Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

April 2013

Filsafat Manusia: Perspektif Barat

Agresivitas ada di diri manusia, namun manusia mempunyai kemampuan trasendensi namun manusia mengatasi kecendrungan agresif itu

Agresivitas merupakan salah satu bentuk pengejawantahan innerself manusia, yang berakar dari kondisi biologis dan psikis manusia. Agresivitas manusia merupakan ciri hakekat menjadi manusia terkait kelangsungan hidupnya diantara manusia lain. Agresivitas sebagai tindakan asertif yang didorong oleh innerself, umumnya distimulasi oleh kondisi dan lingkungan.Sebagai dorongan untuk menjaga diri, melindungi diri, pertahanan. Agresivitas mempunyai dua sisi, positif dan negative. Agresivitas manusia berbeda dengan hewan. Pada hewan agresivitas adalah suatu reaksi diluar dirinya, yang mengancam dirinya atau kawannya.

Seperti halnya karakter hewan yang stimulasi sikap ditentukan oleh diluar dirinya, pada umumnya manusia mengeluarkan energi agresifnya pada saat merasa tidak aman. Bedanya pada agresivitas manusia, walaupun seringkali merupakan tindakan spontan, tindakan agresif merupakan pengembangan dorongan gerak naluri dari tubuh, akal budi yang memberi arahan lebih jauh metode, atau bentuk ekspresi agresvitas tersebut. Baik manusia maupun hewan, agresi merupakan reaksi yang pada umumnya distimulasi  dari luar dan dari dalam dirinya. Bila pada hewan stimulasinya antara lain saat lapar, kawin dan perlindungan diri. Pada manusia ketidak terbatasan stimulasi membuat manusia memiliki peluang untuk melalukan tindakan agresif lebih banyak disbandingkan hewan.  

Pengelolaan agresivitas  ditunjukkan antara lain sebagai pembelaan diri, penjagaan dapat membentuk suatu pertahanan bagi kelompok. Agresivitas yang baik dari manusia merupakan manifestas pengolahan akal budi, namun pada manusia karena penentu agresivitas berada dalam diri psikis dan akal budinya, maka bisa menghasilkan bentuk ekspresi yang jauh dari kebaikan. Agresivitas negatif yang didukung oleh kekuatan rasionalitas dan sains  dapat membuat  matnusia kehilangan kendali dan menyebabkan tindakan destruktif yang membahayakan manusia lain. Pada titik ini manusia terperangkap dalam kekuatan luar biasayang tidak bisa dikontrol oleh akal dan budinya.

Sejak kecil manusia diajarkan untuk agresif dalam konteks perlindungan diri. Seorang anak diajarkan menjaga dirinya dari gangguan orang lain belajar untuk menjadi agresif. Tindakan membela diri adalah juga contoh agresivitas yang ditunjuunkkan seorang manusia. Kekerasan muncul dalam pembelaan diri. Seorang perempuan yang dilecehkan di dalam bis, akan secara reflektif memukul orang yang melecehkannya, pada situasi ini agresivitas bisa berlaku spontan. Contoh tersebut menunjukkan kekerasan sebagai bentuk agresi manusia. Agresivitas pada manusia berbeda dengan binatang terutama dalam stimulasinya.

Berbeda dengan hewan manusia memiliki akal budi, perasaan, nurani atau suara hati. Akal budi sebagai rasionalitas menentukan dan menjadi sumber kebijakan menanggulangi emosi/perasaan. Dikarenakan emosi lebih bersifat spontan hal ini menyebabkan diperlukannya akal budi untuk memformulasikan emosi kedalam suatu kesadaran yang dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab. Emosi sendiri pada umumnya distimulasi oleh internal kondisi/kondisi pribadi yang bisa terkait dengan dorongan biologis (lapar, seks, istirahat). Seringkali kondisi agresif muncul saat manusia dalam kondisi emosi yang tidak dapat dikendalikan. Pada kondisi lapar maka manusia membutuhkan makanan, dan ketika ia tidak mempunyai makanan atau uang, maka ia akan melakukan tindakan agresi mencuri atau mengambil makanan orang lain. Pada tingkat yang lebih besar, agresivitas bisa juga  dilakukan manusia secara kolektif. Dorongan untuk bertindak agresif secara kolektif antara lain dilakukan oleh Negara yang menginvasi Negara lain.

Kemampuan rasional manusia untuk menciptakan alat-alat, senjata dan sebagainya membuat tingkat agresivitas manusia sangat canggih dan jauh melebihi agresivitas hewan. Apabila pada masa kehidupan sederhana agresivitas lebih diarahkan kepada orang yang mungkin mengganggu atau memang terpaksa dilakukan dalam konteks membela diri. Namun kini, situasi masyarakat dunia yang penuh dengan konsumerisme membuat suatu Negara dimotori oleh  pemimpinnya melakukan agresi ke Negara lain. Amerika Serikat adalah konsumen minyak dunia terbesar, yang membutuhkan minyak bagi warganya. Padahal secara naluri manusia lemah untuk menjadi agresif. Karena stimulasi luar diri untuk membuat manusia agresif dapat dikelola oleh akal budi atau rasio. Namun Rasionalitas manusia yang kuat dan hampir tanpa batas membuat manusia dapat menciptakan peralatan perang dan senjata yang berbahaya jika tidak disertai tanggung jawab. Rasio manusia harusnya dimanfaatkan untuk menjawab mengapa dan untuk apa melakukan tindakan tersebut. Namun rasio manusia pula yang mampu member justifikasi dan pembenaran bagi tindakan tersebut.

Berbeda dengan hewan agresivitas manusia bisa direncanakan, dan bukan melulu spontan seperti saat perlindungan diri dan penjagaan. Agresivitas tingkat tinggi terejawantah dalam bentuk invasi. Invasi bukan lagi tindakan sebagai reaksi, tetapi suatu  yang didorong oleh mekanisme rasional bekerja. Nafsu untuk mendapatkan keuntungan lebih besar dan akumulasi modal juga menjadi manifestasi agresivitas manusia jaman sekarang. Agresivitas yang didorong oleh nafsu dan kerakusan dimasa sekarang mendapat ruang legalitas di dunia melalui sistem pasar bebas dan globalisasi ekonomi. Agresivitas yang termanifestasi dalam system ekonomi pasar bebas telah membuat manusia kehilangan humanitasnya sehingga tindakan tidak etis dianggap wajar dan dilanjutkan lakukan.

Pandangan Paul Satre memandang hubungan antar manusia, pandangannya mencerminkan agresivitas manusia
 
Menurut Satre, setiap manusia exist sebagai dirinya sendiri. Pada saat exist tersebut, manusia menjadi subjek dan objek. Perwujudan manusia exist, atau exisensinya berbeda dengan hewan. Setiap orang bisa menerima atau menolak aturan karena setiap orang memiliki choice/pilihan. Pilihan yang ditentukan oleh kesadarannya consciousness. Namun realitasnya manusia satu menjadi objek yang lain, maka manusia lainnya adalah subjek. Didalam setiap subjek dan objek manusia terdapat Ego. Ego yang mewujud pada: Posisi/kondisi, perilaku dan qualitas. Ego bukanlah suatu kesatuan refleksi kesadaran, namun sebagai suatu yang imanen exist dalam kesadaran. Kadangkala Ego menjadi subjek, kadang menjadi objek di dalam diri orang masing-masing.

Pandangan Satre tersebut menunjukkan bahwa agresi manusia dimungkinkan karena eksistensinya adalah sebagai being for itself yang dinamis keluar untuk menjalani as being. Agresivitas bukanlah tidak bisa dikenali. Agresivitas bisa menjadi buruk manakala tidak terarah atau hanya dalam penguasaan pemenuhan kepuasan Ego. Agresivitas ada pada semua manusia sebagai mekanisme perwujudan eksistensi.

Menurut Satre perang adalah bentuk agresivitas manusia adalah disebabkan hubungan antar manusia tak lebih dari pengobjektifikasian satu sama lain. Agresivitas lahir dari pandangan manusia atas subjek dan objek. Pada setiap situasi itu Ego manusia secara spontan mentrandensi diri sebagai posisi/keberadaan kemenyatuan dari diri sendiri dan tindakan. Ego tidak merefleksikan kesadaran/consciousness. Ego manusia turut menentukan bagaimana agresivitas manusia terimplementasi. Agresivitas manusia yang tidak didasari oleh kesadaran kemanusiaan membuat manusia melakukan tindakan agresif dengan jumlah dan moda yang besar.

Hubungan antar manusia haruslah bersifat co-eksistensi. Saling mengakui eksistensi satu sama lain. Kebebasan yang dimiliki manusia haruslah dalam kerangka bertanggung jawab, karena menghormati kebebasan orang lain. Setiap orang mempunyai hak untuk menerima atau menolak aturan dengan menggunakan landasan kebebasan yang dimilikinya. Namun ia tetap harus kritis terhadap suatu system yang sudah established di tempat dimana ia berada. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa ia eksis tidak hanya sebagai objek penerima. Seorang manusia eksistensialis sadar dengan apa yang diperbuatnya, mengerti sebagai aku yang “Ada” “Eksis” dan memiliki akuntabilitas atas tindakannya. Tiap manusia menentukan mereka akan jadi apa, apa yang diinginkannya, itulah hakikat manusia manusia terbentuk dari eksistensinya.

Eksistensialisme Satre menekankan pentingnya manusia untuk terus menjadi subjek. Manusia tidak bisa dijadikan objek oleh siapapun atas nama apapun. Objektivifikasi manusia terhadap manusia lain dapat menyebabkan manusia kehilangan eksistensinya.

Satre menjunjung tinggi kebebasan manusia, namun bagi Satre kebebasan exist dalam kondisi specific.  Pada kondisi tertentu orang hanya bisa memilih tetapi tidak bisa mempraktekkan kebebasan. Orang-orang terjajah adalah orang yang tidak bisa mempraktekkan kebebasannya. Satre adalah orang yang aktif menolak rasisme, kolonialisme dan semua hal yang menganggu eksistensi manusia dan kemanusiaannya.

Satre menganggap kolonialisme, racisme adalah bentuk expolitasi dan perendahan kemanusiaan. Tindakan kolonialisme adalah agresivitas manusia bersifat kolektif yang dilegalisasi, dan didukung oleh rasionalitas.. Agresivitas yang berbahaya bagi kemanusiaan. Itulah sebabnya Satre bersaksi mendukung rakyat Vietnam melawan agresi Amerika Serikat dan sekutunya dalam International War Crime Tribunal di Stockholm, Swedia 1967. Bahwa Vietnam sebagai Negara tidaklah melakukan agresi, melainkan membela diri. Bahwa serbuan Amerika Serikat ke Vietnam menurut Satre adalah agresi terhadap suatu Negara, sebuah kejahatan terhadap perdamaian.

Satre yang dipengaruhi Marx menentang agresi. Agresi atas manusia lain dalam konteks kerakusan ekonomi penindasan. Satre menanggap dunia kini masih dipenuhi dimana manusia yang satu mengobjekkan manusia yang lain dengan menjadikan manusia lain  budak, diantaranya beroperasi dalam imperialism.  Bagi Satre seorang yang merdeka adalah sungguh-sungguh merdeka dengan segala eksistensinya untuk memanifestasi diri melalui tindakan pilihan, memilih. Seorang yang hidup di dalam Negara merdeka, bisa saja sesungguhnya tidak mereka karena yang ada hanyalah kemerdekaan semu.  Kemerdekaan semu terjadi ketika ada suatu kekuatan dan kekuasaan dari orang atau organisasi di luar dirinya sehingga manusia tidak dapat berbuat kekehendak hatinya. Seorang yang tinggal di Negara dimana ada Negara lain yang mengatur dan memiliki kekuasaan atas Negaranya membuat orang tersebut tidak memiliki kebebasan. Bentuk-bentuk agresivitas Negara kini diperbaharui terus menerus. Negara Barat yang pada masalalu memanifestasikan agresivitasnya dengan menjajah dan mengeksploitasi bangsa di Asia dan Afrika, ketika Negara Asia dan Afrika sudah merdeka bentuk agresinya berubah. Melalui ekonomi, dan budaya yang seolah-oleh sukarela. Padahal itu adalah agresivitas yang dikelola untuk kepentingan tertentu dan diarahkan pada objek tertentu untuk tujuan penguasaan sumber-sumber ekonomi.

Sedangkan secara pribadi individual, manusia adalah Being-in-itself dan being-for-itself keduanya adalah karakter  prinsip yang eksis sebagai ekslusifitas menjadi manusia, entitas yang menyatu. Being in itself yang sempurna, yang factual tetap, pasif,  sedangkan being for itself sebagai kesadaran yang tidak memiliki kepadatan ada atau fakta materil yang terus menerus bergerak dinamis, keinginan mencapai being in it self menjadi Allah.

Being in it self sebagai Ada yang menjadi solid, tak berkesadaran, sedangkan being for itself adalah transenden bahwa dengan kesadarannya (consciousness) manusia mampu melampaui (mentransendensi) diri mengatasi diri sendiri kesadaran tersebut juga being for itself. Sementara benda mati dapat disebut sebagai eksistensi yang menyatu dengan esensi yang being inself sebuah batu adalah batu saja, material eksis dan esensinya.. Karena kesadaranlah pour soi (being for itself) maka dunia en soi being in itself dapat dibuat berjarak,  hal ini karena kekuatan being for itself yang dinamik realitas yang bergerak tanpa batas karena bukan “material” ada.  Setiap manusia memiliki eksistensi dirinya, dan kesadarannya sebagai refleksi diri.

Jadi secara ontologi kebebasan manusia karena kita bukanlah seorang (yang berdiri sendiri) being itself tetapi kita adalah manusia yang menampilkan diri eksistensi diri melalui kesadaran. Kesadaran consciousness manusialah yang mampu mengatasi agresivitas.  
Satre menekankan pentingnya manusia untuk selalu menjadi subject bagi eksistensinya dengan mengedepankan kesadaran untuk selalu memilih dan memanfaatkan kebebasan dasarnya. Namun manusia kesulitan untuk selalu menjadikan dirinya subjek dan membutuhkan orang lain untuk dijadikan objek. Pilihan menjadi objek adalah ketakutan manusia akan kesendiriannya, itulah Bad Faith.  Kondisi dimana ia bukanlah orang bebas tapi object dilingkupi ketakutan akan kesendirian.

Eksistensi Manusia bertubuh, bagaimana penjelasan antropologi

Manusia adalah eksistensi yang ditentukan oleh tubuhnya yang menyatu dengan rohnya. Tubuh menjadi penentu eksistensi manusia karena disanalah roh berada di dunia. Tubuh menjadi penanda ‘ada’ manusia di dunia. Adapun eksistensi tubuh secara antropolig filosofis adalah kemenyatuan tubuh dan jiwa. Eksistensi tubuh yang menyatu dengan jiwa menjadikan manusia mampu eksis, spiritual, dan bertrandensi. Sedangkan sebagai mahluk hidup tubuh manusia mengalami pemaknaan sesuai sejarahnya, mengikuti ruang dan waktu, terbatas dan mengejawantah dalam realitas diri.

Seorang jiwa manusia, akan menjadi manusia dengan tubuhnya. Maka tubuh adalah yang mewujudkan jiwa manusia di dunia. Jiwa yang bersemayam di tubuh membuat manusia eksis di dunia. Sedangkan pada awalnya makna tubuh adalah:
    Sebagai wahana ekspresi
    Sebagai penanda kehadiran pada orang lain
    Sebagai bahasa dalam arti luas
    Sebagai instrument manusia
    Tubuh bersifat terbatas sekaligus yang memungkinkan to able

Manusia dengan tubuh dan jiwa yang menyatu menjadi bagian terpenting dalam perkembangan filsafat modern. Pada filsafat modern penjelasan antropologi manusia kini mengacu pada eksistensi manusia. Manusia adalah pusat dunia, eksistensi manusia telah menjadi arah gerak perjalanan manusia di seluruh dunia. Perkembangan teknologi, kehidupan ekonomi dunia turut membantu mengubah makna tentang manusia.

Tubuh manusia kini menjadi sesuatu yang hampir ‘mati’ karena tubuh menjadi docile body bahwa tubuh kini dalam kondisi yang pasif subjected, used, transformed and improved. Tubuh menjadi subjek yang dibentuk sesuai fungsinya. Di jaman industrialisasi, tubuh manusia adalah subjek bagi seluruh produk industri mulai dari cat kuku, sampo hingga sabun. Namun adalah manusia yang menjadi penentu bagaimana ia memodifikasi tubuhnya agar sesuai dengan kebutuhannya. Pada titik ini tubuh menjadi instrumen manusia.

Pemaknaan atas tubuh terus berkembangan mengikuti perkembangan jaman: dibentuk oleh sejarah, jaman, dan kondisi masyarakat. Dibentuk oleh masyarakat dan kekuasaan seperti yang dinyatakan Michel Foucault dalam History of Sexuality bahwa tubuh sebagai entitas yang direkayasa sepanjang sejarah dan dibentuk oleh kekuasaan. Kekuasaan secara esensi menganggap diri sebagai yang berhak untuk mengelola segala hal termasuk tubuh dan hidup.  Tubuh sendiri sebagai yang pasif tidak memunculkan nilai, namun menjadi bermakna melalui diskursus. Diskursus tentang tubuh yang pada umumnya diciptakan oleh penguasa tidak hanya mengandung pemaknaan tetapi juga tekanan, bahkan mengenai konsep tentang seksualitas.  Sepanjang sejarah hidup manusia tubuh menjadi objek pendisiplinan, diatur dan ditata dengan diskursus kekuasan. Tubuh dibentuk dan didisiplinkan. Selain dipelajari tubuh masuk sebagai alat produksi langsung industrialisasi tenaga kerja/buruh. Pada profesi tertentu ditentukan manusia yang tinggi tubuhnya, berat badannya dst.

Persepsi tentang tubuh terus berkembang dipengaruhi budaya dominan dan  industrialisasi turut menjadi penentu manusia dalam memaknai tubuhnya. Pandangan modern barat yang dominan  dan menguasai wacana dunia dan industrialisasi mendorong orang mengikuti wacana dominan tersebut terutama terkait industry hiburan. Namun dalam konteks Indonesia budaya dominan telah pula masuk menjadi Kekuasaan dan membuat kebijakan tentang tubuh di ranah publik antara lain melalui UU Pornografi. Banyaknya perempuan Indonesia yang mengenakan jilbab adalah tanda adanya diskursus kekuasaan tentang perempuan dan tubuh.

Tubuh tidak stabil, tubuh menjadi entitas yang lentur dan dapat dikontruksi dengan berbagai cara. Di jaman modern kekuasaan politik, pengaruh budaya konsumtif dan nilai ekonomi membuat tubuh hampir terlepas dari keasliannya.  Apabila pada masalalu perihal kemenyatuan tubuh dan jiwa bersifat individual, kini konstruksi kekuasaan dan tekanan masyarakat telah membuat manusia berupaya memodifikasi tubuhnya. Seorang perempuan muda yang ingin menjadi model sedangkan tuntutan dunia hiburan sedang dalam trend perempuan berhidung mancung, maka ia akan mengoperasi hidungnya, atau memutihkan kulitnya. Pada kondisi tersebut tubuh dimaknai sebagai instrumen ekonomi, sebagai alat kerja. Lain halnya dengan olah ragawan binaraga atau tentara yang akan melakukkan kegiatan yang membuat tubuhnya tetap dalam kondisi tertentu dan sesuai profesinya.

Sejarah tentang seksualitas dan tubuh manusia khususnya orang Barat juga digambarkan oleh Foucault terkait dengan perkembangan kehidupan ekonomi, agrikultur sejak abad ke 18 dimana produktivitas dan pengelolaan sumber daya yang terus meningkat perkembangan teknologi telah membuat manusia belajar tentang bagaimana makna hidup sebagai manusia di dunia. Setelah peperangan usai dan kematian manusia disebabkan oleh kondisi tersebut, maka manusia belajar tentang bagaimana kekuasaan tidak hanya sebagai suatu yang legal untuk terkait kematian (perang)  namun juga dapat menjangkau dan menguasai hidup, penguasaan atas hidup berarti penguasaan atas tubuh perempuan dan laki-laki. Sedangkan di dalam Archeology of Knowledge, Michel Foucault  menuliskan bahwa kekuasaan dapat beroperasi menciptakan diskursus tentang tubuh melalui oleh dokter dan institusinya.

Maka tubuh tidak sekedar dimaknai sebagai eksistensi manusia, namun dikonstruksi secara sosial, politik budaya dan ekonomi. Makna tubuh yang menyatu dengan jiwa kini seringkali Sebagai eksistensi keberadaan tubuh membentuk diri manusia, bahwa tubuh membawa penjelasan yang dikontruksi oleh pihak luar. Manusia bertubuh dimaknai secara berbeda tergantung jamannya..

Pada awalnya tubuh memberi identitas dari suatu ras, kemudian berkembang karena konstruksi kebutuhan sosial dan ekonomi,dan budaya. Sifat tubuh yang tidak kekal tidak mengubah kemanusiaan manusia. Apapun bentuk manusia apakah dia cacat, cantik atau jelek itulah eksistensi bertubuh. Namun perkembangan dunia yang dipenuhi nilai materialis telah membuat manusia membuat dirinya sebagai tak terbatas, termasuk memodifikasi tubuh. Penemuan peralatan adalah merupakan kemenyatuan antara tubuh dan jiwa, akal manusia. Tubuh manusia memiliki keterbatasan, namun akal budi dan pikiran manusia terus berupaya mengatasi keterbatasan tubuh tersebut: dengan menciptakan peralatan, dan teknologi tercanggih.  

Tubuh perempuan adalah termasuk yang paling mendapat perhatian untuk dimodivikasi. Tidak hanya dalam konsep yang dihembuskan oleh industry tentang menjadi manusia cantik, perempuan cantik Industri kesehatan, industri hiburan telah menempatkan tubuh perempuan sebagai komoditas. Pada kondisi ini, tubuh adalah objek. Kaum feminis yang pertama kali mengangkat isu tubuh perempuan adalah objek segala system.  Tubuh perempuan dalam industri hiburan memisahkan tubuh dengan jiwa. Pada situasi dunia hiburan, si perempuan adalah tubuh, daging meat. Tubuh tidak hanya dimodified, transformed, subjected and used, traded.  Tubuh perempuan menjadi tempat sewa bagi bayi yang ibunya tidak bisa mengandung. Atau teknologi surrogate mother.

Hingga kini makna tubuh masih diberikan oleh masyarakat dan memiliki makna yang beragam. Selain tubuh menentukan konstruksi identitas, menghadirkan eksistensi, symbol dan tubuh adalah juga objek penelitian. Sebagai identitas perempuan di Afrika berusaha untuk menggemukan badannya karena semakin gemuk semakin menarik dan berarti bahagia. Berbeda dengan perempuan di Amerika Utara yang telah dikuasai oleh wacana kecantikan versi industry dan media berusaha untuk kurus bahkan hingga menyebabkan perempuan terserang penyakit aneroxia dan bulimia.

Pengekangan atas tubuh yang dilakukan oleh Penguasa melalui diskursus tentang tubuh manusia. Tentang persepsi manusia mengenai tubuh. Para feminis menenekankan bahwa tubuh manusia dijadikan alat bagi suatu konstruksi sosial yang membuat perempuan menjadi kelas dua. Tubuh biologis peremuan diteliti dan diwacanana oleh system patriarki yang mengejawantah dalam sitem pemerintahan membuat perempuan menjadi mahluk yang kehilangan kekuasaan, atau dipinggirkan atau kehilangan dan akses atas dirinya sendiri. Berbagai percobaan terkait reproduksi perempuan bahkan dikuasasi dan didominasi oleh wacana patriarchy seperti dalam The Woman in The Body yang ditulis oleh Emily Martin.  Sedangkan Adrianne Rich dalam bukunya On Woman Born Sebagai instrumen menundukkan suatu kaum dalam suatu peperangan, laki-laki memperkosa perempuan-perempuan lawannya. Tubuh perempuan dijadikan medium of message bagi lawan dalam peperangan.

Feminisme adalah ajaran yang mengungkap fakta ideologi patriarchy memperlakukan tubuh biologis dengan konstruksi sosial. Pada konstruksi  biologis menjadi sosial tersebut perempuan diobjektivikasikan sebagai “tubuh” objek ditentukan oleh subjek “laki-laki” mengenai peran-perannya. Konstruksi sosial atas peran tubuh laki-laki dan perempuan akhirnya melahirkan gender. Padahal menurut feminis fisiologi perempuan memungkinkannya melihat dan mempersepsikan dunia secara lain dibandingkan dengan laki-laki. Pengalaman biologis yang sama perempuan dalam berketubuhan adalah menjadi pembentuk  solidaritas antar sesama perempuan. Pada kondisi ini identitas manusia yang perempuan diidentifikasi dengan sesame yang lain. Sedangkan Judith Butler dalam Gender Trouble menganggap gender menjadi dan termanifestasi melalui tubuh. Lebih jauh menurut Butler kontruksi gender tergantung sejarah dan konteks dan gender saling terkait dengan rasial, etnis, kelas, modalitas regional dimana discursusnya turut membentuk identitas. Maka gender tidak bisa dipisahkan dari sosial politik dan budaya.

Pada masa kini tubuh biologis perempuan dan laki-laki tidaklah fixed, sebagai identitas seksual dua jenis kelamin. Tubuh tidak selalu mengidentifikasi jenis kelamin, namun ada yang membungkus tubuh sehingga tubuh dapat berubah secara gender.

Secara budaya tubuh juga diproyeksikan. Pierre Bourdieu mengaggap bahwa tubuh juga menjadi alat proyeksi manusia. Proyek tubuh merupakan bagian dari manusia untuk memodifikasi tubuh. Tubuh berfungsi sebagai instrument objek suatu modal budaya. Budaya sekarang memungkinkan manusia memproyeksikan dirinya dengan memanfaatkan dan menggunakan tubuh. Kehidupan masyarakat modern industry yang memiliki daya tekan pada psikologi manusia membuat manusia memproyeksikan dirinya sebagai manusia yang turut dalam proyek masyarakat tentang manusia. Tubuh dikodifikasi dan dinilai, yang satu dianggap bernilai dibanding yang lain. Kodifikasi tubuh manusia tidak statis, tetapi selalu berkembang dan terus dibuat lagi. Tubuh sebagai pembawa simbolik memberikan status pada pemiliknya. Sebagai modal budaya tubuh seringkali digunakan untuk hiburan melalui pendisiplinan. Pendisiplinan tubuh untuk mempunyai kelenturan badan seperti karet diperlukan bagi mereka yang bekerja sebagai sirkus. Sementara manusia juga memiliki nilai tentang cita rasa mengenai tubuh yang disesuaikan dengan kelas, etnik maupun straa sosialnya. Bagi masyarakat suku di Burma dimana perempuannya memanjangkan lehernya, dan kaki perempuan di China dikecilkan. Pada masyarakat tersebut ketubuhan menjadi bagian identitas suku yang juga mengkaitkan dengan fungsi simbolis bagi perempuan. Di China kuno pandangan kaki mungil perempuan dianggap sebagai bagian kecantikan perempuan dan menunjukkan perempuan memiliki kemampuan melayani seks laki-laki lebih baik.

Kadangkala penilaian atas tubuh ditentukan oleh kelas sosial masyarakat yang memiliki kekuatan dominasi wacana tentang nilai. Suatu masyarakat yang didominasi oleh pandangan yang memuja Barat, orang Barat dianggap lebih maju dan mulia, sehingga membuat perempuan di Indonesia pun mengikuti untuk menjadi lebih putih kulitnya. Konsep kecantikan perempuan ditentukan oleh hegemoni estetika cantik perempuan ditentukan oleh industri media, industri kosmetik.

 Penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan ada berbagai pandangan manusia dengan pemaknaan atas tubuh, yang akhirnya member makna pada manusia. Tubuh sebagai suatu yang melekat dengan jiwa hanya memiliki arti bila berjiwa. Namun jiwa dan tubuh tidak mempunyai kekuatan manakala manusia tidak menggunakan akal pikiran dan akal budinya.
Kemenyatuan pikiran dan akal budi seringkali terlupakan manakala membahas tentang tubuh.

Maka dari bentuk penjelasan tentang tubuh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:
–    Tubuh merupakan material yang diberi makna oleh akal pikiran manusia
–    Tubuh mempunyai pemaknaan dan sifat dinamis tergantung sosial, budaya, regional
–    Tubuh merupakan modal manusia menjalani hidup di dunia
–    Tubuh adalah keseluruhan ke’Ada’ an manusia dalam ekspresinya sebagai mahluk manusia “berbahasa, berekspresi dan keberlangsungan hidup serta spesieS
–    Tubuh merupakan wahana bagi pengalaman inderawi manusia
–    Pengalaman manusia dengan tubuh dan inderawinya menjadikan manusia mengenali rasa
Uraian tentang tubuh memberikan fakta penting bagaimana kemenyatuan akal budi, jiwa dan tubuh termanifestasi dalam segala bahasa yang mencerminkan rasa: akumencium harum, aku mendengarkan music. Itulah refleksi manusia dengan tubuhnya atas apa yang dialaminya. Pengalaman manusia inilah yang memberikan asupan pada kesadaran manusia tentang dirinya, dan eksisteninya, bahwa manusia hidup dengan tubuh, dalam tubuh. Kebertubuhan dalam kesadaran adalah esensi manusia yang berbeda dengan hewan. Kebertubuhan manusia memiliki batasan sekaligus ketidakterbatasan.

Keterbatasan tubuh manusia dilampaui dengan pikiran akal budi manusia yang menciptakan alat-alat. Manusia mungkin tubuhnya terbatas hanya tangan dan kaki, tidak mempunyai sayap, namun keterbatasan tersebut membuat manusia mampu berkarya dan menciptakan pesawat terbang. Daya cipta manusia saat hidup dan melampaui ketubuhanannya merupakan transendensi manusia saat hidup.
Kematian bukan kata akhir bagi manusia

Manusia adalah kesatuan tubuh dan roh, dan Yang Maha Pencipta. Fakta bahwa tubuh adalah tak kekal dan tak abadi membuat orang memaknakan ketidak setaraan antara tubuh dan jiwa. Namun manusia berbeda dengan hewan yang memiliki kesadaran rasio dan akal budi mengetahui bahwa ia akan mati. Pengetahuan akan kematian yang membedakan manusia dengan hewan. Hewan mengetahui ada bahaya manakala ada yang akan membunuhnya atau mengganggunya, tetapi pada umumnya reaksi hewan stimulasi yang bersifat fisik. Manusia memiliki akal budi, nurani dan rasa. Perasaan dan intuisi manusia membuat manusia penuh dalam kesadarannya. Karena kesadarannya tidak hanya bersifat rasio namun juga idealis dan metafisis.

Ilmu pengetahuan manusia tentang tubuhnya fisiknya yang membuat manusia mengerti dan memahami segala bentuk pentingnya hidup, sehingga kematian hanya merupakan fase yang dikenali dan akan terjadi. Pandangan Heidegger tentang hidup yang ada pada waktu membuat ia juga positive bahwa manusia mati pada waktu.

Sebagai roh yang mendapat tempat di dunia melalui badan, kematian adalah titik akhir dari perjalanan trandensi manusia dalam badan tertentu di bumi. Sebagai manusia yang sadar akan mati, perilaku dan karya cipta serta tindakan manusia adalah merupakan transendensi diri dari eksistensinya sebagai manusia menurut Satre. Kesadaran manusia akan kematian sangat khas dan memiliki makna, sama halnya dengan hidup. Karena ada kematianlah maka perspektif tentang hidup diberikan ruang yang baik, dibuatkan rencana selama hidup. Manusia merangkul masa kematian sebagai suatu fakta atas eksistensinya yang berwujud badan. Disinilah otensisitas manusia mengapai kebebasannya.  

Tubuh sebagai eksistensinya yang bersifat sementara  yang melayani eksistensi diri secara keseluruhan melalui implementasi kesadaran. Didalam kesadaran manusia ada pengetahuan tentang kematian. Pengetahuan tentang kematian tersebutlah yang membuat manusia menyiapkan dirinya dalam hidup. Pengisian hidup dengan segala sesuatu dipercaya merupakan langkah menuju kematian. Tubuh adalah sarana manusia menjalani dan melalui transendental diri kepada kematian. Kematian bukanlah titik akhir, karena kesementaraan tubuh tidak sama dengan keutamaan manusia. Keutamaan manusia bukanlah suatu yang identik dengan tubuhnya.  Tubuh hanya wacana jiwa yang menyatu sebagai Ada manusia. Kematian tidak mereduksi manusia dan membuat manusia hilang, Gabriel Marciel menyebut bahwa ada kekelan manusia antara lain didorong oleh cinta kasih melalui aku-anda yang intinya adalah aku anda yang mutlak. Tentunya aku-anda adalah manifestasi tubuh akan diri, melaluinya hubungan antar aku anda mewujud. Perwujudan hubungan sesama manusia adalah juga manifestasi hubungan jiwa dan badan di dalam diri masing-masing dan dengan yang lain.

Sedangkan Karl Rehner menyebutkan badan manusia dimensi esensi dan karena badannya dapat berhubungan dengan makro kosmos, namun adalah jiwa yang memiliki dimensi lebih luas dari sekedar dunia.  Keluasan manusia adalah karena manusia mahluk spiritual yang penuh misteri sama halnya dengan manusia sendiri, ada Tuhan di dalam manusia. Ketika manusia mengalami dirinya sebagai otentik yang luas melalui pengalaman pengalaman maka saat yang sama manusia mengalami “divine” God.

Kematian manusia bukanlah akhir dari eksistensi manusia. Ada dimensi di dalam diri manusia yang mengatasi kematian. Pengakuan keterbatasan sekaligus ketidak terbatasan manusia adalah suatu afirmasi bahwa manusia adalah ‘pemberian’ Tuhan. Eksistensi manusia memiliki landasan dan fundamen metahistoris; motivasi untuk membangun dunia yang lebih baik tidak dapat bertahan jika kelangsungan manusia hanya sebatas sampai mati; cinta kasih mengandung afirmasi kekalan. Manusia selalu meninggalkan jejak kebaikannya yang ilahiah yang dilakukan saat hidup. Pada saat hidup transendensi atas mewujudkan kebersatuan jiwa adalah realitas yang dialami oleh manusia. Hanya manusia yang secara sadar menggunakan dan memanfaatkan dirinya (akal budi, perasaan dan tubuhnya) untuk suatu kebaikan dan kebenaran adalah hakikat dari hidup. Hakikat hidup adalah harapan kematian. @Umi Lasminah

Etika Moral dan Kebebasan

ETIKA MORAL DAN KEBEBASAN

 Pendahuluan 

Di dalam sitematika filsafat salah satu tahapannya adalah etika, yang mempelajari praktek perilaku manusia sebagai fenomena moral dari gejala-gejala. Filsafat etika atau filsafat moral sebagai dasar berbagai etika bidang kehidupan memberi pegangan universal mengenai moral prilaku yang baik, lurus dan tepat.  Etika sebagai ilmu filsafat memiliki alat analisa kritis terhadap peristiwa dan kejadian pengalaman manusia yang menimbulkan benturan dalam diri manusia yaitu hati nurani, pikiran dan perbuatan. Melalui pelajaran etika kita dapat menelaah tindakan prilaku moral dengan analisa dan pikiran yang jernih dan lurus. Kajian etika dasar member uraian tentang kebebasan dan tindakan moral.

Kebebasan Moral

Kebebasan eksistensil adalah kebebasan terberi pada manusia sehingga dapat  menggerakkan dirinya secara fisik dan psikis untuk mencapai apa yang dikehendakinya. J.Paul Satre manusia bebas tak terbatas, sebab ia ditakdirkan bebas. Termasuk ketika manusia dibatasi, tidakan mengatasi pembatasan adalah suatu bentuk kebebasan eksistensial.

Kebebasan eksistensil bersifaf universal. Siapapun manusia di seluruh dunia, apapun latar belakang pendidikannya, apapun rasnya memiliki kebebasan eksistensil, kebebasan membuat keputusan dan bertindak secara sadar. Kebebasan eksistensil tidak dapat dinyatakan sebagai suatu yang kongkrit apabila belum dipraktikkan oleh manusia dalam bentuk action. Ketika sudah dipraktek maka kebebasan eksistensi menjadi tindakan moral. Tindakan moral merupakan exercise paling tepat dari kemampuan pengolahan dorongan suara hati dengan akal pikiran rasional terhadap kondisi dan situasi yang dialami. Pengenalan dan pengertian tentan kebebasan membuat manusia dapat dapat menemukan hakikat dirinya. Apabila terjadi persoalan etika, yang disebabkan perbenturan dengan kebebasan orang lain sebuah analisa pikiran dan suara hati akan melahirkan jawaban dan keputusan untuk berprilaku (action) yang tepat dan benar.

Kebebasan moral dapat menimbulkan masalah dan menjadi beban moral, saat seseorang tidak melaksanakan tanggungjawab dan kewajibannya. Setiap memiliki peran, status, posisi sebagai manusia yang hidup dengan manusia lain, maka ia memiliki tanggung jawab. Seorang ibu dan ayah mempunyai tanggung jawab moral untuk membesarkan, mengasihi dan memelihara anaknya.  Pada titik ini kebebasan eksistensil bukan dibatasi oleh kondisi atau situasi, namun pikiran dan suara hati yang menuntun manusia melaksanakannya kewajibannya. Bisa saja seorang bapak menggabaikan tanggung jawabnya dengan menelantarkan anaknya, sebagai bapak tentu ia akan memiliki beban moral, dan apabila sudah ada hukum yang mengatur hal tersebut bapak ini menghadapi masalah hukum. Seringkali beban moral menyebabkan problem moral yang dalam pada individu sehingga menimbulkan stress dan penyakit, tak jarang problem moral juga berlaku kolektif dan menjadi problem moralitas.

Kebebasan manusia tidak tak terbatas. Namun bisa terbatas atau dibatasi oleh kondisi. Seorang tidak dapat bebas berekspresi disebabkan kondisi tinggal di Negara dengan sistem otoriter, Secara individu  orang tersebut tetap memiliki kebebasan eksistensil, namun untuk mewujudkan keinginan berorganisasi ataupun mengeluarkan pendapat tidak dapat dilaksanakan. Ini tentu berbeda dengan pembatasan perilaku yang dibuat secara bersama-sama untuk kebutuhan dan kebaikan bersama  yaitu melalui peraturan perundangan, peraturan adat dan ajaran agama yang merupakan ekspresi kebebasan sosial.

Kebebasan moral adalah ciri hakikat hidup menjadi manusia, khususnya manusia normal dalam arti manusia tersebut tidak mempunyai hambatan fisik dan psikis  misalnya mental retarded dan atau dalam kondisi stroke. Ciri manusia dengan kebebasan moral merupakan implementasi dari kemampuan manusia mengekspresikan dirinya dalam berbagai tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan secara sadar dan terkait atau tidak terkait dengan manusia lain. Di dalam filsafat tindakan disebut tindakan moral, tindakan yang berimplikasi terhadap manusia lain atau dirinya sendiri.

Tindakan etis/moral manusia merupakan pengejawantahan kebebasan sejati. Kebebasan yang terberi, kebebas moral universal. Kebebasan yang merupakan kemampuan manusia menerima perintah suara hati nurani dan mengejawantahkannya setelah melalui pergulatan dan analisa rasional dan bentukan kondisional. Kebebasan moral selalu harus bernegosiasi dengan kebebasan social. Kebebasan social merupakan suatu ekspresi bersama didalam menjaga dan melindungi kebebasan masing-masing individu.

Seorang manusia dengan  kebebasan moral dapat dengan berani melawan dengan menangkis atau memukul balik ketika dia diancam peras atau ditodong. Seorang ini, sebut saja Bima ditengah jalan diminta memberikan tas yang dibawanya oleh seorang lain dengan ancaman akan dipukul. Lalu Bima menggunakan kemampuan pikirannya dan strategi untuk melindungi diri dengan menendang orang yang menodongnya lalu lari. Itulah aktualisasi kebebasan eksistensil individu,yang  mengekspresikan dirinya tidak “menunggu” polisi datang misalnya, atau orang lain lain menyelamatkannya. Kehendak untuk aman melindungi diri dilakukan dengan melawan. Mungkin usai tindakan itu Bimo akan merasakan sedikit beban moral, misalnya “apakah orang yang ditendangnya terluka” dan sebagainya, beban moral merasa bersalah yang dapat diatasi dengan mengedepankan hak manusia untuk terbebas dari tindakan criminal.

Tindakan orang melawan kejahatan adalah ekspresi kebebasan moral, sedangkan tindakan menerima begitu saja dan menyerah merupakan gambaran hambatan moral karena ketiadaan kebebasan yang menyebabkan ketiadaan kehendak. Ketika ia melakukan perlawanan, ia berkehendak terbebas dari kekerasan, menjaga hak miliknya. Sehingga dia tak hanya ingin menjaga hak miliknya tetapi melaksanakannya sebagai kehendak menjaga hak miliknya.

Ada orang lain yang mungkin ingin melawan, namun hambatan takut, menyebabkan ia tidak melawan dan menyerahkan barang miliknya dengan terpaksa kepada penodong. Keingiannya tidak terlaksana sebagai kehendaknya sebagai tindakan. Maka dengan menendang penodong adalah bukti Bima tersebut telah mengimplemtasikan kebebasan moralnya, menunjukkan bahwa Bimo memiliki kebebasan fisik-psikis.

Kompleksitas Moralitas Persoalan Masa Kini

Manusia mengimplementasikan kebebasan eksistensilnya dalam aksi moral yang dikondisikan fisik dan psikis. Kebebasan moral yang teraktualisasi dalam prilaku individu seringkali atas nama agama tertentu melakukan tindakan immoral: membunuh dan mengusir orang dengan praktek keyakinan berbeda.  Kejadian seperti disebabkan dan karena moralitas masyarakat tidak memegang teguh etika yang bersifat universal. Padahal agama adalah pegangan bagi terlaksananya etika bermasyarakat. Pemangku wewenang berlaku immoral membuat moralitas aparat masyarakat pun rendah. Tindakan manusia menakut-nakuti akhirnya tidak ada tindakan saling menghormati  didalam masyarakat, khususnya terhadap mereka yang bebeda keyakinan, padahal sifat hormat menghormati adalah kebaikan universal dan pijakan moral masyarakat baik secara adat, maupun hokum. .Kondisi seperti ini dapat menimbulkan persoalan moral dimana kebebasan eksistensil sulit diwujudkan karena terhambat oleh tekanan psikis dari orang banyak atau sekelompok pihak. Meskipun moralitas universal menganggap bahwa membunuh adalah prilaku buruk dan tidak baik, kondisi masyarakat yang didominasi keyakinan tertentu menyebabkan moral baik yang universal menjadi tidak berlaku. Pada kondisi tersebut moralitas masyarakat tidak lagi berdasarkan pada sesuatu yang bersifat universal bahkan melawan hakikat kebebasan sosial. Kebebasan sosial sebagai pembatasan yang wajar, agar kebebasan manusia terwujud dengan baik. Manusia tidak dapat mewujudkan kehendakan secara mutlak karena manusia hidup bersama manusia lain.

Kondisi masyarakat dunia dan Indonesia setiap individunya tidaklah memiliki kebebasan mutlak, kebebasan dibatasi secara wajar oleh aturan. Aturan itu sendiri merupakan konsensus bersama untuk menghormati kebebasan satu sama lain yang bersepakat untuk membuat peraturan yang  ditujukan untuk kebaikan bersama.

Moralitas masyarakat kini dipengaruhi oleh kondisi globalisasi ekonomi, social, politik dan budaya yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi manusia dalam menentukan refleksi diri atas kebebasannya. Peraturan yang merupakan bagian dari pengatur kebebasan individu, kini seringkali tidak mampu menjangkau problem moral, dan hukum.

Budaya dalam bentuk gaya hidup mempengaruhi antara lain masyarakat konsumtif dan mengikuti trend. Serangan menderu pada manusia mendatangkan godaan psikis. Implementasi kebebasan antara lain terwujud kehendak dalam tindakan misalnya membeli Blackberry, Ipad,  sepeda, motor atau mobil. Keinginan mewujudkan kehendak ini  seringkali menimbulkan problematik moral bagi kalangan remaja. Media massa televisi dan media digital turut  mempengaruhi moral manusia dalam prakteknya dominan mengedepankan kebebasan individual. Kebebasan individual yang dominan seringkali tidak membutuhkan tanggungjawab, karena tindakan yang dilakukan bersifat pribadi dan tidak berkorelasi atau bertabrakan dengan kebebasan orang lain, misalnya seorang anak yang mendapatkan hadiah mobil dari orang tuanya yang kaya raya senilai 17 milyar. Bagaimana kita mengukur moral dan etikanya?  Tidak ada yang bersifat immoral dari tindakan orang kaya tersebut, namun seharusnya bisa menimbulkan beban moral  mengingat tindakannya orang kaya  tersebut dihadiahkan berlawanan dengan sifat  empati yang  merupakan etika moral manusia.

Semantara itu teknologi informasi dan digital sebagai ruang yang paling memberikan kebebasan manusia dalam mengekspresikan dirinya, artinya hampir tidak terjangkau oleh hukum formil maupun moral agama. Pemanfaatkan perangkat teknologi informsi atau digital oleh telah mempengaruhi moral universal, khususnya mengenai kejujuran. Namun dikarenakan ketidak jujuran berlangsung dan berlaku secara wajar di dunia maya, disebabkan tidak ada beban tanggung jawab dari dunia maya tersebut. Seseorang bisa saja mengaku bernama A di dalam facebook, dan menuliskan jenis kelaminnya Perempuan padahal laki-laki. Bagaimana kita mengukur kebebasan moral pada orang tersebut, tentunya dikembalikan pada kesadaran dan suara hati orang tersebu.

Penutup

Pada saat ini diberbagai belahan dunia, para pihak berwenang mengatur kebebasan manusia (Kepala Negara, Aparatur, organisasinya PBB dll)  justru tidak melakukan tanggungjawab menjaga dan mengatur moralitas malahan melakukan tindakan immoral (perang, invasi, eksploitasi dsb). Contoh tersebut menunjukkan bahwa kebebasan berkehendak manusia bisa bertingkat dan bergradasi, bagi seorang dengan posisi tinggi, misalnya Kepala Negara maka kehendak untuk mengimplementasikan kebebasan  lebih luas, dan seringkali melampaui kebebasan social yang bersifat universal. Walaupun kebebasan  manusia berkehendak sebebas-bebasnya tidak dapat tidak dapat diimplementasikan karena mahluk sosial. Sederhana, setiap manusia kebebasan eksistensil maka manusia yang satu dengan yang lain akan berhadapan untuk menghormati masing-masing kebebasan yang dimilikinya. Implementasi kebebasan itulah yang menjadi ciri dan hakikat manusia yang menjalankan etika dan bermoral.

Dahulu Perempuan Memimpin Nuswantara Jaya

Di masa lalu kepeminpinan tidak pernah menjadi isu gender, khususnya dimasa sebelum 500 tahun yang lalu. Bangsa Nuswantara (kini Indonesia dengan termasuk Philipina, Malaysia, Australia, Thailand, Kamboja).  Nuswantara pernah memiliki Maharatu (Ratu yang memakai nama Maha adalah Raja Perempuan yang kekuasaannya se alam raya/ semesta).

Tulisan ini tak bermaksud hanya sebagai nostalgia belaka, hanya sekedar mengingat saja, tetapi sebagai inspirasi, dan mentransformasikan pengetahuan tentang sejarah dunia, dan nasional yang selama ini salah total. Salah total dalam arti, banyak dari sejarah masalalu yang tidak diajarkan, atau disembunyikan, atau dilencengkan dari keasliannya. Misalnya tentang Maharatu Shimahawan (Ratu Shima) beliau bukanlah ratu biasa yang hanya memerintah kalingga, namun kalingga adalah Nama Ibukota dari kerajaan Medang Kamulyan atau dikenal dengan Lemuria yang kekuasaannya hingga ke Rusia dan Jepang. Buktinya antaralalin di Jepang banyak nama kota berakhiran shima dan di Rusia ada desa bernama Selo Bimo,  perempuan sebagai penguasa yang mengayomi, melindungi dan mensejahterakan rakyat Nuswantara bukanlah hal yang asing. Ada banyak Maharatu Perempuan yang berjaya menguasai Salaka Nagara (Se Alam-Raya) beliau diantaranya adalah Sitawaka (Maharatu yang menjadi Ratu Kerajaan Matswapati di Sumatera karena beliau ketitisan Dewi Sri, maka dikenal sebagai Sri Wijaya).

Disamping itu, di masa yang lebih muda lagi, ada adipati Perang yang menjaga wilayah, mengatasi kejahatan yang mengganggu ketentraman seperti Adipati Mayarukmi, Adipati Dewi Rengganis, Dewi Lanjar, Dewi Kadita dan lain-lain.

Dan yang paling penting adalah pada masa Nuswantara jaya, dahulu tidak ada poligami. Hal ini karena suksma manusia mulia, maka suksma sejati akan mencari paasangan dan menemukan pasangan bagi suksma sejatinya. Mereka yang poligami adalah perkecualian dan sangat sedikit, dan tidak layak ditiru. Adapun raja-raja sesudah Majapahit surut berpoligami itu karena sudah tidak menganut lagi ajaran Leluhur. Pada saat Majapahit masih menjadi pengayom Nuswantara dan luar negeri, negara-negara yang menginduk memuliakan perempuan. Namun hal tersebut berubah manakala terjadi masuknya ajaran yang tidak lagi menjalankan ajaran Leluhur, sehingga perempuan mulai dipoligami, dihina dan ditindas, bahkan dijauhkan dari kemuliaan sebagai manusia keturunan Dewi/Dewa.

 

Revitalisasi Nilai Kearifan Lokal: Mengatasi Pemiskinan Perempuan

numbukpadi“Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung 

(dipresentasikan dalam Konferensi Nasional Perempuan dan Pengetahun, Komisi Nasional Perempuan, Yogyakarta  Desember 2012)

 

  1. 1.        Pendahuluan

Peribahasa tersebut diatas dikenal sebagian besar bangsa Indonesia, umumnya diartikan jika bertamu hendaklah bersikap menyesuaikan diri dengan adat setempat,ikutilah tata krama dimana kita berada. Peribahasa tersebut bisa dimaksudkan untuk mengedepankan potensi diri, ilmu pengetahuan budaya dan adat sendiri serta bersikap mandiri. Secara sederhana Bumi adalah tempat tinggal, tanah air dan Langit adalah Surga, tempat Yang Maha Kuasa bertahta. Penggunaan peribahasa tersebut dalam tulisan ini dimaksudkan selaras dengan makna Revitalisasi Nilai Kearifan Lokal untuk Mengatasi Pemiskinan Perempuan. Menurut penulis nilai kearifan lokal merupakan Langit untuk Dijunjung. Pertanyaannya, nilai kearifan lokal yang seperti apa yang harus dijunjung, dan apakah dapat mengatasi pemiskinan perempuan?

Pokok persoalan pemiskinan perempuan adalah kenyataan menjadi miskin tidak terjadi begitu saja. Kondisi global dan jalan sejarah menentukan kondisi tersebut. Sama halnya dengan kemiskinan  di Indonesia. Pemiskinan perempuan tak lepas dari kondisi kekinian dunia yang menempatkan miskin sebagai realitas tidak terpenuhinya kebutuhan kemanusiaan. Realitas pemiskinan mengkondisikan perempuan tidak hanya dalam posisi miskin hampir permanen, namun kerapkali menjadi sasaran dan ‘tumbal’ saat kemiskinan menyergap masyarakat. Misalnya krisis 1997 perusahaan manufaktur mayoritas buruhnya perempuan keputusan PHK menjadi pilihan pertama perempuan menjadi korbannya, sedangkan anak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi diutamakan pada anak laki-laki. Pada titik ini perempuan menjadi invalid.  “Poverty is seen as an individual inability to consume enough to fulfill basic preference or needs.” [2]

Pada masalalu Indonesia atau Nuswantara (Nusantara) pernah dalam kondisi tidak miskin, termasuk perempuannya. Pernah pada masa Majapahit dan sebelumnya, salah satu Negara Induk di Nusantara menguasai wilayah Asia Tenggara dan mempunyai peraturan lengkap dalam melindungi segenap tumpah darah dan mensejahterakan warganya[3]. Berbagai bentuk peraturan dan tradisi dari Negara besar dimasalalu diwarisi dalam kearifan lokal yang menjadi panduan etika bermasyarakat dan bernegara. Pada masa itu filsafat moral yang mencirikan perbuatan dan sifat dari tindakan telah diatur dan mengacu pada kebaikan semua mahluk mikro dan makro kosmos. Mahluk mikro kosmos adalah individu manusia pribadi, sedangkan makro kosmos sebagai bagian mahluk social dalam kesimultanan tatanan alam semesta raya. Salah satu warisan peradaban gemilang tersebut kini dikenal dengan kearifan lokal yang hingga hingga kini menjadi pengetahuan empirik, dipraktekkan, dan dikembangkan dan serta layak direvitalisasi untuk mengatasi pemiskinan perempuan.

Sebagai warisan masalalu (baca.peradaban), kearifan lokal diartikan sebagai tradisi yang dilaksanakan baik oleh individu maupun kelompok dalam suatu wilayah kecil maupun luas, memiliki muatan nilai penghormatan pada sesama mahluk, alam semesta dan Yang Maha Kuasa yang ditujukan untuk mencapai kesejahteraan dan kesentosaan manusia. Sedangkan tradisi diartikan sebagai suatu nilai yang secara turun temurun dianut dan diejawantahkan baik secara tetap maupun perubahan dan modifikasi untuk keteraturan bersama baik secara sadar maupun naluri kebaikan manusia (keiklasan sepi ing pamrih). Kearifan lokal juga mengacu pada kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat dikenal, dipercayai, diakui sebagai elemen penting yang mampu mepertebal kohesi sosial di antara warga masyarakat.[4] Kearifan lokal juga mencirikan suatu partisipasi masyarakat lintas kelas, lintas golongan, lintas gender, lintas religi. Kearifan Lokal dalam tulisan ini dimaknai sebagai ilmu pengetahuan, teknologi (dalam bahasa Sangkserta rekayasa) dan tata kelola Leluhur yang sudah ditinggalkan maupun yang masih dipraktekkan.

Kearifan lokal memiliki potensi untuk mencegah mengurangi pemiskinan perempuan dan masyarakat pada umumnya. Walaupun dalam berbagai definisi kearifan lokal dianggap hal terbatas dalam komunitas wilayah, kesamaan model dan pola prakteknya membuktikan sebagai budaya adiluhung yang dipraktekkan dan diterima secara nasional. Bahkan bila dirunut, Dasar Negara Pancasila yang oleh Soekarno selaku penggagas menyatakan bahwa Pancasila digali dari nilai-nilai yang sudah ada di bumi Nuswantara, nilai yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Pada Pancasila termaktub seluruh bentuk kearifan lokal yang dibahasakan secara padat dalam sila Pertama kepercayaan pada Yang Maha Kuasa, sila Kedua saling meghormati, solidaritas dan tolong menolong satu sama lain, sila Ketiga bahu membahu gotong royong saling menguatkan, sila Keempat bermusyawarah, mendengarkan dan menimbang segala putusan bersama untuk tujuan bersama dan sila Kelima berlaku adil dalam hidup bermasyarakat agar sejahtera tercapai bersama. Kajian penulis dari berbagai sumber fakta dan data menunjukkan praktek kearifan lokal memegang semangat implementasi nilai Pancasila. Namun disebabkan praktek tersebut tidak mendapat wahana sebagai wacana utama nasional, seakan prakteknya tergusur sebagai tontonan dan pertunjukkan di media massa semata (televisi, radio atau suratkabar) tentang suatu peringatan/commemoration, perayaan. Praktek kearifan local masih belum  menjadi kepemilikan bersama prilaku masayarakat yang dipraktekkan lakukan secara berkesadaran, kerelaan, sebagai suatu yang positif. Disamping itu berbagai serbuan budaya dan nilai dari luar negeri juga menjadi penyebabkan runtuhnya pegangan arif dari nilai lokal. Untuk itulah penulis memaparkan pandangan terkait pentingnya revitalisasi kearifan lokal untuk mensiasati pemiskinan perempuan.

2.        Kearifan Lokal

2.a. Nilai Kearifan Lokal

Nilai kearifan lokal yang orisinil antara lain mengejawantahkan: kesukarelaan, kesetaraan, tanpa pamrih, gotong royong, musyawarah, spiritual, saling menghargai, toleransi dan waspada. Dimasa kini nilai-nilai kearifan lokal tersebut, belum kembali menjadi jati diri bangsa, sehingga perlu direvitalisasi. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah ada dan terberi pada perempuan sebagai jati dirinya maupun konstruksi budaya.

Tulisan menggunakan bahan penelitian dari kisah dan cerita nyata praktek kearifan lokal yang  dipublikasikan kepada khalayak umum (televisi, media massa, buku penelitian, maupun blog dan sosial media lainnya) dan pengalaman sehari-hari sebagai pijakan empirik praktek kearifan loka. Kearifan lokal yang terangkum dalam tulisan ini termasuk juga yang menempatkan perempuan dalam posisi yang berbeda dengan realitas kekininan, yang pada umumnya sudah tidak dipraktekkan atau sudah berganti dengan bentuk nilai permanen pengaruh budaya laki-laki.  Penulis mengembangkan pemahaman bahwa kearifan lokal sejati suku-suku bangsa di Indonesia mengedepankan nilai kesetaraan, dan tidak sama dengan praktek umum adat yang berlangsung kini.

Tanpa bermaksud menyangkal nilai patriarki realitas kehidupan masyarakat kini, penulis menganggap bahwa realitas tersebut adalah tantangan bagi revitalisasi  kearifan lokal. Pemiskinan perempuan dalam tulisan ini adalah ketiadaan akses perempuan pada keseluruhan praktek pemenuhan hidup manusia untuk sejahtera dan sentosa (baca: bahagia).  Ketiadaan akses tersebut antara lain disebabkan dominasi pelaksanaan nilai patriarki yang bertentangan dengan nilai kearifan lokal. Asumsi tersebut lahir dari realitas bahwa meskipun perempuan merupakan agen berbagai aktivitas kearifan lokal, dan agen utama dari transformasi kearifan lokal dari generasi ke generasi, dan perempuan menjadi pelaksana dan agen kerarifan local, tidak menjamin bahwa nilai kerarifan yang dilaksanakannya menjunjung kesetaraan dan melawan patriarki sebagaimana semangat orisinil dari kearifan lokal. Dibeberapa tempat, perempuan pejabat memasukkan kearifan lokal dalam program kerjanya.

Kearifan lokal dipraktekkan sebagai suatu yang reguler, sudah ada sejak lama dan diketahui oleh masyarakat setempat sebagai pengetahuan dan dijaga serta diikuti sesuai pakemnya. Sebagai rujukkan nilai yang dipraktekkan bukanlah rekayasa, bukan tindakan instan (karbitan) atau bukan berasal dari inisiatif luar baik struktural (birokrat atasan) atau bayaran. Bila praktek nilai kearifan lokal kemudian menjadi suatu informasi yang terangkum dan terbungkus dalam suatu paket program acara komersil budaya, hal bukanlah suatu yang embedded dengan praktek kearifan lokal itu sendiri. Hingga kini praktek kearifan lokal tetap dijalankan dipublikasikan atau tidak, dipublikasikan atau tidak. Perkembangan terkini tradisi kearifan lokal telah masuk sebagai ‘objek wisata’ dan ditayangkansiarkan dalam program televisi.

Praktek kearifan lokal sebagai  perwujudan nilai yang diakui, dipercaya, dijaga serta memiliki intisari bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Perwujudan kearifan lokal sebagai bentuk tatacara yang mengatur hubungan manusia dengan:

a. Yang Maha Kuasa;

b. Sesama manusia;

c. Alam;

d. Alat-alat kerja.

Sejatinya praktek kearifan lokal dilakukan demi mencapai kesejahteraan dan kesentosaan manusia. Dalam kekinian hubungan-hubungan  tersebut dapat terangkum keseharian hidup individu, keluarga maupuan bermasyarakat yang berbentuk perilaku sehari-hari, upacara, ritual maupun tradisi tertentu yang dilaksanakan secara periodik, maupun secara simultan. Harapannya  terjadi keseimbangan semesta alam dan manusia, kesentosaan semuanya.

Dihampir semua prakteknya kearifan lokal melibatkan pelaku yaitu perempuan dan laki-laki, menggunakan sumber-sumber alam dan melakukan doa pada Yang Maha Kuasa. Baik yang individu ataupun kolektif lakukan permohonan restu pada Yang Maha Kuasa dalam bentuk doa, mantra (jampi-jampi). Semuanya simultan. Esensi doa adalah semua apapun jenis kelaminnya dapat berdoa dan menjalin hubungan dengan Sang Maha Pencipta, adapun doa dalam suatu praktek kearifan sosial bisa dilakukan dengan dipimpin oleh seseorang yang ditunjuk sesuai pakem.

Kearifan lokal memiliki nilai lebih materil atau sprituil, dan memiliki penjelasan rasional atas keseluruhan prakteknya. Pada berbagai praktek kearifan lokal gotong royong, masyarakat pelaku mendapatkan manfaat nilai lebih materil dan spirituil. Gotong Royong memiliki beragam bahasa daerah dengan makna sama yaitu bekerjasama untuk suatu tujuan bersama secara sukarela.

Gotong royong adalah kearifan lokal yang paling nyata dan paling dipraktekkan di Indonesia, bahkan dalam masyarakat modern di era milenium ini. Gotong royong sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti memikul, mengangkat bersama-sama, dalam bahasa Sunda pun bermakna sama. Gotong Royong adalah bagian dari karakter perilaku manusia Indonesia.

Gotong Royong sendiri dalam Pidato Soekarno 1 Juni 1945 merupakan intisari dasar negara Indonesia, yang jika diperas menjadi satu menjadi Gotong royong. Berdasarkan filologi gotong royong dipraktekkan berbagai suku sehingga terdapat beragam bahasa bermakna sama gotong royong. Gotong royong sama dengan badarau dalam bahasa Banjar; Raron bahasa Batak kuno; Sakai Sambayan bahasa Lampung, dan yang menarik di Nusantara Tenggara Timur gotong royong memiliki bahasa yang berbeda dari tiap sub suku-nya yaitu: Gemohing bagi orang Lewo Tana; U Ata Na Hama-hama bagi orang Sikka; Kema Sama bagi orang Ende; Papalaka bagi orang Ngada; Wenggol bagi orang Manggarai; Krian Hamutu bagi orang Belu dan masih ada lagi.

Ada berbagai bentuk implementasi perilaku gotong royong yang terkait kehidupan sehari-hari manusia (lahir, kawin, mati), ritual adat dan kegiatan ekonomi. Meskipun kini perempuan masuk dalam kondisi terpinggirkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan, baik keputusan politik maupun budaya, penulis menyakini keaslian dan jatinya perempuan dan laki-laki di Indonesia memiliki kesetaraan. Adapun ketiadaan akses yang sama bagi perempuan untuk berbagai bidang terbentuk dan dimulai melalui proses budaya pada masa tertentu sehingga perempuan terpinggirkan.  Keterpinggiran perempuan tidak serta merta menghilangkan peran perempuan dalam pelaksanaan kearifan local, namun pola kuasa dan kepemimpinan yang bias genderlah yang menjauhkan dari orisinalitas kearifan local.

2.b Perempuan Pemangku Kearifan Lokal

Proses budaya yang memindahkan kesetaraan menjadi ketidaksetaraan shifting position, diantaranya terkait sistim marga pada suku Batak,[5] dan bagaimana di Aceh terjadi pergeseran kepemimpinan   perempuan, yaitu ratu diganti raja laki-laki sesudah masa Ratu Kamalat Syah 1699 diganti Sultan Badrul Alam atas upaya para ulama dan kaum kaya[6] , di masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat yang baru menganut adat bersendi sara syara bersendi kitabullah sesudah perang Paderi 1837 dan mendapat resistensi matriarkhat Minangkabau sehingga  sistim sebelumnya masih bertahan, sehingga akhirnya diputuskan bahwa nasab atau garis keturunan ke ayah dan garis suku ke ibu[7] , bahkan di Sulawesi tahun 1870an di daerah yang belum dijajah Belanda terdapat tanah perdikan Tanah Tratea dengan raja perempuan I Madina Daeng Bau, juga tanah perdikan Ternatte diperintah oleh perempuan Wan Tanri Olé[8]. Fakta-fakta tersebut diatas mencerminkan ada suatu perubahan hakiki dari nilai kesetaraan sebagai ajaran asli yang diganti oleh ajaran dan kekuasaan pada masa itu. Di Jawa, komunitas peneliti Turangga Seta menempatkan tiga Maharatu yang memiliki kekuasaan hingga ke mancanegara pada masalalu, yaitu Maharatu Shimawan dari Medangkamulyan yang menguasai hingga ke Jepang dan Rusia, Maharatu Sitawaka dari Matswapati (dikenal dengan Sri-Wijaya karena titisan  Dewi Sri dan Maharatu Tribuwana (Brawijaya III) Tunggadewi kerajaan Majapahit dan lain-lain.[9] Nama-nama pemimpin perempuan tersebut hanya cuplikan dari data tersebar mengenai sejarah kepemimpinan perempuan di masalalu. Beliau merupakan leluhur perempuan yang juga mewariskan nilai kearifan lokal. Warisan dan kisahnya yang  masih dapat terus digali. Pada prakteknya kini pun, perempuan adalah pemangku berbagai kearifan lokal dan dapat berperan besar dalam revitalisasi khususnya dalam kehidupan keseharian manusia Indonesia.

Bila pada masalalu perempuan pemangku kearifan lokal antara lain melalui posisi struktur dimasyarakat sebagai Ratu, Tetua Adat, Dukun maka pada masa kini perempuan dapat pula menjadi pemangku kearifan lokal sebagai partisipan aktif, maupun dalam posisi terentu dalam pakem maupun sebagai pimpinan birokrasi disuatu wilayah.

Sebagaimana disebutkan diatas, kearifan lokal yang hingga kini masih dipraktekkan masyarakat adalah gotongroyong. Gotong royong dipraktekkan dikota dan didesa. Dipraktekkan oleh perempuan lintas kelas. Pada tingkat yang lebih teroganisasi modern, kearifan lokal dibidang ekonomi perempuan mengadakan arisan dan koperasi. Peran dan andil perempuan melestarikan kearifan lokal dalam keseharian kehidupan  lihat tulisan saya dalam Indonesia’s Women Local Culture Preserve National Identity.

       2.c. Praktek dan Perilaku Kolektif

Berbagai aktivitas keseharian manusia dan masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah yang belum ‘terperangkap’ dalam system kapitalistik industrial, kegiatan kolektif maupun individu sarat dengan pelaksanaan dan implementasi nilai kearifan local.

Di wilayah dimana jam kerja bersifat lentur, pengaturan kegiatan mencari makan dan berproduksi  (mencari uang) bukanlah ditentukan oleh pihak lain (industri) melainkan atas kesepakatan bersama dan tradisi serta pertimbangan bagi kebaikan bersama. Praktek kearifan lokal masih menjadi prilaku sehari-hari dan dilaksanakan secara regular. Sedangkan bagi perempuan, industrialisasi mungkin member batasan atas waktu bagi pelaksanaan kearifan lokal, namun seksualitas biologis perempuan yang terkait dengan reproduksi membuat perempuan masih tetap dapat melaksanakan berbagai tradisi kearifan lokal terkait fungsi biologis tersebut.

Aktivitas sehari-hari dengan gotong royong dalam kegiatan ekonomi seringkali dipraktekkan oleh kaum perempuan, diantaranya adalah:

  • Tradisi Pertanian; Perladangan;  Kelautan:

–          Menumbuk Padi;

Menumbuk padi adalah kegiatan bersama perempuan yang dilakukan diberbagai wilayah Indonesia baik di berbagai pulau di Indonesia. Menumbuk padi setiap hari dilakukan, dibeberapa tempat sudah ditinggalkan dan dilakukan dengan mesin, namun begitu pada masa panen dilakukan dalam rangkaian tra disi.

Arisan dan Tanggung Renteng

Arisan merupakan kegiatan bersama yang bersifat ekonomi dan solidaritas. Biasanya dalam kegiatan arisan hubungan antar peserta menjadi erat, dan tercipta hubungan komunikasi dan pertukaran informasi yang bersifat personal, saling menguatkan dan menumbuhkan solidaritas. Diantaranya, bila ada anggota arisan yang sakit, maka para anggota lainnya bergotong royong  menyumbang dana untuk yang sedang sakit, dan atau menggunakan sumbangan sukarela yang disimpan bersama oleh bendahara arisan.

Tanggung renteng merupakan system utang piutang dan simpan meminjam yang ditanggung bersama. Bahkan sesungguhnya diakui oleh Hukum Perdata pasal 1293 KUH Perdata Perikatan tanggung-menanggung yang pihaknya terdiri dari beberapa kreditur itu dinamakan perikatan tanggung menanggung aktif.[10]

  • Upacara terkait kehamilan, kelahiran, perkawinan, kematian dan tolak bala (bahaya)

Nujubulan (usia kandungan tujuh bulan) dimana ibu hamil melakukan ritual

Perkawinan, kelahiran, kematian: persiapan berbagai ritual, atau upacara untuk ini melibatkan  partisipasi dari tetangga satu komunitas membantu menyiapkan keperluan hajatan. Di Kalimantan Selatan, Suku Banjar memiliki upacara Badudus Tiang Mandaring bagi perempuan yang hamil anak pertama

Handep, Gotong Royong, Dayak, Kalimantan, pada saat ada upacara perkawinan yang akan menikahkan anak. Di Jakarta pada tahun 1980-1990 di kelurahan tempat penulis tinggal praktek memasak makanan pesta, persiapan hajatan kawinan  dilakukan secara bergotong royong, tidak menggunakan jasa pramusaji/catering/

–          Ruwatan atau upacara terkait individu atau kolektif yang dilakukan untuk mencapai kebaikan bagi yang diruwat: orang per orang (anak tunggal, anak kembar dst), tanah/bumi, lingkungan tempat terjadi bencana dsb.

Membangun sarana infrastruktur di masyarakat

Membangun jembatan

Membangun jalan

Membangun irigasi

Membangun sarana listrik bersama (koperasi di Desa Cintamekar, Subang)

  • Persediaan Pangan Bersama

Menyimpan pangan, menanam pangan bersama untuk pemenuhan kebutuhan. Di beberapa desa di Jawa terdapat tabungan beras yang masukkan di dalam bamboo di depan rumah, yang pada waktu tertenu dikumpulkan di lumbung desa. Di beberapa daerah memiliki tradisi untuk tidak mengambil tanaman, buah atau ikan pada periode tertentu.

Hari Pasar

Hari-hari pasar, yaitu hari dimana di suatu tempat khususnya kampong atau desa dibuka pasar. Pada hari itu rakyat pedagang penjual berjualan di lokasi yang ditentukan. Biasanya pedagang tersebut berpindah dari desa satu ke desa lain, misalnya di Desa Lebakwangi hari pasarnya jatuh pada hari Kamis, maka para pedagang berkumpul berjualan dihari tersebut di desa itu. Sistem pasar Toraja masih menggunakan sistem bergilir 6 hari sekali, mengikuti jadwal harian pasar. Adapun keenam pasar yang masuk dalam sistem hari pasar ini tidak ditentukan berdasarkan kelas pasar sebagaimana diuraikan di paragraf sebelumnya. Pada tahun 2005, hari pasar di Toraja berturut-turut adalah Makale, Rembon, Rantepao, Ge’tengan, Rantetayo, Sangalla, lalu urutan akan mulai kembali ke Makale. Misal, apabila di minggu ini Pasar Bolu buka di hari Rabu, maka minggu depan pasar akan buka di hari Selasa. Sistem pembagian hari pasar ini dicantumkan di kalender yang dicetak dan didistribusikan di Kabupaten Tana Toraja.[11]

Di pasar-pasar tradisional perempuan menjadi pelaku utama kegiatan ekonomi tradisional. Di desa dimana hari pasar masih berlangsung, pasar menjadi ajang penyebaran informasi dan pertemuan sosialisasi penyakit kanker payudara, sosialisasi nyamuk demam berdarah dan lain-lain.  Di beberapa daerah di Nusantara pasar dengan system barter pun masih dilaksanakan, diantaranya di Lamalera NTT.

Meruwat/Mencuci Alat Kerja

Upacara Buang Jung:  Tradisi Laut ala Suku Orang Sekak

Tradisi setahun sekali, membuang perahu sebagai persembahan dan pengorbanan kepada Dewa Penguasa laut. Menjelang bulan Purnama, dipimpin oleh Jenawan dibantu beberapa laki dan perempuan tua. Pada praktek tradisi atau ritual  ini, segala perlengkapan yang akan digunakan dalam prosesi adat mane’e didoakan. Perahu, tali hutan yang dililit janur, hingga 200-an warga pilihan harus mendapat restu. “Tak ada yang tidak akan didoakan. Jalannya prosesi hingga perlengkapan yang digunakan harus didoakan sehingga adat ini bisa berjalan baik dan mendapat restu Sang Pencipta,”  Kegiatan upacara berhari-hari melibatkan seluruh warga. Memohon ijin dengan mantra dan sajen.[12]

Praktek aktivitas ekonomi gotong royong tersebut diatas merupakan fenomena keseharian yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dilakukan oleh berbagai suku. Kegiatan aktivitas tersebut setiap suku dan daerah mempunyai cerita hikmah yang berbeda dan beragam.

Jejak peradaban masalalu masih eksis, antara lain pembagian hari pasar masih dapat ditemukan di desa-desa baik di Jawa maupun luar Jawa. Bahkan di Jakarta, kita menemukan nama tempat yang mengambil hari pasar yang menggunakan nama hari Pasar Senen, Pasar Jumat, Pasar Minggu dan lain-lain.

d. Nilai Lebih Kearifan Lokal

Nilai lebih kearifan lokal adalah nilai spiritual dan materil. Pada berbagai praktek kearifan lokal perempuan dan laki-laki merasakan kelegaan didalam hati karena telah melaksanakan ritual atau upacara tertentu. Sedangkan pada kegiatan menumbuk padi bersama perempuan, dinyatakan adanya perasaan gembira, dekat dan akrab, waspada serta menambah pengetahuan terkait proses dari buliran padi hingga menjadi beras.

Nilai Lebih secara Spritual/Rohani

–          Mendekatkan hubungan dengan Sang Maha Pencipta: dalam semua praktek kearifan lokal ada doa

–          Pengembalian nilai “trust” saling percaya dan kejujuran: dalam  berbagai aktivitas masyarakat pelaku tidak menghitung-hitung “pamrih”, tidak ada pembicara soal transparansi keuangan, semua yang terlibat  ‘tahu sama tahu’ kemampuan masing-masing dan tetap bekerja bersama

–          Pada upacara atau kegiatan gotong royong: kerjabakti, panen bersama, rasa lelah setiap individu berkurang, karena beban dipikul bersama sehingga lebih ringan

–          Pada kegiatan upacara atau ritual seren taun, larung sesaji, harapan dan kerja dilakukan bersama sehingga terjadi kesatuan rasa bahagia, senang, susah, capai dan sebagainya.

–          Pada kegiatan tahunan membersihkan alat kerja/alat pertanian atau perikanan akan lahir penghormatan terhadap benda yang memiliki manfaat sehingga dijaga dan sense of belonging tinggi atas benda dan barang yang digunakan untuk alat kerja tersebut, sehingga perawatan didasari kesadaran dan kecintaan.

–          Hubungan  perempuan dengan alam yang cukup erat, manusia dan hewan saling bergantung. Hewan untuk pangan dan pekerjaan, tanaman obat herbal yang diolah oleh perempuan adalah suatu nilai tambah tidak hanya ekonomi, namun kesehatan serta kesejahteraan keluarga.

Nilai Lebih secara Materil

–          Pada praktek gotongroyong warga mengumpulkan dana sumbangan untuk kebersihan wilayah, untuk membangun jalan. Hasil jangka pendek dan jangka panjang dirasakan semua warga tanpa kecuali. Bagi perempuan, pembangunan jalan desa, dusun, kampong yang lebih baik sangat membantu memudahkan usaha meningkatkan pendapatan. Di berbagai tempat dimana jalan desa masih berbatu, licin, menurun menanjak, tentu menyulitkan perempuan mengangkut hasil bumi, terlebih lagi bila hendak memeriksakan kehamilan dan harus  melalui jalan yang buruk.

–          Pada acara perkawinan dimana segala kebutuhan untuk perkawinan disiapkan oleh komunitas sehingga beban biaya yang mempunyai hajat perkawinan pun ringan

–          Nilai lebih ekonomi dalam berbagai prosesi selama ini tidak terlalu menjadi perhitungan, namun disebabkan peningkatan industry pariwisata, berbagai kegiatan ritual di masyarakat dan komunitas desa menjadi ‘tontononan’ bari para pendatang ataupun turis. Pada masa ini usaha jasa dan makanan menjadi semakin dibutuhkan.

  1. Karifan Lokal vs Patriarki

Kearifan lokal telah dipraktekkan sebagai prilaku dan aktivitas budaya dan peradaban masyarakat yang lebih tua dan lebih dahulu eksis dan berkembang di Nusantara, jauh sebelum patriarki dan revolusi industri menguasai kehidupan dan dilegalkan sebagai budaya dunia. Seperti disebutkan di atas kearifan lokal juga mengatur hubungan antar manusia dengan mengedepankan nilai etika moral dan  dan etis. Perempuan dan laki-laki menjadi pelaku utama dalam praktek hubungan antar manusia. Praktek kearifan lokal adalah sisa dari warisan budaya sebelum religi dari luar dan penjajahan barat menguasai dan mempengaruhi pola praktek nilai-nilai. Nilai patriarki sendiri adalah nilai yang erat dengan konsep seksualitas di masyarakat Barat khususnya dengan nilai Kristen dan Yahudi, dimana konsep seksualitas yang ditawarkan Sigmund Frued lahir dalam nilai tersebut. [13]

Pada kondisi Indonesia kini, mempertentangan kearifan lokal dengan patriarki sesungguhnya hal yang tidak sulit. Secara semangat patriarki melahirkan industry kapitalis yang kini menglobal dan cenderung melahirkan monoculture, konsumerisme. Tekanan industri juga telah menggeser nilai rohani dan bathin yang mengedepankan kebaikan, menjadi meninggikan nilai materil. Globalisasi dan industrialisasi memaksa terjadinya monoculture. [14] Globalisasi adalah kata halus dari penyerreligin keseluruhan sistem sosial, ekonomi, politik dan budaya yang disponsori oleh negara Barat (baca Amerika Serikat dan kroninya) untuk memuluskan tujuan penguasaan dunia atas kehendak segelintir orang. Globalisasi juga yang merasuk sebagai wacana diantaranya menggeser makna sejahtera bukan pada kebahagiaan individu namun dengan tolok ukur jumlah konsumsinya. In welfarist approach, living standards are typiccally determined by aggregating “expenditures on all goods and services consumed, valued at appropriate prices, including comsumption from own production [15]

Beruntung Indonesia monoculture sulit menjadi, dikarenakan sejak berdirinya Negara, pengakuan keberreligin telah dipermanenkan, dan otonomi daerah telah membuka peluang semakin mencuat heterogen dalam hal ekspresi seni budaya. Meskipun Negara (baca Menteri Keungan) menggunakan standar konsumsi untuk menentukan kesejahteraan dan tingkat pertumbuhan, realitas masyarakat tetap mempunyai berbagai cara dan ketetapan untuk menilai dan meningkatkan kesejahteraan dirinya sendiri. Meski begitu monoculture dalam konteks industri yaitu konsumerisme dan budaya popular yang dibroadcast melelui acara popular televisi (sinetron) turut mempengaruhi tergusurnya nilai positif kearifan lokal, dan menjadi tantangan kita bersama.

Sistem nilai patriarki sebagai serapan masuk melalui akulturasi dengan pendatang pedagang, maupun oleh penguasa penjajah. Bila di Nusantara perempuan menjadi pemimpin diberbagai wilayah hingga pada tahun 1700an, maka di negara Barat, khususnya penganut ajaran Yahudi Kristen, umumnya para perempuannya mengalami kondisi ketertindasan dalam hal ketiadaaan haknya sebagai manusia maupun warga negara. Negara barat khususnya Inggris meskipun mempunyai seorang Ratu Perempuan Victoria yang memerintah hingga awal abad 19, kondisi perempuan Inggris jauh dari memiliki hak-hak sebagai manusia publik.

Secara khusus nilai kearifan lokal disini bukanlah nilai yang diadopsi dari ajaran religi yang kini melembaga (Islam dan Kristen) melain suatu nilai kebudayaan keseharian hidup manusia di Nusantara, baik bersifat individu, kelompok maupun dalam struktur masyarakat. Bahwa pada berbagai praktek kearifan lokal merupakan gambaran sinkretisme yang tujuannya tetap bagi kebaikan dan kesentosaan bersama.

Pada praktek kehidupan keseharian masyarakat Indonesia, sejatinya kemiskinan bukanlah suatu yang disebabkan oleh individu namun suatu tata kelola bersama yang tidak sesuai dengan kearifan lokal. Bahwa pandangan tentang banyaknya orang miskin di berbagai wilayah pedalaman dan dalam masyarakat yang menganut tradisi secara kuat bukanlah suatu kondisi yang terjadi begitu saja. Tata kelola pembangunan, bentuk dan system hokum yang diterapkan seringkali bertentangan dengan kearifan lokal yang telah dijalankan dari generasi ke generasi, dan kearifan lokal tersebut telah mampun menjaga keseimbangan tatanan hubungan antara manusia, alam dan seluruh mahluk dalam lingkup ekolongi.

  • Setara vs Hegemoni

Pada praktek kearifan lokal kesertaan perempuan dan laki-laki adalah bernilai sama, yaitu semua dapat berpartisipasi dengan porsi dan posisi sesuai pakem berlaku. Tidak ada yang lebih berkuasa atau lebih bermartabat melainkan sesuai peran dan tingkatan fungsinya.

  • Dominan vs Affirmasi

Praktek kearifan lokal merupakan ciri dan karakter asli bangsa Indonesia yang mewarisi kearifan bersosial berbudaya bagi kesejahteraan bersama. Pada prakteknya perempuan dan laki memiliki keterikatan atas Leluhur dan  “Supra Power” “Yang Maha Kuasa” secara langsung sesuai dengan pengertian dan pemahaman yang bersifat personal. Pada setiap doa dan mantra, semua peserta upacara/adat kearifan lokal tunduk pada kekuatan Yang Maha Kuasa yang dipahami struktur bathin “Deep Structure”

  • Tidak ada pemisahan: Matter vs Spirit atau Androsentris vs Androgyn

Pada praktek kearifan lokal, biasanya para ibu dan perempuan muda melaksanakan kegiatan terkait upacara, ataupun adat dengan keikhlasan dan kerelaan serta kebanggaan menjadi bagian dalam pelaksanaan tradisi. Meskipun ada ‘ancaman’ misalnya bila tak mengikuti atau hadir dalam upacara tertentu akan terjadi hal buruk atau bencana

  • Tidak ada Kuasa vs Peran Laki-laki dan Perempuan

Pada praktek kearifan lokal yang diamati penulis, sesungguhnya tidak ada pembagian kuasa yang rigid antara perempuan laki-laki. Peran dan fungsi ada disebabkan pola dan pakem yang telah ditentukan secara turun temurun dan memiliki nilai lebih tersendiri. Ketiadaan petunjuk tertulis mengenai berbagai praktek kearifan lokal bukanlah bearti tidak ada. “Mitos” dan legenda adalah bagian dari petunjuk yang bisa diselidiki lebih lanjut, terutama untuk menemukan berbagai tata cara dan tata kelola yang berjalan dan didasari praktik turun temurun.

  • Praktek nilai menguntungkan kalangan tertentu vs Menguntungkan semua

Praktek kearifan lokal menempatkan Yang Lebih Tinggi sebagai suatu Yang Tinggi, sehingga praktek kearifan lokal dipercaya, dilaksanakan. Pada titik ini meskipun sekilas Nampak bahwa rasionalitas belakangan, believe terlebih dahulu, hal tersebut tetaplah merupakan suatu bentuk keyakinan atas Kebaikan bersama , Harapan Bersama dan buah dari itu semua adalah kebaikan bersama dan Kesejahteraan bersama. Praktek ini diantaranya nampak jelas pada acara menjelang tanam tanaman pangan dan panen.

  1. Revitalisasi Kearifan Lokal dan Siasat Penanggulangan Kemiskinan

Kearifan lokal dapat menjadi salah metode bagi penanggulanan kemiskinan dengan melalui penerapan di masyarakat melalui:

  1. Praktek kearifan lokal didukung oleh system resmi pemerintahan baik ditingkat rendah  (Rukun Tetengga, Rukun Warga dst) maupun institusi pemerintahan yang lebih tinggi
  2. Praktek yang berlanjut dan mendapat dukungan kalangan akademik maupun praktisi pemberdayaan masyarakat sehingga praktek yang dilaksanakan dilakukan dengan penuh berkesadaran dan pengertian yang rasional maupun spiritual
  3. Prakek yang sudah ada mendapat dukungan bagi penerapan dan implementasi di masyarakat melalui legalisasi peraturan daerah berbagai tingkatan, terlebih lagi jika di daerah telah ada Perda Gubernur yang member ruang bagi pelaksanaan kegiatan lokal/adat
  4. Perlunya kajian mendalam mengenai berbagai bentuk kearifan lokal yang menyertakan perempuan dan laki-laki, karena sebagaimana premis yang saya ajukan, bahwa apa yang dipraktekkan sebagai kearifan lokal, apabila membawa ketidak adilan bagi kaum perempuan, maka hal tersebut bukanlah keasilian dari kearifan lokal itu sendiri, melainkan modifikasi karena pengaruh luar.

Kearifan lokal yang dipraktekkan diberbagai daerah berikut ini menggambarkan variasi hubungan antar manusia, alam dan mahluk lainnya:

  • Peger Keben, Aceh Tengah Gayo, Nangroe Aceh Darussalam

Pada praktek peger keben setiap pasang suami-istri diwajibkan menanami halaman rumahmya dengan berabgai jenis palawija singkong, labu kuning, jagung, sayuran dan tanaman buah. Juga diamanahkan untuk memelihara itik, ikan, dan  ayam serta ternak lainnya.[16]

Dengan adanya peger keben masyarakat Gayo telah mempunyai metode ketahanan pangan untuk tidak tergantung pada beras. Disamping itu lahan kosong pun dimanfaatkan untuk menanam tanaman sayur yang bisa dimanfaatkan bersama.

  • Usabha Sambah, Desa.Tenganan Pegrisingan, Karang Asem, Bali

Awig-awig atau aturan adat dalam menjalankan fungsi desa, antara lain:

–          Larangan menjual tanah dalam kompleks desa

–          Empat jenis tanaman yang tidak dimiliki pemilik kebun melainkan milik desa adat (durian, teep, kemiri dan pangi

–          Hutan yang mengelilingi desa tidak boleh diambil kayunya, hanya boleh mengambil ranting atau kayu yang sudah jatuh dari pohonnya atau pohonnya tumbang

  • Umbun, Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan

Penduduk pegunungan Meratus-Banjar mengenal Umbun sebagai satuan pokok wahana pelaksanaan otonomi.

“Pertanian dan perladangan melibatkan tanggung jawab laki-laki dan perempuan; umbun hampir selalu dilaksnakan oleh seorang laki-laki dan permpuan. Ebagian besar adalah suami-istri, tetapi ada juga saudara laki-laki dan perempuan, nenek dan cucu laki-laki atau kombinasi lainnya. Umbun meliputi berbagai individu yang masih tergantung yang tidak ikut dalam pelaksanaan umbun, yakni antara lain anak-nakan, anak-anak yang baru kawin, dewasa yang cacat atau janda. Mereka yang masih tergantung khususnya dewasa dan anak-anak yang orangtuanya bercerai atau meninggal.”[17]

PENUTUP

Segala paparan mengenai kearifan lokal diatas diharapkan dapat memacu para perempuan se- Indonesia untuk mulai mendokumentasikan kearifan lokal yang dipraktekkan baik dari tingkat keluarga terkecil sebagai individu perempuan hingga masyarakat yang lebih luas.

Pendokumentasian berbagai kegiatan diharapkan dapat menjadi wadah kompilasi pengetahuan yang tidak hanya sudah dipraktekkan dan memiliki manfaat bagi masyarakat, namun dapat dikembangkan untuk tujuan lebih luas dan mulia. Kearifan ajaran leluhur dalam kearifan lokal adalah jalan masuk bagi perjuangan kesetaraan gender, ketimbang menggunakan konsep dan istilah serta terminologi yang berasal dari luar negeri sehingga asing, bahkan sulit diterapkan alangkah baiknya untuk mencoba menggali potensi sendiri dari lingkungan sendiri yang sudah ada dan siap untuk dikembangkan bagi penghapusan pemikinan perempuan

Kearifan  lokal yang sudah dipraktekkan dapat memiliki efek positif tidak hanya terhadap pencegahan, penghapusan pemiskinan perempuan namun juga berdampak pada penghapusan kemiskinan secara umum. Contoh model desa Bali Aga, secara prinsip dapat dijadikan pelajaran bagi diterapkannya suatu system pengelolaan desa/dusun bersama bagi wilayah-wilayah lain. Atau contoh kedaulatan pangan seperti yang dipraktekkan di Aceh, dapat ditransformasikan sebagai pengetahuan yang dapat dipraktekkan di tempat lain.

Adakah perbedaan signifikan tentang cara-cara praktek nilai kearifan  lokal yang dilakukan antara perempuan dan laki-laki, pembagian peran dalam implementasi kearifan lokal. Adakah perbedaan cara/tindak laki-laki dalam implementasi kearifan lokal sehingga praktek tersebut dapat dikategorikan diskriminasi (bertentangan dengan CEDAW), dan melanggengkan pemiskinan perempuan. Adakah Regulasi nasional dan daerah yang memberi peluang untuk mendorong kelangsungan kearifan lokal tanpa menimbulkan masalah baru terkait wewenang, dan keuangan. Adalah suatu kerawanan tersendiri bahwa dibanyak daerah kearifan lokal dipahami hanya sebagai bagian dari, seni, adat dan budaya kalangan masyarakat adat dan hukum adat, padahal tidak selalu begitu.

Pemiskinan diakibatkan suatu pelaksanakan kerja Negara dan pemerintah Indonesia yang menempatkan politik ekonomi social budaya yang mengikuti arus wacana global, dan seringkali bertentangan dengan kearifan lokal. Diantara berbagai ajaran dari warisan leluhur adalah tentang pentingnya mengedepankan nilai-nilai yang berlaku bagi semua kelas, semua golongan, semua jenis kelamin, yaitu:

–          Ttradisi tolong menolong

–          Tradisi gotong royong

–          Memberi menerima dari kepada masyarakat

–          Punya penghargaan atas nilai: kejujuran, kepercayaan/trust dan keberanian

Revitalisasi nilai tersebut bukan dan tidaklah harus yang terkait dengan ajaran religi manapun karena nilai ini telah berjalan dan hidup dimasyarakat Indonesia. Sehingga untuk memulai kembali kebangkitan perempuan dan melepaskan dari belenggu kemiskinan maka yang perlu diupayakan adalah kembali kepada posisi dahulu, ketika Indonesia benar-benar nyata tidak miskin dalam arti ilmu pengetahuan leluhur dahulu telah ada dan mungkin diaplikasikan kembali untuk membuktikan:

–          Kondisi Pemiskinan bukanlah ciri permanen, baru terjadi

–          Pemiskinan adalah akibat penjajahan, kemerdekaan yang belum berdaulat tidak ada kedaulatan dan demokrasi yang berjalan kini belum mengenali dan mengidentifikasi kearifan lokal sebagai asset dan potensi

–          Pemiskinan perempuan bukanlah ciri  dan karakter bangsa

–          Distribusi kekuasaan antara berbagai kelas sebagai faktor penentu kemiskinan telah berjalan cukup adil di masa lalu

–          Sistem nilai yang berjalan sekarang dipengaruhi oleh nilai barat: Male Dominated phallus centris

–          Tata kelola alam yang baik, pembagian peran di keluarga yang baik dan serta pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat telah ada pada masa dahulu

Didalam masyarakat terkecil didesa, dimana pola-pola perilaku dan ekspresi-ekspresi kolektif yang berkembang secara alami sepanjang sejarah masa lampau budaya real akan selalu menampakkan diri secara lebih jelas dan dominan daripada budaya ideal. Ideal dalam arti norma baku dalam prilaku kehidupan manusia. Adalah pelajaran bagi perempuan untuk turut merajut kembali kekuatan perempuan dalam budaya real menjadikan diri sebagai pengemban aktif perubahan ke arah yang lebih baik kesejahteraan seluruh rakyat. Sebagaimana telah saya tulis dalam Women’s Local Culture Preserve National Identity, maka kiranya kearifan lokal dapat mengejawantah dalam perilaku yang menunjukkan bahwa identitas nasional bangsa Indonesia apabila tetap diteguhkan dan diejawantahkan akan mampu menghalau pemiskinan. Kiranya  bangsa Indonesia dapat kembali ke jalur aslinya, dari akar budayanya dari apa yang disetujui  bersama para pendiri Bangsa, pada 1945 tentang keadilan dan kemanusian tentang bhinneka tunggal ika. @Umi Lasminah

Daftar Pustaka

  1. John Haba, Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konfrlik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso., Jakarta: ICIP dan European Commission, 2007.

2. Narayan Deepa and Patti Petesch “Agency, Opportuniy Structure and Poverty Escape”  in Moving Out of Poverty, Cross Disciplinary Perspectives on Mobility Deepa Narayan and Patti Petesch, editors.

3. Slamet Muljono,. Tafsir sejarah NagaraKretreligi.,Yogyakarta:LkiS. 2006

4.John Haba, Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konfrlik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso., Jakarta: ICIP dan European Commission, 2007.

5.Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978.

6.Djoko Promono., Budaya Bahari Pemda Sulsel, dinas pariwisata , Jak.Gramedia, 2005

  1. P.Robinson, The Modernization of Sex., New York: Harper and Row, 1976.
  1. Vandana Shiva, Captive Minds Captive Lives Ethics, Ecology and Patents on Life..New Dehli. Research Foundation for Science, Technology and Natural Resources Policy. 1995.
  1. Martin Ravallion, Living Standar Measurement Study, No.88, 1992
  1. Anna Lowenhaupt Tsing,”Dibawah bayang-bayang Ratu Intan, Proses Marjinalisasi Pada Masyarakat terasing”. Jakarta.Yayasan Obor Indonesia 1998

Website

  1. http://bundokandung.wordpress.com., diakses 10 Agustus 2012
  2. dan GregetNuswangara.groups.facebook.com
  3. http://kuliahhukumperikatan12.blogspot.com/2012/03/perikatan-tanggung-renteng.html
  4. http://indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja/article/148/pasar-bolu-dan-pasar-makale-jejak-budaya-dan-peradaban-di-pasar-tradisional-toraja
  5. http://Kompasiana.com Kearifan lokal peger keben antisipasi krisis pangan

[2] Narayan Deepa and Patti Petesch “Agency, Opportuniy Structure and Poverty Escape”  in Moving Out of Poverty, Cross Disciplinary Perspectives on Mobility Deepa Narayan and Patti Petesch, editors.

[3] Slamet Muljono,. Tafsir sejarah NagaraKretreligi.,Yogyakarta:LkiS. 2006

[4] John Haba, Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konfrlik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso., Jakarta: ICIP dan European Commission, 2007.hal.11

[5] Pada masyarakat Batak perubahan antara kekerabatan menurut garis ibu menjadi garis bapak melalui permusuhan dan pertumpahan darah. Hal ini dimulai dengan mengubah tebusan atas perempuan yang dibawa pergi laki-laki menjadi harga pembelian. menurut Kutipan Bab II,  M.H Nasoetion gelar Soetan Oloan, “Kaum Wanita dan Sistim Marga” De Plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij, dissertatie Uttrecht 1943, “ dalam Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978.,  Hal.6

[6] P.J Veth “Pemerintahan oleh Wanita di Kepulauan Nusantara”. Dalam Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978.,  hal.236-237

[7] http://bundokandung.wordpress.com., diakses 10 Agustus 2012

[8] P.J Veth “Pemerintahan oleh Wanita di Kepulauan Nusantara”. Dalam Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978 hal.232

[12] . Prosesi dilengkapi dengan tari-tarian, petugas khusus penambuh gendang dan gong (awak-awak). Tak jarang peserta upacara biasanya perempuan mengalami keadaan tak sadar diri (trance) karena kerasukan roh halus. Penawarnya: ngibaskan batang pinang, diasapi kemenyan dan diperciki air. Djoko Promono., Budaya Bahari Pemda Sulsel, dinas pariwisata , Jak.Gramedia, 2005 Hal.143.

[13] P.Robinson, The Modernization of Sex., New York: Harper and Row, 1976. p.vii

[14] Vandana Shiva, Captive Minds Captive Lives Ethics, Ecology and Patents on Life..New Dehli. Research Foundation for Science, Technology and Natural Resources Policy. 1995. Hal. 161

[15] Martin Ravallion, Living Standar Measurement Study, No.88, 1992, hal. 7

[16] http://Kompasiana.com Kearifan lokal peger keben antisipasi krisis pangan

[17] Anna Lowenhaupt Tsing,”Dibawah bayang-bayang Ratu Intan, Proses Marjinalisasi Pada Masyarakat terasing”. Jakarta.Yayasan Obor Indonesia 1998 hal.86

The Poligamy is Not Nuswantara Culture

My final paper to graduate from University of Indonesia of Literature Faculty of major History was “Demonstration of Women against PP No.19/1952”, this PP or Government Regulation was issued by The Government under President Soekarno. The regulation started controversy due to it lean on to allowing state civil servant to have more that one wife, and they (the wifes) will also can have pension and subsidy allowance.

There is nothing Like Indonesia

There is Nothing in the World like Country of Indonesia..Image

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑