ngiy5
foto oleh @kutukandangdut

Ketika mendengar ada kegiatan yang memuliakan kembali pepohonan besar dan menyebut Danghyang, maka saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh. Pertama karena memanggil dan memuliakan kembali Danghyang yang selama ini tidak saja dianggap ‘setan’ dan tidak ada, dan malah Palinggih beliau ‘Danghyang’ banyak yang ditebang karena dianggap angker dan banyak setannya. Sebagaimana yang terjadi di Jakarta, pohon besar dahulu ditebangi karena dianggap banyak setannya, dan banjirlah ibukota ini. Kedua karena memanfaatkan moda kesenian, tradisi gotong

ngiy62
foto oleh @kutukandangdut

royong dan mengajak warga dan seniman bergabung sukarela mensukseskan acara perhelatannya.

Lebih jauh diketahui bahwa pemuliaan pohon oleh Kraton Ngiyom terkait dengan menjaga sumber mata air, yang diampu oleh pohon besar. Pohon besar ‘Kepuh’ yang banyak menyerap dan menyimpan air di wilayah Desa Sekaralas, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Itu sekedar sedikit ketertarikan saya dan kesetujuan dengan apa yang dilakukan oleh Kraton Ngiyom https://www.facebook.com/kratonngiyom/ . Komunitas kesenian berdampak dan partisipatoris, yang bermetamorfosa sebagai lembaga nir laba Kraton Ngiyom untuk menciptakan kegiatan tidak sekedar event ‘event’ tetapi dirancang dan dilaksanakan untuk mempunyai dampak nyata, terutama di bidang pelestarian lingkunganhidup, pemuliaan tanah dan pengolahan sampah serta penguatan kesenian lokal. Dua event besar sudah dilaksanakan oleh KratonNgiyom yaitu perkawinan Mbah Sukodok dengan Peri Setyowati http://regional.kompas.com/read/2014/10/08/19114141/Ini.Alasan.Kodok.Menikahi.Peri.meski.Tak.Pernah.Melihat.Wujudnya )

Perhelatan perkawinan sebagai prosesi seni, yang dibalut mitos dan kegiatan spiritual berdoa pada Leluhur dan Yang Maha Kuasa, dengan niat baik bagi tanah dan air dimana sumber mata air dan tanaman tumbuh dibuktikan dengan restu suksenya acara dan animo publik dan masyarakat. Inilah seni berdampak. Perhelatan pertama akhirnya membuat kesadaran masyarakat diseputar sendang tumbuh dan turut menjaga, dan yang tak kalah penting adalah memanggil kembali para Beli

fotoGodelivaSari
foto oleh Zen Zulkarnaen

ootau Danghyang, yang adalah hapsara/hapsari petugas menjaga suatu wilayah dari kumara ashor (mahluk tak nampak yang buas dan atau pengganggu manusia) atas perintahNya. Manusia yang mengakui kekuasaan Danghyang atas suatu wilayah ditunjukkan dari secara turun temurun, ketika membangun rumah maka diatas rumah disedikan gula kelapa, janur, kopi atau minuman dan bendera Merah Putih. Dulu ketika saya belum tahu saya hanya setuju pada tradisi tersebut, saya bilang itu untuk Beliau yang tak kelihatan tapi penguasa wilayah. Dan benar adanya, suatu kali seorang tetangga membangun rumah tanpa kulo nuwun tanpa memberikan ‘sajen’ kena masalah mulai dari tukang bangunan kesurupan, dan kehilangan HP. Ketika rumahnya jadi pun, motor baru milik keponakannya hilang. Artinya sang Danghyang mungkin tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di rumah tersebut. Apapun, itu terjadi.

Kembali ke event Wiwitan (permulaan) KeboKetan yang saya hadiri Minggu 3 April 2016 di Sendang Margo sebagai rangkaian pembuka upacara KeboKetan yang akan memuliakan Sungai, sebagai sumber budaya dan kehidupan, dimulai Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo. Rencananya bulan Desember 2016. Secara filosopi menurut penggagas Kraton Ngiyom dan seluruh event budaya seni berdampak Bramantyo Prijosusilo. KeboKetan memuliakan sungai sebagai bagian  dari dawuh Mbah Kodok dengan Dewi Setyowati, bahwa putri/putra kembar mereka Joko Samudro dan Sri Parwati mendapat tugas untuk memuliakan kembali Bengawan Solo. ” Prosesi “Upacara Kebo Ketan” adalah suatu narasi pengorbanan. Di dalam sejarah seringkali rakyat menjadi korban, bahkan dibinasakan oleh perubahan. “Upacara Kebo Ketan” mengakui dan memuliakan pengorbanan rakyat, namun hendaknya, jangan pernah rakyat dibinasakan. Sebaliknya dengan kreatifitas dan daya hidup, biarlah rakyat mengorbankan waktu dan pikiran serta sumberdayanya, untuk membuat perubahan-perubahan yang dibutuhkan guna meningkatkan kesejahteraan. Perubahan-perubahan budaya yang diupayakan oleh Kraton Ngiyom sebagai penggagas upacara, antara lain adalah perbaikan-perbaikan sikap terhadap sampah, terhadap lahan, terhadap mata-air dan hutan, terhadap sastra lisan dan kesenian lokal, dan juga sikap terhadap manusia lain, sikap sebagai warganegara, dan jiwa kerelawanan.(Siaran Pers )

Datang di wiwitan #KeboKetan masyarakat yang hadir disuguhi pertunjukkan kesenian modern (musik modern lagu terkini, artis dari Jakarta Oppie Anderesta yang menyanyikan lagu tema menaman pohon dan menyiram pohon, dan penampilan seni tradisi (Reog Ponorogo dan tari Bedoyo), tak lupa para seniman lukis yang melukis secara bebas sepanjang acara berlangsung. Kraton Ngiyom menyediakan kanvas dan alat lukis.  Wadabala dari Keraton Solo juga turut upacara sembahyang. Acara wiwitan turut mempopulerkan kelestarian lingkungan, dan pangan organik serta tradisi berbagi. Mereka yang datang ke anjungan yang menyediakan beras merah, putih (pulen) organik dapat membawa pulang beras tersebut sejumlah yang wajar dengan terlebih dahulu berdialog dengan penjaga stand yang akan menceritakan tentang beras organik, dan bisa juga jadi benih. Ada juga disediakan menyan yang berasal dari Yogyakarta. Semuanya bisa dibawa pulang gratis, bila ada uang boleh sumbang. Adapun untuk warga yang datang darimana saja, dari sekitar desa Sekarputih, Ngawi maupun dari Yogyakarta disedikan makan siang nasi bungkus gaya Jawa 🙂 yang dimasak para ibu di desa Sekaralas. Happening Art Seni Kejadian berdampak adalah pilihan idealis berkesenian yang membuktikan berkarya seni bisa juga turut dalam kelestarian alam dan membangkitkan nilai budaya lokal. @umilasminah

Advertisements