Tangerang, 26 April, 2016. Wartafeminis berkesempatan datang ke Neglasari, bersama Ibu Tri dan Ibu Wirda dari PPSW untuk melihat latihan terakhir Tari Cokek Sipatmo Koperasi Wanita Lentera Benteng Jaya, Tangerang. Koperasi yang  beranggotakan mayoritas ibu-ibu maupun remaja perempuan warga Cina Benteng diseputaran sungai Cisadane ini diinisiasi oleh PPSW: (https://wartafeminis.com/2015/09/10/kiprah-pssw-memberberdayakan-perempuan-mensejahterakan-warga/ ). Koperasi yang telah memiliki 172 anggota juga mempunyai kegiatan peningkatan kapasitas belajar budaya dan sejarah dalam diskusi. Dari situlah ditemukan tentang Tari Cokek. Sehingga atas dukungan PPSW LBJ juga memiliki kegiatan belajar tari tanpa dipungut bayaran. Tujuan dari latihan tari cokek ini adalah: a Menumbuhkan kepedulian dan kemauan dari pengurus LBJ dan warga Cina Benteng termasuk generasi muda untuk melestarikan kesenian Tari Cokek Sipatmo b. Memberikan ketrampilan Tari Cokek Sipatmo kepada pengurus LBJ dan warga Cina Benteng termasuk generasi mudanya sehingga Tari Cokek Sipatmo tampil dibeberapa pertunjukan tingkat lokal dan nasional.

Latihan dilakukan di kantor Kelurahan Neglasari, Kecamatan Neglasari Kota Tangerang, para Ibu berlatih tari di lantai 3 kantor. Wartafeminis juga berbincang dengan Ibu Hj.Kartini Kisam guru tari yang datang dari Cibubur, Jakarta sebelum latihan dimulai. Ibu Kartini sendiri direkomendasikan untuk mengajar tari oleh Julianti Parni dari Institue Kesenian Jakarta yang menjadi mitra diskusi PPSW tentang ide tarian. Semula para ibu enggan belajar tari Cokek, disebabkan tarian ini biasa ditarikan saat ada hajatan kawin dan lebih bersifat menghibur, sehingga tidak terlalu istimewa. Sehingga dipilihlah tari Cokek Sipatmo yang biasa dimainkan saat kegiatan upacara adat. Tarian ini juga menjadi tarian yang memiliki nilai baik. Dan tarian yang diajarkan kepada Lentera Benteng Jaya merupakan tarian yang diperuntukkan bagi upacara baik di Kelenteng ataupun Wihara, pada saat ulang tahun maupun sejit (upacara memuja dewa dan arakan), maupun saat perayaan Imlek. Ibu Kartini bercerita, bahwa tari Cokek yang diajarkan diharapkan dapat menjadi simbol keseharian warga dalam menjaga 9 lubang (manusia memiliki 9 lubang).

Meskipun masih sangat sederhana, musik dimainkan dari rekaman yang iputar melalui Flashdisk, ruang latihan latihan tekhir ini anggota yang hadir juga membawa kue kering buatan bersama anggota koperasi.

Hasil berlatih tari cokek selama dua bulan Maret dan April membuahkan hasil yaitu dipentaskan pada Hari Bumi, tanggal 24 April, 2016 di depan Kantor Kecamatan Neglasari. Kegiatan berlatih tari ini diikuti oleh delapan orang penari inti, didukung oleh PPSW; Lurah Neglasari , juga Camat Neglasari dan Dinas Kebudayaan Daerah serta Camat Neglasari LBJ. Kegiatan pelestarian budaya lokal memang dapat sukses bila didukung semua pihak, masyarakat, pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat. @umilasminah

Advertisements