DARAH INDONESIA

Inilah darah orang-orang Indonesia. Darah Indonesia merah, bertulang putih. Darah Indonesia biasanya memiliki aliran darah para ksatria, para dharma, para kyai, para pendeta, waisya ; para pedagang dan sudra, para pengemis dan darah keturunan para priyayi pendiri Negeri.

Darah orang Indonesia adalah darah yang dialiri semangat, kerja kerasa. Merekalah orang-orang Indonesia sejati yang berkarakter kreatif dan tak malu untuk bekerja secara halal. Merekalah darah warisan para raja-raja, para punakawan dan orang-orang perkasa pendiri candi-candi megah dan gedung-gedung tinggi se antero negeri.

Orang-orang Indonesia perkasa yang ketika mereka di PHK, laki-laki dan perempuan pada tahun 1997, terus berusaha bekerja dengan berdagang apa saja, dan terus hidup di tanah Indonesia.

Orang-orang Indonesia sejati di antaranya adalah mereka yang tidak mengenal lelah terus bekerja keras mencari makan di jalanan dengan menjadi pedagang asongan, penjual bakso keliling, atau menjadi tukang parkir di sudut-sudut mal, atau bangunan kantor.

Orang Indonesia berdarah merah dengan semangat menyala. Merekalah orang-orang yang berbondong-bondong pergi bersama-sama, berkelompok dengan menyewa bis atau sekedar naik motor berboncengan menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk menonton Tim Sepakbola Merah Putih bertanding berusaha mengalahkan lawannya. Walaupun kalah, orang-orang Indonesia ini tetap semangat akan terus menonton Tim Merah Putih bertanding dan berusaha mengalahkan lawan.

Orang-orang Indonesia juga, baik yang bermata sipit maupun belo/besar bergiat pergi menuju Istora Senayan dan mengeluarkan uang tidak sedikit untuk menonton pertandingan Bulutangkis/Badminton, memberi semangat pada pemain-pemain bulutangkis untuk mengalahkan lawannya.

Orang-orang Indonesia yang darahnya merah, kulitnya coklat gelap, coklat muda/kuning langsat atau putih bersih seperti cream susu adalah orang-orang yang pengasih pada sesama mahluk sesama bangsa. Mereka rajin memberi makan binatang-binatang liar seperti kucing, burung, tikus yang berseliweran di antara rumah-rumah indah maupun di antara sempit-nya gang-gang kumuh. Orang-orang Indonesia sesungguhnya saling mengasihi sejak dulu bahkan sebelum Nama Indonesia resmi menjadi nama Negara dan Bangsa, sebelum Bahasa Indonesia menjadi bahasa perantara maksud sesama manusia Indonesia.

Orang-orang Indonesia saling mengasihi dan menghargai satu sama lain. Walaupun beda agama, beda suku, beda latar belakang kekayaan dan pendidikan. Orang-orang Indonesia inilah orang-orang asli berkarakter Indonesia. Mereka ini dapat ditemukan di Yogyakarta, di Solo atau di dekat-dekat sini di Jakarta.

Orang Indonesia selalu menghargai umat agama yang berbeda. Bukankah hal ini juga ditunjukkan oleh para pemimpinnya. Presiden Indonesia mungkin beragama Islam, saat perayaan Natal, perayaan Waisak atau Galungan dan Kuningan, selalu saja sang Presiden Hadir sebagai bagian tugasnya sebagai Bapak/Ibu Bangsa, Bapak/Ibu Negara. Di beberapa daerah hingga kini masih terjadi ketika hari Natal para tetangga yang muslim memberi ucapan selamat, bahkan mengantarkan hantaran makanan, tidak usah jauh-jauh di Pondok Aren masih ada masyarakat dengan toleransi tinggi seperti ini.

Orang-orang Indonesia yang darahnya merah, dan bertipe golongan A, O, B, atau AB tetaplah manusia biasa yang sering kali menjadi panas darahnya, lalu tertipu dan terpengaruh setan sehingga melakukan kekerasan, melakukan penghinaan pada sesama mahluk dan bangsa Indonesia, yang jelas-jelas makan dari tanah dan air yang sama, tumbuhan dan lauk pauk yang ditanam di tanah dan air yang sama.

Orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang karena baik hatinya, menjadi mudah menerima, menjadi mudah mengakui apa yang sebenarnya bukan bagian dari Ke Indonesiaannya. Kita melihat ada banyak orang-orang berpakaian dan berkostum tertentu, yang mengacung-ngacungkan golok, kayu atau bambu lalu menakut-nakuti, dan mengobrak-abrik milik dan lahan kerja orang lain. Mereka ini melakukannya atas nama apa yang dianggap benar oleh mereka. Bahkan orang-orang ini, yang jika kita lihat identitasnya pasti masih berKTP WNI memukul, menendang dan menghujamkan kata-kata hinaan pada orang lain yang juga berKTP WNI. Orang-orang berpakaian dan kostum tertentu ini kemudian menimbulkan luka, membuat orang lain mengalirkan darah dari hidungnya—darah Indonesia yang juga merah, sama seperti darah mereka yang berkostum ini…Tapi itulah Indonesia yang semoga saja sementara, dan sedikit.

Orang-orang Indonesia berdarah Indonesia, berketurunan dari suku-suku bangsa se Nusantara, adalah orang-orang pekerja keras, kreatif, baik hati dan cenderung menerima. Orang-orang Indonesia kebanyakan begitu nrimo-nya, hingga diperlakukan tak adil pun tidak banyak yang protes, tidak banyak yang bergerak, contohnya mungkin penjajahan, atau juga di saat pemerintahan modern sekarang. Atau yang paling sederhana, ketika orang Indonesia selaku pembeli, berbelanja di Supermarket atau Swalayan, tidak ada kembaliannya, diberikanlah permen, toh hampir 99,9% orang Indonesia tidak menolaknya, walaupun si pembeli ini tidak makan permen.

Orang Indonesia adalah orang paling sederhana sekaligus paling kompleks, sama seperti manusia pada umumnya. Betapa saya bangga menjadi salah satunya, dan tentu saja sangat menikmati dan terus waspada akan adanya gerakan menggantikan darah Indonesia menjadi karakter bukan Indonesia.

SELAMAT MENJAGA SEMANGAT DAN ARTI SUMPAH PEMUDA 1928

@Umi Lasminah

Advertisements