BAHASA: ALAT  PENINDASAN DAN TEROR MENYALAHKAN PEREMPUAN

Setiap hari laki-laki melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan. Atas tindakan nyata tersebut perempuan kehidupan perempuan terpengaruh oleh tindakan nyata kekerasan tersebut dan terror atas ketakutan pada kejadian tersebut.

Kekerasan terhadap perempuan, perkosaan dan pembunuhan yang terjadi di mikrolet di Jakarta beberapa waktu lalu telah menimbulkan ketakutan dan terror bagi  perempuan. Media massa dengan bahasanya MENYUMBANG LUAR BIASA atas ketakutan dan terror ini.

Berita yang terus menerus, gambaran yang vivid  dan terang-terangan, dan kini dalam rangka MENCARI SIAPA YANG SALAH (seakan Pelaku tidak bersalah), maka BAHASA adalah alat paling ampuh untuk menunjuk siapa yang salah. Pemerintah dan pemangku kepentingan sekali lagi dengan LUAR BIASA JAHAT-nya memakai Media sebagai wahana bahasa penempatan siapa yang bersalah pada konteks kekerasan perempuan. YANG BERSALAH ADALAH KORBAN. Itulah bahasa tersirat dan tersurat dalam pernyataan Gubernur Jakarta. Fauzi Bowo:

“Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerah juga. Sama kayak orang naik motor, pakai celana pendek ketat lagi, itu yang di belakangnya bisa goyang-goyang,” katanya sembari bercanda. “Harus menyesuaikan dengan lingkungan sekelilingnya supaya tidak memancing orang melakukan hal yang tidak diinginkan,”

Kalimat diatas yang digarisbawahi adalah Kalimat Ideologis, bahasa BLAMING THE VICTIM. Pertama muatan ideology untuk mengatur orang berpakaian. Kedua menjatuhkan HUKUMAN dan KESIMPULAN pada mereka yang berpakaian tidak sama dengan yang lain: memancing. Ketiga: Menganggap orang berpakaian memiliki motivasi atas tindakan orang lain. Itu adalah ideology PATRIARKI. Ideologi yang menanggap semua tindakan laki-laki terhadap perempuan terkait dengan menempatkan perempuan sebagai SEKS OBJEK adalah sah, adalah boleh, layak. Apapun caranya: dipaksa, ditipu, atau dianggap suka-sama suka.

Dengan  menggunakan tuturan yang “becanda” Gubernur Jakarta telah pura-pura atau seolah-olah apa yang dinyatakankannya tidaklah penting, tidak serius. Masalahnya persoalan yang terjadi yaitu Kasus Pemerkosaan adalah permasalahan yang sangat serius, Negara dalam hal ini diwakili oleh Pemerintah Provinsi Jakarta  tidak dapat memberi jaminan Keamanan terhadap penduduk yang tinggal di Jakarta. Terhadap Warga Negara yang dijamin hak untuk hidup aman sesuai Konstitusi pasal 28.

Bahasa: wahana Teror

Lihat saja judul-judul yang dipakai untuk memberitakan kekerasan terhadap perempuan “Pemerkosaan di Dalam Angkot Korban Perkosaan di Angkot D-02 Kenal Dengan Pelaku”

Advertisements