0161939JawaHari Ibu yang diperingati Sebagai Hari Nasional bukan hari libur berdasarkan Keppres No.316 tahun 1959 sebagai penghargaan pada perempuan sebagai ibu dan sebagai tanda penghargaan Negara atas sumbangsih dan partisipasi perempuan didalam perjuangan menuju kemerdekaan bangsa.

Hari Ibu mulai ditetapkan oleh para perempuan yang berkongres  pada Kongres  tahun 1938 dengan Menetapkan Hari Ibu Bangsa dan dengan semboyan Hari Ibu Merdeka Melaksanakan Darma dan dipilih bunga melati.

Semangatperjuangan kaum perempuan Indonesia tersebut sebagaimana tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya, yangmenggambarkan:
1.Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak;
2. Kekuatan,kesucian antara ibu dan pengorbanan anak;
3. Kesadaran wanita untuk menggalang kesatuan dan persatuan, keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsa dan negara
Semboyan pada lambang Hari Ibu Merdeka Melaksanakan Dharma mengandung arti bahwa tercapainya persamaankedudukan ,
hak,kewajiban dan kesempatan antara kaum perempuan dan kaum laki-Iaki merupakan kemitra sejajaran yang perlu diwujudkan
dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan,kemajuan dan kedamaian bangsa
Indonesia.

Mengenai penetapan Hari Ibu Bangsa tersebut, sesuai dengan putusan Kongres tahun 1935 yaitu “Perempuan Indonesia berkewajiban berusaha supaya generasi baru sadar akan kewajiban kebangsaan: ia berkewajiban menjadi “Ibu Bangsa”, sebagaimana dikutip dari https://wartafeminis.com/2008/03/04/kongres-perempuan-indonesia-sebuah-gerakan-perempuan-1928-1941-2/

Penekanan pada bagian yang menjadi ciri feminin dan sifat perempuan seperti kasih sayang, keibuan, pengorbanan adalah sebagai pilihan strategis saat itu, mengingat segala kegiatan kumpulan orang dapat dikategorikan gerakan politik, maka para perempuan di tahun-tahun penjajahan pun membungkus gerakan politiknya dalam konteks ‘ibu’ yang tidak mengancam, tidak politis. Hal ini juga dilakukan pada saat 1998 gerakan menurunkan Orde Baru kalangan perempuan dalam Suara Ibu Peduli.

Jelas sekali bahwa meski masa kolonial, ketika bangsa Indonesia secara keseluruhan berada dalam penjajahan dan tidak memiliki keleluasaan atas kehidupan politik (bebas mengemukakan pendapat/demonstrasi, berorganisasi) , perempuan Indonesia mampu mensiasati diri dan menempatkan dirinya sebagai bagian keseluruhan bangsa dan tidak tinggal diam. Gerakan perempuan pada masa kolonial ini akan selalu menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk selalu mencari cara bagi memajukan diri bersama sama bergotongroyong dan bahu membahu.

Kongres Perempuan Indonesia 22 Desember 1928, menjadi tonggak bersatunya berbagai organisasi perempuan yang tumbuh sebelum Indonesia merdeka, setelah Indonesia merdeka menjadi KOWANI, Kongres Wanita Indonesia yang menjadi payung kordinasi berbagai organisasi perempuan di Indonesia dan tetap menggunakan lambang hasil penetapan Hari Ibu 1938.

Advertisements