Media Seksis

Sexist Media atau Media Seksis, adalah penggambaran sehari-hari ideologi seksisme dalam paparan, tampilan, content, substansi dan aksesory media massa. Ideologi seksisme merupakan sebutan lain dari Patriarki. Seksisme mengedepankan dan menempatkan laki-laki kaum dari jenis kelaminnya sebagai “pendorong” “penggagas” “pelaksana” segala kebijakan disegala bidang di dunia, dengan menempatkan perempuan dalam posisi objek seks, sex object, melekat dan sulit dilepaskan sehingga sangat mudah ditemui dalam seluruh conten media, seluruh jenis media. Media elektronik, media cetak, medsos, media audiovisiual (film) dan media kekinian (gadget)

Seksisme membuat jenis kelamin perempuan bila tidak tersingkir dari pendorong; penggagas; pelaksana, maka perempuan berada dalam posisi invisible atau minor peran, dan ruangnya sedikit dibanding laki-laki.

Seksisme memberikan keuntungan privelege bagi laki-laki, dan merugikan perempuan. Ada masanya juga tidak menguntungkan laki-laki, manakala kemanusiaan laki-laki seperti “sedih, menangis dan peka” dianggap sebagai kelemahan. Hal ini tadi disebabkan karena seksisme menjadikan perempuan tidak hanya objek tetapi juga melekat dengan sifat yang dianggap sebagai ciri “lemah” menangis dan sedih. Meskipun begitu kondisi keuntungan laki-laki yang terus-menerus dan mapan sehingga melahirkan kewajaran, akhirnya bila bukan dalam kondisi seksisme maka hal itu salah dan tidak wajar. Yang pasti seksisme menempatkan perempuan sebagai mahluk seksual, bukan mahluk sosial.

Seksual artinya peran seputaran seks: melahirkan dan melayani hasrat seksual laki-laki. Yang semuanya masih dalam rangkum ruang yang disebut domestik. Domestikasi perempuan adalah konteks tidak sekedar merumahkan perempuan, namun menempatkan keseluruhan potensi dan jatidiri perempuan dalam perangkap seks dan seksualitas. Tentunya seks dan seksualitas yang ditetapkan dan dibakukan oleh laki-laki baik dalam dunia ilmu pengetahuan/sains maupun dalam kultur. Contoh mengenai hal tersebut paling dapat dilihat dalam sains kedokteran. Emily Martins sangat baik memamparkan hal ini melalui bukunya The Woman and The Body.

Sebagai perempuan mahluk seksual, maka determinasi penilaian orang terhadap manusia berjenis kelamin perempuan adalah karena dia Perempuan. Karena ia terlahir dahulu sebagai Perempuan, barulah atribut kemanusiaan lain yang melekat dan bersifat sosial (hak asasi, nilai, status) diberikan.

Hal ini menjadi masalah karena ada atribut yg dilekatkannya yang dapat membuatnya lebih tidak leluasa sebagai mahluk sosial. Pertama, menetapkan kondisi yang wajar perempuan adalah dilingkup domestik, menetapkan perempuan dalam konteks pelayan didomestik. Semua kondisi tersebut akhirnya menjadi tampilan yang dipaparkan secara nyata dan tersurat melalui media, khususnya media massa.

Media massa adalah pembawa pesan manusia baik secara individu maupun kolektif yang ditujukan. Medium is the message. Kalau medium yang ditampilkan menggambarkan situasi dan kondisi yang terus menerus sama, maka itulah yang menghantam dan merembes ke dalam pemikiran para viewer, pembaca dari medium tersebut.

Satu-satunya cermin ideologi seksisme adalah sistem patriarchy, ketika patriarchy menjadi dogma dengan kemapanan yang tidak dapat disanggah di komunitas, patriarki menjadi ideologi.

Ideologi patriarchy sering tidak terlacak dalam wacana pemikiran ilmu sosial atau grand teori besar, karena secara akademis patriarchy baru satu dasawarsa dianggap sah sebagai ‘term’ yang menjelaskan kondisi riil ataupun yang tidak riil (kesadaran-perilaku) yang hanya dapat dilacak melalui dampak/akibat…

Media = Medium

Media adalah pengantar utama pemikiran dan perasaan manusia yang dapat menjangkau massa yang jumlahnya hingga jutaan orang. Bisa dibayangkan ketika suatu gambar yang seksis menyebar dalam sekejap, duapuluh detik misalnya, video adegan seks antara tokoh politik dan celebrity dimana yang nampak lebih terbuka dan terekspose adalah perempuannya. Disitulah seksisme sangat gamblang tersebar.

Setelah tersebar, maka orang akan lebih terfokus ada perempuan tersebut. Ramailah dimedia massa. Media sebagai tool pengantar sebenarnya objektif tak memiliki kekuasaan, namun manakala nilai seksisme merajai sang pembuat video. Jemarinya, tangannya maka dia akan mengarahkan bagian mana dari perempuan tersebut disorot karema, difokuskan atau mana yang diblur. Kamera adalah alat yang objektif. Semua teknologi objektif, namun modifikasi pemakaianya bisa seksis dan tidak peka gender. Termasuk teknologi yang melekat di kamera handphone.

Didalam perspektif kamera, terdapat female gaze dan male gaze.  Female gaze menjadikan mata perempuan sebagai perspektif melihat dunia dengan penuh empati, “It seeks to empathize rather than to objectify. (Or not.) It’s respectful, it’s technical, it hasn’t had a chance to develop, it tells the truth, it involves physical work, it’s feminine and unashamed, it’s part of an old-fashioned gender binary, it should be studied and developed, it should be destroyed, it will save us, it will hold us back.”  Anda akan dengan sangat mudah membedakan female gaze dan male gaze pada film-film karya sutradara perempuan khususnya ketika aktrisnya memerankan adegan terkait sensualitas. Bisa juga ditemukan pada lukisan-lukisan yang menghadirkan perempuan dalam lukisan tersebut. Pada lukisan yang dibuat oleh pelukis perempuan, media lukisan menjadi ruang yang luas mampu menampilkan emosi tokoh-tokoh dalam lukisan termasuk tokoh laki-laki.

@umilasminah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: