Beberapa tahun lalu saya masih mencari tuhan. Sekarang tidak. Saya sudah menemukan tuhan. Tuhan ada dalam diri saya. Yang lebih membahagiakan lagi adalah tuhan itu memang benar-benar bagian dari diri saya, yang artinya saya adalah keturunanNya. Namun jangan disalah artikan pemahaman saya ini, Sang Maha Pencipta adalah Hyang Tertinggi dan dipercaya oleh hampir semua agama, dengan sebutan berbeda. Sang Maha Pencipta adalah Nyata ada dan dipercaya.

Tentunya saya berbeda dengan anak tuhan dalam versi agama manapun. Sebagai warga Nuswantara (http://www.lakubecik.org , Jagad Gumelar), akhirnya saya menemukan jalan bahwa selama ini penolakan saya terhadap ajaran dari Timur Tengah, dan ajaran dari Barat ternyata adalah untuk menemukan diri saya sendiri.

Warga Nuswantara sepertinya nampaknya ingin dekat dengan sang Penciptanya, maka agama-agama tumbuh subur di Nuswantara. Agama-agama dunia yang berusia dua ribuan tahun bisa masuk dan dianut, bahkan agama yang menjadi mayoritas adalah agama yang baru lahir dan berkembang di tanah lahirnya abad ke 6 Masehi. Semua semata-mata adalah kepercayaan manusia di Nuswantara/Indonesia pada hal yang Ghaib, yaitu Sang Maha Pencipta.

Berbeda dengan warga di Negeri Barat (baca Amerika Utara dan Eropa), warga Nuswantara lebih mudah percaya pada hal yang ghaib, hal yang supra-natural atau hal yang magic. Hal ini tentu saja karena latar belakang leluhur masing-masing. Warga Barat memiliki Leluhur yang sejak awal pendirian negeri-negri modern Barat diilhami diajari untuk mengedepankan rasional, rasio, pikiran. Co gito er go sum (aku berpikir maka aku ada). Warga Barat “dipaksa” untuk rasional sehingga apabila mereka tidak mendapat penjelasan yang rasional mereka sulit menerimanya, dan selalu mencari jawaban pada hal-hal yang rasional. Rasional dalam tulisan ini berarti  hal-hal yang dapat ditangkap diterima/diolah dengan nalar. Nalar berarti pikiran. Pikiran berarti otak. Yang saya anggap hanya sebagian kecil dari keseluruhan kemanusiaan.

Pelabelan terhadap Bangsa Nuswantara

Bila kita membaca buku-buku sejarah anak-anak Sekolah Dasar, atau SMP atau bahkan SMU, disebutkan antara lain bangsa Indonesia di masalalu menyembah batu, pepohonan dan sebagainya, yang dengan memakai Ilmu Pengetahuan Barat disebut animisme dan dinamisme. Tak banyak ilmuwan Indonesia yang mengupas tentang animisme dan dinamisme yang dipraktekan di berbagai wilayah di Indonesia. Penelitian tentang praktek tersebut malah dilakukan oleh ilmuwan Barat.

Mengutip dari http://arnold-best.blogspot.com: animisme berasal dari bahasa latin, yaitu anima yang berarti ‘roh’. Kepercayaan animisme adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh. Keyakinan ini banyak dianut oleh bangsa-bangsa yang belum bersentuhan dengan agama wahyu. Paham animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini (seperti laut, gunung, hutan, gua, atau tempat-tempat tertentu), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar jiwa tersebut tidak mengganggu manusia, atau bahkan membantu mereka dalam kehidupan ini. Sedangkan dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos, sedangkan dalam bahasa Inggris berarti dynamic dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan arti kekuatan, daya, atau kekuasaan. Definisi dari dinamisme memiliki arti tentang kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini memiliki kekuatan ghaib.

Pelabelan animisme dan dinamisme oleh orang Barat kepada para warga Nuswantara di masalalu khususnya jaman raja-raja dan kerajaan tidaklah masalah. Meskipun definisinya tidak seperti hal tersebut. Selain dinamisme dan animisme, orang Barat juga menanggap ajaran yang dilaksanakan penganut dinasmisme sabagai Pagan, yang percaya pada kekuatan Dewa yang tidak satu. Adapun tentang benda-benda disekitar kita yang memiliki kekuatan ghaib dalam pengertian dinamisme, hal tersebut memang dipercaya dan dibuktikan dengan banyaknya Pusaka yang diperlakukan sebagaimana benda yang memiliki Ruh – Suksma yang harus dihormati. Terkait dengan perlakuan terhadap Pusaka, pada bulan-bulan tertentu kalangan tertentu melakukan Pencucian Pusaka dengan suatu ritual yang dilingkupi kepercayaan yang kuat.

Ajaran Leluhur Nuswantara memang mengajarkan kita untuk menghormati Leluhur (Ghaib), dan Leluhur pada umumnya memang sudah pergi ke lain dunia (bukan di Arcapada/bumi lagi).  Namun kesaktian para Leluhur yang keturunan Batara/i Dewa/i pula yang membuat para Leluhur dapat hadir kembali ke Arcapada. Pada arti ini, Leluhur tidak mengenal dimensi ruang dan waktu. Leluhur Nuswantara dapat berada dimana pun, atau 0 time, zero time. Waktu di titik nol.

Pelabelan terhadap warga Nuswantara dimasalalu sebagai penganut dinamisme/animisme sebenarnya tak jauh berbeda dengan apa yang dipraktikan sekarang dimasa Pemilu atau Pilkada. Dimana para kontestan atau kandidat mencari bantuan pertolongan untuk memperoleh kemenangan dengan pergi ke Dukun atau meminta kepada yang Ghaib.

Pelebalan atau penyebutan terhadap sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara rasional sains oleh para peneliti Barat antara lain membuat fenomena atas kisah-kisah kesaktian yang dianggap sebagai suatu yang tidak mungking dengan mitos, atau fiksi. atau mistis. Yang mungkin dianggap sebagai magic atau mukjijat. Kata-kata yang terakhir dapat dianggap dan sah terjadi “mukjijat” sebagai campur tangan atau karena Tuhan.

The labeling of mores, tradition of Nuswantaran people usually because the social scientist mostly from Western cannot understand the unseen phenomena.@Umi Lasminah