Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

March 2015

Jakarta Tak Pernah Sepi

Jakarta tak tidur. tak pernah sepi.tak henti berdenyut nadinya.
Jakarta tak akan sepi. tanamannya berdesir saling berbicara. Kendaraan bermotor saling menyapa atau memaki dengan klaksonnya. lalulalang manusia tak
henti. Kanan kiri depan belakang utara selatan timur barat atas bawah segala penjuru arah angin merasuk jiwa membawa raga jutaan manusia mengarah jakarta nun Jayakarta.
manusia-manusia sendiri-sendiri atau berkelompok, organik maupun mekanik berseliweran laksana angin dan awan tak peduli malam atau siang. Tak
bermentari atau berbulan atau berbintang. manusia-manusia segala daya beragam upaya mencari mulia bahagia. Dunia dan spirit.
dari dalam mobil mewah, diatas motor matik atau manual manusia di Jakarta adalah manusia berjiwa, beraga meski banyak yang hampir putus asa. cerita nyata
bahagia dunia orang Jakarta bertanda tanpa dusta ia bisa digjaya, meski selalu ada hitam kejam dan kelam diantaranya, tetap saja Jakarta adalah cinta dan
pertanda baik manusia.

Betapapun ia pernah durjana tercatat dalam fakta nyata. Cinta dan bahagia lebih berharga untuk dikenang sebagai acuan.
Jakarta tidak pernah sepi. Jakarta tidak boleh kesepian, keringat dan air mata manusianya adalah protein, vitamin dan karbohidrat penguat bagi pengelana
baru, pengejar harap dan pemburu bahagia dunia. baik mereka yang kecil bodoh maupun yang kecil cerdas tak peduli siapa anda Jakarta akan menyapa.
Jayakarta tak bisu, tak diam, ia bernyawa dan menumbuhkan. Bertumbuh menghidupkan. Di jakarta pula biji dan benih d batang maupun cabang bertumbuh
dan berkembang.

Jakarta tak pernah sepi tak pernah gelap. siang dan malam selalu terang. Cahaya mentari cahaya listrik adalah selimut hangat. Kala hujan dan kemarau. Panas dan dingin. Banjir basah dan kering.
Jakarta bukanlah kota semata, ia adalah jejaring temali segala rupa segala bangsa segala suku…

Advertisements

Soekarno tulisan beliau: JADILAH PATRIOT KOMPLIT (puisi)

JADILAH PATRIOT KOMPLIT

Saudara-saudara, pemuda dan pemudi,
saya menghendaki jikalau engkau benar-benar patriot komplet,
cintailah tanah airmu, bekerjalah agar supaja tanah airmu itu menjadi besar di bidang politik,
tetapi bekerjalah juga untuk cita-cita sosial ekonomi daripada rakjat Indonesia,
mengadakan satu masyarakat adil dan makmur;
tetapi juga cintailah kebudayaan bangsa Indonesia sendiri!
Kembalilah kepada kepribadian kita sendiri!

Jikalau kita sudah kembali kepada kepribadian kita sendiri, kita mencintai kebudajaan kita sendiri.

Saudara-saudara, bagi seorang patriot komplet,
jang dinamika Indonesia itu bukan sekedar 3000 pulau jang terserak antara Sabang dan Merauke;
bukan sekedar: ini Sumatra, ini Jawa, in Kalimantan, ini Sulawesi, ini Halmahera,
ini Maluku, ini Irian Barat. Buat seorang patriot komplet,
Indonesia bukan sekedar rangkaian kepulauan jang digambarkan di atas peta,
buat seorang patriot komplet segala hal ini adalah Indonesia.

Bagiku misalnya anak-anakku sekalian, aku mengucapkan syukur kepada Tuhan Jang Maha Esa,
bolehkah saja katakan bahwa saja ini patriot komplet?
Sebab saja cinta kepada kemerdekaan Indonesia, saya cinta kepada masyarakat Sosialis Indonesia,
saya cinta kepada kultur Indonesia, saya cinta kepada seni Indonesia, sehingga ada orang yang berkata: Bung Karno itu segalanya itu seni, seni, artis-artis.
Boleh saya katakan, saya ini adalah patriot komplet.
Bagi saja Indonesia ini bukan sekedar pulau-pulau di atas peta;
bagi saya Indonesia adalah satu totaliteit.
Jikalau aku bediri di Pantai Ngliyep dan aku mendengar lautan Hindia bergelora membanting di Pantai Ngliyep itu, saya tidak lagi mendengarkan lagi air laut dibanting di pantai,
saya mendengarkan sajak, lagu Indonesia.
Jikalau aku melihat sawah-sawah jang menguning-menghijau,
saya tidak melihat lagi batang-batang padi jang menguning menghijau,
saya melihat Indonesia Jikalau aku melihat gunung-gunung,
Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelabat, gunung jang lain lain, membiru menjulang ke langit, aku tidak hanja melihat gunung-gunung,
aku melihat Indonesia. Jikalau aku mendengarkan lagu-lagu jang merdu dari Batak, bukan lagi lagu Batak jang kudengarkan, aku mendengarkan Indonesia.
Jikalau aku mendengarkan Indonesia. Jikalau saya mendengarkan Pangkur Palaran,
bukan Pangkur Palaran jang saja dengarkan, saya mendengarkan Indonesia.
Jikalau saya mendengarkan lagu Olesio dari Maluku, bukan lagi saya mendengarkan lagu Olesio, saya mendengarkan Indonesia. Lebih daripada itu, jikalau saya mendengarkan burung perkutut menyanyi di pohon di tiup oleh angina sepoi-sepoi, saya bukan mendengarkan burung perkutut, tetapi saja mendengarkan Indonesia. Jikalau saya menghirup udara ini, saya tidak lagi menghirup udara,
tetapi saya menghirup Indonesia.

Ya, segala hal di sekeliling saya ini, ya buminya, ya pohonanya, ya gunungnya, ya langitnya,
ya awannya, ya, jikalau aku melihat awan berarak, sebab ini awan adalah lain macam daripada awan yang saya lihat di Eropa, apalagi di Eropa bagian Utara, awannya mega putih yang berarak tidak seperti di sini, jikalau aku melihat mega putih berarak di langit, aku tidak lagi melihat mega putih, aku melihat Indonesia.

Sebagai tadi kukatakan, segala ini adalah Indonesia bagiku. Ini adalah satu totaliteit.
Maka oleh karena itu aku berkata dengan mengucap syukur kepada Tuhan Jang Maha Esa:
saya boleh mengatakan aku ini patriot komplet.
Dan mengajak kepada semua pemuda dan pemudi:
“Jadilah patriot komplet; janganlah sekedar patriot politik saja.”

Soekarno, Surabaja 28 oktober 1959

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑