Kasihan sekali para arkeolog, capek-capek kuliah bayar mahal untuk membuktikan bahwa mereka keturunan Pithecantropus erectus, dan mencari pembuktian bahwa bangsa nusantara dari Afrika,seperti Truman Simanjuntak–bukannya cari jejak yang bener misalnya spt patung kuno di Pulau Paskah/Easter yg wajahnya mirip wajah patung yg ada di Sumatera Utara..
Padahal Truman Simanjutak ini sendiri mengutip d situs Sangiran ditemukan 60 fosil manusia purba yg lebih banyak dr yg pernah ditemukan dimanapun di dunia..Nah itu aja udah jelas bahwa di sini lebih BANYAK.masih saja menganggap negeri di luar sana sebagai yg lebih berkembang peradaban manusianya.
Belum lagi temuan2 benda2 dgn ukiran rumit dr emas yg berserakan di Nuswantara eh malahan ngotot pada Kepurbaan manusia yang pithecantropus erectus. Mereka pastinya berpatokan pada Darwin the Origin of Species, padahal Darwin sendiri sedikit sekali menyebutkan tentang teori evolusi manusia, tapi para peneliti barat malah kemudian berpaku pada pencarian genetic origin manusia, khususnya asal evolusi.

Mereka kaum barat ini antara lain yang juga datang ke Indonesia di masa penjajahan, berarti Penjajah yaitu orang Perancis Eugène Dubois yg mencari jejak manusia purba di Indonesia-Nuswantara yang menemukan Pithecanthropus erectus ,sesudah itu orang Belanda, sebagai Penjajah Negeri pastinya ingin juga menemukan fosil yang bersejarah maka Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, orang Jerman juga dikirim ke Nusantara untuk meneliti manusia purba di Sangiran.

Kita sebagai Bangsa Nuswantara hendaklah tidak terpengaruh pada OBSESI mereka terhadap manusia purba. Bagi kita tetaplah berpegang teguh bahwa yang ditemukan itu adalah Kera dan bukan manusia kera. Karena kera/monyet/kunyuk/munyuk itu sudah ada sejak manusia diciptakan. Dan Penciptaan manusia di Nuswantara itu jelas mengikuti alur Jagad Gumelar, karena Nuswantara memanglah tempat para Dewa datang menempatkan Manusia untuk tinggal, bahkan langsung dibimbing oleh para dewa/dewi sendiri dengan Menitis dan membentuk masyarakat hingga Kerajaan di awal mula Peradadan Manusia, yaitu pada masa Kali Swara, Jagad Gumelar : http://www.lakubecik.org.

Disamping tentang kemanusiaan bangsa Nuswantara yang sejatinya harus dikenali dan dipahami oleh Bangsa Nuswantara sendiri, kita jangan sekali-kali terpengaruh pada tulisan yang ada di media mainstream/umum seperti koran Kompas, Media Indonesia, Tempo yang sering menampilkan Tulisan dari para penulis asing atau orang Indonesia dengan mengutip ilmuwan asing. Bahkan tentang Gajah Mada, seorang peneliti asing pernah menyebut suatu nama Dewi Gayatri, yang Sesungguhnya hidup dan berada di Nuswantara berbeda masa dengan Gajah Mada.

Sekali lagi, jangan indahkan sejarah Nuswantara-Indonesia yang tidak menghargai dan menghormati Leluhurnya. Proses bangsa Indonesia menjadi seperti sekarang ini memiliki sejarah dan cerita PANJANG, yang semua akan Kembali kepada Permulaannya, Yaitu Bangsa Yang Jaya, Swarga, Jamrud Kathulistiwa. Masa awal menuju Kembali itu kini sudah di depan mata, ALAM (bukan alam tanpa ada yang mengontrol/mengelola, semua Pengelola Alam adalah Leluhur) sudah mulai bicara dan bertindak, diantaranya ada yang Dengan Sendirinya ada yang diintervensi oleh manusia.

Bersiaplah, Kala Suba. Jaman Puji-pujian. Jaya-jaya Wijayanti Nuswantara.@UmiLasminah

Advertisements