umillsSelamat Datang di  Kebon Sawah Argoekologi

Pada tanggal 5-6
Mei 2017, saya bersama Adhe dan Shiren sempat berkunjung ke Pesantren AtThariq, di Cimurugul Kelurahan Sukagalih, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Menuju ke pes antren AtThariq tidak sulit, dan ibu Nissa selaku pengampu dan pengelola akan memberi arahan jalan menuju lokasi.

Kami tiba di pesantren menjelang sore, sekitar pukul 14.30 WIB, ibu Nissa sedang istirahat bersama putri bungsunya yang biasa dipanggil Ceuceu, usia 5 tahun. Kami disambut putri pertamanya Salwaa yang mempersilahkan kami untuk istirahat di pondok. Sebuah bangunan bertingkat panggung terbuat dari bambu yang difungsikan juga sebagai musholla, ruang diskusi serta ruang istirahat di atasnya. Dipondok tersebut terdapat rumah sarang untuk beberapa ekor burung dara yang ketika kami datang sedang terbang disekitar kandang. Pondokan dikelilingi tanaman merambat serta ada pattariq1ohon mangga yang batang dan dautnya menjalar masuk sehingga jika akan naik ke atas harus melewati pohon itu. Di luarnya ada pohon pete cina yang juga menjulur-julurkan diri hendak masuk ke pondokan atas dan bawah. Menurut ibu Nissa, pepohonan yang suka dengan pondokan akan dibiarkan sebagaimana adanya, sebagai bagian hidup bersama ketersalingan.

Setelah menaruh tas di pondokan, saya dan Shiren, gadis kecil 8 tahun keluar ke sawah dimana ada beberapa anak sedang menerbangkan layang-layang berukuran cukup besar. Kita berjalan dipematang sawah dan memotret kanan-kiri, diarah kejauhan gunung dan awan. Langit cukup mendung hari itu.Kembali ke pondokan, kami disajikan minuman dari Jeruk Purut (yang buahnya keriput dan berwarna hijau tua), pohonnya ada disamping kanan pondok. Saya menyebutnya welcome drink. Disediakan gula pasir putih untuk menambah manis bagi yang tak suka asam. Saya meminum langsung seperti kebiasaan saya minum jeruk nipis dipagi hari.

Tidak Sekedar Pesantren

Tak seperti pesantren modern umumnya yang mengajari santrinya semata-mata ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, dimana santrinya mondok/tinggal dan terkungkung dalam kurikulum ketat yang tak jauh beda dari pendidikan modern umum. Pesantren AtThariq yang dipimpin oleh Nissa Wargadipura dan Ustad Ibang Lukman pamornya telah dikenal publik; tak kurang semua televisi swasta nasional telah menayangkan kegiatan hidup dan berkehidupan bersama Alam di Kebon Sawah (a.l https://www.youtube.com/watch?v=zYI1F7SETuE ). Khususnya dengan ciri para santri dan yang bertandang ke Kebon Sawah hidup bersama alam dengan alam secara alami. Ya Alami, dan Mandiri melampaui cara dan proses yang dikenal umum sebagai organik. Pesantren Kebon Sawah juga dikenal sebagai pesantren Ekologi, dimana keseluruhan proses perputaran pangan saling terkait membentuk rantai makanan yang berkelanjutan. Maka kita akan menemukan ada beberapa pohon yang daunnya bolong dimakan ulat atau hama, namun dibiarkan. Kecuali jika daunnya habis semua baru diambil langkah dengan mengatasinya menggunakan pestisida alami yang dibuat. Pestisida alami sudah tersedia dari tanaman yang tumbuh diberbagai tempat, dipinggir kolam ikan dan belut yang dipenuhi tanaman apu-apu yang berfungsi memberi makan ikan dan belut, juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sederhananya di kebon sawah semua hidup sesuai fungsi dan peruntukkannya.

Kehidupan pemenuhan kebutuhan hidup dalam lingkungan AtThariq, mungkin bisa disebut sebagai ekonomi Subsistence Perspective, yang diperkenalkan oleh Maria Mies, dimana kebutuhan hidup terutama pangan dipenuhi oleh komunitas, untuk komunitas tidak ada  produksi untuk sengaja untuk tujuan dijual (berlebih) atau diperdagangkan namun bila ada kelebihan  pangan ataupun  herbal baru akan ditawarkan kepada kawan dan kerabat yang mau “membelinya”.

Inilah antara lain praktek Subsistence Perspective .. “orang dapat memproduksi dan mereproduksi kehidupan mereka sendiri, untuk berdiri diatas kaki sendiri dan memakai suara mereka sendiri. Ketika komunitas dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa tergantung kekuatan lain atau agen lain, termasuk uang. Maria Mies menganggap subsistence perspective merupakan cara perempuan melawan globalisasi ekonomi.(Maria Mies and Veronika Bennholdt-Thomsen, 2000). Nissa Wargadipura dan Ibang Lukman adalah aktivis organisasi tani Serikat Petani Pasundan, yang memutuskan melakukan perlawanan dengan cara konkrit melawan kapitalisme pertanian yang telah merasuk di tanah Indonesia sejak tahun 1980an dengan Revolusi Hijau-nya. Revolusi yang secara tajam mencabut akar kearifan lokal dalam hal teknologi pertanian, mengganti keseluruhan cara tradisi yang bernilai tinggi dalam hal praktek teknologi tani yang menyatukan manusia dengan alam, dengan modernisassi pertanian dan memborbardir tanah dan air Indonesia dengan racun pestisida. Revolusi yang tidak hanya mencabut dan menghilangkan benih dan tanah asli dari tanah air, namun juga menghilangkan praktek budaya adiluhung dibidang pertanian; mengenali musim tananam, mengenali musim cuaca dan mengenali serta memahami hidup dan kehidupan hewan sekeliling kebon dan sawah. Tak ada istilah gulma disini. Gulmanisasi adalah istilah industri, revolusi hijau. Segala tanaman disekeliling kita, yang biasa diinjak dan dicabut, oleh Ustad Ibang diberitahu namanya, dan diminta kita melihat di google, dan terlihatlah tanaman Krokot apa yang oleh ‘pertanian modern’ dibilang “gulma” ..Google menampilkan 10 manfaat krokot…27 manfaat Sintrong dsb…

Di Kebon Sawah kita akan merasakan hawa dan udara bersih, karena semuanya alami. Sehari saja disana saya sungguh merasa segar, sehat  layaknya detoksifikasi. Makan malam kami disuguhi nasi liwet. Nasi yang dimasak dengan campuran daun salam, sereh dan telang ungu. Rasanya enak sekali, apalagi kami pun disediakan lauk ayam bakar yang dibakar dan masih segar, juga bayam paris rebus dan kecipir. Itulah rasa sesungguhnya dari kedaulatan pangan. Dimana di tanah air Indonesia, seharusnya tidak ada kelaparan, tidak ada sampah. Semua tanaman dan hewan punya manfaat dan fungsi. Kedaulatan terjadi  ketika semua mandiri dan tidak tergantung pada agen pupuk atau benih.

Makan malam yang sangat mewah. Jika dirupiahkan dan dijual dihotel mahal bisa seharga ratusan ribu 🙂 Serius. Saya bisa membedakan tekstur rasa dari bayam paris yang lebih lembut dari bayam biasa, juga kecipirnya. Yang membuat kami makan malam dengan lahap adalah sambal dabu-dabu dari tomat-tomat kecil yang dipetik oleh Ceuceu dan Shiren, dan cabe pedas yang semuanya dipetik di Kebon Sawah. Dan malam itu, sangat aneh, kami semua tidur pulas, dan tidur cepat. Inilah nasiliwet ungu yang disukai pengungsi saat banjir bandang menimpa Garut beberapa waktu lalu.   Kami masuk pondokan sekitar pukul 21.00 dan saya tidur…Namun selalu terjaga dengan suara-suara speaker dan toa yang memberitahu tentang waktu… Sejauh ini saya tidak terganggu …:-)

Sayang kami hanya bisa menginap semalam, jika  beberapa hari detoksisifkasi pasti benar terjadi.  Betapa tidak, dari cerita Ustad Ibang, seorang santri yang semula narkoba pun dapat sembuh tidak hanya karena alamnya, namun karena interaksi aktivitas berkebun: menyiapkan benih, merawat bibit, menanam, merawat dan menjaga. Berbeda dengan tatacara ‘industri’ pertanian organik yang menggunakan asupan/pupuk sebagai bahan tambahan bagi tanaman, di Kebon Sawah semua alami, berasal dari alam, hanya menggunakan tambahan ‘kotoran hewan/kambing’ sebagai pupuknya, juga sisa sayuran dan sisa makanan ‘dibuang’ bukan sebagai sampah, tapi diberikan ke tanah untuk pupuk alami. Itu yang terjadi terdap ‘piring’ panjang daun pisang saat makan dengan botram, daunnya ‘dibuang’ disamping bawah pondokan untuk berproses secara alami dengan dedauan lainnya.

Pesantren Kebon Sawah bukan sekedar pesantren, namun komunitas kecil keluarga yang memiliki harapan dan kepercayaan bahwa perubahan untuk perlawanan terhadap ‘penghancuran’ karena kebijakan pertanian dan kebijakan pendidikan modern hanya dapat dicapai melalui praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dilakukan ibu Nissa dan Ustad Ibang bukan hal kecil, langkah dan gerak yang terus menerus memberi inspirasi (selalu berbagai pengalaman, ilmu dan pengetahuan yang dipraktekkan) dalam berbagai kesempatan, termasuk kepada para tamu yang hendak belajar Ekologi yang datang dari berbagai kalangan, dalam dan luar negeri. Termasuk para biarawati dan pastur. Menurut Ustad Ibang, beberapa waktu lalu beberapa pastur dari Taiwan, India, Jepang tinggal di KebonSawah untuk belajar dan berbagi pengalaman dan pengetahuan, sebagai bagian tugas layanan Katolik adalah Pelayanan pada Alam…

Pesantren Ekologi Atthariq terus bertumbuh dan berkembang, sudah lebih dari 500 spesies tanaman di Kebon Sawah, belum lagi di Hutan Tangoli untuk pohon-pohon besar asli Nusantara yang hendak ditanam dan dimuliakan kembali….Namun disekeliling Pesantren perumahan yang semakin merambah, pertanian industri yang tidak ramah lingkungan… Masih banyak lagi cerita dan tantangan dari  Pesantren Ekologi AtThariq untuk selalu menginsiprasi sesama…dan kita bisa terlibat langsung dalam mendukung pertumbuhannya..silahkan datang ke Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kec.TarKid (Tarogong Kidul), yang lokasinya tak jauh dari keramaian kota… silahkan berinteraksi langsung dengan Ibu Nissa ke https://www.facebook.com/nissa.wargadipura

Advertisements