Sexist Media atau Media Sexist, adalah penggambaran sehari-hari ideologi seksisme dalam paparan, tampilan, content, substansi dan aksesory media massa. Ideologi seksisme merupakan sebutan lain dari Patriarki. Seksisme mengedepankan dan menempatkan laki-laki kaum dari jenis kelaminnya sebagai “pendorong” “penggagas” “pelaksana” segala kebijakan disegala bidang di dunia.

Seksisme membuat jenis kelamin perempuan bila tidak tersingkir dari pendorong; penggagas; pelaksana, maka perempuan berada dalam posisi invisible atau minor peran, dan ruangnya sedikit dibanding laki-laki.

Seksisme memberikan keuntungan privelege bagi laki-laki, dan merugikan perempuan. Kondisi keuntungan laki-laki yang terus-menerus dan mapan sehingga melahirkan kewajaran, akhirnya bila bukan dalam kondisi seksisme maka hal itu salah dan tidak wajar. Yang pasti seksisme menempatkan perempuan sebagai mahluk seksual, bukan mahluk sosial.

Seksual artinya peran seputaran seks: melahirkan dan melayani hasrat seksual laki-laki. Yang semuanya masih dalam rangkum ruang yang disebut domestik. Domestikasi perempuan adalah konteks tidak sekedar merumahkan perempuan, namun menempatkan keseluruhan potensi dan jatidiri perempuan dalam perangkap seks dan seksualitas. Tentunya seks dan seksualitas yang ditetapkan dan dibakukan oleh laki-laki baik dalam dunia ilmu pengetahuan/sains maupun dalam kultur. Contoh mengenai hal tersebut paling dapat dilihat dalam sains kedokteran. Emily Martins sangat baik memamparkan hal ini melalui bukunya The Woman and The Body.

Sebagai perempuan mahluk seksual, maka determinasi penilaian orang terhadap manusia berjenis kelamin perempuan adalah karena dia Perempuan. Karena ia terlahir dahulu sebagai Perempuan, barulah atribut kemanusiaan lain yang melekat dan bersifat sosial (hak asasi, nilai, status) diberikan.

Hal ini menjadi masalah karena ada atribut yg dilekatkannya yang dapat membuatnya lebih tidak leluasa sebagai mahluk sosial. Pertama, menetapkan kondisi yang wajar perempuan adalah dilingkup domestik, menetapkan perempuan dalam konteks pelayan didomestik. Semua kondisi tersebut akhirnya menjadi tampilan yang dipaparkan secara nyata dan tersurat melalui media, khususnya media massa.

Media massa adalah pembawa pesan manusia baik secara individu maupun kolektif yang ditujukan. Medium is the message. Kalau medium yang ditampilkan menggambarkan situasi dan kondisi yang terus menerus sama, maka itulah yang menghantam dan merembes ke dalam pemikiran para viewer, pembaca dari medium tersebut.

Satu-satunya cermin ideologi seksisme adalah sistem patriarchy, ketika patriarchy menjadi dogma dengan kemapanan yang tidak dapat disanggah di komunitas, patriarki menjadi ideologi.

Ideologi patriarchy sering tidak terlacak dalam wacana pemikiran ilmu sosial atau grand teori  besar, karena secara akademis patriarchy baru satu dasawarsa dianggap sah sebagai ‘term’ yang menjelaskan kondisi riil ataupun yang tidak riil (kesadaran-perilaku) yang hanya dapat dilacak melalui dampak/akibat…

@Umi Lasminah bersambung

 

(bersambung@Umi Lasminah)

Advertisements