Dua bulan setelah bersama kawan pemuda.Tabur benih persatuan. 22 Desember 1928 datang jua masa itu. Putri se Nusantara pemudi penuh mimpi.Berkumpul di kota Mataram, Yogyakarta sebutan sekarang. Yogya yang masih luka oleh alam. Masih sakit hati oleh kuasa wacana.

Di Joyodipuran, Mataram, Yogyakarta sekarang. Panitia pelaksana Kongres Perempuan 1928. Berkebaya, berselendang, atau berkerudung, memakai rok, belum diketahui apakah ada yang bercelana panjang.

Di sana bekerja nona Soeyatin: pelaksana, Ny.Soekonto: Ketua, Nyi Hajar Dewantara: Wakil Ketua, para nona dan para nyonya progresif lainnya
Sederhana, lugas dan berdaya, bersama.Kejar cita-cita perempuan Sejahtera bangsa Merdeka.

Belum ada hotel yang bisa ditelfon untuk dipesan. Tak ada dana untuk hotel. Delegasi kongres tinggal bersama kerabat atau kerabat panitia. Sederhana seadanya.
Berkendara sepeda panitia sibuk. Siapkah perlengkapan.
Cukupkan kursi dan meja. Barang pribadi dipinjamkan.
Beli barang bekas dilelang pun tak apa. Itulah perjuangan

Pemandangan Umum, sekarang Pendapat Organisasi delegasi:
Perempuan harus maju; Perempuan tidak boleh diperdagangkan; Perempuan bebas bekerja; Perempuan berhak terdidik; Perempuan berhak terampil; Perempuan berhak tolak poligami; Berhak tolak perkawinan dibawah umur”; perempuan tolak pelacuran.

Para perempuan menyimak Delegasi berpidato dipodium. Tepuk tangan riuh perempuan-perempuan yang duduk di kursi kayu.Diantara meja bertaplak hijau.

Resolusi dan rekomendasi pada pemerintah kolonial. Diajukan. Tak apa. Palu diketuk. Notulen ditulis dengan pena. Kongres diakhiri Witing Kelopo Ki Hajar Dewantoro menutup sambutan, katanya “wanita sanggup mengatur masyarakat”

Pulanglah delegasi. Setelah keringat, dan rasa tumpah tindih bersama lelah, Romansa kandas ditengah jalan bukan halangan, Kongres perempuan 1928, sukses. Tonggak Sejarah Pergerakan Perempuan.

Ina Tuni kembali pulang dengan kapal laut berhari-hari ke Ambon, Putri Indonesia, Wanita Katolik kembali ke Djakarta berkereta, Kubayangkan cerita di perjalanan:
Apakah tentang Belanda dan marsose yang menjaga di depan ruang rapat; Apakah tentang ketidak sepakatan isu;Apakah tentang kekasih, anak atau suami;
Atau tentang politik para lelaki di Jong Java, Boedi Oetomo…

Para pionir perempuan bersahaja ini tetap melanjutkan perjalanan pulang. Untuk nanti melangkah lagi, bersama organisasi perempuan di daerah. Terus dan terus.
Para perempuan di Yogyakarta 1928 mungkin tak tercatat sebagai pahlawan Nasional.

Tak dikenal namanya dalam buku-buku sejarah SD, SMP, SMA. Hampir tak terbaca jejak dan pernyataanya.

Tak apa, mereka tak minta apa-apa. Permintaan dan harapan hanya untuk bangsa.Bersama bukti nyata. Seperti foto hitam putih.

Perempuan pendiri bangsa. Perempuan bersahaja 1928

@Umi Lasminah 21Desember 2010

Insipirasi dari Soejatin Kartowiyono (Ketua Pelaksana Kongres 1928), beliau sangat layak jadi Pahlawan Nasional

Advertisements