Kebudayaan adalah naluri dan nurani yang menghentak kesadaran bagi kehidupan hakiki manusia. Kebudayaan adalah jelmaan ketiadaan menjadi ada. Ketidak teraturan menjadi tatanan. Keberagaman menjadi rasa. Keunikan yang bercampur menjadi bumbu.

Kebudayaan tidaklah diam dan statis. Kebudayaan bertumbuh hingga puncak, Tujuan kembali kepada asalnya: Sangkang Paraning Dumadi.

Nuswantara pun begitu.
Nuswantara adalah semesta laut, air, tanah dan udara tempat budaya manusia lahir, atas momongan langsung para dewa-dewi, hapsoro-hapsari.

Kebudayaan sejati bukanlah yang menjauhkan manusia dari pengelola Alam, dari penjaga dan penguasa Semesta. Kebudayaan sejati adalah percakapan batin dan penghormatan manusia dengan Yang Gaib, sesuatu Yang Tak Kelihatan bukan berarti tak ada. Semata yang Melihat dan Merasakan AdaNya.

A-gama–artinya tidak tak teratur. Ajaran yang Mengatur, bukan lembaga, bukan institusi apalagi instansi Kekuasaan.

Ajaran Leluhur adalah ajaran yang Mengatur. Memberi arah pada manusia untuk dapat hidup sejahtera di alam dunia, agar dapat mencapai surga/suralaya. Arah hidup sejahtera dan mencapai surga tidak selamanya hanya mengacu pada perbuatan baik. Ada Perilaku, laku yang harus dijalankan. Laku dapat menetapkan bahwa manusia yang belum tiba suksmanya ke nirwana menjalin hubungan dengan para manusia di arcapada. Namun,kyai/nyai dangyang, hapsara-hapsari, widodara-widodari, dewa-dewi dan batara-batari adalah para pihak dan leluhur yang menjembati manusia ke arah kemuliaan. Kemuliaan bukanlah pada kebaikan, kepatuhan, dan atau kerendahan hati, namun kini ketegasan, kebanggaan dan kepercayaan pada diri adalah hal yang mutlak harus dimiliki sebagai laku untuk Membangkitkan kebudayaan warisan Leluhur.

Ketegasan untuk mengacu dan menjalankan pakem yang diajarkan pada masa lalu, pada masa Kejayaan Nusantara. Di antaranya adalah tatacara dan penghormatan pada leluhur dengan berkomunikasi menggunakan dupa dan menyan. Menghormati Leluhur berurut pada beliau masa hidupnya lebih dahulu (lebih tua), lalu yang muda, misalnya Eyang Pangeran Diponegoro adalah lebih dahulu daripada Eyang Supriyadi (pendiri Peta), dst.

Kalau dipersingkat mungkin Trisakti Bung Karno yaitu Kepribadian Yang Berbudayaan –adalah kebudayaan Nusantara. Bukankah semua adat di Nusantara mengharuskan kita menghormati nenek moyang, pahlawan (pendahulu) bukankah beliau semua adalah Leluhur.

Jika menghormati dan menghargai Leluhur lalu dianggap sebagai tindakan yang tidak baik, tidak patut dilakukan siapa yang mengajarkan hal itu, darimana asal ajaran itu?

Negeri-negeri yang dahulu jauh dibelakang Nusantara, China dan India adalah negeri yang mencontoh Kebudayaan, ajaran dan teknologi Nusantara. Kini, jika kita akan mengambil kembali ajaran yang terlepas karena waktu..maka tak ada yang akan menghalangi selain waktu.

Waktu adalah yang mengambil sekaligus yang memberi, kita hanya bersiap dan bersiap siaga, menerima hadirnya bangkitnya Kebudayaan Nuswantara…

@Umi Lasminah, 18 Agustus, 2011, Respati. Pon.

Advertisements