kongres 

8 MARET HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL: SOLIDARITAS LINTAS BANGSA BAGI KEMAJUAN PEREMPUAN[1]

Umi Lasminah

Tanggal 8 Maret,  Perserikatan Bangsa Bangsa menetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional.  Penetapan oleh PBB terjadi pada tahun 1978, tiga tahun sebelumnya PBB menetapkan tahun 1975 sebagai Women’s Year dan bulan Maret didedikasikan sebagai Bulan Perempuan dimana secara resmi dimasukkan dalam daftar yang dianjurkan untuk diliburkan oleh PBB. Sekjen PBB mengeluarkan pesan tahunannya dan menganjurkan negara anggota untuk memperingatinya. Di Amerika Serikat Kongres dan Senat tahun 1997 mengeluarkan resolusi bulan Maret sebagai Bulan Sejarah Perempuan.  Seiring dengan meningkatnya pengajaran sejarah perempuan dalam kurikulum di berbagai sekolah di Amerika dan Eropa. Ditentukannya tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional (Women ‘s Internasional Day/WID) merupakan sejarah panjang gerakan perempuan, khususnya gerakan perempuan pekerja (buruh perempuan). Ditilik dari keberlangsungan perjuangan perempuan, Tanggal 8 Maret menjadi penting karena merupakan suatu titik tolak, titik beranjak perempuan mengorganisasi diri dan memperjuangkan hak-haknya. Delapan Maret adalah hari perempuan bangkit dan berkesadaran sertamembangun organisasi untuk terus bergerak. Meskipun faktanya peringatan hari perempuan 8 Maret berawal di negara di Amerika Serikat atau Rusia, solidaritas perempuan  sebagai ‘second sex’, ‘berpengalaman sama terlecehkan, terdiskriminasi’ menjadikan  WID menjadi milik perempuan di seluruh dunia, waktu mengingat perjuangan di masa lalu dan melanjutkannya di masa depan.

 Sejarah Hari Perempuan Internasional

Sejarah kehidupan sosial masyarakat dunia, khususnya perempuan tak terlepas dari kondisi pembagian peran, terutama peran stereotipe perempuan dan laki-laki. Pembagian peran inilah yang pada suatu masa mengalami guncangan, yaitu pada saat dimulainya industrialisasi dan perang.

Industrialisasi memapankan peran perempuan untuk tetap menjadi pekerja ‘domestik /non produktif’ tanpa dibayar, sementara laki-laki menjadi pemilik, manajer, atau buruh (tenaga kerja produktif). Pada perkembangannya pada awal abad 19, perempuan juga turut bekerja dan diantaranya pada industri garmen menjadi buruh. Umumnya mereka juga perempuan yang berasal dari keluarga buruh (ayahnya atau saudaranya). Kemudian perang pun turut menentukan peran penting baru perempuan, ‘tidak lagi domestik’. Perempuan mulai bekerja di luar rumah secara masif dan dalam proses produksi, khususnya memproduksi kebutuhan perang, yaitu memproduksi pakaian seragam tentara, senjata dan bahkan turut dalam peran tenaga medis ‘palang merah’.

Ketika beban domestik tidak berkurang dan di saat bersamaan perempuan bekerja di public, maka para perempuan, khususnya kalangan buruh perempuan memperjuangkan hak-hak mereka dengan mengorganisasi diri. Mereka umumnya bergabung dalam partai sosialis. Partai sosialis berkembang di Amerika Serikat dan Inggris. Perempuan yang terlibat dalam partai sosialis ini bersuara kencang tentang hak-hak perempuan yang diabaikan oleh rekan mereka sesame buruh (laki-laki). Mereka gencar menyuarakan tuntutan lingkungan kerja yang lebih baik, upah yang layak dan jam kerja yang dipersingkat.

Akhir abad ke 19 inilah yang kemudian menjadi momentum perempuan mengkonsolidasi diri sebagai pekerja dan memperjuangkan haknya. Pada tahun 8 Maret 1857, buruh perempuan pabrik garmen di New York melakukan aksi protes tentng kondisi tempat kerja yang tidak manusiawi dan upah yang rendah. Pada tanggal 8 Maret 1908, tidak kurang dari limabelas ribu buruh perempuan di kota yang sama menuntut jam kerja yang lebih pendek dan menuntut hak suara. Partai Sosialis Amerika juga mencanangkan hari terakhir bulan Februari sebagai hari perempuan.

Berita mengenai tuntutan buruh perempuan Amerika mengenai upah, kondisi kerja dan pengurangan jam kerja terdengar oleh perempuan aktivis sosialis di berbagai negara termasuk oleh Clara Zetkin. Clara Zetkin kemudian mengusulkan dicanangkanya hari perempuan dalam forum internasional oleh Clara Zetkin pada tahun 1910. Ia mengusulkan agar ditetapkannya WID pada Konferensi Kaum Sosialis Internasional di Swis. Usulan tersebut disepakati oleh para delegasi yang mewakili 17 negara dan dihadiri lebih dari 100 peserta perempuan. Tahun-tahun berikutnya hingga tahun 1917 peringatan WID laksanakan akhir bulan Februari hingga awal Maret. Menjelang terjadinya perang dunia pertamalah kemudian menjadi momentum perempuan internasional secara serempak memperingati Hari perempuan pada tanggal 8 Maret untuk menentang perang dan mengedepankan perdamaian. Kejadiannya yaitu ketika pada tahun 1913 perempuan Rusia turun ke jalan menolak perang, dan yang terbesar pada 8 Maret 1917 melakukan aksi mogok menuntut dihentikannya perang dalam demonstrasi yang dikenal sebagai demo ‘roti dan perdamaian’. Sejak tahun 1917 Rusia termasuk salah satu negara yang menandai WID dalam kalender resmi negara, meskipun baru pada tahun 1965 disahkan sebagai hari libur perempuan. Negara-negara lain yang menjadikan WID 8 Maret dan menjadikannya hari libur adalah: China, Vietnam, Cuba, Italia, Albania, Armedia, Mongolia, Serbia, Ukrainia, sementara Amerika Serikat untuk negara menetapkan hari perempuan nasional pada hari Minggu terakhir bulan Februari meskipun bukan dalam kalender libur resmi negara, sedangkan tanggal 8 Maret tidak diperingati secara resmi oleh institusi negara.

Tanggal 8 Maret sering dijadikan momentum perjuangan mewujudkan tuntutan perempuan, termasuk memperjuangkan hak suara. Delapan Maret ditandai dengan perjuangan perempuan dari kelas tertentu, perkembangan menunjukkan bahwa perempuan banyak yang belum tersadarkan sehingga akhirnya tertarik untuk mengorganisasi diri dan mengapai kesadaran politik. Termasuk di antaranya memperjuangkan hak memilih (hak ikut serta dalam pemilihan—right to vote), termasuk di Inggris dan Amerika Serikat.

Perserikatan Bangsa-bangsa yang berdiri sejak tahun 1945 mulai mengakui WID sejak didirikannya Komisi Perempuan PBB tahun 1946 dan Division The Advance Status of Women (DAW) yang antara lain memantau perkembangan kemajuan perempuan di negara anggota PBB.

 Makna Hari Perempuan Internasional bagi Perempuan Indonesia

Hari Perempuan Internasional secara mainstream belum merupakan hari penting dalam kalender resmi Negara Indonesia, tidak tercatat sebagai hari peringataan dalam kalender baik sebagai hari libur maupun sebagai hari nasional  untuk diperingati. Hanya pada jaman Soekarno organisasi-organisasi perempuan Indonesia turut memperingati WID, di antaranya PERWARI persatuan wanita republik Indonesia yang sempat menjadi WIDF (Women International Democratic Federation) mengadakan kegiatan terkait hari perempuan, organisasi perempuan lain seperti GERWANI juga memperingati WID.

Sejak PBB mengadakan Konferensi Perempuan Sedunia Pertama tahun 1975, WID menjadi bagian tak terpisahkan dalam jaringan perjuangan perempuan sedunia, hingga tahun 1978 ditetapkan secara resmi dalam kalender PBB sebagai hari yang  Hingga kini, banyak negara WID merupakan momentum kilas balik review pencapaian dan pencapaian perempuan dari masa ke masa. Akan tetapi pada masa orde baru, peringatan WID dilarang dianggap bermuatan komunis, namun organisasi perempuan yang ada dan dibentuk secara swadaya pada tahun 1980an mulai mengadakan kegiatan dan semakin menjadi kegiatan yang lebih terbuka dan dikenal publik sejak tahun 1990an. Aktivis perempuan di Yogyakarta mengenal hari perempuan internasional melalui kelompok Diskusi Perempuan Internasional pada tahun 1990 dan kemudian pada tahun 1991 memperingatinya dengan mengorganisir mimbar bebas  di kampus UGM dengan membawa isu penggusuran terhadap ibu-ibu pedagang kecil dan buruh gendong di Pasar Beringharjo, selain isu-isu penggusuran terhadap petani dan penindasan buruh Inilah pertama kalinya, dalam situasi represif Orde Baru, hari Perempuan Internasional diperingati dengan cara berdemo dilakukan oleh aktivis perempuan di Yogyakarta yang juga aktivis gerakan mahasiswa dan membentuk Forum Diskusi Perempuan Yogyakarta (FDPY) yang sekarang ini menjadi organisasi perempuan dengan nama RUMPUN (Rumpun Tjoet Nyak Dien dan Rumpun Gema Perempuan).  Pada tahun 1996 di Yogyakarta aktivis mahasiswi ber-happEning art di Mall di Jalan Malioboro untuk mensosialisasikan perjuangan perempuan melawan kekerasan dan melawan kapitalisme yang direpresentasikan lewat Mall. Pada 8 Maret 1998, WID di Jakarta salah satu puncak persatuan beberapa organisasi perempuan, yang diperingati bersama antara lain oleh Solidaritas Perempuan, Jurnal Perempuan, Suara Ibu Peduli, Kalyanamitra dan lain-lain dengan menggelar Doa Bersama Antar Iman dan penggalangan dana sumbangan bagi TKW. Peringatan tersebut bertepatan dengan beberapa hari sidang penangkapan aktivis SIP yang berdemo di bundaran Hotel Indonesia. Tahun tahun selanjutnya peringatan WID lebih semarak dan lebih beragam dengan melibatkan banyak pihak di luar organisasi perempuan. Tahun 1999 SERUNI (Seruan Perempuan Indonesia) memperingatinya dengan aksi Perempuan Menentang Korupsi di Senayan Plaza yang antara lain diikuti beberapa perempuan aktivis dan non aktivis yang tuntutannya antara lain menekankan korupsi sebagai suatu pola, prilaku dan sistem yang korup yang menyuburkan kekerasan dan perampasan hak orang lain.  Pada pernyataanya Seurni menyerukan agar perempuan memperkuat solidaritas untuk menghindari perpecahan antar suku, agama, ras dan kelas serta menjalin solidaritas dengan gerakan perempuan lain di seluruh dunia. Pada Tahun 2000, WID digunakan untuk menuntut dibebaskannya Kartini yang akan dihukum mati di Uni Emirat Arab, Solidaritas Perempuan menggalang aksi di depan kedutaan Uni Emirat Arab. Sedangkan ditahun yang sama di Palembang (OWA, DAMAR, WCC, LBH APIK Palembang),  dan Yogyakarta  (IAIN, Yayasan Rumpun Tjut Nyak Dien) WID dilakukan organsasi perempuan dengan rangkaian acara antara lain,seminar, lokakarya, talkshow radio dan penyebaran leaflet serta konferensi pers. Tahun 2001, di Bandar Lampung berbagai organisasi melakukan kegiatan karnaval, membagikan leaflet dan pertunjukkan teater yang pada intinya mengkampanyekan kesetaraan perempuan, refleksi dan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan. Aksi WID di Lampung antara lain diikuti oleh Lembaga Advokasi Perempuan Anti Kekerasan Damar, LadA Damar, PKBI, Skala PKBI, Walhi, KoAK, Pussbik, Mitra Bentala, Mainaka, Gaya Nusantara, JMP, Muslimat NU, WKRI, Audax, YPBHI, Pelajar SLTA, Pekerja Seni, Mahasiswa, Wartawan, Elsapa.  Pemerintah Indonesia yang diwakili Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, tanggal 8 Maret 2002 juga memperingati WID dengan Konferensi Pers mengenai sejarah WID dan pernyataan bersama antara organisasi perempuan dan Pemerintah. Komnas Perempuan juga memperingati WID antara lain pada tahun, 2004 mengkampanyekan segera disahkannya UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, sementara itu LBH Jakarta, Koalisi Perempuan Indonesia, Kalyanmitra dkk WID diperingati dengan musik di Taman Ismail Marzuki di Jakarta, yaitu Celebration Women’s Day with Music, dengan menampilkan perjuangan perempuan, perlawanan perempuan dan pengalaman perempuan melalui lirik lagu, dan puisi yang dibawakan oleh aktivis perempuan. Pada Maret 2003, peringatan WID dilaksanakan berbagai organisasi perempuan seperti LBH APIK dan organisasi lainnya untuk menolak Perang, yaitu menolak serbuan Amerika Serikat di Irak . Tahun 2005 WID diperingati KOMNAS Perempuan dengan  kegiatan pameran lukisan untuk ‘pundi perempuan’ penggalangan dana bagi perempuan korban kekerasan. Di Makassar, Koalisi aktivis perempuan Sulsel Forum Pemerhati Masalah Perempuan pada tahun 2005 mengadakan pemutaran film sekaligus film Munis, aktivis HAM yang dibunuh. Pada tahun 2007 melakukan kegiatan unjuk rasa tentang kedaulatan pangan.. Setiap tahun biasanya peringatan ini diisi dengan  diskusi refleksi kelompok perempuan aktivis lsm dan perempuan akar padi. Di berbagai wilayah lain di dunia, WID diperingati dengan berbagai kegiatan aksi, happening art, pentas teater, petisi maupun refleksi gerakan perempuan.

Delapan Maret, Hari Perempuan berbeda dengan tanggal Hari Perempuan ( Women’s Day akhir Februari) dan Hari Ayah di Amerika, atau Hari Valentine yang diperingati secara internasional, karena Hari Perempuan Internasional bermula dan hadir dari kesadaran atas kenyataan ketidakadilan antara perempuan dan laki-laki, dan ingin mengubahnya bersama-sama, kolektikkolektif , terorganisir?beroganisasi. Sampai keadilan antara perempuan danl aki-laki terwujud WID akan tetap menjadi hari yang akan selalu diperingati dan dijadikan titik beranjak bagi kemajuan perempuan sedunia, di mana pun. Hari yang sesungguhnya tak jauh berbeda dengan hari Hari Ibu 22 Desember ataupun  pun Hari Kartini bagi perempuan untuk selalu menjadi peringatan tentang kesadaran mengenai pencapaian dan hak-hak yang belum terpenuhi.  Di Makassar, tanggal 8 Maret kali ini akan diperingati sebagai hari pencapaian upaya perempuan memperjuangkan hak-haknya dan mengingatkan pemerintah dan semua pihak untuk bertanggung jawab terhadap pemenuhan hak-hak dasar perempuan dan perbaikan pelayanan publik bagi masyarakat miskin.  Kali ini temanya adalah Upaya Perempuan dalam Pengentasan Kemiskinan dan Tata Pemerintahan yang Baik: Perbaiki Pelayanan Publik dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Perempuan”

Apapun kegiatan pada Delapan Maret, perjuangan organisasi perempuan masih panjang untuk mengikis tindakan diskriminasi, kekerasan, standar ganda double standard, beban ganda terhadap perempuan, dan menggantikanya dengan budaya berkesadaran sama, berprilaku setara, dan saling menghargai antar sesama (laki-laki dan perempuan).

 


[1]Umi Lasminah, ditulis untuk memperingati Hari Perempuan Internasional 2008. (https://wartafeminis.wordpress.com, http://umipuisipoet.wordpress.com)

Advertisements