Perempuan Dimana saat Pilpres?

Oleh Umi Lasmina

Perempuan Indonesia kembali mengalami kekalahan dalam melawan patriarki. Patriarki sebagai salah satu definisi dimana landasan utama terjadinya dominasi kekuasaan oleh laki-laki adalah karena si ‘memperoleh kuasa tersebut’ berjenis kelamin laki-laki.

Terjadinya perlawanan terhadap patriarki yang terus menerus di Indonesia sejak jaman Kartini diawal abad ke 19, dan kemenangan besar adalah saat Ibu Megawati menjadi presiden 2003 (pada konteks politik saat itu, tidak hanya Megawati berhak, karena partainya adalah pemenang Pemilu), akan tetapi karena kuasa wacana patriarki membuat Megawati harus menerima menjadi Wakil Presiden (dengan dipilih oleh MPR). Tentunya  akan merupakan kemenangan terbesar bila 1999 Megawati jadi presiden, namun sekali lagi, penguasa riil politik nasional saat itu tidak pada partai terbesar, rakyat pemilih, maupun rakyat Indonesia sendiri. Selalu ada pihak asing yang bermain secara invisible voice, suatu kondisi yang terdesain Pihak tertentu dalam wacana utama, yang dikendalikan secara tidak langsung melalui media massa (utamanya elektronik dan surat kabar).

Akan tetapi patriarki pada Pemilu 1999, yang berbungkus kuasa mengatasnamakan interpretasi religi,menumbangkan peluang menjadi presiden 1999.

Bila Megawati pun kemudian menjadi presiden 2003, maka hal tersebut terjadi pula sebagai bagian kuasa patriarki dalam realitas politik, di mana para laki-laki penguasa wacana dapat mereinterpretasi ulang atau menjungkirbalikan apa saja yang dianggap dapat menguntungkan  kelompoknya dan melemahkan lawan dan saingan.

Kuasa Patriarki Dunia dan Indonesia

Dunia internasional adalah dunia patriarki. Dunia internasional yang patriarki diantaranya terejawantah dalamsupremasi wacana dan praktik kekuasaan kulit putih, “white supremacy is unnamed political system that has made the modern world what it is today” (The Racial Contract, Charles W.Mills).  Hubungan antar Negara Kecil/Miskin ‘dunia ketiga’ (bisa dianalogikan sebagai perempuan) dan Negara Industri/Negri kulit putih adalah laki-laki. Bisa dibilang bapak, the father, patriarch dunia adalah Amerika Serikat (USA). Apabila akan melakukan sesuatu harus sesuai dengan Keinginan father, bapak, yaitu Amerika Serikat. Terutama sekali Negara-negara yang sudah menyatakan tunduk pada Amerika Serikat. Indonesia adalah salah satu Negara yang ‘tunduk’ pada USA sejak tahun 1967  (Soeharto).

Pada priode Soeharto inilah desain pemerintahan adalah pesanan Amerika Serikat, utamanya desain ekonomi dan politik. Ekonomi, tidak ada kemandirian ekonomi. Soeharto melakukan kebijakan ekonomi dan politiknya setelah melalui restu Amerika Serikat, bila ekonomi Indonesia dirumuskan pembagian kue (kekayaan alam Indonesia Indonesia) di Swiss tahun 1967 (New Ruler of The World (John Pilger’s film documentary), THE SECRET HISTORY OF THE AMERICAN EMPIRE Economic Hitmen, Jackals, and the truth about Global Coruuption), sedangkan kebijakan politik Indonesia didesain dan dirumuskan melalui kerja-kerja intelejen dengan konsultasi dari CSIS.

Lalu ketika Soeharto dianggap sudah saatnya mundur, karena kekuasaanya yang panjang, dan tugasnya menghancurkan PKI sudah rampung, maka diluncurkan gerakan HAM. Model desain Amerika Serikat dalam mengorbitkan Soeharto adalah antara lain melalui pelanggaran HAM demi stabilitas politik 1966 (melalui pembantaian 1 juta lebih orang Indonesia yang dianggap komunis) dan pengucilan keluarga serta anak keturunan orang-orang yang dianggap komunis, maka cara paling mudah untuk menurunkan Soeharto adalah juga dengan menggunakan target pelanggaran HAM yang dilakukan Soeharto melalui jalur Isu HAM: kebebasan pers, kebebasan berorganisasi, Pengadilan pelanggaran HAM dan kebebasan politik (yang ditiadakan oleh Soeharto, dan diijinkan sementara oleh USA sampai Indonesia siap masuk pasar bebas), Indonesia masuk pasar Bebas 1994 dengan UU No.10 tahun 1994 tentang WTO. Kesiapan Indonesia masuk pasar bebas dapat diartikan, anasir-anasir kekuatan politik komunis dan sosialis sudah teredam dan hanya merupakan wacana semata.

Pada titik Indonesia dianggap siap memasuki pasar bebas, tentunya kaum perempuan Indonesia juga dianggap sudah terliberalisasi, dalam arti sudah mengikuti masuk kerangka Women’s Lib (women liberation) feminisme yang mendominasi Amerika Serikat, dimana feminis liberal adalah penguasa wacana dan dipraktikan dalam kehidupan perempuan Amerika Serikat. Di sinilah patriarchal dunia menggunakan kekuatannya untuk mempengaruhi nilai-nilai budaya diberbagai Negara demi tujuan tersembunyi. Pada bagian ini, patriarchal mencerminkan muka dua, ada yang dipentingkan dari suatu peristiwa ini. Ada suatu desain tak terasa terjadi dengan dorongan tertentu yang sesungguhnya telah menjadi sebuah desain besar kerangka Kekuasaan, tetap kekuasaan patriarki.

Identifikasi Jenis Kelamin sebagai Tanda Perlawanan terhadap Patriarki

Identifikasi diri sebagai bagian dari keberpihakan, keikutsertaan, solidaritas kesamaan nasib, dan persamaan penderitaan merupakan suatu cara yang memotivikasi seseorang turut dalam perjuangan kolektif. Identitas jenis kelamin adalah hal yang paling dasar dan paling hakiki dari perjuangan perempuan melawan ketertindasannya.

Mengenai hal ini, Catherine Mac Kinnon menyebutkan “sepanjang di dunia masih ada ketidaksetaraan seksual (sexual inequality) maka penindasan terhadap perempuan akan terus berlangsung”.

Pada saat pilpres, pada diri mayoritas perempuan Indonesia seks/jenis kelamin sebagai identitas kaum tertindas belum menjadi bagian dari perlawanan. Identitas yang jika mau dpersamakan dengn identitas kelas Marx, (ekonomi) kelas tertindas adalah mereka yang tidak berpunya (tdiak punya alat produksi dan modal), sedangkan dalam Patriakri teori/praktik kelas tertindas adalah kaum yang punya jenis kelamin perempuan.(Hampir semua feminis mengakui ini secara teori&praktis, tapi pendekatan perlawan trhadap patriarki yang sangat beragam, sehingga sering dinyatakan tidak ada satu feminisme tapi banyak feminisme).

Keberagaman bentuk feminisme ini disebabkan keberagaman kultur hidup manusia, yang tdk bisa dilepaskan dari pengaruh tempat/geografi manusia (perempuan laki-laki tinggal),demografi komposisi dan bentuk

Perempuan dan PILPRES 2009

Patriarki dalam arti dominasi kekuasaan bila dikuantifikasikan pada saat pilpres, bahwa hanya satu kandidat perempuan capres dan cawapres dari 6 orang kandidat, bearti 84,4% pilpres 2009 adalah patriarki.  Lalu bila dikaji secara singkat wacana pilpres 2009, di mana televisi dan media cetak tak pernah mengangkat isu perempuan sebagai bagian dari kondisi riil dan kebijakan yang lahir 2004-2009 untuk menakar kemajuan perempuan tak lain adalah bagian dari agenda patriarki menutup wacana perempuan dan mengunci ruang keterbukaan tentang fakta ketertindasan perempuan.

Hampir semua media massa sama sekali tidak mengkaitkan kebijakan yang berdampak langsung terhadap perempuan yang lahir 2004-2009 dan baik yang positif maupun negatif, tidak penting, mungkin itulah kata kunci didalam pikiran pemilik modal dan pembuat kebijakan media massa sehingga tak satu wacana kongkrit seputar kebijakan tentang dan bagi perempuan diurai dan diwacanakan. Tak ada flashback tentang UU Pornografi, tak ada flashback tentang Perda-perda diskriminatif terhadap perempuan, tak ada flashback tentang lahirnya kebijakan kenaikan BBM dan dampaknya bagi perempuan, tak ada flashback tentang UU Pendidikan, tak ada flashback tentang pelanggaran HAM terhadap pemeluk agama dan pengamal ajaran tertentu. Tak ada, nihil, semua media massa terbeli patriarki. Hanya Kompas yang termasuk mau menuliskan tentang penderitaan buruh migrant perempuan Indonesia di luar negeri, dan mengulas sedikit tentang MOU Pemerintah Indonesia dengan Malaysia yang tidak menguntungkan buruh migrant. Media televisi justru mengumandangkan lagu tentang Manohara, menjadikannya sinetron, atau bahkan terus menerus mengupas penderitaan Situ Gintung.

Lalu saat terror Bom menghantam lambang kedidjayaan Amerika Serikat, maka semua media massa terus menerus menuliskan, bahkan berusaha mencari masalah hingga ke ‘akar-akar’-nya dalam perspektif patriarki, kekuasaan versus kekuasaan. Tak ada satu pun media massayang memberitakan atau membuat fitur hingga ke akar-akarnya  ketika seorang anak kecil tersiram air panas dari gerobak bakso yang terjadi saat penggusuran, atau rombongan keluarga di desa Siring, di Porong Sidoarjo yang hidup dalam ketakutan karena ancaman lumpur.

Advertisements