Penggusuran adalah ketika manusia yang datang dan tinggal di tanah dan air tempat dia dilahirkan, dia jaga, dia rawat Alamnya, dengan meminta Ijin pengelola Alam yang tampak (Raja, Kepala Adat) dan Tak Tampak, lalu datang orang-orang lain yang tidak tinggal di tanah air itu, tetapi mengeksploitasi Alam nya (Pengusaha Kelapa Sawit, tambang & perkebunan lainnya) Mereka yang digusur, dari tanah yang dijaga untuk menghidupinya, dan menghidupi semua. Itu terjadi di kalangan masyarakat adat. Itulah sejatinya Penggusuran, tercerabut dari tanah dan air, tidak dapat lagi terikat/berhubungan dengan Alam (binatang dan tanaman), terputus dari Jejak Budaya Alam-nya yang lahir dari hubungan dengan pohon, binatang, hutan, pantai, sungai dan gunung. Jejak Budaya yang melahirkan Tari,Seni,Tenun,Obat Herbal, Makanan,Musik..dan tentu Jejak Para Leluhurnya. Marcus Colchcester sangat bagus menulis ini di buku Salvaging Nature Indigenous Peoples, protected areas and Biodiversity Conservation.
Adapun orang yang tinggal di pinggir kali,sungai mereka datang berkumpul juga melalui ijin yang tampak…tapi apakah mereka juga merawat, menjaga Alam dan ijin dengan yang tak tampak? Mereka datang bersama dan sistem yang tidak tegas, dari suatu kondisi yang struktural Tidak Mengenal Penghormatan Alam, pemerintah lampau dan masyarakat lampau (lompatan agraris industri yang tiba-tiba) melanda Jakarta 1960an. Menempati bantaran sungai…pinggir jurang…membahayakan diri sendiri atau tidak itu bisa diperdebatkan, namun pada konteks modern mudah gambaran materilnya..dapat dilihat sendiri.
Presiden Jokowi dulu rumahnya digusur, karena untuk pembangunan jalan kereta…
Bagaimana jalan kereta itu kini… Lampau ini modern, yang instant industrial, bukan masalalu Nuswantara, dimana tatakrama, keteraturan, dan penghormatan Alam adalah hal utama.
Masalalu Nuswantara teratur, tempat2 dan lokasi terbagi dalam Ketertiban Harmoni Alam
1) Sungai/Laut: tempat lalulintas manusia dan hidupnya hewan&tumbuhan sungai, dan (tahta) Penjaga Alam
2) Hutan: tempat hidup pohon,hewan,mahluk dan (tahta) Penjaga Alam, tempat mencari makan dan kebutuhan manusia
3) Kebun, Sawah,Tambak: tempat manusia menyiapkan/rekayasa pangan untuk kebutuhan bersama penghuni Alam yang Nyata dan Samar.
4) Rumah Penduduk, Kantor Pemerintahan/ Pelayanan, Pasar, dan Perusahaan Pemenuh Kebutuhan.
5) Keraton/Istana dan Tempat Pemujaan yang Megah
6) Kaputren/Ksatrian: menyatu dengan Keraton yang menelurkan pemuda/i ksatria pemimpin bangsa
7) Padepokan/Pagrogolan tempat sekolah dan tempat diri untuk berbagai karir, tempat olahraga Pada masalalu Hutan ada dalam Naungan Maharaja/Maharatu karena biasanya Hutan dekat dengan Gunung (Kaki Kahyangan) tempat para dewa-dewi rawuh/turun ke Arcapada Bumi. Sehingga ada masanya Raja memberikan daerah hutan untuk dibabad alas, Hutan ditebangi untuk dijadikan Pemukiman, kepada mereka yang diberi Anugrah oleh Raja…sehingga berketurunan dan menciptakan desa/kota baru, semua melalui TataCara Alam, komunikasi dengan Hyang Berkuasa.
Makro Kosmos dan Mikro Kosmos tidak sekedar apa-apa yang tampak dipermukaan yang terlihat belum tentu yang sesungguhnya seperti kelihatannya. Bagaimana pun, saya sendiri bisa dibilang korban penggusuran sistemik karena selaku PNS bapakku harus pindah rumah dari yang dulu di Pondok Pinang Jakarta Selatan yang luas berdampingan dengan Kebon Karet (ibu masih sempat buat makanan dari biji buah karet), kebon singkong, dan masih memasak dengan kayu bakar dan hidup dengan burung dan hewan liar saat itu di Jakarta.
Pindah ke tempat sekarang yang jauh berbeda. Ssaya tidak sempat merasakan budaya makan biji karet itu…
Namun didalam Konteks terkini, dimana Jakarta Raya mungkin saja jadi Penanda Kebangkitan Nuswantara seperti masalalu, ataukah Penanda Kebangkitan namun harus hancur dulu…secara sosial dan Alami…
Mari kita nantikan bersama.