Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Date

November 1, 2009

Keadilan bukan Cuma untuk Elit

Minggu ini dan beberapa minggu lalu media cetak dan elektronik mengupas selalu KPK yang anggotanya ditahan. Lalu berbondong-bondong orang penting, tokoh organisasi tokoh partai menjaminkan dirinya untuk jaminan bagi penangguhan penahanan atas Chandra dan Bibit.

Duh Indonesia, mengapa selalu saja elit-elit mendapat ruang seluasnya buat apa yang menjadi realitas sehari-hari manusia.

Tak hanya BIBIT dan CHANDRA yang ditahan saat BELUM TERBUKTI SALAH, beberapa hari yang lalu dimuat dalam suatu berita halaman satu Kompas, seorang dituduh MENCURI Listrik DAN SUDAH DITAHAN hampir satu bulan, SUDAH DITAHAN dan tak ada yang Menjaminkan. Padahal hanya untuk mencharge HP-nya agar tahu berita GEMPA di Padang! Dan orang ini SUDAH DITAHAN TANPA PENGADILAN!

JADI JANGANLAH RIBUT-RAME SOAL YANG PENTING TAPI BANYAK HAL JUGA YANG PENTING BUAT RAKYAT, Mereka yang dituduh maling ayam, mereka yang dituduh mencuri dan dianiaya hingga tewas.

Film Nasionalisme?

Baru baru ini sempat nonton di bioskop dua film yang katanya didesain untuk membangkitkan semangat nasionalisme. Pertama film MERAH PUTIH (MP) dan yang baru-baru ini RUMA MAIDA (RM).

Duh kecewa dan tidak merekomendasikan untuk ditonton, tapi demi untuk menonton film Indonesia tentunya lebih baik ditonton saja, film apa saja. Disamping itu jika menonton film RUMA MAIDA di Megablizt GrandIndonesia dapat kaos! Hmm gak substantif sekali. Tetapi sebentar, ini saya review filmnya sedikit dan sekilas saja.

Secara kasar kesimpulan untuk film MP: kostum ngacak, setting waktu tidak jelas, emosi cuma hadir sat ada kematian. Pemainnya tidak ada yang menonjol, tidak banyak dialog yang berharga untuk diingat lama, mungkin ada satu inilah saatnya kaum dari kelurga petani/peternak jadi pemimpin (tidak persis seperti itu, tapi makna seperti itu). Pertentangan kelas lumayan baik ditampilkan tetapi kurang digarap. Yang paling mencolok saat setting kejadian pertempuran di Magelang, masyarakatnya kostum seperti masyarakat Jawa Barat, dan tak kalah pentingnya adegan Merobek bendera dari merah putih biru menjadi merah putih, adegan tanpa bahasa. Ini mungkin karena melibatkan banyak pihak dari pihak asing (visual effect atau director photography–mesti di cek lagi).

Untuk film RM: wah sayang sekali, ini film tak ada pemanin yang menonjol mungkin hanya Soekarno, bukan karena aktingnya tapi karena figur dan gerak-geriknya MIRIP sekali. Tapi ada yang mungkin tak lazim buat seorang Soekarno yang ditampilkan bertemu dengan perempuan seperti yang diperankan oleh Wulan Guritno dan, Soekarno tak peduli lihat perempuan cantik!!

Yang paling parah adalah mengganti kata-kata Soekarno tentang Mengapa Penting Merdeka dengan sekedar bilang Soekarno ingin cepat Merdeka. Narasi pemeran utama gundah dengan konflik Soekarno-Hatta Sharir, tapi hanya bilang bahwa Soekarno ingin mempercepat dan merebut kemerdekaan, sementara Sharir dan Hatta ingin mendidik dulu rakyat Indonesia.

Padahal (seperti kutipan dalam Pidato 1 Juni-nya).

Soekano memberikan tekanan Tekad dan Keberanian Merdeka: “Samiun (marhaen) :Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati sang Ndoro baru kawin kalau sudah mempunyai gerozilver (peralatan makan dari perak)…” …solanya adalah demkia–Kita berani Merdeka atau Tidak”..Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakakan Rakyat Kita.

Film RM adalah film Romance–ada dua adegan perkawian di film ini. Sama dengan film MP, emosi cuma hadir saat ada kematian dug!

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑