Saya tergerak ikut menanggapi komentar2 ttg perempuan dlm pornografi Cut Tary ataupun Luna Maya:
1. pada konteks Industri pornografi cut-tari-luna- adalah “korban”, karena dia dieksploitasi oleh industri (yg memproduksi secara massif) tanpa ijin cut- luna.

2.pada konteks content Pornografi (versi USA) adalah pornografi karena memperlihatkan alat kelamin (saya belum menonton, dari info teman yg sdh mnonton). Di Amerika pornografi ada ijinnya (bhkan untuk adegan love (sex) scene hrs 18 tahun)Pada konteks feminis bila tidak ada tindakan submisif, pmaksaan dan prendah dirian prempuan bukan pornografi, jadi eksploitasi dan produksi-reproduksinya (pseduo victim karena lebih kepada victim of material base economic of copy rights) materi inilah yang pornografi (UU pornografi-Indonesia).
3.Di Indonesia khususnya ada Pekerjaan atau profesi yang membutuhkan CITRA (yaitu politisi dan celebrity-aktor/penyanyi/hiburan, mungkin jg olahragawan) ada KONSEKWENSI pilihan profesi shg mereka dituntut untuk menjaga citra agar dapat tetap survive dipekerjaannya.
4.Di Indonesia khususnya, ada indikasi bahwa(celebrity) khususnya prempuan yg dpt survive di dunia hiburan membutuhkan dana yg tidak kecil u/ memenuhi tuntutan gaya hidup sehingga mereka menjalin “kerjasama” dgn pihak pengusaha atau politisi. Yang kemungkinan terkait dgn ini, mengingat situasi politik di Indonesia memungkinkan hal tersebut.
5. KONDISI LIBERAL media yg memungkinan Massifikasi dan eksploitasi pornografi. Tidak didukung oleh UU dan aparat yg sigap melindungi PUBLIK.
6.TIDAK DIKENAL-nya Undang-undang atau PRIVACY Law di Indonesia (hanya di Perancis) yang menetapkan hak privacy atas photo diri (walaupun d ruang publik) apalagi ruang privat. Indonesia mengambil banyak dari LIBERAL media di Amerika. Padahal sekarang saja d Amerika beberapa negara bagian sudh mulai menerapkan pelarangan pengambilan gambar di wilayah privat menghindari (paparazi).
7. Bahkan di Negara penemu Pornografi saja Privacy dan Publik dalam konteks informasi masih menjadi perdebatan.Karena sejarah-nya KEBEBASAN INFORMASI atau Freedom of Expression itu lahir untuk TUJUAN agar PEMBERITAAN terkait PEMERINTAH,kebijakan KEPENTINGAN PUBLIK dapat dikritisi dalam media MASSA (dan bukan u/ bebas buat pornografi)

INDONESIA sebenarnya sudah jauh lebih maju dengan moral PANCASILA (ketuhanan (wisdom), kemanusiaan (humanity), persatuan (solidaritas), kerakyatan (musyawarah-dialog),keadilan (equality),namun karena sudah 32 tahun PANCASILA diobrak-abrik maknanya, sehingga tidak menjati di bangsa Indonesia–maka serapan2 demokrasi versi luar jg teknologi IT (konsumen) –mungkin saja dapat mempersulit perkembang-tumbuhan Negara Indonesia (yg survive dari krisis moneter spt d Eropa: bayangkan Juli ini PNS menerima gaji ke 13, smentara d Portugal, Yunani, Inggris sdg mengketatkan anggaran publik)

Walau begitu, nasib cut-ariel-luna mungkin msh lebih baik dibandingkan seorang perempuan Iran yg akan dirajam (krn DITUDUH: bukti apapun tdk ada) berzina.Seorang ustazah terkemuka di Indonesia bilang di televisi: ketika ditanya hukumannya ia pun mengutip ayat apa itu menyatakan hukuman yg sama..rajam dsb.

Itulah Indonesia dalam keragu-raguan untuk survive Barat-Timur,sama dengan Pemimpin-pemimpinnya yang tidak mencerminkan Tanggung Jawab, mungkin jangan berharap rakyatnya mau bertanggung jawab.@Umi Lasminah, Juli 2010

Advertisements