Tak Perlu Susah Mencari Asal Usul Manusia, di Nusantara Manusia Keturunan DewaDi Nusantara filsafatnya tidak pernah teori saja. Filsafat atau falsafah hidup adalah teori dan praktek. Teori adalah tahapan. Praktek adalah menjalankan tahapan.

Berkehidupan di Nusantara sebagaimana yang diajarkan Leluhur nenek moyang Nusantara berarti mematuhi dan menjalankan prilaku untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang meninggi hingga menjadi dewa. Semua membutuhkan ilmu Kedewatan, ilmu yang diajarkan langsung oleh Dewa dan Batara. Berhubung nenek moyang Nusantara, yang tinggal dan menjalankan kehidupan sebagai manusia bertempat di sini, di Pegunungan di Nusantara, maka asal mula manusia beradab di dunia adalah di sini.Menjadi manusia menurut ajaran Leluhur adalah mengikuti keharusan yang telah ditetapkan dan biasanya sudah ada suratan bagi manusia tertentu, namun bila mau mengubahnya bisa saja, asal tahu CARAnya.Masuk ke nirwana, naik ke kahyangan bisa dilakukan oleh manusia, bila ia mengetahuinya.Menjadi orang baik budi, tetapi diam saja, tidak berani dan tegas terhadap pihak yang menghina Leluhur atau nenek Moyang, atau Menghina, menindas warga negara/keturunan Eyang dan Leluhur tentu bukan Tindakan mulia

Berbeda dengan filsafat modern-Barat, yang Mengupas pencarian Jati diri Manusia, asal manusia, untuk apa dia Hidup. Ajaran para Leluhur Nusantara sudah selesai dengan pertanyaan itu.Manusia di Nusantara adalah keturunan Dewa, hidup untuk dapat menjadi Dewa pula, sehingga bisa mencapai dan bertemu Sang Maha Pencipta.Pencarian jatidiri dalam tradisi Barat dimulai jaman modern, terjadi setelah para Filsuf membunuh Dewa-dewa, setelah Membunuh Dewa-dewa mereka para Filsuf mencari jati manusia dan mengkaitkan dengan Tuhan secara Rasional, lalu Tuhan dibunuh pula.

Akhirnya Ilmu Pengetahun berkelahi dengan mereka yang menggunakan Tuhan dalam pencarian jatidiri. Ilmu Pengetahuan sekian ratus tahus tahun memenangkan petempuran itu, dengan diterima dan disebarkannya ajaran Darwin, manusia adalah evolusi dari Monyet. Haduh! Ilmu pengetahuan barat yang berakar dari Filsafat Alam dan Science memutasi menjadi ilmu-ilmu yang menjelajahi alam pikiran untuk menemukan siapa dan apa manusia..termasuk teori Darwin. Sedangkan di Indonesia kini ada yang membunuh atas nama tuhan tentunya bukanlah ajaran Leluhur. Dan warga Nusantara adalah keturunan para Dewa-dewi, dan membunuh bukanlah untuk sesuatu yang umum apalagi membela sesuatu yg datang dari Luar Nusantara, yang berusaha menghapus ajaran Leluhur.  Jadi yang datang dari luar, asalnya dari sini, lalu dimodifikasi sana-sini,mau balik ke sini dengan Kemurnian Ajaran yang Jauh dari awalnya. Tentu saja Leluhur tidak terima.

Padahal aslinya mereka yg dari Luar pun dahulu kala, ratusan tahun yg lalu mengambil ilmu dari sini, dengan penterjemahan dokumen dan rontal sansekerta. Buktinya banyak yang disampaikan oleh kitab2 suci agama-agama tidak jauh beda dengan apa yang diberitakan kejadian Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya.Tak kurang fisikawan Nuklir, Profesor Arysio Santos (almarhum) mengambil berbagai kitab suci dan literatur sejarah, serta legenda tentang Atlantis sebagai jalan masuk tentang Adanya surga di Bumi dahulu kala. Bagi Santos, tak mungkin ada suatu hal yang sama dan banyak dibicarakan sebagai mitos dan legenda hingga ke pelosok Negeri jika tidak disebabkan Adanya Budaya Adiluhung yang menyebar ke seluruh Dunia dan menginversi cerita tersebut.Bukti adanya inversi budaya Adiluhung Nusantara itu antara lain ditemukan Turangga Seta dengan temuan nama-nama Sansekerta yang tersebar di penjuru dunia sebagai nama desa atau tempat, seperti Selo Bimo di Rusia, Dahana di Afrika, juga Ngawi dan lain, dimana nama tersebut tidak ditemukan di sanskrit India. Sankrit India adalah sansekerta muda yang diperkenalkan pada masa Singosari.

Bahkan filsuf-filsuf Barat,gaya penghormatan terhadap keturunan kelurarga unan atau Monarki Inggris bila tamu menghadap Ratu Inggris misalnya..dengan menundukan badan. Pada masa Kejayaan Nusantara purba, leluhur juga mendapat penghormatan dari para tamu dari penjuru dunia. Dimana tergambar dari candi-candi melukiskan hal tersebut (Candi Penataran, Candi Cetho). Adapun filsuf Barat yang mencoba mengaitkan tuhan dengan raja antara lain Thomas Hobbes dengan Leviathan-nya, yang sesungguhnya bagi saya mirip dengan Jagad Gumelar dan Jagad Alit. Atau Jagad Alit bisa jadi gambaran yang ditangkap sedikit oleh Freud dan Jung tentang diri manusia.

Pencarian jatidiri manusia memakai Jembatan agama-Tuhan dapat dipahami terkait monotheisme-agama dimasa awal filsafat modern, dan Pembunuhan Tuhan sesungguhnya terjadi manakala Rasio barat tidak mampu menjelaskan kejadian Alam secara nalar rasio. Scholastic dan Frankfurt berhenti, namun berkembang terus.Bahkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan sosial yang melebur dengan ilmu science serta melahirkan kehidupan baru dunia virtual, maya, maka perkembangan discourse pikiran manusia tak berhenti bahkan menjadi-jadi. Tapi belum menyentuh pada kejatian kembali manusia yang sebenarnya dalam agama Katolik pun dianggap manusia adalah citraNya dan kemiripanNya.

Yang menjadi masalah adalah apakah manusia cuma bisa memakai otaknya saja. Apakah manusia lupa ada kekuatan di luar dirinya, yang juga terkait dengan dirinya. Yaitu hal yang ghaib, yang merupakan penghuni semesta lain. Penghuni Dunia dan alam semesta. Hal yang hingga kini masih belum dapat dijelaskan oleh para rasionalis barat. Seorang teman yang cukup mengerti AlQuran bilang disurat Albaqarah malah meminta manusia beriman pada yang ghaib. (yaitu) mereka yang beriman  kepada yang ghaib ….Nah inilah yang tidak pernah menjadi suatu hal yang penting bagi kalangan rasionalis. Hingga hal-hal yang gaib dianggap tidak rasional, bodoh, dan instan, mau cepatnya saja. Bahkan oleh agama tertentu dianggap pelanggaran tertinggi. Namun ketika terjadi kesurupan massal berbondong para dukun dikerahkan. Dokter psikiater dan psikolog rata-rata menganggap fenomena kesurupan massal adalah disebabkan tekanan pikiran dan stres. Hanya sedikit dokter yang mengakui bahwa perlunya energi metafisika (ghaib) dalam membantu mereka yang kesurupan massal. Itulah realita, tidak banyak orang yang mengakui dan menganggap alam lain di luar dirinya hidup dan berkembang. Bahwa mayoritas manusia tak melihatnya bukan berarti tak ada. Ada, tapi tergantung yang melihatnya. Depend on the eye whom beholder.

Keterbatasan manusia terjadi sesungguhnya dimulai ketika orang-orang terdidik yang memuja ilmu pengetahuan membunuh Dewa-dewi dalam filsafatnya, dengan Memitoskan. Negeri terjajah seperti Indonesia ikut-ikutan penjajahnya.

Padahal jauh sebelum filsuf-filsuf Yang terkenal dengan Mitologi Yunani. Padahal peninggalan fisik para manusia keturunan Dewa saja tersebar dimana-mana termasuk di Eropa..toh karena mereka membunuh Dewa-dewi, maka penjelasan yang sederhananya adalah mitos. Mitos dianggap sah untuk menjelaskan hal yg irrasional..Selamat berbangga Menjadi Warga Nusantara yang Lahir dari Tanah dan Air para Dewa/i di Arcapada.

Padahal di masa lalu yang tidak terlalu lama, anak-anak kecil biasa bermain jelangkung dan memanggil lelembut dan mahluk halus untuk, tapi kini manusia dewasa ketakutan pada mahluk yang lebih rendah dari manusia (lelembut dan dedemit). Apakah itu tidak aneh, kini orang dewasa terbirit-birit bila b ertemu dengan dedemit.Hal itu terjadi karena belum ada pengenalan tentang diri manusia dan lingkungan di luar dirinya. Yaitu mahluk yang menempati alam bersama manusia. Alam manusia umum mungkin terbatas, tetapi alam manusia terpilih tentunya tidak terbatas, bahkan bisa mengetahui rahasia yang tidak diketahui umum (banyak manusia memiliki kelebihan tertentu yang disebut paranormal atau indigo). Semua kelebihan atas manusia di Nusantara adalah lebih banyak, karena Nusantara adalah Surga yang dulu diciptakan para Dewa/i, Batara/i… Bahkan sesepuh Turangga Seta menyatakan bahwa bedanya Bumi dan Tanah Nusantara adalah tanah di Nusantara itu bernyawa/hidup, sehingga kalau kita menanam pohon tidak perlu merawatnya dapat tumbuh subur (ingat lagu Koes Plus, orang bilang tanah kita tanah Surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman (tongkat=batang singkong, batu=biji salak), ini berbeda dengan tanah di Eropa, Afrika dan lainnya yang jika menanam harus merawat tanamannya, kalau tidak dirawat akan mati.

Untuk apa lagi ragu, bukti terhampar dan tersebar seNusantara..Jaya-Jaya Wijayanti Nusantara, Banggalah, Indonesia harus kembali menjadi Kepulauan Dewata…

sumber Agung Bimo Setejo, pa Wisesa, Turangga Seta.

Advertisements