Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

July 2011

SIARAN PERS ORGANISASI ADVOKAT INDONESIA (OAI) TENTANG FENOMENA PIRAMIDA GUNUNG LALAKON

Hal    : Press Release
No    : 077/PR-OAI/VII/11

SIARAN PERS ORGANISASI ADVOKAT INDONESIA (OAI) TENTANG
FENOMENA PIRAMIDA GUNUNG LALAKON

Organisasi Advokat Indonesia, selaku kuasa hukum/Pendamping Yayasan Turangga Seta saat melakukan penggalian di daerah gunung lalakon kabupaten Bandung, maupun hingga kini sebagai penasihat hukum serta pendukung dalam setiap aktifitas Yayasan Turangga Seta, merasa perlu kiranya menyatakan sikap, memberikan pendapat, informasi, dan klarifikasi pemberitaan-pemberitaan yang berkembang terkait fenomena piramida gunung lalakon, sebagai berikut:

1.    Bahwa Yayasan Turangga Seta, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pelestarian budaya, serta mempelajari dan memetakan kembali kebesaran nusantara, adalah peneliti dan penemu pertama kali fenomena piramida di Gunung Lalakon Bandung dan Gunung Sadahurip Garut.

2.    Bahwa sejak Desember 2010 Turangga Seta telah memposting temuan fenomena piramida di Gunung Lalakon dan Gunung Sadahurip berdasarkan hasil penelitiannya ke situs jejaring sosial Youtube. Selanjutnya untuk mengungkap hasil risetnya tersebut, pada tanggal 14 Maret 2011 Turangga Seta didampingi kuasa hukum (Organisasi Advokat Indonesia), serta atas partisipasi masyarakat sekitar gunung lalakon, bersama-sama melakukan penggalian selama lima hari. Hasilnya menurut peneliti Turangga Seta di kedalaman 4 meter ditemukan beberapa batu boulder yang diduga batu penutup bangunan piramida.

3.    Bahwa kami menolak keras, pemberitaan oleh LIPI (seb

http://www.lakubecik.org
Piramida Lalakon

agaimana dalam website LIPI  http://www.lipi.go.id tanggal 5 April 2011 dengan judul “Peneliti LIPI: Tidak ada Piramida Emas di Gunung Lalakon Bandung”) yang menyatakan seolah-olah Turangga Seta hanya ikut-ikutan menggali atas kegiatan LIPI dan mahasiswa S2 ITB yang sedang melakukan penggalian riset gempa program kebencanaan. Faktanya riset yang dilakukan oleh Turangga Seta telah sejak lama, sebagaimana hasil temuannya telah diposting di Youtube sejak bulan Desember 2010. Selain itu saat dilakukan penggalian Gunung lalakon, hanya dilakukan oleh Yayasan Turangga Seta sendiri dengan dibantu warga sekitar tanpa ada peran serta sedikitpun dari LIPI.

4.    Bahwa kami menolak pihak yang menyatakan seolah-olah warga sekitar gunung lalakon tidak setuju atas dilakukannya penggalian fenomena piramida di gunung lalakon. Justru Puluhan warga di sekitar Gunung Lalakon sendiri-lah yang bahu membahu dengan semangat melakukan penggalian. Menurut warga, suatu kebanggaan bila daerahnya sebagai tempat ditemukannya cagar budaya peninggalan leluhur yang maha besar di jaman dahulu. Selain itu, sebelum melakukan penggalian Turangga Seta telah mendapatkan izin dari aparat pemerintah setempat dalam hal ini dari Kepala Desa jelegong beserta ketua RT dan RW setempat.

5.    Bahwa selama ini Turangga Seta telah berupaya meminta dukungan pemerintah guna menindaklanjuti hasil penelitiannya berupa dikeluarkannya izin lebih lanjut dari lembaga pemerintah terkait cagar budaya, serta diberikannya fasilitas dan peralatan pendukung bagi Turangga Seta untuk melakukan riset. Akan tetapi upaya-upaya Turangga Seta tersebut tidak direspon sama sekali, anehnya justru semakin banyak pihak  dan politisi tertentu yang terlibat fenomena piramida lalakon. Banyak dari unsur pemerintah angkat bicara dan mengklaim seakan-akan sebagai pihak yang menemukan dugaan awal piramida di gunung lalakon dan gunung sadahurip dengan alasan penelitian gempa. Kami menolak keras jika ada sebagian orang yang berniat memanfaatkan penemuan Turangga Seta tersebut dijadikan ajang komoditas dan kepentingan politik tertentu.

6.    Bahwa Yayasan Turangga Seta sebagai pihak yang melakukan riset dan penemu dugaan awal piramida lalakon pertama kalinya, maka memiliki hak privilege (keistimewaan) untuk melakukan riset/penelitian dan aktivitas pencarian cagar budaya seluas-luasnya. Hak tersebut dilindungi oleh hukum sebagaimana menurut Pasal 28C Ayat (1) UUD 1945 yang menyebutkan :
“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

Pasal 28I UUD 1945 menyebutkan:
“Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.”

Selanjutnya Pasal 26 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang menyebutkan:
“Pencarian Cagar Budaya atau yang diduga Cagar Budaya dapat dilakukan oleh setiap orang dengan penggalian, penyelaman, dan/atau pengangkatan di darat dan/atau di air.”

7.    Bahwa selaras dengan aktifitas Turangga Seta yang bergerak di bidang pelestarian budaya, mempelajari dan memetakan kembali kebesaran Nusantara, meluruskan sejarah kebudayaan bangsa, mencari peninggalan/bukti tentang kebesaran leluhur Nusantara di masa lalu, dan lain-lain yang berhubungan dengan kebudayaan nasional, maka aktifitas, visi dan misi Turangga Seta sudah selayaknya dilindungi oleh Negara, sebagaimana amanat konstitusi di atas yang memberikan hak tersebut sebagai bagian dari Hak Asasi manusia yang tercantum di dalam UUD 1945 bab XA tentang Hak Asasi Manusia.

8.    Bahwa sikap pemerintah cq lembaga terkait yang menghambat kegiatan Turangga Seta dalam melakukan pencarian cagar budaya, adalah salah satu bentuk pengabaian terhadap hak-hak warga Negara/masyarakat/NGO. Padahal Pemerintah juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan memajukan kebudayaan secara utuh untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sehubungan dengan itu, seluruh hasil karya bangsa Indonesia, baik pada masa lalu, masa kini, maupun yang akan datang, perlu dimanfaatkan sebagai modal pembangunan. Sebagai karya warisan budaya masa lalu, Cagar Budaya menjadi penting perannya untuk dipertahankan keberadaannya. Hal ini sesuai dengan amanat Pasal 32 UUD 1945 yang menyebutkan:
“Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

Jakarta, 28 Juli 2011
ORGANISASI ADVOKAT INDONESIA

VIRZA ROY HIZZAL, S.H., M.H.
Ketua Umum

ORGANISASI ADVOKAT INDONESIA – O A I
Sudirman Park Apartment Tower A 23 CC
Jl. K.H. Mas Mansyur Kav. 35, Jakarta Pusat 10220, Indonesia
Telp. +62 21 83600007, Facs. +62 21 8445331
e-mail: oaindonesia@telkom.net

Patriarchy / Patriarki

What is Patriarchy. Patriarchy is the world we live in. The system that has been and still upon us in the state, the community and the family. Patriarchy is an ideology to some men and some women.

Patriarchy has its central in male state of mind, and some internalized women. Patriarchy works in benefit to some and take other women benefit, make women is disadvantage as human. That is mean the Patriarchy almost always in favor of men (male in the systems).

Through the systems of Patriarchy, any value that works in favor of the continuity of its system will always be in tied with male, Patriach. And one of the way to ensuring how Patriarchy works is through domination of women. The domination of women and whole other human (elders, children, transgender) by male is the conditioned. It has not be done and can’t be done without agents, its agents are most male in home and publics. Sometimes women play agents too, unconciousnessly through family socialization.

How patriarchy works effectively? Patriarchy works when male keep women in subordinate through their dependency to men. Dependency first comes from women’s need to survive, that mean the economy and protection to be save. When women depend on men in economy men need their trade in power. In this term, women surrender themselves to become the property of male. First and foremost in economic. Charlotte Perkins Gilman wrote beautifully and candidly about how economic is root for female oppression. And Carole Pateman is Sexual Contract to counter Social Contract of John Locke explisitely showed how economic works without borders to make women depend on men. And marriage is the market for the exchange and trade of economic between man as buyers and women as objects “goods”.

Women who don’t aware of how can women be in always oppress position might have  advantage condition, it makes them unaware of other women disadvantage.

The facts are that women all over the world started enter into formal education hundreds years after men. Women allow to enter the university only at the nineteenth century.

— –

Patriarki adalah dunia yang kita tinggali kini. Sistem yang menggerakkan roda kehidupan dunia, negara, masyarakat dan keluarga, serta sistem nilai yang dianut mungkin oleh 3/4 penduduk dunia yang berkesadaran.

Patriarki adalah cerminan dominasi. Dominasi oleh suatu kaum yang berjenis kelamin laki-laki. Dominasi ini menguntungkan kaum dengan jenis kelamin tertentu yaitu laki-laki, dan merugikan jenis kelamin lainnya, perempuan.

Patriarki bekerja secara sistematis, dalam kesadaran dan bawah sadar. Banyak perempuan yang telah terinternalisasi nilai-nilai patriarki akhirnya menjadi agen melanjutkan nilai patriarki.

Patriarki adalah binari oposisi. Laki-laki adalah penguasa, perempuan yang dikuasai. Membagi tempat domestik dan publik. Perempuan domestik, laki-laki publik.

Walaupun patriarki sudah mulai goyah kebinariannya, dalam realitas binary oposisi, dualisme kondisi selalu terjadi. Laki-laki di atas, perempuan di bawah. Terutama dalam posisi Power-Politik.

Posisi power-penguasa politik akan terus menerus berada ditangan laki-laki (Patriarki) terutama sejalan dengan lajunya patriarki yang tak henti, tak bisa dihentikan. Hal ini terjadi karena, posisi “bekerja”nya patriarki membuat nyaman satu kaum, yaitu laki-laki. Maka mau tak mau kenyamanan itu tak bisa digubris, harus dipertahankan, dan dibuat sedemikian mungkin hingga perempuan pun nyaman dalam patriarki.

Cara kerja patriarki masuk yang paling kuat melalui individu, pemikiran, perasaan, kalau bahasa kerennya Psychological Opression of Women. Penindasan ini mungkin terlihat individualistis, namun dengan massifnya pelaku praktisi akhirnya penindasan kemanusiaan perempuan yang merupakan implementasi patriarki menjadi diterima. Hanya mereka yang masih menanggap bahwa penindasan terhadap perempuan ‘tergantung’ perempuannya, dia telah menjadi agen patriarki secara tak sadar. Karena suatu yang bersifat kolektif, akhirnya menjadi behavior yang diterima laku diadaptasi, diadopsi dan akhirnya dijadikan kebenaran. Itulah sebabnya, hingga kini masih jarang laki-laki yang berani melawan Patriarki dengan melantangkan penolakan Patriarki. Umumnya mereka para laki-laki beranjak dari apa yang diperjuangkan,  yaitu kesetaraan, tapi jarang yang berangkat dari mengangkat Akar penidasan, yaitu Patriarki.

Charlotte Perkins Gilman dalam Women and Economics,  mampu memberi gambaran bagaimana Ekonomi berperan menempatkan perempuan dalam situasi tertindas “the powerless” bersama anak-anak, orang lansia, dengan Laki-laki sebagai penindas dengan alat penindasanan yaitu Ekonomi.

Kelanggengan Patriarki

Sampai detik ini, menit dan jam ini, di tahun 2011, patriarki masih merajai keseluruhan hidup manusia di muka bumi, terutama di negeri-negeri modern. Hal ini merupakan bentuk kelanggengan patriarki. Sebagaimana halnya berbagai ideologi di dunia, suatu praktik dari paham menjadi sangat berperan untuk kelanggengan patriarki, yaitu kapitalisme dan liberalisme. Bagi patriarki dimana perlawanan pertama kali terhadapnya melalui ideologi feminisme, meskipun banyak bentuk feminisme di dunia mengeroyok Patriaki, tak jua mampu mengalahkan mode dan faham ini. Menurut saya hal ini karena feminisme yang merajai juga feminisme liberal. Feminisme yang cenderung pragmatis dan tiak melakukan perombakan pada akar, namun berselingkuh dengan kapitalisme.

Persekutuan feminisme dengan kapitalisme antara lain dengan menjamurnya berbagai bentuk eksploitasi tubuh perempuan, diri perempuan dalam dunia industri, semata-mata untuk kapitalisme, namun berbungkus liberalisme yaitu individualistis perempuan, independensi perempuan. Padahal faktanya, bagaimana mungkin perempuan menjadi individu yang indipenden dan bebas manakala ia memakai kerangka pikir ciptaan laki-laki tentang konsep kebebasan. Padahal saya sangat sepakat dengan Catharine Mackinnon there is no freedom without sexual equality.

Patriarki menemukan aliansi utama dengan kapitalis dan kaum kanan (konservatif). Di Amerika Serikat, kapitalisme walaupun menjadi ideologi negara dan dianut oleh kedua partai: Partai Republik maupun Partai Demokrat, ternyata lebih erat dan rapat hubungannya dengan Partai Republik yang memang merupakan wadah bagi kaum konservatif ataupun kanan. Suatu kombinasi yang cocok. Lebih jauh lagi, disebabkan Partai Demokrat-pun berideologi kapitalis namun liberalisme ekonomi tidak terlalu menjadi pegangan Demokrat. Feminisme Liberalis-nya lah yang menjadi panutan para perempuan di kalangan Partai Demokrat. Bagaimanapun, asumsi kebebasan individu perempuan kini telah membuat banyak perempuan Amerika mencapai  posisi dan statusnya. Adapun eksploitasi keperempuanan oleh Kapitalisme, melalui berbagai industri Ketubuhan Perempuan maupun industri pornografi tak pernah menjadi bahasan penting feminis liberal.

Bangga dan Buktikan sebagai Bangsa Nusantara

Nusantara Indonesia adalah negeri yang paling istimewa di DUNIA/SEMESTA/JAGAD. Perhatikan saja di peta dunia. Gugusan Pulau-pulau besar. Selat, gunung, pantai. Hutan.

Blog at WordPress.com.

Up ↑