Redefinisi Makna IBU, Hari Ibu 2014

Indonesia menyemaikan nama gerakan perempuan untuk memperjuangkan kemerdekaan 22 Desember 1928, sebagai Hari Ibu. Penentuan Hari Ibu dinyatakan pada Kongres Perempuan 1938 di Bandung. Penetapan Hari Ibu sebagai Ibu Bangsa 1938 adalah jejak bahwa Negara Bangsa adalah dilahirkan dan diperjuangkan perempuan. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah lahir dari perempuan.

Tak perlu ada yang dipertentangkan dengan penyebutan Hari Ibu dan Kenyataan bahwa HARI IBU Indonesia adalah hari pergerakan perempuan. Seperti kenyataan bahwa Hari Ibu 22 Desember berbeda dengan Mother’s Day Amerika Serikat pertama karena di Amerika tidak spesifik bertanggal, namun hari minggu kedua setiap bulan Mei, dan tidak ada jejak peringatan perjuangan gerakan perempuan namun benar sebagai penghormatan terhadap seorang ibu secara biologis dan sosial keluarga.

Adapun Indonesia, sekalipun berbeda tidak menghilangkan jejak biologis ibu yang melahirkan, jejak sosial budaya ibu yang mememilihara, namun dilekatkan juga pada ibu yang berjuang, yang berusaha bersama para laki-laki dan ayah dalam memperjuangkan kemerdekaan, memajukan perempuan dan menghilangkan penindasan terhadap perempuan.

Memisahkan Hari Ibu Indonesia dengan ‘keibuan’ ibu dan realitas gerakan perempuan adalah tidak tepat. Realitas perjuangan perempuan 1928 tidak meminggirkan atau mengesampingkan nilai ‘keibuan’ bahkan sebaliknya menjadi modal perjuangan. Bukankah Kartini melahirkan anaknya dan mengasuh anak-anak yang akan tumbuh menjadi besar, lalu berjuang dan memerdekakan Indonesia. Bukankah Dewi Sartika adalah perempuan yang berjuang mendirikan Sakola Perempuan untuk memajukan perempuan dengan keyakinan bahwa bila perempuan terdidik dan terampil maka akan menumbuhkan generasi yang akan menjadi penerus bangsa, pejuang dan pembawa obor pembebasan kaum tertindas untuk sejahtera. Bukankah pada Kongres 1928 ada PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Keturunannya) organisasi perempuan yang didirikan di Minahasa, Sulawesi Utara yang antara lain bergerak memajukan dan menumbuh-kembangkan sekolah bagi perempuan di Minahasa, dan mendorong anak-anak maju dan memilih pendidikan serta mengembangkan bakatnya. Disamping itu juga Isteri Sedar atau perempuan sadar, semua organisasi dan perempuan dalam Kongres Perempuan tidak mempertentangkan Ibu dari fungsi sosial budaya sebagai ibu dengan fungsi politik sebagai perempuan yang mendorong perjuangan kemerdekaan.

Sangatlah tidak tepat bila ketika di Hari Ibu, pak Joko Widodo selaku presiden menuliskan kesan dan rasanya terhadap Ibundanya, atau ketika kita semua juga melukiskan dan menyatakan bahwa Ibu adalah bagian dari perjuangan kita sebagai manusia sekaligus perjuangan sebagai bangsa.

Patriarki telah berhasil mengkerdilkan perempuan dalam konsep-konsep sempit yang dikehendakinya sehingga tidak ada ruang perempuan untuk membesar dan berjaya sebagai manusia. Maka Konsep Ibu-pun telah dikerdilkan oleh patriarki sebagai semata biologis, semata pemelihara keluarga. Padalah pada realitas nyatanya perempuan adalah ibu bagi satu sama lainnya seperti mengutip Marilyn French dalam novelnya Her Mother’s Daughter </em> “There is always not enough mother’, artinya kita tidak akan pernah cukup hidup didunia dari kasih sayang Ibu, sehingga persahabatan sesama perempuan adalah cerminan dari saling meng-ibu. Atau laki-laki banyak yang menikah dan nyaman dalam rumah tangga karena peran Ibu digantikan oleh isterinya (perempuan). Namun sampai saat ini peran ibu di rumah tangga belum dibagi secara setara dengan laki-laki, padahal ada juga nilai ibu di semua manusia, afeksi sejati itu. Sehingga peran rumah tangga yang tak seimbang menjadi lebih terbebankan pada perempuan.

Maka kini saatnya kita merayakan HARI IBU dengan seluas-luasnya makna Perempuan. Perempuan Pergerakan, Perempuan Penjaga Alam, Perempuan yang saling menghormati manusia lain, mengemong, dan kekuasaan bukan berarti berkuasa atas (Power Over) namun berkkuasan dengan Power To (berkuasa untuk) juga kutipan Marilyn French (Beyond Power). Namun sebagai Ibu, perempuan sekali lagi, harus didekonstruksi secara total pemikiran ibu yang suci, bersih, baik dan sebagainya. Benar dan nyata bahwa Ibu atau perempuan dianugrahi kekuatan afeksi sekaligus kelemahan (perempuan jadi sering mengalah karena afeksi/sayang dan mendahulukan orang lain), hal ini juga adalah konstruksi sosial yang panjang yang terbentuk karena melahirkan. Namun saya tegaskan lagi, perempuan dan ibu adalah manusia dengan segala hak dan keinginan sebagai manusia. Hak mengaktualisasikan diri, hak mendapatkan kebahagiaan, dan menikmati kesenangan seksual, dan bukan sebaliknya yang selama ini diinternalisasi kepada perempuan di hampir seluruh dunia.

Tahun 2014 adalah Hari Ibu dimana perjuangan perempuan 1928 sedikit demi sedikit nampak. Perjuangan persamaan hak bekerja dan hak berpolitik yang cukup maju dibanding jaman sebelumnya yaitu dengan jumlah menterinya, juga pemaparan Presiden Joko Widodo yang mengangkat tentang perjuangan nasionalisme perempuan 1928. Sekali lagi, selamat Hari Ibu, Setiap Perempuan adalah Ibu yang Digjaya.

Umi Lasminah 2014