Jebakan Kapitalisme dalam Berkesenian

Mulanya saya agak sulit untuk menyatakan secara politis ketidak sepahaman saya pada bentuk-bentuk karya seni kotemporer, yang menurut perspektif saya bersifat individualis, tak punya pesan dan bersifat memuaskan diri sendiri (self gratification). Saya selalu tidak setuju dengan pandangan l’art pour art (seni untuk seni) yang didengung-dengungkan para seniman. Untunglah saya menemukan jawabannya dalam pengembaraan literatur. Tulisan Theodore Adorno “Art Autonomy and Mass Culture” setidaknya memberikan masukan bahwa tak ada karya yang tidak bisa direproduksi. Atau Peter Burger yang menambahkan bahwa suatu karya bagaimana pun tak dapat dilepaskan dari pengaruh sejarah dan kehidupan social si pencipta karya. Sederhananya saya lebih memilih karya-karya yang memiliki pesan dan bisa dinikmati semua kalangan. Konteks karya seni di sini adalah karya film, lukisan, patung, teater, tari atau musik yang go public, dipersembahkan kepada publik. Baik masuk dalam industri maupun yang belum.

Karya-karya Seni dalam Jebakan Kapitalis

Kelihatannya akhir-akhir ini di Indonesia, Jakarta khususnya para seniman mulai mengadopsi prilaku dan pola berkarya seniman di Amerika Serikat, maupun Eropa. Hal ini memperlihatkan orientasi para seniman Indonesia ke Negara kapitalis. Lihat saja bagaimana film “Goodbye Lenin” dijadikan pembuka Jakarta Internasional Film Festival, atau film tentang Pekerja Seks dari Russia “Layla Forever”—smuanya menggambarkan surga kapitalisme. Dan semua yang nonton bangga lagi..Padahal buanyak film bagus layak diputar di festival film itu,misalnya Russian Ark,atau Motorcyle Diary...

Itu baru penonton, yang bikin film juga sama, lihat saja film Virgin, yang nyontek film Thirteen…Lihat saja bagaimana film Goodbye Lenin dijadikan pembuka Jakarta Indonesia Film Festival.

Banyak seniman sekarang memuja-muja karya minimalis. Lihat saja festival film pendek atau dokumenter, yang salah satunya dimenangkan oleh orang Indonesia Tintin Wulia, dengan judul Ketok. Film yang saya dan teman saya terjemahkan, interpretasi seorang Titik tentang bunyi ketokan. Berhubung Tintin adalah kelas menengah dan mampu membuat film untuk “sekedar” menginterpretasikan ketokan pintu dalam seperangkat roll film yang saat ditayangkan berdurasi 10 menit. Film tersebut dianggap bagus dan menang hahaha

Tanpa bermaksud menihilkan pencapaian dan prestasi yang telah Tintin dan juga telah membawa nama bangsa di dunia internasional, tulisan ini sekedar menempatkan realitas masyarakat Indonesia dan konteks berkeseniannya. Kesenian yang mereproduksi, menjadi industri demi uang, demi penjualan itulah jebakan kapitalisme. Kesenian sejatinya hiburan yang berbayar, bernilai dan menghibur.

Mengapa Seni tidak untuk Seni tidak layak mendapat tempat di Indonesia. Pertama, manusia tidak bebas, Tidak bebas secara sosial dengan manusia lain, alam semesta dan tentunya para ‘evil, devil, butho, iblis’. Seni untuk seni yang ada di Barat sana khususnya diadopsi oleh Amerika Serikat  yang memang secara politik awal pendiriannya dipengaruhi Perancis sejak Andi Warhlol, haduh lihat nasibnya Andi Warhol deh.

Kebebasan tanpa aturan, tanpa pegangan nilai seni bisa menjadi bukan seni. Bahkan kejahatan, jahat bearti evil berarti butho. Sejatinya manusia memang adalah mahluk mulia, tertinggi secara struktur dan memang keturunan Dewa Sang Pencipta, maka prilaku manusia tidak boleh sama atau setara dengan mereka yang ingin menjadi manusia butho/iblis, demon, hewan tumbuhan dsb. Apabila manusia berprilaku seperti yang dibawahnya, itu berarti manusia rendah. Buhto/iblis itu tak tahu aturan, main hantam, memperkosa membunuh, memamerkan kekerasan, tidak satria…Nah banyak seniman menganggap nilai yang memuliakan manusia sebagai tindakan tak diperlukan, sehingga mereka menggunakan pseudo ‘kata baik” kebebasan berekpresi… hahaha Kebebasan berekspresi apakah tidak bearti turut dalam aturan ekspresi bersama? Lagi-lagi liberalisasi yang super liberal itu bukanlah bagian dari kebudayaan Asli Nuswantara. Kebudayaan Nuswantara memuliakan manusia, memuliakan Perempuan.

Maka termasuk diantaranya yang mengusung Pornografis ebagai kesenian tak lebih sebagai manusia yang mengikuti butho/iblis. Yang tak mengenal aturan, tak memuliakan Leluhur…

Advertisements