Patriarki dunia (baca Amerika Serikat) Menggerus Indonesia

Patriarki dunia yang menampakkan wajah dan badan serta gerak-geriknya melalui lembaga-lembaga internasional World Bank, IMF dan WTO telah menggerus Indonesia sejak tahub 1970an.

Menggerus bearti melindasn tidak sampai habis, tetapi hancur lebur seperti cabe bawang dan terasi yang digerus di cobek.

Nah pada tanggal 5 Mei 2010 Patriarki kembali menggerus Indonesia, saat itu, Mentri Keuangan Sri Mulyani yangv masih memiliki masalah yang belum diselesaikan (salah satunya nasabah bank century yg belun dibayar) mengundurkan diri dari jabatannya sebagai mentri keuangan dan bersiap berpindah posisi ke lembaga keuangan Internasioan/ Rentenir Dunia World Bank. Sri Mulyani ini pernah menjadi direktur IMF sebelumnya. Perspektinya adalah Patriarki dibidang ekonomi internasional bersifat makro, pasar bebas (kapitalisme), dan neo liberalisme (kebijakan pasar bebas ditopang oleh kebijakan negara) yang dibuka seluas-luasnya untuk saling bersaing antar sesama anggota WTO (didunia ini antara Iran, Irak dan Rusia) yang belum menjadi anggota WTO. Sedangkan negara yang tidak menjadi anggota World Bank antara lain Andorra, Cuba, Democratic People’s Republic of Korea (North Korea), Liechtenstein,  Monaco. Cuba sendiri walaupun menjadi anggota WTO menolak liberalisasi perdagangan.

Sekarang WTO sudah kehilangan gigi-nya maka negeri2 besar

kapitalis kemudian membentuk forum negara-negara yang beranggotakan negara tertentu untuk dapat mengatur ekonomi demi kestabilan yang diharapkan: ekonomi, politik atau budaya. Yang terkahir adalah G20 negara ini sebagai ganti G8 (Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Britania Raya, Amerika Serikat , Kanada dan Rusia).
G20 ( Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, Britania Raya, RRC, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Turki, Uni Eropa).
Para pimpinan Negara-negara ini sebenarnya adalah kakitangan dari korporasi besar terutama Amerikat, Inggris, Jerman. Para kepala negara ini paham betul bahwa kehidupan di dunia tergantung pada korporasi. Karena korporasi yang menjalankan roda kehidupan pabrik, yang menyediakan dana, menjual juga mencari bahan baku mentah, sumber energinya.

Tentunya kita paham bahwa para presiden,CEO  Korporasi mempunyai kapital besar, lalu menggunakan kapitalnya untuk memuluskan mereka mendapatkan lebih besar lagi kapital. Mereka membujuk, dan mengiming-imingi negara-negara seperti Indonesia, Brazil, ataupun Meksiko dengan berbagai janji dan persepsi bahkan Akademisi adalah agen langsung dari para Korporasi, kita tahu bahwa ketika Indonesia jaman Soeharto, Development atau Pembangunan diJadikan TOLOK ukur segala perombakan sistem tanam (dimulailah pestisida), perombakan sistem politik, perombakan sistem budaya. SEMUA semata-mata demi Pembangunan, pembangunan yang menghilangkan JATI DIRI Bangsa, pembangunan yang Menguras kekayaan alam negri, dan mengambil kayu-kayu untuk diekspor ke Jepang dan Amerikat demi hutang.

Setelah Pembangunan/Development di gelontorkan hingga tahun 1992, maka Indonesia kemudian diajak lagi kepada metode baru pembangunan, yaitu GLOBALISASI, semua orang berbondong-bondong membicarakan globalisasi. Soeharto menandatangani Perjanjian WTO 1992, itulah bagian dari Globalisasi, artinya MASUK PASAR Bebas…

Lalu setelah pasar bebas menguasai maka, bagi negara-negara yang kelihatan menolak hembusan dan tekanan pasar dipaksa mengikuti aturan pasar, yang dibungkus dengan demokrasi–demokrasi artinya Pemilihan Langsung melalui Pemilihan umum

(tobe continue@Umi Lasminah)

Advertisements