Jakarta adalah ibukota Negeri Indonesia. Kota yang telah menghidupi jutaan manusia, bahkan bagi mereka yang tidak tinggal di Jakarta. Sebut saja berapa nilai uang yg berputar dikirim kepada sanak saudara di daerah, dari mereka yang bekerja di Jakarta. Mereka inilah yang antara lain, menjelang hari Raya lebaran mengosongkan Jakarta karena pulang kampung. 

Sebagai warga yang lahir di Jakarta, besar di Jakarta dan berpenghidup kerjaan di Jakarta saya mencintai Jakarta dengan segala karakternya. Itu sebabnya timbul pertanyaan pada mereka yang tak lahir dan besar di Jakarta, namun mencari rejeki dan peruntungan di Jakarta, adakah keharusan bertimbal balik, memberi sesuatu yang positif pada Jakarta atau paling tidak berkontribusi pada Jakarta.

Pertanyaan yang muncul dari kotribusi atau memberi kembali (pay itu forward to the city) pada Kota ini, karena kita sudah menerima darinya.

Kota Jakarta telah baik pada saya. Maka sayapun harus baik padanya.
Meskipun saya tak mungkin mensetarakan tindakan saya dengan denyut Kota, yang tak dapat dikontrol oleh siapapun, kecuali Penguasa dan Ketakutan (peristiwa Mei 1998).

Lalu kembali kepada Pertanyaan Kontribusi, sederhana:
1. Dari sejumlah sampah pribadi saya yang setiap hari dan tentu tak pernah berkurang tiap bulan untuk Jakarta, apa yang saya bayar untuk pengganti sampah itu pada Jakarta. Bukan uang, karena Kota dan menerima uang. Mungkin berapa tanaman yang saya tanam dan berapa pohon yang saya sirami. Atau got-dan selokan yang sampahnya dikeluarkan?
Pernahkah menemukan sampah di tercecer jalan, lalu mengambil dan memasukkan ke tempat sampah.

2. Bagi mereka yang berkendara, untuk CO2 yang dimuntahkan lewat klakson mobil/motor, adakah udara bersih yang kita kembalikan??

3. Bagi mereka yang perokok. Sudahkan membayar kontribusi atas udara bau rokok yang dicipta dan puntung yang dibuang

4. Bagi mereka yang suka berbelanja di mall, pasar tradisional pernahkah membeli makanan Betawi yang dibuat oleh penduduk Betawi di Jakarta…pernah makan kerak telor? pernah makan soto Betawi atau..

5. Bagi mereka yang punya usaha dengan ciri khas daerah bawaan misalnya R.M Padang, Soto Lamongan…apakah ada timbal bali kultural, ekonomi atau sosial bagi yang ketempatan, suku Betawi Warga Betawi..
(Bersambung)

Advertisements