Kemarin tepatnya, kamis,  4 Juli, 2013 saya berkesempatan menonton teater Satu Merah Panggung yang dipimpin Ratna Sarumpaet mementaskan Titik Terang: Sidang Rakyat Dimulai…di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Pementasan teater berdurasi lebih dari dua jam tersebut menurut penilaian saya sebagai penikmat kesenian bagus. Menunjukkan konsistensi Ratna Sarumpaet dalam berkesenian, bahwa berkesenian dapat menjadi wahana estetika (melalui dialog-dialog yang puitis dan padat makna) namun sekaligus memiliki nilai sosial politik sehingga teater menjadi wahana seni realis yang kritis terhadap kondisi kekinian bangsa.

Ratna Sarumpaet adalah perempuan yang gigih berktitikterangsidangrakyatarya dan memperjuangkan apa yang dipercayanya bagi kepentingan rakyat banyak. Contoh perempuan dapat menunjukkan dan berkreatif walauberusia sudah lebih dari 60tahun. Karya-karya naskah teater dan filmnya yang tajam dan dalam, tetap dapat dinikmati dan diresapi oleh mereka yang mendambakan keadilan dan kesejahteraan terjadi di Indonesia.

Lakon Titik Terang tidak memaparkan cerita seperti membaca poskota yang dipentaskan, saya pernah mengalami itu saat menonton suatu teater dari dramawan terkenal, yang anehnya dipuji bagus dikoran Kompas, namun saat saya menyaksikan…sama seperti membaca koran kuning, saya pun keluar dan meninggalkan pertunjukkan. Lakon Titik Terang membahas apa yang terjadi kini dari kacamata seorang Ratna Sarumpaet yang memendam kesedihan, kegalauan luar biasa atas apa yang terjadi pada rakyat Indonesia. Keberpihakan Ratna Sarumpaet atas rakyat itulah yang memampankan konsistensi lewat pertunjukkan ini.

Di lakon Titik Terang, kita mendengar fakta jeritan rakyat yang diluapkan secara teaterikal: buruh, tkw, korban perdagangan orang, korban gusuran, pekerja seks, aktivis, bahkan anak koruptor. Bagaimana kalimat paling keras antara lain: “Menghentikan Penderitaan dan Sakit Rakyat adalah hanya melalui Kematian”. Ada juga kritik keras terhadap partai, dan undang-undang yang dibahas di DPR.

Menonton Titik Terang sama dengan menonton Statement Politik Ratna Sarumpaet, banyak orang dapat bercermin darinya, banyak juga yang tidak sepakat. Namun secara garis besar, ini adalah pertunjukkan yang dapat menjadi Titik Terang, bahwa pandangan politik, pemikiran kritis, dapat dipentaskan, didengungkan untuk mengelitik pikiran dan mendorong aksi.

Sidang Rakyat merupakan ungkapan kritis atas realitas, bahwa Indonesia adalah Negara yang tidak memiliki Dewan Rakyat Tertinggi (Majelis).  Dalam sidang Rakyat dikemukakan pula tuntutan rakyat atas pengembaliaan hak-hak rakyat sesuati Konstitusi.

Di awal pementasan Ratna Sarumpaet tampil sebagai sesosok ibu tua yang merekam penderitaan rakyat, di akhir teater ada harapan dari seorang bahwa semua dapat diubah, titik terang dapat digapai dengan Satu Kata Lawan!

Saya tidak bermaksud mengupas dan mengktitik bentuk teaterikal, panggung, atau kemampuan para aktor. Semuanya biasa saja, tak ada yang istimewa, namun harus diakui semua dialog yang panjang pastilah tidak mudah. Atikah Hasiholan mengambil perhatian penonton dengan akting-nya sebagai Pekerja Seks yang berdialog langsung dengan penonton. Maryam Supraba berhasil menarik perhatian dan membuka mata hati penonton bahwa Anak-anak Para Koruptor dapat juga menjadi korban… Kata-kata yang diucapkan oleh Maryam Supbraba yang merasa hina karena darahnya, kulitanya dialiri penderitaan para buruh, keringat petani adalah suatu gambaraan luar biasa bagaimana Korupsi menembus batas jatidiri kemanusiaan.

Layak ditonton.

@wartafeminis

Advertisements