Latar Belakang

Seorang filsuf sejati menuliskan pandangannya, mengajarkan, mempraktekkan tentang kebijakan dan hakikat kebenaran sebuah makna integritas. Bagaimana mengetahui integritas seseorang dapat dilakukan dengan mengkaji dan meneliti tentang keterlibatannya langsung dalam politik pemerintahan dan kekuasaan. Andil langsung tersebut mengindikasikan ajaran filosofi seorang filsuf mewarnai cara pelaksanaan kehidupan bernegara. Andil dan pengaruh filsuf tersebut terjadi pada jaman Hellenisme ketika ajaran stoicisme Yunani mendominasi, yang pengaruhnya ke Romawi dimasa kekaisaran Nero dan pendahulunya (Abad ke 30-68 M).

Para filsuf yang terlibat dalam politik kekuasaan diantaranya adalah Lucius Annaes Seneca atau Seneca. Ia bersama Burrus menjadi penasehat utama Kaisar Nero, Kaisar Romawi. Posisi Seneca, kekayaannya, kemampuan orasi, deklamasi dan menulis naskah menimbulkan banyak persepsi tentang keaslian karakter dan integritasnya. Adakah pertentangan antara tulisan, pernyataan dan karya filosofisnya dengan kehidupannya dalam lingkaran Kekuasaan. Sikap dan perilaku Seneca saat berada dalam situasi sosial, politik masa itu yang penuh konflik dan keglamoran duniawi menjadi pelajaran berharga tentang integritas filsuf dan konsistensi filosofis.

Lucius Annaes Seneca

Seneca terlahir dari keluarga kaya, didorong oleh ayahnya untuk menjadi politisi dengan belajar di Yunani. Pelajaran tentang filsafat pertamakali didapat Seneca melalui kaum Stoic di Athen. Seneca hidup ditengah ajaran stoicisme dominan sehingga berkarakter cenderung Stoic. Ajaran stoicisme menempatkan seorang filsuf dapat menjadi pemikir, pencari makna dan hakikat hidup, sekaligus berada di dalam arena nyata dunia, dengan berusaha tak larut atau terlibat/apathy sambil terus mencari ketenangan diri. Seneca menulis karyanya dalam bahasa Latin, yang memberi ruang bagi pandangan personal, menggunakan kata-kata kerja dengan kesatuan rasional dan moral seperti “willing” “wanting dan “wishing”. Karyanya antara lain Moral Letters, Dialogi dan naskah drama  Thyestes. Melalui karya-karyanya inilah sejarahwan modern dan filsuf sesudahnya memahami Seneca

Kepopuleran, kemampuan Seneca berdeklamasi, berorasi dan harta benda yang didapat dari  posisinya membuat iri lawan politik. Sejarahwan Romawi, yang sejaman, lawan politik, Tacitus (56-120M) menganggap Seneca bertindak kontradiksi dengan tulisan dan karyanya. Sedangkan sejarahwan modern menganggap Seneca sebagai  pemikir Pagan dengan nurani mulia yang menjadikan Romawi besar. Melalui tulisan ini, yang mengacu dari  “Seneca” karya James  Miller kita dapat menggali konflik dan permasalahan serta kontrakdiksi posisi Seneca sebagai filsuf sekaligus penasehat Para Kaisar.

Ambiguitas Menjaga Integritas Seorang Filsuf

Seneca adalah penasehat tiga kaisar Romawi, Caligula, Claudius dan Nero. Ketiganya adalah kaisar yang dalam sejarah modern liberal menanggap mereka sebagai penguasa yang sewenang-wenang, tiran. Bagaimana seorang filsuf dapat menjadi kaki tangan dan mengabadi pada penguasa tiran? Tidak banyak literatur tentang prilaku dan kisah kehidupan Seneca. Gambaran kehidupannya yang kaya raya, mewah diperoleh dari biografi yang justru ditulis oleh lawan politiknya Tacitus dalam Annals.

 Situasi dan kondis Seneca ditengah berbagai kejadian merupakan tantangan filsuf. Ia harus bearada diantara konfilk, skandal dan intrik serta ancaman kematian. Seneca pernah diusir ke Corsica oleh Kaisar Claudius dengan tuduhan melanggar perilaku tak bermoral dengan saudara perempuan Caligula, Julia.  Kasus tersebut membuktikan betapa sulitnya menjaga  integritas seorang filsuf. Tak ada informasi tentang pembuktian dan kebenaran tuduhan itu, namun Seneca pergi ke Corsica. Seneca juga harus menentukan pilihan, mengambil keputusan dan berhadapan dengan penguasa yang juga adalah muridnya sendiri. Kaisar Nero adalah murid, yang mengaplikasikan berbagai ilmu dan pandangannya terkait ketatanegaran, seorang yang dihormati dan memegang kekuasaan hampir tanpa batas dan bertindak apapun demi menjaga kekuasaannya itu.

Ditengah berbagai skandal dan pembunuhan Seneca tetap berupaya tetap dapat mempraktekkan stoicism sehingga  cenderung terlihat apatis. kontradiksi dan penuh pergolakan namun tetap berupaya mencapai ketenangan. Berbagai kisah sejarah tentang Seneca dalam Annals karya Tacitus berkontradiksi dengan pernyataan dan pandangan Seneca dalam Moral Letters dan Dialogi.  Kontradiksi ini sulit diterima karena Tacitus adalah lawan politik Seneca. Sulit untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan konkrit Seneca, namun fakta bahwa Seneca memiliki keberanian mementaskan naskah karyanya dalam pertunjukkan teater bertema politik yang memuat cerita kontroversi intrik politik dan subversi, yang antara lain dalam dialognya “power follow misery and misery power, and waves of disaster batter the kingdom”[1]

Apa yang dianggap kontradiksi tentang Seneca belumlah memiliki pembuktian yang valid, terutama tentang harta kekayaan. Seneca dikenal sebagai filsuf yang ahli kontemplasi namun Seneca juga pengumpul harta benda. Namun hal ini bukanlah kontradiksi, melainkan inkonsistensi, apabila dikaji dari pernyataan Seneca dalam Moral Letters, bahwa seorang filsuf yang bijak adalah filsuf yang memiliki kebebasan menentukan apakah ia harus memiiki kekayaan atau tidak, semua harus sesuai keinginannya.[2] Sementara didalam Dialogi Seneca menunjukkan dettachment-nya terhadap harta benda, “Never have I trusted Fortune, even when she seemed to be offering peace;the blessings she most fondly bestowed upon me—money, office and influence—I stored all of them in a place from which she could take them back without disturbing me. Between them and me, I have kept wide space.[3]

Isu terkait harta benda dan kekayaan menjadi penting bagi Seneca karena ia diperbandingkan dengan Socrates yang miskin.  Terlebih kekayaannya merupakan dampak dari hubungan dan fungsi sebagai penasehat. Seneca sebagai penasehat yang dibayar Raja sehingga memungkinkannya mendapat kemudahan memperoleh harta benda. Seneca  harus mendukung kebijakan, melindungi raja yang kadangkala bertentangan dengan hakikat filosofi. Kontradiksi Seneca sejak awal dikaji dengan mempertentangkan satu pernyataan Seneca dengan yang lain, dan kesimpulan tersurat bahwa menjadi filsuf selayaknya tidak memiliki kekayaan berlebih.

 Ujian Konsitensi

Seneca bagaimanapun adalah filsuf stoic dengan pandangan bahwa  hidup yang baik adalah untuk memperoleh ketenangan, kedamaian pikiran, bahagia dan mencapai keutamaan. Berbagai kebijakan Raja adalah andil Seneca mampu memberikan kebaikan, paling tidak pada kebesaran Kekaisaran Romawi dan Kaisar Nero. Di sini pandangan filsuf mendapat ruang perwujudan yang lebih luas dalam kebijakan Negara daripada sekedar kebaikan individu. Pilihan Seneca mengabdi pada Kaisar Nero dan kaisar sebelumnya merupakan upaya kontemplasi kosmologi dalam arti menggunakan kemampuan filosofisnya untuk diaplikasikan bagi masyarakat dan kehidupan yang lebih luas.

Pilihan mengabdi pada kekuasaan bukanlah tanpa resiko. Seneca masuk didalam pusaran konflik dalam lingkar kekuasaan. Seneca berada di antara keluarga penguasa politik Romawi (Abad ke 30-65M) Claudius sang Kaisar Romawi, Messalina istri kaisar yang ternyata bigami dengan penguasa lain Gaius, Agripinna istri baru Claudius yang berambisi agar anaknya Britannicus dari suami sebelumnya menjadi Raja dan Nero keponakan Claudius yang diangkat menjadi putra mahkota.

Saat itulah Seneca berusaha memberi contoh dengan action, sebagaimana yang dinyatakan dalam Moral Letters, philosophy is both contemplative and active. Sayang tidak banyak yang digali dari kegiatan riil Seneca selain bahwa ia berada di antara berbagai konflik dan intrik politik internal Kekaisaran. Sehingga sulit untuk mengkontraskan bahwa seorang filsuf yang sesungguhnya dapat memberikan teladan.

Keahlian filosofi Seneca diuji apakah ia mampu memberi penerangan atas kebijaksaan nasehat yang diperlukan  penguasa dalam situasi yang penuh aktivitas negative dilingkaran kekuasaan.  Beberapa momen menunjukkan ketidak mampuan Seneca menanggulangi konflik internal dan eksternalnya, diantaranya saat terjadi pembunuhan atas Claudius oleh Agripinna, dan ketika Nero membunuh Britannicus karena terlacak adanya upaya Agripinna untuk memposisikan Britannicus sebagai Raja. Di dalam peristiwa tersebut Seneca menampilkan stoicnya, apatis. Dilain situasi ia aktif dan terlibat mencegah terjadinya tindakan tercela dari Agrippina terhadap Nero. Pencegahan yang  dikemudian hari membuat Agrippina dibunuh Nero. Pada sisi ini ajaran stoicisme menunjukkan kesesuaiannya. Filsuf menjadi alat legitimasi, dan diperalat untuk fungsi penegakkan kekuasaan, namun bisa juga dilihat sebagai bentuk kesetiaan seorang bawahan terhadap atasan yang memperkerjakannya, seperti yang dikatakannya dalam Moral Letters “It is a mistake to believe that those who have loyally dedicated themselves to philosophy are stubborn and rebellious and defiant toward magistrates or king..” [4]

Konflik Bathin dan  Menghalau Keraguan

 Bertahun-tahun menjadi penasehat utama Kekaisaran Romawi  konflik bathin Seneca tidaklah muncul dikarenakan konflik dan intrik, bagi Seneca, pembunuhan dan perebutan kekuasaan adalah ciri Kekaisaran Romawi. Bahkan Seneca menuliskan bahwa seorang raja sebagai wakil para dewa dengan kekuasaan absolut sehingga langkah  apapun sah demi menjaga kewibawaan dan keteraturan Negara. Konflik batin justru saat mana Seneca mengedepankan moralitas terkait situasi yang dialaminya secara personal, Ia mulai merasa jijik dengan apa yang dilakukan Nero mencuri ornamen kuil untuk menghias istananya. Sehingga mengucapkan “Im ashamed of HumanKind” [5]
Seneca memiliki keinginan dan kebebasan bertindak namun tidak terpenuni karena ia harus tunduk pada Raja yang dihormatinya, yang kemudian menghina dan melawan semua filsuf. Seneca ingin mengundurkan diri untuk sepenuhnya  menjadi stoic menjauh dari publik. Namun Kaisar Nero menolaknya. Seneca secara jujur menyebutkan bahwa dia telah berada dalam kenyamanan yang berlebihan bahkan kekayaan duniawi yang tidak pantas bagi seorang filsuf.  Ia juga merasa tidak nyaman untuk dipersamakan dengan Socrates, karena ia sadar bahwa kehidupannya masih dalam kerangka penuh inkonsistensi.

 Misteri Untuk Terus Diungkap

 Membaca dan meneliti kisah hidup Seneca tidak cukup diperoleh dengan memperbandingkan karya yang ditulisnya dengan apa yang dialami dalam hidupnya, misteri hidupnya layak terus dipelajari. Terlebih lagi bila informasi tentang kehidupannya memakai data Tacitus, saingan politik Seneca. Ada filsafat moral yang melingkupi dan mempengaruhi seorang untuk mengambil langkah tertentu. Permasalahan bagaimana kondisi dan hirarki yang terjadi antara filsuf dan Raja tak terlalu dibahas. Padahal upaya para filsuf saat bekerja untuk kekuasaan merupakan keyakinan untuk mewujudkan kebijaksanaan yang lebih luas melalui Penguasa, akan tetapi para Raja akhirnya menjadi tak tertarik pada filsafat. Kaisar Nero pun memusuhi para filsuf.

Masyarakat modern, meneliti dan mengkaji kehidupan Seneca dengan memakai perspektif Hak Asasi Manusia abad ke 20, maka akan Seneca kehilangan integritasnya sebagai filsuf, karena mengabdi pada pelanggar HAM. Namun dalam konteks kesejarahan kita tidak bisa menggunakan perspektif kekinian untuk menghakimi sikap dan tindakan seseorang didalam kondisi social, politik, dan budaya yang jauh berbeda, terlebih Seneca tegas memilih jalan hidupnya di filsafat hingga akhir hayatnya.

Rangkuman

 Seneca adalah filsuf dengan integritas seorang stoic. Hidup berada di antara keramaian perang, konflik namun tetap tak bergeming, berkarya dan menemukan ketenangan diri. Kehidupan personalnya  masih menjadi misteri, namun andilnya bagi kejayaan Romawi tak dapat dipungkiri. Integritasnya sebagai filsuf diabadikan disaat kematiannya.

Pada masa hidupnya ia berusaha menjalani sebagaimana yang dituliskannya. Bagi Seneca, kaya miskin tak menghalangi manusia berbuat kebaikan dan kebijakan. Sampai akhir hidupnya ia menjadi filsuf besar dan terkemuka yang menjadi martir. Seneca memilih membebaskan dirinya dan meminum racun dan menjemput kematian bersama istrinya Pompeia Paulina. Kehidupan filosofisnya berakhir sebagai stoic, ketenangan sebagai pilihan. Setelah hingar bingar sebagai filsuf  yang membesarkan Romawi, Seneca memilih jalan kebebasannya sendiri.


[1] Seneca,Thyestes,33-36 (in the translation of Caryl Churchill, London:Nick Hern Books, 1993) dikutip dari James Miller 2011) Examined Live from Socrates to Nietzche ( New Yok, Farrar, Straus and Giroux, 2011), hal.120.

[2] James Miller, Examined Live from Socrates to Nietzche ( New Yok, Farrar, Straus and Giroux, 2011), hal.117.

[3] Seneca, “Dialogi, XII De Consolatione ad Helvia, v,4”, ibid..

[4] Seneca, Moral Letters. Ibid.hal.135

[5] Seneca, Moral Letters. Ibid.

Advertisements