Sentimen Kedaerahan, Primordialisme Berlawanan dengan Nation Character Building

@Umi Lasminah

Sentimen kedaerahan yang bernuansa primordial dan cenderung chauvinis mulai merebak pasca dimulainya transformasi ke demokrasi tahun 1999. Hal ini terjadi tentu saja, karena kuatnya tekanan Centralistik Orde Baru yang mengekang “integrasi palsu”, yang menekan daerah serta mengekspolitasinya. Bagaimana centralistik kekuasaan tersebut akhirnya melahirkan perlawanan yang justru kemudian tampil sebagai bentuk ketidakpatuhan lokal yang cenderung bersifat chauvinis, dan ego kedaerahan. Chauvinisme sebagai bentuk kesukuan yang tentu negatif dapat memicu perpecahan Persatuan Kesatuan Nasional.

Sentimen Kedaerahan yang dapat mengancam pluralisme “persatuan dan kesatuan Indonesia” bahkan dapat terjadi ketika Pilkada-pilkada berlangsung, terutama sekali bila dalam UU yang akan datang dicantumkannya “Kepala daerah harus putra daerah”…wah ini mah sudah bukan lagi Indonesia…Karena Indonesia adalah pulau-pulau, provinsi provinsi, kecamatan-kecamatan, kelurahan, kampung, dusun, desa, rw, rt, keluarga…kalau orang yang lahir di Indonesia saja tidak dapat mengabdi di daerah dalam wilayah Indonesia apalagi WNI yang lahir di Luar Negeri (ayah Ibu orang asli Indonesia) lalu dibesarkan, dan bekerja berkeringat di Indonesia.

Padahal jika saja sentimen kedaerahan diarahkan pada hal-hal yang positif: seperti menggali kekayaan dan kearifan budaya lokal, maka yang ditemukan adalah nilai-nilai toleransi yang tinggi, keterbukaan, saling menghargai pendatang ataupun pribumi (penduduk asli). Bukti-bukti dari itu semua tersebar di seluruh negeri Indonesia.

Yang diperlukan kini adalah mengedepankan sentimen individu ke arah kompetensi individu untuk memajukan diri, mencintai diri untuk berbuat baik untuk daerahnya lalu bagi Indonesia secara umum.

Tentunya hal ini hanya dapat terjadi jika bermula dari dalam diri individu masing-masing. Seorang yang tinggal, besar dan dilahirkan di daerah tertentu, maka ia dilahirkan dalam potensi yang melekat di daerah itu (termasuk dalam keluarga itu). Karena bagi mereka yang lahir di Indonesia seharusnya ia dapat menjadi manusia terbaik, karena ia lahir di Negeri Terbaik di seluruh Dunia. Negeri yang memiliki apa saja di dalam-nya kekayaan alam, laut, gunung, hutan. Juga kekayaan dan keragaman budaya. Bayangkan tahun 2010 ketika negeri-negeri Eropa dilanda krisis, banyak negeri seperti Portugal, Italia, Yunani dan kelihatannya Inggris juga sedang mengetatkan APBN-nya (dengan membekukan gaji PNS–artinya tidak akan naik untuk periode tertentu) agar tidak Defisit, Indonesia masih bisa Memberi Gaji keTIga belas pada PNS-nya. Juga daya beli konsumen tetap tinggi–antara lain dengan diadakannya Jakarta Great Sales Festival...

Indonesia adalah Nusantara

Kekayaan kultural dari beragam daerah yang terpendar diberbagai wilayah Indonesia adalah fakta, warisan sejarah, dan realitas kekinian. Fakta ini adalah Anugrah. Negara Kesatuan Republik Indonesia kini, yang dibentuk 1945 adalah bentuk terakhir dari Penyatuan–Bhinneka Tunggal Ika yang dahulu kala dijaman sebelum Penjajah datang pernah Jaya dengan segala teknologinya, yang hingga kini masih tertutupi dan terpendam.

Ya, pada masalalu ketika Majapahit masih menjadi Kerajaan Induk di Nuswantara yang tidak hanya menjadi pelindung bagi negeri-negeri di kepulauan Nuswantara tetapi juga hingga ke manca negara (Malaysia, Philipina, Kamboja). Pada saat itulah ilmu pengetahuan leluhur di benar-benar terejawantahkan dan dijalankan. Namun sepanjang hidup dan belajar di Indonesia, kita tidak diajarkan, tidak diperkenalkan tentang teknologi itu.

Kini teknologi dan ilmu pengetahuan Leluhur yang tersebar di Nuswantara masih meninggalkan sisa-sisa keindahannya, terutama dalam konteks kesenian. Yang belum terekspose adalah yang terkait kanuragan (pencak silat), meskipun kini sudah mulai diakui. Kesenian dan budaya serta ilmu pengetahuan leluhur dimiliki oleh berbagai suku, bangsa yang ada di Nusantara. Selayaknya hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat Negara sehingga bersatu.

Walau belum terekspose berbagai ilmu pengetahuan leluhur yang memungkin Indonesia jaya kembali tetap ada, masih tersisa, dan tersebar dipenjuru Nusantara. Ilmu pengobatan tradisional masih marak dan dikuasai, hubungan dengan alam dan ritual yang berhubungan dengan Leluhur masih dijalankan dibeberapa bagian. Kita semua mengetahui bagaimana memiliki berbagai adat yang terkait gaib, yang tidak dapat dijelaskan oleh sains, tapi wujud dan hasil faktualnya nyata dan dirasakan, dan hal itu masih ada di semua wilayah Nusantara.

Memang saat ini, yang membuat pesimis luar biasa adalah Negeri Induk, NKRI sedang dipimpin oleh orang yang tidak Tegas, tidak cakap dalam menjaga Negara dan mengayomi negeri. Sehingga daerah-daerah di Indonesia saling menampilkan kecongakannya, semata-mata karena negeri Induknya Lemah, tak Berwibawa.  Meskipun begitu, kiranya bila hingga kini negeri Indonesia masih berdasarkan Pancasila dan berselogankan Bhinneka Tunggal Ika maka harapan untuk membangun Indonesia Jaya dimasalalu bisa saja hanya tertunda.

@Umi Lasminah, https://wartafeminis.wordpress.com

 

Advertisements