Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

February 2010

Demokrasi Adalah Menjalani Proses Secara Demokratis

Demokrasi Adalah Menjalani Proses Secara Demokratis

Seorang perempuan dengan tulisan singkatnya di wartafeminis.wordpress.com, menyatakan bahwa Demokrasi adalah kalah dan menang. Ia menuliskan ini terkait dengan sikap politik saya mendukung demokrasi bagi Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi yang dicantumkan dalam blog saya ini.

Sebagai salah seorang yang turut andil dalam proses Kongres 1998 di Yogyakarta saya berkepentingan dan merasa bertanggung jawab untuk memperjuangkan Koalisi Perempuan (saya tidak hendak menyebutnya KPI, karena pada awal pendirian, para penggagas sepakat untuk menyebut Koalisi Perempuan) untuk tetap berada dijalurnya, Demoraksi dan Feminisme.

Demokrasi dan Feminisme berarti menjalankan segala proses berkegiatan dan berorganisasi dengan memegang prinsip demokrasi, yaitu kesetaraan, keterbukaan dan inklusif dan non kekerasan, sedangkan feminisme yang menjadi pijakan Koalisi Perempuan adalah nilai-nilai non patriarki, musyawarah, dan pencarian pencapaian untuk suatu yang disepakati bersama: tanpa tekanan, tanpa intimidasi dan tanpa kekerasan.

Apa yang saya saksikan pada Kongres Nasional III Koalisi Perempuan di Depok adalah bertolak belakang dari prinsip demokrasi dan feminisme yang menjadi pijakan dan landasan berorganisasi. Jadi sekali lagi, MENEGAKKAN LANDASAN IDEOLOGI MENEGAKKAN DEMOKRASI bukanlah untuk mencari kekuasaan, tetapi pembelajaran mendasar Ideologis. Buat mereka yang hidup tanpa pijakan, tanpa ideology, keuntungan dan pencapaian jangka pendek adalah target utama. Target menjadi Sekjen dengan deal dan iming-iming materi, dengan black campaign, dengan menggunakan isu homophobia, bahkan dengan menggunakan infrastruktur yang jelas-jelas bukan merupakan bagian dari gerakan perempuan.

Demokrasi Harus Berada Di atas

Belajar berdemokrasi berarti belajar untuk tidak merasa diri paling benar, merasa diri merasa paling berkuasa. Kekuasaan bukanlah tujuan, itu adalah PRINSIP Demokrasi, kekuasaan adalah jalan menuju kesejahteraan, dalam konteks feminisme demokrasi adalah jalan menuju kesetaraan dan kebahagiaan semua manusia laki-laki dan perempuan.

Salah seorang yang menciptakan lambang dan logo Koalisi Perempuan, mengetahui bahwa isu homophobia dipakai untuk mengambil massa pemilih, membuyarkan pilihan, menyatakan bahwa, “mereka yang merasa menang dan telah menggunakan isu homophobia, haruslah berani menyatakan diri bahwa mereka sekarang organisasi ANTI HAM, organisasi yang bertolak belakang dengan pluralisme”. Hal ini tentu saja benar mengingat jalan kekuasaan yang ditempuhnya adalah dengan Penafikan hak-hak asasi manusia, lalu organisasi tersebut tetap akan menggunakan hak-hak asasi manusia dalam perjuangannya, sangat bertentangan sangat tidak tepat.
Demokrasi prinsipnya adalah keterbukaan dan inklusifitas. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sidang-sidang dalam Kongres Nasional III, forumnya dikuasai oleh mereka yang “haus kekuasaan”. Banyak anggota Koalisi Perempuan yang hendak menyuarakan diri dan kepentingannya dibungkam, tidak dikasih mikrofon. Itulah yang menjadi penyebab adanya perebutan mikrofon. Perembutan mikrofon adalah LAMBANG PERLAWANAN otoriter pimpinan siding yang tidak membuka peluang hak suara dari anggota-anggota Koalisi Perempuan yang hendak menyatakan pendapat.

Disamping pembukaman dengan tidak memberikan mikrofon, ruang sidang juga disetting sedemikian lupa melalui upaya-upaya menyanyikan LAGU-LAGU NASIONAL, SHOLAWAT NABI untuk menenggelamkan suara-suara kritis mereka yang hendak mengemukanan pendapat. Yang lebih parah lagi, dan yang sangat mengganggu saya adalah MENGGUNAKAN LAGU INDONESIA RAYA untuk meredam dan mengatasi suasana yang sedang hiruk pikuk.

Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Masrucha, Sekjen Koalisi Perempuan priode 2004-2009 tidak ada di ruangan manakala terjadi berbagai ketidak beresan dalam proses sidang, dan ternyata beliau dihalang-halangi untuk naik ke panggung dan menggunakan hak suaranya. “alasannya, ia sudah bukan sekjen lagi”.

Suatu hasil yang dicapai tanpa melalui proses demokratis adalah bukan demokrasi, ia hanya jelmaan otoriterian, rekayasa. Pembuktian-pembuktian perlu dilakukan, akan tetapi, dalam demokrasi perempuan, musyawarah dan pembuktian oral, lisan adalah bagian yang integral. Adalah feminis yang berhasil menghadirkan bahwa korban adalah saksi, bahwa masalalu seorang korban perkosaan tidak dapat dijadikan landasan pembenaran perlakuan kekerasan dst…

Bersambung@Umi Lasminah

women of Indonesia Pluralist

Women of Indonesia, the Pluralistic Community in the World

Women of Indonesia, is represented its nation’s character and its slogan and symbol, Bhineka Tunggal Ika (Different but One or Diversity in Unity). The Indonesia women have different cultures and characters somehow it is very easy for them to engage with each other.

Women Indonesia like many other women in the world lives mostly their live in struggle with patriarchy. Their struggle are done in sphere of consciousness or not deliberately. Most of them not deliberately fight for patriarchy. In time of digitally advance community throughout the world, women in Indonesia also have use technology in their life while still maintain their culture and tradition, especially in marital life, upbringing, and day to day caregiver.

Indonesia has more than 250 languages from more tens major ethnics, and hundreds of sub ethnics. Their cultures are varied. For most women who live in rural area, their domestic duty has made women to be the preservers of tradition. Their management skills have been the greatest source of any invention in domestic later public goods for instance traditional medicine (herbal), cook recipes, and other daily need for human to survive.

Most of Indonesian women have practiced a tradition in their life. Since the very beginning of the birth, as a girl, the tradition has put into girl child, most of them to distinguished that they are girl, and different with boys.

To be continue @Umi Lasminah

Perempuan INDONESIA Terjajah secara Budaya

PEREMPUAN TERJAJAH BUDAYA

Perempuan Indonesia sejak Orde Baru dan pasca reformasi memasuki penjajahan baru, yaitu budaya, khususnya budaya yang sifatnya superficial atau luaran. Secara dalaman-atau interior perempuan Indonesia sudah terjajah oleh Patriarki, nilai dan norma yang diterapkan dan berwujud terwujud didalam keseluruhan sistem hidup manusia Indonesia.

Penjajahan dalam arti ini adalah dominasi, hegemoni yang baik secara sadar maupun tak sadar diterima dikarenakan rekayasa kondisi. Kondisi yang tidak memungkinkan perempuan keluar dari situasi tersebut secara serta merta. Perempuan terjajah budaya artinya, secara diri sendiri kedaulatannya atas budaya lemah atau hampir tidak ada. Pada konteks budaya di sini adalah bagaimana perempuan memilih cara hidup, gaya hidup, tampilan diri diri-berpakaian, eksistensi kemanusiaan dan tata cara lainnya dalam keseharian perempuan. Perempuan belum berdaulat atas semuanya.

Lemahnya kedaulatan budaya tersebut sudah berlangsung ratusan tahun, namun dalam tulisan ini saya akan menulis dalam konteks Orde baru dan Pasca Reformasi. Marilah kita lihat kedaulatan budaya perempuan dalam konteks kebudayaan besar Indonesia, GRAND CULTURAL HERITAGE OF INDONESIA–yang mencakup pumpunan kebudayaan leluhur bangsa Indonesia yang berakar dari tradisi dan budaya suku-suku bangsa yang ada di Indonesia.Budaya Indonesia, yang asli Nusantara tersebar di seluruh penjuru negeri. Itulah budaya yang antara lain meliputi budaya terkait kehidupan sehari-hari (makan, minum, tidur, hidup sehat, tempat tinggal dan berpakaian). Para perempuanlah yang paling memiliki andil terbesar dalam melestarikan dan mengenalkan kembali pada seni dan budaya berkehidupan sehari-hari.

Namun serbuan dan penajajahan budaya luar negeri, tidak hanya melunturkan segala bentuk kebudayaan asli terkait sandang, pangan dan papan. Yang paling mencolok tentu saja pakaian sehari-hari rok dan celana panjang yang mungkin saja tidak hanya merupakan model gaya terbaru dari yang sudah ada jauh sebelum NKRI berdiri dan datang dari luar Nuswantara.

Warisan Leluhur sesungguhnya masih banyak yang dikuasai, dipraktekkan oleh perempuan Indonesia, namun karena penjajahan Luar Negeri, sehingga apa yang dipraktekkan nilai, tatacara dan esensi pesan dari ‘tradisi’ ‘praktek Leluhur” tidak diketahui atau semuanya taken for granted. Warisan Leluhur sebagai Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Tatakelola yang dipraktekkan oleh Leluhur di masalalu tidak diketahui atau tidak didalami bahkan tidak dikuasai oleh perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia tidak paham bahwa para leluhur sering bersemedi mengontrol diri untuk memanjangkan waktu, mengenali para penghuni ‘jahat’ dan ‘baik-Suksma” dari seorang manusia. Sehingga para perempuan Indonesia malahan belajar Yoga atau belajar meditasi (semedi) dari orang luar..

Adapun ajaran Leluhur tentang kehidupan, kematian, pertumbuhan menjadi manusia dewasa juga tidak dikenali oleh perempuan sekarang. Bahwa pada masalalu perempuan hamil, menyusui, anak lahir, tanggal dan hari lahir, persenggamaan untuk menghasilkan anak serta apa-apa yang ada di alam sebagai bagian menyatu dalam kontrol manusia dengan perantara Leluhur tidak dipahami oleh perempuan Indonesia…Ini karena jeratan ajaran luar, khususnya barat dan timur tengah yang sama sekali menjauhkan perempuan dari Ilmu di BUMI-nya sendiri…

bersambung

Blog at WordPress.com.

Up ↑