Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

July 2015

Pemimpin adalah Manusia yang melampaui Kemanusiaan

Pemilu adalah wahana yang dipilih Indonesia sebagai negara modern 1945, untuk memilih pemimpin Negara, Negeri, dan Daerah. Memilih sebagai hak ‘terberi’ setiap rakyat berdasarkan Undang-undang dan Konstitusi. Pemimpin yang terpilih dalam Pemilu bisa dibilang pemimpin yang terpilih disebabkan oleh sistem yang dianut, dan bukan yang terbaik atau yang harusnya terjadi, atau bukan Pemimpin yang terpilih karena Ia memiliki Kelebihan dalam Hal Kemanusiaan.  Pada sistem Pemilu, Hak memilih lebih dahulu ada baru kemudian Hak Dipilih dan Wajib/Terpilih. Ini berbeda dengan kondisi non modern masalalu. Terutama ketika Nuswantara Jaya, sebelum sirna ilang kerta ning bumi. Pada masa pemilu modern ditunjukkan dengan proses dimulai dengan pemuktakhiran Pemilih, artinya yang Memilih lebih dahulu muncul dibanding dengan Pemimpin atau calon pemimpinnya.

Pada masa non modern, Nuswantara Jaya (meskipun teknologi/rekayasanya sudah sangat modern bahkan lebih canggih) Politik dan sistem politik tidak ditentukan oleh massa atau orang banyak atau pemilih, melainkan sistem Makrokosmos yang menentukan Mikrokosmos. Pada konteks ini, Pemimpin Lahir lebih dahulu atau muncul lebih dahulu, baru dipilih oleh orang-orang atau diminta memimpin. Orang yang terpilih dan dipilih sebagai Pemimpin bukan disebabkan adanya hak memilih, melainkan ada kesinambungan hakiki antara hubungan Makrokosmos (Penguasa Semesta Sang Pencipta berserta aparat Pengatur Alam) dan Mikrokosmos (Manusia dan melampaui Kemanusiaan terpilih). Sistem Kerajaan dan Keratuan adalah sistem dimana Individu Terpilih adalah mereka yang benar-benar mendapat Dawuh/Wahyu untuk menjadi pemimpin, bahkan sebelum mereka dipilih pun. Setiap Raja/Ratu yang akan turun tahta sudah menyiapkan penggantinya. Adapun raja-ratu baru, di daerah-daerah yang lebih kecil (setingkat provinsi, kabupaten, atau kecamatan) umumnya dipilih langsung atau memang ditunjuk untuk membuka lahan/babat alas.  Ada juga rakyat biasa yang karena mlaku lalu menjadi sakti, dan tingal disuatu wilayah/desa lalu menolong dan membantu rakyat menjaga kehidupan di desa, oleh rakyat didesa didatangi untuk minta bantuan, minta perlindungan, biasanya orang tersebut dapat saja diangkat menjadi Raja/Ratu atau sesepuh secara resmi oleh Kerajaan, atas permintaan dan dukungan rakyat di wilayah tersebut. Mereka yang menjadi penguasa setingkat Provinsi misalnya disebut Adipati Kerajaannya menginduk kepada Maharatu/Maharaja, dibawahnya Adipati ada kabupaten/walikota yang dipimpin oleh Tumenggung dan seterusnya.

Ditingkat Pemerintahan Raja/Ratu ada juga Dewan Pertimbangan seperti DPR, namun mereka tidak dipilih seperti sekarang di Indonesia. Ada satu petunjuk yang membuat individu siapapun memiliki kesaktian dan kelebihan serta kebijaksanaan sehingga mereka dipilih menjadi penasehat Raja/Ratu dalam mengambil keputusan pemerintahan dan politik. Ratu/Raja yang sudah surut menjadi Pandita atau penasehat yang tidak lagi turun ke lapangan menyelesaikan permasalahan rakyat namun memberi pertimbangan kepada Raja/Ratu, dan mungkin saja turun terjun langsung ke lapangan jika dibutuhkan dan sangat dibutuhkan untuk keselamatan Negara dan Rakyat. Pandita dan Raja/Ratu adalah mereka yang memiliki kesaktian sehingga beliau-beliau adalah yang benar-benar melindungi Rakyat dari bahaya dan kejahatan. Raja/Ratu di Nuswantara berada di depan saat medan perang, juga mereka memberi arahan dan komando langsung pada pasukan perang yang terlatih. Ada tingkatan yang berada disekitar Raja/Ratu, ada ring dan layer. Bagaimanapun Raja/Ratu adalah simbol sekaligus pemomong Negara dan Rakyat. Semakin sakti dan bijaksana Raja/Ratu maka rakyat semakin sejahtera. Terutama laku raja akan membawa pada laku rakyat, ketika Raja prihatin dan menyerap kesusahan rakyat, maka rakyat akan lebih bahagia. Disinilah Pemimpin harus melampaui kemanusiaan. Seorang Pemimpin dilarang menampakkan kelemahannya dihadapan rakyatnya, tidak dianjurkan menunjukkan ketakutannya di hadapan rakyat. Pemimpin harus menyerap segala kesusahan rakyat. Hal ini terjadi terutama ketika Pemimpin tersebut adalah yang terpilih terlebih dahulu oleh Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta. Leviathan. Raja/Ratu adalah Titisan Dewa. Ia pun tampil sebagai Lambang Daerah, artinya ‘bagus, baik, dan sempurna’ itulah Lambang. Lambang adalah simbol pegangan hati dan pikiran dari yang melekatkan diri padanya, hubungan emosional yang diciptakan bersama sebagai identitas individu dan kolektif. Pemimpin adalah ksatria yang wajib menjaga sabda-nya (perkataanya), karena akan kejadian/pasti terjadi: Sabdo Pandito Ratu. Hal ini karena lekatan Makrokosmos yang merestui dan memberi legalitas keseluruhan penguasaan duniawi kepada individu (manusia)Mikrokosmos .

Nah Pilkada 2015 yang akan dilaksanakan serentak Rabu 9 Desember 2015, akan berlangsung di 260 kabupaten, dan 9 provinsi. Rakya akan memilih bupati/walikota dan gubernur. Apakah telah ada sinergi Makrokosmos dan Mikrokosmos: semoga, sehingga manusia terpilih adalah yang memang dilahirkan untuk memimpin. TriSakti pemipin artinya dia pun berdaulat/ sakti sebagai manusia yang terpilih sadar diri dan menghormati Sang Pemberi Mandat/Wahyu, Mandiri dia berani menghadapi permasalahan dan apapun yang dialami secara ksatria dan sakti, dan Berpilaku dalam budaya kehidupan Unggah Ungguh, tatacara, hormat dan Menjunjung tinggi ajaran Dimana Bumi Dipijak disitu Langit Dijunjung… sehingga Pemimpin ini  bukan sekedar dipilih…kita lihat saja @umilasminah

Kembalikan Keaslian Pangan Papan pada Perempuan

Bumi padamulanya dikelola oleh para Dewa/Dewi yang mengejawantah-menitis menjadi Raja/Ratu Manusia. Mereka dibimbing oleh Batara-Batari, Dewa/Dewi. Adapun Bumi, tanahnya lapisan pertama oleh Dewi Pertiwi, maka di Indonesia dikenal Ibu Pertiwi. Beliau juga adalah Dewi Sri, atau di Jawa disebut Mbok Sri, Dewi Padi. Sebagai pengelola dan penguasa Bumi lapisan pertama, tentunya rakyat pada masalalu sangat dekat dan mengenal Beliau. Dan Dewi Sri juga menitis pada perempuan yang menjadi Maharatu besar yang menjadi penguasa Semesta Raya seperti Dewi Sitawaka (Kerajaan Maswapati dikenal sebagai SriWiJaya (Sri= Dewi Sri, Wi=Paling, Jaya=Jaya), juga Maharatu Shimahawan dari Medang Kamulyan yang kekuasaannya hingga ke Jepang dan Rusia. Tentunya dengan kekuasaan tersebut pengetahuan dan teknologi juga menjadi bagian yang ditinggalkan oleh Leluhur di negeri-negeri tersebut.

Para dewa-dewi Beliau yang pertama kali mengajarkan manusia tentang bagaimana hidup di dunia/arcapadda. Tentang bagaimana mengenali semua mahluk hidup (tanahaman dan hewan), bagaimana membaca sastra cetha (sastra jelas dari Alam). Selain membaca mengenali manusia juga diajarkan untuk mengelola, menguasai secara bijak dan melestarikan. Melestarikan adalah Surga. Di surga tak ada habisnya infiniti/borderless. Arah ke surga semakin dekat sebenarnya ketika kini manusia masih diberi kesempatan untuk terus menikmati makan/pangan dan tinggal secara bahagia bersama dan didalam nature (alam). Pada masalalu industrialisasi juga sudah berjalan, dalam arti pemenuhan kebutuhan manusia dipenuhi melalui teknik produksi sesuai kebutuhan jumlah, tidak berlebih melainkan hanya kualitas karya yang berbeda. Sehingga industri bukanlah proses kapitalis yang menindas, melainkan proses manusia dalam kerangka makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia dengan kekuatan adidaya terentu dan menjalin hubungan dengan kosmos yang baik maka penciptaan produk juga merupakan bagian dari blessing berkah Sang Pencipta Penguasa yang sesungguhnya.

Kini ketika globalisasi dalam arti dunia yang semakin mengecil, teknologi yang memperpendek waktu dan mempercepat memperdekat jarak. Menjadikan industri tidak lagi berpusat disatu titik pengolahan manufaktur namun tersebar diseluruh penjuru dunia dari lokasi di pedalamanan hingga dipusat kota maupun di wilayah urban yang kumuh. Namun sepanjang perjalangan manusia modern yang merasuk ke Indonesia, keaslian tradisi dalam proses produksi terpinggirkan. Indusri tidak lagi korelasi makro dan mikro kosmos. Namun lebih pada manusia dengan manusia terutama materi/matter. Pengkondisian tersebut searah dengan ideologi yang menguasainya, patriarki. Patriarki menjadi nilai tertinggi dalam praktek kakuasaan segala bidang diperkirakan sejak abad ke 15. Jejaknya bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan asli masyarakat  diAmerika Latin/Selatan, Amerika Utara, juga masyrakat asli di Asia. Patriarki memegang teguh nilai maskulin, yang membuat struktur pembedaan struktur berjenjang, perempuan lebih rendah laki-laki lebih tinggi. Hal ini lagi lagi karena dogma ajaran monotheis bahwa manusia pertama adalah laki-laki.

 

Kebangkitan Nuswantara Kembalinya Kemuli

Kebangkitan Nuswantara Kembalinya Kemuliaan Perempuan: Kerajaan Nuswantara atau bahasa sekarang Nusantara, sama sep… http://wp.me/p3BQE-uN

bagi yang masih percaya Demokrasi (siste

bagi yang masih percaya Demokrasi (sistem politik serapan) silahkan mengikuti jalannya Pilkada Pemilihan Kepala Daerah Bupati/Walikota/Wakil pada Desember 2015.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑