Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

March 2011

Kontribusi pada Kota Jakarta

Jakarta adalah ibukota Negeri Indonesia. Kota yang telah menghidupi jutaan manusia, bahkan bagi mereka yang tidak tinggal di Jakarta. Sebut saja berapa nilai uang yg berputar dikirim kepada sanak saudara di daerah, dari mereka yang bekerja di Jakarta. Mereka inilah yang antara lain, menjelang hari Raya lebaran mengosongkan Jakarta karena pulang kampung. 

Sebagai warga yang lahir di Jakarta, besar di Jakarta dan berpenghidup kerjaan di Jakarta saya mencintai Jakarta dengan segala karakternya. Itu sebabnya timbul pertanyaan pada mereka yang tak lahir dan besar di Jakarta, namun mencari rejeki dan peruntungan di Jakarta, adakah keharusan bertimbal balik, memberi sesuatu yang positif pada Jakarta atau paling tidak berkontribusi pada Jakarta.

Pertanyaan yang muncul dari kotribusi atau memberi kembali (pay itu forward to the city) pada Kota ini, karena kita sudah menerima darinya.

Kota Jakarta telah baik pada saya. Maka sayapun harus baik padanya.
Meskipun saya tak mungkin mensetarakan tindakan saya dengan denyut Kota, yang tak dapat dikontrol oleh siapapun, kecuali Penguasa dan Ketakutan (peristiwa Mei 1998).

Lalu kembali kepada Pertanyaan Kontribusi, sederhana:
1. Dari sejumlah sampah pribadi saya yang setiap hari dan tentu tak pernah berkurang tiap bulan untuk Jakarta, apa yang saya bayar untuk pengganti sampah itu pada Jakarta. Bukan uang, karena Kota dan menerima uang. Mungkin berapa tanaman yang saya tanam dan berapa pohon yang saya sirami. Atau got-dan selokan yang sampahnya dikeluarkan?
Pernahkah menemukan sampah di tercecer jalan, lalu mengambil dan memasukkan ke tempat sampah.

2. Bagi mereka yang berkendara, untuk CO2 yang dimuntahkan lewat klakson mobil/motor, adakah udara bersih yang kita kembalikan??

3. Bagi mereka yang perokok. Sudahkan membayar kontribusi atas udara bau rokok yang dicipta dan puntung yang dibuang

4. Bagi mereka yang suka berbelanja di mall, pasar tradisional pernahkah membeli makanan Betawi yang dibuat oleh penduduk Betawi di Jakarta…pernah makan kerak telor? pernah makan soto Betawi atau..

5. Bagi mereka yang punya usaha dengan ciri khas daerah bawaan misalnya R.M Padang, Soto Lamongan…apakah ada timbal bali kultural, ekonomi atau sosial bagi yang ketempatan, suku Betawi Warga Betawi..
(Bersambung)

Advertisements

Menggugat Penjajahan Ilmu Pengetahuan Budaya: Reklaim Pengetahuan Milik Nusantara

Menggugat Penjajahan Ilmu Pengetahuan Budaya: Reklaim Pengetahuan Milik Nusantara

Sudah berapa tahun sejak Indonesia merdeka bangsa di Nusantara menyerap Ilmu Pengetahuan budaya,khususnya arkeologi dan sejarah Nusantara (sebelum Indonesia merdeka) dari rujukan luar/ Belanda: selamanya. Berapa persen jumlahnya didalam kurikulum sejarah dan arkeologi Nasional: lebih dari 75%.

Lalu apakah diantara sejarah tersebut ada juga kontribusi warga pribumi dan memiliki kebenaran. Ada. Beberapa diantaranya dalam bentuk tuturan sastra dan tembang, dan prosa. Seperti Ramalan Jayabaya dan Ronggowarsito .Apakah diajarkan dalam kurikulum Nasional? Tidak mengapa..panjang ceritanya? Itulah jalannya. Waktunya yang diberikan bagi sejarah Nusantara yang dituliskan dan dibabarkan oleh pihak lain.

Kini setelah 500 tahun pertamakali penjajah Asing mendarat disalah satu daerah Nusantara (Banten) apakah kita akan terus-terusan menerima goresan Sejarah Nusantara, Nenek Moyang, Leluhur dari tulisan dan tuturan pihak lain, bangsa Lain. Apakah bukan kini waktunya kita meneliti kembali,mengkaji kembali kebenaran fakta tentang Jayanya Nusantara di masalalu, Mengapa bisa Jaya, apakah Bisa Kembali jaya jika kita mengambil pelajaran dari Masalalu, dalam arti menyerap Ilmu Pengetahuan Leluhur, mempelajarinya dan mempraktekkannya sehingga dapat menjadi bekal untuk Nusantara Jaya kembali di KINI dan Ke depan..

Apakah bisa mempelajari ilmu pengetahuan dan kejayaan di masalalu? Apakah baik, mengapa masih ada yang berusaha menghalanginya…

Ilmu Pengetahuan (Modern) adalah Dominasi Ilmu Pengetahuan Barat

Bila kita membaca The Racial Contract karya Charles W. Mills maka kita akan memahami bahwa semua sistem hidup di seluruh dunia didominasi dan dihegemoni oleh Barat/Western. Lebihjauh lagi pada konteks segala sistem hidup yang berjalan antar negara, di dalam negara semuanya memposisikan Kulit Putih di atas smua kulit berwarna di dunia. Pada titik antar negara maka semua negara kulitputih adalah Western dan memiliki superioritas terhadap non-putih.

Ilmu Pengetahun sejak jaman sebelum Indonesia Merdeka didominasi oleh Kulit Putih. Hingga pada Akhirnya seorang Soekarno mengadopsi ilmu pengetahuan dari kulit putih, untuk melawan kulit putih sendiri..Soekarno mengadopsi hak tentang kebebasan hak manusia. Namun diluar itu semua Soekarno dan pemimpin Indonesia di awal Kemerdekaan hingga paska Indonesia merdeka tak berhasil membongkar Ilmu Pengetahuan untuk memindahkan atau paling tidak menjadikan Non Western sebagai acuan bagi ilmu Pengetahuan, apapun bidangnya apakah science atau social science.The Racial Contract telah menyebabkan adalah sah bagi ilmuwan atau Lembaga Ilmu Pengetahuan menganggap sah untuk tidak peduli  atau tidak mengakui kredibilitas dari Ilmu Pengetahuan non-western.  Para ilmuwan barat, khususnya yang social science akhirnya mendefinisikan sendiri differensiasi atau keahlian yang hanya atau dikuasai oleh orang non-western, antara lain dengan menyebut penduduk atau suku suku asli sebagai Indegenous people..lalu menyebut segala pengetahuan para non-western dari suku asli yang tidak dapat dijangkau pikiran para ilmuwan barat dengan mistis, mitos, magis..

Pikiran rasis/ mengejawantah dalam racial contract telah menyebabkan barat menjajah Asia dan Afrika. Tidak hanya itu mereka pun menjajah, melemahkan dan merendahkan ilmu pengetahuan dan tatacara hidup penduduk asli. Mereka menyebutnya uncivilized? Tidak beradab. Tidak mempunyai kebudyaan dan sosial yang terstruktur..

Penggalian Gunung Lalakon

Batu-batuan itu tersusun rapi membentuk sudut 30 derajat dengan garis horizontal.

Kamis, 17 Maret 2011, 16:44 WIB

Indra Darmawan

 

Penggalian tim Turangga Seta menemukan batu boulder yang tersusu rapi

BERITA TERKAIT

VIVAnews – Tim Turangga Seta yang melakukan penggalian di Gunung Lalakon, Soreang, Bandung, Jawa Barat, sejak Senin pekan ini berhasil menemukan beberapa batu boulder yang mereka duga batu penutup bangunan piramida.

Batu-batu boulder itu ditemukan di lubang penggalian dengan lebar sekitar 3 meter, panjang 5 meter, dan kedalaman hingga 4 meter, yang terletak di koordinat 6° 57,5′ Lintang Selatan, 107° 31,239′ Bujur Timur, serta ketinggian 986 meter di atas permukaan laut.

Batu-batu boulder tersebut panjangnya bervariasi, antara 1,1 meter hingga 2 meter, dengan besar yang kurang lebih sama, yakni selebar 30-40 sentimeter (cm) serta tersusun rapi dan teratur.

Menurut pendiri Turangga Seta, Agung Bimo Sutedjo, batu-batuan boulder itu membentuk sudut 30 derajat dengan garis horizontal dan mengarah ke titik pusat piramida. Setidaknya, tim menemukan 4 batu boulder di kedalaman 1,5 meter di bawah permukaan tanah dan 3,7 meter di bawah permukaan tanah.

Agung mengatakan, batu-batu boulder itu merupakan batu bronjongan yang sengaja diatur sedemikian rupa, agar tanah yang menutupi bangunan piramida tidak longsor. Ditemukannya batu-batu ‘bronjongan’ tersebut membuat beberapa tenaga penggali yang notabene warga sekitar Gunung Lalakon sempat tertegun.

“Kalau saya melihat tanah yang digali oleh beko (back hoe) di bukit sebelah, tanahnya tidak seperti ini. Ini tanahnya ada batu-batunya, seperti sengaja diuruk,” ujar Agus Yahya Budiana, warga Kampung Badaraksa yang berada di lokasi penggalian, kepada VIVAnews.com, Rabu 16 Maret 2011.

Namun, penggalian belum menemukan bangunan piramida yang diduga tertimbun di bawah batu-batu boulder yang ditemukan. “Dari petunjuk hasil uji geolistrik, semestinya batuan padat yang diduga bangunan piramida, masih berada sekitar 2 meter di bawah tanah dasar lubang penggalian,” kata Agung, kepada VIVAnews.com.

Gunung Lalakon merupakan salah satu dari beberapa bukit yang diduga oleh kelompok Turangga Seta menyimpan bangunan Piramida. Sebelumnya, Tim Turangga Seta telah melakukan pengujian dengan alat geolistrik bersama tim peneliti dan menemukan citra struktur batuan yang ‘tak alamiah’. (art)

• VIVAnews

 

http://teknologi.vivanews.com/news/read/210044-ditemukan–batu-bronjongan–di-gunung-lalakon

 

Mari Bersama Menjelang Jaman Baru

Mari bersama menjelang jaman baru. Hari-hari ini di Tahun 2011, mungkin adalah jaman terendah, terhina–kesenjangan antara miskin kaya terlebar, antara penduduk termaju dan tertinggal terbesar. Namun percayalah.  Jaman titik nadir harus tiba.

Mari bersama kembali pada Leluhur, pada kejayaan dan ilmu yang dahulu kita gengam, Leluhur gengam, Leluhur Nenek Moyang yang pelaut, Leluhur Nenek Moyang yang petani didampingi Dewi Sri. Ibu Pertiwi(Dewi Pertiwi) pengelola kerak lapisan pertama Bumi…

Negeri di Nusantara sesungguhnya adalah benar adanya Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi, negeri kaya raya tentram sejahtera, namun masa itu lewat selama 500 tahun disebabkan karena kelalaian penghuni dan pengayomnya. Namun kelalaian dan kesalahan pun dapat diampuni ditebus dan diberi kesempatan, karena bagaimanapun Nusantara pernah menjadi rumah tempat tinggal para Dewa-dewi yang memerintah manusia di bumi. Dewa-dewi mengejawantah memerintah dan mengatur rakyat di Nusantara sehingga besar, juga para Dewa-dewi yang menitis pada manusia sehingga Nusantara menjadi negeri digjaya, luar biasa hebat hingga ke mancanegara.

Kepastian mengenai kebenaran bahwa Nusantara adalah tempat yang diperuntukkan manusia untuk mendapat bimbingan/momongan dari Dewa-dewi adalah karena dahulu kala saat penciptaan bumi Dewa-dewi sendiri yang mengelola bumi/arcapada ini. Kini manusia adalah penerus pelanjut pemerintahan para Dewa-Dewi. Para manusia yang terpilih untuk mengelola jagad arcapada pun tidak semata-mata laki-laki. Ini dimulai pula dengan awalnya. Yaitu tidak semata-mata para Dewa, namun juga Dewi.

Maka ketika Dewa-Dewi menugaskan  manusia terpilihnya untuk mengelola rakyat, negara dan alam semesta Beliau-Merekapun- mewahyukan keprabon kepada baik perempuan maupun laki-laki.

Raja dan Ratu di Nuswantara pun memerintah dengan bimbingan langsung dari Para Dewa, Dewi, Batara dan Batari, terutama sekali sebelum masa Majapahit runtuh.

Blog at WordPress.com.

Up ↑