Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

October 2014

Jadi Baik itu Mudah

Jadi baik itu mudah, sederhana dan mudah. Bukan hanya tersenyum kepada orang lain, ada lagi. Siapapun bisa melakukannya. Menyisihkan sedikit tenaga bagi orang lain. Mengurangi  sedikit rejeki bagi orang lain. Mengurangi beban orang lain. Jadi baik juga tak selamanya. Karena manusia juga tak selamanya mendapatkan peluang jadi baik. Sebagaimana jantung, tak selamanya manusia hidup buruk atau selamanya baik. Naik turun.

Anda seorang bos, apabila setiap hari dibuatkan teh atau teh, bisa dicoba hari ini tidak perlu, terutama bila pembantu anda itu juga membuatkan kopi  dan teh buat karyawan lain. Hari ini anda buat kopi/teh sendiri. Atau bisa saja ketika ada berulang tahun, anda terbalik, membuatkan pembantu atau office boy/girl kopi. Anda tahu, pasti hari itu tak akan dilupakan olehnya seumur hidup.

Anda seorang tukang ojek, di malam hari pukul 22.00 lebih ada seorang ibu yang akan pulang ke rumahnya. Ingin meyewa ojek jaraknya tak terlalu jauh. Selayaknya anda tidak mematok harga tinggi. Anda tahu anda dibutuhkan, namun berusahalah dengan normal. Tahu anda dibutuhkan dan malam hari anda mahalkan harganya. Jika dia menawar ke  harga normal berikanlah. Hitung-hitung anda membantu mengantar perempuan ke tempat yang dituju dengan selamat tanpa anda dirugikan usahanya.

Berbuat baik pada orang yang tidak dikenal

Anda seorang yang sering berkunjung ke mal atau bioskop. Anda tahu ada mereka yang melayani anda di counter tiket, penjaga pintu, penjaga toilet atau penjual kudapan. Anda tinggal memilih kepada siapa kebaikan anda akan diberikan pada hari itu. Memberi tips bisa, memberikan makanan bisa. Memberi tips pada penjaga pintu toilet walau hanya Rp.10.000 telah membuat hatinya senang sepanjang hari. Mungkin akan diceritakan kesenangannya pada keluarga atau teman. Tapi bagi anda berapa nilai uang Rp.10.0000 nah mudah sekali kan untuk menjadi baik.

Anda juga bisa melakukannya terhadap tukang parkir yang mengatur posisi mobil, yang memberikan tiket parkir, atau kepada satpam yang menjaga.

Buat anda orang biasa yang biasa naik bis, naik transjakarta. Bisa juga anda memberi tips kepada penjaga pintu, kepada penjaga tiket.

Bisa juga membeli dagangan dari pedagang asongan dan memberikan kembalian pada mereka.

Terikait-tips tips atau pemberian di tempat-tempat yang pengaturan pengumpulan Tips, berarti rejeki seseorang berdampak kolektif. Namun ada rejeki seorang untuk dirinya sendiri. Itulah rejeki antar manusia.

Tidak saling Mengenal namun bisa saling mengembirakan. Anda gembira karena telah memberi dan membuat oran glain senang. Yang menerima lebih senang lagi.

@Umi Lasminah, 29Oktober 2014

Past is Past

Past is past not to forget but celebrate as a source of happiness in the future; You can’t exchange the past and experiences even with billions of money. But You can transcend it to brighter future, and You can always enjoy today as to-day-not past-day. Today is what you are presenting and share your heart and mind to whom he/she closest to Yours. Be joyful, share the joy, it wil create a beautiful thing, IT will echo to outer and greater.
@UmiJanuary 26 at 11:45pm

Kisah Panji Laras dan Panji Semirang

Kisah ini terjadi di Jaman Kali Yoga di Kala Praniti

Dimulai saat Mahaprabu Airlangga menjelang surut, maka putri sulungnya Sanggrama Wijaya Jaya Wardani atau Putri Kilisuci menggantikannya. Namun disebabkan putrinya (Sanggrama Wijaya) mandul (Kedhi),maka kratonnya akhirnya disebut Kraton Kedhi Putri yang lalu dikenal dgn nama Kuripan. Pada saat pas di wuku sungsang Sanggrama Wijaya mendapat wangsit yg bisa menyembuhkan dirinya adalah seorang pangeran dari Jambudipa (Kalimantan bukan di india) maka beliau mohon pamit ke pertapaan Resi Airlangga.

Putri Kilisuci lalu pergi ke Jambudipa dengan kapal laut. Karena beliau berdiri di anjungan depan maka dari daratan kapal kadangkala kelihatan dan muncul dan kadankala tertutup ombak, maka oleh Pangeran Aswawarman yang sedang bertapa di tepi pantai diberi julukan Dewi Timbul Buih, dan tempat mendaratnya Dewi Kilisuci dinamakan Balikpapan.

Sementara di Kedhiri Mahaprabu Airlangga serba bingung disebabkan kedua anak lakinya selalu bermusuhan dan tidak bisa rukun. Maka beliau memerintahkan Mpu Bogorpradah (Mpu Bharada) membagi Kedhiri menjadi 2 kerajaan yaitu Panjalu di barat sungai Gangga (sungai Brantas) dipegang oleh Mahapanji Lembu Amiluhur, dan di sebelah timur Gangga dinamakan Jenggala Manik dan dipegang oleh Mahapanji(Mapanji) Lembu Amiseno. Sejak diperlebar dan dibagi dua oleh Mpu Bogorpradah maka nama sungai diganti menjadi Brantas (untuk memberantas perang saudara), namun perang tetep tidak bisa dihindarkan. Disebabkan oleh kehebatan mpu Bharada tak ada pasukan yang bisa menyebrang sungai Brantas. Maka Lembu Amiseno mengutus Pangeran Inukertapati menyusup ke Panjalu, dan saat menyusup sempat ketahuan pasukan Panjalu dan dikejar. Beliau Inu Kertapati lari ke arah kepatihan, dan saat itu ketemu Dewi Anggraini Sekarjati (bukan Sekartaji) putri dari Mahapatih Panjalu Kudarawarsa. Terpikat kecantikan Dewi Anggraini, maka Raden Inukertapati dengan senanghati melaksanakan tugas  memata-mataii Panjalu.

Suatu ketika ketika Raden Inukertapati pulang dari kepatihan di Panjalu, ia ketahuan oleh salah satu penjaga kepatihan dan dilaporkan ke Mapanji Lembu Amiluhur. Hal ini menyebabkan Mapanji Lembu Amiluhur marah besar dan mengeksekusi seluruh keluarga Mapatih kudarawarsa termasuk Dewi Sekarjati.

Kejadian ini, terbunuhnya Dewi Sekarjati membuat shock Panji Laras putra Mapanji Amiluhur.  Dewi Sekarjati adalah teman baik Panji Laras dari kecil, maka beliau marah terhadap orang tuanya dan pergi meninggalkan kraton.

Sementara itu ketika Panji Inukertapati datang ke Panjalu dan tidak menemukan Dewi Sekarjati beliau bertanya ke beberapa masyarakat.  Setelah tahu peristiwa yang terjadi, beliau sangat kecewa dan pulang ke kasatriannya. Raden Inukertapati  sangat shock atas kejadian tersebut dan sangat merasa bersalah. Sejak saat itu kastriannya lalu dinamakan kraton Gegelan(kecewa). Dikarenakan salah ucap jadi Gegelang atau Gagelang, dan beliau dinamai Panji Sumirang (seorang pembuat wirang/malu dengan tingkah lakunya seperti orang gila). Lalu Raden Panji Inukertapati memilih pergi dari istana dan masuk ke hutan.

Disana beliau bertemu dengan Panji Laras dan mereka sepakat tidak akan mau pulang jika kedua orang tuanya masih berperang. Maka dengan sangat terpaksa Mapanji Lembu Amiluhur dan Mapanji Lembu Amiseso berdamai, dan memerintahkan Mpu Bharada agar mencari kedua putra mahkota.
Ketika akhirnya Mpu Bharasa bertemu keduanya, tak satupun  bersedia menjadi raja. Maka Panji Inuikertapati dibujuk mpu Bharada agar memindahkan pusat pemerintahan ke Galuh, dan Mpu Bharada berjanji jika Panji Inukertapati bersedia menjadi Mapanji (Raja) maka akan bisa bertemu Dewi Sekarjati lagi.

Atas usulan Mpu Bharada tersebut  Inu Kertapati dan Panji Laras bersedia pulang. Inu Kertapati kemudian menjadi Mapanji di Galuh (Bogor) bergelar Mapanji Kudawaneng Pati.

Ketika sedang berbicara berdua dengan Panji Laras di taman istana tepat di bulan purnama penuh, tiba-tiba arwah Dewi Sekarjati masuk ke Panji Laras dan berbicara “Masih ingat aku apa tidak kakang….aku Anggraini”. Peristiwa itulah yang dikenal dengan Galuh Candrakirana, yang artinya Bulan Purnama di Galuh

Kemudian setelah kejadian itu arwah Dewi Sekarjati sering masuk/trans ke Panji Laras sehingga keduanya menjadi wadat atau tidak menikah sama skali. Dan disaat-saat terakhir sebelum Dewi Klilisuci balik dan pulang membawa putranya, Dewi Anggraini Sekarjati sempat meminta besok di Jaman Kalawisesa beliau akan menitis ke putri Pakuan, kiranya kisah sejarah ini tidak dilupakan

Mahaprabu Airlangga adalah adik dari Shantika Maha Dewi. Putri Shantika Maha Dewi yang menyerahkan tahta kepada adiknya Airlangga. Putri Shantika Maha Dewi dan Airlangga adalah cicit dari Bandung Bondowoso, atau cucu dari Mpu Sindok yang bergelar Sang Prabu Isyana Tungga Wijaya.

Tempat peristiwa Galuh Candrakirana posisinya di Kebun Raya Bogor, dimana didalam KebonRaya terdapat makam dengan mahkota yang sering disowani oleh berbagai kalangan.

http://www.turanggaseta.com

Indonesia Baru

Indonesia Baru akan memiliki warga negara yang sadar akan keIndonesiaan Nuswantara dan memilikinya sebagai naluri
Bawah sadar yang siap digerakan kapan saja. Bawah sadar yang dipenuhi nilai-nilai keberanian,pantanf menyerah,nasionalisme dan kebanggaan budaya tinggi,solidaritas gotong royong,toleransi dan persadaraan sesama, menjunjung tinggi penghormatan kepada yang lebih tua,dekat dan menghargai alam dan lingkungan. Itu semua ada didalam bawah sadar 235juta penduduk Indonesia.

Serial Diskusi I Strategi Rakyat Mengawal Demokrasi Pancasila

Serial Diskusi I Strategi Rakyat Mengawal Demokrasi Pancasila

Diskusi diselenggarakan Gerakan Indonesia Berdikari, dan Panitia Syukuran Rakyat di Jl.Mangunsarkoro Jakarta Pusat.

(Jakt, 16/10/2014) Diskusi serial  ini untuk penguatan partisipasi publik mengawal jalannya pemerintahan, dengan narasumber Ray Rangkuti, Wandi Tarantuong, Dr.Phillip Vermote, Refly Harun dan Yudi Latief, dengan moderator Yudi Chrisnandi dan ketua panitia Eva Kusuma Sundari.

Diskusi dimulai oleh Wandi dari Almisbath yang menyatakan bahwa sekarang lah moment civil society untuk lebih banyak berkontribusi pada pemerintahan demi kemajuan negara. Tak jauh beda dengan Wandi, Philip maupun Rai Rangkuti hanya bercerita tentang civil society gerakan sipil yang berhasil bergerak dan aktif dalam berpartisipasi mendukung Jokowi. Sehingga Ray lagi lagi mencoba memisahkan Civil Society dengan partai, dan menganggap civil society yang memenangkan presiden yang diusungnya. Ray menanggap perlunya partisipasi masyarakat juga dibuka dan diberi ruang dalam pemerintahan yang baru nanti, hal ini karena Jokowi sebagai presiden terpilih telah berani berdialog dan transparan.

Refly Harun menganggap bahawa pembicara sebelumnya menghindari bicara langsung tentang strategi Mengawal Demokrasi Pancasila, dan hanya berkutat pada kondisi yang terjadi dari partisipasi masyarakat dalam bernegara. Agar tidak ada disconnective dan dianggap tidak trendy maka penting untuk mengedepankan kembali demokrasi partisipasi Soekarno: Rumah Majelis Permusyawaratan Rakyat. Bepikir partisipasi Ketika MPR bejalan sebagai Lembaga Tertinggi Negara, namun pernah dibajak kekuasaaan pemerintahan Soeharto. Ketika reformasi konstitusi sehingga fokus sebagai checs balances saja. Jika mensejajarkan dan tidak chek balance akan berbahya. Konteks Taufik Kiemas mengusulkan GBHN agar pemerintah tidak seperti Autopilot (jaman SBY). Refly menyebutkan versi Pancasila yang disebutkan bahasa Inggris oleh Soekarno di USA, yaitu Believe in God, Unity of Indonesia, Humanity, Democracy, and Social Justice.DiskusiMangun

Sedangkan Yudi Latief yang hadir paling terakhir menyatakan agar Pancasila bisa juga dilihat dengan referensi selain rejim berjalan, kita bisa bermaginasi. Bisa apa aja. Namun Prinsip Demokrasi Indonesia Sila Ke 4 memiliki prinsipil yang bisa diubah dan tidak bisa diubah. Namun demokrasi Fokus sila ke 4. Prinsip Pertama cinta kerakyatan ruang rakyat. Maka rakyat ikut tentukan pemerintahan. Bagaimana caranya dengan Mediasi melalui Prinsip Kedua Musyawaratan. Demokrasi Langsung yang bukan Majoritarian Democracy, namun Demokrasi Konsensus. Prinsip Ketiga Inclusivisme kesertaan semuga golongan,semua kalangan dan latar belakang. Suara mayoritas hanya prasyarat minimum, bukan legitimasi. Prinsip keempat Hikmat kebijaksanaan Deliberative, untuk kepentingan bersama. Nilai kepemimpinan adalah dengan melibatkan seluruh argumen, dan dihasilkan mufakat musyawarah.

Itulah sebabnya sila ke empat diapit oleh Sila KeTiga Persatuan Indonesia, dan di akhiri dengan sila ke 5 Persatuan Indonesia. Bahwa Sila ke empat dapat terjadi dengan prasyarat Integrasi Nasional (Persatuan Indonesia) dan hasil dari kesusesan sila keempat menghasilkan atau demokrasi orientasinya adalah Keadilan Sosial Sila ke 5 Keaadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Demokrasi harus inclusive merepresentasikan keragamanan. Maka DPR-MPR pun harus menjadi wadah perwakilan yang beragam, ddan Kekuasaan menurut pendahulu bangsa sesunggunya tidak harus terbagi, trias politica tapi dapat difusi. Itulah sebabnya ada perwakilan, namun pada jaman Orde Baru utusan golongan diangkat oleh presiden Kekuasaan fusi di MPR dibajak presiden. Sebaiknya utusan golongan adalah utusan yang berasal dari komunitas-komunitas, dimana komunitas tersebut memilih pemiminnya melalui konsensus dan mengirim sebagai wakil di parlemen/majelis.Hal tersebut menjadikan terjaminnya communitarian rights.

Demokrasi yang baik Harus Memperkuat Persatuan Indonesia dan diorientasikan untuk Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Oktober 16, 2014

Kelompok Studi Trisakti: Menjaga Kemerdekaan Reformasi dari kembalinya Orde Baru

Kelompok Studi Trisakti adalah wadah revitalisasi gerakan mahasiswa 1998 untuk tetap mengawal jalannya reformasi dan menjaga kedaulatan rakyat.

– Berbentuk ormas, dengan asal muasal gerakan 98, dikampus trisakti. kini Ada simpul2 d kampus. Jateng. Jatim. Dsb.Memberi masukan agar cita2 tetap trcapai. Mitra dialog bs jg masukan kritis
Kaitannya dg nawacita ada
– Fungsi kajian trakait value pancasika dg kondisi kontemporer
– Secara organisasi kelembaggaan KST sudah ada 16 tahun lalu. Asal kampus trisakti brkumpul juga dr alumni
Bali sdh aktif.Studi trisakti u/ implememtasi: contoh ekonomi kreatif ekonomi krakyatan

Untuk keanggotaan KSP membuka ruang bagi kelompok-kelompok diskusi yang sudah ada dari bidang apapun, sektor manapun, ukm, industri kreatif, lingkungan hidup. Kita telah mengalami Kemandirian Ekonomi saat krisis moneter 1997 dimana Pasar yg tdk bergantung pd kurs asing. Pasar Tanah Abang tetap jalan. Ukm yg tdk tergantung
Unit usaha yg punya exposure atas mata uang asing.

Kelompok Studi Trisakti dideklarasikan di Gedung Djoeang, Rabu 15 Oktober 2014 dengan Ketua Umum Wanda Hamidah, Sekretaris Jenderal Andree Tjakraningrat dan Alex Yahya Datuk sebagai Ketua Dewan Pembina.

Dalam diskusi usai Deklarasai Wanda Hamidah, menyatakan bahwa pembentukan KSP juga sebagai wadah keprihatin dari banyaknya mahasiswa tidak tahu dan tidak mengerti tentang Mengapa mahasiswa dulu ada yang tertembak, apa yang diperjuangkannya…sehingga KSP akanmenjadi penjaga bersama melalui berbagai kajian untuk mengaawal jalannya Kemandirian dibidang Ekonomi, Kedaultan Bidang Politik dan Keperibadian dengan Kebudayaan Indonesia.

KST juga menyoroti prilaku politik yang melawan kedaulatan rakyat dengan mengusung pilkada oleh DPRD.

kstttt

Seruan Moral Ilmuwan: Kembalikan Kedaulatan Rakyat, jari kelingking

ilmuwan1ilmuwan21Silmuwan2  S

Seruan Moral Ilmuwan: Kembalikan Kedaulatan Rakyat
Kami, pendidik dan peneliti, selalu mengamati, mengawasi, dan hadir dalam setiap peristiwa perjalanan bangsa. Kami ingin memastikan bahwa penyelenggaraan negara dan tata kehidupan antarwarga ditegakkan berdasarkan Konstitusi dan nilai-nilai luhur Pancasila, demi martabat bangsa serta kesinambungannya ke masa depan. Kami percaya bahwa kedaulatan rakyat dan kebaikan bersama bangsa merupakan roh, semangat, dan sendi kehidupan bangsa ini.
Peristiwa disetujuinya Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada) pada tanggal 26 September 2014 adalah tragedi politik. Dini hari itu, sekelompok orang yang dipilih secara langsung oleh rakyat mencabut hak pilih warga negara yang memilih mereka – hak pilih untuk secara hormat diperhitungkan sebagai suara yang menentukan jatuh-bangun daerahnya sendiri; hak pilih yang dimaksudkan membuat setiap warga Indonesia menjadi berdaya dalam kehidupan politik regional mereka; hak pilih yang membuat setiap warga punya kesempatan belajar berdemokrasi; hak untuk terus belajar memilih pemimpin bagi kebaikan bersama dan berhenti memilih yang buruk.
Tragedi Mei 1998 sudah cukup menyobek nurani dan membangkitkan kesadaran kita. Kemerdekaan serta keluhuran warisan para pendiri bangsa dan masa depan Indonesia tidak boleh lagi ditentukan oleh sistem pemerintahan otoriter, dengan penyelenggaraan negara dan pelayanan publik yang penuh salah urus, koruptif, dan dijalankan oleh para pejabat serta wakil rakyat dengan kekuasaan yang tidak bertanggungjawab, menindas, dan dengan cara-cara kekerasan serta mengelabui. Pemilihan umum kepala daerah melalui DPRD adalah kemunduran berpikir, sikap anti tatakelola yang transparan dan akuntabel, serta penolakan terhadap proses bangsa untuk belajar berdemokrasi. Produk hukum yang dihasilkan acapkali tidak berkualitas, bias kepentingan pribadi atau kelompok, dan tidak jarang bertentangan dengan Konstitusi. Semua itu bersanding dengan sekitar 3600 anggota DPRD yang terlibat kasus korupsi (KPK, 2014).
Tanpa kritik dan koreksi, kekacauan politik ini dapat terus berlanjut. Konstelasi parlemen yang baru pun tidak memperlihatkan kehendak baik (good will) bagi upaya-upaya kebaikan bersama bangsa, mengabaikan akal sehat dan penuh manipulasi yang dilakukan oleh para politisi yang haus kuasa. Cara-cara menguasai parlemen melalui permainan interupsi tidak beretika, mengabaikan musyawarah, dan tindakan walk out telah mem-bawa kinerja parlemen dalam bahaya penguasaan oligarki politik. Perilaku itu telah menghancurkan kepercayaan publik kepada lembaga perwakilan.
Pengesahan Undang-Undang MPR, DPR, DPD serta DPRD (UU MD3) dan UU Pilkada kini melahirkan warisan baru: polarisasi kepentingan yang begitu telanjang, yang jauh dari kehendak baik untuk mengupayakan kebaikan bersama bangsa, serta tidak juga mendidik generasi muda. Perbaikan terus-menerus tata negara serta aspirasi untuk belajar berdemokrasi secara beradab sedang berada dalam bahaya. Inilah mengapa, penye-lenggaraan Bali Democracy Forum di Bali, Oktober 2014,ibaratolok-olok bagi Indonesia.
Tragedi lain yang cukup mencolok dalam situasi keruh ini adalah penyalahgunaan media sebagai alat pribadi atau kelompok. Penyalahgunaan itu melibatkan bukan hanya pengelabuan terhadap masyarakat, tetapi juga pelanggaran terhadap etika jurnalistik dan fungsi media sebagai sarana kontrol sosial (watch-dog). Dalam proses itu, bukannya tidak ada media yang membantu prasangka, meningkatkan ketegangan sektarian dan konflik horizontal. Dengan itu media kehilangan kepercayaan publik.
Dalam lintasan sejarah, sering terjadi yang baik dan yang buruk berhadapan sebagai pilihan moral yang jelas. Inilah momen sejarah bangsa Indonesia yang memanggil kami.
Kami menyatakan permohonan maaf kepada seluruh bangsa Indonesia. Sebagai pendidik dan guru, kami telah gagal mendidik dan menghasilkan putra-putri bangsa menjadi pemimpin dan wakil rakyat yang menghidupi sikap keluhuran. Sebab, banyak di antaranya, melalui manipulasi dan “kudeta politik” pada hari-hari ini, telah memperlihatkan sikap picik, sempit, tanpa rasa malu, tanpa kehendak baik, dan kehilangan akal sehat yang merusak masa depan bangsa.
Demi kehidupan berbangsa dan bernegara yang beradab, dan demi koreksi atas proses politik yang semakin tidak mengarah ke kebaikan bersama, kami menyatakan sikap kepada Dewan Perwakilan RI dan para politisi yang, meskipun tidak berada dalam Dewan Perwakilan, telah membawa situasi genting ini:
1. Menolak dengan tegas dan keras segala bentuk manipulasi melalui penyalahgunaan cara-cara prosedural-formal perumusan hukum. Dengan mengatasnamakan rakyat, penyalahgunaan dilakukan untuk menancapkan kepentingan koalisi partai dan kelompok sempit. Pengelabuan kepada seluruh bangsa ini membawa masa depan bangsa dalam risiko besar dan tidak sesuai dengan amanat Konstitusi serta Pancasila.
2. Menolak sikap, perilaku dan proses yang sedang terjadi di Dewan Perwakilan RI yang merusak tatanan kenegaraan dengan sistem presidensial, melalui segala bentuk manipulasi untuk memindahkan kekuasaan sepenuh-penuhnya ke tangan parlemen (baca: koalisi sejumlah partai politik). Dengan itu bukan hanya pengelolaan tata negara berada di tangan oligarki politik, melainkan juga penguasaan sumberdaya bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya juga berada di tangan segelintir orang.
3. Menolak sikap dan perilaku sebagian anggota Dewan Perwakilan dan politisi di luar Dewan Perwakilan yang tidak mencerminkan rasa terima kasih kepada rakyat yang telah memberi kesempatan kepada mereka untuk membaktikan diri bagi bangsa melalui proses demokrasi.
Oleh karena itu, bersama ini kami mendesak agar para wakil rakyat:
1. Menghentikan segala bentuk manipulasi dan permainan hukum untuk kepentingan sempit kelompok yang telah merusak kehidupan berbangsa dan bernegara, serta melakukan pemulihan terhadap cacat perumusan produk legislasi dan pemulihan hak politik langsung seluruh warga negara:
o UU Pilkada, yang dihasilkan melalui perumusan yang tidak memenuhi persyaratan deliberasi hukum yang bermoral dan beretika, mengabaikan pertimbangan sosiologis (proses seluruh bangsa belajar berdemokrasi) dan kesetiaan filosofis (cita-cita berbangsa dan bernegara);
o UU MD3 yang secara telanjang dirancang dan dirumuskan secara manipulatif untuk tujuan oligarki politik di parlemen.
2. Mengoreksi cara-cara “bumi hangus” dan “kudeta parlemen” dengan taktik menguasai kepemimpinan MPR dan DPR demi kepentingan sempit kelompok. Semua tindakan, cara, dan taktik itu menunjukkan perilaku picik dan tidak berintegritas, serta jauh dari sikap kepatutan dan keluhuran yang menjadi syarat mutlak semua wakil rakyat dan pemimpin.
3. Mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai peran dan fungsi lembaga legislatif, menghasilkan produk legislasi yang berkualitas, merumuskan anggaran yang mengabdi kebaikan bersama dan kesejahteraan rakyat, serta secara kompeten melakukan fungsi pengawasan untuk menjaga tatakelola pemerintahan yang transparan dan akutabel.
4. Menjunjung dan mengedepankan sikap serta perilaku kenegarawanan, kesediaan dan kesanggupan bekerjasama demi kebaikan bersama, baik secara internal dalam kinerja Dewan Perwakilan maupun secara eksternal dengan lembaga eksekutif dan yudikatif. Politik adalah panggilan agung memperjuangkan kebaikan bersama, yang hanya bisa dihidupi dengan integritas dan keluhuran pengabdian kepada Ibu Pertiwi, bukan dengan kepicikan, kesempitan, dan kenistaan manipulasi.
Kami, pendidik dan peneliti,menyerahkan jiwa dan kemampuan kami bagi upaya-upaya memperbaiki kehidupan bersama, mewujudkan kesejahteraan rakyat, mengembangkan kebudayaan, dan peradaban yang manusiawi. Kepada setiap pendidik dan peneliti, dipercayakan tugas untuk menyumbangkan keahliannya melalui kerja pendidikan dan akademik dalam bidang sains, teknologi, ilmu-ilmu sosial, dan humaniora, yang menjadi bagian integral proses kehidupan berbangsa dan bernegara ke arah kondisi yang berbudaya dan beradab. Di sinilah kami berdiri. Kami lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Pada momen kehidupan Ibu Pertiwi yang memprihatinkan ini, dalam pilihan moral yang jelas, kami menuntut koreksi total atas terjadinya situasi yang buruk dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Jakarta, 9 Oktober 2014
1. Abustani Ilyas, Prof (STAIN-Sorong)
2. Abdul Haris Fatgehipon, Dr (UNJ)
3. Abdul Muiz Ghazali, MA (ISIF-Cirebon)
4. Abdurrahman, MPd (STKIP Muhammadiyah-Sorong)
5. Achmad Sodiki, Prof (UNIBRAW)
6. A. Buchari, Dr (UNPAD)
7. Acep Iwan Saidi, Dr (ITB)
8. A. Dahana, Prof (Univ. BINUS)
9. Ade Armando, Dr (UI)
10. Adriana Ginanjar, Dr (UI)
11. Adriana Marini, M.Ak (Unika Widya Mandala Surabaya)
12. Afwah Mumtaza, MPd (ISIF-Cirebon)
13. A.G. Subarsono, Dr (UGM)
14. Agnes Kurniawan, Prof (UI)
15. Agung Nugroho, Dr (Unika Atma Jaya-Jakarta)
16. Agustinus Kastanya, Dr (UNPATTI)
17. Agus Pramusinto, Dr (UGM)
18. Ahmad Ismail, MSi (UNHAS)
19. Ahmad Nashih Luthfi, MA (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional-Yogyakarta)
20. Aiyen Tjoa, Dr (Univ. Tadulako-Palu)
21. Akmal Taher, Prof (UI)
22. Albertus Hadi Pramono, Dr (Sajogyo Institute)
23. Ambar Widaningrum, Dr (UGM)
24. Amiyatun Naini, MKes (UNEJ-Jember)
25. Andang L. Binawan, Dr (STF Driyarkara-Jakarta)
26. Andari, Dr (UI)
27. Andi Hasriyanti, MPd (STAIN-Sorong)
28. Andina Dian Dwifatma, MSi (Unika Atmajaya-Jakarta)
29. Anisa Santosa, Dr (UI)
30. Anita Lie, Prof (Unika Widya Mandala-Surabaya)
31. A. Prasetyantoko, Dr (Unika Atmajaya-Jakarta)
32. Aquarini Priyatna, Dr (UNPAD)
33. Armein Langi, Dr (ITB)
34. Arum Hidayat, MSi (UI)
35. Arya Hadi Dharmawan, Dr (IPB)
36. Asep Saefuddin, Prof (IPB)
37. Asep S. Suntana, Dr (Sahitya)
38. Augustine D. Sukarlan, MSi (UI)
39. Awaludin Marwan, MA (Satjipto Raharjo Institute-Semarang)
40. A.W. Soumokil, Dr (UNPATTI)
41. A. Watloly, Prof (UNPATTI)
42. Azyumardi Azra, Prof (UIN-Jakarta)
43. B. Herry-Priyono, Dr (STF Driyarkara)
44. Bakti Siahaan, MA (UNSYIAH-Aceh
45. Bambang Hidayat, Prof (ITB)
46. Bambang Purwantara, Prof (IPB)
47. Bambang Sunatar, MM (UN Muhammadiyah-Sorong)
48. Beni Setha, Dr (UNPATTI)
49. Benny. D. Setianto, Dr (Unika Soegijapranata-Semarang)
50. Benny H. Hoed, Prof (UI)
51. Benny Mamoto, Dr (UI)
52. Benny Philippi, Dr (UI)
53. Bernard Arief Sidharta, Prof (UNPAR)
54. Besar, SH, MH (Univ. BINUS-Jakarta)
55. Betha Lusiana, Dr (World Agroforestry Centre/ICRAF)
56. Budhi Hartono, MSi (UI)
57. Budi Widianarko, Prof (Unika Soegijapranata-Semarang)
58. Bungaran Antonius Simanjutak, Prof (Universitas Negeri Medan)
59. Bustanul Arifin, Prof (UNILA)
60. Ch. Latupeirissa, Dr (UNPATTI)
61. Chan Basaruddin, Prof (UI)
62. Cita Citrawinda Noerhadi, Dr (UI)
63. Dadan Suwarna, SS (Univ. Pakuan-Bogor)
64. Damayanti Buchori, Prof (IPB)
65. Damona Poespa, MA (UI)
66. Daria Hanum, MA (UHAMKA-Jakarta)
67. Darius Tumanan, Dr (UNPATTI)
68. David Rafael Tandayu, SSm (Univ BINUS)
69. Desi Sandra, MDSc (UNEJ-Jember)
70. Dewa Ngurah Suprapta, Prof (UNUD-Denpasar)
71. Dharmayati Utoyo Lubis, Dr (UI)
72. Dharma Setyawan, MSi (STAIN-Metro)
73. Dian Noeswantari, MPA (UNAIR-Surabaya)
74. Dian Oriza, MSi (UI)
75. Diennaryati Tjokro, MSi (UI)
76. Dita Trisnawan, M.Arch.STD (UI)
77. Djoko Suharto, Prof (ITB)
78. Djokowoerjo Sastradipradja, Prof ( IPB)
79. Djonet Santoso, MA (Univ. Bengkulu)
80. Donny Danardono, MHum (Unika Soegijapranata-Semarang)
81. Drius Tumanan, Dr (UNPATTI)
82. Dumaria Tampubolon, Dr (ITB)
83. Dwi Andreas Santosa, Prof (IPB)
84. Dwi Kristanti, MPA (UT)
85. Dwi Setiawan, MA (Univ Kristen Petra, Surabaya)
86. Dwi Windiastuti, Dr (UNAIR)
87. Eddy Hasmi, MSc (IPADI)
88. Eddy Ikhsan, Dr (USU)
89. Edhi Martono, Prof (UGM)
90. Eduard Paulus Heydemans,MSi (Universitas Klabat-Manado)
91. Effendi Gazali, Dr (UI)
92. Effy Rusfian (UI)
93. Eka Wahyuni, MAAPD (UNJ)
94. Eko Cahyono, MSi (IPB)
95. Eko Riyadi, MH (UII-Yogyakarta)
96. Emanuel Gerrit Singgih, Prof (UKDW-Yogyakarta)
97. Emir Suganda, Prof (UI)
98. Endriatmo Soetarto, Prof (IPB)
99. Eni Setyowati, Dr (IAIN-Tulungagung)
100. Eny Faridah, Dr (UGM)
101. Erna Dinata, Dr (UI)
102. Erwan Purwanto, Dr (UGM)
103. Esther Kuntjara, Prof (Univ. Kristen Petra)
104. Faqihuddin Abdul Kadir, MA (IAIN-Cirebon)
105. Fathi Royyani, MA (Pusat Penelitian Biologi-LIPI)
106. Fenika Wulani, Dr. (Unika Widya Mandala Surabaya)
107. Fernando Manulang, Dr (UI)
108. Fifi Nurwianti, MSi (UI)
109. Fikarwin Zuska, Dr (USU)
110. Fitria Nur, MPd (STKIP Muhammadiyah-Sorong)
111. Frans Reumi, MA, MH (UNCEN)
112. Franz Magnis-Suseno, Prof (STF Driyarkarya)
113. F. Rieuwpssa, Prof (UNPATTI)
114. Fuad Abdul Hamid, Prof (UPI)
115. F. Wahono, Dr (Cindelaras/Univ. Sarjanawiyata Tamansiswa-Yogyakarta)
116. Gadis Arivia, Dr (UI)
117. Gunawan Tjahjono, Prof (UI)
118. Gunawan Wiradi, Dr (Sajogyo Institute/IPB)
119. Gun Mardiatmoko, Dr (UNPATTI)
120. Hadi Pratomo, Prof (UI)
121. Hadi Subhan, Dr (UNAIR)
122. Hamza, Dr (STAIN-Sorong)
123. H.A.R Tilaar, Prof (UNJ)
124. Hari Nugroho, MA (UI)
125. Hari Wijayanto, Dr (IPB)
126. Hariadi Kartodiharjo, Prof (IPB)
127. Harijadi Wirawan, Dr (UI)
128. Harijono A. Tjokronegoro, Prof (ITB)
129. Helmi D. Achmad, SSos (Univ. Pakuan-Bogor)
130. Hendra Gunawan , Prof (ITB)
131. Hendrayanto, Dr (IPB)
132. Hendrik Krisifu, Dr (UNCEN)
133. Hendriyani, Dr (UI)
134. Henky Widjaja, MA (Univ. Leiden)
135. Henny Saptatia, Dr (UI)
136. Henny Supolo Sitepu, MA (Yayasan Cahaya Guru)
137. Henry N. Barus, Dr (Univ. Tadulako-Palu)
138. Herawati Sudoyo Supolo, Dr (Lembaga Eijkman)
139. Herlambang P. Wiratman, MA (UNAIR)
140. Hermanu Triwidodo, Dr (IPB)
141. H.S. Tisnanta, SH, MH (UNILA)
142. Hotman Siahaan, Prof. (Univ Airlangga)
143. Husein Muhammad, K.H. (ISIF-Cirebon)
144. Ida Dahsiar Anwar, Dr (UI)
145. Ida Rosyida, MA (UIN-Jakarta)
146. Ifa Hanifah Misbach, Dr (UPI)
147. Ignatius Harjanto, Dr. (Unika Widya Mandala Surabaya)
148. Iklilah Mujayyanah Dini Fajriyah, MSi (UI)
149. Imam Koeswahyono, MHum (UNIBRAW)
150. Iman Prihandono, Dr (UNAIR)
151. Intan Paramaditha, Dr (UI)
152. Irid Agoes, Dr (UI)
153. Irsyad Ridho, MHum (UNJ)
154. Irwanto, Prof (Unika Atmajaya/UI)
155. Islah Gusmian, Dr (IAIN-Surakarta)
156. Iva Kusuma, MSi (UI)
157. Iwan Pranoto, Prof (ITB)
158. Ispurwono Soemarno, Ph.D. (ITS)
159. Jamaluddin, Dr (IAIN-Mataram)
160. Jatna Supriatna, Dr (UI)
161. J.B. Sumarlin, Prof (UI)
162. Jenny Andriani, Dra (UI)
163. JJ Rizal, MA (UI)
164. J. Lbetubun MP, Dr (UNPATTI)
165. J. Matinahoru, Prof (UNPATTI)
166. Joas Adiprasetya, Dr (STTI-Jakarta)
167. Joeni Arianto Kurniawan, MA (UNAIR)
168. Johan Matheus Tuwankotta, Dr (ITB)
169. Johanes Herlijanto, Dr (Univ. BINUS)
170. Johanes Supriyono, MSi (UMN-Jakarta)
171. John Riry, Dr (UNPATTI)
172. Jo Priastana, Dr (UPI-Jakarta)
173. Jo Rumeser, Dr (Univ. BINUS-Jakarta)
174. Josep Pagaya, Dr (UNPATTI)
175. J. Sudarminta, Prof (STF Driyarkara)
176. Justina Rostiawati, MHum (Unika Atmajaya/UI)
177. Karsih, MPd (UNJ)
178. Kautsar Azhari Noer, Prof (UIN Jakarta)
179. Khaerul Umam Noer, Dr (UMJ)
180. Karlina Supelli, Dr (STF Driyarkara)
181. Komaradjaja, Dr (UI)
182. Komaruddin Hidayat, Prof (UIN Jakarta)
183. Kristi Poerwandari, Dr (UI)
184. Kurnia Novianti, MSi (LIPI)
185. Kurniawan Saifullah, MA (UNPAD)
186. Laksmi Savitri, Dr (UGM)
187. Lamtiur H. Tampubolon, Dr (Unika Atma Jaya-Jakarta)
188. Lathifah Hanum, MPsi (UI)
189. Lauddin Marsuni, Prof (Universitas Andi Djemma-Palopo)
190. Lely Nurrohmah, MHum (UI)
191. Lidwina Inge Nurtjahjo, Dr (UI)
192. Liek Wilardjo, Prof (UKSW – Salatiga)
193. Linda Yanti Sulistiawati, Dr (UGM)
194. Lisman Manurung, Dr (UI)
195. Ludmilla Untari, M.Sc. (UGM)
196. Lugina Setyawati, Dr (UI)
197. Luluk Nur Hamidah, MSi, MPA (UNAS-Jakarta)
198. Mahrus Aryadi, Dr (UNLAM-Banjarmasin)
199. Maksum, Prof (UGM)
200. Mayke Tedjasaputra, MSi (UI)
201. Manneke Budiman, Dr (UI)
202. Mardjono Siswosuwarno, Prof (ITB)
203. Margaretha Hanita, Dr (UI)
204. Martua Sirait, MSc (Lembaga Kajian tenure-Bogor)
205. Marzuki Wahid, MA (IAIN-Cirebon)
206. Margawati van Eymeren, Dr. (UMN-LSPR dosen)
207. Mas Achmad Santosa, Dr (UI)
208. Masdar Hilmy, Dr (UIN Surabaya)
209. Mayling Oey-Gardiner, Prof (UI)
210. Megy Mailoa, Dr (UNPATTI)
211. Melani Abdulkadir-Sunito, MSc (IPB)
212. Melani Budianta, Prof (UI)
213. Mely G. Tan, Dr (LIPI/UI)
214. Melly Wijaya, Dr (UI)
215. Mellia Christia, MPsi (UI)
216. Mia Siscawati, Dr (UI)
217. M. Ihsan Alief, MA (Univ. Paramadina)
218. M. Ilyas Upe, Mag (Univ. Muslim Indonesia-Makassar)
219. M.J. Sapteno, Prof (UNPATTI)
220. Mohamad Shohibuddin, MSi (IPB)
221. Muhadjir Darwin, Prof (UGM)
222. Much. Khoiri (Universitas Negeri Surabaya)
223. Mudjilah Rahayu, Dr. (Unika Widya Mandala Surabaya0
224. Muhammad Fuad, MA (UI)
225. Muhammad Isnaini, Dr (UIN-Palembang)
226. Muhammad Nasrum, MSc (Univ. Tadulako-Palu)
227. Muh. Muslim, MM (Institut Bisnis Nusantara-Jakarta)
228. Muh. Rais Amin, Dr (STAIN-Sorong)
229. Muktiono, MHum (UNIBRAW)
230. Musdah Mulia, Prof (UIN-Jakarta)
231. Muspida, Dr (UNPATTI)
232. Myrna Safitri, Dr (Epistema Institute)
233. Nabilah Syechbubakar, MPd (UNJ)
234. Nathanael Sumampouw, MSi (UI)
235. Niken Savitri, Dr (UNPAR)
236. Nina Armando, MA (UI)
237. Nur Rafiah, Dr (PTIQ-Jakarta)
238. Nusamsiah Asharini, MA (Univ BINUS)
239. Noer Fauzi Rachman, Dr (Sajogyo Institute/IPB)
240. Nosa Normanda, MA (Univ. BINUS-Jakarta)
241. Nur Iman Subono, Dr (UI)
242. Nyoman Nurjaya, Prof (UNIBRAW)
243. Oki Hajiansyah Wahab, SIP, MH (UNILA)
244. Onno W. Purbo, Ph.D. (Surya University)
245. Paripurna, Dr (UGM)
246. Parto, Dr (STAIN-Jayapura)
247. Paulus Tasekgalle, MA (Unika Atmajaya-Jakarta)
248. Paulus Wirutomo, Prof (UI)
249. Pratiwi Sudarmono, Prof (UI)
250. Praya Wiguna, SSos (Yayasan Bimbingan Mandiri)
251. Prijono Tjiptoherijanto, Prof (UI)
252. Puji Lestari Priyanto, MSi (UI)
253. P. Wiryono Priyotamtama, Dr (Univ. Sanata Dharma)
254. Raphaela Dewantari Dwianto, Dr (UI)
255. Ratna Saptari (Univ. Leiden)
256. Ratna Sitompul, Dr (UI)
257. Retno Pudjiati, MSi (UI)
258. Rhenald Kasali, Prof (UI)
259. Rikardo Simarmata, Dr (UGM)
260. Riga Adiwoso, Dr (UI)
261. Rilus A. Kinseng, Dr (IPB)
262. Riris K. Toha-Sarumpaet, Prof (UI)
263. R.M. Lucia Royanto, Dr (UI)
264. Robert Oszaer, Prof (UNPATTI)
265. Rochyati Wahyuni Triana, MA (UNAIR)
266. Rofi Wahanisa, MH (Univ. Negeri Semarang)
267. Ronald Z. Titahelu, Prof (UNPATTI)
268. Roos Akbar, Prof (ITB)
269. Rosidin, MAg (ISIF-Cirebon)
270. Rosnidar Sembiring, Dr (USU)
271. Roziqoh, MPd (ISIF-Cirebon)
272. Rudy, SH, LLM, LLD (UNILA)
273. Ruth Eveline, MSi (UI)
274. Safarina Malik, Dr (Lembaga Eijkman)
275. Saifuddin Bantasjam, MHum (UNSYIAH-Aceh)
276. Saleh Sjafei, Dr (UNSYIAH-Aceh)
277. Sangkot Marzuki, Prof (Lembaga Eijkman)
278. Saparinah Sadli, Prof (UI)
279. Sarah Santi, MSi (Univ. Esa Unggul)
280. Sarlito Wirawan, Prof (UI)
281. Sartiah Yusran, Dr (Univ. Halu Oleo-Kendari)
282. Sarwititi Sarwoprasodjo, Dr (IPB)
283. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Prof (ITB)
284. Satyawan Sunito, Dr (IPB)
285. Sediono MP Tjondronegoro, Prof (IPB)
286. Shelly Adelina, M.Si (UI)
287. Shidarta, Dr (Univ. BINUS-Jakarta)
288. Simon Raharjo, Prof (UNPATTI)
289. Sipin Putra, MSi (UNIBRAW)
290. Siswanto Aguswilopo, Prof (UGM)
291. Siti Aisyah, Dr (UIN-Makassar)
292. Siti Dahsiar Anwar, Dr (UI)
293. Siti Masrifah, Mag (Institute Ilmu Al-Qur’an, Jakarta)
294. Siti Nurul Intan Sari, MKn (UPN Veteran-Jakarta)
295. Siti Nurul Khaerani, MM (IAIN-Mataram)
296. Siti Purwanti Brtowasisto, Dr (UI)
297. Siti Rakhma Mary Herwati, MSi (Univ. Presiden)
298. Sjamsiah Achmad, MA (UI)
299. Soeryo Adiwibowo, Dr (IPB)
300. Sofian Effendi, Prof (UGM)
301. Sri Fatmawati, MSi (UI)
302. Sri Kusyuniati, Dr (UI)
303. Sri Moertiningsih, Prof (UI)
304. Sri Setyawati, MA (UNAND)
305. Stephanie Yuanita, MSi (UI)
306. Sukarman, SH (Univ. Stikubank-Semarang)
307. Sulistyowati Irianto, Prof (UI)
308. Suprapti Sumarmo Markam, Prof (UI)
309. Suraidah Hading, MHum (IKIP-Ujung Pandang)
310. Suraya Afiff, Dr (UI)
311. Suratno, Dr (Univ. Paramadina)
312. Sururin, Dr (UIN-Jakarta)
313. Surya Tjandra, MA (Unika Atmajaya-Jakarta)
314. Susi Fitri, MSi (UNJ)
315. Susi Sudarman, Dr (UI)
316. Syafiq Hasyim, Dr (UIN-Jakarta)
317. Syafrida Manuwoto, Prof (IPB)
318. Sylvia C. Tiwon, Prof (UC Berkeley)
319. Tatiana, MM (Univ. Surapati-Jakarta)
320. Teuku Cut Mahmud Aziz, MA (Univ. Almuslim-Aceh)
321. Thamrin Tomagola, Dr (UI)
322. Tien Handayani Nafi (UI)
323. Tinny K. Dompas (Univ. Klabat-Manado)
324. Titiek Kartika, Dr (UNIB)
325. Tito Imanda, MA (Univ. BINUS-Jakarta)
326. Tirta Nugraha Mursitama, Dr (Univ. BINUS-Jakarta)
327. Tjahjono Rahardjo, LLM (Unika Soegijapranata-Semarang )
328. Tjiptohadi Sawarjuwono, Prof (UNAIR)
329. T. Ling Tan, Prof (Pennsylvania State University)
330. Todung Mulya Lubis, Prof (UI)
331. Totok Dwi Diantoro, MA, LLM (UGM)
332. Toeti Heraty Noerhadi, Prof (UI)
333. Tri Boedhi Soesilo, Dr (UI)
334. Udiansyah, Prof (UNLAM-Banjarmasin)
335. Ugoran Prasad, PhC (CUNY-New York)
336. Umar Anggara Jenie, Prof (UGM)
337. Valentino Lumowa, Dr (Unika De La Salle-Manado)
338. Vina Adriyani, Dr (UPI-Bandung)
339. Wakhit Hasim, MSi (IAIN Syekh Nurjati-Cirebon)
340. Wahyu Indiati, MSi (UI)
341. Wahyudi Kumorotomo, Prof (UGM)
342. Wahyu Widiastuti, MSc (Univ. Bengkulu)
343. Wawan Djunaedi, MA (UIN-Jakarta)
344. Wawan Gunawan, MA (UIN Bandung)
345. Widodo, Dr (Univ. Mataram)
346. Widyanto Satyo Nugroho, Dr (UI)
347. Willem Sihasalle, Dr (UNPATTI)
348. Willem Talakua, Dr (UNPATTI)
349. Wisni Bantarti, M.Kes (UI)
350. Wuri Soedjatmiko, Prof (Unika Widya Mandala, Surabaya)
351. Yance Arizona, MH (Univ. Presiden)
352. Yando Zakaria, Drs (Karsa Instititute)
353. Yanuar Nugroho, Dr (Manchester University)
354. Yasinta Kurniasih, Dr (Monash University)
355. Yonariza, Prof (UNAND-Padang)
356. Yosef Dedy Pradipto, Dr (Univ. BINUS-Jakarta)
357. Yudiana Ratna Sari, MSi (UI)
358. Yuliana Mahdiyah, MKes (UNEJ-Jember)
359. Yuniarti Nur Hanifah, MSi (Univ. Pakuan-Bogor)
360. Yunita T. Winarto, Prof (UI)
361. Zainal Abidin, Prof (ITB)
362. Zainul Kholid, drg, Sp.BM (UNEJ-Jember)
363. Zainul Romiz Koesry, Dr (IAIN Amai-Gorontalo).

Musang Berbulu Ayam: Oleh: Daoed Joesoef

Musang Berbulu Ayam

Oleh: Daoed Joesoef

SETELAH melihat tayangan televisi tentang detik-detik tingkah laku para politikus cum wakil rakyat ketika membahas Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah di DPR lama—dan terkait masalah krusial ini, telekonferensi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang serba plin-plan, serta Sidang Paripurna DPR baru yang gegap gempita dalam
suasana yang sama sekali tidak bermartabat—bulu tengkuk saya meremang.

Betapa tidak. Saya tersentak baru saja menyaksikan kemungkinan sejenis gerak-lambat barbarisasi dari sejumlah polity, yang menyeringai di antara rezim kepolitikan buruk yang ada dan saat pencapaian tujuan barbariknya.

Apa yang sejatinya bisa diraih dengan moral seharusnya tidak dicapai melalui hukum. Namun, berhubung tunamoral, mereka menghabiskan energi dan waktu dengan bermoralisasi (moralizing), asyik mengutak-atik ”moral” dan ”moralizing” yang begitu berbeda bagai siang dan malam tanpa panduan filosofi Pancasila demi kekukuhan kekuasaan politiknya belaka
yang diselimuti dalih ”demi rakyat”.

Sabotase politik

Perkembangan proses barbarisasi ini mereka sebut dengan bangga sebagai ”dinamika politik”. Padahal, hati kecil mereka, saya yakin, mengakui bahwa upaya dinamisasi itu hanya merupakan jegal-jegalan belaka.

Dengan kata lain, Koalisi Merah Putih (KMP) mencari apriori bertekad mencegah at all costs agar Koalisi Indonesia Hebat (KIH) tidak bisa mewujudkan niat baiknya bagi Indonesia melalui kebijakan pemerintahan yang dipimpin pasangan pemenang Pemilu Presiden 2014, yang langsung telah dipilih oleh rakyat itu. Apakah upaya penjegalan apriori ini tidak bisa disebut suatu sabotase politik?

Polity dengan lembaga partai politiknya selama ini kiranya bukan mendidik kadernya menjadi negarawan, melainkan membiarkannya tumbuh dan berkembang menjadi makhluk ”liar” dan ”barbar”. Makhluk liar adalah orang yang secara membabi buta tunduk pada naluri, pada impuls, dan pada nafsunya; dia tidak peduli pada ”baik” dan ”buruk” yang dituntut oleh keadaan. Makhluk barbar, sebaiknya, adalah orang yang berprinsip dan berpengetahuan spesialistis; dia mengabaikan hal-hal yang diniscayakan dan bergerak langsung ke tujuan.

Sejujurnya, di luar komunitas politik, pada setiap era ada juga orang-orang seperti itu, bahkan lebih buruk lagi, di komunitas religius. Di situ orang tidak segan-segan menggunakan ayat ilahiah sebagai pelindung perbuatan yang justru berlawanan dengan perintah Tuhan.

Tunamoral, tunamalu

Politika adalah sebenarnya sebuah profesi yang serius, serba kompleks, berdedikasi tinggi, mengandung risiko serta, karena itu, cukup terpandang dan terhormat. Hal ini sudah dibuktikan oleh para pendiri bangsa kita yang dahulu berjuang tanpa pamrih pribadi melawan penjajah secara sistematis dari waktu ke waktu, yang kini kita peringati sebagai peristiwa yang merupakan ”tonggak-tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan nasional”.

Patriotisme yang dahulu mereka lakukan untuk Indonesia, tanah airnya, adalah perbuatan yang puluhan tahun kemudian dipujikan oleh John F Kennedy melalui ucapannya, ”Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.”

Di mana pun di muka bumi ini, orang memerlukan persiapan yang relevan untuk bisa diakui sebagai profesional. Untuk berprofesi sebagai kimiawan, misalnya, orang harus mempelajari ilmu kimia. Untuk menjadi pengacara/jaksa/hakim, orang perlu mempelajari ilmu hukum. Untuk menjadi dokter, orang harus belajar ilmu kedokteran lebih dahulu. Di Indonesia, kelihatannya, untuk menjadi politikus orang  cukup mempelajari kepentingannya sendiri dan/atau kepentingan partainya dan tunamalu, bahkan tunamoral.

Persiapan profesi politik yang jauh daripada ideal ini kiranya sudah diantisipasi oleh Bung Hatta. Tidak lama setelah kembali ke Tanah Air, dia mendirikan PNI, bukan Partai Nasional Indonesia seperti yang telah dibentuk oleh Bung Karno, melainkan Pendidikan Nasional Indonesia, menggenapi tujuan pendidikan formal yang telah diusahakan Ki Hajar Dewantara. Bersama dengan Bung Sjahrir, dia mengorganisasi klub studi, pendidikan nonformal, yang berfungsi bagai kawah candradimuka penggemblengan para pemimpin politik mendatang.

Sebelum menjadi pemimpin rakyat, mereka harus bias lebih dulu, menurut visi Bung Hatta, menata cara berpikir mereka sendiri. Melalui pembelajaran klub studi, mereka bukan dilatih untuk bisa lebih maju daripada orang-orang lain (menyombong), melainkandibiasakan selalu mampu lebih maju daripada dirinya sendiri.

Cara pembinaan kader seperti itulah yang patut ditiru oleh parpol dewasa ini. Artinya, parpol perlu berusaha menerjunkan politikus ke arena politik bukan karena telah berjasa mencari dana bagi kas partai atau memenangkan ketua dalam pilpres/pilkada atau berhubung berada di garis keturunan dari trah person tertentu. Kader yang dijagokan itu seharusnya
berdasarkan mutu pendidikan formal, kemampuan berpikir, kematangan bersikap, yang secara obyektif-profesional mengundang respek, bisa diakui kelebihannya, walaupun secara diam-diam, oleh pihak pesaingnya dari parpol lain.

Di Abad Pertengahan, Italia pernah dikuasai keluarga Borgias selama 30 tahun. Periode ini diwarnai oleh pertarungan berdarah, teror, pembunuhan, dan intimidasi. Namun, periode yang sama melahirkan pula Michelangelo, Leonardo Da Vinci, dan gerakan renaissance.

Bangsa Swiss mengalami kehidupan demokratis selama kira-kira 500 tahun. Selama itu mereka mengenal brotherly love dan peace. Lalu, apa yang mereka hasilkan? Sistem pendidikan keilmuan yang mantap—Einstein remaja bersekolah di situ—dan jam antik ku-ku clock.

Memperkuat lapisan terdidik

Bangsa Indonesia sudah mengalami periode reformasi selama lebih kurang 20 tahun. Yang direformasi adalah gaya pemerintahan otoriter demi kelancaran pemerintahan demokratis, yaitu yang dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Apa yang dihasilkan oleh reformasi ini? Suatu barbarisasi, yang memang bergerak lambat tetapi pasti, dimotori oleh kepiawaian bersandiwara seorang presiden yang bakal lengser dan korps politikus yang saling berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai bagaimana menyenangkan rakyat tanpa memberikan apa yang mereka betul-betul perlukan—how to please people without giving what they really want. Mereka mendekati setiap subyek dengan mulut terbuka, bukan dengan pikiran dan hati terbuka.

Pergelaran sandiwara dari panggung politik DPR yang memuakkan itu menantang kesadaran rakyat akan hak-haknya yang dirampas begitu saja. Padahal, rakyat telah membiayai para aktor-politik yang tampil keren dan cantik di panggung itu dan kelihatannya betul-betul menjiwai serta menikmati peran amoral masing-masing. Jadi, mereka bukan sekadar bersandiwara, melainkan telah main sungguhan dalam proses barbarisasi.

Barisan rakyat harus didukung, diperkuat, terutama oleh lapisannya yang terdidik, kaum intelektual. Di mana Anda berada? Sedang menyendiri di laboratorium atau bersemadi di perpustakaan atau berpesiar somewhere? Masih jauh larut malam, sudah berkeliaran musang berbulu ayam.

Daoed Joesoef Alumnus Université Pluridisciplinaires
Panthéon-Sorbonne

Sumber: Kompas, Jumat, 10 Oktober 2014. Hlm.  6.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑