numbukpadi“Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung 

(dipresentasikan dalam Konferensi Nasional Perempuan dan Pengetahun, Komisi Nasional Perempuan, Yogyakarta  Desember 2012)

 

  1. 1.        Pendahuluan

Peribahasa tersebut diatas dikenal sebagian besar bangsa Indonesia, umumnya diartikan jika bertamu hendaklah bersikap menyesuaikan diri dengan adat setempat,ikutilah tata krama dimana kita berada. Peribahasa tersebut bisa dimaksudkan untuk mengedepankan potensi diri, ilmu pengetahuan budaya dan adat sendiri serta bersikap mandiri. Secara sederhana Bumi adalah tempat tinggal, tanah air dan Langit adalah Surga, tempat Yang Maha Kuasa bertahta. Penggunaan peribahasa tersebut dalam tulisan ini dimaksudkan selaras dengan makna Revitalisasi Nilai Kearifan Lokal untuk Mengatasi Pemiskinan Perempuan. Menurut penulis nilai kearifan lokal merupakan Langit untuk Dijunjung. Pertanyaannya, nilai kearifan lokal yang seperti apa yang harus dijunjung, dan apakah dapat mengatasi pemiskinan perempuan?

Pokok persoalan pemiskinan perempuan adalah kenyataan menjadi miskin tidak terjadi begitu saja. Kondisi global dan jalan sejarah menentukan kondisi tersebut. Sama halnya dengan kemiskinan  di Indonesia. Pemiskinan perempuan tak lepas dari kondisi kekinian dunia yang menempatkan miskin sebagai realitas tidak terpenuhinya kebutuhan kemanusiaan. Realitas pemiskinan mengkondisikan perempuan tidak hanya dalam posisi miskin hampir permanen, namun kerapkali menjadi sasaran dan ‘tumbal’ saat kemiskinan menyergap masyarakat. Misalnya krisis 1997 perusahaan manufaktur mayoritas buruhnya perempuan keputusan PHK menjadi pilihan pertama perempuan menjadi korbannya, sedangkan anak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi diutamakan pada anak laki-laki. Pada titik ini perempuan menjadi invalid.  “Poverty is seen as an individual inability to consume enough to fulfill basic preference or needs.” [2]

Pada masalalu Indonesia atau Nuswantara (Nusantara) pernah dalam kondisi tidak miskin, termasuk perempuannya. Pernah pada masa Majapahit dan sebelumnya, salah satu Negara Induk di Nusantara menguasai wilayah Asia Tenggara dan mempunyai peraturan lengkap dalam melindungi segenap tumpah darah dan mensejahterakan warganya[3]. Berbagai bentuk peraturan dan tradisi dari Negara besar dimasalalu diwarisi dalam kearifan lokal yang menjadi panduan etika bermasyarakat dan bernegara. Pada masa itu filsafat moral yang mencirikan perbuatan dan sifat dari tindakan telah diatur dan mengacu pada kebaikan semua mahluk mikro dan makro kosmos. Mahluk mikro kosmos adalah individu manusia pribadi, sedangkan makro kosmos sebagai bagian mahluk social dalam kesimultanan tatanan alam semesta raya. Salah satu warisan peradaban gemilang tersebut kini dikenal dengan kearifan lokal yang hingga hingga kini menjadi pengetahuan empirik, dipraktekkan, dan dikembangkan dan serta layak direvitalisasi untuk mengatasi pemiskinan perempuan.

Sebagai warisan masalalu (baca.peradaban), kearifan lokal diartikan sebagai tradisi yang dilaksanakan baik oleh individu maupun kelompok dalam suatu wilayah kecil maupun luas, memiliki muatan nilai penghormatan pada sesama mahluk, alam semesta dan Yang Maha Kuasa yang ditujukan untuk mencapai kesejahteraan dan kesentosaan manusia. Sedangkan tradisi diartikan sebagai suatu nilai yang secara turun temurun dianut dan diejawantahkan baik secara tetap maupun perubahan dan modifikasi untuk keteraturan bersama baik secara sadar maupun naluri kebaikan manusia (keiklasan sepi ing pamrih). Kearifan lokal juga mengacu pada kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat dikenal, dipercayai, diakui sebagai elemen penting yang mampu mepertebal kohesi sosial di antara warga masyarakat.[4] Kearifan lokal juga mencirikan suatu partisipasi masyarakat lintas kelas, lintas golongan, lintas gender, lintas religi. Kearifan Lokal dalam tulisan ini dimaknai sebagai ilmu pengetahuan, teknologi (dalam bahasa Sangkserta rekayasa) dan tata kelola Leluhur yang sudah ditinggalkan maupun yang masih dipraktekkan.

Kearifan lokal memiliki potensi untuk mencegah mengurangi pemiskinan perempuan dan masyarakat pada umumnya. Walaupun dalam berbagai definisi kearifan lokal dianggap hal terbatas dalam komunitas wilayah, kesamaan model dan pola prakteknya membuktikan sebagai budaya adiluhung yang dipraktekkan dan diterima secara nasional. Bahkan bila dirunut, Dasar Negara Pancasila yang oleh Soekarno selaku penggagas menyatakan bahwa Pancasila digali dari nilai-nilai yang sudah ada di bumi Nuswantara, nilai yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Pada Pancasila termaktub seluruh bentuk kearifan lokal yang dibahasakan secara padat dalam sila Pertama kepercayaan pada Yang Maha Kuasa, sila Kedua saling meghormati, solidaritas dan tolong menolong satu sama lain, sila Ketiga bahu membahu gotong royong saling menguatkan, sila Keempat bermusyawarah, mendengarkan dan menimbang segala putusan bersama untuk tujuan bersama dan sila Kelima berlaku adil dalam hidup bermasyarakat agar sejahtera tercapai bersama. Kajian penulis dari berbagai sumber fakta dan data menunjukkan praktek kearifan lokal memegang semangat implementasi nilai Pancasila. Namun disebabkan praktek tersebut tidak mendapat wahana sebagai wacana utama nasional, seakan prakteknya tergusur sebagai tontonan dan pertunjukkan di media massa semata (televisi, radio atau suratkabar) tentang suatu peringatan/commemoration, perayaan. Praktek kearifan local masih belum  menjadi kepemilikan bersama prilaku masayarakat yang dipraktekkan lakukan secara berkesadaran, kerelaan, sebagai suatu yang positif. Disamping itu berbagai serbuan budaya dan nilai dari luar negeri juga menjadi penyebabkan runtuhnya pegangan arif dari nilai lokal. Untuk itulah penulis memaparkan pandangan terkait pentingnya revitalisasi kearifan lokal untuk mensiasati pemiskinan perempuan.

2.        Kearifan Lokal

2.a. Nilai Kearifan Lokal

Nilai kearifan lokal yang orisinil antara lain mengejawantahkan: kesukarelaan, kesetaraan, tanpa pamrih, gotong royong, musyawarah, spiritual, saling menghargai, toleransi dan waspada. Dimasa kini nilai-nilai kearifan lokal tersebut, belum kembali menjadi jati diri bangsa, sehingga perlu direvitalisasi. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah ada dan terberi pada perempuan sebagai jati dirinya maupun konstruksi budaya.

Tulisan menggunakan bahan penelitian dari kisah dan cerita nyata praktek kearifan lokal yang  dipublikasikan kepada khalayak umum (televisi, media massa, buku penelitian, maupun blog dan sosial media lainnya) dan pengalaman sehari-hari sebagai pijakan empirik praktek kearifan loka. Kearifan lokal yang terangkum dalam tulisan ini termasuk juga yang menempatkan perempuan dalam posisi yang berbeda dengan realitas kekininan, yang pada umumnya sudah tidak dipraktekkan atau sudah berganti dengan bentuk nilai permanen pengaruh budaya laki-laki.  Penulis mengembangkan pemahaman bahwa kearifan lokal sejati suku-suku bangsa di Indonesia mengedepankan nilai kesetaraan, dan tidak sama dengan praktek umum adat yang berlangsung kini.

Tanpa bermaksud menyangkal nilai patriarki realitas kehidupan masyarakat kini, penulis menganggap bahwa realitas tersebut adalah tantangan bagi revitalisasi  kearifan lokal. Pemiskinan perempuan dalam tulisan ini adalah ketiadaan akses perempuan pada keseluruhan praktek pemenuhan hidup manusia untuk sejahtera dan sentosa (baca: bahagia).  Ketiadaan akses tersebut antara lain disebabkan dominasi pelaksanaan nilai patriarki yang bertentangan dengan nilai kearifan lokal. Asumsi tersebut lahir dari realitas bahwa meskipun perempuan merupakan agen berbagai aktivitas kearifan lokal, dan agen utama dari transformasi kearifan lokal dari generasi ke generasi, dan perempuan menjadi pelaksana dan agen kerarifan local, tidak menjamin bahwa nilai kerarifan yang dilaksanakannya menjunjung kesetaraan dan melawan patriarki sebagaimana semangat orisinil dari kearifan lokal. Dibeberapa tempat, perempuan pejabat memasukkan kearifan lokal dalam program kerjanya.

Kearifan lokal dipraktekkan sebagai suatu yang reguler, sudah ada sejak lama dan diketahui oleh masyarakat setempat sebagai pengetahuan dan dijaga serta diikuti sesuai pakemnya. Sebagai rujukkan nilai yang dipraktekkan bukanlah rekayasa, bukan tindakan instan (karbitan) atau bukan berasal dari inisiatif luar baik struktural (birokrat atasan) atau bayaran. Bila praktek nilai kearifan lokal kemudian menjadi suatu informasi yang terangkum dan terbungkus dalam suatu paket program acara komersil budaya, hal bukanlah suatu yang embedded dengan praktek kearifan lokal itu sendiri. Hingga kini praktek kearifan lokal tetap dijalankan dipublikasikan atau tidak, dipublikasikan atau tidak. Perkembangan terkini tradisi kearifan lokal telah masuk sebagai ‘objek wisata’ dan ditayangkansiarkan dalam program televisi.

Praktek kearifan lokal sebagai  perwujudan nilai yang diakui, dipercaya, dijaga serta memiliki intisari bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Perwujudan kearifan lokal sebagai bentuk tatacara yang mengatur hubungan manusia dengan:

a. Yang Maha Kuasa;

b. Sesama manusia;

c. Alam;

d. Alat-alat kerja.

Sejatinya praktek kearifan lokal dilakukan demi mencapai kesejahteraan dan kesentosaan manusia. Dalam kekinian hubungan-hubungan  tersebut dapat terangkum keseharian hidup individu, keluarga maupuan bermasyarakat yang berbentuk perilaku sehari-hari, upacara, ritual maupun tradisi tertentu yang dilaksanakan secara periodik, maupun secara simultan. Harapannya  terjadi keseimbangan semesta alam dan manusia, kesentosaan semuanya.

Dihampir semua prakteknya kearifan lokal melibatkan pelaku yaitu perempuan dan laki-laki, menggunakan sumber-sumber alam dan melakukan doa pada Yang Maha Kuasa. Baik yang individu ataupun kolektif lakukan permohonan restu pada Yang Maha Kuasa dalam bentuk doa, mantra (jampi-jampi). Semuanya simultan. Esensi doa adalah semua apapun jenis kelaminnya dapat berdoa dan menjalin hubungan dengan Sang Maha Pencipta, adapun doa dalam suatu praktek kearifan sosial bisa dilakukan dengan dipimpin oleh seseorang yang ditunjuk sesuai pakem.

Kearifan lokal memiliki nilai lebih materil atau sprituil, dan memiliki penjelasan rasional atas keseluruhan prakteknya. Pada berbagai praktek kearifan lokal gotong royong, masyarakat pelaku mendapatkan manfaat nilai lebih materil dan spirituil. Gotong Royong memiliki beragam bahasa daerah dengan makna sama yaitu bekerjasama untuk suatu tujuan bersama secara sukarela.

Gotong royong adalah kearifan lokal yang paling nyata dan paling dipraktekkan di Indonesia, bahkan dalam masyarakat modern di era milenium ini. Gotong royong sendiri adalah bahasa Jawa yang berarti memikul, mengangkat bersama-sama, dalam bahasa Sunda pun bermakna sama. Gotong Royong adalah bagian dari karakter perilaku manusia Indonesia.

Gotong Royong sendiri dalam Pidato Soekarno 1 Juni 1945 merupakan intisari dasar negara Indonesia, yang jika diperas menjadi satu menjadi Gotong royong. Berdasarkan filologi gotong royong dipraktekkan berbagai suku sehingga terdapat beragam bahasa bermakna sama gotong royong. Gotong royong sama dengan badarau dalam bahasa Banjar; Raron bahasa Batak kuno; Sakai Sambayan bahasa Lampung, dan yang menarik di Nusantara Tenggara Timur gotong royong memiliki bahasa yang berbeda dari tiap sub suku-nya yaitu: Gemohing bagi orang Lewo Tana; U Ata Na Hama-hama bagi orang Sikka; Kema Sama bagi orang Ende; Papalaka bagi orang Ngada; Wenggol bagi orang Manggarai; Krian Hamutu bagi orang Belu dan masih ada lagi.

Ada berbagai bentuk implementasi perilaku gotong royong yang terkait kehidupan sehari-hari manusia (lahir, kawin, mati), ritual adat dan kegiatan ekonomi. Meskipun kini perempuan masuk dalam kondisi terpinggirkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan, baik keputusan politik maupun budaya, penulis menyakini keaslian dan jatinya perempuan dan laki-laki di Indonesia memiliki kesetaraan. Adapun ketiadaan akses yang sama bagi perempuan untuk berbagai bidang terbentuk dan dimulai melalui proses budaya pada masa tertentu sehingga perempuan terpinggirkan.  Keterpinggiran perempuan tidak serta merta menghilangkan peran perempuan dalam pelaksanaan kearifan local, namun pola kuasa dan kepemimpinan yang bias genderlah yang menjauhkan dari orisinalitas kearifan local.

2.b Perempuan Pemangku Kearifan Lokal

Proses budaya yang memindahkan kesetaraan menjadi ketidaksetaraan shifting position, diantaranya terkait sistim marga pada suku Batak,[5] dan bagaimana di Aceh terjadi pergeseran kepemimpinan   perempuan, yaitu ratu diganti raja laki-laki sesudah masa Ratu Kamalat Syah 1699 diganti Sultan Badrul Alam atas upaya para ulama dan kaum kaya[6] , di masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat yang baru menganut adat bersendi sara syara bersendi kitabullah sesudah perang Paderi 1837 dan mendapat resistensi matriarkhat Minangkabau sehingga  sistim sebelumnya masih bertahan, sehingga akhirnya diputuskan bahwa nasab atau garis keturunan ke ayah dan garis suku ke ibu[7] , bahkan di Sulawesi tahun 1870an di daerah yang belum dijajah Belanda terdapat tanah perdikan Tanah Tratea dengan raja perempuan I Madina Daeng Bau, juga tanah perdikan Ternatte diperintah oleh perempuan Wan Tanri Olé[8]. Fakta-fakta tersebut diatas mencerminkan ada suatu perubahan hakiki dari nilai kesetaraan sebagai ajaran asli yang diganti oleh ajaran dan kekuasaan pada masa itu. Di Jawa, komunitas peneliti Turangga Seta menempatkan tiga Maharatu yang memiliki kekuasaan hingga ke mancanegara pada masalalu, yaitu Maharatu Shimawan dari Medangkamulyan yang menguasai hingga ke Jepang dan Rusia, Maharatu Sitawaka dari Matswapati (dikenal dengan Sri-Wijaya karena titisan  Dewi Sri dan Maharatu Tribuwana (Brawijaya III) Tunggadewi kerajaan Majapahit dan lain-lain.[9] Nama-nama pemimpin perempuan tersebut hanya cuplikan dari data tersebar mengenai sejarah kepemimpinan perempuan di masalalu. Beliau merupakan leluhur perempuan yang juga mewariskan nilai kearifan lokal. Warisan dan kisahnya yang  masih dapat terus digali. Pada prakteknya kini pun, perempuan adalah pemangku berbagai kearifan lokal dan dapat berperan besar dalam revitalisasi khususnya dalam kehidupan keseharian manusia Indonesia.

Bila pada masalalu perempuan pemangku kearifan lokal antara lain melalui posisi struktur dimasyarakat sebagai Ratu, Tetua Adat, Dukun maka pada masa kini perempuan dapat pula menjadi pemangku kearifan lokal sebagai partisipan aktif, maupun dalam posisi terentu dalam pakem maupun sebagai pimpinan birokrasi disuatu wilayah.

Sebagaimana disebutkan diatas, kearifan lokal yang hingga kini masih dipraktekkan masyarakat adalah gotongroyong. Gotong royong dipraktekkan dikota dan didesa. Dipraktekkan oleh perempuan lintas kelas. Pada tingkat yang lebih teroganisasi modern, kearifan lokal dibidang ekonomi perempuan mengadakan arisan dan koperasi. Peran dan andil perempuan melestarikan kearifan lokal dalam keseharian kehidupan  lihat tulisan saya dalam Indonesia’s Women Local Culture Preserve National Identity.

       2.c. Praktek dan Perilaku Kolektif

Berbagai aktivitas keseharian manusia dan masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah yang belum ‘terperangkap’ dalam system kapitalistik industrial, kegiatan kolektif maupun individu sarat dengan pelaksanaan dan implementasi nilai kearifan local.

Di wilayah dimana jam kerja bersifat lentur, pengaturan kegiatan mencari makan dan berproduksi  (mencari uang) bukanlah ditentukan oleh pihak lain (industri) melainkan atas kesepakatan bersama dan tradisi serta pertimbangan bagi kebaikan bersama. Praktek kearifan lokal masih menjadi prilaku sehari-hari dan dilaksanakan secara regular. Sedangkan bagi perempuan, industrialisasi mungkin member batasan atas waktu bagi pelaksanaan kearifan lokal, namun seksualitas biologis perempuan yang terkait dengan reproduksi membuat perempuan masih tetap dapat melaksanakan berbagai tradisi kearifan lokal terkait fungsi biologis tersebut.

Aktivitas sehari-hari dengan gotong royong dalam kegiatan ekonomi seringkali dipraktekkan oleh kaum perempuan, diantaranya adalah:

  • Tradisi Pertanian; Perladangan;  Kelautan:

–          Menumbuk Padi;

Menumbuk padi adalah kegiatan bersama perempuan yang dilakukan diberbagai wilayah Indonesia baik di berbagai pulau di Indonesia. Menumbuk padi setiap hari dilakukan, dibeberapa tempat sudah ditinggalkan dan dilakukan dengan mesin, namun begitu pada masa panen dilakukan dalam rangkaian tra disi.

Arisan dan Tanggung Renteng

Arisan merupakan kegiatan bersama yang bersifat ekonomi dan solidaritas. Biasanya dalam kegiatan arisan hubungan antar peserta menjadi erat, dan tercipta hubungan komunikasi dan pertukaran informasi yang bersifat personal, saling menguatkan dan menumbuhkan solidaritas. Diantaranya, bila ada anggota arisan yang sakit, maka para anggota lainnya bergotong royong  menyumbang dana untuk yang sedang sakit, dan atau menggunakan sumbangan sukarela yang disimpan bersama oleh bendahara arisan.

Tanggung renteng merupakan system utang piutang dan simpan meminjam yang ditanggung bersama. Bahkan sesungguhnya diakui oleh Hukum Perdata pasal 1293 KUH Perdata Perikatan tanggung-menanggung yang pihaknya terdiri dari beberapa kreditur itu dinamakan perikatan tanggung menanggung aktif.[10]

  • Upacara terkait kehamilan, kelahiran, perkawinan, kematian dan tolak bala (bahaya)

Nujubulan (usia kandungan tujuh bulan) dimana ibu hamil melakukan ritual

Perkawinan, kelahiran, kematian: persiapan berbagai ritual, atau upacara untuk ini melibatkan  partisipasi dari tetangga satu komunitas membantu menyiapkan keperluan hajatan. Di Kalimantan Selatan, Suku Banjar memiliki upacara Badudus Tiang Mandaring bagi perempuan yang hamil anak pertama

Handep, Gotong Royong, Dayak, Kalimantan, pada saat ada upacara perkawinan yang akan menikahkan anak. Di Jakarta pada tahun 1980-1990 di kelurahan tempat penulis tinggal praktek memasak makanan pesta, persiapan hajatan kawinan  dilakukan secara bergotong royong, tidak menggunakan jasa pramusaji/catering/

–          Ruwatan atau upacara terkait individu atau kolektif yang dilakukan untuk mencapai kebaikan bagi yang diruwat: orang per orang (anak tunggal, anak kembar dst), tanah/bumi, lingkungan tempat terjadi bencana dsb.

Membangun sarana infrastruktur di masyarakat

Membangun jembatan

Membangun jalan

Membangun irigasi

Membangun sarana listrik bersama (koperasi di Desa Cintamekar, Subang)

  • Persediaan Pangan Bersama

Menyimpan pangan, menanam pangan bersama untuk pemenuhan kebutuhan. Di beberapa desa di Jawa terdapat tabungan beras yang masukkan di dalam bamboo di depan rumah, yang pada waktu tertenu dikumpulkan di lumbung desa. Di beberapa daerah memiliki tradisi untuk tidak mengambil tanaman, buah atau ikan pada periode tertentu.

Hari Pasar

Hari-hari pasar, yaitu hari dimana di suatu tempat khususnya kampong atau desa dibuka pasar. Pada hari itu rakyat pedagang penjual berjualan di lokasi yang ditentukan. Biasanya pedagang tersebut berpindah dari desa satu ke desa lain, misalnya di Desa Lebakwangi hari pasarnya jatuh pada hari Kamis, maka para pedagang berkumpul berjualan dihari tersebut di desa itu. Sistem pasar Toraja masih menggunakan sistem bergilir 6 hari sekali, mengikuti jadwal harian pasar. Adapun keenam pasar yang masuk dalam sistem hari pasar ini tidak ditentukan berdasarkan kelas pasar sebagaimana diuraikan di paragraf sebelumnya. Pada tahun 2005, hari pasar di Toraja berturut-turut adalah Makale, Rembon, Rantepao, Ge’tengan, Rantetayo, Sangalla, lalu urutan akan mulai kembali ke Makale. Misal, apabila di minggu ini Pasar Bolu buka di hari Rabu, maka minggu depan pasar akan buka di hari Selasa. Sistem pembagian hari pasar ini dicantumkan di kalender yang dicetak dan didistribusikan di Kabupaten Tana Toraja.[11]

Di pasar-pasar tradisional perempuan menjadi pelaku utama kegiatan ekonomi tradisional. Di desa dimana hari pasar masih berlangsung, pasar menjadi ajang penyebaran informasi dan pertemuan sosialisasi penyakit kanker payudara, sosialisasi nyamuk demam berdarah dan lain-lain.  Di beberapa daerah di Nusantara pasar dengan system barter pun masih dilaksanakan, diantaranya di Lamalera NTT.

Meruwat/Mencuci Alat Kerja

Upacara Buang Jung:  Tradisi Laut ala Suku Orang Sekak

Tradisi setahun sekali, membuang perahu sebagai persembahan dan pengorbanan kepada Dewa Penguasa laut. Menjelang bulan Purnama, dipimpin oleh Jenawan dibantu beberapa laki dan perempuan tua. Pada praktek tradisi atau ritual  ini, segala perlengkapan yang akan digunakan dalam prosesi adat mane’e didoakan. Perahu, tali hutan yang dililit janur, hingga 200-an warga pilihan harus mendapat restu. “Tak ada yang tidak akan didoakan. Jalannya prosesi hingga perlengkapan yang digunakan harus didoakan sehingga adat ini bisa berjalan baik dan mendapat restu Sang Pencipta,”  Kegiatan upacara berhari-hari melibatkan seluruh warga. Memohon ijin dengan mantra dan sajen.[12]

Praktek aktivitas ekonomi gotong royong tersebut diatas merupakan fenomena keseharian yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dilakukan oleh berbagai suku. Kegiatan aktivitas tersebut setiap suku dan daerah mempunyai cerita hikmah yang berbeda dan beragam.

Jejak peradaban masalalu masih eksis, antara lain pembagian hari pasar masih dapat ditemukan di desa-desa baik di Jawa maupun luar Jawa. Bahkan di Jakarta, kita menemukan nama tempat yang mengambil hari pasar yang menggunakan nama hari Pasar Senen, Pasar Jumat, Pasar Minggu dan lain-lain.

d. Nilai Lebih Kearifan Lokal

Nilai lebih kearifan lokal adalah nilai spiritual dan materil. Pada berbagai praktek kearifan lokal perempuan dan laki-laki merasakan kelegaan didalam hati karena telah melaksanakan ritual atau upacara tertentu. Sedangkan pada kegiatan menumbuk padi bersama perempuan, dinyatakan adanya perasaan gembira, dekat dan akrab, waspada serta menambah pengetahuan terkait proses dari buliran padi hingga menjadi beras.

Nilai Lebih secara Spritual/Rohani

–          Mendekatkan hubungan dengan Sang Maha Pencipta: dalam semua praktek kearifan lokal ada doa

–          Pengembalian nilai “trust” saling percaya dan kejujuran: dalam  berbagai aktivitas masyarakat pelaku tidak menghitung-hitung “pamrih”, tidak ada pembicara soal transparansi keuangan, semua yang terlibat  ‘tahu sama tahu’ kemampuan masing-masing dan tetap bekerja bersama

–          Pada upacara atau kegiatan gotong royong: kerjabakti, panen bersama, rasa lelah setiap individu berkurang, karena beban dipikul bersama sehingga lebih ringan

–          Pada kegiatan upacara atau ritual seren taun, larung sesaji, harapan dan kerja dilakukan bersama sehingga terjadi kesatuan rasa bahagia, senang, susah, capai dan sebagainya.

–          Pada kegiatan tahunan membersihkan alat kerja/alat pertanian atau perikanan akan lahir penghormatan terhadap benda yang memiliki manfaat sehingga dijaga dan sense of belonging tinggi atas benda dan barang yang digunakan untuk alat kerja tersebut, sehingga perawatan didasari kesadaran dan kecintaan.

–          Hubungan  perempuan dengan alam yang cukup erat, manusia dan hewan saling bergantung. Hewan untuk pangan dan pekerjaan, tanaman obat herbal yang diolah oleh perempuan adalah suatu nilai tambah tidak hanya ekonomi, namun kesehatan serta kesejahteraan keluarga.

Nilai Lebih secara Materil

–          Pada praktek gotongroyong warga mengumpulkan dana sumbangan untuk kebersihan wilayah, untuk membangun jalan. Hasil jangka pendek dan jangka panjang dirasakan semua warga tanpa kecuali. Bagi perempuan, pembangunan jalan desa, dusun, kampong yang lebih baik sangat membantu memudahkan usaha meningkatkan pendapatan. Di berbagai tempat dimana jalan desa masih berbatu, licin, menurun menanjak, tentu menyulitkan perempuan mengangkut hasil bumi, terlebih lagi bila hendak memeriksakan kehamilan dan harus  melalui jalan yang buruk.

–          Pada acara perkawinan dimana segala kebutuhan untuk perkawinan disiapkan oleh komunitas sehingga beban biaya yang mempunyai hajat perkawinan pun ringan

–          Nilai lebih ekonomi dalam berbagai prosesi selama ini tidak terlalu menjadi perhitungan, namun disebabkan peningkatan industry pariwisata, berbagai kegiatan ritual di masyarakat dan komunitas desa menjadi ‘tontononan’ bari para pendatang ataupun turis. Pada masa ini usaha jasa dan makanan menjadi semakin dibutuhkan.

  1. Karifan Lokal vs Patriarki

Kearifan lokal telah dipraktekkan sebagai prilaku dan aktivitas budaya dan peradaban masyarakat yang lebih tua dan lebih dahulu eksis dan berkembang di Nusantara, jauh sebelum patriarki dan revolusi industri menguasai kehidupan dan dilegalkan sebagai budaya dunia. Seperti disebutkan di atas kearifan lokal juga mengatur hubungan antar manusia dengan mengedepankan nilai etika moral dan  dan etis. Perempuan dan laki-laki menjadi pelaku utama dalam praktek hubungan antar manusia. Praktek kearifan lokal adalah sisa dari warisan budaya sebelum religi dari luar dan penjajahan barat menguasai dan mempengaruhi pola praktek nilai-nilai. Nilai patriarki sendiri adalah nilai yang erat dengan konsep seksualitas di masyarakat Barat khususnya dengan nilai Kristen dan Yahudi, dimana konsep seksualitas yang ditawarkan Sigmund Frued lahir dalam nilai tersebut. [13]

Pada kondisi Indonesia kini, mempertentangan kearifan lokal dengan patriarki sesungguhnya hal yang tidak sulit. Secara semangat patriarki melahirkan industry kapitalis yang kini menglobal dan cenderung melahirkan monoculture, konsumerisme. Tekanan industri juga telah menggeser nilai rohani dan bathin yang mengedepankan kebaikan, menjadi meninggikan nilai materil. Globalisasi dan industrialisasi memaksa terjadinya monoculture. [14] Globalisasi adalah kata halus dari penyerreligin keseluruhan sistem sosial, ekonomi, politik dan budaya yang disponsori oleh negara Barat (baca Amerika Serikat dan kroninya) untuk memuluskan tujuan penguasaan dunia atas kehendak segelintir orang. Globalisasi juga yang merasuk sebagai wacana diantaranya menggeser makna sejahtera bukan pada kebahagiaan individu namun dengan tolok ukur jumlah konsumsinya. In welfarist approach, living standards are typiccally determined by aggregating “expenditures on all goods and services consumed, valued at appropriate prices, including comsumption from own production [15]

Beruntung Indonesia monoculture sulit menjadi, dikarenakan sejak berdirinya Negara, pengakuan keberreligin telah dipermanenkan, dan otonomi daerah telah membuka peluang semakin mencuat heterogen dalam hal ekspresi seni budaya. Meskipun Negara (baca Menteri Keungan) menggunakan standar konsumsi untuk menentukan kesejahteraan dan tingkat pertumbuhan, realitas masyarakat tetap mempunyai berbagai cara dan ketetapan untuk menilai dan meningkatkan kesejahteraan dirinya sendiri. Meski begitu monoculture dalam konteks industri yaitu konsumerisme dan budaya popular yang dibroadcast melelui acara popular televisi (sinetron) turut mempengaruhi tergusurnya nilai positif kearifan lokal, dan menjadi tantangan kita bersama.

Sistem nilai patriarki sebagai serapan masuk melalui akulturasi dengan pendatang pedagang, maupun oleh penguasa penjajah. Bila di Nusantara perempuan menjadi pemimpin diberbagai wilayah hingga pada tahun 1700an, maka di negara Barat, khususnya penganut ajaran Yahudi Kristen, umumnya para perempuannya mengalami kondisi ketertindasan dalam hal ketiadaaan haknya sebagai manusia maupun warga negara. Negara barat khususnya Inggris meskipun mempunyai seorang Ratu Perempuan Victoria yang memerintah hingga awal abad 19, kondisi perempuan Inggris jauh dari memiliki hak-hak sebagai manusia publik.

Secara khusus nilai kearifan lokal disini bukanlah nilai yang diadopsi dari ajaran religi yang kini melembaga (Islam dan Kristen) melain suatu nilai kebudayaan keseharian hidup manusia di Nusantara, baik bersifat individu, kelompok maupun dalam struktur masyarakat. Bahwa pada berbagai praktek kearifan lokal merupakan gambaran sinkretisme yang tujuannya tetap bagi kebaikan dan kesentosaan bersama.

Pada praktek kehidupan keseharian masyarakat Indonesia, sejatinya kemiskinan bukanlah suatu yang disebabkan oleh individu namun suatu tata kelola bersama yang tidak sesuai dengan kearifan lokal. Bahwa pandangan tentang banyaknya orang miskin di berbagai wilayah pedalaman dan dalam masyarakat yang menganut tradisi secara kuat bukanlah suatu kondisi yang terjadi begitu saja. Tata kelola pembangunan, bentuk dan system hokum yang diterapkan seringkali bertentangan dengan kearifan lokal yang telah dijalankan dari generasi ke generasi, dan kearifan lokal tersebut telah mampun menjaga keseimbangan tatanan hubungan antara manusia, alam dan seluruh mahluk dalam lingkup ekolongi.

  • Setara vs Hegemoni

Pada praktek kearifan lokal kesertaan perempuan dan laki-laki adalah bernilai sama, yaitu semua dapat berpartisipasi dengan porsi dan posisi sesuai pakem berlaku. Tidak ada yang lebih berkuasa atau lebih bermartabat melainkan sesuai peran dan tingkatan fungsinya.

  • Dominan vs Affirmasi

Praktek kearifan lokal merupakan ciri dan karakter asli bangsa Indonesia yang mewarisi kearifan bersosial berbudaya bagi kesejahteraan bersama. Pada prakteknya perempuan dan laki memiliki keterikatan atas Leluhur dan  “Supra Power” “Yang Maha Kuasa” secara langsung sesuai dengan pengertian dan pemahaman yang bersifat personal. Pada setiap doa dan mantra, semua peserta upacara/adat kearifan lokal tunduk pada kekuatan Yang Maha Kuasa yang dipahami struktur bathin “Deep Structure”

  • Tidak ada pemisahan: Matter vs Spirit atau Androsentris vs Androgyn

Pada praktek kearifan lokal, biasanya para ibu dan perempuan muda melaksanakan kegiatan terkait upacara, ataupun adat dengan keikhlasan dan kerelaan serta kebanggaan menjadi bagian dalam pelaksanaan tradisi. Meskipun ada ‘ancaman’ misalnya bila tak mengikuti atau hadir dalam upacara tertentu akan terjadi hal buruk atau bencana

  • Tidak ada Kuasa vs Peran Laki-laki dan Perempuan

Pada praktek kearifan lokal yang diamati penulis, sesungguhnya tidak ada pembagian kuasa yang rigid antara perempuan laki-laki. Peran dan fungsi ada disebabkan pola dan pakem yang telah ditentukan secara turun temurun dan memiliki nilai lebih tersendiri. Ketiadaan petunjuk tertulis mengenai berbagai praktek kearifan lokal bukanlah bearti tidak ada. “Mitos” dan legenda adalah bagian dari petunjuk yang bisa diselidiki lebih lanjut, terutama untuk menemukan berbagai tata cara dan tata kelola yang berjalan dan didasari praktik turun temurun.

  • Praktek nilai menguntungkan kalangan tertentu vs Menguntungkan semua

Praktek kearifan lokal menempatkan Yang Lebih Tinggi sebagai suatu Yang Tinggi, sehingga praktek kearifan lokal dipercaya, dilaksanakan. Pada titik ini meskipun sekilas Nampak bahwa rasionalitas belakangan, believe terlebih dahulu, hal tersebut tetaplah merupakan suatu bentuk keyakinan atas Kebaikan bersama , Harapan Bersama dan buah dari itu semua adalah kebaikan bersama dan Kesejahteraan bersama. Praktek ini diantaranya nampak jelas pada acara menjelang tanam tanaman pangan dan panen.

  1. Revitalisasi Kearifan Lokal dan Siasat Penanggulangan Kemiskinan

Kearifan lokal dapat menjadi salah metode bagi penanggulanan kemiskinan dengan melalui penerapan di masyarakat melalui:

  1. Praktek kearifan lokal didukung oleh system resmi pemerintahan baik ditingkat rendah  (Rukun Tetengga, Rukun Warga dst) maupun institusi pemerintahan yang lebih tinggi
  2. Praktek yang berlanjut dan mendapat dukungan kalangan akademik maupun praktisi pemberdayaan masyarakat sehingga praktek yang dilaksanakan dilakukan dengan penuh berkesadaran dan pengertian yang rasional maupun spiritual
  3. Prakek yang sudah ada mendapat dukungan bagi penerapan dan implementasi di masyarakat melalui legalisasi peraturan daerah berbagai tingkatan, terlebih lagi jika di daerah telah ada Perda Gubernur yang member ruang bagi pelaksanaan kegiatan lokal/adat
  4. Perlunya kajian mendalam mengenai berbagai bentuk kearifan lokal yang menyertakan perempuan dan laki-laki, karena sebagaimana premis yang saya ajukan, bahwa apa yang dipraktekkan sebagai kearifan lokal, apabila membawa ketidak adilan bagi kaum perempuan, maka hal tersebut bukanlah keasilian dari kearifan lokal itu sendiri, melainkan modifikasi karena pengaruh luar.

Kearifan lokal yang dipraktekkan diberbagai daerah berikut ini menggambarkan variasi hubungan antar manusia, alam dan mahluk lainnya:

  • Peger Keben, Aceh Tengah Gayo, Nangroe Aceh Darussalam

Pada praktek peger keben setiap pasang suami-istri diwajibkan menanami halaman rumahmya dengan berabgai jenis palawija singkong, labu kuning, jagung, sayuran dan tanaman buah. Juga diamanahkan untuk memelihara itik, ikan, dan  ayam serta ternak lainnya.[16]

Dengan adanya peger keben masyarakat Gayo telah mempunyai metode ketahanan pangan untuk tidak tergantung pada beras. Disamping itu lahan kosong pun dimanfaatkan untuk menanam tanaman sayur yang bisa dimanfaatkan bersama.

  • Usabha Sambah, Desa.Tenganan Pegrisingan, Karang Asem, Bali

Awig-awig atau aturan adat dalam menjalankan fungsi desa, antara lain:

–          Larangan menjual tanah dalam kompleks desa

–          Empat jenis tanaman yang tidak dimiliki pemilik kebun melainkan milik desa adat (durian, teep, kemiri dan pangi

–          Hutan yang mengelilingi desa tidak boleh diambil kayunya, hanya boleh mengambil ranting atau kayu yang sudah jatuh dari pohonnya atau pohonnya tumbang

  • Umbun, Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan

Penduduk pegunungan Meratus-Banjar mengenal Umbun sebagai satuan pokok wahana pelaksanaan otonomi.

“Pertanian dan perladangan melibatkan tanggung jawab laki-laki dan perempuan; umbun hampir selalu dilaksnakan oleh seorang laki-laki dan permpuan. Ebagian besar adalah suami-istri, tetapi ada juga saudara laki-laki dan perempuan, nenek dan cucu laki-laki atau kombinasi lainnya. Umbun meliputi berbagai individu yang masih tergantung yang tidak ikut dalam pelaksanaan umbun, yakni antara lain anak-nakan, anak-anak yang baru kawin, dewasa yang cacat atau janda. Mereka yang masih tergantung khususnya dewasa dan anak-anak yang orangtuanya bercerai atau meninggal.”[17]

PENUTUP

Segala paparan mengenai kearifan lokal diatas diharapkan dapat memacu para perempuan se- Indonesia untuk mulai mendokumentasikan kearifan lokal yang dipraktekkan baik dari tingkat keluarga terkecil sebagai individu perempuan hingga masyarakat yang lebih luas.

Pendokumentasian berbagai kegiatan diharapkan dapat menjadi wadah kompilasi pengetahuan yang tidak hanya sudah dipraktekkan dan memiliki manfaat bagi masyarakat, namun dapat dikembangkan untuk tujuan lebih luas dan mulia. Kearifan ajaran leluhur dalam kearifan lokal adalah jalan masuk bagi perjuangan kesetaraan gender, ketimbang menggunakan konsep dan istilah serta terminologi yang berasal dari luar negeri sehingga asing, bahkan sulit diterapkan alangkah baiknya untuk mencoba menggali potensi sendiri dari lingkungan sendiri yang sudah ada dan siap untuk dikembangkan bagi penghapusan pemikinan perempuan

Kearifan  lokal yang sudah dipraktekkan dapat memiliki efek positif tidak hanya terhadap pencegahan, penghapusan pemiskinan perempuan namun juga berdampak pada penghapusan kemiskinan secara umum. Contoh model desa Bali Aga, secara prinsip dapat dijadikan pelajaran bagi diterapkannya suatu system pengelolaan desa/dusun bersama bagi wilayah-wilayah lain. Atau contoh kedaulatan pangan seperti yang dipraktekkan di Aceh, dapat ditransformasikan sebagai pengetahuan yang dapat dipraktekkan di tempat lain.

Adakah perbedaan signifikan tentang cara-cara praktek nilai kearifan  lokal yang dilakukan antara perempuan dan laki-laki, pembagian peran dalam implementasi kearifan lokal. Adakah perbedaan cara/tindak laki-laki dalam implementasi kearifan lokal sehingga praktek tersebut dapat dikategorikan diskriminasi (bertentangan dengan CEDAW), dan melanggengkan pemiskinan perempuan. Adakah Regulasi nasional dan daerah yang memberi peluang untuk mendorong kelangsungan kearifan lokal tanpa menimbulkan masalah baru terkait wewenang, dan keuangan. Adalah suatu kerawanan tersendiri bahwa dibanyak daerah kearifan lokal dipahami hanya sebagai bagian dari, seni, adat dan budaya kalangan masyarakat adat dan hukum adat, padahal tidak selalu begitu.

Pemiskinan diakibatkan suatu pelaksanakan kerja Negara dan pemerintah Indonesia yang menempatkan politik ekonomi social budaya yang mengikuti arus wacana global, dan seringkali bertentangan dengan kearifan lokal. Diantara berbagai ajaran dari warisan leluhur adalah tentang pentingnya mengedepankan nilai-nilai yang berlaku bagi semua kelas, semua golongan, semua jenis kelamin, yaitu:

–          Ttradisi tolong menolong

–          Tradisi gotong royong

–          Memberi menerima dari kepada masyarakat

–          Punya penghargaan atas nilai: kejujuran, kepercayaan/trust dan keberanian

Revitalisasi nilai tersebut bukan dan tidaklah harus yang terkait dengan ajaran religi manapun karena nilai ini telah berjalan dan hidup dimasyarakat Indonesia. Sehingga untuk memulai kembali kebangkitan perempuan dan melepaskan dari belenggu kemiskinan maka yang perlu diupayakan adalah kembali kepada posisi dahulu, ketika Indonesia benar-benar nyata tidak miskin dalam arti ilmu pengetahuan leluhur dahulu telah ada dan mungkin diaplikasikan kembali untuk membuktikan:

–          Kondisi Pemiskinan bukanlah ciri permanen, baru terjadi

–          Pemiskinan adalah akibat penjajahan, kemerdekaan yang belum berdaulat tidak ada kedaulatan dan demokrasi yang berjalan kini belum mengenali dan mengidentifikasi kearifan lokal sebagai asset dan potensi

–          Pemiskinan perempuan bukanlah ciri  dan karakter bangsa

–          Distribusi kekuasaan antara berbagai kelas sebagai faktor penentu kemiskinan telah berjalan cukup adil di masa lalu

–          Sistem nilai yang berjalan sekarang dipengaruhi oleh nilai barat: Male Dominated phallus centris

–          Tata kelola alam yang baik, pembagian peran di keluarga yang baik dan serta pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat telah ada pada masa dahulu

Didalam masyarakat terkecil didesa, dimana pola-pola perilaku dan ekspresi-ekspresi kolektif yang berkembang secara alami sepanjang sejarah masa lampau budaya real akan selalu menampakkan diri secara lebih jelas dan dominan daripada budaya ideal. Ideal dalam arti norma baku dalam prilaku kehidupan manusia. Adalah pelajaran bagi perempuan untuk turut merajut kembali kekuatan perempuan dalam budaya real menjadikan diri sebagai pengemban aktif perubahan ke arah yang lebih baik kesejahteraan seluruh rakyat. Sebagaimana telah saya tulis dalam Women’s Local Culture Preserve National Identity, maka kiranya kearifan lokal dapat mengejawantah dalam perilaku yang menunjukkan bahwa identitas nasional bangsa Indonesia apabila tetap diteguhkan dan diejawantahkan akan mampu menghalau pemiskinan. Kiranya  bangsa Indonesia dapat kembali ke jalur aslinya, dari akar budayanya dari apa yang disetujui  bersama para pendiri Bangsa, pada 1945 tentang keadilan dan kemanusian tentang bhinneka tunggal ika. @Umi Lasminah

Daftar Pustaka

  1. John Haba, Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konfrlik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso., Jakarta: ICIP dan European Commission, 2007.

2. Narayan Deepa and Patti Petesch “Agency, Opportuniy Structure and Poverty Escape”  in Moving Out of Poverty, Cross Disciplinary Perspectives on Mobility Deepa Narayan and Patti Petesch, editors.

3. Slamet Muljono,. Tafsir sejarah NagaraKretreligi.,Yogyakarta:LkiS. 2006

4.John Haba, Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konfrlik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso., Jakarta: ICIP dan European Commission, 2007.

5.Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978.

6.Djoko Promono., Budaya Bahari Pemda Sulsel, dinas pariwisata , Jak.Gramedia, 2005

  1. P.Robinson, The Modernization of Sex., New York: Harper and Row, 1976.
  1. Vandana Shiva, Captive Minds Captive Lives Ethics, Ecology and Patents on Life..New Dehli. Research Foundation for Science, Technology and Natural Resources Policy. 1995.
  1. Martin Ravallion, Living Standar Measurement Study, No.88, 1992
  1. Anna Lowenhaupt Tsing,”Dibawah bayang-bayang Ratu Intan, Proses Marjinalisasi Pada Masyarakat terasing”. Jakarta.Yayasan Obor Indonesia 1998

Website

  1. http://bundokandung.wordpress.com., diakses 10 Agustus 2012
  2. dan GregetNuswangara.groups.facebook.com
  3. http://kuliahhukumperikatan12.blogspot.com/2012/03/perikatan-tanggung-renteng.html
  4. http://indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja/article/148/pasar-bolu-dan-pasar-makale-jejak-budaya-dan-peradaban-di-pasar-tradisional-toraja
  5. http://Kompasiana.com Kearifan lokal peger keben antisipasi krisis pangan

[2] Narayan Deepa and Patti Petesch “Agency, Opportuniy Structure and Poverty Escape”  in Moving Out of Poverty, Cross Disciplinary Perspectives on Mobility Deepa Narayan and Patti Petesch, editors.

[3] Slamet Muljono,. Tafsir sejarah NagaraKretreligi.,Yogyakarta:LkiS. 2006

[4] John Haba, Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konfrlik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso., Jakarta: ICIP dan European Commission, 2007.hal.11

[5] Pada masyarakat Batak perubahan antara kekerabatan menurut garis ibu menjadi garis bapak melalui permusuhan dan pertumpahan darah. Hal ini dimulai dengan mengubah tebusan atas perempuan yang dibawa pergi laki-laki menjadi harga pembelian. menurut Kutipan Bab II,  M.H Nasoetion gelar Soetan Oloan, “Kaum Wanita dan Sistim Marga” De Plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij, dissertatie Uttrecht 1943, “ dalam Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978.,  Hal.6

[6] P.J Veth “Pemerintahan oleh Wanita di Kepulauan Nusantara”. Dalam Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978.,  hal.236-237

[7] http://bundokandung.wordpress.com., diakses 10 Agustus 2012

[8] P.J Veth “Pemerintahan oleh Wanita di Kepulauan Nusantara”. Dalam Maria Ulfah Subadio, T.O Ihromi ed.., Peranan Kedudukan Wanita Indonesia., Yogyakarta: Gajah Mada University 1978 hal.232

[12] . Prosesi dilengkapi dengan tari-tarian, petugas khusus penambuh gendang dan gong (awak-awak). Tak jarang peserta upacara biasanya perempuan mengalami keadaan tak sadar diri (trance) karena kerasukan roh halus. Penawarnya: ngibaskan batang pinang, diasapi kemenyan dan diperciki air. Djoko Promono., Budaya Bahari Pemda Sulsel, dinas pariwisata , Jak.Gramedia, 2005 Hal.143.

[13] P.Robinson, The Modernization of Sex., New York: Harper and Row, 1976. p.vii

[14] Vandana Shiva, Captive Minds Captive Lives Ethics, Ecology and Patents on Life..New Dehli. Research Foundation for Science, Technology and Natural Resources Policy. 1995. Hal. 161

[15] Martin Ravallion, Living Standar Measurement Study, No.88, 1992, hal. 7

[16] http://Kompasiana.com Kearifan lokal peger keben antisipasi krisis pangan

[17] Anna Lowenhaupt Tsing,”Dibawah bayang-bayang Ratu Intan, Proses Marjinalisasi Pada Masyarakat terasing”. Jakarta.Yayasan Obor Indonesia 1998 hal.86