Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

April 2016

Tari Cokek Sipatmo, Lentera Benteng Jaya Seni dan PelestarianNilai

Continue reading “Tari Cokek Sipatmo, Lentera Benteng Jaya Seni dan PelestarianNilai”

Advertisements

Kutipan Kartini: Pejuang Melampaui Jamannya

Perkawinan Usia Anak di Kalmantan Selatan

Perkawinan usia dini bagi perempuan dapat menyebabkan Kekerasan dalam Rumah Tangga karena ketidak siapan emosional, anak tidak bahagia karena masa kanak-kanak hilang, dan anak putus sekolah. Di Kalimantan Selatan, anak perempuan maupun anak laki-laki dikawinkan keluarga pada usia muda. Pandangan warganya bahwa perkawinan mencegah zina, dan agar tidak jadi perawan tua, dan ini terjadi dihampir 13 kabupaten/kota anak-anak dinikahkan pada usia muda. Usia anak yang dikawinkan oleh orang tuanya adalah usia 10-11 tahun. Bahkan ini terjadi di kota Banjarmasin.

Penduduk Kalimantan Selatan untuk wilayah desa mayoritas berpenghasilan dari bekerja sebagai petani penggarap. Perkawinan anak umumnya dilakukan sebagai perkawinan biasa, tak ada yang aneh. Ada kemungkinan hal ini telah menjadi kebiasaan ketika para ibu dan bapak yang menikahkan anaknya juga masih berusia muda, kemungkinan mereka juga mengalami perkawinan diusia muda.

Ibu Hapniah selalu staf PKBI Kalimantan Selatan mengatakan selama ini PKBI melakukan pendampingan dan sosialiasi kesehatan reproduksi tidak dapat berbuat banyak. Hal ini disebabkan perkawinan usia dini telah hampir menjadi lumrah. Lalu bagaimana bisa terjadi diusia anak-anak, karena orang tua meminta dispensasi di Pengadilan Agama dengan alasan a.l mencegah zina, atau sudah hamil. Surat rujukan diperoleh orang tua dari Sekretaris Desa yang menyetujui dan memberi rekomendasi. Pandangan bahwa nabi muhammad juga menikahi aisyah saat usia muda (9 tahun) juga menjadi salah satu pendorong. Dan hingga kini Provinsi Kalimantan Selatan jumlah perkawinan anak tertinggi diIndonesia (9% tahun 2014). Bahkan menurut ibu Hapniah di Banjarmasin ada seorang anak berusia 11 tahun diantarkan oleh orang tuanya, untuk dinikahkan lelaki tua kaya berusia 60tahun sebagai istri ke 5 dan anak ini mengalami kekerasan dari suaminya dan dimintakan untuk mengembalikan mahar. Ketika melarikan diri pulang ke rumah keluarganya anak ini malah diantarkan kembali oleh keluarganya. Dalam hal ini Negara tidak dapat membantu si anak ketika keluarga maupun warga tidak melaporkan…

Perkawinan anak menyebabkan penderitaan anak-anak yang kehilangan masa pendidikannya, terjadi kekerasan dan tingginya perceraian, dan menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan dari generasi-ke generasi. Entah mengapa hingga kini meskipun telah ada UU Perkawinan No.1974 yang memberi batasan usia pernikahan 19 tahun, masih terjadi juga perkawinan anak.

Wiwitan KeboKetan Kembalinya Nilai Tradisi

ngiy5
foto oleh @kutukandangdut

Continue reading “Wiwitan KeboKetan Kembalinya Nilai Tradisi”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑