak, dan tak kurang dari 20 masjid Ahmadiyah dibakar atau dirusak, juga tak kalah banyak pengrusakan atau penutupan rumah ibadat agama Non Muslim.

Di samping segala hal terkait terkait ketidak ditegakkannya Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila KeDua Kemanusiaan Yang Adil dan BERADAB serta silsa KeEmpat Kerakyatan yang DIPIMPIN OLEH HIKMAH KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYARAWATAN DAN PERWAKILAN, di antaranya: pasar-pasar rakyat/pasar tradisional banyak yang tutup, tak terurus, kesenian-kesenian rakyat dan tradisional hamper punah dengan serbuan kesenian asing/industry.

Tapi hari ini dan hari-hari kemarin yang menjadi Pemenang dalam Pilpres 2009 adalah MEDIA MASSA ELEKTRONIK dan Amerika Serikat , Negara adi daya. Tak Heran dalam WallStreet Journal tanggal langsung tanggal 13 Juli 2009, yang tidak hanya memuji SBY sebagai pemerintah yang jujur tapi dianggap pemerintah yang menjauh dari Soeharto. Meski dalam tajuk opini Asia, WallStreetJournal telah menganggap SBY menang…

Adalah suatu kekeliruan yang Luar Biasa besar bagi Demokrasi Indonesia manakala Kebohongan dan Pencitraan Presiden Yang Baik, dan sebagainya telah membuat Suatu Proses Demokrasi Berjalan tidak sebagaimana mestinya disebabkan oleh Penguasa yang Tidak Memiliki Niat Baik atas Demokrasi itu Sendiri. Pada arti ini, di manapun di seluruah dunia, DEMOKRASI dan Pelaksanaan PEMILU adalah tanggung jawab Kepala Negara, tanggung jawab Presiden selalu Kepala Pemerintahan, eh ketika ada masalah warganegara Indonesia yang tidak mendapat hak pilihnya padahal mereka ingin memilih KEPALA NEGARA ini SBY-Incumbent yang memerintah menyalahkan KPU, lalu KPU menyalahkan Menteri Dalam Negeri. Hingga masalahan pelanggaran Konstitusi kepada Rakyat yang tidak memperoleh Hak pilih lalu dibawa DPRRI dan diajukan sebagai Hak Angket (hak DPRRI melakukan Investigasi terhadap kebijakan Pemerintah) tetap saja Pemerintah tidak Bergeming. Rakyat tidak tahu menahu tentang hal ini, rakyat hanyalah penerima pasif segala Kebijakan Para Pengambil Keputusan Sang Penguasa.

Dan ketika hasil pengumumunan dari Quick Count (lembaga survey yang menyurvei hasil pemungutan suara di kurang dari 10% TPS yang ada di Indonesia memenangkan presiden INCUMBENT, rakyat  tidak bisa berbuat apa-apa. Karena rakyat adalah mahluk pasif, tidak punya senjata, tidak punya dana dan tidak punya kekuatan penggerak untuk melakukan perlawanan. Yang paling sulit, adalah rakyat tidak bisa protes atas hasil Quick Count—karena quick count ini adalah lembaga swasta yang mencari uang sendiri, mendanai sendiri bukan dana rakyat…..

Sebagai warga Negara Indonesia yang masuk kategori kelas menengah (lulus sarjana, melek internet, dan berpenghasilan tidak terlalu kurang) saya sangat sedih, karena bila Presiden dan Pemerintah sekarang terpilih lagi, maka akan terjadi pembiarkan kembali rakyat untuk menderita lagi, lima tahun ke depan. Lihat saja, akan lahirnya bencana-bencana, dan akan kembali lagi suatu kaum yang merasa diri paling benar menghina dan menghancurkan kaum lain. Di masa depan ini, sangat mungkin Presiden Indonesia adalah presiden untuk satu kaum golongan agama tertentu, dan Negara Indonesia yang merdeka didirikan untuk semua kaum, semua golongan, suku, agama dan ras akan lambat-laut menjadi rapuh, dan Ke-Indonesiaan kita akan menjadi KeIndonesiaan yang bukan lagi berdasarkan apa yang dicita-citakan pendiri bangsa—yaitu sesuai Proklamasi dan Pembukaan UU 1945, dan bukan UUD1945 versi Amandemen…..

Advertisements