Di masa lalu kepeminpinan tidak pernah menjadi isu gender, khususnya dimasa sebelum 500 tahun yang lalu. Bangsa Nuswantara (kini Indonesia dengan termasuk Philipina, Malaysia, Australia, Thailand, Kamboja).  Nuswantara pernah memiliki Maharatu (Ratu yang memakai nama Maha adalah Raja Perempuan yang kekuasaannya se alam raya/ semesta).

Tulisan ini tak bermaksud hanya sebagai nostalgia belaka, hanya sekedar mengingat saja, tetapi sebagai inspirasi, dan mentransformasikan pengetahuan tentang sejarah dunia, dan nasional yang selama ini salah total. Salah total dalam arti, banyak dari sejarah masalalu yang tidak diajarkan, atau disembunyikan, atau dilencengkan dari keasliannya. Misalnya tentang Maharatu Shimahawan (Ratu Shima) beliau bukanlah ratu biasa yang hanya memerintah kalingga, namun kalingga adalah Nama Ibukota dari kerajaan Medang Kamulyan atau dikenal dengan Lemuria yang kekuasaannya hingga ke Rusia dan Jepang. Buktinya antaralalin di Jepang banyak nama kota berakhiran shima dan di Rusia ada desa bernama Selo Bimo,  perempuan sebagai penguasa yang mengayomi, melindungi dan mensejahterakan rakyat Nuswantara bukanlah hal yang asing. Ada banyak Maharatu Perempuan yang berjaya menguasai Salaka Nagara (Se Alam-Raya) beliau diantaranya adalah Sitawaka (Maharatu yang menjadi Ratu Kerajaan Matswapati di Sumatera karena beliau ketitisan Dewi Sri, maka dikenal sebagai Sri Wijaya).

Disamping itu, di masa yang lebih muda lagi, ada adipati Perang yang menjaga wilayah, mengatasi kejahatan yang mengganggu ketentraman seperti Adipati Mayarukmi, Adipati Dewi Rengganis, Dewi Lanjar, Dewi Kadita dan lain-lain.

Dan yang paling penting adalah pada masa Nuswantara jaya, dahulu tidak ada poligami. Hal ini karena suksma manusia mulia, maka suksma sejati akan mencari paasangan dan menemukan pasangan bagi suksma sejatinya. Mereka yang poligami adalah perkecualian dan sangat sedikit, dan tidak layak ditiru. Adapun raja-raja sesudah Majapahit surut berpoligami itu karena sudah tidak menganut lagi ajaran Leluhur. Pada saat Majapahit masih menjadi pengayom Nuswantara dan luar negeri, negara-negara yang menginduk memuliakan perempuan. Namun hal tersebut berubah manakala terjadi masuknya ajaran yang tidak lagi menjalankan ajaran Leluhur, sehingga perempuan mulai dipoligami, dihina dan ditindas, bahkan dijauhkan dari kemuliaan sebagai manusia keturunan Dewi/Dewa.

 

Advertisements