Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

November 2011

Cinta Negeri: Tanah dan Air yang Menghidupimu

Ini tulisan sederhana tentang rasa cinta pada Negeri bukan negara, negeri yang menjadi ruang hidup bersama manusia di dalamnya (tanah,air dan udara). Namun berhubung batas-batas negeri (nagari) modern kini dikenal sebagai negara, maka nasionalisme dikenal sebagai kecintaan pada negara. Dan saya, keluarga dan teman yang tinggal di jakarta masuk dalam negara indonesia, maka mau tak mau terbawa pandangan orang terhadap tindakan dan pikiran tentang kecintaan dengan sebutan nasinalisme.

Cinta negeri kalau secara luas mungkin dapat disebut sebagai Nasionalisme. Nasionalisme Indonesia adalah suatu feeling. Perasaan cinta, kebersamaan dan perasaan sayang pada sesama bangsa Indonesia (orang yang lahir,dibesarkan,hidup makan dan minum bernafas di tanah air indonesia). Namun kecintaan pada negeri yang lebih kecil, kampung halaman di Provinsi (Padang, Medan) atau juga yang lebih kecil lagi Pariaman, Kuningan (Jawa Barat)

Kecintaan pada Indonesia umumnya ditunjukkan dengan hadirnya perasaan bangga dan kagum terhadap apa yang dilakukan oleh sesama bangsa. Paling terasa bila kita hidup dan bertemu di luar negeri.

Seperti suatu ketika saya tak tahu harus tinggal dimana ketika di suatu negara yang biaya hidupnya mahal, dan uang menipis. Lalu cari sana sini akhirnya menumpang di teman sesama WNI. Teman yang menolong saya ini bukan berasal satu suku dengan saya, ia dari Sumatera, saya dari Sunda. Namun rasa persaudaraan dan tolong menolong terjadi begitu saja, walaupun kita tak pernah berkenalan, tak pernah bertemu sebelumnya..

Selain perasaan keterikatan pada suatu negeri asal geografi yang sama, kita juga biasa menjalin kedekatan dengan sesama Asia atau Afrika, pada titik ini kedekatan kemanusiaan dijembatani oleh ras. Seperti pada suatu konferensi internasional, mereka yang berkulit putih cenderung berkumpul dengan yang kulit putih, juga yang berkulit hitam, kuning dan coklat. Semua hanyalah bagian dari psikologi manusia untuk mimicry–semua yang dekat adalah cerminan diri. Karena orang-orang yang terlihat sama kulit, mata atau rambut membuat merasa ada kesamaan, maka muncullah kedekatan, bagaimanapun sesuatu yang asing lebih membuat manusia enggan karena ada kekhwatiran terhadap yang asing tersebut, sedang terhadap yang ada kemiripan, keterasingan dan kekhawatirannya mungkin sedikit berkurang…

Dalam buku the Racial Contract, Charles W. Mills antara lain mengungkap adanya pola sistemik dari perilaku rasialis di seluruh dunia.

@Umi Lasminah, bersambung

APAKAH FEMINIS INDONESIA NETRAL DAN TAK SADAR JERATAN KAPITALIS

APAKAH FEMINIS INDONESIA NETRAL DAN TAK SADAR JERATAN KAPITALIS

Sepanjang saya menjadi penulis feminis, saya terlibat dalam berbagai kesempatan dengan para perempuan yang mempromosikan kesetaraan gender namun banyak diantaranya enggan menyebut diri sebagai feminis. Itu bagi saya adalah kelemahan tersendiri. Yang kedua, dari berbagai tulisan atau paparan tentang hal yang ditentang dan ingin dilawan oleh kalangan aktivis perempuan itu, umumnya mereka tidak secara langsung memasukkan wacana perlawanan terhadap Patriarki yang kapitalistik.

Paling banyak hanya menempatkan kondisi sekarang sebagai hal yang terpisah dari sistem kapitalisme. Saya selalu menganggap bahwa para aktivis perempuan yang memperjuangkan kesetaraan masih ‘feminis’ in the closet, atau paling tidak feminis liberal tetapi tidak menyadarinya.

Feminis liberal paling realistik dan paling nyata adalah ketika mereka menerima mentah-mentah ajaran para feminis dari Amerikat terkait konsep diri perempuan pribadi dengan tidak mengaitkannya dengan konteks sosial politik perempuan tersebut. Pada titik ini seksisme adalah internalisasi politik ideologi yang tidak disadari oleh laki-laki dan perempuan. Seksisme tumbuh subur di dalam pikiran sehingga tidak disadari. Oleh sebab itulah Catherine Mackinnon melukiskan perjuanan perempuan pertamakali adalah consciousness raising, kebangkitan kesadaran akan adanya seksisme di dalam kehidupan manusia dan sadar serta berjuang untuk melawannya. Pikiran seksisme melahirkan sexual inequality. Ketidaksetaraan berdasarkan jenis kelamin.

Jenis kelamin perempuan dan laki-laki sebagai bentuk biologis lalu dikonstruksi sosial menjadi gender–peran yang dilekatkan pada jenis kelamin tertentu, dan peran tersebut diabadikan, lalu dirangking. Peran ini kemudian membeku dan baku, lalu ditempeli embel-embel kodrat, status dst yang memapankan ketidaksetaraan, adanya ketidak adilan..

Feminis Indonesia

Feminis Indonesia banyak, mulai dari sebelum Kartini hingga kini. Namun, siapa yang diantaranya mempunyai kepekaan pada penindasan ekonomi yang sistemik jarang. Memang benar adanya yang seperti dinyatakan oleh Charlotte Perkins Gilman dan Carole Pateman bahwa seks/jenis kelamin membentuk desain “ekonomi” pada manusia perempuan.

@Bersambung, Umi Lasminah, November 2011, 18

Harapan Orang Biasa

Orang biasa adalah rakyat kebanyakan. Orang biasa Jakarta biasanya lulusan SMA/SMU-Laki-laki atau perempuan. Orang biasa sekarang dalam kondisi susah. Tetangga saya kanan kiri pengangguran. Pengganguran dalam arti tak berproduksi diri di rumah, maupun di luar rumah. Keterampilan tak ada. Ijizah SMA tak ada artinya.

Orang biasa kini dirundung kemalangan yang luar biasa. Mereka hidup dalam ketiadaan Penghargaan atas diri mereka sendiri, maupun oleh Negara. Mereka ditelantarkan sehingga terus menganggur.

Mereka yang dari daerah terpaksa datang ke Jakarta bekerja dengan berjualan. Berjualan. Walaupun bukan pekerjaan sulit, tentu butuh kesabaran dan ketekunan. Namun berjualan yang paling mudah adalah berjualan asongan. Di jalan, di stasiun bis, stasiun kereta atau dimana saja ada keramaian. Hasilnya tak seberapa, cukup  untuk makan 3 kali saja pasti bagus…

Orang-orang biasa adalah benar-benar biasa dalam artian sederhana. Pikiran sederhana (tidak kritis), dan biasa menerima kesusahan…Orang-orang biasa tak biasa menggunakan pikiran dan kesadarannya untuk memikirkan selain diri sendiri (perut), keluarga (makan pangan) dan kebutuhan sehari-hari. Namun bukan berarti mereka tidak punya pikiran, tidak berpikir…Namun dari 24 waktu yang ada…mungkin hanya berapa persennya digunakan untuk memikirkan di luar dirinya, Tak Apa. Wajar. Orang-orang biasa membutuhkan didorong dan diaffirmasi kesadarannya/pikirannya. Seperti misalnya

@bersambung

Do You Write?

Do you write a poetry
About us?
About me

Do you inspire?
By me
As I am

Do you ever think of us
Of me
My laugh
What did you hear?

Do you hear me while I’m not with you

Ah I don’t need any answer

I’m with you when I’m not
And yours too

Thank you

@Umi Lasminah- old poetry

Kebebasan yang Memerdekakan

Tiga Serangkai Pejuang Perempuan di Jamannya hingga kini perjuangan diteruskanKebebasan adalah hak terberi manusia. Namun kebebasan yang paling berharga adalah kebebasan yang Memerdekakan.

Walaupun Kemerdekaan telah memberi kebebasan bagi suatu bangsa yang terjajah, sesungguhnya kebebasan tak dimiliki oleh seluruh bangsa tersebut. Diantara mereka dari bangsa tersebut yang paling memperoleh kebebasannya adalah kaum kelas menengah-dan atas terpelajar.

Pada masalalu, saat Indonesia belum merdeka, pemuda-pemudi memanfaatkan kebebasan yang dimiliki untuk bergabung dalam organisasi pergerakan pemuda/i (khususnya sebelum 1928). Kita tentu tahu bahwa pada masa itu sudah banyak pemuda/i Indonesia kalangan kelas menengah dan atas, terpelajar, namun tak seluruhnya ikut dalam pergerakan organisasi pemuda/i.

Para pemuda/i yang ikut dalam organisasi pergerakan adalah mereka yang Menggunakan Kebebasannya untuk Memerdekakan, memerdekakan orang lain.

Pilihan para pemuda untuk dalam organisasi bukan pilihan yang mudah, nikmat apalagi aman. Hanya mereka mau menggunakan kesadaran berpikir dan beraksi sebagai pengejawantahan kebebasan yang dimilikinya untuk suatu yang di luar dirinya.

Bukan pilihan yang mudah. Banyak dari beliau yang mendapat tentangan dari keluarga, menghabiskan waktu berpikir, berdiskusi secara sembunyi-sembunyi. Terancam dibunuh, dipenjara, beberapa melaluinya hingga dipenjara. Pilihan tindakan yang dilakukan dengan kesadaran. Kesadaran yang dipakai karena memiliki kebebasan (walau terbatas). Berapa banyak orang yang punya kebebasan tetapi tidak memakainya untuk memilih membangkitkan kesadaran diri sendiri maupun orang lain…

Selain para pemuda anggota pergerakan organisasi awal abad ke 20, Kartini adalah perempuan yang menggunakan kebebasan yang dimilikinya untuk memerdekakan orang lain. Kaum ningrat perempuan yang sama dengan Kartini banyak, yang memiliki privilege hampir sama bahkan lebih dari Kartini. Tetapi Kartini adalah perempuan yang menggunakan “kebebasan”-nya yang sedikit, ‘kebebasan yang sangat terbatas’ untuk memerdekakan. Pertama Kartiini membebaskan pikirannya, mengambil alih hatinya untuk kemerdekaan yang lebih luas, bukan hanya kemerdekaanya. Kartini memang ingin merdeka, bisa sekolah di Betawi atau Belanda, tapi kemerdekaan yang diidamkannnya hendak dipersembahkan kepada orang lain, kepada para anak-anak perempuan yang tidak bisa baca tulis, ingin memajukan bangsanya. Kartini adalah perempuan yang Meng-Exercise HER FREEDOM. Mengejawantahkan kebebasannya. Padalal kalau dipadankan dengan kondisi sekarang mungkin, menyaksikan seorang ‘kaya,ningrat,terpelajar’ mungkin banyak orang yang bilang “ih ngapain sih ngurusin orang, itu kan urusan pemerintah…cape-capein aja….ngurusin orang lain”

Sedangka selama ini, khususnya di Indonesia yang sudah dimerdekakan melalui upaya pemuda masalalu, orang-orang yang telah dianugrahi kebebasan sepetinya masih menggunakan kebebasannya hanya untuk dirinya sendiri. Khususnya kalangan menengah atas. Betapa tidak, kebebasan baru dimanfaatkan untuk memilih makan direstoran mana hari ini, pergi kemana weekend nanti, makan apa yang enak untuk nanti. Sementara sehari-harinya mereka juga dihadapkan pada suatu ketimpangan suatu penderitaan manusia sebangsa..

Padahal kebebasan “tidak didapat sejak lahir”, karena saat lahir kebebasan kita masih dipegang oleh orangtua-keluarga..Kebebasan hanya mulai muncul manakala otak dan pikiran mulai bekerja, mungkin saat anak-anak dimulai ketika mereka mulai memiliih makanan yang disukai, atau meminta ini-itu. Kebebasan yang paling dasar yang setiap hari dipraktekkan manusia adalah kebebasan ‘biologis’ memilih waktu tidur, memilih makan apa, memilih nonton film apa…etc. Semuanya masih ditujukan untuk kebebasan menyenangkan atau memenuhi kebutuhan dasar pribadi.

Namun belum banyak orang, khususnya di Indonesia yang tergerak untuk menggunakan atau memanfaatkan privilege memilih untuk pilihan yang ditujukan bagi orang lain. Ketika setiap hari kita menyaksikan ….orang-orang yang butuh dimerdekakana (dari kemiskinan, dari kebodohan, dari ketidakpedulian…)

@Umi Lasminah

GIANT PYRAMID FINALLY FOUND IN INDONESIA

This is The Discovery of GIANT Pyramid in Indonesia, Pyramid Lalakon in English version, with data Geoelectricity

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑