Beberapa hari lagi perempuan Indonesia akan menjelang Hari Perempuan Internasional 8 Maret. Bagi perempuan, terutamanya yang telah mengetahui ataupun telah mendengar sejarah gerakan perempuan akan merayakan Hari Perempuan Internasional. Hari dimana para perempuan se-dunia merayakan keperempuanannya, sebagai suatu identifikasi diri perempuan sebagai mahluk sosial dan mahluk alamiah/biologis.

Walaupun Hari Perempuan internasional bermula diperingati di Barat, perempuan Indonesia tak ada salah dan ruginya untuk turut memperingatinya. Hal ini karena Tanggal 8 Maret, ditahun kapanpun dapat selalu jadi MOMENTUM untuk merefleksi, memperingati dan mengkaji ulang sejauh mana Sejarah telah ADIL atas manusia didalam penceritaan KEHIDUPAN NYATANYA. Sejauh Mana Sejarah dunia memberi ruang pada Perempuan secara mulia dan Terhormat.

Indonesia sendiri adalah negeri dengan sejarah panjang para perempuan yang pernah hidup di masalalu. Perempuan yang pernah dan telah menjajaki kaki, tubuh, serta nyawa dan suksmanya untuk menjadi Indonesia, Nuswantara di masalalu hadir, dan bagaiman Nuswantara menjadi Indonesia lahir.

Ada rangkaian panjang sejarah Perempuan Dunia yang belum terungkap, karena disembunyikan oleh WAKTU. Ya Waktu adalah suatu yang hingga kini belum dapat dikontrol oleh kita pada umumnya manusia modern yang hidup mengikuti cara modern.

Modern disini adalah suatu metode dan cara berpikir dan berkreasi yang khususnya ‘dianggap’ berasal dari Barat (Amerika Serikat akar Yunani)yang mengedepankan rasionalitas dan mengabaikan metafisika atau yang dianggap di “luar logika”.Namun begitu sejalan dengan perkembangan alam dunia, kini negeri Indonesia dengan para manusianya yang super-super hebat, baik perempuan maupun laki-laki sedang akan memasuki babak baru dari suatu negeri modern.
Modernitas berpola pikir barat kini merger-menyatu dengan tradisi asli Nuswantara, dimana baik perempuan maupun laki-laki memiliki peluang yang sama untuk memimpin negara-memimpin manusia lainnya.

Sepanjang sejarah Nuswantara sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk, para perempuan Nuswantara telah berkiprah menjadi pemimpin, mengayomi rakyat dan melindungi rakyat serta wilayahnya.
Di antara nama-nama perempuan tersebut nama yang jauh sejak dahulu kala seperti Ratu Sitawaka (Ratu pengejawantahan Dewi Sri, sehingga kerajaannya Matswapati dikenal dgn sebutan Sriwijaya, Kanjeng Ratu Kidul (semasa mudanya bernama Putri Gilang Kencana, anak dari Sang Mapanji Mahaprabu Jayabaya), Ratu Shimawan kerajaan Mendang Kamulyan (Lemuria) atau kerajaan Maha Jaya Alengka Maharatu Tunjungsari (putri), Maharatu Dyah Ciptasari (putri)..
@bersambung