Hari Kartini 2015

Setiap tahun tanggal 21 April kita seringkali disuguhkan tulisan para pengkritik Kartini, Raden Ajeng, Raden Ayu putri bangsawan Jepara. Kartini seorang perempuan Jepara yang meninggalkan jejak tulisan surat-suratnya maupun tulisan opini dan laporan, yang semuanya berbahasa Belanda. Tulisan yang sarat dengan pemikiran, curahan hati dan harapan bagi bangsa Nusantara.
Hampir setiap tahun pula, biasanya saya akan menuliskan pembelaan pada Kartini, pada perjuangannya, pada sikap akhirnya yang menikah. Ya pembelaan karena masih saja ada laki-laki atau perempuan yang meragukan ketulusan Kartini berjuang bagi negerinya bagi bangsa dan khususnya bagi perempuan.

Tahun 2015 ini saya belum tahu siapa laki-laki atau perempuan yang akan menuliskan ‘penghinaan’ terhadap Kartini, semoga saja tidak ada. Karena saya yakin mereka umumnya tidak membaca tulisan dan surat-surat Kartini. Lumayan menggembirakan pada tahun 2015 ini, karena banyak kegiatan yang dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Kartini dengan kegiatan positif. Di antaranya dengan “Seminar Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Kota Depok, Jawa Barat” yang diprakarsai oleh anggota DPRD Depok Sahat Farida Berlian, juga “Diskusi Merayakan Kartini, Kondisi Perempuan di Industri Media” yang antara lain dimotori oleh Luviana seorang perempuan aktivis jurnalis. Ada juga banyak kegiatan lain yang dilaksanakan di berbagai daerah. Melihat penghargaan atas apa yang telah dilakukan Kartini untuk terus dilanjutkan perjuangannya oleh perempuan berbagai latar belakang suku maupun, Sahat Tarida adalah keturunan Sumatera Utara, Luviana dari Yogyakarta, dan saya sendiri berlatar belakang Sunda. Sesungguhnya Kartini tidak hanya memaparkan pengalaman penindasan yang dialami bangsa Indonesia, penindasan terhadap perempuan adalah fenomena dunia dan pada masa ditulisnya Indonesia, tak heran dalam surat terjemahan “Door Duisternis tot Licht,” (Habis Gelap Terbitlah Terang) ke bahasa Inggris Letter to Javanese Princess, oleh Agnes Louise Symmers. Rye, New York April, 1920 “Kartini has stood the test of time. To the modem progressive Javanese she is a national heroine, almost a patron saint. Her influence and her work live, and are a vital factor in the prosperity and happiness of her country”.

Pengakuan atas perjuangan Kartini oleh bangsa lain, suku yang beragam adalah fakta plural nya latar belakang perempuan yang mendukung perjuangan Kartini, namun tunggal dalam pengalaman sehingga mengakui dan menerima paparan Kartini dalam surat-suratnya tentang harapan dan cita-cita persamaan manusia, laki-laki dan perempuan.

Mengingat Hari Kartini 2015, menginat perempuan seluruh dunia dengan latar belakang berbeda, namun menyadari pengalaman sama, sebagai perempuan, sebagaimana pengalaman biologisnya. Untuk itulah kiranya dapat menjadikan kita bersama-sama go beyond melampaui perbedaan yang ada apapun itu, kembali ke diri sebagai perempuan menolong perempuan.

Advertisements