Search

wartafeminis.com

Indonesia Feminist Theory and Practices

Month

November 2016

Seminar Argoekologi Nusantara, Bogor 2016

Agroekologi: Jalan Lurus Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Indonesia
Bogor, 29 November 2016, kampus IPB Dramaga diharapkan dapat andil mengembalikan kedaulatan bangsa dibidang ekonomi, khususnya ekonomi bersumber dari tanah dan air Nusantara, dan melalui Seminar Argoekduaagoekologi22ologi Nusantara diharapkan tukar pikiran dan berbagai pengetahuan pengalaman yang dapat dipraktekkan bersama secara kelompok atau individu mandiri. Seminar agroekologi nusantara dengan tema Agroekologi Jalan Lurus Kedaulatan Pangan yang diselenggarakan oleh Departemen Proteksi Tanaman IPB, Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB, dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) di Kampus IPB Darmaga.

Didalam Pers Rilis yang dikeluarkan panitia, dinyatakan antaralain:IPB Bogor
> Pendekatan pembangunan pertanian selama ini tidak memperhatikan aspek keberlanjutan dapat mengancam produksi dan ketersediaan pangan. Degradasi ekosistem pertanian terjadi secara masif. Praktek pertanian dilakukan penggunaan input pertanian (pupuk, pestisida, herbisida sintetis) secara tidak tepat, berlebihan dan terus menerus secara menjadi penyebab kerusakan eksositem pertanian. Lahan semakin tidak subur, serangan hama penyakit meningkat adalah contoh dampak yang ditimbulkannya.
>kondisi ini dapat mengancam cita-cita swasembada dan kedaulatan pangan sebagaimana nawacita.Diperberat juga dari dampak perubahan iklim. Produksi pertanian terus berfluktuasi yang berujung impor. Pada tahun 214 saja tercatat 18 juta ton atau setara dengan 7,6 miliar USD Indonesia mengimpor tanaman pangan.

Menjawab persoalan tersebut pendekatan agroekologi menjadi alternatif model pembangunan pertanian masadepan. Agroekologi mengedepankan aspek keberlanjutan dan keadilan bagi lingkungan dan petani. Negara-negara maju semisal Prancis, Jerman dan beberapa negara Amerika Latin telah menerapkan model ini dan terbukti mampu menjawab kebutuhan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun sayang, agroekologi tidak dipilih menjadi kebijakan karena dianggap tidak memiliki produkitivitas tinggi.

Menurut Dr. Suryo Wiyono, ketua panitia Seminar Agroekologi Nusantara, yang juga Ketua Departemen Proteksi Tanaman, Faperta IPB, kebanyakan masyarakat, termasuk para ahli dan pengambil kebijakan menganggap bahwa produksi yang tinggi harus dilakukan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, dan sebaliknya kalau praktik ramah lingkungan itu produksinya rendah. Anggapan tersebut bertentangan dengan hasil penelitian dan fakta di lapangan.

Ada hubungan resiprokal antara pertanian dan lingkungan. Lingkungan yang baik merupakan prasyarat bagi produktivitas pertanian tanaman yang tinggi dan berkelanjutan. Penelitian dan pengalaman lapangan di Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB selama 10 tahun terakhir menunjukkan hal itu. Penggunaan pestisida kimia kimia sintetik yang salah dan berlebihan pada tanaman padi telah memacu ledakan wereng coklat dan epidemi penyakit blas. Salah satu bentuk penerapan prinsip agroekologi yang dikembangkan Proteksi Tanaman IPB yaitu Teknologi Pengendalian Hama Terpadu Biointensif Padi sawah yang sudah diuji di 19 lokasi. Teknologi ini menurunkan penggunaan pupuk kimia, mengurangi pestisida 100 % dan meningkatkan produksi padi rata-rata 27 %.

“Nawa Cita mengamanatkan perwujudan kedaulatan pangan. Agroekologi merupakan jalan untuk mewujudkannya karena menjadi salah satu pilar kedaulatan pangan. Agroekologi mengusung nilai-nilai keberagaman, keberlanjutan dan juga keadilan dalam pembangunan pertanian dan hal ini yang belum nampak” ungkap Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).

Menurutnya, agroekologi merupakan bentuk produksi pertanian yang memungkinkan terjadinya proses mengatur dan membangun komunitas untuk menentukan nasib sendiri. Agroekologi mensyaratkan masyarakat memiliki akses dan kontrol terhadap sumber daya lokal seperti tanah, air dan benih. Tujuan agroekologi adalah untuk mencapai lingkungan yang seimbang dengan hasil yang berkelanjutan, didukung regulasi dan desain diversifikasi agroekosistem dan penggunaan teknologi rendah input.

Sementara itu, Dodik Ridho Nurrochmat, Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB, agroekologi haruslah menjadi paradigma bersama semua sektor dan menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan. Egoisme sektoral harus dipinggirkan karena pencapaian kedaulatan pangan melalui agroekologi memerlukan dukungan dan sinergitas antar sektor, mulai dari memastikan kecukupan lahan, bibit unggul, saprotan, pasca panen, sampai dengan aspek pemasaran dan kesiapan sumberdaya manusia”.

Adapun Prof. Damayanti Buchori, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB mengingatkan bahwa agroekologi saat ini telah menjadi tuntutan. Negara-negara maju telah membuat kebijakan dan mengimplementasikan agroekologi. Di Indonesia perlu dilakukan mainstreaming hal ini dan ini menjadi kewajiban semua pihak untuk melakukannya sebagai bagian upaya memajukan pertanian di Indonesia. Sebab pertanian menjadi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indonesia harus mampu merumuskan konsep agroekologinya sendiri berdasarkan keragaman nilai dan ekosistem, falsafah dan praktik-praktik pertanian tradisional nusantara. Dengan seminar agroekologi ini diharapkan akan muncul sebuah gagasan, arah dan langkah baru dalam mendorong pembangunan pertanian masa depan yang mampu mensejahterakan petani dan melestarikan lingkungan hidup serta mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.
————————————————————————————————————————
Informasi lengkap:
1. Dr. Suryo Wiyono, Ketua Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB Bogor, 0813 9853 5771, suryowi269@gmail.com
2. Dr. Dodik Nurrochmat, Direktur Kajian Stretegis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB, 0812 1214 5223, dnurrochmat@gmail.com
3. Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), 0813 8215 1413, ayip@kedaulatanpangan.net

@umilasminah

Review film: Ola Sina Inawae (Walaupun Kami Perempuan) Perempuan Berjalan Tanpa Batas Perempuan sambil Membuat Jalan

Ola Sita Inawae Perempuan Berjalan tanpa Batas berjalan sambil Membuat Jalan
Film ini diproduksi PEKKA Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga bekerjasama dengan Yayasan Biru Terong Indonesiaidukung oleh MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan). Sutradara film ini Vivian Idris dari Blue Terong Initiative . PEKKA adalah lembaga yang sejak 2002 mendampingi perempuan kepala keluarga untuk berdaya, dan menempatkan perempuan dalam konteks kesejatian manusia dengan hak-hak dan kewajibannya. Mengangkat wacana identitas perempuan ‘janda’ ‘lajang’ sebagai teladan dan warga negara sejajar dengan warga negara manapun.Perempuan kepala keluarga dalam PEKKA adalah perempuan janda yang ditinggal mati suami atau cerai yang harus menanggung kehidupan anak dan keluarganya,perempuan yang ditinggal suaminya merantau atau suaminya poligami, serta suami yang tidak lagi dapat menjalankan tugas menanggung keluarga sehingga perempuan yang menanggung hidup keluarganya (Kepala)photo-ina2, atau perempuan lajang yang mempunyai tanggungan di keluarga.Para perempuan tersebut dalam komunitas kemudian diberdayakan, diorganisir oleh PEKKA.
Proses produksi film Ola Sita Inawae Perempuan Berjalan tanpa Batas berjalan sambil Membuat Jalan. Ola Sita Inawe artinya Walaupun Kami Perempuan, berbentuk dokudrama mengisahkan tentang perjalanan seorang aktivis PEKKA, Dete mengorganisir perempuan kepala keluarga di desa Haniwara, Kab.Adonara NTT.
Sebelum pemuataran film diputar Behind The Scene, dokumentasi proses pembuatan, riset dan pernak-pernik dari mereka yang terlibat. Akris yang adalah pelaku asli, juga terlibat bersama para kru film yang berasal dari Jakarta.
Film ini layaknya biografi organisasi PEKKA yang dipotret melalui perjalanan salah satu pekerjanya Dete (Bernadete Deram) perempuan kelahiran Lembata yang meninggalkan posisi PNS untuk menjadi pekerja PEKKA. Dibuka dengan dialog antar Dete dengan kedua orang tuanya, memohon restu, kemudian tampil gambaran perjalanan Dete di atas perahu dari Kabupaten Lembata menuju Kabupaten tempat kerja di desa Haniwara di Adonara Flores Timur. Inilah salah satu berita nyata tentang geopolitik, geososial yang dapat dilampuai oleh perempuan NTT demi bekerja dan berjuang di komunitasnya.
Cerita selanjutnya adalah kisah Dete menjalankan pekerjaannya, mengorganisir komunitas: berijin legal formal pada pemerintah lokal, memperkenalkan diri, dan mengajak perempuan ikut dalam kegiatan pemberdayaan dengan pintu masuk lembaga formal di desa. Ada seorang perempuan, Aisyiah, dari Padang, dimana pertamakali datang ke Adonara Dete diterima olehnya. Dialah yang membuka pintu Dete di Kantor Kepala Desa untuk bicara dengan warga, Aisyah ini disebut PL (Petugas Lapangan), ada beberapa kali adegan ditampilkan untuk memperlihatkan siapa Aisyah ini.
Selanjutnya kisah Dete, menjangkau warga di desa. Salah seorang kepala keluarga Diah menyambut baik Dete, katanya “karena tidak membawa Uang, kalau membawa uang tidak akan menghasilkan apa-apa”. Diah ini gambaran tangguh dan teladan perempuan lajang, memakai tongkat, menghidupi ibu, dan keponakan (yang ditinggal orang tuanya merantau) merupakan percikan-percikan cerita bagaiamana PEKKA diterima dan bagaimana Diah dalam kondisi disabilitasnya menghidupi keluarganya dengan bekerja keras. Ada adegan saat ia menjahit, lalu ada orang berbelanja di warungnya, ia menghentikan sebentar menjahitnya. Namun ketika Dete mengajaknya rapat PEKKA (yang dilakukan dirumahnya), ia tidak berhenti menjahit, karena jahitannya sudah ditunggu oleh pelanggannya.

Film juga dibintangi oleh pendiri dan ketua PEKKA, Nani Zulminarni selaku Ek Ketua PEKKA dengan perannya nyata yang pernah dijalaninya sebagai fasilitator di komunitas. Di sini ditampilkan secuplik kisah berbagai latar belakang anggota PEKKA. Ada kedukaan tentang para suami, ayah dan kisah mengapa mereka harus menanggung hidup keluarga. Juga menampilkan adegan sederhana tentang menampung mimpi dan harapan yang menggugah para anggota PEKKA. Kisah pengorganisasian ditampilkan dalam cuplikan-cuplikan Dete datang ke rumah warga perempuan, rapat di kantor desa, adegan rapat duduk ditikar, buku tabungan, belajar pembukuan keuangan, guru mengajar di kejar paket C dan kegiatan menenun, mengupas kelapa.

Tak ada cerita menarik jika tak ada drama. Maka adegan seorang tokoh desa yang membawa golok datang ke lokasi rapat PEKKA yang marah-marah ditampilkan sekilas. Juga sekilas kegalauan Dete karena ancaman tersebut yang disampaikan kepada Ayahnya untuk dimohonkan doa. Film hampir saja bisa menjadi docudrama menarik, jika saja konflik juga berhasil ditampilkan secara utuh, agar dapat menarik pelajaran. Mungkin ada alasan tertentu sehingga konflik yang terjadi dalam cerita, tidak dieksplorasi. Konflik muncul kelalaian penggunaan uang dari PL (Petugas Lapangan), dan ini ditampilkan tidak dengan emosi…sehingga rasa drama-nya hilang. Gambaran-gambaran cerita dalam namun kurang dramatis dialog dan drama perpindahan adegan terlalu tajam dan cepat. Namun ada adegan yang alurnya lambat sekali dan bisa dihilangkan. Bisa jadi karena pertimbangan bahwa persoalan sudah selesai, dan semua pemain adalah dirinya sendiri.

Sebagai aktivis yang juga memuliakan kearifan lokal, menonton film ini menarik, ada lucunya, banyak yang bisa diambil sebagai pelajaran dibalik teks dan gambarnya.

Sebelum menyaksikan filmnya, penonton disuguhi Behind The Scene, yang berdfilmola-sitaurasi 60 menit, sehingga ada gambaran tentang proses dan pembuatannya termasuk keterlibatan para perempuan yang menjadi pelaku sekaligus membantu produksi film. Sebagai Seni Kerterlibatan, dengan 80% crew produksi adalah warga lokal, film Ola Sita Inawae patut diapresiasi mengingat warga desa, staf nasional PEKKA, maupun Terong Biru Initiative sama-sama mengalami pengalaman pertama. Pengalaman pertama yang baik dan tak akan terlupakan bagi semua. Film Ola Sita Inawae adalah cuplikan bagi publik tentang PEKKA dan kerjanya selama dua belas tahun mendukung perempuan kepala keluarga di 20 provinsi di Indonesia serta memberi manfaat pada lebih dari 50.000 perempuan. Pemutaran film di PPHUI Kuningan, Jakarta lumayan menarik banyak penonton. Siapapun yang menontonnya pasti juga merasakan semangat dan optimisme, keragaman daya dan identitas sebagai bangsa sebagaimana manfaat yang dirasakan puluhan ribuan perempuan PEKKA.@umilasminah

Blog at WordPress.com.

Up ↑